Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Epistemologi Baru dalam Kajian Keislaman

    PEWARTAnews.com – Gagasan pokok buku ini adalah perluasan radius jangkauan fiqh Maqasid Syariah (tujuan-tujaun utama Syariat Islam). Jika Maqashid Syariah pada masa awal menekankan pada penjagaan (protection) dan pelestarian (preservation) atau yang lebih dikenal dengan al-hifzf, Maqashid Syariah kontemporer lebih bernuansa pembagunan (development) dan pemuliaanterhadap Hak-hak Asasi (human rights).

    Buku dengan judul asli Maqasid Syariah as Philosophy Law: A Systems Approachini adalah hasil dari creative imajination (istilah Ian G Barbour) Jasser Auda setelah meraih gelar Ph.D di dua bidang ilmu yang berbeda, yaitu filsafat hukum Islam dan analisis Sistem. Jasser Auda mempresentasikan penelitian multi-disipliner dengan tujuan mengembangkan teori Usul Fikih melalalui pendekatan sistem (hlm 28). Selain itu Jasser Auda mereformasi filsafat hukum Islam (ushul al-fiqh) dengan menjadikan Maqasid Syariah sebagai basis pangkal tolak berpikir filosofi  dengan menggunakan pendekatan sistem sebagai metode berpikir dan pisau analisis. Sebuah pendekatan baru yang belum pernah terpikirkan untuk di gunakan dalam diskusi hukum Islam dan ushul al fiqh sebelumnya. Pendekatan ini melahirkan freash ijtihad atau ijtihad-ijtihad yang lebih ‘segar’ yang lebih konteks dan konten dengan problematika masyarakat muslim kontemporer.

    Fitur-Fitur Sistem
    Ada enam fitur teori sistem yang di tawarkan Jasser Auda. Pertama, kognitif sistem (cognitive nature of system), Kedua, kemenyeluruhan (wholeness), Ketiga, keterbukaan (openness), Keempat, hierarki yang saling mempengaruhi (interrelated hierarchy). Kelima, multi-dimensionalitas (multi-dimensionality). Keenam, kebermaksudan (purposefulness) (hlm86). Pengoprasian enam fitur teori sistem ini pada hukum Islam memberikan kontrubusi signifikan  dalam rangka mereformasi filsafat hukum Islam. Hal ini dapat dilihat dari pergeseran dan perluasan radius jangkauan Maqasid Syari’ah setelah di tambah di sana-sini oleh Jaseer Auda. Misalnya dari menjaga agama (hifz al-din) bergeser menjadi menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan berkepercayaan. Menjaga jiwa (hifz al-Irdh), bergeser menjadi menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan, hak-hak asasi manusia Universal. Menjaga akal (hifz al- Aql) bergeser menjadi, melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah, mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan dan menghindari upaya-upaya yang meremehkan kerja otak. Menjaga keturunan (hifz al-nasl) bergeser dengan beroreantasi pada perlindungan yang lebih terhadap instasi keluarga. Menjaga harta (hifz al-mal) bergeser menjadi mengutamakan kepedulian sosial, menaruh perhatian pada pembangunan ekonomi, mendorong kesejahteraan manusia, menghilangkan jurang yang lebar antara miskin dan kaya.

    Maqashid baru Jasser Auda menjadikan Human Devolopment atau pembangunan sumber daya manusia sebagai target utama dari maslahah (public interest), sehingga Maqashid dapat dilihat dan di cek perkembanganya dari waktu ke waktu, diuji, dikontrol dan divalidasi melalui human devolopment index dan human defolopment target yang dicanangkan dan dirancang  oleh badan dunia, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun yang lain. Dengan begitu kemajuan dan kesejahteraan umat Islam dari waktu ke waktu dapat di upayakan, diperjuangkan, diukur dan dipertanggung jawabkan secara publik.

