Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Guru Kreatif

    PEWARTAnews.com --  Guru kreatif saat ini dan mendatang sangat dibutuhkan untuk mendidik dan mengajar generasi emas yang penuh tantantangan. Guru yang diharapkan untuk mendidik, mengajar, membimbing dan melatih, sehingga lahir generasi yang lebih kreatif dan inovatif serta berkarakter. Kini di lapangan, kuantitas dan kualitas guru kreatif sangat terbatas, relatif belum membanggakan. Ke depan diharapkan sekali guru kreatif bisa meningkat secara signifikan.

    Persoalan guru kreatif bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman Rasulullah saw, sudah dianjurkan sekali perlunya guru kreatif, senagaimana sabdanya sebagai berikut, “Sesungguhnya anak-anakmu dijadikan (dididik) untuk jamannya bukan jamanmu, untuk generasinya bukan generasimu”, Ini menekankan betapa guru harus kreatif yang mampu menciptakan proses pembelajaran yang berbeda dari tahun ke tahun sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perubahan atau tantangan jaman. Dalam situasi yang demikian, berpikir divergen dan berpikir lateral sangat diperlukan.

    Guru kreatif adalah guru yang mampu membuat siswa berpikir besar dan melakukan berbagai hal yang inovatif untuk kesejahteraan kehidupan masyarakat. Guru yang selalu berusaha mencari metode-metode baru untuk mendapatkan pengetahuan baru dan mendiseminasikannya seefektif mungkin. Guru yang memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi alternatif terhadap persoalan yang dihadapi setiap hari tiada henti sehingga memberikan inspirasi.

    Paulo Freire, berpendapat, bahwa “Education will not change the world, it will change the people who are going to change the world.”  Sometimes teachers forget how powerful their words and actions can be for students. Ini menjelaskan bahwa guru kreatif  sangat diperlukan untuk bisa mengisi proses pendidikan yang mampu menghasilkan manusia yang bisa merubah dunia.

    Untuk menjadi guru kreatif tidaklah bisa terjadi secara instan, namun bisa diupayakan dengan berbagai cara.  Marisa Constanides (2015) menjelaskan ada delapan langkah untuk menjadi guru kreatif. Pertama, menjadi guru berpengetahuan. Kedua, berhubungan dengan guru-guru lain. Ketiga, menjadi kolektor ide-ide tentang mengajar. Keempat, sharing pembelajaran. Kelima, menghilangkan penghalang untuk berpikir kreatif. Keenam, mempraktekkan kreativitas. Ketujuh, memulai eksperimen dan merefleksikan cara mengajar kreatif. Kedelapan, menjadikan kreativitas sebagai suatu tujuan harian. Di antara langkah-langkah ini dapat diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan,

    Setelah guru kreatif dapat menunjukkan kinerjanya, maka upaya yang dapat dilakukan selanjutnya untuk dapat mengembangkan dan memelihara kreativitas guru sendiri adalah  berikut : (1) Sadari akan miskonsepsi kreativitas yang membatasi diri, (2) Lakukan eksperimen cara-cara mengajar yang baru di kelas, (3) Ambil risiko untuk mengekspresikan sisi kreatifmu(guru),  (4)  Perlakukan rencana pembelajaran sebagai bagian dari latihan kreatif, (5) Kembangkan ritual kreatif yang bersifat personal, (6) Buatlah latihan meditasi yang mendorong berpikir kreatif, (7) Carilah kesunyian, karena dapat memelihara kreativitas, (8) Jalan-jalan untuk cari inspirasi dari karya-karyakreatif, (9) Ganti kegiatan rutin menjadi kegiatan yang merangsang kreativitas, dan (10) Ubahlah lingkunganmu, sehingga mampu mendorong kreativitas.(Laurens Cassani Davis, 2018). Upaya-upaya ini harus dilakukan guru secara konsisten dan berkesinambungan. Guru tidak boleh boleh hanya bergerak panas-panas tahi ayam. Semangat di awal saja, melainkan harus terus menerus kembangkan ide-ide baru untuk pemecahan masalah.

    Untuk menghadapi tantangan RI 4.0, yang orientasinya belajar yang biasanya learning by doing, harus berubah menjadi learning by making. Karena itulah kehadiran guru kreatif merupakan kebutuhan yang mendesak. Semua guru tanpa terkecuali wajib menyesuaikan dengan tuntutan riil di lapangan. Guru tidak bida tinggal diam. Mereka harus mindset-nya, sehingga tidak menjadi beban. Gimana menurut Anda?  (Rochmat Wahab,

    Yogyakarta, 20 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Pengaruh Game Online Terhadap Psikis Anak Muda Milenial

    Beberapa Generasi milenial saat main game online. 
    شبان اليوم رجال الغد                                   
    (Pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan). Apakah istilah ini masih releavan untuk keadaan pemuda saat ini?

