Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Politik Gagasan? (Yes), Money Politik? (No)!

    Muhammad Nur Dirham.
    PEWARTAnews.com -- Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diangap modern pada abad ini, seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan dan demokrasi berjalan semakin eksis sebagai sistem pemerintahan yang familiar. Demokrasi yang mengatas namakan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat itu memang cendrung akan menghasilkan keseimbangan dalam pembagaian kekuasaan. Momentum pesta demokrasi dalam rangka pemilihan umum legislatif baik tingkat Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang bersamaan dengan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tinggal dalam hitungan hari tepatnya pada tanggal 17 April 2019, masyarakat Indonesia akan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan anggota legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden untuk periode lima tahun kedepan.

    Pada setiap hajatan demokrasi dalam konteks pemilihan umum banyak unsur yang terlibat didalamnya mulai dari penyelenggara, pengawas dan juga pesertanya. Kesuksesan dari penyelenggaraan pemilihan umum membutuhkan komitmen dari semua stakeholder tersebut untuk bersama-sama menjadikan pemilihan umum berjalan dengan jujur, adil serta bebas dan rahasia dengan menghasilkan individu-individu yang mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan mengimplementasikanya dalam bentuk kerja nyata untuk kemaslahatan masyarakat luas. Dalam setiap momentum hajatan demokrasi, masyarakat selalu disuguhkan dengan perilaku yang menciderai nilai luhur demokrasi itu sendiri yang salah satunya adalah money politik (politik uang), dan baru-baru ini pada banyak media merilis berita tentang operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK pada calon anggota legislatif dengan barang bukti berupa uang yang sudah dikemas rapi dalam 400 ribu amplop yang berisi uang yang diduga untuk dipakai serangan fajar dalam perhelatan pemilihan umum tanggal 17 April 2019. Rilis berita tersebut hanya salah satu contoh dari sekian banyak kemungkinan modus politik uang yang bisa saja dilakukan oleh anggota legislatif kepada masyarakat sebagai pemilih dan bukan tidak mungkin juga kepada para penyelenggara, pengawas dan lainnya.

    Untuk tidak melakukan politik uang dengan niatan merawat demokrasi secara baik maka perlu komitmen yang tinggi kepada semua pihak dengan berpedoman pada peraturan perundang-undang serta aturan lain yang mengatur tentang pemilihan umum baik pilkada, pemilihan umum legislatif dan pemilihan Presdien dan Wakil Presiden, lebih lebih kepada peserta pemilu agar bisa mengedepankan kedewasaan berpolitik dengan adu gagasan, melakukan pendampingan politik kepada masyarakat pemilih agar terhindar dari politik transaksional dan pragmatis, bukan malah sebaliknya menampilkan wajah politik yang menciderai nilai dan esensi dari demokrasi. Melakukan politik uang dan atau tindakan lain yang menciderai dan melanggar prinsip-prinsip berdemokrasi bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan elektabilitas dan atau tingkat keterpilihan para kontestan politik hari ini dan pada kenyataannya itu merupakan cara kotor dan tidak dapat dibenarkan, sebaliknya banyak alternatif lain yang bisa menjadi prioritas untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk memilihnya semisal pendekatan emosional, kultural, dan jejaring yang ada tanpa harus berpolitik uang, intimidasi dan lainnya dengan satu tujuan bahwa untuk meyakinkan masyarakat tentu harus dengan politik gagasan artinya setiap individu yang berlaga pada kontestasi politik harus berbasis pada ide dan gagasan dengan pandai melihat, merasakan apa yang menjadi harapan agar kehidupan masyarakat lebih baik.

    Pada bagian akhir tulisan ini, penulis mengutip hasil penelitian Amarru Muftie Holish dkk dalam kesimpulan menyampaikan Praktik money Politik dengan bentuk dan tujuan apapun adalah pelanggaran yang dikenakan sanksi Pidana yang tertera dalam Undang Undang. Bagaimanapun pengawasan terhadap Peserta Pemilu oleh lembaga yang berwenang haruslah dilaksanakan untuk menciptakan kebersihan dari penyelengaran demokrasi yang langsung Umum bebas dan rahasia, selain itu pula penyuluhan dan pencerdasan kepada masyarakat pun dibutuhkan untuk mengurangi pelangaran money politik dikarenakan pengetahuan masyarakat yang rendah pula menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pelanggaran money politic marak terjadi dikalangan Masyarakat Indonesia. (Amarru Muftie Holish dkk, dimuat pada jurnal Fakultas hukum Unnes Volume 4 Nomor 2 Tahun 2018).

