Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Love Yourself (Cintai Dirimu Sendiri)

    Setelah percaya diri, kita akan dengan leluasa menikmati keindahan hidup.
    PEWARTAnews.com -- Pernah dengar dong kalimata di atas "love yourself" atau "cintai dirimu sendiri’", entah dilirik lagu atau kalimat yang dibilang seseorang untuk kita, tapi biasanya sih dari lagu yah. Kalimat itu biasanya untuk menyemangati diri sendiri atau bahkan menjadi kalimat tanpa makna, lebih sedihnya mungkin terkadang menjadi angin lalu. Tergantung bagaimana seseorang menanggapinya.

    Sedikit banyak orang yang selalu meremehkan diri sendiri entah dengan selalu merendah atau langsung menjudge diri sendiri akan sesuatu yang akan dilakukan, merendah memang baik tapi ada waktu tertentu tidak melulu merendah yang terkandang buat kita tidak percaya diri.

    Mencintai diri sendiri bukan berarti menimbulkan kenarsisan diri yang berlebih, tapi bagaimana percaya diri atas apa yang kita miliki tanpa dibuat-buat, tanpa mengeluh, tanpa membandingkan dirimu dengan orang lain. Tidak akan ada habisnya ketika kita membandingakan diri kita dengan orang lain sebab setiap orang memiliki porsinya masing-masing yang diberikan pencipta.

    Berhenti menghakimi takdir atas dirimu
    Berhenti menghakimi tuhan atas ketidak sempurnaan yang kita rasakan
    Bukankah semua orang tidak ada yang sempurna ? kalau kita terus mencari kekurangan diri sendiri dan selalu melihat kesempurnaan orang lain, dijamin kita tidak akan pernah melangkah maju.

    “Enak yah yang tinggi badanya bagus, tidak seperti aku udah pendek, bulat, bantet, item lagi, untung hidup”. “Enak yah yang pendek, keliatannya manis, imut, menggemaskan, bisa make high hels sesuka dia, lah aku kalau make high hels malah dibilang orang, udah tinggi malah tambah pake high hels ngak tau diri banget, badan kok kayak tiang listrik”.

    Lalu kalimat ini yang sering di ucap "bagus banget badannya kurus tinggi lagi kayak model, lah aku udah kayak gajah, sering dijadiin bahan ejekan karena gemuk dibilang sarang lemaklah, belum juga makan udah naik aja berat badanya”. "Enak yah yang gemuk makan banyak ketauan jadi daginglah, kalau aku walaupun makan banyak segitu-segitu aja, malah dibilang kurang gizi lah, badan tidak bisa nyerap makananlah, dan lain-lain”.

    Kenapa harus selalu seperti itu, tidakkah kita pikir terlalu memusingkan dan membandingan kekurangan kita dengan orang lain yang kita anggap sempurna itu melelahkan, apa sih yang sebenarnya yang kurang dari kita, cantik? bukan! Badan bagus? bukan! Kaya? bukan! Lalu apa? Kita kurang bersyukur terhadap apa yang kita miliki, kita kurang bersyukur terhadap takdir yang digariskan untuk diri kita.

    Yakin dan percayalah terkadang hidup yang kita miliki adalah hidup yang diinginkan oleh orang lain diluar sana. Tetap  yakin atas apa yang kita miliki, bersyukurlah atas apa yang kita punya, karena kalau sesuatu itu tidak digariskan untuk kita sekuat apapun kita usaha untuk mendapatkannya tidak akan pernah menjadi milik kita.

    Saya teringat sesuatu yang pernah saya baca disebuah buku tapi lupa judunya apa, seperti ini “Terkadang kita terlalu sibuk mencintai ini dan itu bahkan sampai kita lupa untuk mencintai diri sendiri, dan itu sungguh melelahkan. Mengapa manusia mulai lupa bagaimana cara untuk mencintai dirinya sendri? Bukankah sangat melelahkan ketika kalian ditinggalkan seseorang? Jika diri kalian sendiri yang meninggalkan dirimu, betapa sunyinya?”. Jadi sebelum diri kita sendiri meninggalkan diri kita, belajarlah menerimanya.

    Setiap orang pernah melakukan kesalahan entah yang akan beresiko terhadap diri sendiri atau sebuah kelompok sedikit banyak dari kita selalu menyalahkan diri kita sendiri, harusnya begini harusnya begitu yang tanpa kita sadari membuat diri kita tidak menyukai diri kita dan mulai membandingkan diri kita dengan yang orang lain, harusnya seperti dia atau lebih baik seperti dia.

    Setelahnya orang lain juga ikut andil menyalahkan kita seperti “kamu sih” atau “tuhkan tau gitu aku aja tadi” malah ada yang lebih nyelekit “ngak pernah benar deh kalau sama kamu” atau “bisanya apa sih kamu ceroboh” dan pada akhirnya mental kita pun jatuh rasa percaya diri kita pun hilang. Padahal kalau kita yakin sama diri kita sendiri orang lain pun akan yakin sama kita.