    Di Era milenial ini, perkembangan teknologi sudah semakin maju, diantaranya media elektronik, salahsatunya handhpone. Perkembangan teknologi ini bisa membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat khusunya pada pemuda. Dampak positifnya teknologi memudahkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, dampak negatif dari teknologi sendiri seseorang akan bermalas-malasan karena teknologi memudahkan sesseorang dalam melakukan segala hal. Contoh kecilnya adanya aplikasi grab itu memudahkan orang melakukan sesuatu seperti  halnya grab food itu membuat orang malas untuk pergi mencari makan karena hanya mengeklik makanan yang kita inginkan nanti akan diantar. Tidak hanya itu masih banyak aplikasi-aplikasi lainnya seperti shopee, lazada dan lain-lain.

    Di zaman sekarang ini, game online sudah tidak asing lagi di telinga kaum remaja. Beberapa tahun terakhir  ini, banyak kaum remaja gemar bermain game online. Hal ini didukung dengan banyaknya game center dilingkungan sekitar yang menawarkan dengan harga yang terjangkau oleh kaum remaja.

    Game online merupakan bagian dari internet, di mana secara teoritis pengertian dari internet sendiri adalah jaringan komputer yang sangat luas yang menghubungkan banyak koneksi bisnis, institusi dan profesional. Internet membuat jumlah informasi yang begitu berlimpah menjadi semakin mudah untuk diakses lebih banyak orang lebih baik dari sebelumnya.

     Ketika internet menjadi alat yang bagus untuk berkomunikasi, ada beberapa pertanyaan tentang bagaimana cara anak-anak menggunakannya. Sebagian besar internet hanya digunakan oleh para pelajar untuk bermain Game Online daripada mencari sesuatu yang lebih berarti dan berguna bagi masa depannya. Bukannya bermain itu salah, hanya saja jika cara menggunakannya salah, maka itu yang dilarang.

    Game online sendiri tidak lepas dari perkembangan teknologi komputer dan jaringan komputer . Meledaknya game online merupakan cerminan dari pesatnya jaringan komputer yang dahulunya berskala kecil sampai menjadi internet dan terus berkembang sampai sekarang. Oleh sebab itu, banyak remaja yang menyisihkan uang sakunya untuk bermain game online berjam-jam hingga lama-lamaan kecanduan game online. Akibat nya remaja melupakan hal-hal yang penting seperti belajar, beribadah, bahkan kesehatan pun dilupakan.

    Banyak penyebab yang ditimbulkan dari  game online, salah satunya disebabkan karena gamer tidak akan pernah bisa menyelesaikan permainan sampai tuntas. Selain itu, karena sifat dasar manusia yang selalu ingin menjadi pemenang dan bangga semakin mahir akan sesuatu termasuk sebuah permainan.Dalam Game Online apabila point bertambah, maka objek yang akan dimainkan akan semakin hebat, dan kebanyakan orang senang sehingga menjadi pecandu. Penyebab lain yang dapat ditelusuri adalah kurangnya pengawasan dari orang tua, dan pengaruh globalisasi dari teknologi yang memang tidak bisa dihindari.

    Bermain game online memang dapat berdampak positif, tetapi jika dibiarkan berlarut-larut hingga mengarah pada adiksi tentu akan memberikan dampak negative, diantaranya remaja tidak mempunyai skala prioritas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Mendorong remaja untuk bertindak asosial, karena aktivitas bermain game online cukup menyita waktu berkomunikasi, baik berkomunikasi dengan keluarga maupun teman sebaya. Hal itu dapat menimbulkan kemalasan belajar, disebabkan kelelahan yang ditimbulkan setelah bermain game online, sehingga dapat memicu tindakan kekerasan, karena remaja mengimitasi tokoh secara berlebihan, sehingga memicu seluruh perilaku yang ditampilkan tokoh dalam permainan tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut berbahaya atau tidak. Perilaku imitasi yang berlebihan ini dapat pula memicu tindakan kriminal, tanpa sepengetahuan remaja, bahwa menyakiti orang lain secara fisik adalah suatu tindakan kriminal.

