Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik

    M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com – Akhir-akhir ini suasana bangsa Indonesia kian hari kian memanas, salah satu penyebabnya adalah kini Indonesia memasuki tahun politik. Tahun 2018 Pilkada Serentak. Tahun 2019 pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden.

    Dalam lampiran Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 1 Tahun 2017 disebutkan, kegiatan sosialisasi kepada masyarakat sudah dimulai sejak pada 14 Juni 2017 dan pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018.

    Sedangkan tahapan jadwal penyelenggaraan Pemilu 2019 yang dirilis KPU untuk pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden yakni, 1 Agustus 2017-28 Februari 2019 penyusunan peraturan KPU. 26 Maret 2018-21 September 2018 pencalonan. 23 September 2018-13 April 2019 masa kampanye. 14 April 2019-16 April 2019 masa tenang. 8 April 2019-17 April 2019 pemungutan dan penghitungan suara. Juli-September 2019 peresmian keanggotaan. Agustus-Oktober 2019 pengucapan sumpah/janji.

    Dalam suasana tahun politik ini, tidak jarang ditemukan isu-isu yang seksi yang ditampakkan di khalayak publik. Dari adu dan penawaran program yang pro rakyat, saling serang dan cari kesalahan lawan politik, bahkan tidak jarang ada juga yang menyebarkan hoax untuk kepentingan politiknya.

    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik
    Masyarakat merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur (https://id.wikipedia.org, 19/04/2017).

    Sarwono (1978) memberi gambaran bahwa mahasiswa merupakan setiap orang yang secara resmi telah terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. Mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh status karena memiliki ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan seorang calon intelektual ataupun cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat dalam masyarakat itu sendiri. (https://masukuniversitas.com, 19/04/2018.

    Kita sebagai masyarakat, lebih-lebih sebagai pemuda terpelajar (Mahasiswa) harus mengambil bagian untuk melakukan sesuatu perubahan positif dalam masyarakat, salahsatunya dalam menangkal hoax yang tersebar luar di masyarakat. Biar bagaimana pun, peran mahasiswa dalam menangkal hoax di tahun politik ini sangat diharapkan, karena karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent). Mahasiswa harus berperan aktif membantu mengawas dan mengontrol berjalannya Pemilu agar terbebas dari hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti penyebaran ujaran kebencian, hoax, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

    Dengan kemurnian pikiran yang disandang oleh mahasiswa, diharapkan ketika hadir di tengah-tengah masyarakat menjadi benar-benar sebagai agen perubahan (agent of change), jangan malah menjadi bagian dalam penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut.

    Peran Masyarakat Umum di Tahun Politik
    Hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat syarat akan nilai kebersamaan, itulah sejatinya hidup dalam bermasyarakat yang telah menjadi tradisi dari masa ke masa sejak ribuan tahun silam, yang mana kebersamaan tersebut dibuktikan dengan adanya nilai-nilai yang tertanam dalam pribadi-pribadi masyarakat, diantaranya seperti gotong royong, musyawarah mufakat, dan lain sebagainya. Sikap kebersamaan (kolektifitas) tersebut juga harus terpartri dalam mensukseskan tahun politik, karena tahun ini (2018) dan tahun depan (2019) kita sudah dihadapkan dengan Pemilu yang akan menyita lebih dalam daya kepekaan kita dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, karena hasilnya tersebut akan menentukan perubahan bangsa ini untuk 5 tahun selanjutnya. Maka oleh karena itu, semua lapisan masyarakat harus berperan aktif untuk mensukseskannya, yang bisa dilakukan masyarakat adalah ketika para calon kepala daerah/caleg/capres turun di masyarakat mengubarkan janji-janji manisnya, maka masyarakat harus jeli dan cerdas dalam menyikapinya, jangan sampai orang yang di pilih tidak mewakili aspirasi-aspirasi masyarakat hingga sebaliknya yang terjadi kelak bila telah terpilih malah menyimpangi dari tanggungjawab yang harus diembannya. Bila mana dalam lapangan ada yang melakukan penyuapan di masyarakat, yakin dan percayalah, orang-orang semacam itu tidak akan sepenuhnya mau melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya bila kelak telah terpilih. Karena ketika telah terpilih yang paling pertama  dia pikirkan adalah, bagaimana caranya untuk mengembalikan uang-uang yang telah mereka keluarkan, dan dengan kewenangannya yang besar, mereka bisa dengan leluasa memanfaatkannya untuk menggunakan dana yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat digunakan sepenuhnya untuk pribadinya, agar uang yang dia keluarkan semasa kampanye cepat kembali dan bahkan mengambil sebanyak-banyaknya untuk memperkaya dirinya dan keluarganya.