    Ingatlah tidak semua orang bisa melakukan apa yang kita lakukan. Tidak semua hal memiliki tingkat kesulitan dan kemudahan yang sama, bisa jadi apa orang lain lakukan sebenarnya bisa juga kita lakukan cuman kurang yakin saja, begitupun sebaliknya apa yang tidak bisa oleh kita belum tentu orang lain bisa. Kita hanya perlu berusaha lebih keras saja.

    Setelah percaya diri, kita akan dengan leluasa menikmati keindahan hidup.

    Pada dasarnya orang lain hanya terbawa alur sugesti kita terhadap diri kita sendiri, kalau kita yakin terhadap diri kita, kalau kita percaya terhadap diri kita, yakinlah orang disekitar kita pun akan seperti itu terhadap kita karena semuanya dimulai dari diri kita.

    Tidak ada seorangpun di dunia ini yang punya hak atas dirimu untuk menghakimimu. Tidak ada seorangpun dibumi ini yang bisa mengatur dirimu.

    Tidak ada. Semua orang punya pilihan untuk pergi atau tetap tinggal, juga dirimu, jadi sebelum dirimu benar-benar hilang maka mulailah menerima dengan lapang sembari terus berusaha lebih baik.

    Mulailah mensugesti dirimu dengan hal-hal yang baik. Yakinkan dirimu bahwa kita bisa untuk semua hal, kalaupun kita belum bisa jangan bilang tidak, berusahalah dengan segala yang kita bisa. Tetap optimis jangan pesimis.

    Semua orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada satupun orang yang terlewat dari sebuah kesalahan. Tidak saya, tidak juga kamu. Cuman pada porsinya masing-masing, kesalahan juga bagian dari proses untuk dewasa soal bagaimana kita bisa menanggapi dengan baik saja.

    Terakhir tapi bukan yang terakhir, penulis kutip dari buku yang pernah di baca. "Belajarlah menerima, menyayangi dan mencintai diri kita sendiri dengan anggun hingga lelah pun iri melihat romantisnya kita dengan diri kita sendiri".


     Penulis: Nurkurniati, S.Par.
    Mantan Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Alumni Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) Yogyakarta.

    Kisruh Pilpres, Ormawa Intra Kampus Jogja: Kekerasan dan Kerusuhan adalah Biadab

    Ilustrasi aksi penolakan hasil Pilpres 2019.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus Se-Yogyakarta memandang aksi penolakan hasil Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 oleh mereka yang menamakan diri “Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat” pada hari Senin malam, 21 Mei 2019 telah berkembang menjadi kerusuhan massa. Kerusuhan berlanjut pada Selasa dini hari, 22 Mei 2019 hingga malam hari.

    "Aksi kelompok pendukung Prabowo Subianto tersebut betul-betul berubah menjadi anarkhi jalanan. Massa yang menolak pembubaran aksi, mengamuk dan membakar puluhan kendaraan roda empat yang diparkir di Markas Brimob, Petamburan, Jakarta Barat," sebut Ferli selaku Kordinator Para Pengurus Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus Se-Yogyakarta, pada hari Kamis, 23 Mei 2019, di Yogyakarta.

    Ferli mengatakan bahwa pernyataan Titiek Soeharto sebagaimana disampaikan di dalam video yang viral di media sosial, bahwa aksi akan berlangsung damai tidak terbukti. "Hal ini menguatkan dugaan, bahwa aksi damai yang diserukan politisi Cendana itu hanya kamuflase belaka. Sebab sejak beberapa hari terakhir telah beredar seruan di media sosial agar mereka yang mau mengikuti aksi membawa benda dan senjata yang bisa digunakan untuk melakukan kekerasan. Selain menyita kendaraan yang berisi batu-batu untuk dilempar kepada petugas, aparat kepolisian juga menangkap pelaku lengkap dengan barang bukti dari senjata tajam hingga senjata api otomatis yang merupakan senjata built up. Tak ayal, korbanpun berjatuhan," ucapnya.

    Lebih jauh Ferli mengatakan peristiwa kekerasan di sekitar Gedung Bawaslu RI yang meluas ke sejumlah lokasi di Jakarta itu telah mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk kami para pengurus organisasi kemahasiswaan intra kampus se-Indonesia. "Sungguh kejadian kerusuhan itu telah menghapus citra  masyarakat Indonesia  yang dikenal ramah dan santun oleh masyarakat dunia. Perilaku anarkhi tersebut juga menunjukkan kepatuhan para pelaku kepada hukum telah berada pada titik nadir. Padahal kepercayaan pada hukum sangat penting untuk menjaga ketertiban sosial, dan menjamin rasa aman, serta untuk mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat," cetus Ferli.

