Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Penembakan Warga Sipil Oleh Aparat di Bima, Ini Tuntutan Mahasiswa Jogja

    Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer Yogyakarta, 19/02/2019.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) mengikapi persoalan yang terjadi di Kabupaten Bima belum lama. Puluhan mahasiswa tersebut melakukan aksi massa disejumlah titik di Kota Gudeg Yogyakarta pada 19 Februari 2019.

    Mahasiswa-mahasiswa tersebut menilai saat ini di Kabupaten Bima kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) sudah mati atau tidak lagi ternilai. “(saat ini) Matinya HAM di Kabupaten Bima dan (menyulap) Bima Ramah Menjadi Bima Berdarah,” ucap Muhaimin Deven selaku Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer kota Yogyakarta.

    Deven menilai, pelanggaran HAM yang terjadi di Bima kerap diabaikan oleh pemerintah setempat. “Dengan ini kami menyikapi persoalan yang terjadi di kabupaten Bima yang dimana kasus-kasus pelanggaran HAM di kabupaten Bima yang dilakukan oleh Militerisme.   Tapi tidak ada satupun yang pernah diselesaikan oleh pemerintah republik Indonesia, dimana kasus pada tanggal, 24 Desember 2011 penembakan kepada masyarakat Kabupaten Bima ( kecamatan Sape dan kecamatan Lambu) yang menolak adanya pertambangan belum di selesaikan dan begitupun di kecamatan-kecamatan lainya juga terjadi penembakan yang di lakukan oleh Militerisme dengan persoalan yang berbeda tapi belum di tuntaskan juga , aparat Militerisme mengunakan dalil mengamankan massa aksi sehingga melancarkan penembakan masyarakat tersebut,” beber Deven.

    Menurut Deven, baru-baru ini pada tanggal, 15 Februari 2019 terjadi penembakan yang dilakukan oleh aparat militerisme dengan dalil yang sama yaitu mengamankan massa aksi dengan menggunakan peluru tima panas, “Sehingga mengorbankan (masyarakat) yang  bernama  Nuralisa umur 5 tahun dan adapun korban tembakan lainya,  Ma’ruf (40 tahun) luka tembakan dikaki kanan, Herman (16 tahun) luka dipinggang kanan belakang, Junaidin (24 tahun) luka di kepala belakang telingga kanan dan puluham lainya masyarakat kena luka pukulan aparat militerisme,” sebutnya.

    Deven menjelaskan lebih lanjut, “Pada tanggal 15 Februari 2019 masyarakat di kabupaten Bima khusunya di kecamatan Sape dan kecematan Lambu meminta kepada bupati Bima yang bernama Indah Damayanti Putri dan Wakil Bupati Dahlan untuk melakukan perbaikan jalan yang sesuai dengan janji politiknya sebelum pemilihan bupati dan wakil bupati tersebut, karena infrastruktur menurut masyarakat Bima adalah akses untuk kelancaran ekonomi,” kata Deven.

    Rangkaian aksi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) pada intinya menuntut enam point penting yang akan ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat. “Maka dengan ini kami dari Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta menuntut: Pertama, Bupati dan Wakil Kabupaten Bima (Indah Damayanti dan Dahlan) harus bertanggung jawab atas kejadian di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu; Kedua, Copot Kapolres Kabupaten Bima dan usut tuntas pelaku penembakan terhadap masyarakat Sape dan Lambu; Ketiga, Meminta kepada Kapolda NTB agar melakukan pemecatan terhadap para pelaku penembakan dan kriminalisasi terhadap masyarakat Sape dan Lampu; Keempat, Pemerinta Kabupaten Bima harus merealisasikan mengadaan infrastruktur; Kelima, Komnas HAM harus turun tangan mengenai pelanggaran HAM di Kabupaten Bima; Keenam, Tangkap dan adili para pelaku pelanggaran HAM,” tutup Deven dengan lantang. (Arif / PEWARTAnews)


    Pahlawan Masa Kini adalah Orang yang Karya-Karyanya Bermakna untuk Kemaslahatan Dunia dan Akhirat

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., mengatakan bahwa dalam menghadapi Hari Pahlawan, penting sekali kita melakukan renungan sebagai wujud empati. “Jika selama ini pahlawan sering dimaknai sebagai orang yang telah berjuang dengan pengorbanan jiwa dan raga untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan, maka makna pahlawan era kini dan mendatang, RI 4.0 dan seterusnya adalah siapapun yang mampu mengisi kemerdekaan dengan semangat Jihad melalui karya-karya inovatif, sehingga menjadi Inovator bereputasi yang dapat memberikan solusi efektif terhadap persoalan yang terus muncul dan semakin kompleks di tengah-tengah masyarakat yang tidak saja terkenal secara nasional, melainkan juga di kancah internasional,” ucap Prof. Rochmat, di Yogyakarta, 07/11/2018.


    Oleh karena itu, kata mantan Ketua Umum Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tingggi Negeri (SNMPTN) tahun 2015 ini, potensi kreatif dan inovatif harus dipupuk dan dibina sedini mungkin, sehingga mampu memberikan alternatif solusi dan siap menghadapi tantangan pada jamannya. “Persoalan inovasi seharusnya tidak difokuskan pada aspek kognitif saja, melainkan aspek nilai (keagamaan yang diyakini) dan psikomotor,” bebernya.

    Lebih jauh, menurut mantan Menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017, mengatakan bahwa pahlawan yang dimaknai dalam era millenial masa kini adalah orang yang mempunyai karya-karya bermakna untuk kemaslahatan hidup di dunia dan bermakna untuk kemaslahatan hidup di akhirat. “Sebagai bangsa yang memiliki pandangan hidup Pancasila, bahwa innovator yang bisa di-claim sebagai pahlawan adalah yang karya-karyanya tidak hanya untuk kemaslahatan dunia saja, melainkan juga untuk kemaslahatan akhirat,” cetusnya dengan penuh optimis.