    Peran Mahasiswa dalam Menyambut Tahun Politik
    Mahasiswa merupakan agen pengontrol sosial (agents of social control) dan agen perubahan (agent of change), yang mana ditangan mahasiswa bisa membuat atau menciptakan suatu perubahan dalam suatu lingkup masyarakat, bangsa, Negara, bahkan dunia. Karena dengan sifat dan karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent), dengan kemurnian hati dan pikiran seorang mahasiswa bisa merangkul dari aspirasi semua kalangan, lebih-lebih untuk kepentingan masyarakat menengah kebawan. Seperti selogan yang pernah digembar-gemborkan oleh sang pendiri bangsa (funding father) kita yaitu Soekarno, tentang besarnya pengaruh pemuda/mahasiswa bila mereka bersatu, beliau pernah mengatakan dengan lantang “berikan saya sepuluh pemuda, maka saya akan bisa mengguncangkan dunia”, itulah sejatinya prestasi yang akan diraih oleh pemuda/mahasiswa bila mana mereka menyatukan ide, pikiran, gagasan, dan bersama-sama melangkah melakukan perubahan untuk masyarakat, bangsa dan Negara tercinta ini, maka suatu perubahan yang nyata akan terlihat atau terpampang dengan jelas dari buah tangan atau karya pemuda/mahasiswa.

    Sejatinya kita semua harus menyatu dengan indah seperti halnya lidi-lidi yang berserakan dikumpulkan jadi satu, membentuk satu kekuatan yang utuh, yaitu kekuatan untuk membangun suatu masyarakat, bangsa dan Negara. Karena  seberapa besarpun suatu persoalan kalau dikerjakan secara bersama maka akan terasa mudah, begitu juga sebaliknya, sesederhana apa pun suatu pekerjaan kalau dikerjakan sendirian akan terasa sulit adanya, seperti halnya sapu lidi, sapu lidi merupakan gabungan dari puluhan atau ratusan lidi, bila satu lidi ingin menyapu batu yang besarnya sebesar genggam tangan maka lidi tersebut tidak akan bisa menyapu batu itu, begitu juga sebaliknya, bila mana lidi-lidi tersebut digabungkan jadi satu dalam satu ikatan akan menjadi sapu lidi dan juga akan bisa menyapu batu yang besarnya sebesar genggaman tangan tersebut. Oleh karena itu, makna atau hasil yang didapat dari suatu kebersamaan itu akan bernilai tinggi adanya. Itulah sikap-sikap kolektifitas yang harus tertanam dalam hidup dan kehidupan dalam suatu masyarakat, bangsa dan Negara, yang mana bila kita ingin menggapai tujuan yang mulia sejatinya kita harus melaksakan tujuan tersebut secara bersama-sama biar suatu persoalan sesulit apapun bisa dilakukan atau disa dipecahkan secara bersama-sama. Begitu juga apabila kita semua ingin mensukseskan dan turut andil dalam menjaga keharmonisan tahun politik, kita harus bahu membahu membentuk satu kekuatan yang utuh untuk mensukseskannya.

    Wallahu a’lam bish-shawabi.


    Penulis: M. Jamil, S.H.
    - Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada -- IG/FB/Twitter: @MJamilSH
    - Tulisan ini disampaikan sebagai pengantar dalam acara Pelantikan dan Dialog Publik Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu (IPMLY) Bima-Yogyakarta pada 20 April 2018.

    Guru pun Harus Menulis

    Ilustrasi Guru. Foto: merdeka.com.
    PEWARTAnews.com – Aktivitas tulis-menulis sudah barang tentu melekat pada diri setiap guru. Hal ini bukan lagi sesuatu yang langka atau pun asing baginya. Mengingat, guru harus mengajar dan menyampaikan materi kepada siswanya. Tentu menyampaikannya lewat tulisan. Mungkin dituliskan di papan tulis, atau ditampilkan tulisannya lewat LCD Proyektor atau pun sejenisnya. Sehingga siswanya pun bisa membaca dan menuliskannya di bukunya masing-masing.

    Saya yakin, setiap kali mengajar, besar kemungkinan guru pasti menulis. Di samping itu juga, mengenai persoalan administrasi, seperti perangkat pembelajaran, tentu seorang guru harus menyiapkannya sebelum mengajar. Contoh, menyusun program tahunan, program semester,  kriteria ketuntasan minimal (KKM), rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan lainnya. Belum lagi administrasi lainnya juga untuk persiapan akan datangnya tim supervisi. Hemat saya, semuanya tentu berhubungan dengan tulis-menulis.

    Namun, bukan lagi menjadi sebuah rahasia, bahwa kebiasaan tulis-menulis yang dimaksud hanya sebatas rutinitas kewajiban dari sekolah saja. Jarang kita lihat guru yang mau betul-betul membiasakan diri untuk menulis, selain dari yang disebutkan di atas. Padahal, kalau saja guru mau membiasakan diri untuk menulis dari apa yang dialami, yang diketahui selama hidup dan selama ia mengajar, sungguh guru yang luar biasa.