    “Politik santun, politik gagasan, politik yang mendidik, mencerdaskan dan mencerahkan”



    Penulis: Muhammad Nur Dirham
    Caleg DPRD Kabupaten Bima 2019

    Penting Ikhtiar

    Prof. Rochmat Wahab.
    PEWARTAnews.com -- Pada hari ini, Rabu, 17 April 2019, adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari dilaksanakan Pemilu 2019 yang merupakan pemilu ke-13 dan terbesar dalam sejarah bangsa, karena dilakukan 5 pilihan secara bersamaan, yaitu Pileg Daerah Kab/Kota, pileg Daerah Propinsi, pileg Pusat/RI, pilihan DPD, dan Pilpres/wapres. Pro dan kontra mewarnai perjalanannya. Hajat demokrasi ini akan sangat berarti jika dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Juga secara profesional, terbuka dan objektif. Semoga berakhir dengan damai dan terjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Antara yang menang dan kalah dihimbau saling menghargai dan respek. Semuanya memerlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh, karena ini menjadi kewajiban kita semua.

    Pemilu 2019 perlu disikapi dengan bijak. Untuk mengawal pemilu ini kiranya perlu mengacu kepada firman Allah swt, QS Al Imran:26-27, yang artinya: Katakanlah, Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut dari siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau muliakan siapa  pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Kesuksesan hajat Pemilu sangat ditentukan      oleh ikhtiar. Bukan datang dengan sendirinya. Ikhtiar ini didasarkan atas firman Allah swt, yang pertama pada QS, Ar Ra’du: 11, yang artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ... Yang selanjutnya diperkuat dengan firman-Nya yang kedua pada QS. Di Al-Jumu’ah: 10 yang artinya: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarlah kamu di kmuka bumi, dan carilah karunia Allah dann ingatlah Allah banyak agar kamu beruntung.

    Di samping itu diperkuat dengan Hadits Rasulullah saw yang artinya: ...Sungguh jika sekiranya salah seorang di antara kamu membawa talinya (untuk mencari kayu bakar) kemudian ia kembali dengan membawa seikat kayu di punggungnya lalu ia menjualnya sehingga Allah mencukupi kebutuhanya (dengan hasil itu) adalah lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau mereka menolak. (HR. Bukhari). Baik kedua ayat Al-Qur'an maupun satu, matan hadits memperkuat betapa penting ikhtiar dalam menuju upaya mensukseskan Pemilu 2019

    Ikhtiar yang telah dilakukan, dapat  memberikan keuntungan, di antaranya sebagai berikut : (1) Merasakan kepuasan psikologis, karena telah berusaha  dengan sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, (2) merasa terhormat di hadapan Allah dan sesama manusia, (3) dapat berhemat karena merasakan susahnya bekerja, (4) tidak orang yang mudah berputus asa, (5)menghargai jerih payah sendiri dan jerih payah orang lain, (6) tidak menggantungjan diri kepada orang lain dalam hidupnya, dan  (7) menyelamatkan aqidahnya dan tidak (bebas) bertawakal kepada makhluk.

    Tidak semua Ikhtiar, itu berhasil. Cukup banyak terjadi ikhtiar gagal yang tidak memberikan hasil yang memuaskan, maka dari itu dalam berikhtiar kita melandasi setiap ihktiar dengan ikhlas, kita harus bersungguh-sungguh, sepenuh hati, dan seoptimal mungkin, berkomitmen tinggi, bekerja keras, tidak mudah putus asa dan pantang menyerah.

    Untuk mewujudkan ikhtiar ternyata tindakan selalu mulus. Ada saja hambatan dan tantangan, di antaranya: (1) tujuan lemah. Tujuan lemah menjadikan motivasi lemah, berlanjut dengan tindakan lemah, (2) tidak fokus. Ikhtiar yang berwujud banyak tugas dan pekerjaan membuatnya tidak fokus, (3) termakan oleh kesibukan. Cakupan ikhtiar berupa kesibukan bekerja dan berbisnis, yang tidak bisa dikoordinasi dengan berujung menjadi hambatan, dan (4) kurang berdoa. Sehebat apapun ikhtiar, jika tidak diridloi Allah swt, maka tujuan tidak akan bisa dicapai.