    Dampak positif dari game online sendiri adalah dapat mendorong remaja menjadi cerdas, karena pemain game online menuntut daya analisa yang kuat dan perencanaan strategi yang tepat agar bisa menyelesaikan permainan dengan baik. Kelebihan yang bisa diperoleh oleh remaja dalam bermain game online adalah meningkatkan konsentrasi. Game online juga bisa memberi rasa rileks dan juga bisa mengendurkan urat saraf dari berbagai kesibukan setelah bekerja.

    Adapun cara untuk mengatasi dampak negatif dari game online yaitu dengan mengurangi jam bermain game online dan lebih banyak mengisi waktu luang dengan membenahi dan mempersiapkan diri untuk menyambut masa depan yang masih panjang karena terlalu banyak bermain game juga tidak ada gunanya. Sebaiknya bermain game online hanya semata-mata sebagai alat untuk melepas lelah dan penat jangan jadikan game online sebagai kebutuhan pokok yang harus dimainkan setiap saat.

     Perilaku pemuda zaman sekarang tidak mencermikan ungkapan pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan. Hal ini dikarenakan perilaku pemuda zaman sekarang lebih senang main game daripada belajar ilmu pengetahuan. Belajar ilmu pengetahuan sangat penting untuk diri kita maupun untuk negara karena dengan belajar wawasan kita akan luas. Indonesia membutuhkan pemuda-pemuda yang pantang menyerah dalam menggapai cita-citanya maupun cita-cita negara Indonesia.


    Penulis: Muhammad Hanif Mahzumi
    Mahasiswa Sosiologi UIN Walisongo Semarang

    Kekayaan dalam Islam

    PEWARTAnews.com -- Umumnya setiap orang sangat menginginkan dapat meraih kekayaan. Kondisi ini merupakan suatu kewajaran. Sebab, mencari rizki atau meraih kekayaan menjadi kebutuhan bagi orang-orang yang ingin hidupnya lebih baik. Apalagi meraih kekayaan juga disyariatkan oleh Islam, sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al Jumu’ah:10, yaitu,  “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan cari karunia Allah”. Ayat ini memperjelas bahwa untuk mencari kekayaan sangatlah dianjurkan.

    Di ayat lain, juga disebutkan, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”(QS. Al Mulk: 15). Di sini mempertegas bahwa kita diberikan kebebasan di bumi (di daratan, di lautan, atau dan di udara) untuk mencari rizki yang halal dan dengan cara yang halal pula, yang rambu-tambunya telah ditetapkan dalam dalil naqli, baik Al Kitaab (Al Qur-an) maupun As Sunnah (Al Hadits).

    Kekayaan yang difahami secara material tidak sedikit dapat menipu banyak orang, sehingga harus menghalalkan berbagai cara, apakah dengan berbuat curang dalam menimbang, menyuap untuk lamaran kerja atau promisi jabatan, melakukan korupsi, dan sampai main dukun atau pesugihan dan lain-lain. Singkat kata, yang penting kaya, tidak mau tahu cara yang ditempuh. Bahkan kekayaan yang diperoleh menjadikan mereka bermegah-megahan. Sampai-sampai Allah swt mengingatkan “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. kamu masuk dalam kubur.” (QS at-Takatsur:1-2). Betapa ruginya orang yang meraih kekayaan dengan cara yang jauh diridlo Allah, sehingga mereka lupa diri sampai kematian menjemputnya.

    Perlu difahami benar bahwa meraih kekayaan itu juga perlu dan sangat dianjurkan sepanjang kita dapat mengelola dengan baik, membersihkannya dengan membayar zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqah, serta untuk kepentingan sosial. Kekayaan juga bisa bermanfaat untuk tunaikan ibadah Haji dan Umrah, menjadi orangtua asuh untuk siswa dan mahasiswa, membangun tempat ibadah, tempat pendidikan atau pesantren dan sebagainya. Yang jelas kekayaan tidak digunakan untuk berpoya-poya atau maksiyat.

    Selain daripada itu yang sangat penting difahami salah satu hadits Raulullah saw, yaitu “Laisal Ghina an Katsratil Aradli, walakinnal Ghinaa Ghinan Nafsi”, yang artinya  “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa." (HR, Bukhari dan Muslim). Dengan memperhatikan lebih terhadap substansi daripada bentuk, maka yang dipandang Rasulullah tentang kekayaaan adalah kaya jiwa/hati  itu lebih berarti daripada kaya harta.