    Identitas Buku
    Judul : Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syariah Pendekatan Sistem
    Penulis : Jasser Auda
    Penerjemah : Rosidin dan ‘Ali’Abd el-Mun’im
    Penerbit : PT Mizan Pustaka
    Cetakan : 1, Agustus 2015
    Tebal : 356 halaman
    ISBN : 978-979-433-902-2
    Penulis : Abdul Gafur (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

    Puisi Tidak Sekedar Berkata Kata

    Eka Ilham, M.Si.
    PEWARTAnews.com – Puisi tak sekedar teks dan kumpulan pilihan kata. Bila padanya diberi konteks, puisi dapat bertransformasi menjadi "senjata" tak lagi sekedar kata. Jika saja teks dan konteks diberi imaji dan spritualitas, puisi dapat di ubah menjadi spirit perubahan, perlawanan, pergerakan, romantisme, meditasi, dan instropeksi diri. Puisi juga mengajak kita untuk mentertawakan diri kita sendiri terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita tampa ada saling menyakiti sebab kita dapat tertawa bersama-sama dengan kata-kata. Takkala kondisi bangsa hari ini nurani tertutup oleh buih keserakahan dan dahaga kekuasaan maka yang dipikirkan hanyalah bagaimana merebut kekuasaan baik politik maupun ekonomi, dengan menghalalkan segala cara. Kira-kira situasi inilah yang terjadi di republik ini. Tindakan koruptif telah menjelma menjadi bagian dari proses politik untuk menyangga kekuasaan. Para sastrawan mencoba mencari ruang melalui kata-kata untuk memberikan sebuah ekspresi terhadap kondisi republik ini. Sebut saja puisi Gus Mus “negeri haahihi” dengan imajinya dia menggambarkan kondisi republik ini.

    Negeri Haha Hihi

    Bukan karena banyaknya grup lawak,
    maka negeriku selalu kocak
    Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
    Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

    Banyak yang terus pamer kebodohan
    dengan keangkuhan yang menggelikan
    Banyak yang terus pamer keberanian
    dengan kebodohan yang mengharukan
    Banyak yang terus pamer kekerdilan
    dengan teriakan yang memilukan
    Banyak yang terus pamer kepengecutan
    dengan lagak yang memuakkan. Ha ha ...

    Penegak keadilan jalannya miring
    Penuntut keadilan kepalanya pusing
    Hakim main mata dengan maling
    Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi ...

    Kalian jual janji-janji
    untuk menebus kepentingan sendiri
    Kalian hafal pepatah-petitih
    untuk mengelabui mereka yang tertindih
    Pepatah petitih, ha ha ...

    Anjing menggonggong kafilah berlalu,
    Sambil menggonggong kalian terus berlalu

    Ha ha, hi hi ...
    Ada udang dibalik batu,
    Otaknya udang kepalanya batu
    Ha ha, hi hi
    Sekali dayung dua pulau terlampaui
    Sekali untung dua pulau terbeli
    Ha ha, hi hi
    Gajah mati meninggalkan gading
    Harimau mati meninggalkan belang
    kalian mati meninggalkan hutang
    Ha ha, hi hi
    Hujan emas di negeri orang, hujan batu dinegri sendiri,
    Lebih baik yuk hujan – hujanan caci maki.
    Ha ha, hi hi

    Puisi di atas dengan imajinya memberikan sebuah pembelajaran bagi kita. Kehidupan berbangsa-bernegara kita hari ini terlampau pengap oleh mentalitas kaum perampok. Mentalitas yang meninggalkan nurani dan akal sehat, demi beroleh pundi-pundi kekayaan. Tata aturan berbangsa-bernegara yang bersumber dari konstitusi dan seperangkat undang-undang lainnya, dikangkangi demi mengejar kemapanan serta kenyamanan hidup. Meski harus menyisakan barisan panjang penderitaan, penindasan dan ketidakadilan. Pun, agama tak lagi di toleh, ketika mata hanya tertuju pada kemewahan hidup yang sering kali mewariskan kemelaratan pada generasi kedepan. Kepengepan situasi semacam itulah yang coba di dobrak oleh para penyair dan penulis melalui puisi-puisi mereka. Ruang-ruang itu mereka sajikan dalam bentuk pentas budaya/seni, seminar, workshop, diskusi, perlombaan, komunitas-komunitas seni, dan sebagainya. Mereka mencoba bertahan di ruang-ruang itu atas nama seni dan idealisme.

