Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Menyapa Sangiang Wera Bima dari Sisi Kearifan Lokal Masyarakatnya

    PEWARTAnews.com -- Di bawah sinar matahari menjelang senja, penulis menyaksikan betapa indahnya karya cipta Tuhan yang maha seni. Panorama alam sore ditepi laut gunung Sangiang Wera membuatku semakin terkagum akan tanah kelahiran istriku. Sinar matahari begitu malu-malu dan manja dibalik gunung Sangiang. Seakan-akan berbicara kepadaku bahwa ia ingin bersantai karena lelah melihat para nelayan yang bergelut dengan ombak keseharian dalam kehidupan mereka. Matahari keluar dari peraduannya, menyingkap selimut awannya, menebarkan senyum manisnya kepada semua makhluk dan benda sekitarnya. Seakan gunung Sangiang dan desiran ombak laut Sangiang ingin sekedar menyapaku dengan secangkir kopi manis ditepi laut. Dari ujung pinggiran laut, aku melihat para nelayan berjalan ke arah perahunya untuk kembali mengais rezeki di tengah laut. Berharap ada ikan-ikan segar untuk dijual pada para penikmat ikan segar. Inilah saat-saat yang paling indah dalam mengisi liburanku di rumah mertuaku di ujung timur Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Dibalik kemegahan gunung Sangiang ada sebuah misteri yang belum terungkap, ada sejuta cerita turun temurun yang diwariskan oleh para leluhur di kaki gunung Sangiang. Cerita tersebut sampai generasi-ke generasi masih dapat dinikmati dari tutur bahasa.

    Konon ada sebuah cerita tentang Ompu Sinta dan Wai Sinta, mereka melahirkan anak perempuan yang bernama La Sinta. La Sinta adalah gadis yang seperti bidadari yang turun dari kayangan. Karena kecantikannya La Sinta di sukai oleh makhluk-makhluk gaib sebangsa jin dan pada akhirnya konon La Sinta menghilang tampa jejak, ada yang mengatakan bahwa La Sinta di bawa menikah sebangsa jin. Oleh masyarakat Sangiang mempercayai bahwa Ompu Sinta dan Wai Sinta adalah penjaga kampungnya mereka. Menurut cerita masyarakat konon di gunung Sangiang hanya bisa ditanami gandum, wijen dan jewawo 'witir'. Dilarang menanam padi, beternak sapi dan kerbau. Namun seiring dengan waktu masyarakat Sangiang tidak berpatok pada cerita tersebut. Bahkan saat ini kerbau dan sapi terbanyak untuk beternak ada pada gunung Sangiang.

    Pada masyarakat Sangiang dalam kesehariannya memiliki kebiasaan "Mama Nahi" memakan daun sirih yang dicampur dengan buah pinang "U'a" dan tembakau. Kebiasaan memakan daun sirih ini mempunyai sejarah sendiri pada masa penjajahan belanda. Konon pada masa penjajahan belanda, para penjajah ini kapal-kapalnya sering mampir atau bertandang di pulau Sangiang. Oleh karena itu untuk melindungi kehormatan bagi para wanita Sangiang, mereka memakan sirih dengan alasan apabila gigi mereka merah dan bercampur dengan tembakau para penjajah belanda tersebut tidak akan mendekati para wanita Sangiang tersebut. Karena nampak tidak bersih dan bau sehingga belanda-belanda tidak berani mengganggu. Wanita Sangiang pada saat itu mampu menjaga kehormatan dirinya dari tangan penjajah. Kebiasaan memakan sirih sampai hari ini kita temukan di masyarakat Sangiang.

    Para wanita Sangiang wajib memakai sarung nggoli "Senggentu Tembe" sebagai wujud kepatuhan mereka pada tradisi dan perintah agama Islam. Pada saat itu setiap wanita Sangiang harus bisa menenun, sehingga disetiap rumah memiliki banyak sarung nggoli sebagai prasyarat antar mahar. Sarung nggoli dibagi menjadi beberapa macam. Pertama sarung nggoli untuk dipakai keseharian. Kedua sarung glendo yang dimana benang tenunannya agak kasar, ini disajikan pada saat antar mahar dan acara-acara budaya. Ketiga sarung hitam Sangiang "Tembe mee Sangiang" sarung ini dipakai pada acara-acara kesultanan oleh para penari menyambut kedatangan raja/sultan dan dipakai oleh para penari pada saat acara pernikahan. Keempat sarung Weri "Tembe Weri" untuk mengafani jenazah jenis sarungnya benang yang berwarna putih. Kelima sarung gelia "Tembe glendo dan galia" jenis benangnya kasar diperuntukkan untuk acara lamaran.

    Pada prosesi meminang wanita yang dijadikan istri melewati banyak proses tidak semudah pernikahan didaerah lain. Kearifan lokal ini masih tumbuh dan berkembang di masyarakat Sangiang Wera. Pertama proses "Sodi Ntaru" artinya gadis ini belum ada yang memiliki oleh orang lain, pihak dari laki-laki mengirim utusan untuk menanyakan kepada pihak keluarga perempuan untuk memastikan wanita tersebut belum ada yang memiliki. Setelah mendapat jawaban dari pihak laki-laki baru masuk pada tahap kedua yaitu "Mai Kai" mendatangi pihak keluarga perempuan dimana tujuannya untuk siap untuk dilamar. Ketiga "Pita Nggahi" memastikan untuk bertunangan apa yang telah disepakati dan dibicarakan. Keempat "Sodi Angi" bertunangan pra lamaran. Kelima "Ka'deni Ma'doo" istilahnya mendekatkan yang jauh untuk persiapan pernikahan. Keenam "Nuntu Coi" kesepakatan mahar ini dibicarakan oleh utusan kedua keluarga. Ketujuh "Pamaco" menentukan agenda pernikahan dan membentuk panitia.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia Kabupaten Bima

    Menjadi Mahasiswa yang Produktif

    Ilustrasi mahasiswa menulis. Foto: okezone.com.
    PEWARTAnews.com -- Menjadi seorang mahasiswa itu bukanlah sesuatu yang mudah. Di pundaknya terdapat setumpuk beban. Sebagai agen perubahan, juga sebagai generasi penerus masa depan suatu bangsa, adalah amanat yang begitu besar. Tak begitu mudah mengemban itu.

    Barangkali, sebagian besar di antara kita sudah barang tentu tahu bahwa mahasiswa juga amat lekat dengan yang namanya dunia organisasi. Kata guru saya dulu, mahasiswa tanpa berorganisasi itu hampa terasa. Idealnya, bahwa mahasiswa itu harus mau berorganisasi, demi mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

    Tak bisa dielak juga, bahwa mahasiswa erat hubungannya dengan persoalan unjuk rasa (demonstrasi). Persoalan yang satu ini, hampir kita cium aromanya tiap hari di kampus, khususnya di bumi Indonesia ini. Di berita-berita lokal (baik yang ditampilkan di media elektronik, cetak maupun online), hampir tiap hari, kita disuguhkan dengan unjuk rasa mahasiswa. Menuntut ini dan itu. Tentu, sebagai penyambung lidah rakyat dan aspirasi masyarakat, ini harus kita hargai dan acungi jempol. Asalkan, hal demikian dilakukan dengan cara yang baik dan memberi dampak positif.

