Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    HUT RI KE-73 Menjawab Persoalan Sosial (Kupasan tentang Hutang Luar Negeri)

    PEWARTAnews.com -- Hemm. Hemm. Hemm. Penulis menganggap bahwa tulisan ini mestinya harus diawali dengan senyuman, agar pembaca tidak kepanasan terlebih dahulu sebelum membacanya sampai tuntas.

    Tema besar coretan sederhana ini adalah sebagai upaya menyambut kemerdekaan Indonesia. Oleh karenanya penulis berinisiatif mengangkat tema "HUT RI KE-73 Menjawab Persoalan Sosial". Runutan tulisan ini akan coba penulis kupas terkait beberapa sub tema, diantaranya: Pertama, Hutang Luar Negeri (HLN). Kedua, TKA/China Dipermudah. Ketiga, BBM Naik. Keempat, Jual Aset Negara. Kelima, Impor Besar-Besaran. Keenam, Bahan Pokok Naik. Ketujuh, Jauhi Ulama. Kedelapan, PDIP Bermesraan dengan China. Kesembilan, Bahaya Komunis.

    Tulisan ini akan penulis buat berseri, agar pengupasannya lebih sedikit tajam untuk dijadikan acuan bahan refleksi bersama. Pada point pertama kali ini, penulis akan coba menguraikan sub tema tentang "Hutang Luar Negeri (HLN)".

    Hutang Luar Negeri (HLN)
    Seketika penulis teringat dengan salah satu buku yang pernah saya baca dulu, semasih mengenyam studi strata satu (S1), judul bukunya tentang "Perimbangan Keuangan Daerah dengan APBN". Buku itu adalah tulisan bapak Badrul Munir yang merupakan Wakil Gubernur NTB 5 tahun lalu, dan beliau pernah mendampingi Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Madji di periode pertamanya jadi Gubernur termuda  di Indonesia.

    Badrul Munir, yang juga pria kelahiran Sumbawa NTB itu mengupas tuntas semua hal yang berkaitan dengan keuangan, mulai dari APBD, APBN, hingga plus minus keuangan Nasional. Momentum ini, penulis ingin sampaikan tentang substansi jika kita ingin hutang dimana saja, dengan sebuah analogi sebagaimana yang penulis coba uraikan dibawah ini.

    Jujur, penulis punya teman, namanya sebut sajs inisialnya A. Si A pernah mengajukan diri untuk mengambil uang secara online di sebuah Bank Swasta, tanpa dipikirkan oleh si A itu mendapat balasan "Oke" dari Bank. Maksudnya bahwa pengajuannya disetujui oleh pihak Bank Swasta tersebut, tidak lama kemudian A datangi alamat sebuah Bank Swasta itu. Disana A diinformasikan sedetail mungkin bahwa syarat untuk mengambil uang yakni harus begini dan begitu, pokoknya ribetlah ceritanya. Namun, syarat yang pokok agar teman saya bisa berhutang katanya disesuaikan dengan pendapatan si A yang bertindak sebagai pihak pertama yang ingin hutang itu tadi. Jadi intinya bahwa pihak Bank itu harus melihat dan menelusuri terlebih dahulu kebenaran penghasilan pihak pertama yang mau hutang dan juga dibuktikan dengan dokumen resmi yang berkekuatan hukum tetap, agar pihak Bank bisa menaksir dapat memberikan hutang seberapa besar kepada A berdasarkan penghasilannya.

    Misalnya, tidak mungkin pihak Bank memberikan pinjaman 50 juta kepada A yang hanya memiliki pendapatan tetap 3 jutaan/bulan dengan rencana bayaran 2,5 juta/bulan dalam waktu paling maksimal seperti yang ditentukan oleh pihak Bank, karena pendapatan A hanya 3 jutaan, terus untuk bayar cicilan bulanan 2,5 juta, ditambah lagi kebutuhan bulanan lainnya. Maka pihak Bank terpaksa membatalkan keinginan si A.
    Dari analogi diatas, bila kita kaitkan dengan rasio hutang luar negeri Indonesia saat ini, maka kurang lebih logikanya begitulah yang berlaku. Artinya bahwa Bank Dunia itu tidak mungkin memberikan uang pinjaman kepada suatu Negara tertentu, jika tidak berdasarkan kemampuan APBN suatu Negara.

    Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Badrul Munir, penulis buku Perimbangan yang telah penulis sebutkan di awal tulisan ini. Selain itu, disisi lain ternyata sangat linear seperti pengakuan Menteri Keuangan saat tayang disalah satu TV Swasta beberapa waktu yang lalu, Sri Mulyani mengatakan bahwasannya, "Kita punya kemampuan untuk membayar hutang luar negeri, karena kita memiliki usaha-usaha yang produktif dan insya Allah kita optimis dan kita mampu bayar hutang itu kok," kata beliau dalam sebuah tayangan TV tersebut. Toh yang membuat hutang luar negeri yang di ombar ambir oleh masyarakat tertentu, sekarang bukan hanya jamannya pak jokowi, katanya bahkan pak jokowi menanggung hutang pemerintah sebelumnya termasuk di tahun 1998 itu paling parah bengkaknya hutang kita ini.
    Menteri yang berprestasi di Bank Dunia inipun menambahkan dengan menantang siapapun yang ingin bicara soal Hutang Luar Negeri (HLN), "Ayo kita blak-blakan di media massa dengan saya. Udahlah kita tidak usah ribut dengan angka HLN kita, dan kita jangan terjebak dengan angka," begitulah pesan beliau kepada seluruh rakyat Indonesia.

    Mohon maaf, diatas merupakan kupasan sederhana penulis tentang "Hutang Luar Negeri (HLN)", untul point kedua dan seterusnya akan penulis uraikan di lain waktu. Bila ada pandangan lain dari pembaca sekalian, boleh juga diuraikan lebih rinci, agar kita semua semakin teredukasi dengan itu.


    Penulis: Samrin, S.Pd.
    Pemuda asal Bima NTB / Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jakarta.

    Sambut 73 Tahun HUT RI, KEPMA Bima Jogja Salurkan Bantuan Lebih Dari 100 Juta untuk Korban Gempa Lombok NTB

    Ketua Posko KEPMA Bima-Yogyakarta saat menyalurkan bantuan di KLU.
    Lombok Utara, PEWARTAnews.com -- Kesekian kalinya Tim Tanggap Bencana Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta memberikan bantuan kepada warga di sejumlah tempat pengungsian akibat gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kali ini tim menelusuri tiga kecamatan di Kabupaten Lombok Utara, di antaranya kecamatan Kayangan, kecamata Gangga dan kecamatan Bayan.

    Bantuan yang di salurkan oleh Tim Tanggap Bencana KEPMA Bima-Yogyakarta ini berupa beras dua ton, makanan berupa mie instan serta makanan ringan, dan juga air mineral. Selain itu ada juga berupa obat-obatan, vitamin, keperluan bayi berupa susu, pampers serta keperluan ibadah seperti sarung, sajadah, Al-Qur’an, pakaian baru dan selimut.

    Penanggung jawab relawan Ismail, S.H.I. yang juga biasa disapa Bung Is ini mengatakan, bahwasannya pemberian bantuan yang dilakukan di Kabupaten Lombok Utara ini adalah gelombang ketiga, pertama di Kota Mataram, kedua di Kabupaten Lombok Barat dan ketiga di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

    “Penyaluran kali ini merupakan penyaluran yang ketiga. Semoga bantuan yang kami berikan bisa membantu meringankan beban dan memenuhi kebutuhan keluarga kita di Lombok ini selama di tenda pengungsian, kami berharap bencana seperti ini tidak ada lagi yang melanda kita di Indonesia maupun di dunia”, beber Bung Is, pada Kamis (16/08/2018) usai melakukan penyaluran bantuan.

    Lebih lanjut Bung Is berharap Pemerintah untuk lebih cepat memperhatikan akses pendidikan, tempat ibadah serta fasilitas pelayanan umum yang kini sudah memprihatinkan kondisinya, "Harapannya pemerintah lebih cepat membantu para korban gempa berupa pembangunan akses pendidikan, tempat ibadah serta fasilitas pelayanan Umum," ucapnya.

    Selain itu, Bung Is berharap Pemda NTB mengambil kebijakan strategis terkait pariwisata di NTB. "Kami berharap Gubernur NTB membuat kebijakan untuk membatasi tempat-tempat wisata yang tidak sesuai dengan adat serta Agama Islam. Agar nuansa wisata religi di Lombok semakin berkembang Pesat," harapnya.

    Tim tanggap bencana KEPMA Bima-Yogyakarta saat penyaluran bantuan dibantu oleh para relawan dari FKP Macerdas Mataram. Selain penyaluran bantuan, tim KEPMA Bima-Yogyakarta juga menghibur dan bermain dengan sejumlah anak-anak untuk melakukan trauma healing di pengungsian.

    Saat melakukan penyaluran bantuan, seorang warga penerima bantuan M. Eriksman menyampaikan rasa bangga dan terima kasih yang mendalamnya kepada KEPMA Bima-Yogyakarta karena kepeduliannya terhadap para pengsungsi korban gempa. “Terima kasih kami sampaikan kepada KEPMA Bima-Yogyakarta yang telah membantu meringankan beban kami,” ucap M. Eriksman.