    Itu sebabnya, kata Ferli, subtansi Undang-Undang Dasar R.I. Tahun 1945 (UUD 1945) sebagai Konstitusi Dasar menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara penganut asas hukum (rechtsstaat) bukan kekuasaan (machtsstaat).

    Lebih jauh Ferli menegaskan bahwa langkah penolakan hasil perhitungan suara Pilpres pada Senin malam, 20 Mei 2019, yang diikuti aksi demonstrasi anarkhi oleh “g-n-k-r” di satu pihak merupakan upaya delegitimasi terhadap Komisi Pemilihan Umum R.I. (KPU R.I.), dan pihak lain juga mengabaikan asas rechtsstaat yang dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Sebab sebagai institusi demokrasi penyelenggara Pemilu, KPU RI telah bekerja secara independen berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. 
    Delegitimasi terhadap KPU RI, dan pengabaian hukum, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku sangat berbahaya, dan bisa memicu perpecahan karena ketidakpatuhan terhadap hukum," kenangnya.

     Untuk mencegah hal itu, sebut Ferli, maka kami para Pengurus Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus se-Indonesia menyatakan: "Pertama, Mengutuk keras aksi kekerasan dan kerusuhan yg sedang terjadi di Jakarta; Kedua, Menyerukan kepada semua pihak menjaga persatuan dan keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45; Ketiga, Menyerukan agar semua pihak menghentikan aksi kekerasan dan kerusuhan yg sedang terjadi; Keempat, Bahwa kekuatan politik Cendana telah mendalangi aksi-aksi kekerasan dan kerusuhan ini," celoteh Ferli. (PEWARTAnews)

    Dosen Widya Mataram ini Beri Penyuluhan Penyuluhan Pemanfaatan Balai Pertemuan Warga

    Bagus Anwar H, SH, MH, M.Sc. saat memberikan Penyuluhan.
    Bantul, PEWARTAnews.com – Bulan Ramadhan tidak menyurutkan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Pada hari Sabtu, 18 Mei 2019 ada kegiatan yang menarik untuk diterapkan di masyarakat, yakni kegiatan “Penyuluhan Pemanfaatan Balai Pertemuan Warga Komplek Perumahan Sebagai Sarana Kegiatan dan Keamanan Semua Elemen Usia”.

    Hadir sebagai pemberi penyuluhan adalah Bagus Anwar H, SH, MH, M.Sc. selaku dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan upaya memberikan penyuluhan kepada masyarakat warga komplek perumahan dan juga warga desa, khususnya warga perumahan Cemara di Tamanan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bertempat di balai pertemuan Shiva. Kegiatan ini dibungkus dengan buka puasa bersama yang melibatkan seluruh elemen warga, baik bapak-bapak, ibu-ibu, remaja serta anak-anak.

    Penyuluhan tersebut berisikan pemanfaatan balai pertemuan warga komplek perumahan sebagai sarana kegiatan dan keamanan semua elemen usia. Sehingga nantinya memungkinkan balai pertemuan ini bisa digunakan kegiatan baik untuk bersama-sama maupun untuk elemen usia.

    “Balai warga dapat digunakan buat kegiatan-kegiatan, seperti buka bersama di bulan ramadhan, nonton live streaming sepakbola, dan lain-lain.  Selama ini balai pertemuan warga hanya digunakan diwaktu tertentu dan kebanyakan dipakai oleh bapak-bapak saja. Sehingga kedepannya balai pertemuan warga bisa digunakan juga untuk anak-anak, remaja, ibu-ibu bahkan para lansia,” ucapnya.

    Suasana saat Penyuluhan berlangsung.

    Dengan pemanfaatan demikian, kata Bagus, “Kegiatan perumahan akan tampak ramai, sehingga bisa meminimalisir tindak pencurian di sekitar rumah warga perumahan yang notebene tidak memiliki satpam penjaga. Karena selama ini terdapat beberapa kasus pencurian yang melibatkan orang luar dengan berkedok tamu dan pemulung sampah. Sehingga dengan penyuluhan ini diharapkan bisa segera dibentuk kegiatan untuk memanfaatkan balai pertemuan warga,” sebutnya. (PEWARTAnews)

    Masih Berlakukah Hukum di Negeri Kita?

    Muslehuddin.
    PEWARTAnews.com – Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal tersebut tertera pada bunyi Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945) menyebutkan bahwa, “Negara Indonesia adalah negara hukum". Hukum di negara Indonesia berlaku pada setiap keputusan suatu perkara harus berdasarkan hukum.

    Namun hukum yang pada hakikatnya menciptakan rasa keadilan belum juga dapat terealisasikan secara efektif. Hal tersebut dapat di lihat dari terjadinya praktik-praktik kecurangan, penyelewengan, penyimpangan terhadap aturan-aturan di dalam penegakan hukum itu sendiri.

    Masalah tersebut menimbulkan suatu pertanyaan  yang sangat mengganjal dalam penegakan hukum di negeri ini, benarkah hukum di negeri ini masih di perjual belikan? dan tentunya sangat menarik untuk di ketahui bersama tentang kebenaran hal tersebut. Agar tidak terjadi kesalah pahaman dan tidak terbilang hoax.