    Namun, kesemua hal yang saya sebutkan di atas, merupakan hal yang biasa saja. Saya katakan “biasa” karena memang seperti itulah yang terjadi di dunia mahasiwa kita, yaitu “berorganisasi” dan “berunjuk rasa.” Kedua hal tersebut, rasanya agak susah dipisahkan dari pribadi yang bernama mahasiswa. Saya sendiri pun merasakan hal yang demikian.

    Di era milenial dan teknologi canggih kini, ada satu hal yang barangkali dilupakan oleh sebagian besar kalangan mahasiswa. Perihal yang dimaksud adalah aktivitas menulis. Tak banyak mahasiswa yang begitu peduli dengan persoalan “menulis.” Padahal, aktivitas yang satu ini begitu besar kontribusi dan efek sampingnya. Namun, lagi dan lagi, tak banyak yang peduli dengan hal ini. Kita boleh meninjau langsung dari kampus ke kampus, kira-kira berapa persentase mahasiswa yang mencoba berbagi dan memperjuangkan sesuatu lewat aksara. Dan, bandingkan dengan kedua aktivitas yang saya sebut sebelumnya.

    Menurut Asma Nadia (salah satu penulis produktif Indonesia), menulis itu merupakan kegiatan yang produktif daripada berunjuk rasa. Dibanding dengan unjuk rasa (demonstrasi) yang belum tentu didengar orang mengenai aspirasinya, tulisan yang dituangkan dalam bentuk buku atau dimuat di media cetak dan/atau media online, akan lebih banyak orang yang peduli, yaitu dengan membacanya. Apalagi di era gawai kini, dalam hitungan detik, seseorang mampu mengetahui beragam tulisan yang ditampilkan oleh media tertentu maupun perorangan. Artinya, peluang menyampaikan sesuatu lewat tulisan itu adalah perlu dicoba oleh rekan-rekan mahasiswa. Dan, kalau bisa dibiasakan.

    Ya, seorang mahasiswa tak boleh hanya bergelut dan berkutat di dunia organisasi saja. Juga, tak sekadar melakukan unjuk rasa semata. Cobalah untuk melakukan sesuatu yang berbeda (tanpa meniadakan kedua hal itu), yaitu lewat tulisan. Saya rasa, hal yang satu ini jauh lebih efektif dan produktif. Kita bisa mengisi kolom dan rubrik di beragam surat kabar. Atau, mungkin sekadar menuliskannya, kemudian dibagikan melalui linimasa Facebook dan beragam aplikasi lainnya. Lebih bagus lagi, jika mampu diabadikan lewat buku. Sehingga, beragam pengalaman, pengetahuan, ide, dan gagasan yang ingin disampaikan bisa menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan dikenang di kemudian hari.

    Seorang mahasiswa perlu membiasakan diri untuk menulis. Dengan begitu, secara tak langsung akan menuntun kita untuk membaca, membaca, dan membaca. Sehingga, beragam persoalan yang terjadi di masyarakat, setidaknya bisa kita carikan jalan keluarnya. Kemudian, solusinya itu bisa kita sampaikan lewat tulisan, salah satunya. Pada akhirnya, bisa diketahui oleh banyak orang, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

    Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa yang hidup di era kontemporer dan zaman digital kini mampu berkontribusi atau menyampaikan sesuatu lewat tulisan. Percayalah, ini akan jauh lebih produktif. Ikatlah segala macam pengalaman, pengetahuan, ide, dan gagasan yang diperoleh di dunia organisasi, kampus, dan masyarakat. Urai itu semua menjadi tulisan demi tulisan. Bagikan melalui media online, media cetak, dan/atau jenis lainnya. Lakukanlah mulai dari sekarang juga. Buka mata hati kita, ubah mindset kita, cobalah untuk melewati jalan sunyi tersebut.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda Produktif asal Dompu NTB

    Strategi Pembelajaran Kelas Puisi Menyenangkan di Sekolah

    PEWARTAnews.com -- Pembelajaran puisi merupakan bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia, yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dipisahkan, namun dilaksanakan secara itegratif. Harapan dalam pelaksanaan tersebut, dimaksudkan agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang menyenangkan yaitu siswa dapat meningkatkan keterampilan berbahasa, berekspresi, dan mengambil moral values melalui karya puisi.

    Pembelajaran puisi mempunyai banyak komponen, salah satunya adalah tujuan. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut seorang guru puisi hendaklah dapat mempraktekkan sendiri dan menulis sendiri karya-karya puisi dan meningkatkan efektivitas pembelajarannya, yakni penguasaan kurikulum sesuai dengan kondisi peserta didiknya dan pemilihan metode yang menyenangkan bagi murid-murid kelas puisi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui teknik pembelajaran puisi yang menarik, menyenangkan, mencerdaskan, dan sekaligus menghaluskan budi. Contoh tekniknya pembelajaran kelas puisi melalui latihan dasar olah vokal, olah karakter, olah indra serta pembacaan puisi. Pemberian puisi hendaklah memenuhi karakter peserta didik, lingkungan, usia dan minat. Dengan demikian diharapkan dapat dicapai pembelajaran kelas puisi yang menarik dan bermakna. Guru puisi yang baik harus mampu menjadi actor dan sutradara yang baik bagi kelas puisinya agar dapat menyenangkan bagi para muridnya.

    Namun, fakta di lapangan pada pelaksanaan pembelajaran puisi disekolah bukan menjadi hal yang di unggulkan tetapi hanya sekedar pelengkap untuk memenuhi prestise sekolah pada setiap perlombaan, padahal sesungguhnya itu bukan tujuan dari kelas puisi. Hal ini di sebabkan kurang berminatnya sekolah, siswa ataupun guru. Pemahaman dan ketrampilan kreativitas guru dalam memahami sebuah karya sastra puisi sangat minim karena pengalaman dan keilmuan di bidang puisi hanya sebatas pemaparan teoritis dalam buku tidak sejalan dalam praktek kelas puisinya. Guru hendaklah mempunyai keberanian mencoba dengan cara yang positif untuk melakukannya. Dengan kata lain pembelajaran karya sastra puisi masih mengalami hambatan. Oleh karena itu, pelaksanaan pembelajaran karya sastra puisi diakui banyak orang masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah yang menyangkut faktor guru. Sebagai pengajar karya sastra puisi, guru haruslah menunjukkan minat, penguasaan, ketrampilan dan kreativitas, serta dengan cara-cara yang bukan hanya menarik namun, juga mencerdaskan, menyenangkan dan dapat menghaluskan budi.