    Adapun Ghinan Nafsi dapat diartikan sebagai  kaya hati. Inilah kekayaan yang sesungguhnya. Bahwa insan yang telah ridla terhadap pemberian rizqi dari Allah swt, bahkan mampu menunjukkan sifat qanaahnya. Dalam kondisi  yang demikian, insan tidak seharusnya menampakkan sifat tamaknya atau hausnya terhadap harta dan jabatan. Atau sebaliknya tidak terlalu merasa down karena ketiadaan harta, sehingga dengan mudahnya menengadahkan tangan, tidak mau berjuang keras untuk mendapatkan nafkah. Justru merasa sedih dan terhina ketika belum bisa menunjukkan ketaatannya kepada Allah swt, sementata sudah diberi rizeki yang sangat cukup.

    Seyogyanya setiap insan tahu posisinya, ketika menjabat utamakan berbuat adil, ketika kaya membayar zakat, infaq dan shaqahnya melebihi dari nishabnya, ketika miskin tunjukkan kesabaran, ketika berposisi sebagai ustadz/kiai beramar ma’ruf nahi munkar, ketika berilmu mengamalkan ilmunya seprofesional mungkin, dan ketika menjadi pelajar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Semua orang dengan posisinya berbeda dapat beramal sholeh sesuai bidangnya akan membuat kaya hati.

    Khususnya bagi yang dalam kemiskinan, mereka tidak mudah berkeluh kesabaran. Sebab mereka ridlo terhadap apa yang telah diberikan kepadanya, bahkan mereka puas. Rasulullah saw bersabda “Dan puaslah akan bagian yang telah Allah berikan untukmu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya” (Hr.Bukhari). Betapa tingginya nilai orang-orang yang sabar menerima pemberian dari-Nya.

    Agama Islam tidak melarang para pemeluknya untuk meraih kekayaan, namun memberikan pembelajaran bahwa harta bukan segalanya untuk mencapai kemuliaan. Kemuliaan tidak terletak pada orang itu kaya atau bukan. Tapi kemulian ada dalam jiwa-jiwa yang mempunyai  iman dan taqwa kepada Allah swt. Ada suatu mahfudzat, yaitu : “Aadaabul mar-i khairun min dzahabihi”, yang artinya “Adab seseorang itu lebih baik (lebih berharga) daripada emasnya.” Menjadi perhatian kita, memperbaiki akhlaq dapat memperkaya hati dan kaya hati jauh lebih berarti daripada kaya harta. Padahal sebenarnya kaya hati jauh lebih muah diraih daripada kaya harta, walau prakteknya tidak mudah bagi setiap orang, karena membutuhkan kesungguhan. Semoga Allah swt membimbing kita. Aamiin.


    Cengkaren, 14 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Peran Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri Rohmatal Lil Alamin

    Salahsatu Kegiatan Pondok Pesantren.
    PEWARTAnews.com -- Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan ajaran Islam sesuai dengan syari’at Islam. Pondok pesantren berfungsi untuk membentuk karekter seseorang menjadi karakter yang baik. Pondok pesantren mulai berkembang setelah abad ke 16, dimana dalam pondok pesantren tersebut mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fikih, teologi dan tasawuf.

    Pondok pesantren memiliki beberapa unsur yang ada didalamnya, diantaranya: a. kyai; b. santri; c. adanya bangunan; d. masjid; e. adanya kitab. Adapun metode pengajaran dalam pondok pesantren itu ada dua, yakni: a. bandongan; b. sorogan. Bandongan sendiri adalah proses pembelajaran yang dimana sang kyai membacakan atau dalam bahasa jawanya maknani kitab, semantara santrinya mendengarkan sambil mencatat isi dari kitab. Sementara sorogan adalah proses pembelajaran yang dimana santri membaca, sedangkan sang kyai mendengarkan sambil mengoreksi kalau ada salah dalam membaca (Haedari, dkk, 2004).

    Peran pondok pesantren bagi santri sangatlah besar, karena di pondok pesantren mengajarkan santri untuk bisa berkontribusi dalam melakukan berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya itu, pondok pesantren bisa menjadikan santri menjadi seorang santri yang berkarakter yang baik.

    Pengkajian pondok pesantren memiliki hubungan erat dengan pendidikan karakter. Tujuan umum dari pendidikan di pondok pesantren adalah untuk membimbing para santri agar menjadi manusia yang memiliki pribadi yang baik sesuai yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW. Tujuan khususnya adalah untuk mempersiapkan santri menjadi orang alim dan mendalam sisi ilmu agamanya serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, tujuan terpenting pendidikan pesantren adalah membangun moralitas agama santri dengan pengamalannya.