    Total keseluluhan pemberian bantuan tiga tahap yang diberikan oleh KEPMA Bima-Yogyakarta untuk korban gempa ini lebih dari seratus juta rupiah. Keseluruhan dana tersebut adalah hasil galangan di masyarakat dan mahasiswa Yogyakarta yang dikumpulkan oleh seluruh organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta. (PEWARTAnews)

    Sekilas tentang Kata "Merdeka"

    PEWARTAnews.com -- Moment 17 Agustus adalah sajadah untuk merefleksi sistem nilai, sosial, historis, dan kebudayaan yang sempat membiru di bumi nusantara. Refleksi itu bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa sesungguhnya telah ada fase sejarah yang dikhianati, kita lupakan atau sengaja diabaikan. Beragam-ragam bentuk orang merayakan itu, upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih adalah pilihan paling maestream yang kita tempuh sebagai bentuk keseriusan kita terhadap momentum sejarah tersebut. Disisi lain, corak dalam merayakan hari kemerdekaan bisa berbentuk permainan atau hiburan demi hiburan. Semua entitas kegiataan itu merupakan representasi dari sebuah kata 'Merdeka'.

    Apakah hanya itu 'merdeka' di definisikan?

    Saya pernah bertemu dengan orang yang tidak waras (gila) di salah satu desa yang berada di pulau Sumbawa, nama desa itu adalah Pidang. Posisi desanya tepat berada di wilayah timur pulau Sumbawa, terletak pada perbatasan antara Sumbawa dengan Dompu. Kasusnya begini, orang gila itu di usik, dicaci maki, di suruh kerja tampa upah, diperas tenaganya tampa gaji. Saya berfikir orang gila itu di larang untuk gila karena melihat berdasarkan perlakuan beberapa orang terhadapnya. Orang gila itu sudah tidak bisa merayakan bentuk gilanya karena di paksa berbuat bukan atas dasar kesukaannya ataupun kemauannya sebagai orang gila. Perlakuan ini terus terjadi sampai orang gila itu mati dalam keadaan lapar.

    Dalam kasus sederhana itu ternyata, kemerdekaan seseorang itu hanya di pahami dari segi subjektif belaka. Kemerdekaan belum dipahami dua arah antara subjek dan objek yang terlibat dalam ruang tersebut. Begitu juga dalam bernegara, semestinya kemerdekaan harus bersifat desentralistik tidak boleh hanya bersifat sentralistik. Kemerdekan harus diposisikan tidak hanya untuk merayakan moment sejarah. Namun kemerdekan harus menyinggung juga persoalan sosial yang hidup sekarang. Kemerdekaan harus menemukan posisinya dalam masyarakat sebagai dasar, penyambung, maupun tujuan (dia harus tau bahwa merdeka itu bisa menjadi dasar atau ideologi, bisa menjadi penyambung antara beberapa hak dan kewajiban yang beriteraksi, bisa menjadi tujuan bagi setiap rutinitas manusia yang beragam bentuknya). Merdeka tidak boleh di pahami secara general, sebab Merdekanya orang waras dengan orang yang tidak waras tentu berbeda. Merdeka menurut si A dengan si B tentu berbeda pula. Berarti, kemerdekan harus di pahami dengan dua perdekatan. Pertama, kemerdekaan secara struktural atau secara formal. kemerdekaan secara formal merupakan tersedianya ruang yang bebas kepada setiap orang untuk menjalankan hak dan kewajibannya. Yang kedua, kemerdekaan secara esensial. Maksudnya, dalam menjalankan hak dan kewajibannya setiap orang harus merasa tenang dan bahagia. Namun sebagai cacatan, tenang dan bahagia disini tidak boleh berbenturan dengan nilai-nilai sosial yang ada.

    Nah, Kalau setiap orang masih belum bisa menikmati itu, mendingan negara ngak usah merayakan hari kemerdekaan, kalau perayaan itu dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap subjek sejarah cukup kita kirimin Al-Fatihah yang banyak saja untuk mereka yang telah berjuang untuk bangsa dan negara.

    Anggaran yang di gelontorkan untuk perayaan hari kemerdekaan mendingan di masukkan ke saku partai politik, supaya hasrat kekuasaannya berjalan mulus tampa kendala. Biar yang di pelosok tetap menjadi benalu dan di kota tetap menjadi bunga mawar.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Eks Ketua Umum DPC PERMAHI DIY

    Sebuah Catatan tentang Impor

    PEWARTAnews.com -- Semua bangsa pasti menginginkan kedaulatan pangan, tidak terkecuali Indonesia. Bila mana saat ini Indonesia belum menggapai tujuan tersebut, itu menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama agar suatu saat kita menggapai titik kedaulatan seutuhnya.