    Mengajar karya sastra puisi pada hakikatnya adalah memciptakan kondisi yang bersifat menyenangkan yang memungkinkan siswa tidak kaku dalam prosesy pembelajaran. Kemampuan seorang guru dalam mengarahkan minat dan bakat siswa adalah yang utama. Menghilangkan rasa malu dan takut merupakan langkah awal dalam pembelajaran kelas puisi. Dengan jalan membangun kepercayaan siswa. Proses kreativitas, aktivitas dan pengalaman siswa berlangsung secara alamiah.

    Kealamihan berlangsungnya pembelajaran tersebut dimaksudkan agar dalam proses membaca puisi tidak terlalu kaku, namun dapat dilakukan secara fleksibel dan dapat memberikan nilai-nilai energi positif bagi siswa. Untuk itu hendaklah model kelas puisinya dapat dilakukan dengan cara guru mempraktekkan, menjelaskan pesan dari puisi untuk di ekspresikan oleh siswanya dengan cara memberi contoh yang tepat dalam membacakan sebuah karya sastra puisi. Pembelajaran membaca puisi hendaklah memahami aspek kosakata, kalimat, vokal, gesture tubuh dan bermain peran. Misalnya siswa disuruh membaca, menceritakan maksud dari puisi tersebut di depan kelas puisi, yang kemudian mereka mampu mengekspresikan setiap kata dan kalimat puisi sehingga menghasilkan sebuah puisi yang ruhnya hidup dan bermakna.

    Kelas puisi bagi para siswa memiliki sejumlah alasan dan manfaat. Pertama, puisi merangsang memperoleh kenikmatan estetis, belajar kejujuran, mentertawan diri sendiri tampa ada yang menyakiti tersakiti, belajar bercermin diri dan sebagai puisi sebagai sejata perubahan. Kedua, puisi menumbuhkan imajinasi. Ketiga, Puisi membantu siswa untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Keempat, memahami bahwa terdapat orang lain tidak seperti dirinya. Selain itu karya sastra puisi dapat meningkatkan kepekaan sosial. Kelima, mampu menunjang perkembangan pengetahuan, bahasa, moral dan personalitas siswa.

    Untuk pembelajaran di kelas yang dilakukan secara konkret, guru dapat merumuskan tujuan sendiri berdasarkan tujuan kelas puisi. Kejelasan karya sastra puisi haruslah sesuai dengan kemampuan bahasa siswa yang berupa kata-kata. Diksi kata dalam karya puisi sebaiknya sebaiknya dengan kata-kata yang sudah dikenal, siswa dapat memahami dan dapat segera merasakan serta menikmati bahasa tersebut. Secara umum bahasa karya sastra puisi yang dipilih haruslah mempunyaig kejelasan bahasa dan pesan sehingga tidak mempersulit siswa dalam proses pemahaman dan penghayatannya.

    Bahasa yang struktur kalimatnya relatif kompleks dan panjang hendaknya tidak dipilih karenayy akan membosankan siswa terkecuali siswa mampu membawakan puisi dengan perannya yang bagus. Pemilihan puisi hendaknya menampilkan lingkungan yang telah di akrabpi karena siswa lebih mudah memahaminya.

    Sumber bahan pembelajaran siswa dapat di peroleh dari karya-karya penyair puisi Indonesia, karya puisi gurunya, televisi, vidio, bumi, manusia, dan alam semesta.

    Teknik pelaksanaan pembelajaran sastra di sekolah:

    Setiap sekali mengajar hendaklah guru dapat menyisihkan waktunya lebih kurang 10 sampai dengan 15 menit sebelum pembalajaran berakhir untuk membacakan puisi dan karya sastra lainnya. Puisi atau karya sastra lainnya ini dapat dipetik oleh siswa nilai-nilai kebaikannya baik oleh guru dan siswanya.

    Pertama, guru dapat menanamkan nilai moral dan daya kritis siswa. Siswa selain mendapat hiburan, juga secara langsung akan membentuk mental dan ketrampilan berbahasanya. Untuk itu guru harus mampu membawakan puisinya dengan baik, menjadi seorang aktor dan sutradara di kelas puisinya.

    Kedua, dengan karya sastra puisi dapat menimbulkan minat baca siswa. Dengan gaya dan cara guru membawakan puisinya akan berkeinginan untuk membaca buku-buku karya sastra lain.

    Ketiga, siswa akan selalu menunggu gurunya ketika mengajar, karena guru selalu membacakan puisinya sebelum berakhirnya pelajaran, sehingga ketika bel tanda pergantian jam mata pelajaran atau bel tanda pulang sekolah berbunyi, siswa tidak bersorak gembira karena akan pulang, namun kecewa karena puisi dari guru harus di akhiri.

    Akhirnya guru sebagai pelaksana pengajaran di kelas, jika tidak memahami dan tidak menyenangkan maka sulit untuk memperoleh kelas puisi yang menyenangkan serta inspirasi bagi murid-muridnya.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    -Penulis Buku Kumpulan Puisi Kesaksian
    Guru Itu Melawan
    -Ketua Umum Serikat Guru Indonesia Kabupaten Bima
    - Mantan Ketua Umum Teater Rimpu Yogyakarta (Tahun 2004)
    -Mantan Kabid Seni Dan Budaya Kepma Bima-Yogyakarta(Tahun 2004)

    Antara Aku, Elfa dan Bapak


    PEWARTAnews.com -- Beruntunglah kalian yang masih bisa mencium tangan seorang bapak, bercengkrama dengannya sambil menceritakan suka dukanya menjalani kehidupan. Bahkan disaat lebaran nanti, kalian masih bisa sungkem kepadanya sambil meminta doa restu agar dipermudah dalam segala hal.

    Dia adalah seorang laki-laki paruh baya yang mendambakan dan berusaha seoptimal mungkin dalam mendidik putra putrinya agar menjadi permata yang elok, shaleh-shalehah nan cerdas iman, hati, pikiran dan tindakan. Seorang laki-laki yang bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya dalam menggapai ridha illahi Rabbi serta laki-laki yang merindukan pelukan hangat dari putra putri tercintanya. Begitu besar jasa, perjuangan dan pengorbanan seorang bapak, sehingga grup band Seventeen pun mengabadikan namanya dalam sebuah lirik lagu “Ayah”, berikut cuplikan nya :
    Engkaulah nafasku
    Yang menjaga di dalam hidupku
    Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
    Kau tak pernah lelah
    Sebagai penopang dalam hidupku
    Kau berikan aku semua yang terindah.