    Betul bahwa puisi atau karya sastra lainnya tidak secara otomatis, berjangka waktu pendek, ataupun spontan, akan mampu mewujudkan sebuah perubahan. Namun, sebagai anak kandung kebudayaan, puisi atau karya sastra lainnnya mempunyai tempat dan tugas tersendiri dalam mendesakkan perubahan. Dengannya, realitas yang korup, penuh ketimpangan serta ketidakadilan, dipertajam melalui kreativitas kata-kata yang menggoyang kesadaran rakyat sekaligus juga menampar kebebalan penguasa. Sejarah telah mencatat, penguasa yang korup dan otoriter teramat takut dengan puisi para penyair dan sastrawan yang kritis. Para sastrawan dan penyair pada khususnya di Kabupaten Bima dan Kota Bima Nusa Tenggara Barat tetaplah selalu melahirkan karya-karyanya sebagai bentuk tanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual menghasilkan karya-karyanya untuk republik ini. Sesungguhnya bukanlah jerih payah yang terakhir dan paripurna dalam usaha menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Bagaimanapun, republik ini, membutuhkan nafas panjang kontribusi kita semua.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima

    Kelas Mengabdi

    Informasi Kelas Mengabdi.
    Bima, PEWARTAnews.com – Manusia perlu terus belajar untuk mengenali dirinya, lingkungan, alam dan semesta. Terciptanya keharmonisan dalam setiap lini kehidupan bersama adalah cita-cita luhur yang harus diperjuangkan. Tiada cara lain yang bisa kita tempuh, selain memulainya pada membangun manusia yang berorientasi untuk mewujudkan kesadaran Kritis dan organik. Energi penggerak itu harus bermekaran didalam pikiran dan sistem gerak semua orang. Terutama bagi mereka yang berlabel pemuda dan remaja.

    Setiap keadaan ideal pasti dimulai dari kesadaran yang ideal. Upaya untuk membangun kesadaran tersebut, tentu harus dilakukan secara bertahap dan sistematis. Maka sebagai manisfestasi dari cita dan cinta pada kemanusiaan kelas mengabdi tercipta. Mengajari apapun dan berbagi dengan siapapun. Merekayasa lingkungan serta merawat keutuhan diri mereka sebagai manusia.

    Kelas mengabdi sasarannya adalah remaja dan pemuda/i (SMA dan SMP), dan pengajarnya adalah setiap mereka yang peduli pada membangun manusia. Terselenggara untuk umum dan siapapun.

    Kelas pertama mengajar akan segera tiba! Kelas mengabdi KPPBN dengan tema “Peran Generasi Milenial dalam Mewujudkan Keharmonisan Desa”. Akan dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu, 21-22, September 2018 Jam 15.00 WIB. Bertempat di SMP N 3 Belo. Bagi teman-teman yang rindu akan keilmuan ditunggu kedatangan dan pastisipasinya.

    Saatnya mengajar dan mengabdi bukan mengejek dan membenci. (Dedi Purwanto)

    HMI Cabang Purwokerto Gelar LK 2 dan SC, Ketua Umum: Mari Kembali ke Desa

    Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto. Foto: Akhir.
    Purwokerto, PEWARTAnews.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto menggelar kegiatan Intermediate Training (Latihan Kader II) dan Senior Course (SC) Tingkat Nasional, di Balai Diklat Banyumas, (19-30 September 2018).

    Lazimnya kegiatan Training di HMI adalah untuk menambah keilmuan dan kesadaran kader-kader mengenai pentingnya regenerasi dalam hal mengawal pembangunan bangsa dan negara demi terwujudkan masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT.