    Dewasa ini, pada hakikatnya bahwa kebijakan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) tentang impor, menurut penulis sudah cukup tepat. Karena pada prinsipnya di setiap kebijakan itu, tentu pihak eksekutif sebagai pelaksana. Pembatu dan pelayan rakyat pasti lebih tahu dan lebih paham kondisi yang ada, karena disisi lain bahwa selain para Menteri, Badan, Komisi, dan para kepala daerah (Pemda) tingkat 1 dan 2 di seluruh pelosok negeri ini terkait kerja-kerjanya adalah melaksanaan representasi dari Jokowi-JK sebagai Kepala Negara. Bahasa sederhananya, bisa dibilang bahwa Jokowi-JK adalah pelaksana peraturan perundang-undangan yang diperintahkan oleh rakyat, yang mana pelaksanaan pengawasannya dilakukan melalui Legislatif --Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota.

    Guna untuk memastikan keefektifan dan kelancaran pelaksanaan amanah rakyat seperti yang digambarkan diatas, dalam pelaksanaannya, bahwa eksekutif (Jokowi-JK) ada lembaga lain yang kredibel dan diberi kewenangan secara konstitusi sebagai mengawas setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, tidak lain dan tidak bukan adalah Lembaga Legislatif (DPR). Kondisi demikian, bermakna bahwa sikap yang diambil Jokowi-JK terkait impor ini tentu sudah berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebelum mengambil sikap yang demikian, pasti sudah mempertimbangkan dengan matang dengan juga meminta masukan dari para menteri-menterinya. Ending yang bisa kita lihat dari sikap ini, dibuktikan bahwa Jokowi-JK sampai detik ini tidak di tegur oleh Legislatif sebagai pelanggar hukum. Maka wajar dalam hal ini penulis katakan bahwa Jokowi-JK tidak salah dalam mengeluarkan kebijakan impor yang dipersoalkan oleh sekelompok masyarakat tertentu, yang mana penulis pahami bahwa kebanyakan mereka yang mempersoalkan tersebut adalah oposisi Jokowi-JK. Namun, menurut penulis dengan demikian tidak menjadi masalah, selama hal itu juga masih dalam batas kewajaran.

    Sebagai contoh, misalnya kebijakan impor bawang merah. Kita harus memahami dan menyadari terlebih dahulu bahwasannya Indonesia merupakan negara yang besar. Selain itu, kita harus petakan terlebih dahulu bahwa mana saja daerah yang penghasil bawang merah di Indonesia?. Ya, kita bisa bilang Brebes-Jawa Tengah, Bima-NTB. Selain dua daerah tersebut, ada juga daerah di Pulau Sumatera (Samosir, Batubara dan Medan).

    Kondisi demikian, yang perlu kita ingat, juga menjadi pertanyaan penulis, mampukah Brebes-Jawa Tengah menyuport kebutuhan bawang merah di pulau Jawa? Jawabannya tentu tidak. Oleh karena itu, menurut penulis, maka wajar dan bisa dibilang tidak kurang ajar bahwasannya Jokowi-JK mengeluarkan Kebijakab impor bawang merang di wilayah Jabodetabek dan daerah-daerah Jawa lainnya yang tidak mampu di suport oleh pasokan bawang dari Brebes-Jawa Tengah yang merupakan sebagai salah satu daerah andalan penghasil bawang merah terbesar tiap tahunnya.

    Kemudian, pertanyaan selanjutnya, Daerah Bima-NTB yang konon dicatat oleh Menteri Pertanian RI sebagai daerah penghasil bawang merah andalan wilayah Indonesia Timur, "Apakah mampu Bima NTB dengan kemampuan produksi bawang merah yang terbatas itu menyuplai kebutuhan bawang merah untuk wilayah Indonesia Timur yang meliputi lebih kurang 15-20 provinsi, mulai dari wilayah Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua? Atau justru mau berharap produksi Brebes yang belum tentu mampu memenuhi kebutuhan bawang merah di Pulau Jawa. Menurut pengamatan penulis, tentu saja tidak mampu memenuhi semua. Begitupun di Pulau Sumatera yang lebih kurang pemetaannya sama saja.

    Point penting yang dilakukan pemerintah karena mempertimbangkan daerah-daerah andalan penghasil bawang merah di negara sebesar ini, makanya wajar Jokowi-JK membangun Bendungan dan Dam-Dam Besar di daerah-daerah kering agar lahan yang tidak produktif menjadi lebih produktif untuk setiap hasil pertanian, salahsatu yang terpenting diantaranya Bawang Merah.