    Kalau saja kita mau menelusuri satu per satu dari sekolah ke sekolah, guru penulis bisa dihitung jari. Bahkan, banyak sekolah yang tidak kita temukan guru penulis seperti yang dimaksud. Yang jelas, di setiap sekolah lebih banyak guru yang biasa daripada guru yang luar biasa (baca: guru penulis).

    Menjadi seorang guru itu, mestinya harus membiasakan diri untuk menulis (di luar rutinitas di sekolah). Apalagi guru merupakan pencetak generasai bangsa. Guru penulis itu, besar kemungkinan akan bisa menginspirasi siswanya untuk menulis juga. Sehingga lahirlah generasi-generasi yang cinta akan menulis. Dengan demikian, kelak ketika mereka (baca: siswa-siswa) bekerja, mereka tidak lupa juga untuk meluangkan waktunya untuk menulis. Bila ada di antara mereka yang menjadi tentara negara Indonesia (TNI), maka ia akan menjadi TNI penulis. Jika mereka bekerja sebagai politisi, maka ia akan menjadi politisi penulis. Begitu pula dengan profesi-profesi lainnya.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Bangkitlah Mahasiswa (Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)

    PEWARTAnews.com – Hidup adalah anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Namun dalam hidup ada banyak pilihan, begitupula dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam membangun bangsa. Sebagaimana maqalah arab mengatakan syubbaanul yaum rijalul ghad. Pemuda (syabab) yang dapat juga diartikan sebagai mahasiswa merupakan pemimpin masa depan. Realitanya tak hanya untuk masa depan, namun juga pemimpin saat ini. Sehingga mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depannya serta mempersiapkan untuk menjadi agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial) dan agent of problem solver (agen pemecah masalah) dalam menghadapai problema kehidupan. Mahasiswa disebut sebagai Maha Atas Ke-Siswaan-nya, yang berarti memiliki tanggungjawab yang lebih besar dibanding dengan dahulu ketika mengenyam pendidikan dasar, pertama dan menengah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi Mahasiswa untuk mengembangkan dirinya baik didalam maupun luar kelas.

    Pernakah berfikir mengapa IP maupun IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, yakni melalui kajian literasi, berdiskusi maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar didalam kelas saja lalu pulang ke rumah ataupun kos (Mahasiswa Kupu-kupu) merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (read : mahasiswa) secara perlahan.

    Penulis sering mengamati mahasiswa yang hanya fokus pada akademiknya, dengan mahasiswa aktivis. Tentu ini berdasar pada pengamatan empirik di Kampus. Untuk menelaah lebih dalam hal itu, saya sering mengajak berdiskusi (apapun itu) dengan mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis dengan memaparkan sebuah persoalan dan saya minta solusi juga pendapat berdasar pada persoalan yang telah saya kemukakan. Ternyata jawaban yang memuaskan (analitik, konkrit, logis, rasional dan bereferensi) lebih banyak saya dapatkan dari mahasiswa aktivis. Tentu aktivis tidak hanya sekedar demo, debat dll. Namun seorang aktivis yang mengimbangi dirinya dengan selalu membaca buku.

    Yang menjadi persoalan ialah telah mendarah daging pola pikir (mind set) kalangan akademis dan masyarakat mengenai mahasiswa aktivis yang terkenal dengan “lulusnya lama”, sehingga memandang anak-anak aktivis dengan sebelah mata. Hal ini kongkrit, faktanya memang begitu!.

    Penulis pun banyak menjumpai teman-teman aktivis yang lulusnya lama, ingat “bukan berarti mereka bodoh”. Namun mereka hanya ingin menikmati masa-masa menjadi mahasiswa, karena masa-masa mahasiwa merupakan masa yang nikmat dan penuh warna. Ada pula faktor lain, karena mereka beranggapan bahwa “dirinya” belum layak untuk lulus dengan indikator belum banyak buku-buku yang dibaca dan dikuasai. Dari hal ini jelas bahwa mereka mengedepankan aspek “kualitas keilmuan” daripada mengejar angka 3,9 sekian diatas kertas putih. Karena faktanya IPK tinggi itu mudah dicari dengan hanya terus masuk kelas tanpa ada keterangan sakit, izin atau bahkan alfa alias “tidak masuk tanpa keterangan” (saya pastikan nilai-nya 4,0) karena yang menyebabkan seseorang IPK-nya rendah bukan karena faktor intelegensi, namun karena faktor “kehadiran/administratif”. Hal ini tidak bisa diubah, karena sistem yang telah berperan, sehingga secerdas apapun mahasiswa kalau dia tidak pernah masuk kelas jangan harap dapat IPK 3,5. Boro-boro 3,5 dapat 3,0 pun tidak akan pernah. Kalau tak percaya coba saja buktikan.