    Implikasi ikhtiar untuk mensukseskan Pemilu 2019 pada hari dan seterusnya di antaranya adalah, (1) setiap warga yang berhak memilih meggunakan haknya di tempat yang sudah ditentukan baik sebaga pemilih utama atau pindahan, (2) Panitia mulai di TPS sd KPU Pusat bertindak netral, (3) Bawaslu, TNI, Polisi, dan Keamanan menjaga kelancaran dan netralitas pelaksanaan dan pengawasan penyelenggaraa pemilu di semua level, (4) Saksi untuk pileg, pemilihan DPD, dan pilpres/wapres menunaikan tugas dengan baik dalam proses pemilihan/pencoblosan dan perhitungan, (5) pelayanan warga yang memerlukan bantuan, baik yang  berkebutuhan khusus maupun yang sakit di RS dilakukan luber dan jurdil, (6) penetapan rekapan di Kecamatan, KPUD sampai dengan KPU Pusat dilakukan dengan benar, objektif dan bertanggung jawab, dan (7) semua kontestan baik Caleg maupun Capres/Cawapres, untuk hindari politik uang dan intimidasi, dan (8) penyelesaian  proses hukum dan penetapan hasil akhir dengan menjaga netralitas untuk dapatkan hasil yang terbaik.

    Setelah kita berikhtiar untuk sukseskan Pemilu sesuai dengan hak dan kewajibannya bagi pemilih dan tupoksi bagi panitia, maka kita betawakkal kepada Allah swt, semoga Allah swt melindungi dan meridloi kita semua, bangsa Indonesia. Semoga sukses dan tercipta perdamaian menuju Indonesia lebih baik di masa-masa mendatang. Aamiin.


    Yogyakarta, Rabu, 17 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Puisi-Puisi Karya Nurkurniati, Jarak dan Merdeka?

    Nurkurniati, S.Par.
    Jarak

    Tau apakah sajak yang pas buat jarak
    Tau apakah nada yang pas buat rindu
    Tidak, entah bagaimana jarak seakan mengolok, mengoyahkan rasa

    Setebal apa lagi tembok yang meski ku bangun
    Sekuat apa lagi mantra untuk menguatkan hati
    Menjelaskan kepada jiwa bahwa obat rindu tidak harus bertemu

    Warna senja seakan memberiku harapan akan datang malam yang penuh bintang
    Seakan mengisyaratkan bukan cuman aku yang selalu mendamba bintang ditengah gelap malam yang menemani sepi pun kau yang berada dibalik malam

    Setidaknya masih ada bintang yang akan aku titipkan rindu dan menyampaikan pada dia yang selalu ku tunggu dipenghujung hari

    Aku tidak suka rindu yang selalu hinggap yang kadang mencekam, yang selalu menuntut ingin kembali bersua

    Kadang rindu datang dengan mengelitik hati ketika tau jika bukan hanya aku saja yang merasa tapi juga dia yang juga sama atau mungkin lebih merindu.

    Kau tahu
    Ketika aku rindu, bertemu adalah yang akan selalu terlintas dipikiranku tapi ketika mungkin selangkah lagi kita akan sama menuju akhir harapku

    Tunggulah sebentar lagi
    Selangkah lagi saja
    Tidak akan lama
    Tidak akan dicekik lagi oleh rindu

    Kita akan sama sama bertemu ditengah kota, tempat kita saling melambai untuk berpisah dan bertemu lagi

    Dengan kebanggaan yang aku dan kamu perjuangkan
    Iya, kebanggaan yang menciptakan rindu yang siap mencekik kita tanpa ampun.

    Tapi sekarang kita akan bertemu
    Jarak tidak akan mengolok kita lagi
    Dan rindu tidak akan menjadi keluhan lagi.

    Yogyakarta, 26/03/2019


    Merdeka?

    Merdeka kah?
    Apa merdeka itu tetap berkibarnya sang merah putih?
    Apa merdeka karena kita masih melihat terbitnya matahari di pagi hari?

    Merdeka kah?
    Apa karena semboyan kita 'bhineka tunggal ika' kita jadi meresa merdeka?
    Apa karna semboyan kita 'NKRI harga mati' cukup membuat kita merasa merdeka?

    Lalu jika bukan itu, kemudian apa?
    Penjara si kaya dan si miskin berbeda ? Itukah merdeka ?
    Si kaya beralaskan kasur empuk dan si miskin beralaskan lantai dingin penjara, itu kah merdeka ?

    Kemudian apa lagi?
    Perampok negara memiliki fasilitas seperti di hotel bintang lima!
    Perampok ayam makan aja pake sayur kangkung lengkap dengan dinginnya lantai dan dinding penjara

    Sebenarnya apa itu merdeka?
    Bebas berpendapat?
    Dari rakyat untuk rakyat?
    Yang aku tau dari hak rakyat untuk kepentingan perindividu-individu yang tidak tahu diri dengan seenaknya mengklaim hak orang lain!