    Sore tadi (Jum'at/5/2018) saya mendapat kabar lewat WA kalau bapak-nya mba Elfa (sahabatku sejak dari Aliyah hingga kini) meninggal dunia. Sontak kaget, meski hanya ada waktu 15 menit sebelum pemakaman untuk perjalanan menuju ke Wonokromo, Bantul. Di perjalanan rasa tak karuan, membayangkan bagaimana keadaan sahabatku itu, mengingat kami sama-sama sedang berjuang dalam menuntut ilmu. Sudah pasti dukungan dan do'a dari seorang “bapak” sangat berarti.

    Tak lama kemudian, sampailah di rumah Elfa yang sudah lama sekali aku tak menginjakkan kaki disini. Bahkan lebaran tahun kemarin kami belum saling bertemu, karena Elfa mondok di Ponorogo untuk menyelesaikan hafalan Qur’an-nya.

    Dari kejauhan, ku lihat Elfa begitu tegar. Sama persis ketika 3 tahun silam saat ia bercerita kepada-ku bahwa ia merindukan seorang ibu (ibunya meinggal saat Elfa SD).

    Perlahan ku dekati, lalu dia memelukku dan mengatakan “bapak belum melihatku wisuda bil ghaib 30 Juz, aku baru mempersembahkannya setengah Qur’an ty,” ujar Elfa. Ty itu singkatan dari ukhty, ini panggilan akrab kami saat Aliyah. Aku tak bisa menahan tangis, dengan suara terbata-bata ku katakan “Bapak sangat bahagia memiliki putri seperti-mu, mba”. Meski suatu saat nanti bapak tidak mendampingi wisuda bil ghaibmu, tapi bapak menyaksikan dan bangga melihatmu bahkan memelukmu meski tak terlihat oleh mata. Apapun yang terjadi, harus diselesaikan ya mba Elfa. Tetap semangat dan aku yakin Allah akan mempermudah segalanya.

    Insya Allah suatu saat nanti, Allah akan mengirimkan seorang “bapak”  yang amat menyayangi kita meski dengan darah yang berbeda (mertua maksud saya). Do'aku untukku, do'aku untukmu, dan do'aku untuk kita semua yang merindukan kasih sayang dari seorang bapak. Seandainya kini telah tiada, yakinlah ada bapak-bapak lain yang siap mencurahkan kasih sayangnya untuk kita.

    Mohon fatihahnya kagem bapak Mufid dan Sarmidi. Lahumul Fatihah.


    Penulis : Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Membangun Masyarakat Muslim, Prespektif Maqashid Jasser Auda

    Profesor Yasser Auda.
    PEWARTAnews.com -- Umat muslim kini menghadapi tantangan zaman yang sangat kompleks. Soal khilafah, hak asasi maunusia, kesetaraan gender, hubungan muslim dan non muslim, lingkungan, pengembangan sumber daya manusia, perkembangan ilmu dan teknologi, pembangunan, kemiskinan dan kesejahteraan adalah di antara sejumlah isu yang menonjol saat ini[1]. Untuk keluar dari kompleksitas masalah tersebut umat muslim memerlukan ijtihad-ijtihad segar atau fress ijtihad  (istilah Abdullah Saeed cendekiawan muslim kontemporer) agar mampu mengatasi probematika kontemporer yang begitu kompleks.

    Dalam studi keislaman khususnya dalam kajian ushul al-fiqh salah satu tema  yang di bahas dan diskusikan oleh para cendik-cedekiawan muslim adalah Maqashid al-Syari’ah, yaitu tujuan-tujuan utama dalam Syari’at Islam. Telah banyak tokoh dan pemikir muslim pada masa klasik yang membahas tentang Maqashid al-Syari’ah, antara lain untuk menyebut beberapa diantaranya, adalah al-Syatibi (w.766/1388) dalam kitab al-Muwafaqat, al-Tufi (w.716/1316) dalam kitab Risalah-nya dan Abu Hamid al-Gazali (w. 505 H/ 1111 M).  Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik lebih menekankan pada perlindungan (protection) dan penjagaan (preservation) atau yang lebih di kenal dengan al-hifz. Yaitu, menjaga agama (hifz al-Din), menjaga jiwa (hifz al-Irdh), menjaga akal (hifz al-Aql), menjaga keturunan (hifz al-Nasl) dan menjaga harta (hifz al-Mal).

    Maqashid Jasser Auda
    Profesor Jasser Auda adalah salah satu pakar terkemuka saat ini di bidang Maqhasid Syariah.  Auda adalah anggota Dewan Eropa untuk fatwa dan Penelitian; anggota, pendiri dan kepala Komite Dewan pada Perhimpunan Sarjana Muslim Internasional; mengajar di Fakultas di Studi-Studi Islam di Doha, Uni Emirat Arab. Meraih gelar Ph.D. di dua bidang: Filsafat Hukum Islam Di Universitas Wales, Inggris dan Analis Sistem di Universitas Waterloo, Kanada. Gelar master diraih di Islamic American University dengan tesis tentang Maqashid Syariah. Pernah menjadi direktur Maqashid Center di London, Inggris. Pernah menjabat Deputi Direktur di Pusat Legislasi dan Etika Islam, di Doha. Pernah menjadi guru besar di Fakultas Hukum, Universitas Aleksandria, Akademi Fiqh Islam di India, dan American University di Syarjah, serta Universitas Waterloo, Kanada.

    Dalam bukunya Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Low, Auda memperkenalkan Maqashid al-Syari’ah dalam prespektif kontemporer yaitu, dengan pengoprasikan fitur-fitur teori Sistem yang ia tawarkan diantaranya,  Kognitif (al-idrakiyyah, konition), Kemeyeluruhan (al-kulliyyah, wholeness), Keterbukaan (al-infitahyyah; openness), hierarki-saling berkaitan (al-harakiriyyah al-mu’atamadah tabaduliyyan; interrelated hierarchy), multi-dimensionalitas (ta’addud al-ab’ad; multidimensionalty), terakhir adalah fitur kebermaksudan (al-maqasidiyyah; purposefulness[2]. Adalah fitur-fitur teori Sistem yang di tawarkan Jasser Auda.

    Dari pengaplikasian teori sistem di atas dalam kajian hukum Islam, sehingga Maqashid al-Syari’ah dalam prespektif Jasser Auda memiliki radius jangkauan yang berbeda dengan teori Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik. Jika Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik menekankan pada perlindungan (protection) dan penjagaan (preserfation) maka teori Maqashid al-Syari’ah Jasser Auda lebih menekankan pada pembangunan, pengembagan (dofolopment) dan hak-hak (right). Untuk melihat lebih dekat bagaimana pergeseran teori Maqashid al-Syari’ah  klasik  ke toeri Maqashid al-Syari’ah kontemporer Jasser Auda atau dari protection dan preserfation ke dofolopment dan right, penulis akan mencoba menguraikanya agar lebih mudah di pahami.