    Terkait kekurangan pasokan bawang merah, maka sikap yang diambil Jokowi-JK sebagai Pemerintah Eksekutif adalah kebijakan impor. Tujuan utamanya adalah agar kebutuhan bawang merah di negara besar kita ini merata dan dengan harga yang sama.

    Oh ya, sedikit penulis coba mengupas soal harga bawang merah yang kian merosot. Hal demikian bukan semata-mata kesalahan Pemerintah. Menurut pandangan penulis, itu semua karena begitu banyak calo-calo yang sengaja memainkan harga, sehingga harga tidak stabil. Sebagai upaya menangkal hal demikian, menjadi tugas kita bersama sebagai masyarakat, aktivis mahasiswa, LSM, Pers, dan lain-lain untuk melakukan pengawasan seketat mungkin dan bukan semata-mata Jokowi-JK yang di persalahkan.

    Selain itu, saat ini bangsa kita sudah mengamini sistem Otonomi Daerah (Otda). Jadi Pemerintah Daerah (Pemda) diharapkan jangan cuci tangan atau menutup mata melihat kondisi seperti ini, terutama persoalan yang ada di wilayah hukum pemdanya masing-masing. Pemda juga harus profesional menjalankan tupoksi yang diamanahkan undang-undang untuk dijalankannya, jangan mentang-mentang kepala daerahnya bukan satu partai dengan Jokowi-JK malah berbuat dosa semuanya. Pemda harus suci dan harus bantu pemerintah pusat, karena keberadaan Pemda adalah representasi pemerintah pusat yang kebetulan saat ini di pimpin oleh Jokowi-JK.

    Kenyataan yang tergambar diatas, penulis pikir bahwa hal ini juga berlaku sama dengan kebijakan Jokowi-JK tentang Hutang Luar Negeri (HLN), yang menjadi bahan kampanye team/pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno saat ini untuk menyerang rivalnya.

    Akhir kalimat, berbeda pandangan itu wajar. Ini merupakan refleksi dari pengamatan yang dilakukan penulis dan juga sebagai pandangan akademik. Bila berlainan, silahkan runutkan secara akademis pula, biar kita sama-sama teredukasi dengan kondisi yang berkembang saat ini.


    Penulis: Samrin, S.Pd.
    Pemuda asal Bima NTB / Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jakarta.

    Mahasiswa Bima Jogja Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Lombok NTB

    Suasana penyerahan bantuan dari KEPMA Bima-Yogyakarta di lokasi gempa.
    Lombok Barat, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta ambil bagian dalam membantu para korban gempa 7,0 skala riter yang terjadi di pulau Lombok beberapa waktu lalu mengakibatkan ratusan orang meninggal, ribuan luka-luka dan rumah penduduk hancur. Para mahasiswa ini terjun langsung dari Yogyakarta ke Lombok dalam pendistribusian kebutuhan masyarakat korban gempa.

    Anggota KEPMA Bima-Yogyakarta tersebut dalam pendisribusian bantuan dilakukan di berbagai titik dan di bantu oleh para relawan dari FKP Macerdas Mataram, seperti saat pemberian bantuan berupa beras, air mineral mie instan, susu, tikar, obat-obatan dan keperluan bayi di Desa Gunung Sari Dusun Kapek Atas Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat pada Senin, 13/8/2018 sore.

    Menurut penanggung jawab relawan KEPMA Bima-Yogyakarta Ismail mengatakan bahwasannya pendistribusian dilakukan langsung ke lokasi bencana dengan bantuan relawan asal Bima yang studi di Mataram dan sekitarnya, "Kami langsung datang dari Yogyakarta ke Lombok untuk membantu masyarakat korban gempa, untuk pendristribusian akan kami lakukan di beberapa titik di kabupaten Lobar dan KLU serta kami di bantu oleh organisasi FKP Macerdas Mataram, alhamdulillah mereka sangat bersemangat dalam membantu masyarkat lain, meskipun mereka juga korban gempa," terang Ismail, SHI.

    Sementara itu, sejumlah masyarkat yang menerima bantuan sangat berterimakasih karna telah meringankan beban dan memenuhi kebutuhan di tenda pengungsian, "Kami sangat berterimakasih kepada KEPMA Bima-Yogyakarta yang meringankan langkahnya jauh-jauh datang dari Jogja membawa bantuan kepada kami di tenda pengugsian ini, semoga kalian semua sehat selalu," ucap salah seorang warga usai serah terima bantuan dari KEPMA Bima-Yogyakarta.