    Coba renungkan
    Apa merdeka adalah dengan menulikan telinga dari jeritan-jeritan rakyat miskin?
    Apa merdeka adalah dengan menutup mata dari mereka yang membutuhkan uluran tangan dari pemimpinya?

    Lalu jika semua itu bukan!
    Bisa tolong engkau jelaskan kepadaku apa sebenarnya merdeka itu, dan bagian mana dari Indonesia yang sudah merdeka!!

    Wahai kau tuan yang memakai dasi licin
    Wahai kau tuan yang memakai fantovel mengkilat
    Engkau yang selalu mengagung-ngagungkan kemerdekaan!
    Engkau yang selalu menyorakkan kemerdekaan!

    Bagian mana sebenarnya Indonesia yang merdeka?

    Yogyakarta, 26/03/2019

    Karya: Nurkurniati, S.Par.
    Alumni Sokolah Tinggi Ilmu Pariwisata (STIPRAM) Yogyakarta / Eks Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Misedukasi

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.

    PEWARTAnews.com -- Setiap anak berhak tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi dan kondisinya. Pada kenyataannya, tidak semua anak memperoleh haknya secara memadai, sebagai konsekuensi logis dari tindakan misedukasi. Karena semua anak didorong untuk menjadi “superkid”, baik di bidang akademik, seni, maupun olahraga. Bahkan ditemukan bahwa sejumlah orang tua berobsesi menjadikan anaknya  sebagai juara, sehingga kadangkala orangtua terpaksa berbuat tidak sportif dan curang untuk menjadikan anaknya sebagai juara dengan melakukan pendekatan dengan juri, terutama untuk bidang yang tak terkur. Di samping itu akhlaq juga belum menjadi concern banyak orangtua. Padahal tidak semua anak bisa tampil hebat dan setiap anak harus bermoral dan berakhlaq yang terpuji.

    Misedukasi terjadi ketika materi pendidikan yang disiapkan dan diberikan itu salah dan terjadi pada waktu yang salah pula. Materi pendidikan yang diberikan pada saat anak belum matang, ketika kondisi fisik dan mentalnya belum siap. Belum lagi soal penanaman nilai terabaikan. Demikian pula setting yang diciptakan belum kondusif dan supportif, sehingga tidak terjadi proses pendidikan yang natural.

    Salah satu akibat dari misedukasi dalam jangka pendek adalah stress pada anak. Anak merasa depresif karena tuntutan orangtua kadangkala di luar potensi dan cukup membebani. Adapun akibat jangka panjang misedukasi adalah timbulnya trauma psikologis dan fisik, yang bisa berakibat fatal untuk kehidupan anak selanjutnya. Bahkan bisa merusak harga diri (self esteem) anak dan hilangnya  sikap positif anak terhadap belajar. Anak merasa inferior dan tak memiliki gairah untuk belajar.

    Dalam konteks kehidupan era millenial, orangtua tidak boleh absen dalam proses pendidikan anak. Bahwa setiap anak menjadi warga natizen harus didik dengan bena, sehingga bisa menjadi agen perubahan, filter nilai dan beradaptasi. Tugas ini tidak mudah, karena itu orangtua harus mampu fasilitasi dan membimbing anak untuk bisa hidup pada jamannya. Orangtua harus wise dan tidak boleh melakukan misedukasi yang bisa berakibat fatal bagi masa depan anak. Semua aspek kehidupan anak itu penting, namun yang penting adalah menanamkan iman dan ajaran agama, sehingga anak bisa kuat fundasinyanya dan berkarakter.

    Strategi yang terbaik untuk mendidik anak adalah memberikan Pengasuhan dan Pendidikan yang sesuai dengan tugas perkembangan. Untuk itu setiap orangtua seyogyanya memiliki pengetahuan minimal tentang tugas perkembangan anak (fisik, bahasa, kognitif, dan moral). Dengan mengetahui tugas perkembangan anak, orangtua bisa melakukan scaffolding untuk bisa kawal anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Jika kita bisa wujudkan tindakan ini, maka kita bisa buktikan telah mampu memberikan pendidikan sehat (healthy and proper education).

    Anak adalah suatu amanah yang besar dan berat. Harus dipertanggungjawabkan kepada Allah swt. Untuk mewujudkan amanah itu, tidak ada pilihan yang lebih baik bagi orangtua, kecuali mendidik anak dengan baik dan benar, sehingga terhindar dari misedukasi. Orangtua perlu banyak membaca dan berinteraksi dengan orang lain, terutama ahli terkait bidang pendidikan dan psikologi, termasuk tokoh agama yang disegani.  Jika dimungkinkan sekali, perlu membangun sistem pengasuhan dan pendidikan yang benar dan sesuai (Developmentally Apropriate Parenting or Education). Memang tidak mudah untuk wujudkan pendidikan baik dan sesuai bagi anak-anak kita, yang penting kita terus berikhtiar menuju yang terbaik.