    Mengutip perkataan Teodoru Egie Sapultura, “Bahwa hukum merupakan hal yang penting dan wajib dipatuhi semua orang, akan tetapi banyak pejabat-pejabat tinggi negara yang memberlakukan hukum itu seperti makanan yang bisa dibeli.” Tentunya hal ini merupakan hal yang sangat tidak wajar dan tidak memiliki etika dan moral yang baik. Makanya perlu kesadaran bagi kita semua agar mematuhi hukum yang telah di buat dan di tetapkan oleh pemerintah.

    Maka dari itu rakyat memerlukan adanya kerja sama presiden dengan rakyat agar lebih tegas dalam menjalankan atau menerapkan hukum kepada pejabat-pejabat yang tidak bermoral.

    Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak sekali tahanan atau narapidana yang masih bisa berkeliaran menghirup udara bebas diluar sel tahanan.

    Mereka dengan leluasa menikmati masa-masa tahanan dengan bersenang-senang, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak terpidana. Hidupnya bebas, cuman yang membedakan dari mereka adalah status (terpidana dan tidak terpidana).

    Kalau boleh penulis mengibaratkan bahwa tahanan atau narapidana bagaikan burung kesayangan yang sengaja di lepas dari sangkarnya, yang ketika mau istrahat kembali ke sangkarnya dan jika pengen bebas maka akan terbang bebas.

    Kenadian tersebut bukan sudah rahasia umum lagi, melainkan pengetahuan umum bahwa hukum di negeri ini masih bisa di jual beli. Seperti apa yang di katakan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Bapak Mahfud MD dalam wawancaranya pada merdeka.com tanggal 19 November 2015. “Bawa hukum kita masih banyak permainan dan bisa di perjual belikan oleh orang-orang yang punya uang”, sebutnya.

    Dari pernyataan tersebut bisa kita fahami bahwa hukum berlaku hanya begi orang-orang apes saja,  atau kurang beruntung dengan tidak memiliki pembela kerena tidak memiliki uang. Sedangkan mereka yang punya kekuatan politik dan uang seenaknya mempermainkan hukum dengan mempengaruhi dan membeli hukum tersebut.

    Hukum tidak bisa di beli, kata itu hanya ada bagi orang-orang yang mematuhi hukum dan tidak melanggarnya. Di sini hukum merupakan peraturan yang penting dan wajib di taati semua orang. Akan tetapi hukum tidak merupakan hal yang wajib bagi semua orang yang tidak mematuhinya. Di sini saya mengambil contoh dari kasus mafia hukum seperti gayus Haloman Tambunan dan mafia hukum lainnya.

    Gayus Haloman Tambunan yang secara ceroboh membuka tabir rahasia umum itu. Selama menjalani penahanan sebagai tersangka penggelapan pajak, Gayus tercatat 68 kali meninggalkan selya di rumah tahanan Markas Brimob  Kepala Dua, Depok, Jawa Barat. Gayus memperoleh perlakuan spesial tentu saja tidak gratis. Gayus harus menggelontarkan dana sebesar Rp.790 Juta untuk membius nurani kepala rutan Brimob Komisaris Polisi Iwan Siswanto serta delapan penjaga lainnya. Semuanya telah di tetapkan sebagai tersangka. Bahkan dalam kesempatan keluar sel Jum’at, 5 November 2010. Gayus di duga kuat sempat piknik ke Bali menonton pertandingan tenis Internasional. Dugaan itu muncul setelah penonton yang amat mirip dengan gayus beredar di media massa. Kita juga terusik bagaimana seorang Gayus masih memiliki uang sebanyak itu untuk menyuap polisi?, padahal semua rekeningnya di blokir polisi.

    Mungkinkan ada orang lain yang lebih berduit memasak uang untuk gayus? Pertanyaan itu sesungguhnya menggambarkan betapa tidak berdayanya penegak hukum di hadapan seorang Gayus. Miliader yang sesungguhnya hanya cuma pegawai pajak golongan IIIA itu telah membenamkan banyak sekali duit hasil penggelapan pajak kepada begitu banyak aparat. Kasus gayus ini malapetaka sekaligus hikmah bagi penegakan hukum di negeri ini. Malapetaka kerena hukum harus di langgar oleh mereka yang seharusnya menegakkan hukum. Aparat penegak hukum di negeri ini ternyata begitu gampang terbius duit. Hikmah karena melalui kasus ini tidak ada lagi yang bisa membantah kebenaran bahwa para tahanan atau narapidana dengan gampang piknik ke luar tahanan. Sekali lagi, itu bukan lagi rahasia umum, tapi pengetahuan umum.