    Menanamkan dan membentuk karakter santri pastilah tidak mudah. Dari berbagai macam karakter yang diterapkan di pondok pesantren salah satunya adalah karakter tanggung jawab. Tanggung jawab bukan hanya milik para santri, namun hal tersebut menjadi milik setiap individu yang ada di dunia ini. Tanggung jawab menjadi sangat penting, agar seseorang tidak lupa akan tugas dan kewajibannya.

    Salah satu nilai yang menonjol di pesantren adalah karakter tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri, lingkungan, orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Para kyai dan ustadz bertanggung jawab memberikan pendidikan keagamaan kepada para santri, baik melalui kajian kitab maupun teladan nyata. Sementara para santri bertanggung jawab untuk belajar dan mengaji secara sungguh-sungguh serta mengamalkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan karena ilmu tanpa diamalkan itu seperti tanaman yang tidak berbuah. Dan ada ungkapan بلغوا عني ولو اية ( sampaikanlah padaku walau satu ayat atau huruf).

    Dalam pendidikan yang berkenaan dengan perkembangan dan perubahan pada santri dalam pesantren, pendidikan sangat berhubungan erat dengan pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, dan aspek-aspek kelakuan lainnya. Pada hakikatnya sikap manusia bersikap sosial yakni dapat mempelajari interaksi antar sesama manusia lainnya dan hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakam hasil hubungan kita dengan orang lain.

    Ada sebuah syi’ir tentang mencari ilmu, didalam kitab  تعليم المثعلم  di sebutkan :

    الا لا ثنا ل العلم الا بستة # ساءنبيك مجموعها ببيان
    ذكاء وحرص وصطبار وبلغة # وارشاد استاذ وطول زمان
    “Ingatlah, sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan 6 perkara yang aku terangkas secara ringkas, yaitu : 1. Cerdas 2. Rajin 3. sabar 4. Mempunyai bekal 5. Petunjuk guru (rasa takdim kepada kyai) 6. waktu yang panjang(Noor Aufa, hal 21).

    ثم لا بد من الجد والموا ظبة و الملا زمة

    Bagi orang yang mencari ilmu itu ada 3 syarat : a. rajin; b. besungguh-sungguh; c. tetap (istiqomah).



    Penulis: Muhammad Hanif Mahzumi
    Mahasiswa Sosiologi UIN Walisongo Semarang

    Sekolah yang Aman dan Ramah

    PEWARTAnews.com -- Sekolah yang eksis dan fungsional selalu dirindukan oleh semua. Sekolah yang dicari, bukan sekolah yang dihindari. Sekolah yang memberikan kepuasan, bukan sekolah yang mengecewakan. Sekolah yang menyenangkan, bukan sekolah yang menakutkan. Yang demikian itu disebut sekolah yang aman dan ramah, bukan sekolah yang mengkhawatirkan dan tidak ramah.

    Kita bisa menyaksikan bahwa belakangan ini masih dijumpai cukup banyak sekolah yang belum memberikan jaminan aman dan ramah bagi semua anak, terutama anak berkebutuhan khusus, tak beruntung secara ekonomis, tak beruntung secara sosio kultural, tak beruntung secara geografis dan sebagainya. Kondisi inilah yang membuat sekolah belum bisa menjadi suatu lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, personal, intelektual, dan sosial anak.

    Untuk menciptakan sekolah yang aman dan ramah, guru merupakan salah satu faktor penting. Karena gurulah yang sangat menentukan model manajemen kelas yang mampu menciptakan lingkungan kondusif, sehingga tercipta kondisi aman dari berbagai kekerasan fisik, psikis, dan verbal. Siswa merasa terjamin aksesibilitasnya, sehingga terbantu untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

    Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan sekolah aman, di antaranya (1) menegakkan kebijakan sekolah yang jelas dan memberikan penguatan pada pencapaian tujuan, (2) menilai sekolah, kelas dan dirimu sendiri, sehingga ada kesesuaian dengan kebutuhan sendiri dan visi sekolah, (3) mengusahakan sekolah aman untuk siapapun yang datang di sekolah, (4) mendorong siapa saja untuk melaporkan apa saja kejadian di sekolah, (5) perlu pendekatan yang lebih kepada anak, sehingga memungkinkan anak lebih terbuka dengan orang dewasa tentang dirinya di sekolah, (6) mengajarkan kepada tentang bias baik lewat isi kurikulum, bahan pembelajaran, maupun lingkungan belajar yang anti bias, (7) melibatkan orangtua, anggota keluarga dan masyarakat dalam mengawal keamanan sekolah, dan (8) memberikan bantuan bagi anak yang menjadi kenakalan. (ADL:2019)