    Dulu lulus SD masuk ke SMP harus mempunyai nilai yang tinggi, begitupula dengan lulus SMA ke PT memerlukan nilai yang tinggi pula, meskipun faktanya nilai saja tidak cukup. Akan tetapi perlu dan harus memiliki sertifikat penghargaan/kejuaraan yang diraih saat di SMA baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Begitupula dengan lulus Kuliah, tidak cukup hanya dengan nilai yang baik, akan tetapi yang lebih dari itu ialah harus memiliki nilai plus atau biasa disebut dengan skill komparatif yang salah satunya mempunyai jiwa leadership. Itu yang jauh dibutuhkan untuk masa depan, daripada hanya sekedar IPK tinggi ataupun embel-embel yang lain.

    Penulis teringat nasihat dari Prof. Anis Baswedan saat seminar di UGM Yogyakarta tahun 2015 yang lalu bahwa “Kemampuan belajar” menjadi satu kunci, bukan “kemampuan menguasai suatu bidang”. Karena ketika lulus, mahasiswa belum tentu melakukan dan berhadapan dengan bidang yang digelutinya saat masa-masa kuliah. Namun kemampuan dalam belajar akan membuat mahasiswa menjadi pembelajar terus menerus, sehingga mempunyai peluang untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kontribusi disekelilingnya. Sehingga saat-saat menjadi mahasiswa seperti ini jangan hanya disebut sebagai “masa kuliah nan masa muda semata” namun harus dijadikan sebagai spirit untuk “terus mengembangkan diri secara optimal dan berkelanjutan”. Jika hal ini dilakukan, maka InsyaAllah “jalan kedepan akan jauh lebih lebar, jauh lebih menantang, dan akan menemukan simpul-simpul baru kebahagiaan yang membanggakan termasuk dalam memperluas jaringan”.

    Tulisan ini bukan berarti mengesampingkan hal-hal akademik, seperti IPK. Karena faktanya IPK juga penting namun harus diimbangi dengan soft skill dan pengalaman yang lain. Penulis hanya ingin membukakan “sedikit” cakrawala dan paradigma berpikir ala anak-anak aktivis yang seharusnya dipahami oleh kalangan akademis seperti dosen dan masyarakat pada umumnya agar tidak menjustifikasi anak-anak aktivis sebagai mahasiswa yang malas dan terkenal dengan lulus kuliah “lama”. Coba lihat 10-20 tahun yang akan datang, siapa yang lebih banyak berkontribusi nyata untuk Indonesia. Mahasiswa aktivis-kah atau mahasiswa yang hanya “Mencerdaskan dirinya sendiri” yang acuh terhadap realitas sosial?


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Ketua IPPNU Sewon, Bantul, DIY.

    Jadi Mahasiswa Itu Harus Menulis

    Ilustrasi Mahasiswa Menulis. Foto: gradschools.com
    PEWARTAnews.com -- Bagi seorang mahasiswa, menulis itu bukan merupakan sesuatu yang asing. Bahkan, menulis itu sudah menyatu dengan diri mahasiswa. Sebab, tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya selalu ada yang berhubungan dengan menulis, seperti membuat makalah. Mahasiswa semester akhir, misalnya haru menulis skripsi, tesis, atau disertasi sebagai salah satu syarat kelulusan. Contoh lain, mahasiswa yang kuliah di fakultas kesehatan, setidaknya mereka membuat laporan setiap kali selesai melakukan praktikum. Semua itu, tentu berhubungan dengan tulis-menulis.

    Walaupun menulis sudah tidak asing lagi bagi mereka, namun kegiatan yang dimaksud hanya seputar rutinitas tugas kuliah yang dibebankan oleh dosen kepadanya. Sangat jarang terdapat mahasiswa yang mau menulis di luar kewajiban sebagaimana yang dimaksud di atas. Jarang sekali mahasiswa yang mau membiasakan menulis artikel, buku, dan lainnya. Seperti yang disebutkan di atas, kegiatan menulisnya baru muncul ketika ada tugas yang berhubungan dengan menulis yang diberikan oleh dosennya.

    Saya sendiri kurang tahu pasti, mengapa hal demikian bisa terjadi. Apakah budaya literasi di kalangan mahasiswa yang masih kurang atau memang dosennya tidak pernah atau jarang memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk menulis (baca: selain tugas perkuliahan). Namun, semuanya itu harus kembali kepada diri masing-masing. Kesadaran akan dunia literasi itu harus muncul dari dalam diri individu itu sendiri.

    Semestinya, sebagai mahasiswa itu harus membiasakan diri untuk menulis (baca: di luar tugas perkuliahan). Begitu banyak pengalaman diperoleh di dunia organisasi, komunitas, dan lainnya, namun sebaliknya minim dalam karya tulis. Bukankah sangat bagus, bila berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di kampus, di berbagai organisasi, dan lainnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Sehingga, orang lain pun bisa menikmati hasil jerih payahnya ketika masa-masa itu.