    Pasang surutnya eksistensi HMI di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara juga merupakan salah satu bagian dari tujuan HMI. Oleh karenanya, HMI Purwokerto menggelar training LK 2 dan SC tersebut, guna sebagai kader dapat memehami masalah yang telah diperjuangan dan dilalui oleh organisasi yang bersimbol Hijau Hitam tersebut dengan banyak haru dalam berhimpun.

    Refleksi panjang HMI telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa HMI tidak mungkin lagi berjudi tentang masa depan dengan romantika kejayaan masa lalu. Sebab dinamika organisasi yang terjadi selama ini cukup memberikan gambaran sebagai pembelajaran berharga bagi kader HMI.

    Menurut Ketua Panitia Pelaksana Isma Nikmatul Aula, terselenggaranya kegiatan ini merupakan upaya untuk menguatkan hader untuk menanamkan rasa memiliki pada HMI. “Tujuan LK 2 dan SC HMI Cabang Purwokerto adalah agar adanya regenerasi kader di HMI, terkhusus kader HMI Cabang Purwokerto, kemudian kader memiliki rasa kecintaan terhadap HMI dan semangat yang tinggi dalam ber-HMI serta mampu membawa HMI Cabang Purwokerto menjadi lebih baik lagi,” bebernya.

    Lebih lanjut, Isma mengatakan bahwasannya sejauh ini panitia pelaksana berupaya dengan semaksimal mungkin untuk mensukseskan kegiatan berskala nasional ini. “Jumlah peserta yang mengirim makalah untuk LK 2 sekitar 98 orang peserta yang menjadi utusan dari masing-masing Cabang HMI se-Indonesia, namun yang lolos sesuai dengan presentasi pembuatan makalah di HMI sekitar 47 peserta,” ujarnya.

    “Sedangkan untuk Senior Course (SC) sebanyak 26 orang yang kirim Sindikat, namun yang lolos hanya 22 orang saja. Kemudian semua peserta akan mengikuti Screening pada tanggal 19-23 September 2018 dan Kegiatan training LK 2 dan SC akan berlangsung mulai pada tanggal 23-30 September 2018 di Balai Diklat Banyumas,” tuturnya.

    Kemudian dalam momentum yang sama, Ketua Umum HMI Cabang Purwokerto Romi Fredyanto, menuturkan bahwa tujuan pengadaan training ini adalah agar kader HMI kembali kedesa, dengan upaya untuk menguatkan nasionalisasi dan pemberdayaan masyarakat yang sering kali banyak dilupa dan kader HMI mampu merasionalisasikan kebutuhan masyarakat secara realistis dan profesional.

    “Kader HMI harus benar-benar terlibat aktif dalam mengawal bangsa dan negara, kemudian untuk mengawal itu semua perlu kita kembali ke desa-desa, karena kemakmuran dan kesejahteraan yang ada di Indonesia ini ialah melalui desa,” celoteh Romi.

    Lebih jauh, Romi Fredyanto mengatakan, “Kami menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan LK II tingkat nasional ini. Terutama bagi HMI Cabang se-Indonesia yang telah mengirim kader-kader terbaiknya sebagai utusan atau perwakilan dalam megikuti training. Mudah-mudahan kami bisa menjadi tuan rumah yang baik,” lanjutnya. (Muhammad Akhir)

    Karang Taruna DIY Gelar Ekspedisi Kemanusiaan untuk Lombok NTB

    Karang Taruna DIY saat gelar Ekspedisi Kemanusiaan di Lombok NTB. Foto: Istimewa.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Peristiwa gempa yang memilukan belum lama ini terjadi pada keluarga kita di Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa yang memakan lima ratusan lebih korban jiwa meninggal dunia dan juga lebih dari tiga ratus ribu mengungsi itu tepatnya terjadi di Lombok dan sekitarnya.

    Mendengar peristiwa tersebut, belum lama ini Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tergerak hatinya untuk peduli pada peristiwa gempa yang terjadi di Lombok, dan berhasil mengumpulkan bantuan dari karang taruna se-DIY. Uang yang terkumpul dibelanjakan logistik berupa terpal, keperluan bayi, keperluan wanita, kebutuhan untuk sekolah darurat dan sembako, ada juga pakaian layak pakai. Bantuan yang telah dikumpulkan, Tim Karang Taruna DIY sudah mengirim langsung ke Lombok Utara dan Lombok Barat.

    Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono selaku Ketua Karang Taruna DIY mengutus Solihul Hadi, S.H. (Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta) dan Luthfi Eka Septerina (Koordinator seksi Kebencanaan Karang Taruna DIY), untuk mengawal dan memastikan distribusi bantuan dari Karang Taruna DIY tepat sasaran dan diterima langsung oleh masyarakat yang terdampak gempa.

    Solihul Hadi, S.H. dan tim sebagai utusan ekspedisi kemanusiaan untuk Lombok, saat tiba di Lombok langsung berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan Ketua Karang Taruna NTB Ma'ruf Syamsuddin, Kepala Dinas  Sosial NTB H. Ahsanul Khalik, S.Sos., M.H., Bapak Bupati Lombok Utara, Ketua Karang Taruna Lombok Utara, serta teman-teman Karang Taruna Lombok Barat.

    Menurut Solihul Hadi, S.H., koordinasi dilakukan untuk bisa memetakkan lokasi-lokasi korban gempa yang terjadi dan juga agar bisa dengan mudah menyalurkan bantuan tepat sasaran.  "Koordinasi ini dilakukan agar penyaluran bantuan tersebut bisa tepat sasaran, efektif dan efisien, karena karang taruna itu sendiri berdasar pada Permensos 23 Tahun 2013 adalah organisasi yang dinaungi oleh Kementerian Sosial dan pemerintah setempat. Maka kegiatan kemanusiaan seperti ini merupakan salahsatu agenda penting yang harus dilakukan oleh Karang Taruna," beber Solihul Hadi pada 17/09/2018 setelah sampai kembali di Yogyakarta usai melakukan ekspedisi kemanusiaan di Lombok NTB. 

    Setelah sukses menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Lombok, Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono dalam hal ini mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi baik secara materil maupun imateril dalam menyalurkan bantuan ke Lombok pada misi kemanusiaan. Selain itu, GKR Condrokirono juga mengucapkan terimakasih yang tak terhingga pada Dinsos NTB, Pemerintah dan Karang Taruna setempat karena telah membantu menyalurkan bantuan pada korban gempa. (PEWARTAnews)

    Manusia dan Sebiji Nasi

    PEWARTAnews.com – Kondisi dalam keheningan, setiap mereka merasa pantas untuk mendefinisikan sesuatu. Mendefinisikan apapun yang mereka anggap perlu untuk didefinisikan. Mungkin karena alasan inilah setiap orang menjadikan keheningan sebagai kekasih yang harus dimanjakan setiap hari. Dikunjungi dan dicintai disetiap detik nafas yang berhembus. Keheningan membutuhkan kesunyian, dan kesunyian membutuhkan kesepian. Karena dengan jiwa yang kesepian pintu-pintu misteri dibalik keheningan bisa terbuka. Rumah dari hati dan pikiran yang menyimpan cakrawala. Hidup harus ditemukan dan dipelajari. Melewati lembah-lembah, melalui lorong-lorong, menaiki bukit, sakit dipunggungmu mesti engkau bawah serta, tak peduli apapun pencarianmu harus tetap berlanjut. mengunci diri dari keserakahan dan berdamai dengan nurani sendiri.

    Merelakan yang pergi, memikul segudang keluh dipundakmu, tapi hidup harus terus dijalankan. Karena tugas adalah tugas. Kewajiban adalah kewajiban. Menjaga manusia, alam dan semesta. Menghargai diri bermakna menghargai orang lain, menghargai manusia bermakna menghargai alam, dan menghargai Tuhan bermakna menghargai semesta. Cara itulah yang masih melakat pada mereka. Sibuk berdiskusi dengan semesta, hidup dan menghidupi beralas kedamaian dan ketenangan.