    Selanjutnya dalam rangka mengupayakan sekolah yang ramah, maka sekolah seharusnya dapat mengorientasikan kepada kuantitas (aksesibilitas) dan kualitas (mutu dan rilevando). Terkait dengan kuantitas, sekolah wajib menfasilitasi aksesibilitas fasilitas akademik dan nonakademik. Terkait dengan kualitas, sekolah perlu menjadikan siswa berkualitas (sehat dan siap belajar), isi yang berkualitas (kurikulum dan bahan ajar), proses pembelajaran berkualitas (pendekatan pembelajaran yang tepat), lingkungan belajar berkualitas (fasilitas dan layanan), dan hasil pendidikan berkualitas(pengetahuan, sikap, keterampilan). Selain daripada itu sekolah juga harus ramah dengan bias gender, akses IT, akses ibadah, dan sebagainya.

    Dengan memperhatikan kondisi dewasa ini jumlah sekolah yang kurang aman dan ramah secara hipotetis semakin meningkat. Hal ini disebabkan adanya keterbukaan informasi dan pengaruh budaya bullying yang tidak mudah di-filter. Di samping pengawasan orangtua yang berkurang akibat kesibukan. Juga kurangnya kepedulian masyarakat terhadap penanganan kenakalan anak, karena semakin meningkatnya sikap individualis. Sementara itu anak sendiri memang berpotensi masalah sosial akibat dari posisinya di masa transisi. Kita tidak bisa biarkan kondisi yang demikian, karena kita harus lindungan dan selamatkan generasi emas.

    Kendatipun kondisi semua sekolah belum mampu tunjukkan dirinya sebagai tempat yang aman dan ramah untuk belajar, ke depan semua sekolah diharapkan mampu ciptakan sebagai tempat yang aman dan ramah, bahkan menyenangkan untuk bejar. Tempat yang sangat kondusif untuk tumbuh dan kembang anak. Untuk itu upaya melengkapi semua fasilitas akademik dan penunjang harus menjadi concern. Tidak ada keraguan sedikitpun bagi orangtua terhadap sekolah tertentu tempat anaknya belajar. Semoga.


    Yogyakarta, 19 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Menulis Merupakan Kerja Keabadian

    PEWARTAnews.com -- Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama’ besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)

    Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Jika hal itu diselami lebih dalam, tentu tak hanya sekedar kata-kata biasa akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, yakni “menulis”).

    Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Karena menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi,  ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai luapan emosinya.

    Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Demikian halnya, tulisan dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Penulis seperti Fahd Pahdepie, Ahmad Fuadi, Tere liye, Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Fazlur Rachman, Prof. Komarudin Hidayat, Dr. Ahmad Gaus, Dr. Zainal Arifin, dengan  melalui karya-karya nya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal tersebut akan menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

    Oleh karena itu, seorang penulis disadari ataupun tidak ia telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya (Mukaromah, 2018). Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga boleh tiada, namun kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno dll yang mana pemikiran (karya) mereka “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi.

    Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman Nya yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama kali diturunkan, melalui spirit Membaca. Spirit itulah yang kemudian menjadi pijakan untuk melanggengkan karya, yakni menjadi nafas dan inspirasi untuk melahirkan tulisan. Sehingga, antara membaca dan menulis erat kaitannya. Tulisan akan lebih berkualitas, berbobot dan bernas manakala ditopang oleh wacana yang luas. Hal demikian, menunjukkan bahwa hidup tidak hanya sekedar hidup, namun juga mengoptimalkan segala potensi yang telah Allah anugerahkan untuk terus belajar dan haus akan ilmu pengetahuan.

    Sebagaimana Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sederet sahabat-sahabat Nabi merupakan contoh orang-orang muslim yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan Islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih berada dalam tingkat literasi yang rendah. Data UNESCO dan IPM mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak persoalan yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi menulis di semua kalangan

    Akhirnya, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan membangun peradaban yang lebih baik dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis Untuk Keabadian ! “Jika kau Bukan Anak Raja pun juga bukan anak Ulama’ terkenal, maka menulislah (Imam Ghazali).