    Yogyakarta, 04/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    FPPD NTB Laporkan Panitia Ajudikasi Pengerjaan PTSL di Kejari Raba Bima

    Suasana saat FPPD NTB Laporkan Panitia Ajudikasi Pengerjaan PTSL di Kejari Raba Bima, 8/4/2019.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Selasa, 8 April 2019 Forum Pemuda Pemerhati Desa (FPPD) Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan panitia Ajudikasi pada Pengerjaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Desa Ngali, Desa Lido, Desa Soki, Desa Ncera dan Desa Diha yang diduga telah melakukan pemungutan liar sebesar Rp350.000 kepada Masyarakat pada PTSL melalui Program Prona tahun 2019.

    Berkas laporan Pengaduan Pungli tersebut diantar oleh Anwar Sadat, Muslim Akbar dan Nahrudin perwakilan dari FPPD NTB dan diterima oleh Nurhayati bagian Tata Usaha Kejaksaan Negeri Raba Bima.

    FPPD NTB menilai perbuatan itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Permen Agraria dan Tata Ruang Nomor 1 tahun 2017, Nomor 12 tahun 2017 dan Nomor 6 tahun 2018 tentang PTSL.

    Seluruh aturan tersebut menegaskan bahwa kegiatan Pendaftaran Tanah khususnya PTSL pembiayaannya sudah dibebankan di ABPN, APBD dan/atau DIPA.

    Artinya PTSL yang dilaksanakan tahun 2019 pada 5 (lima) Desa di atas sudah memiliki alokasi dana khusus dari Pemerintah.

    Laporan ini berawal dari hipotesis yang cukup meresahkan masyarakat karena tarif yang dilakukan oleh Panitia Ajudikasi PTSL dari masing-masing Desa tersebut berbeda-beda. Ada yang Rp150.000, ada juga Rp200.000 dan bahkan ada yang Rp350.000.

    Hal ini yang membuat kami selaku Pengurus FPPD NTB Merespon dan mempelajari, Melaporkan ke pihak yang terkait kebijakan tersebut dan kami menemukan banyak kejanggalan.

    Kesalahan yang cukup fatal bagi kami bahwa Panitia Ajudikasi PTSL menjadikan SKB 3 Menteri sebagai dasar acuan untuk memungut biaya Rp350.000 tersebut yang pada substansinya SKB 3 Menteri tersebut tidak ada kaitannya PTSL melalui program Nasional Agraria (PRONA) karena dalam UU No. 6 tahun 2018 cukup detail menjelaskan perbedaan PRONA/PRODA dan SMS yang semua itu memiliki acuan pembiayaan. 

    Acuan SKB 3 Menteri yang dijadikan landasan Panitia Ajudikasi PTSL tersebut bukan acuan untuk Program Nasional Agraria (PRONA) tetapi acuan itu sesungguhnya hanya mengatur Sertifikat Massal Swadaya (SMS) atau besaran biaya yang dibebankan kepada Pemerintah Daerah bukan kepada Masyarakat. Jadi Panitia Ajudikasi PTSL cukup keliru dalam memahami dan menerapkan SKB 3 Menteri tersebut dan dinilai sangat merugikan masyarakat dengan taksiran Rp 1.890.000.000.00 (satu miliar delapan ratus Sembilan puluh ribu). (Akhir)

    Messenger of Peace (Dalam Dua Pandangan Budaya)

    Nursuciyati.
    PEWARTAnews.com -- Kedamaian adalah tujuan hidup semua orang pada umumnya.

    Kedamaian dilihat dari kultur masyarakat jawa, mereka sangat peduli akan kedamaian tentu mereka selalu tau cara berdamai yang asyik dari suatu hal sekecil apapun. Sekarang, sangat berbanding terbalik dengan kultur masyarakat di kampung halamanku (Kecamatan Belo) mereka selalu menyuarakan tentang perdamaian tapi mereka selalu lupa cara berdamai sesungguhnya seperti apa keadaannya.

    Mereka berteman tapi sering lupa caranya untuk berteman
    Mereka berkeluarga tapi melihat satu sama lain seperti orang asing
    Pun, mereka hidup bersosial katanya. Yah mereka memang hidup bersosial tapi mereka lupa hakekat bersosial itu bagaimana keadaannya, dan seperti apa seharusnya.