    Dibalik sebuah gunung hiduplah orang-orang yang sholeh. Sholeh terhadap manusia, alam dan semesta. Mereka hidup bersama dalam sebuah desa. Desa itu bernama Sambori. Salah satu desa yang ada di Kabupaten Bima, terletak dikecamatan Lambitu. Desa yang dikutuk oleh kemajuan. Dibenci oleh perkembangan, dan dihardik oleh setiap generasi yang ada. Kebencian itu tentu beralasan. Sistem hidup mereka yang ketinggalan zaman. Kebudayaan mereka kolot, mereka masih peduli terhadap semesta. Kebiasaan mereka yang menganggap segala sesuatu bagian dari diri mereka. Alam dan semesta harus dihargai karena mereka sama seperti manusia. Cara hidup seperti itu yang dibenci oleh perkembangan dan kemajuan.

    Kondisi dalam kebiasaan mereka sehari-hari, ternyata mereka telah mampu memberika solusi ditengah keadaan Negara dan Bima hari ini. Cara pandang mereka terhadap nasi mampu menjadi standar hidup untuk menghargai sesuatu melebihi diri mereka sendiri, dan semestinya itu menjadi cara pandang kita bersama dalam melihat sesuatu. Walaupun sama bukan berarti seragam. Namun ada sistem khusus yang kita bangun untuk mewadahi ini. Menurut mereka, nasi tidak hanya suatu materi yang didalamnya termuat unsur biologis dan kimiawi. Nasi tidak hanya sebagai kata benda, nasi bukan saja fungsinya untuk mengenyangkan. Tetapi mereka melihat nasi sebagai sesuatu yang hidup, sebagai bagian dari manusia. Saudara dari manusia itu sendiri. Seseorang akan dianggap bernilai terletak pada cara mereka memperlakukan sebiji nasi. Seseorang akan bermartabat apabila dia menghormati sebiji nasi sama seperti menghormati dirinya sendiri. Semua yang masuk dan keluar dari dirimu adalah saudaramu sendiri, yang masuk akan sampai ke syurga dan yang keluar akan sampai ke neraka. Kalau semua saudaramu itu merasa tidak pernah engkau hargai, maka engkau akan bertemu kembali dan mempertanggungjawabkannya pada waktunya. Memperselisihkan hal-hal yang kamu anggap sederhana tapi dimata mereka itu adalah tanda kekafiran yang nyata.

    Kebiasaan orang-orang disana, setiap kali mereka makan harus sampai tak tersisa, sebab kalau disisakan, mereka menyakini bahwa nasi itu akan menuntut keadilan kepadamu kelak. Mereka akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah kita lakukan. Kondisi dalam kebiasaannya yang lain, pada saat musim panen orang-orang disana sangat teliti dan sangat hati-hati untuk memilah dan memilih biji-biji padi. Jangan sampai ada yang berhamburan meskipun hanya sebiji. Karena membuang sebiji sama nilainya dengan membuang sekarung. Dan menelantarkan biji-biji itu sama dengan menyiksa diri sendiri. Keyakinan ini tentu bukan tanpa sebab, nasi adalah makanan pokok. Hidup kita sangat bergantung pada nasi. Nasi memberi kita segalanya, dan segala pekerjaanmu pasti berujung pada sebiji nasi. Gajimu untuk membeli nasi, ceramahmu untuk membeli nasi, pidatonya untuk membeli nasi, segala aktivitasmu berawal dari nasi dan berujung pada nasi. Nasi sangat penting mengingat fungsi dan sifatnya. Siapun pasti tau itu. Tetapi disisi lain ada soal yang muncul kemudian, seberapa jauh kita menghargai sesuatu yang memberikan kehidupan itu.?