    Terkait dengan apa yang di paparkan seperti di atas kita tidak bisa menafikan bahwa hukum itu masih di perjual belikan, bahkan kemungkinan besar sampai sekarang masih ada orang-orang yang melakukan itu hal tersebut. Tapi semoga saja yang melakukan cepat sadar bahwa apa yang di lakukan adalah salah.

    Seharusnya kita semua sebagai manusia bisa menyadari bahwa hukum itu merupakan hal yang tidak di perjual belikan. Oleh karena itu, pemerintah yang mempunyai tugas tertinggi harus memperhatikan orang-orang yang menjual hukum atau orang yang tidak bertanggung jawab. Jika tidak di cermati maka hukum di negeri ini tidak akan ada arti dan maknanya sama sekali. Maka dari itu presiden harus mengerluarkan peraturan yang tegas dan berbotot.

    Bagi kita semua harus saling menyadari betapa pentingnya hukum itu, dan jangan memberlakukan hukum itu seperti benda yang bisa di perjual belikan, patuhi hukum yang ada dan cermati apa makna yang ada di dalamnya. Sekian!


    Penulis: Muslehuddin
    Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Tantangan Pimpinan Perguruan Tinggi (Part 2)

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Setelah sama-sama kita mengikuti deskripsi, ulasan dan bahasan tentang tantangan pimpinan Perguruan Tinggi (PT) bagian pertama, kini selanjutnya akan dibahas bagian keduanya. Keenam, tantangan mengembangkan staf. Pimpinan PT dalam menghadapi tantangan pengembangan staf, tidak bisa lepas dari pemahaman tentang universitas sebagai organisasi belajar, yang mengakui bahwa universitas itu bergerak untuk menjawab tantangan masa depan, sehingga bersikap antisipatif - tidak reaktif, lebih memberikan perhatian kepada lingkungan eksternal - bukan operasi internal, dan mencari perbaikan terus menerus seiring dengan tuntutan jaman. Mengingat universitas harus tumbuh dan berkembang, maka kebutuhan kompetensi, keahlian dan keterampilan terus meningkat baik kuantitas maupun kualitas. Dengan begitu persoalan rekruitmen, seleksi, dan pembinaan kompetensi dan karir berkelanjutan menjadi sangat penting.

    Ketujuh, tantangan memimpin dan merayakan keragaman.  Manusia itu secara fitrah oleh Allah swt diciptakan dari seorang lelaki dan perempuan, secara bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal. Demikian juga Alfred Adler menegaskan bahwa man is unique. Hal ini memberikan penguatan bahwa keragaman (individual differences) menjadi suatu keniscayaan yang harus dihadapi dan diterima. Keragaman bisa terjadi dimana-mana, termasuk keragaman di universitas. Universitas membangun untuk semua, karena itu di universitas seharusnya dimungkinkan pendidikan inklusif dapat dimplementasikan dengan baikn dan menyeluruh, sehingga partisipasi di universitas menjadi semakin meluas dan memungkinkan aksesnya bisa dijangkau oleh semua tanpa ada kesulitan yang berarti. Prinsip keragaman juga memungkinkan program internasionalisasi yang bisa mengakomodasi semua. Internasionalisasi difahami sebagai upaya melakukan benchmarking standar internasional, sehingga produk PT kita bisa diterima dengan baik semua perguruan tinggi dan institusi di seluruh dunia. Sebaliknya internasionalisasi dimakasudkan untuk meng-go internasional-kan produk PT kita yang berbasis local wisdom, semoga bisa menarik mahasiswa asal luar negeri, dan bisa mendiseminasikan karya-karya lulusan PT Indonesia untuk dunia.

    Kedelapan, tantangan meningkatkan pengalaman mahasiswa.  Pimpinan PT perlu memahami pengalaman mahasiswa yang harus menjadi concern. Pengalaman mahasiswa tidak harus dibatasi dengan pengalaman akademik saja, yang sering diukur dengan pencapaian IPK, melainkan harus mencakup pengalaman keterampilan, kreativitas,  interpreneurship dan moral. Berdasarkan kondisi ini, maka mahasiswa harus dipandang sebagai pembelajar dan kustomer. Sebagai pembelajar, mahasiswa bisa menjadi pembelajar independen dan pembelajar sepanjang hayat perlu mendapat perhatian khusus dari pimpinan perguruan tinggi. Selain daripada itu pimpinan PT perlu terus berusaha melengkapi pengalaman mahasiswa, di samping pembinaan hard skills, tetapi juga soft skills. Sebagai kustomer, mahasiswa harus dilayani dengan seoptimal  sesuai kebutuhan dan kondisinya secara memuaskan.