    Jadi mahasiswa itu harus menulis. Jangan hanya pintar berorasi kiri-kanan. Jangan hanya jago bakar-bakar ban. Jangan hanya bisanya menutup jalan (ketika demo). Jangan hanya bergabung dan berkecimpung dari organisasi ke organisasi. Cobalah Anda berbagi lewat karya tulis. Sayang rasanya berbagai pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan di dunia kampus dan di berbagai organisasi, bilamana hanya dinikmati oleh seorang diri. Mari kita sama-sama membangun peradaban bangsa ini dengan budaya literasi. Ayo, gaungkan literasi kapan dan di mana pun Anda berada. Menulislah!

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Pendidikan yang Menghidupkan

    Mukaromah (berkacamata) usain melakukan proses belajar mengajar.
    PEWARTAnews.com – Pendidikan merupakan suatu hal yang urgent dan mempengaruhi masa depan suatu bangsa. Maju mundurnya bangsa dapat dilihat dari seberapa berkualitas pendidikannya. Jika warga negara mayoritas orang-orangnya berpendidikan dan mempunyai kesadaran untuk belajar, maka bangsa tersebut akan maju. Namun sebaliknya, jika kualitas dan tingkat pendidikan warga negara rendah, maka negara tersebut sulit untuk maju dan sulit bersaing dengan warga negara yang lain. Betapapun itu, pendidikan merupakan kunci mata rantai yang turut ikut andil dalam memajukan bangsa dan negara. Sebagai contoh, ketika tentara sekutu menyerang Jepang dan melakukan pengeboman di kota Nagasaki dan Hirosima hingga pada akhirnya menewaskan jutaan orang, hal yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar adalah berapa banyak “guru” yang masih hidup. Mengapa tidak bertanya berapa jumlah doktor, insinyur, pegawai bank, tentara, polisi yang masih hidup, namun menanyakan jumlah guru yang masih hidup? Tak lain guru memegang kunci dalam membangun peradaban suatu bangsa. Adanya kaisar, insinyur, tentara, polisi karena adanya guru. Sehingga wajar jika Kaisar bertanya berapa jumlah guru yang masih ada, karena ditangan guru-lah peradaban akan dibangun kembali.

    Dalam sejarah dunia, kita mengenal Thomas Alfa Edison. Seorang tokoh yang menemukan bola lampu dunia yang telah menggunakan 999 cara sebelum ia berhasil menemukan bola lampu yang saat ini dapat kita nikmati manfaatnya. Thomas mempunyai kegigihan dan semangat yang menggelora untuk membuktikan kepada guru-nya bahwa ia anak yang hebat. Karena sebelum itu, guru-nya telah menyerahkan dirinya (drop out) kepada ibunya dengan alasan Thomas anak yang bodoh. Sejak saat itulah ibunya mendidik dan mengajarinya dengan penuh kasih sayang dan bi tarbiyatin hasanatin.

    Pada saat itu, Thomas berkata kepada ibunya, “Ibu, mengapa sekarang aku tidak sekolah, seperti teman-teman ku”? Ibunya berkata “Nak, gurumu sudah tidak bisa lagi mendidikmu karena kamu anak yang CERDAS, sehingga mulai sekarang ibu lah yang akan mendidikmu langsung karena ibu yang melahirkan kamu sehingga tuangkan kecerdasanmu itu dalam melakukan percobaan dan eksperimen ya”. Disaat yang seperti ini, ibunya terus meyakinkan dan selalu berkata bahwa Thomas merupakan anak yang cerdas. Hal ini sangat penting untuk dikatakan, karena ucapan (read: pujian) merupakan salah satu bentuk motivasi yang dapat membuat orang menjadi lebih semangat dan percaya diri dalam mewujudkan cita-cita dan keinginannya.

    Dengan intangible capital (modal tidak kasat mata yang berbentuk niat, tekad, gigih dan semangat) akhirnya Thomas berhasil membuat bola lampu dunia. Thomas Alfa Edison merupakan salah satu contoh diantara banyak tokoh lainnya yang berhasil dan sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal. Namun ia selalu menggali, mengasah dan mengembangkan skill dan kompetensi nya sebagai manifestasi atas rasa syukur kepada Tuhan-nya. Tak hanya Thomas, ilmuan seperti Albert Einstein Benjamin Franklin, Isaac Newton, Charles Darwin pun orang hebat yang sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal.

    Meski ada orang yang beranggapan bahwa tanpa guru, ternyata bisa sukses. Penulis merasa kurang setuju dengan argumen ini. Karena Penulis yakin, setiap orang mempunyai ilmu, terlepas dari kadarnya seberapa. Dan ilmu tidak hanya disampaikan dengan pembelajaran yang formal, namun dapat disampaikan dengan cara-cara lain seperti sharing, bercengkrama dan berdiskusi. Hal ini lah yang “mematahkan” argumen pertama bahwa orang bisa sukses tanpa guru. Karena faktanya, setiap orang adalah “guru”. Itulah mengapa Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa beliau merupakan hamba dari seorang yang mengajari-nya walau satu huruf.