    Lebih lanjut Ismail mengatakan, "Untuk pendistribusian berikutnya kami akan lakukan hari rabu 15/8/2018 di KLU berupa beras 2,5 ton, air mineral ratusan dus,  susu bayi, susu kental, sabun, makanan berupa mie instan, roti, tikar, obat-obatan serta lainnya, ini semua berdasarkan kebutuhan dari hasil survei yang di lakukan oleh relawan kami yang turun di lokasi," ucap mahasiswa Jogja ini.

    Lebih jauh Ismail yang juga mantan pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta berharap peristiwa gempa yang terjadi tidak terjadi lagi dikemudian hari dan waktu. "Kami berharap, mudah-mudahan bantuan yang kami distribusikan ini sedikit membantu para korban gempa dalam memenuhi kebutuhan para korban sementara waktu ini, dan semoga bencana seperti ini tidak ada lagi di negeri kita tercinta ini," harap Ismail. (PEWARTAnews)

    Konsolidasi APKLI, Hafidh Asrom: Pedagang Kali Lima Perlu Tingkatkan Kapasitas Usaha

    Anggota DPD RI Hafidh Asrom saat memberikan arahan dalam pertemuan APKLI, 13/08/2018.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) menggelar pertemuan  di RM Anas Mandiri Wonokromo Jejeran Pleret Bantun pada tanggal 13 Agustus 2018. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan sosialisasi dan konsolidasi pengurus DPD dan DPC se Kabapaten Bantul yang sekaligus dihadiri oleh Ketua Dewan Pembina dan Pelindung APKLI Daerah Istimewa Yogyakarta, Bapak Drs. H. Hafidh Asrom, MM.

    Di Yogyakarta, ada ribuan pedagang kaki lima. Mereka mengais rejeki tersebar diseantero Yogyakarta termasuk di obyek-objek wisata. Mereka, para pedagang kaki lima tersebut tergabung dalam organisasi Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI).

    Sebagai ketua pembina dan pelindung DPW APKLI DIY, Hadidh Asrom mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengawal, berdialog dan berupaya mencarikan solusi yang terbaik dari persoalan-persoalan yang di hadapi APKLI. "Saya selalu menyempatkan diri untuk dialog dan mencari solusi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi para pedagang kaki lima. Termasuk tadi melakukan dialog dan koordinasi bersama pengurus DPD dan DPC APKLI se kabupaten Bantul," beber Hafidh Asrom.

    Dalam pertemuan yang sangat produktif itu, Hafidh Asrom menyampaikan juga beberapa point penting yang menjadi perhatiannya untuk para pedagang kaki lima di DIY. Kata Hafidh Asrom, pedagang kaki lima harus kreatif dan produktif menangkap peluang usaha yang ada di tempat-tempat strategis di DIY. "Pedagang Kaki Lima (APKLI Bantul) diharapkan untuk senantiasa produktif dan kreatif menangkap peluang usaha, khusus dengan akan dibangunnya JJS (jalan Jogja Selatan)," ucapnya.

    Untuk menunjang komitmennya, Hafidh Asrom akan memaksimalkan peran dan jaringannya agar memudahkan para pedagang untuk akses dana sebagai modal memperkuat pengembangan usaha para pedagang kaki lima.  "Saya mendorong pedagang kaki lima untuk meningkatkan kapasitas usaha dengan cara menambah permodalan, dalam hal ini saya siap membantu pedagang kaki lima mengakses modal ke Bank BRI dengan skema KUR tanpa jaminan," cetusnya.

    Selain mengandalkan ketekunan dan bekerja keras, Hafidh Asrom juga membagi pengalamannya dalam hal adanya campurtangan kekuatan ilahi ketika adanya kesuksesan usaha berbisnis. Oleh karenanya, kata Hafidh Asrom, kita harus rajin menjalankan ibadah wajib dan juga ibadah sunnah lainnya agar rezeki yang kita dapat barokah dan juga berlimpah. "Momen ini saya berbagi pengalaman memajukan usaha dengan mengedepankan spirit spiritual, dengan rutin menjalankan ibadah sholat dhuha, dengan harapan rizkinya melimpah dan barokah," ungkapnya. (PEWARTAnews)
    Suasana saat pertemuan APKLI, 13/08/2018.

    Wayang Termasuk Karya Seni dan Budaya Indonesia yang Adi Luhung

    Anggota DPD RI Hafidh Asrom saat menyampaikan sambutan dalam acara Merti Dusun, 09/08/2018.
    Bantul, PEWARTAnews.com – Wayang merupakan seni pertunjukkan hasil karya asli Indonesia yang keberadaannya begitu sangat berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Kegiatan seni pertunjukan wayang juga populer di beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu. Daerah-daerah lain pun melakukan pertunjukan wayang ini dengan gaya dan variasi daerahnya masing-masing.