    Menjaga agama (hifz al-Din) bergeser dan diperluas radius jangkauanya menjadi menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan berkepercayaan. Menjaga akal (hifz al-Aql) bergeser  menjadi melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah; mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan, menekan pola pikir yang mendahulukan kriminalitas kerumunan gerombolan, menghindari upaya-upaya untuk meremehkan kerja otak. Menjaga kehormatan; menjaga jiwa (hifz al-Ird) bergeser menjadi menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan; menjaga dan melindungi hak-hak asasi manusia Universal. Menjaga keturunan (hifz al-Nasl) bergeser menjadi berorientasi kepada perlindungan keluarga, menaruh kepedulian yang lebih kepada instasi keluarga, mengingat banyaknya kasus kekerasan pada perempuan dan anak.

    Menjaga harta (hifz al-Mal) bergeser menjadi mengutamakan kepedulian sosial; menaruh perhatian pada pembagunan dan pengembangan ekonomi; mendorong kesejahteraan manusia; mempersempit jurang yang lebar antara miskin dan kaya. Terakhir yang  membedakan teori Maqashid al-Syari’ah Jasser Auda dengan yang lain yaitu, dengan menjadikan Human Defolopment atau pembangunan sumber daya manusia sebagai target utama dari maslahah (public interest), sehingga Maqashid dapat dilihat dan dichek perkembanganya dari waktu ke waktu, diuji, dikontrol dan divalidasi melalui human devolopment index dan human defolopment target yang dicanangkan dan dirancang  oleh badan dunia, seperti PBB maupun yang lain. Dengan begitu kemajuan dan kesejahteraan umat Islam dari waktu ke waktu dapat di upayakan, diperjuangkan, diukur dan dipertanggung jawabkan secara publik[3]. Nah, dengan berpandangan seperti ini di harapkan masyarakat muslim khususnya muslim Indonesia dapat keluar dari segala komplesitas masalah yang dihadapinya. Sehingga dapat meningkatkan dan mengoptimalkan segala potensi yang ada.

    Wallahu ‘a'lam bishawab


    Referensi :
    [1] M. Amin Abdullah, 2015, Membumikan Hukum Islam dengan Maqasid Syari’ah, Terjemahan "Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Low", Jasser Auda, Bandung, Mizan Pustaka.

    [2] M. Amin Abdullah, "Bangunan Baru Epistemologi Keilmuan Studi Hukum Islam Dalam Merespon Globalisasi", Jurnal Asy-Syir'ah, Volume 46, Nomor 2, Desember 2012.

    [3] M. Amin Abdullah, "Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Pendekatan Filsafat Sistem dalam Usul Fiqh Sosial", Jurnal Salam, Volume 14, Nomor 1, 2011.


    Penulis: Abdul Gafur
    Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)

    Malaikat Pengatur Alam

    Ilustrasi. Foto: dibalikislam.com.
    PEWARTAnews.com – Siang yang cukup mendung. Mungkin sebentar lagi akan segera turun hujan. Matanya memandang atap-atap langit yang hitam dipenuhi awan tebal. Sesekali ia perhatikan padi-padi yang sudah menghijau. Kadang-kadang pandangannya tertuju kearah kampung, sebelah selatan tempatnya duduk – sawah. Atap-atap rumah yang terbuat dari seng hanya terlihat samar-samar. Mungkin karena penglihatannya yang sudah kabur dan suasana hari yang mendung, membuat  pandangannya semakin tidak jelas.

    Ibrahim, seorang kakek yang hidup dengan anak perempuan satu-satunya. Karena garis takdir, anak perempuannya ditinggal pergi oleh suaminya. Bukan karena menantunya tidak setia terhadap janji suci dengan anaknya yang disahkan dalam ikatan suci olehnya. Melainkan yang Maha Kuasa memanggilnya terlalu cepat dibanding dirinya, untuk menghadap Sang pemilik kehidupan, Tuhan yang Maha Hidup. Kepergian menantunya cukup membuat anak perempuannya bersedih hati. Namun Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk menghibur hamba-hamba-Nya yang bersedih. Para tetua sering kali mengingatkan “jangan bersedih, Allah bersama hamba-Nya!”. Kesedihan anak perempuan Ompu Bai[1] terobati oleh keberadaan putranya – cucu Ompu Bai – yang berumur dua tahun sewaktu ayahnya menghadap Tuhan. Kini Ompu Bai tidak hanya hidup dengan anak perempuannya yang telah menjanda, tapi sudah ditambah oleh cucu laki-lakinya. Sedangkan istri Ompu Bai, juga telah menghadap Tuhan. Bahkan setahun lebih awal dari kepergian menantunya yang bernama Firdaus. Kejadian yang menimpa diri dan keluarganya, atas kepergian Firdaus dan juga Istrinya Halimah – Ina Lomi[2] – ia jadikan pelajaran hidup yang paling berharga. “Bahwa kematian adalah peristiwa yang paling misterius, ia hadir kapan dan dimana saja dan untuk siapa saja”. Tanpa ada kepastian kapan ia hadir. Hanya ada satu kepastian, yaitu kematian pasti hadir!

    Siang pukul dua belas lewat, masih tetap mendung. Padahal sudak sejak pukul sembilan tadi ia mendung. Tapi hujan belum juga turun. Sedangkan sang pembawa berita gembira tiada hentinya membelai lembut wajah Ompu Bai yang kusut dan keriput termakan usia. Sesekali petir mengkilap di pucuk-pucuk gunung serta suara-suaranya yang terus menggelegar. Menggantikan suara burung-burung yang bernyanyi dengan merdu. Walau hanya sesekali bertengger pada dahan pohon samping salaja[3]-nya.

    Sekali lagi Ompu Bai memandang kearah Desa. Hanya atap-atap rumah seng yang sudah berkarat dan berwarna coklat yang terlihat. Secara perlahan pandangannya menyusuri hamparan padi-padi milik warga Desa, tanpa pepohonan atau sekedar orang yang berjalan. Seperti pada hari-hari kemarin atau pada pukul tujuh pagi tadi. Ada sesuatu yang ia tunggu. Mungkin itulah alasan mengapa ia selalu mengarahkan pandangannya ke Desa, lalu pada hamparan padi-padi sampai pada posisinya duduk. Kadang-kadang ia melakukannya dengan cermat. Berharap ada orang yang jalan, tepatnya seorang anak yang berjalan kerahnya – Zainul. Hanya kata ‘khawatir’ yang bisa menggambarkan suasan hati Ompu Bai saat ini. Wajar Ompu Bai sangat mencemaskan Zainul – cucunya. Selain karena Zainul merupakan cucu dia satu-satunya. Zainul sangat ia sayangi, tiada limpahan kasih sayang Ompu Bai saat ini sebesar limpahan kasih sayangnya pada Zain.