    Meskipun Thomas, Darwin, Isaac Newton dll sukses meski tidak melalui jalur pendidikan formal, bukan berarti mereka tidak membutuhkan seorang guru. Siapapun yang mereka jumpai dan membimbing serta mendidik mereka itulah gurunya, meskipun berstatus ibu-nya. Sehingga penulis rasa, di dunia ini tidak ada satu orang pun yang berhasil tanpa bimbingan dari seorang guru. Meskipun terkadang guru lah yang menghambat daya kreatifitas anak didiknya, sebagai contoh membatasi kreatifitas siswa dalam menulis makalah atau paper dengan memberikan batas maksimal halaman. Mungkin disisi lain guru ingin membaca pokok-pokoknya saja, dan mengajak siswa untuk berpikir to the point.

    Berpendidikan saja tidak cukup, namun juga harus diimbangi dengan terus self continous improvement. Mengasah dan menggali sofskill juga hardskill. Itulah sebabnya hakikat dari belajar ialah perubahan tingkah laku yang menyebabkan seseorang sadar akan sesuatu yang dilakukannya. Melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, keoptimisan serta penuh tanggungjawab dengan disertai niat dan kemauan untuk lebih baik dari sebelumnya. Oleh karenanya, orang yang mengasah intelektual dengan belajar seharusnya juga menumbuhkan sifat emosional dalam dirinya yang berarti paham dan mampu memahami realita sosial dan masyarakat yang kemudian dimanifestasikan dengan akhlaq yang baik dan benar, yakni dengan memanusiakan manusia secara manusiawi. Karena pada hakikatnya, haruslah sinergi antara IQ, EQ, dan SQ. Ketika seorang peka terhadap realita sosial, maka akan menambah rasa cinta pada Rabb yang telah menganugrahkan nafas hidup untuk nya (aspek spiritual). Akibat seperti inilah puncak tertinggi dari belajar, dimana seseorang mampu mengenal Tuhannya setelah ia mengenal dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga ia mampu menemukan cahaya suci nan indah yang dapat menuntunnya ke jalan yang haqqul abadi. (min adzulumaati ilannuur) dari yang tidak tau apa-apa menjadi dikit demi sedikit tau, paham dan mengerti eksistensi dirinya sebagai 'ibad yang menghambakan diri kepada-Nya sekaligus sebagai khalifatullah fil ardi yang mempunyai peran dan tanggungjawab hidup untuk memaknai kehidupan serta merealisasikan visi misi hidupnya.

    Pendidik yang baik nan hebat tidak hanya transfer of knowledge namun juga transfer of value yakni dengan menanamkan nilai-nilai karakter, inspirasi dan motivasi kepada peserta didik agar mereka memiliki kepercayaan diri dan optimis dalam menatap masa depan.

    Terakhir, Penulis menukilkan pesan hikmah dari Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., bahwasannya beliau berucap, "Guru dan orangtua merupakan orang yang membimbing murid dan anak-anaknya untuk menemukan rencana Tuhan bagi dirinya".

    Khairukum man ta'allamal Qur'an, ta'allamal 'ulum, wa 'allamahumaa.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Alumni Awarde LPDP Siap Toreh Cita Seribu Anak Bangsa

    Informasi agenda Massive Action.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Lembaga Dana Pengelola Pendidikan (LPDP) akan menyelenggarakan kegiatan akbar bertajuk Massive Action secara serentak di 26 provinsi seluruh Indonesia, yang akan diselenggarakan pada 19 April 2018 mendatang. Kegiatan bertema Toreh Cita Seribu Anak Bangsa ini dilaksanakan di 190 sekolah menengah atas, dengan ratusan alumni penerima beasiswa LPDP yang siap terjun menyapa para siswa.

    26 provinsi beruntung yang akan dikunjungi para alumni dalam Massive Action 2018 ini antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

    Ketua Acara Massive Action Surya Asra, mengatakan bahwa dalam kegiatan Massive Action ini, para alumni yang baru saja menyelesaikan studi di dalam dan luar negeri itu bakal menginspirasi sehingga para siswa berani bermimpi setinggi-tingginya. "Alumni-alumni akan berbagi cerita tentang perjuangan mereka menggapai mimpi dan membantu siswa-siswi SMA dalam merencanakan impian mereka," ujar Surya Asra.

    Lebih lajut, Surya Asra membeberkan dalam kegiatan ini bukan hanya sekadar bercerita di depan kelas, para alumni LPDP mendorong adik-adik SMA agar membuat seribu peta mimpi-mimpi yang berisikan rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang mereka. "Harapannya, kelak peta itu menjadi pengingat mereka untuk bertekad kuat mewujudkan mimpi, yakni meneruskan sampai pendidikan tinggi," kata Surya.

    Kegiatan Massive Action melibatkan Mata Garuda sebagai wadah alumni penerima beasiswa LPDP agar bersinergi mengabdi kepada Indonesia. Kerjasama yang solid antara Mata Garuda Pusat dan Mata Garuda Daerah menjadi wujud solidaritas dalam mensukseskan Massive Action 2018 ini.