    Di mata bangsa Indonesia wayang sangat berarti. Saking berartinya, seni pertunjukan wayang ini, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB itu, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

    Karena begitu berharganya pertunjukan wayang ini dimata Indonesia dan dunia, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Drs. H. A. Hafidh Ashrom, M.M. menghadiri seni pertunjukan wayang yang telah digelar pada 9 Agustus 2018 di Dusuh Nglampiran, Desa Temuwuh, Kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, DIY.

    Menurut senator senayan Hafidh Ashrom, mengatakan bahwasannya wayang yang sering dipentaskan para dalang-dalang di Indonesia merupakan karya seni dan budaya asli Indonesia yang adi luhung. Selain itu, menurut Hafidh Asrom, wayang ini memiliki makna dan nilai filosofi yang tinggi dan juga mampu dijadikan alat untuk membentuk moral dan budi pekerti manusia. “Wayang termasuk karya seni dan budaya Indonesia yang adi luhung. Di samping bernilai filosofi yang dalam, wayang juga sebagai wahana atau alat pendidikan moral dan budi pekerti,” ucapnya.

    Dengan adanya kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti ini, Hafidh Asrom sangat mengapresiasinya dan mendorong untuk terus dilestarikan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Hal itu, kata Fafidh Asrom, mendorong semangatnya untuk menghadir kegiatan tersebut. “Berangkat dari hal tersebut, Saya hadir dan mengapreasiasi acara Merti Dusun, yang dimeriahkan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Seno Nugrogo, di Dusuh Nglampiran, Desa Temuwuh, Kecamatan Dlingo, Bantul,” bebernya. (PEWARTAnews)

    Inspira KKN Ku


    Para tohon inspirasi dalam tulisan ini.
    “Jangan pernah mengatakan tidak penting, karena kepentingan orang itu berbeda-beda”. (Mukaromah, 2018)

    Setiap kali kawan bertanya kabar, baik melalui WA ataupun face to face hal yang pertama kali ditanyakan ialah sudah cinlok (cinta lokasi) atau belum? Sangat jarang sekali yang bertanya “di KKN dapat inspirasi apa”? Maklum biasanya yang seperti itu, hanya nge-tes saja, dikira saya tidak bisa jatuh cinta. Hahaha.

    Hal yang harus diketahui, bahwa tidak semua hal bisa digeneralisasikan dengan “witing trisno jalaran seko kulina”. Karena proses menemukan cinta itu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Bisa jadi yang baru sekali bertemu, langsung bisa meluluhkan hati dan sampai pada perpaduan, namun bisa juga yang sudah hidup satu atap seperti misalnya di KKN malah tidak bisa jatuh cinta. Padahal di KKN sudah saling mengatahui dan paham karakter, kebiasaan, kelemahan, kelebihan, rajin ngaji atau tidak, subuhannya kesiangan atau tidak  (coba baca tulisan saya beberapa minggu yang lalu tentang KKN). Tak lain, sekali lagi proses menemukan cinta antara satu orang dengan yang lain itu berbeda. Ada yang mudah, ada pula yang sulit. Hanya saja belum bertemu dengan tukang kuncinya, kalau sudah bertemu pasti hati yang tertutup pun bisa terbuka kembali. Saya termasuk orang yang sulit jatuh cinta, namun sekali jatuh cinta insya Allah setia. Hehe.

    Meski di KKN ini saya 'tidak' cinlok atau bahkan jatuh cinta dengan kawan laki-laki, namun saya mendapatkan inspirasi banyak dari mereka, salah satunya dari tetangga fakultas yakni Fak. Syariah prodi PM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, namanya Bang Fahruddin Bin Zakariya. Beliau asli Negeri Jiran (Bukan Indonesia) yang hobi-nya mengembara dari satu negara ke negara lain. Sebelum kuliah di UIN, beliau sudah menyelesaikan kuliah-nya di Fak. Ushuluddin dan Saintek di Negaranya sendiri, namun disana tidak ada gelar “formalitas”. Beda dengan di Indonesia, D-3 saja ada gelarnya, apalagi S1.

    Memang benar adanya, bahwa salah satu indikator seseorang dikatakan bejo/beruntung manakala Allah mempertemukan seseorang yang mempunyai kesamaan hobi/kesukaan/interest. Alhamdulillah-nya saya dipertemukan dengan orang yang suka diskusi. Jadi, Bang Fahruddin ini adalah salah satu kawan diskusi saya di Posko. Dia sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri.