    Beberapa tahun terakhir saya hidup di Jawa, saya selalu menemukan cara hidup yang benar-benar harus sesuai aturan, saya orang Bima dan saya tinggal di sini (Yogyakarta)  mau tidak mau saya harus bisa menjadi orang Jawa dihadapan mereka (orang Jawa) tetapi tanpa menghilangkan hakikat saya sebagai orang Bima. Itu artinya mereka selalu bisa menerima keadaan seseorang tetapi harus bisa mentaati keadaan dan aturan setempat yang otomatis sekaligus menyadarkan kita bahwa menghargai dan bermasyarakat dalam hal seperti ini sangat bisa dijadikan patokan dalam perdamaian itu artinya mereka selalu disiplin dalam hal aturan, apalagi dalam aturan kedamaian dan kenyamanan itu selalu menjadi yang utama.

    Sebenarnya orang Bima sangat bisa seperti ini, karena pada dasarnya sifat asli orang Bima adalah mau berbagi, mau menerima semua orang siapapun itu tanpa harus berpura-pura,  tanpa harus menjadi orang lain karena menjadi diri sendiri itu perlu katanya.

    Mungkin sifat dan suasana seperti ini masih ada tapi sudah mengikis oleh dinamika jaman karena kalau dilihat-lihat orang di kecamatan Belo khususnya sangat mudah terprofokasi oleh keadaan dan empati terhadap keadaan yang masuk.

    Oleh karenanya, Mari!! Bahu membahu kita budayakan budaya dasar orang Bima (Kambali Mbojo Mantoi), jadilah pelaku dalam sejarah kebaikan dan perdamaian untuk tanah leluhur kita.


    Penulis: Nursuciyati, SKM.
    Alumni Universitas Ahmad Yogyakarta / Eks Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Manajemen Stres

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar ekspresi stress pada seseorang. Umumnya stress itu dipahami sebagai sesuatu yang negatif, sehingga harus dihindari. Padahal secara konseptual atau empirikal stress kadang bersifat positif, karena sangat diperlukan. Karena itulah tulisan ini dirasakan lebih kena menggunakan manajemen stress daripada menangani stress. Bagaimana kita bisa menghadapi stress apapun jenisnya bisa bermanfaat dan berdampak baik untuk kita. Jangan sampai terjadi, stress negatif berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, apalagi stress positif.

    Lazarus (1984) mengatakan bahwa “Stress is simply the body's response to changes that create taxing demands”. Pengertian ini memberikan indikasi bahwa stress itu sebagai kekuatan yang bisa menciptakan tuntutan yang membebani, baik yang bersifat negatif maupun positif. Stress negatif yang sering kita ingin hindari disebut distress dan stress positif yang sering kita kehendaki disebut eustress.

    Untuk memahami stress lebih detil, mari kita cermati karakteristik stress negatif dan stress positif.  Karakateristik stress negatif (distress) , diantaranya: (1) menyebabkan kecemasan, (2) bersifat  jangka pendek atau panjang, (3) dirasakan sebagai kemampuan mengatasi dari luar diri, (3) merasa tidak nyaman, (4) menurunkan kinerja, (5) dapat mengarahkan problem  mental dan fisik. Karakteristik stress positif (eustress) di antaranya: (1) memotivasi, (2) bersifat jangka pendek, (3)  dirasakan sebagai kekuatan dari dalam, (4) terasa menyenangkan, dan (5) memperbaiki penampilan.

    Uraian tentang karakteristik kedua jenis stress ini mestinya memberikan kemudahan kita dalam memahami stress. Namun pada kenyataannya, terjadi yang tidak kita kehendaki. Contoh kehadiran Ujian Nasional (UN) yang dirancang untuk memotivasi anak untuk bisa belajar dengan sungguh-sungguh, bergeser menjadi sesuatu yang mencemaskan. Akibatnya sempat muncul kebijakan akan menghilangkan UN. Padahal langkah ini belum tentu tepat. Mengapa, karena Global Competitiveness Indexes (GCI) pada ranking 36 pada 2017 turun menjadi 45 pada 2018. Kini sudah mulai terasa bahwa anak-anak tidak terlalu semangat untuk belajar, karena semangat kompetisi sehat dibangun. Untuk supaya tidak merugikan, maka eustress ini perlu dimanaj dengan baik.