    Selain yang penulis paparkan diatas ada juga kebiasaan orang Sambori untuk menghormati nasi. Pada saat memulai makan mereka menyediakan beberapa tikar. Tikar disiapkan tergantung banyak orang yang akan makan. Tikar tersebut tidak hanya sebagai alas duduk. Tetapi tikar disitu juga menjadi wadah untuk menahan nasi supaya tidak jatuh ke tanah. Bukan karena nasi itu kotor kalau menyentuh tanah, tapi karena rumahnya terbuat dari kayu dan dibawah rumah itu ada kolom, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk turun mengambil biji nasi yang jatuh tersebut. Sedangkan disisi lain meninggalkan nasi saat kita makan sama saja dengan menolak rezeki yang datang menghampiri kita. Keyakinan mereka sedalam itu.

    Kemudian dalam prosesi melayani tamu. Setelah para tamu makan tentu ada yang menyisahkan nasi ada juga yang memakannya sampai habis. Namun yang humanis disini terletak dari cara mereka menghargai sisa nasi dari orang yang berkunjung ke rumah mereka itu.

    Tanpa sepengetahuan tamu tersebut didapur mereka, nasi-nasi itu dicuci lalu dikeringkan. Setelah kering kemudian mereka makan kembali. Beberapa orang di Bima mungkin masih menjalankan kebiasaan tersebut. Namun kebiasaan mengeringkan nasi dilakukan dari sisa makanan sendiri atau keluarga, dan jarang yang mengeringkan nasi sisa makanan orang lain.

    Unik dan romantis memang kita lihat. Kalau para tamunya menyisahkan nasi dipiringnya, dengan rendah hati orang yang punya rumah itu merapikan piring-piring dan membawanya ke dapur. Didapur yang meracik kaharmonisan itu mereka bilang kepada nasi yang disisakan oleh para tamu, "Ma'afkan kami karena telah membuangmu, sambil menangis dan mencuci nasi tersebut supaya dikeringkan. Mudah-mudahan engkau tidak mempersoalkan kelalaikan ini dialam yang lain nanti”. Terkejut sekaligus saraf motorik penulis berhenti sejenak. Narasi macam apa yang hidup di negeri ini. Semua perjalanan saya terhenti dan pengembaraan selama ini percuma. Itu semua terbantah hanya pada proses memaknai manusia dengan sebiji nasi. Nasi saja dihargai apalagi manusia. Nasi saja dihormati apalagi manusia. Nasi juga makhluk, mereka butuh dicintai dan disayangi. Cintamu kepadanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata Tuhan, kesetiaamu padanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata manusia.

    Kalau di kota, jangankan nasi yang dibuang, manusia saja dibuang. Maka itulah alasan penulis masih mencintai desa.

    Tetapi kebiasaan itu mulai terkikis. Entah oleh zaman atau indvidunya. Apakah karena salah penulis? Salah pembaca? Salah pemudanya? Salah birokrasinya? Ulamanya? Tokoh masyarakatnya? Ayah dan ibunya? Kakek dan neneknya?.

    Manusia dan sebiji nasi.
    "Jagalanya segalanya supaya segalanya menjagamu" Ibu semesta.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pencari Jalan Sufi / Eks Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY)

    Sebuah Sajak Tentang Perjuangan

    Morgan Guevara.
    PEWARTAnews.com -- Wahai kawan-kawanku yang satu perjuangan, bukankah revolusi itu suatu jalan untuk membebaskan rakyat dari jeratan kemiskinan.

    Jika engkau mengatakan iya, maka libatkan dirimu dalam perjuangan rakyat.
    Tidak ada jalan lain yang mampu membebaskan buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota selain revolusi.

    Bukankah engkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, dan sanggat sulit. Sulit, bukan berarti mustahil bahwa suatu kemenangan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.

    Wahai kawanku untuk apa engkau berpendidikan tinggi, untuk apa? Bukankah tujuan pendidikan yang semestinya untuk membebaskan rakyat dari jeratan kapitalisme.

    Apakah engkau hanya ingin menitipkan nasibmu dalam dunia pendidikan, menyandarkan derajat yang tinggi dimata sosial.

    Apakah engkau hanya inggin menyombongkan dirimu didepan kawan-kawanmu yang tak mampu mengenyam pendidikan tinggi.