    Banyak inspirasi dan ilmu yang saya dapatkan dari-nya. Sering kita membahas terkait dengan pemikiran, ideologi golongan yang nantinya berimplikasi kepada politik dan sejarah bahkan sampai dia menceritakan terkait dengan realita negara-nya (sosial, budaya, ekonomi, politik dan pendidikan). Banyak masukan konstruktif yang ia sampaikan terkait dengan skripsi-ku. Saran-nya, harus memperdalam genealogi pemikiran dari tokoh yang bersangkutan sekaligus guru-nya. Serta bagaimana pandangan orang terkait dengan paradigma berpikir orang tersebut. Jadi jangan hanya melihat dari satu sisi, namun harus melihat dari sisi-sisi yang berbeda meski tokoh yang dijadikan rujukan sama. Seperti Ibnu Taimiyah misalnya, antara orang Wahabi, NU, Muhammadiyah, HTI, Salafi tentu berbeda pandangan dan pendapat mengenai tokoh tersebut.

    Selain itu, Bang Fahruddin juga bercerita mengenai kunjungan kuliah-nya beberapa bulan yang lalu ke tokoh-tokoh golongan Islam seperti NU, Muhammadiyah, HTI, Persis, Salafi, Wahabi dan lain-lain. Hanya berkunjung, bertanya dan wawancara, bukan men-tarbiyah apalagi men-dakwahi mereka. Hehehe. Hal yang bikin tertawa saya ialah ada teman-nya yang tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh golongan-golongan tersebut, rasanya panas. Maklum, orang-orang seperti ini biasa-nya yang sangat fanatik dengan golongan yang dianutnya dan menutup diri dari golongan-golongan lain, atau bisa juga orang seperti ini tidak mau digoyahkan iman-nya karena sudah yakin dengan golongan-nya. Tak hanya itu, dia juga bercerita mengenai ciri khas tempat, alur pemikiran, per-kaderan jama’ah, strategi dan pendekatan.

    Dia juga bercerita tentang kondisi di negara-nya, termasuk dalam hal politik. Ada partai A, B dan C. Sudah beberapa periode partai A menang. Tak disangka, tahun kemarin yang menang ialah partai C. Sehingga siapa yang menang, dialah yang berkuasa. Tentu suatu partai membawa misi dan ideologi yang diusungnya. Dan ini berkaitan dengan “siapa saja sih yang berada dibelakang-nya”. Justru yang dilihat bukan “siapa sih yang ada didepan/siapa sih pemimpin-nya”, tapi lebih kepada siapa saja sih orang-orang yang ada dibelakang-nya. Dari sinilah pembahasan kita sampai kepada realita politik di Indonesia. Maklum, di posko saya setiap malam tidak pernah absen untuk menonton Mata Najwa dan ILC. Hehehehe.

    Selain bang Fahruddin, saya juga mendapatkan inspirasi dari Dewi. Meski umurnya masih belia namun semangat mengaji-nya luar biasa. Gak hanya shalehah ya dek, tapi juga cantik dan cerdas. Hehehe.

    Inspirasi selanjutnya ialah dari gadis kecil nan cantik. Namanya Vanessa. Dia siswi kelas 3 di SDN Jangkaran yang kebetulan rumahnya berada tepat didepan posko saya. Ayahnya sudah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Namun dia selalu ceria dan bahagia seakan semua baik-baik saja. Entahlah, saya harus belajar kepada-nya bagaimana “menyimpan rasa rindu” kepada bapak. Pernah suatu ketika aku menangis, karena kangen kepada almarhum Bapak. Tiba-tiba Vanessa menghampiri-ku dan bertanya ada apa mbak, kenapa menangis? Lalu aku cerita dan bla bla bla, dia memberikan secercah cahaya kepada-ku hingga akhirnya kita tertawa bahagia. Terimakasih Vanessa, simpan senyum-mu selamanya yak.

    Terakhir, gadis kecil itu namanya Diva. Dia merupakan putri pertama-nya pak dukuh. Gadis kecil mungil yang manut. Setiap kali aku mendampingi dia baca Qur’an, seakan-akan melihat potret masa depan. Senangnya mempunyai anak yang sami’na wa atha’na. Disuruh ngaji segera ngaji, diajari hafalan cepet nyantol, diajari tata krama juga nurut. Shalehah, cantik dan cerdas lahir batin. Karena sesungguhnya, anak adalah investasi dunia dan akhirat.

    Begitulah, inspirasi itu ada disekitar kita, disetiap alur cerita kehidupan yang Tuhan gariskan kepada kita. Dan mari, istiqamahkan membaca doa Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqinaa imaamaa.


    Penulis: S. Mukaromah
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website