    Rasa-rasanya Ompu Bai ingin tidur saja. Bersembunyi dibalik selimutnya yang hangat. Selimut yang entah telah berapa bulan tidak dicuci. Padahal seringkali Aulia – putrinya – mengingatkan untuk membawa serta selimut itu ke rumah kalau pulang. “Biar saya dicuci”. Kata Aulia. Bersembunyi dibalik selimut ia urungkan. Ia teringat dengan sesuatu yang belum ia selesaikan. Salat Zuhur. “Kecemasan pada dunia dan kecintaan pada anak -cucu, ternyata tak jarang membuat orang lupa, pada diri dan pada-Nya”. Ucapan guru ngajinya – yang sering disapa Guru Dero[4] - kini terngiang lagi dari memorinya. Sembari berjalan menuju aliran air untuk berwudhu.

    Usai salam. Ompu Bai duduk bersila diatas sajadah hitamnya. Sajadah yang paling sering ia pakai untuk salat, walaupun masih ada dua sajadah lain dirumahnya. Sajadah itu dibelikan khusus oleh istrinya, beberapa bulan sebelum kepergiannya, menghadap Allah. Di atas sajadah hitam itulah Ompu Bai sering bersimpuh manja dan merayu-Nya lewat lantunan zikir-zikir suci yang ia ucapkan. Mengharap belas kasih dan ampunan serta mengadu segala apa yang ia adukan dan memohon segala macam keinginannya. Disela-sela waktunya yang sunyi dan bersahaja itu. Ompu Bai selalu mengirimkan hadiah-hadiah untuk istri dan menantunya. Sesuatu yang paling indah saat ini untuk mereka. Bukan bingkisan kado yang berisi kalung dan gelang atau sejenisnya. Melainkan hadiah berupa bingkisan do’a-do’a yang beirisi rayuan manja dan harapan belas kasih Tuhan untuk istri dan menantunya. Tak lupa ia sisihkan hadiah-hadiah itu untuk umat mukmin dan umat manusia seluruhnya. Dan yang terpenting adalah untuk Zainul. Semoga tumbuh menjadi manusia soleh dan pemimpin umat yang amanah. “rabbana hablana min azwajina wa djurriyyatina kurrata’ayun waja’alana lil muttaqina imama”! Ucapnya. Disaat-saat suasana alam yang mencemaskan seperti sekarang ini. Ompu Bai mengkhususkan satu bacaan Al-Fatihah dan salawat untuk para malaikat yang diberi tugas oleh-Nya untuk mengurus alam. Usai mengirimkan hadiah-hadiah untuk keluarga, orang-orang mukmin, umat manusia, dan juga untuk malaikat pengatur alam semesta. Ompu Bai melipat sajadahnya, lalu mengambil selimutnya. Sebelum ia membaringkan tubuhnya yang rapuh. Mulutnya terlihat bergerak, seperti orang yang sedang mengucapkan mantra. Mungkin Ompu Bai berdo’a.

    Ompu Bai tak merasakan lagi hembusan angin yang menerpa tubuhnya yang rapuh. Dentuman suara alam dan halilintar yang berlomba, tak lagi ia dengarkan. Hanya ada satu suara yang ia dengar, yang terus memanggili namanya. Ia tak tahu dari mana dan siapa. Panggilan nama yang cukup lengkap, tak pernah ia dengar sebelumnya.

    “Assalamu’alaikum....., Ibrahim bin Yusuf”. Sapa suara yang misterius itu. Ompu Bai tak langsung menjawabnya. Ia perhatikan sekelilingnya, membuatnya semakin bertanya-bertanya. Pohon-pohon dan gunung ia lihat ada dibawahnya, petir menyambar dibawahnya tapi tak mengenainya. Bintang-bintang berada disekelilingnya. Ompu Bai berada pada suatu ruang tanpa batas.

    “Assalamu’alaiku...., wahai Ibrahim!”. Kembali suara itu memanggilnya.

    “ Wa.., wa’alaikumsalam”. Jawabnya, dengan suara yang gemetar. Ompu Bai bingung. Mengapa suaranya keluar dan terdengar, padahal ia tak menggerakkan mulutnya sama sekali.

    “Kamu tidak perlu bingung apalagi takut wahai Ibrahim”. Ucap suara itu, mengetahui suasana psikologisnya yang sedang kacau.

    “Sekarang..., antara kamu dan aku tak ada lagi ruang dan waktu. Semuanya berada pada titik nol. Antara kita tak ada lagi pembatas dan tak perlu lagi perantara apa-apa”. Lanjutnya.

    “Bolehkah saya tahu siapa gerangan saudara?”. Tanya Ompu Bai.

    “Aku adalah malaikat yang bertugas mengatur alam, termasuk cuaca dan musim. Namum, tetap atas perintah-Nya”. Jawab Malaikat Pengatur alam.

    “Berarti engkau yang mengatur turunnya hujan, dan mengatur halilintar yang menyambar itu?”

    “Iya, saudaraku. Tapi atas ijin-Nya”.
    “Ijin siapa?”.
    “Tentu saja atas ijin Allah yang Maha Kuasa”.
    “Yang menguasai aku dan dirimu, juga jagat raya ini” Lanjutnya.

    Ompu Bai teringat suasan alam yang cukup mencemaskannya, juga kebanyakan manusia. Angin yang kencang, halilintar yang menyambar, awan tebal yang menutupi atap-atap langit dan matahari yang menjadikannya mendung. Dalam hati ia melirih.

    “Lalu..., Apakah saya masih tertidur atau sudah sadar?”. Rupanya tetap didengar oleh malaikat pengatur alam. Walaupun Ompu Bai menganggapnya sekedar dalam hati. Bahkan semua yang ia pikirkan sejak tadi, juga diketahui.

    “Wahai Ibrahim!”. Malaikat kembali menyapanya.

    “Dihadapan manusia kamu memang sedang tertidur. Tapi, sesungguhnya inilah kesadaranmu yang sebenarnya. Setiap hari banyak manusia merasa terjaga, padahal mereka sedang tertidur”. Jelas maliakat pengatur alam.

    “Halilintar yang menyambar keras, angin yang berhembus kencang, dan awan tebal sehingga menjadikan harimu mendung adalah wajar engkau cemaskan. Karena ia akan mendatangkan bencana banjir dan kehancuran bagi kalian”. Lanjut malaikat, menjawab semua apa yang di anggap Ompu Bai hanya ada dalam pikirannya.

    “Ibrahim saudaraku. Kamu sudah mencapai puncak tertinggi dari manusia pada umumnya. Karena itulah kita bisa berkomunikasi dengan kejujuran tingkat tinggi. Juga dengan bahasa yang hanya penduduk langit saja yang tahu. Apa yang engkau ingat dan pikirkan aku mengetahuinya, begitupun sebaliknya”. Kata malaikat pengatur alam. Membuat Ompu Bai merasa tenang.

    “Wahai malaikat pengatur alam! Mengapa hujan tidak jadi turun, padahal terjadi mendung yang lama, angin yang kencang juga halilintar yang tak hentinya menyambar”.