    Kesembilan, tantangan memanaj perubahan.  Perubahan adalah merupakan sunnatullah. Perubahan merupakan suatu keniscayaan. Perubahan sangat diperlukan baik untuk eksis maupun untuk berkembang. Perubahan tidak hanya sebatas universitas berubah, melainkan harus menghasilkan karya-karya inovatif dan para innovator yang beragam bidangnya, baik berupa publikasi bereputasoi internasional dan karya-karya berpaten dan ber-Haqi. Untuk menghasilkan inovasi, miqat makan-nya adalah Departemen dan pusat penelitian, karena departemen dan pusat penelitian asal tempat berkumpulnya para ahli dan tempatnya fasilitas akademik yang relevan dengan bidak akademiknya.

    Kesepuluh, tantangan memanaj pada sisi “up”and “down”.  Pimpinan  PT dihadapkan pada tantangan manajemen sisi atas, berkenaan dengan bekerja yang terkait pimpinann atas,  membangun dan memelihara PT berbasis kekuasaan, membuat presentase profil PT secara efektif, dan menyiapkan renacana bisnis. Selanjutnya, manajamen sisi bawah, di antaranya pimpinan PT harus mampu mengatasi berbagai konflik, menegakkan disiplin, dan memberikan jalan keluar terhadap berbagai keluhan,  mengelola reputasi, dan mengelola perguruan tinggi dalam krisis, sehingga bisa keluar dari berbagai kesulitan dan mampu menyelesaikan dinamika universitas menuju yang lebih baik.

    Kesebelas, tantangan memanaj diri sendiri. Pimpinan PT didorong untuk bisa  mengorganisasi diri sendiri sebagai pimpinan akademik, bukan pimpinan birokratik, bahkann sebagai khadimul ummah yang mendapat amanah untuk melayani civitas akademika terkait dengan tugas utama Tridharma PT, di samping melayani mahasiswa, membangun partnership, dan menjadi universitas sebagai pusat keunggulan (center of excellene) dan agen perubahan (agent of change). Pimpinan PT juga harus menjadi dirinya sendiri, baik sebagai pribadi mauoun sebagai professional. Juga Pimpinan PT harus terus menjaga diri dengan mengikuti perkembangan jaman dengan melakukan penyesuaian dan adaptasi terhadap kebijakan yang sedang berlangsung. Akhirnya pimpinan PT harus mampu melakukan introspeksi dan meng-update diri terutama kemampuan dan kecakapan kepemimpinan secara terus menerus, sehingga dapat memberikan dampak terhadap perbaikan kinerja perguruan tinggi.

    Demikianlah beberapa tantangan pimpinan PT, semoga menjadi catatan penting bagi  semua pimpinan, terlebih-lebih di era digital yang sangat menuntut kepekaan para pimpinan PT terhadap issue-issue perguruan tinggi dewasa ini. Setelah kita saling sharing di Semarang bersama para pimpinan PT, diharapkan secara organisatoris dan secara institusional dapat segera di-follow up,maka diharapkan sekali manfaat silaturahim dan konferensi tahunan dapat dirasakan masing-masing di tempatnya.


    Semarang, 26 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bukber 2019 Bersama Mahasiswa PAI B 2015

    Suasana Bukber 2019 bersama Mahasiswa PAI B 2015.
    "Bukber adalah moment untuk merekatkan jalinan emosional, mensinergikan pikiran dan hati untuk memahami setiap hal yang telah terukir, dan mengingat kembali sejarah hidup yang dilaui bersama". (Mukaromah, 2019)

    Dari rumah penulis, butuh 1 jam untuk sampai di tempat ini. Niat saya satu, silaturrahim. Tak biasanya, Bukber kelas diadakan di rumah salah satu kawan kami, bukan di resto atau tempat lain. Mungkin, ini kode agar pada saatnya nanti ia menikah, kami sudah tau alamat rumahnya. Hahahaha, makasih Bang Zae.

    Sebelum penulis membuat caption tentang foto ini, boleh kiranya menceritakan sedikit hal yang terbesit dibenak. Sesuatu yang membuatku terharu, adalah mendengar kawan Munaqosyah. Disatu sisi bahagia, namun disaat yang bersamaan juga bersedih. Bahagia karena tentu hal demikian, menjadi salah satu bukti bahwa ia bertanggungjawab atas akademiknya. Namun, sedih karena perpisahan kian dekat.

    Dan entah, aku tak tau, setahun yang akan datang apakah bisa selengkap ini atau tidak. Karena mayoritas dari mereka adalah anak rantau yang kini sedang memikirkan langkah ke depan, tetap di Jogja ataukah kembali ke daerah asal. Seperti apapun dimasa depan, tetaplah saling ingat mengingat bahwa kita pernah berjuang bersama, pernah mengukir mimpi, cita dan impian untuk membangun Indonesia yang lebih baik, pun demikian halnya, rentetan cerita yang pernah kita ukir saat menjadi mahasiswa, akan menjadi kenangan terindah, sekaligus akan menjadi sejarah hidup yang akan terus terkenang.