    Contoh stress negatif yang harus dimanaj dengan baik, yaitu salah satunya adalah adanya kematian atau kecelakaan salah satu anggota keluarga yang sangat dicintai. Stress negatif ini wajar sekali berdampak negatif terhadap diri kita. Namun stress negatif ini bisa kita hadapi dengan memanfaatkan iman dan penguasaan agama kita sehingga bisa berdampak positi. Allah swt berfirman, bahwa setiap yang bernafas akan mati. Bahwa di antara akan diuji dengan rasa takut, lapar, hilangnya harta benda dan hilangnya nyawa, maka bersabarlah. Stress negatif ini tidak lagi menjadikan kita bersedih selama dalam waktu yang lama, melainkan dapat dihadapi dengan sabar dan cepat atas kesadaran beragama kita.

    Amy Moryn (2015) menawarkan sejumlah cara orang-orang untuk dapat menangani stress, di antaranya sbb:
    (1) They accept that stress is part of life.
    (2) They keep problems in proper perspective.
    (3) They take care of their physical health.
    (4) They choose healthy coping skills.
    (5) They balance social activity with solitude.
    (6) They acknowledge their choices.
    (7) They look for the silver lining.
    Berdasarkan cara-cara ini, semakin jelas dalam menghadapi stress, sangat bertumpu pada subjeknya.

    Ketepatan kita memanaj stress dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan mental kita. Namun sebaliknya, jika kita mismanajemen terhap stress, dapat berdampak negatif terhadap kondisi psikis atau mental kita. Yang sering muncul adalah psikosomatis. Yaitu gangguan psikis  yang bisa berakibat terhadap kesehatan fisik. Akibat psikis terganggu, tidak bisa tidur dan makan dengan baik dan teratur. Lama-lama metabolisme tubuhnya terganggu. Akibatnya menderita sakit. Hal ini tidak bisa dibiarkan, karena akan berdampak panjang.

    Akhirnya kita sadari bahwa hidup kita ini penuh dinamika. Antara tuntutan dan kebutuhan hidup tidak bisa kita hindari menimbulkan stress. Jika kita bisa atasi stress secara tepat, maka kita akan selamat. Yang tidak hanya di dunia, melainkan juga sampai di akhirat. Perlu diyakini bahwa orang yang berhasil menghadapi stress dengan sabar, bersyukur, ikhlas, niat suci, do’a dan tawakkal, insya Allah hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika kita gagal memanaj stress dengan baik bisa jadi kita  berbuat nekat, jahat, dan maksiat, sehingga hidupnya bisa sangsara baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah swt selalu membimbing hati dan melindungi hidup kita.


    Yogyakarta, 03/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    Jangan Jadikan Agama sebagai Lacur Kepentingan Politik

    Fen Yasin Arfan.
    PEWARTAnews.com -- Kondisi dalam hidup bermasyarakat, jangan sampai terjadi transaksi jual beli agama demi kepentingan politik praktis, dan juga jangan sampai jadikan agama sebagai lacur kepentingan politik.

    Dalam Pandangan penulis selama ini masih ada oknum-oknum menjual agama demi uang dan kuasa politik, memang begitu tidak bisa dinafikkan yang seperti itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi, banyak juga oknum mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, nah itu perlu diprotes sebenarnya, namun para oknum tersebut sepakat dengan adanya hal-hal itu.
     
    Dalam Pandangan penulis ada tuduhan kejam berbagai pihak kepada para politisi muslim sebagai penjual agama amatlah janggal dan lucu. Seorang muslim yang berpolitik dengan menggunakan agamanya tidak serta merta menjual agamanya. Sebagaimana seorang komunis yang berpolitik dengan ideologinya tidak serta merta dapat dituduh sebagai menjual kekomunisannya dengan harga murah.

    Menurut penulis bahwa sesuatu yang wajar jika seseorang berpolitik dengan cara pandang Islam, sebab Islam memang memiliki cara pandang terhadap kehidupan, termasuk politik.

    Penulis, mengajak orang sepikiran sepemahaman untuk berpolitik bukan hal yang aneh. Justru itulah tujuan berpolitik. Seorang Muslim, berpolitik, mengajak muslim lain untuk menyampaikan aspirasi politik Islam melalui partai Islam, ya itu sesuatu yang sangat wajar. Kondisi yang tak wajar itu, seorang komunis mengajak para santri menegakkan syariat Islam dengan jalan memilih PKI. Itu tidak wajar karena dua hal. Pertama, PKI tidak memiliki program menerapkan syariat Islam. Kedua, PKI sudah bubar dan bangkrut, tak relevan lagi untuk diharapkan atau dilawan. Atau non-muslim yang kampanye di pesantren, penulis memandang itu suatu keanehan. Inilah yang menjadi harapan penulis agar umat Islam sadar dengan kezholiman yang terjadi di Indonesia.