    “Sebenarnya hujan sedang turun, hanya tidak berlebihan Ibrahim!”.
    “Mengapa?”

    “Karena alam disekitar tempat kalian tinggal kurang mampu lagi menyerap air. Tentu saja kau tahu alasannya”. Ompu Bai langsung memahaminya. Muncul dalam ingatannya, hutan-hutan sudah banyak yang dibabat dan digunduli serta sungai yang semakin dangkal dan sempit. Keserakahan manusia membuatnya lupa pada akibat perbuatan mereka.

    “Ibrahim saudaraku. Andaikan bukan karena lantunan do’a keselamatan untuk umat manusia yang kau panjatkan pada-Nya dan hadiah yang sering kau kirimkan untuk para malaikat pengatur alam. Mungkin badai akan datang bersama hujan yang sangat deras. Tetapi kasih sayang Allah melebihi murka-Nya”. Ompu Bai terharu. Lantunan do’a-do’a yang ia pinta tenyata diijabah oleh-Nya. Sehingga sesuatu yang ia cemaskan kini tidak terjadi. “Alhamdulillah”. Lirihnya, air matanya tak terasa telah sampai di pipi.

     “Kek.... kakek...”.
    “Bangun kek..”. Ada suara lain yang memanggil.

    Ompu Bai terbangun, lalu melihat wajah cucunya – Zain – disamping Zain ada tiga rantan yang tersusun rapi. Zain dan tiga rantan yang tersusun rapi tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Ia kemabali mengingat sesuatu yang ia rasakan sewaktu “tertidur”. Ompu Bai merasa sangat bersyukur, bisa berkomunikasi langsung dengan Sang Malaikat pengatur alam. Hanya ada sedikit hal yang disesalinya, yaitu tidak mengucapkan salam perpisahan dengan pengatur alam itu. Kemudian mulutnya bergerak pelan tanpa suara yang terdengar. “Assalamu’alaikum malaikat pengatur alam. Semoga lain kesempatan kita bisa bersua lagi”. Lirihnya. Zain hanya melihat mulutnya bergerak tapi tak mendengar apa-apa juga tak bertanya.

    “Ayo makan dulu”. Ajak cucunya. “Tadi saya terlambat karena dilarang sama Ibu juga sama Ina Osi – tetangganya – kata mereka hari sangat mendung, takut terjadi apa-apa ditengah jalan”. Lanjutnya dengan wajah yang polos penuh kejujuran.

     “Ndak apa-apa nak. Justru kakek lebih khawatir sama keadaanmu”.
    “Ayo kita makan bareng dulu”. Sambil melepas rantan satu persatu dari ganggangnya.
    “Oh iya. Uda asar nak?” Tanyanya pada Zain. Memecah suasana.
    “Belum kek. Tadi aku berangkat dari rumah pukul dua lewat empat puluh tujuh”.
    “Berarti bentar lagi. Usai kita makan kita solat berjama’ah dulu”. Katanya pada Zain.

    Sembari menikmati suguhan yang dibawa oleh cucunya. Ompu Bai menasehati cucunya banyak hal tentang hidup. Seperti yang dilakukan kakeknya sewaktu ia sendiri kecil dulu. Di sela-sela itu pula. Ompu Bai mengatakan pada Zain, kalau usai solat nanti akan bersama-sama mengirimkan hadiah untuk ayah dan neneknya. Juga untuk seluruh umat manusia. Kemudian ia tambahkan, “dan untuk malaikat pengatur alam”.

    “Malaikat pengatur alam?”. Tanya Zain memperlihatkan wajah polosnya yang penuh tanya.
    “Emang ada kek. Bukankannya Allah yang mengatur segalanya?”. Lanjutnya.

    “Ia Nak. Memang Allah yang mengaturnya, bahkan semuanya. Tapi, Allah menugaskannya pada malaikat”. Jawab Ompu Bai. Sedangkan Zain hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu lanjut menikmati santapan didepannya. Walaupun sederhana, tapi keduanya sangat suka. Apalagi Zain. Selain itu, makanannya cukup sehat. Nasi ditemani sayur bening yang terbuat dari kangkung, bayam, dan juga daun kelor. Ditambah ikan teri yang dicampur sambal tomat yang agak pedas. Khas buatan ibu Zain dan juga kesukaannya.

    “Enak ya kek”.
    “Ayo tambah lagi”. Ucap Ompu Bai sembari mencubit manja pipi cucunya.
    “Heh....heh... iya kek..”. Zain tersipu malu. Tapi tetap tambah juga.

    Mereka menikmati hidangannya. Ditemani daun-daun padi yang menari diiringi kicauan burung yang bernyanyi dengan irama yang merdu.


    Pengarang : A.S. Matupha
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Catatan Kaki:
    [1] Ompu : kakek, Bai : Sapaan hormat untuk nama Ibrahim. Ompu Bai merupakan cara sapaan menghormati atau sapaan tanda sayang dalam masyarakat Bima.
    [2] Ina : ibu, Lomi : sapaan Hormat untuk nama Halimah. Jadi, Ina Lomi : ibu Halimah. Fungsinya sama seperti pada catatan kaki nomor [1]
    [3] Tempat untuk berteduh yang berada di pinggir sawah. Terdiri dari empat penyangga kayu, lantainya terbuat dari bambu yang dibelah dan dipehalus. Sedangkan atapnya terbuat dari daun kelapa yang dianyam dengan rapi.
    [4] Sapan hormat Untuk Guru Idris. Dero : sapaan hormat untuk nama Idris

    Hakikat Pernikahan adalah Untuk Regenerasi Perjuangan Orangtuanya

    PEWARTAnews.com -- Menikah. Singkat tapi bermakna. Bermakna tapi rumit. Rumit karena dipikirkan hanya dengan menggunakan logika saja, tanpa mensinergikan dengan rasa. Padahal sejatinya antara rasio dengan hati haruslah seimbang agar tidak terjadi ketimpangan suatu hal. Sebagaimana diketahui bahwa Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup. Hal tersebut merupakan suatu anugerah yang luar biasa, karena faktanya diri kita termasuk orang yang terpilih (dalam bahasa motivasinya kita merupakan “pemenang” yang berhasil mengalahkan berjuta-juta sel dalam rahim ibu kita) sebelum pada akhirnya diri kita terlahir ke dunia.