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menghadapi Kecemasan

    PEWARTAnews.com -- Hari-hari belakangan ini kecemasan membayangi kehidupan rakyat Indonesia, terlebih-lebih menghadapi 22 Mei, saat KPU RI menetapkan hasil Pilpres 2019. Fenomena yang muncul, ada yang saling mengklaim kemenangan, isu kecurangan, dan people power (menuntut kedaulatan rakyat). Kondisi ini membuat sikap masyarakat beragam, ada yang yakin tidak masalah, aman-aman saja, ada yang acuh dan tidak mau peduli, dan yang merasa cemas sekali terjadi chaos.

    Kita semua berharap bahwa KPU RI bisa bekerja profesional dan konstitusional, sehingga cenderung bisa memuaskan banyak pihak, walau diakui bahwa masih saja ada yang tidak merasa puas. Sebaliknya jika KPU tidak bekerja secara tepat, bisa jadi menimbulkan chaos. Karena hingga kini masih fivety-fivety, maka tidak bisa dihindari adanya kecemasan di antara kita. Tentang proporsi yang mengalami kecemasan itu relatif, tergantung kondisi masing-masing individu.

    Kecemasan tidak bisa dibiarkan, betapapun tingkat beban psikologisnya. Karena itu perlu ditangani sedini mungkin, sehingga tidak semakin berat. Apapun untuk mengatasi kecemasan, dapat dilakukan dengan cara (1) Ambil waktu istirahat, (2) Bikin hidup rileks (dengar musik, lihat TV, baca koran, dan), (3) Menghindar dari persoalan yang bikin stress, (4) Makan dengan gizi yang seimbang, (5) Jaga kesehatan dengan  ajeg, (6) Hilangkan dan batasi minim yang mengandung alkohol dan kopi, (7) Usahakan tidur cukup, (8) Upayakan latihan olahraga hingga merasa baik dan sehat, (9) Latihan pernapasan secara  rutin, (10) Usahakan selalu bekerja yang terbaik, tidak harus sempurna, (11) Jagalah sikap positif kepada siapapun, terutama yang menyebabkan stress, (12) Jika mungkin pelajari apa yang menyebabkan stress, terus berusaha memahaminya, dan (13) Usahakan berbicara dengan orang lain (terapis, konselor, psicologi klinis, psikiatris) yang dapat dipercaya untuk membantu mengatasi stress. (ADAA, 2010-2018).

    Upaya penanganan kecemasan yang masih ringan bisa dilakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Yang penting ada ikhtiar yang sungguh-sungguh. Ikhtiar lahiriah memang penting tetapi lebih efektif jika dibarengi dengan ikhtiar batiniah. Dengan banyak membaca kalimat thoyyibah, atau banyak dzikir. Ingat dengan banyak dzikir akan bisa tenangkan hati. Sebagaimana Firman Allah swt, yang berbunyi, “Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub”, (Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram (QS. Ar Ra’du : 28). Jika tenang hati, insya Allah akan terjadi proses recovery kecemasan secara berangsur-angsur.

    Sekompleks apapun yang membuat kita menjadi cemas, namun kondisi psikologis kita terbangun dengan baik, insya Allah kita bisa terhindar dari terjadinya stress. Jika kita sudah terrena stress, dengan membangun kekuatan iman dan integritàs pribadi solid, insya Allah secara perlahan-lahan stress akan berkurang hingga mendekati titik 0.


    Yogyakarta, 18 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Pengaruh Modernisasi Terhadap Perubahan Gaya Berpakaian Mahasiswa

    PEWARTAnews.com -- Perubahan sosial merupakan gejala umum yang terjadi di setiap masyarakat di manapun juga. Perubahan sosial juga merupakan gejala sosial yang terjadi sepanjang masa, tidak ada masyarakat di dunia ini yang tidak mengalami perubahan. Perubahan terjadi sesuai hakikat dan sifat dasar manusia itu sendiri. Karena sifat manusia yang selalu aktif, kreatif, inovatif, agresif, selalu berkembang dan responsive terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sosial.

    Perubahan sosial yang kini dialami manusia sering disebut dengan era modernisasi. Secara umum modernisasi adalah proses menjadi masyarakat modern, perubahan dari tradisional menjadi masyarakat modern. Di era modernisasi tidak bisa lepas dari adanya westernisasi, di mana segala bentuk gaya hidup mengikuti atau meniru bangsa Barat. Mulai dari gaya hidup, gaya berpakaian, konsumerisme dan glamorisme, dan lain-lain. (Suharni, 2015).