    Harapanku sederhana, semoga moment bukber kali ini (2019) bukan Bukber yang terakhir, namun bukber tanda pisah sementara karena harus melanjutkan langkah selanjutnya. Menikah, kerja ataukah melanjutkan studi kembali. Tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya semoga tetap bisa menjaga erat silaturrahim ini, sampai maut yang memisahkan. Aku bangga, mengenal mereka. Mereka  adalah kawan perdana yang selalu mengisi hari-hari ku, saat menjadi Mahasiswa Baru di PAI B 2015 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selamat melanjutkan perjuangan kembali.


    Yogyakarta, 11 Mei 2019
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Tantangan Pimpinan Perguruan Tinggi (Part 1)

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Di Era Rrevolusi Industri 0.4 kehidupan manusia semakin komplek. Perubahan sosial terjadi sangat cepat. Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh globalisasi, kemajuan ipteks, pemanasan global, keterbukaan informasi, ledakan penduduk, krisis moral,  dan sebagainya. Perguruan sebagai institusi paling depan bertanggung jawab memberikan respon terhadap perubahan besar. Kemampuan perguruan tinggi dalam merespon perubahan tidak bisa dilepaskan dari pimpinannya. Sehebat apapun  pimpinan perguruan tinggi tidak bisa lepas dari berbagai tantangan.

    Berdasarkan pandangan Peter McCaffery (2004) bahwa tantangan pimpinan Perguruan Tinggi (PT) sangat terkait dengan, (1) mengetahui lingkungan, (2) mengetahui institusi, (3) memimpin departemen, (4) memimpin dengan keteladanan, (5) memimpin untuk kinerja unggul, (6) mengembangkan staf, (7) memimpin dan merayakan keragaman, (8) meningkatkan pengalaman mahasiswa, (9) memanaj perubahan, (10) memanaj pada sisi “upand down”, dan (11) memanaj diri sendiri. Untuk dapat memberikan ulasan yuang rekatif lebih detil, akan diposting dua kali, pertama tantangan no 1 sd 5, sedangkan kedua tantangan no 6 sd 11.

    Pertama,  tantangan mengetahui lingkungan. Pimpinan PT harus menyadari adanya pendorong perubahan, yang terkait dengan globalisasi, masyarakat pengetahuan, perubahan sosial, spesialisasi akademik dan postmodernisme;  krisis identitas universitas; tantangan strategik universitas. Tantangan ini tidak bisa diabaikan. Pimpinan harus bersikap reaktif terhadap persoalan yang ada di lingkungan dan bersikap proaktif dalam rangka mengantisipasi persoalan yang muncul di lingkungan.

    Kedua, tantangan mengetahui manajemen dan kepemimpinan PT baik bidang akademik maupun non akademik, kultur PT, universitas riset, universitas enterpreneurship, universitas virtual, dan universitas 2025. Pimpinan PT tidak hanya mampu mengelola dan memimpin, melainkan juga mengarahkan PT baik menghadapi persoalan mutaakhir, maupun persoalan masa mendatang, terlebih-lebih berkenaan menjadikan universitas yang mampu mengantarkan mahasiswa mampu menghadapi tantangan pada jamannya.

    Ketiga, tantangan memimpin departemen. Dalam memimpin departmen, ketua departemen akan menghadapi persoalan leadership vs manajement, menjadi leader and manager efektif, model kepemimpinan yang baru, memedomani prinsip-prinsip leadership and manajemen, memimpin dan mengelola PT menegakkan visi departemen. Perlu dimaklumi bahwa tidak semua dosen mempersiapkan diri sebagai pimpinan, sekalipun sebagai ketua departemen. Padahal pimpinan departemen merupakan suatu keniscayaan bagi setiap dosen. Biasanya departemen yang baik selalu menghendaki pimpinan depatemen adalah dosen yang memiliki reputasi akademik yang baik. Menyadari kondisi yang demikian, maka ketua departemen perlu mendapatkan pelatihan pimpinan akademik untuk menjadi pimpinan departemen yang efektif.

    Keempat, tantangan memimpin dengan keteladanan :`Pimpinan PT pada hakekatnya sering dihadapkan pada tugas meratakan jalan, membangun team building, dan mengatasi konflik. Pada prakteknya, pimpinan PT harus selalu standby dalam menghadapi berbagai persoalan yang selalu berubah. Demikian juga pimpinan harus mampu mengorganisasikan team building, untuk dapat mencapai tujuan lebih efektif dan efisien. Mengingat dinamika PT yang tidak pernah lepas dari persoalan, yang bahkan bisa menimbulkan konflik, maka perlu ditunjukkan kepemimopinan yang kolegial dan kolektif, sehingga terhiondar dari konflik yang tidak perlu.

    Kelima, tantangan memimpin untuk kinerja unggul. Pimpinan PT dihadapkan pada tantangan  memenaj kinerja staf, persoalan tentang manajemen kinerja, prinsip-prinsip manajemen kinerja, implementasikan manajemen kinerja, mengatasi kinerja yang rendah, dan memotivasi staf. Karena salah. satu ukuran keberhasilan kepemimpinan PT adalah keberhasilan kinerja, maka manajemen kerja harus mendapatkan perhatian tersendiri, untuk mampu mengantarkan institusi dan personalia untuk bekerja yang kompetitif dan produktif. 