    Namun tidak dalam menikah. Bukan persoalan siapa cepat ia menang dan siapa lambat ia kalah, namun menikah adalah pilihan “setiap orang” yang “dapat” diambil dan dilakukan, ataupun sebaliknya. Dalam Islam, menikah merupakan sunnah nabi, yang jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dari Allah serta mendapatkan kemanfaatan (nilai plus) dalam hidup. Nilai plus tersebut terwujud dalam berbagai aspek yang meliputi aspek psikologis, sosiologis - antropologis, fenomenologis dan agama. Dalam aspek psikologis, pada dasarnya manusia memiliki suatu “keinginan dan kebutuhan” yang mendorongnya untuk menyalurkan hasrat tersebut kepada lawan jenis. Hal ini merupakan fitrah yang Allah berikan kepada manusia yang sifatnya bawaan dari lahir, sehingga perlu dipertanyakan apabila orang tidak memiliki perasaan dengan lawan jenis. Akan tetapi, jika tujuan menikah hanya untuk menyalurkan keinginan seks-nya maka hal tersebut tidak jauh beda dengan binatang.

    Dalam sebuah penelitian mengatakan bahwa rentang waktu nafsu seks manusia terbatas yakni mulai umur baligh sampai 40 tahun. Selebihnya, manusia akan merasa jenuh namun bukan berarti tidak ingin melakukan, akan tetapi hal seperti ini tidak diprioritaskan lagi dalam sebuah pernikahan dan ternyata hal tersebut tidak akan dapat “melanggengkan sebuah kebahagiaan” jika didasari tanpa agama. Oleh karena itu, manusia akan mencari sesuatu yang baru dan lebih mencerahkan yakni dengan beralih perhatian/fokus kepada anak-anaknya dan berharap agar anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, mandiri dan cerdas. Dengan demikian, dapat diambil benang merahnya bahwa hakikat sebuah pernikahan ialah mencetak generasi yang kelak akan meneruskan kiprah perjuangan dari kedua orangtua nya. Karena seperti apapun orang tua, pasti menginginkan anak-anaknya dapat “lebih baik” dari dirinya.

    Hal ini yang melatarbelakangi pengamalan doa-doa yang diajarkan oleh para pendidik di satuan pendidikan (pondok pesantren, sekolah dan atau madrasah). Salah satu doa tersebut ialah "Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a'yuninin waj'alnaa lil muttaqiina imaama" yang merupakan permohonan seorang hamba kepada Tuhan-nya (sufla ilal a'la) yang dapat bermakna harapan agar dikaruniai pasangan dan dzurriyah-dzurriyah yang menyejukkan mata (menentramkan kalbu, shaleh dan atau shalehah nan cerdas dzahir maupun batin).

    Oleh karenanya, dari hal tersebut penulis yakin bahwa mencetak keturunan (generasi penerus) dapat dilakukan pada saat masa-masa berjuang seperti ini (single/belum punya pasangan/terikat akad tetapi belum menikah) dengan cara “mengindahkan cetakan-nya” melalui tindakan dan perilaku yang baik nan benar. Setelah itu berlanjut pada pemilihan pasangan (laki-laki/perempuan), dengan menomorsatukan Agama, Akhlaq dan Ilmu. Setelah itu, pada masa konsepsi dan masa kandungan (hamil) dengan memberikan asupan intern maupun ekstern yang berupa penjagaan yang baik dan gizi yang cukup. Itulah mengapa anak-anak kecil Israel cerdas-cerdas dan kuat-kuat fisiknya. Banyak anak-anak kecil disana yang berumur 8 tahun sudah dapat menciptakan sesuatu hal (produktif), karena ternyata saat "mengandung", kedua orangtuanya memecahkan masalah yang berkaitan dengan logika (matematika) dan makan ikan patin yang memang gizinya luar biasa.

    Maka dari itu, wanita dan laki-laki harus berpendidikan, mengingat "tanggung jawabnya dalam mendidik anak". Berpendidikan tidak hanya yang sekolah formal, tetapi mereka yang selalu dan tak mengenal lelah dalam mencari ilmu pun juga disebut berpendidikan. Oleh karena itu, mencetak keturunan dapat dilakukan sekarang dan saat ini dengan cara berbenah diri dan memantaskan diri dengan terus belajar dan belajar (berthalabul 'ilm) dalam segala aspek. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang saat ini dilakukan akan berpengaruh kepada anak cucu. Sehingga tak salah, jika orang Jawa (simbah-simbah) mengatakan “aku iso koyo ngene sebab tirakate leluhurku" (saya bisa seperti sekarang ini karena tirakat/usaha/perjuangan dari orangtuaku). Baru setelah anak lahir ke dunia, saatnya memberikan education seems karena golden age yang pada usia tersebut seluruh kekuatan, pertumbuhan dan perkembangan otak amat maksimal. Pada masa ini pula seharusnya digunakan untuk mempersiapkan segenap potensi fisik, akal maupun mental yang ada pada diri anak dengan sebaik-baiknya. Bukankah الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدّنيا ? (Bukankah harta dan anak-anak merupakan perhiasan di dunia ini?).

    Rabby inniy limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir.


    Penulis : Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Mahasiswa Bima-Dompu di Jogja Canangkan Dua Agenda Besar

    Arif Rahman.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Agenda Malam Keakraban (MAKRAB) Raya dan Pawai Rimpu rencananya akan digelar pada tanggal 25-26 Agustus dan 2 September 2018 oleh Komunitas Kasama Weki Ndai Mbojo-Dompu. Event yang bersegmentasi pada mahasiwa asal Bima dan Dompu sepulau Jawa tersebut menargetkan diikuti oleh 1200 peserta. Beragam kegiatan menarik akan dihelat pada masing-masing agenda yang bertema, "Merajut Kebersamaan di Kota Budaya".

    Mantan Ketua KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman, yang juga sebagai koordinator acara event menjelaskan, kekompakan dan kesepahaman serta kedekatan secara emosional menjadi tujuan utama dari event yang akan dihelat. "Tujuan dari agenda ini yaitu mengangkat nilai-nilai kebudayan dan khasanah daerah, hal ini juga merupakan tanggungjawab generasi sebagai pengakuan terhadap semboyan Bhineka Tunggal Ika," beber Arif.

    Kata Arif, adanya budaya rimpu menjadi sesuatu hal yang perlu di lestarikan keberadaannya agar semakin luas dikenal secara nasional bahkan dunia. "Rimpu adalah satu-satunya bentuk adat yang berkembang di daerah Bima dan Dompu. Inilah yang menjadikan Rimpu sebagai sesuatu yang unik dan khas," ucap Arif.

    Untuk memeriahkan acara, kata Arif, dalam dua agenda besar ini akan diisi dengan berbagai macam kegiatan yang menarik. "Rencananya saat Makrab akan ada training motivasi, pelatihan team work dan malam unggun berbudaya. Sedangkam saat Pawai Rimpu akan ada juga seni gerak kolosal rimpu dan saremba tembe," kata Arif.

    Lokasi Makrab, akan diselenggarakan di Bumi Perkemahan Kepurun, sedangkan untuk Pawai Budaya akan dimulai di mandalakrida - kridasono - gramedia - tugu - malioboro - alun alun utara. (Siti Hawa / PEWARTAnews)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website