    Selain Massive Action, ada pula kegiatan pengabdian masyarakat dari para alumni LPDP berupaTargeted Action. Targeted Action ialah proyek jangka panjang yang dirancang dan diselesaikan oleh alumni dalam kurun waktu satu tahun. “Targeted Action ini tujuannya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat dari berbagai pelosok di Indonesia," tutur Surya.

    Massive Action dan Targeted Action adalah salah satu rangkaian dari puncak agenda rutin tahunan bertajuk Welcoming Alumni 2018.  Pesta bertabur tokoh nasional ini akan menjadi penyambutan para alumni yang baru saja kembali ke tanah air dan daerah asalnya masing-masing, sekaligus momentum berakhirnya masa studi.

    Welcoming Alumni 2018 kali ini mengambil tema "Alumni untuk Negeri". Tema ini, kata Surya, selaras dengan Nawacita pemerintah dan Presiden Joko Widodo yang ingin memeratakan pembangunan di segala sektor.  Orang nomor satu di Indonesia itu berpesan bahwa LPDP harus menjadi instrumen pemerataan bagi anak-anak bangsa di seluruh pelosok Tanah Air dalam memperoleh pendidikan.

    “Pesan tersebut menggambarkan bahwa besar harapan Presiden Jokowo untuk alumni LPDP untuk belajar dengan sebaik-baiknya, sehingga memperoleh ilmu dan berhasil. Kemudian menjadi mesin penggerak di daerahnya masing-masing untuk menuju Indonesia Emas tahun 2045," kata Surya.

    Tentang LPDP:
    Lembaga Dana Pengelola Pendidikan (LPDP) ialah Badan Layanan Umum (BLU) yang diberikan mandat untuk mengelola dana abadi pendidikan dan menyeleksi serta memfasilitasi putra-putri terbaik bangsa. LPDP memberikan beasiswa prestisius yang diberikan pemerintah Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Magister (S2) dan Doktoral (S3). Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP adalah salah satu cara negara untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia, sehingga diharapkan seluruh Alumni BPI LPDP dapat menjadi solusi dari berbagai permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.

    Sebanyak lebih dari 5.538 alumni dengan total awardee 18.466 orang telah menerima beasiswa dari LPDP, baik yang telah menyelesaikan studi baik di dalam maupun di luar negeri. Para alumni LPDP ini diharapkan dapat mengambil peran strategis dan terjun langsung dalam pembangunan di seluruh penjuru tanah air. (PEWARTAnews)

    Peluang Besar Pemuda Dalam Partai Politik

    Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. (baju hijau) saat menerima kenang-kenangan dari Ketua Panitia Ali Ruslan usai dialog berlangsung.
    SLEMAN - Dalam kemajuan jaman di era digital saat ini pemuda sebagai generasi milineal mempunyai peluang besar masuk dalam partai politik dan menang dalam pemilu 2019. Salah satu alasannya peran pemuda yang masih segar dinilai bisa memunculkan ide baru dan karya yang inovatif untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal ini di sampaikan Solihul Hadi, S.H, Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta selaku Narasumber dalam kegiatan diskusi Lingkar Studi Muballigh di aula Pondok Pesantren Takwinul Muballighin Sleman, Jumat (13/4) malam, bertemakan Mengukur Kemampuan Pemuda Muslim dalam Kontestasi Politik 2019, dalam usianya yang baru menginjak 29 tahun, Solihul menyebutkan potensi lain masuknya peran pemuda dalam partai ini dikarenakan mempunyai track record yang masih bersih dalam dunia perpolitikkan.

    Solihul juga mengemukakan bahwa Kunci kemenangan pemilu di tahun 2019 adalah, "Anak muda harus bisa melakukan konsolidasi, menjalin silaturahmi, aktif dalam kegiatan organisasi sosial keagamaan maupun kemasyarakatan dan memiliki daya kreatifitas positif untuk membawa perubahan dan warna baru dalam dunia politik, karena politik hari ini cenderung dipandang abstrak dan negatif oleh generasi muda jaman now, serta menjadi pemuda yang toleran agar tidak mudah terpancing pada sebuah opini yang berkembang sehingga pikiran dan tenaga kita tidak terforsir," beber Solihul.

    Mahasiswa Magister Kenotariatan UGM ini menambahkan, "Saat ini ada sekitar 85 persen dalam partainya diisi oleh anak muda yang masih fresh dan memiliki kemampuan yang bisa diandalkan untuk terjun ke dunia politik. Pihaknya mengaku salah satu upaya untuk mengajak generasi muda aktif dalam partai politik adalah dengan kegiatan semacam ini, diskusi publik, sosialisasi, dsb sebagai ajang untuk bertukar pikiran, ide, dan pendapat untuk membangun konstruksi berfikir yang sehat dan rasional," ucap Solihul.