    Demikianlah berbagai tantangan bagi pimpinan perguruan tinggi, sebagai pimpinan akademik di semua level, yang diharapkan dapat dikenali oleh para pimpinan atau calon pimpinan PT serta para pemerhati kepemimpinan PT. Semoga materi ini bisa menginspirasi semua, sehingga bisa menunjang pengelolaan perguruan semakin efektif dan efisien dari waktu ke waktu.

    Tulisan ini sengaja dipersembahkan kepada kolega untuk menyambut Konferensi Forum Rektor Indonesia 2019 di Undip, Semarang tangga 25-27 April 2019. Saya mohon maaf, kemarin tidak bisa posting karena ada gangguan teknis hp jatuh lagi, shg tidal bisa berfungsi. Padahal saya sangat tergantung  pada hp itu untuk uposting. Insya.Allah hari ini akan komornsasi dengan 2 posting.


    Semarang, 26 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Akhirussanah Pondok

    Siti Mukaromah.
    PEWARTAnews.com – “Tirakat terbesar sekaligus terbaik bagi orang yang mempunyai Al Qur’an adalah nderes” (Ny. Hj. Siti Syamisyyah DZ)

    Selama berguru dengan Bu Ny. Syamsiyyah tak banyak tuntutan dan perintah yang beliau berikan kepadaku, maupun santri-santri yang lain selain daripada nderes (mengaji Al-Qur'an). Bahkan beliau pernah ngendiko dalam bahasa Jawa, “Nek puasa sunnahmu itu membuatmu malas dan ngantuk kala nderes, mending tidak usah berpuasa, cukup nderes sik mempeng (istiqamah) saja, itu tirakatmu sebagai penghafal Qur’an”.

    Berdasar sepengatahuan penulis, setiap pondok pesantren memiliki tirakat-tirakatnya sendiri. Ada kiyai dan nyai (pengasuh pondok) yang mewajibkan/ndawuhi santri-santrinya untuk berpuasa ngrowot (tidak makan nasi), mutih, puasa daud atau puasa senin kamis. Namun di pondok pimpinan Bu Ny. Syamsiyyah tidak mewajibkan itu semua, hanya saja bu Nyai tak kenal lelah untuk terus memotivasi santri-santrinya agar sregep nderes. Sebegitu besarnya bu Nyai dalam memuliakan Al-Qur’an, maka beliau selalu mewanti-wanti (menaruh harapan besar) pada para santrinya untuk terus berangkat Ahad Pon. Ahad Pon merupakan rutinan semaan Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap 40 hari sekali yang bertempat secara nomaden (door to door). Harapannya, agar ikatan keluarga besar PP. An Ni’mah terjalin kuat, selain itu juga untuk saling ngrekso Al-Qur’an, dengan berproses bersama.

    Dan seharusnya, Agenda rutin Ahad Pon Santri & Alumni PP. An Ni'mah juga digunakan untuk nostalgia kebersamaan kala dulu menjadi santri. Moment seperti ini juga seharusnya digunakan sebagai ajang untuk menyambung silaturrahim. Sebagaimana yang diketahui, bahwa silaturrahim menjadikan hidup kian berkah, melapangkan rizqi dan memperpanjang umur. Jika hal semacam itu disadari, tentu sepelik apapun keadaan dan kesibukan tak menjadi hambatan untuk tetap berangkat dan merajut kebersamaan kembali. Bayangkan, betapa bahagianya Almh. Bu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ manakala melihat santri-santri nya antusias untuk bersama-sama nguri-uri (menjaga dan merawat) amanah beliau.
    Suasana saat Akhirusanah Pondok Pesantren An Ni'mah.

    Saya yakin seyakin-yakinnya-nya (haqqul yaqin) betapapun keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat, tetapi kalau niat, azam dan ghirah menjadi patokannya, pasti Allah akan memberikan kemudahan dan kekuatan untuk sampai pada tujuan. Untuk memupuk semangat selain mengingat dan mengenang wajah bu Nyai, bisa dengan cara melihat keadaan diri. Bagi yang masih single, mumpung belum nikah. Bagi yang sudah nikah, mumpung belum punya anak. Dan bagi yang sudah menikah dan punya anak, mumpung masih ada peluang dan kesempatan yang Gusti Allah berikan, maka harus semangat menjaga amanah Almh. Bu Nyai untuk meramaikan majlis Ahad pon. Karena sedikitpun manusia tidak tahu kapan ajal menjemput. Padahal setiap harinya, kematian selalu mengintai manusia. Sekali lagi, karena “mumpung”, jadikan kata “mumpung” itu sebagai cambuk loncatan untuk semangat dalam segala hal, sesibuk apapun.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website