    Menurut pantauan penulis selama ini, aspirasi politik Islam wajar disalurkan melalui partai Islam. Seseorang yang meminta dipilih dalam Pemilu oleh para santri dan muslim lainnya dengan alasan membawa aspirasi Islam, ketika di hadang badai maka pikiran selalu berubah untuk melakukan korupsi.

    Politik memang begitu dan diselenggarakan untuk itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi. Kalau seseorang mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, itu perlu di protes, dibubarkan saja, sebab merusak moral umat Islam dan Muslim Indonesia.

    Dalam pandangan penulis selama ini ada beberapa hal yang paling penting di lawan dengan kekuatan yang moral akan tetapi, hal inilah yang membuat kita menjadi rusak akibat ada orang yang membawa-bawa Islam tetapi setelah berkuasa justru jauh dari aspirasi Islam. Setelah berkua mangkir melakukan korupsi dan kawin lagi. Tidak amanah dan bahkan menjadi akrobat kekuasaan dan Bandit bandit korupsi maupun Menjadi penipu bagi Rakyat Indonesia.

    Banyak oknum ulama, oknum Kiyai, oknum ustad dan oknum politikus Islam mengkhianati umat demi kepentingan pribadi dan kelompok yang terorganisir. Inilah yang menjadi persoalan bagi penulis selama ini memantau persoalan politik umat muslim di Indonesia.

    Menurut penulis mereka bajingan yang memang pada dasarnya menjual ayat-ayat suci Al-Qur'an demi tahta dan gila terhadap kekuasaan maupun lacur kepentingan politik. Namun demikian, adanya politisi muslim yang brengsek tidak serta merta menjadikan semua politisi Muslim sebagai bedebah.

    Dalam Pandangan penulis bahwa tujuan politik Islam bukanlah kawin lagi dan korupsi. Korupsi dan kawin lagi bukan asas-asas maupun cabang politik Islam. Kalau ada politisi Islam yang begitu, ya itu cuma kelakuan oknum saja, namanya juga manusia. Mereka juga bukan sedang menjual agama mereka sebab agama bukan barang dagangan dan mereka bukan pedagang. Agama tidak ada harganya (bukan tidak berharga) dan tidak bisa ditakar dengan rumus-rumus ekonomi. Agama tidak di jual di pasar swalayan.

    Penulis harapkan untuk para politisi Islam agar mampu menerapkan sistem Politik Islam yang sesungguhnya bukan menerapkan sistem politik praktis dan politik kapitalisme dan neolib.

    Waktu tahun 2014 oknum ulama, oknum kyai dan oknum ustad mengatakan bahwa politik itu haram katanya, ketika di tarik menjadi menteri maupun kedudukan di dalam istana negara maka dia bungkam seperti pasukan Nasi bungkus. Apakah ini menjadi lacur kepentingan dan kebohongan maupun lacur menjual ayat-ayat Allah demi tahta dan kezholiman.

    Penulis sering melihat dan sering dengar ungkapan yang mengatakan “jangan membawa-bawa agama ke dalam politik!”. Dan lalu? Kita harus simpan-simpan agama? Ini juga keliru. Sesuatu yang bisa dibawa dan di simpan tentu saja sesuatu yang bisa terpisah dari kita. Seperti baju yang bisa kita pakai dan kita lepas. Atau batu yang bisa kita bawa atau kita buang. Atau juga istri yang bisa kita ajak atau kita tinggalkan. Tapi agama bukan baju, bukan batu, dan bukan istri.

    Agama tidak serta merta bisa dipakai, dibawa, diajak, dilepas, di simpan, atau ditinggalkan. Istri juga tidak serta merta bisa di simpan, dibawa, dipakai, dan di lepas. Agama, baju, batu, dan isteri merupakan hal-hal yang berbeda dan kita perlu menempatkan hal-hal itu pada kewajarannya. Kita tidak bisa menyimpan istri dan mengangkut agama. Atau mengajarkan batu dan mengajak pakaian.

    Penulis menegaskan kalau ada yang menjual agama, dia salah memahami agama, dan dia tidak memahami apa itu jualan. Sebab yang di jual itu biasanya semacam singkong dan beras. Orang memang bisa meraih keuntungan dengan memanfaatkan agama tapi kalau kita kemudian melihat agama seperti roti atau beras, itu jelas keliru.



    Penulis: Fen Yasin Arfan 
    Aktivis AMM Pemuda Muhammadiyah / Aktifis Anti Korupsi

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website