    Sementara itu Narasumber dari PKS Muda Daerah Istimewa Yogyakarta Bisma Putra, S.Pd., juga berpendapat setengah dari total penduduk di Indonesia di dominasi pemilih dari anak-anak muda, "Mereka berfikir lebih kreatif dan linear dengan apa yang dibutuhkan jaman pada saat ini, otomatis mereka akan mempertimbangkan calon-calon yang masih berusia muda," jelas Bisma.

    Dalam kegiatan ini Bisma memaparkan, dari segi pengamalan bisa dikatakan anak muda yang berani masuk dalam parpol belum mengantongi bekal yang cukup namun kemampuan dalam kepemimpinan dapat dilihat dari kapasitas yang dimiliki masing-masing individu yang sudah aktif dalam kegiatan bermasyarakat di sekitar. Juga berkaca dari era yang serba digital, mereka bisa menelurkan ide baru, menggaungkan kreativitas dari problema bangsa saat ini, imbuh pria berusia 23 tahun tersebut.


    Penulis: VITA WAHYU HARYANTI

    PP Ulul Albab Balirejo Gelar Khitanan Massal Gratis

    Suasana saat kirab sebelum khitanan berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta mengadakan Khitanan Masal Gratis masih dalam rangka agenda Hari Lahir Pondok Pesantren yang ke-V yang diselenggarakan pada hari Minggu, 14 April 2018 di wilayah Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta.

    Acara khitanan masal ini diikuti oleh 28 peserta setingkat usia sekolah dasar dari berbagai daerah di Yogyakarta, diantaranya berasal dari Balirejo, Gendeng Gondokusuman, SDM Karangbendo, SD Nogopuro, Kepuh Wetan Bantul, SDN Sukowaten, Pringgokusuman, SD Demakijo, Mutihan RT4, SDN Lempuyangwati, Banguntapan Bantul dan Ngabean Kebumen.

    Peserta khitan yang mengikuti acara ini mendapatkan bingkisan berupa seperangkat sarung, baju koko, peci dan sejumlah uang saku setelah melaksanakan daftar ulang untuk mengambil nomor urut khitan.

    Acara ini diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo yakni K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H., menyampaikan bahwa acara khitanan masal gratis yang diadakan Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo ini bukan yang pertama kalinya namun sudah diadakan untuk kelima kalinya. "Alhamdulillah acara khitanan seperti ini merupakan acara yang kesekian kalinya yang diselenggarakan oleh Ulul Albab, mudahan kami terus dapan memberikan sesuatu buat masyarakat sekitar," bebernya.

    Selain itu, beliau yang juga Dosen Terbang di Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga sempat menanyakan testimoni kepada para wali peserta khitan tentang pendapat diadakannya khitanan masal gratis ini apakah sekiranya perlu diteruskan untuk tahun-tahun yang akan datang. "Alhamdulillah para wali khitan mendukung dan mengapresiasi serta sangat berharap Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo dapat terus melanjutkan dakwah ini, sehingga selain membantu dan memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan sunah untuk anak laki-lakinya, juga membantu meringankan beban masyarakat yang kurang mampu untuk melaksanakan khitan kepada anak laki-lakinya," ucap Yubaidi.

    Lebih lanjut, Ahmad Yubaidi juga memberikan semangat kepada para peserta sebelum berkhitan, beliau berpesan agar peserta memperbanyak membaca shalawat yang berguna untuk meminimalisir rasa cemas dan takut saat dikhitan, "Karena membaca shalawat ini juga dapat menjadi jurus yang dapat mengurangi rasa takut serta akan menambah keberanian kepada diri para peserta," katanya.

    Setelah mendapat sambutan dan wejangan dari Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab, para peserta dan wali khitan diajak oleh Keluarga Ulul Albab yakni pengasuh dan seluruh santri untuk kirab keliling Kampung Balirejo yang diiringi dengan tim Hadrah Ulul Albab sebagai penyemaraknya. Para santri yang berpartisipasi juga telah membuat berbagai macam pernak pernik seperti balon, poster bertuliskan “Aku Anak Shaleh”, “Aku Cinta Nabi” untuk meramaikan kirab dan memberikan semangat kepada peserta.

    Keceriaan peserta setelah kirab dilanjutkan dengan pengarahan dari dokter pelaksana khitan yakni Dokter Suryono. Beliau menyampaikan terkait dengan proses pelaksanaan khitan dengan laser serta hal-hal yang boleh dilakukan dan berpantangan dilakukan oleh peserta setelah selesai khitan.

    Proses pelaksanaan khitan berlangsung dengan tertib dan teratur sesuai dengan nomer urut daftar ulang. Setelah selesai prosesi khitan peserta mendapat obat untuk dibawa pulang. Ada berbagai macam ekspresi yang tampak dari para peserta, sebagian besar memperlihatkan keceriaan yang menggambarkan perasaan lega dan bangga kepada dirinya sendiri. Kebahagiaan ini bisa dilihat dari ekspresi foto bersama keluarga pasca khitan yang diabadikan oleh santri yang bertugas mendokumentasikan acara.


    Kontributor: Azima dan Hanah
    Editor: PEWARTAnews

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website