    Perubahan gaya berpakaian mahasiswa misalnya nilai-nilai atau cara berpakaian yang lama tidak sesuai dengan zaman, hilang dan diganti dengan nilai-nilai atau cara berpakaian baru. Nilai tradisional diganti dengan modern, salah satunya contohnya adalah batik. Sekarang ini batik mulai tergeser posisinya akibat adanya kebudayaan luar yang lebih menarik. Bahkan batik dianggap sebagai sesuatu hal yang kuno, norak, bahkan ketinggalan zaman dan tidak layak untuk diikuti lagi.

    Sebagian besar mahasiswa sekarang ini berubah gaya berpakaiannya mengikuti era modernisasi di mana pada era ini gaya berpakaian cenderung mengikuti orang Barat. Mulai dari cara berpakaian mahasiswi yang bermewah-mewahan, memakai make-up kebarat-baratan seperti soflents, blush on, eye liner, mascara, dan lain-lain. Selain mahasiswi juga terjadi pada mahasiswa, sepeti style rambut kepirang-pirangan, celana sobek-sobek, dan lain-lain. Hal itu termasuk gaya hidup orang Barat yang ditiru oleh sebagian besar mahasiswa sekarang ini.

    Perubahan gaya berpakaian mahasiswa biasanya terlihat ketika masih menjadi mahasiswa baru, awalnya pakaian cenderung sederhana, tetapi setelah waktu perkuliahan berjalan satu semester banyak terjadi perubahan pada mahasiswa secara drastis. Perubahan yang terjadi pada mahasiswa tersebut berdasarkan pada modernisasi saat ini (Inkeles dalam Weiner, 1976).

    Modernisasi dan perubahan sosial merupakan dua hal yang saling berkaitan. Modernisasi pada hakikatnya mencakup bidang-bidang di mana yang akan diutamakan oleh masyarakat tergantung dari kebijakan pengasa yang memimpin masyarakat tersebut. Di mana teori modernisasi muncul pada pasca perang dunia kedua. Asumsi dasar teori modernisasi mencakup:
    (1) Bertolak dari dua kutub dikotomis yaitu antara masyarakat modern dan masyarakat tradisional; (2) Peranan Negara-negara maju sangat dominan dan dianggap positif, yaitu dengan menularkan nilai-nilai modern di samping memberikan bantuan modal dan teknologi (Budiman dalam Frank, 1984).

    Teori modernisasi yang merupakan sumbangan dari Daniel Lerner (1958), Neil Smelser (1959), Everett Hagen (1962), Parsons (1966), Marion Levy (1966), David Apter (1968), dan Eisenstadt (1973). Teori ini berasumsi:
    Pertama, Perubahan adalah unilier. Karena itu masyarakat yang kurang maju harus mengikuti jalan yang sudah ditempuh oleh masyarakat yang lebih maju, mengikuti langkah yang sama, atau berdiri lebih rendah di eskalator yang sama.

    Kedua, Proses perubahan melalui tahapan-tahapan berurutan dan tak satu tahap pun dapat dilompati, misalnya: tradisional-tradisional-modern; tradisional-mencapai syarat tinggal landas-tinggal landas untuk tumbuh terus-dewas-mencapai tingkat konsumsi massa.

    Ketiga, Mengajarkan progresivisme, keyakinan bahwa proses modernisasi menciptakan perbaikan kehidupan sosial universal, dan meningkatkan taraf hidup (Sztompka, 2004).

    Teori modernisasi ini berupa kemampuan yang semakin besar untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, berkembangnya kemajuan, bebas dari kekuasaan tradisional, terbuka dengan hal-hal baru, dan beraspirasi tinggi. Baik dalam hal sosial, budaya dan pengetahuan. Oleh karena itu, dengan adanya pengaruh modernisasi terhadap cara berpakaian mahasiswa yang sudah sebagian besar mahasiswi saat ini mengalaminya. Perlunya diri masing-masing untuk bisa terus menyaring segala bentuk perkembangan dan perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita, setidaknya kita terutama mahasiswa tentunya pemuda harus tetap membudayakan kebudayaan tradisional misalnya batik. Karena corak batik sekarang ini tidak juga ketinggalan zaman dengan adanya motif batik modern yang sangat menarik jika dipakai oleh berbagai kalangan dari orangtua bahkan anak muda di zaman modern saat ini.


    Penulis: Sonia Okta Alfira
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website