    Apakah engkau hanya ingin mengakukan dirimu di junior-juniormu.
    Apakah enggkau hanya inggin menyombongkan dirimu di depan buruh-buruh, didepan petani-petani, dan didepan perempuan-perempuan.

    Apakah engkau tidak sadar bahwa dirimu akan menjadi buruh, apakah engkau tidak sadar bahwa enggkau akan menjadi pengangguran.

    Jika pendidikan hari ini dibawah sistem kapitalisme hanya mampu menciptakan penganguran, generasi yang memiliki sifat apatis, oportunis, dan hedonisme maka selayaknya pendidikan bukan dikatakan mencerdaskan dan membebaskan rakyat, akan tetapi  pendidikan layaknya seperti barang yang diperdagangkan untuk menghisap kaum muda.

    Aku enggan melihat anak muda yang menyandarkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat tapi aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup melawan arus. Arus itulah yang mengelamkan nyali kita semua.

    Aku inggin duduk bersama kalian, menonton orang-orang pandai berdebat di televisi, atau melihat  aktivis yang dulu lantang melawan kini mendukung elit politik borjuasi busuk untuk menjadi penguasa yang akan menindas rakyat miskin, murah sekali harga seorang aktivis yang tidak memiliki harga diri telah  melacurkan keyakinan,  sangat ngeri,  aku menyaksikan orang-orang pandai berbohong dengan ilmu pengetahuan mereka.

    Keberanian seperti sikap keberimanan, jika engkau memperoleh keberanian maka kau memiliki harga diri, sikap bermartabat yang membuat kita tidak mudah untuk dibujuk.

    Perjuangan mengajarkanku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis, kemiskinan mendidikku untuk tidak mudah yakin dengan janji-janji para elit politik busuk.

    Akan aku habiskan waktuku untuk terlibat langsung dan berjuang bersama buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota melawan.

    Akan aku libatkan diri dalam berjuang untuk mengangkat martabat Papua menuntut haknya sebagai anak bangsa, karna aku tidak mau menjadi kolonial bagimu.

    Akan aku libatkan diri dalam perjuangan buruh yang di PHK, mahasiswa yang di droup out, petani yang di gusur dan perempuan yang  memperjuangkan hak hidupnya.

    Akan aku sapa setian anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh.

    Bukankah enggkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, sanggat sulit, sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil bahwa suatu memenagan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi dinegara itu saja.

    Jika engkau inggin mengetahui bagaimana jalannya revolusi maka libatkan dirimu dalam perjuangan revolusi.

    Wahai kawanku, kita bukan melawan siput, tetapi buaya dan serigala yang akan menerkam jika kita lenggah.


    Yogyakarta, 16 Mei 2018
    Karya: Morgan Guevara
    Salahsatu Mahasiswa Yogyakarta

    Kapatu LDK FIMNY (Pantun Bahasa Bima)

    Suasana saat LDK FIMNY.
    Wara haba ma heba ro ma heboh
    Haba LDK FIMNY ndi ringa sanai-naimu bune oi manoa 
    Aka pantai ndi samadamu sampesa ntoi-ntoi 
    Pantai rindu alam, haba ndi ringa ulumu
    Pantai pelangi ndi cua meci kai lenga ro aina mori langa

    Ringa ulupu ngahi bune taroa ilo 
    Ngahi senior mai kaiba sanaa, sanaa ide ro ade ma gaga ndi eda 
    Ngahi senior ma rombo ntiri bune taroa ntara
    Ndi osumu nasihat ma ngini isi ro ma ncewi ese

    Aina bake, kamboto pu baca buku
    Aina mbou, kalampa pu sambea paida ra mori mbaimu
    Ringa pu ngahi ra ngoa, aina ncewi ngau
    Samena ngahi ra pehe, ndi kapahu mu

    Ngahi ro eli senior ndi nonto, maita ka jaya FIMNY ndi nenti


    Keterangan:
    FIMNY (Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta)
    LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan)


    Penulis: Bung Ismail
    Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website