    Ncera (Part 4)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Sesuatu yang tersembunyi.

    "Alam dan manusia dalam waktu yang sangat lama sudah hidup berdampingan, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang. Tapi bukan dalam cerita avatar, negara api yang dimaksud adalah ketika manusia mulai dikuasai oleh nafsunya sendiri"

    Ncera bukanlah Mesir yang telah membangun Piramid simetris untuk membuktikan keberadaannya, yang konsep bangunannya sampai sekarang masih membingungkan para ilmuwan. Ncera bukan Babilon yang membuat Taman Gantung untuk eksistensinya, bukan kaum Rum yang membuat Coloseum, bukan Yunani yang membuat kuil dengan ukiran rumitnya, juga bukan suku Inca yang membuat Machu Picchu untuk keagungan daerahnya. Tetapi Ncera hanya sebuah desa kecil, yang kecilnya sampai membuat kita tidak bisa melihatnya, bahwa sesungguhnya dia ada dan memanggilmu dalam setiap sujud dan keseharianmu.

    Kita harus mengerti bahwa diatas kecerdasan diri ada kecerdasan sosial (kolektif) yang harus kita temukan dan sadari. Diatas kata 'Tahu', sesungguhnya ada kata 'bisa' yang masih hidup, di atas kata 'bisa' masih ada kata maha bisa. Diatas kata maha bisa masih ada kata bijak yang harus kita selesaikan, diatas kata bijak masih ada kata maha bijak yang menunggu, diatas kata maha bijak masih ada kata pengasih dan di atas kata pengasih masih ada kata maha pengasih yang harus kita pelajari dan praktekkan. Sebuah perjalanan tidak hanya selesai menjadi orang baik, tapi di atas baik tentu harus benar, diatas benar harus arif, dan diatas arif harus ikhlas. Mungkin tidak hanya itu misteri katanya, barangkali masih ada ribuan bahkan jutaan kata yang belum sempat kita cermati dan kita dalami. Begitu juga dengan memaknai Ncera, mungkin tidak cukup huruf, kata, dan kalimat untuk menuangkan semua yang terkandung dibalik Ncera, tapi sungguh ketidaktahuan akan mengantarkan kita pada pijakan pertama untuk menemukan cakrawala dibalik Ncera.

    Kalau Ncera adalah ibu maka kita adalah anak-anak yang di asuh, asah dan di asih olehnya. Kalau dia perempuan maka kita adalah laki-laki yang melengkapi segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau Ncera adalah tanah maka kita menjadi petani yang selalu setia membajak dan membujuknya. Kalau Ncera bermakna baik, berarti Ncera menjadi jalanmu untu menemukan benar, bijak dan ikhlas. Dan pada level tertinggi orang Ncera merupakan orang yang sudah ikhlas untuk tidak bergantung pada sesuatu dan ikhlas melepas sesuatu. Ketika Ncera kita sadari sebagai jalan, maka pada konteks inilah kita menemukan Tuhan dalam memaknai Ncera. Ini bukan kebetulan, kadang kala engkau menemukan segalanya dibalik teks (buku-buku dan segala simbol), tetapi adakalanya sesuatu itu yang mengajari kita untuk mengenali dirinya.

    Kita hanya boleh merencanakan suatu kebutuhan bukan keinginan, Sebab semesta memberi sesuatu kepada kita sesuai dengan apa yang di butuhkan, bukan yang di inginkan. Walaupun aturannya demikian, bukan berarti suatu pencapaian tidak pernah terjadi tampa didahului oleh sebuah keinginan.

    Perumpamaan itu bagaikan kehati-hatian kita ketika berjalan di suatu gang, meskipun sudah sangat teliti dan hati-hati bisa jadi suatu ketika kita akan menyicipi indahnya aspal juga, maka disinilah berlakunya aturan dua arah. Antara sesuatu (subjek) dengan sesuatu (objek). Kadang kala pada satu waktu, sesuatu tidak membutuhkan yang lain untuk hidupnya, sesuatu bisa mengendalikan yang lain, saling membutuhkan antara keduanya, dan dalam satu waktu segalanya bisa saling melengkapi satu sama lain. Berarti antara sesuatu dengan sesuatu mempunyai beberapa bentuk Hubungan. Pertama, sesuatu tidak membutuhkan yang lain. Kedua, sesuatu menguasai yang lain. Ketiga, sesuatu melengkapi sesuatu yang lain. Keempat, sesuatu membutuhkan sesuatu yang lain untuk keberadaanya. Dan begitulah yang terjadi antara Manusia, alam dan Ncera. Mereka berada pada posisi nomor tiga dan empat.

    Apakah manusia bisa hidup tampa alam? Apakah alam bisa hidup tampa manusia? Apakah Ncera bisa hidup tampa alam dan manusia?

    Bersambung.

    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:
    >> Ncera Part 1
    >> Ncera Part 2
    >> Ncera Part 3
    >> Ncera Part 4

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Pengamat Hukum, Sosial, Budaya / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Pesantren

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpeci)
    PEWARTAnews.com – Pesantren belakangan ini menjadi salah satu tema penting. Kendatipun pesantren dicibirkan oleh sejumlah orang, pesantren sebagai institusi genuine milik ummat Islam Indonesia mempunyai tiga misi utama. Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mendidik ummat menjadi insan bertaqwa, insan kamil, insan yang matang, berintegritas, mandiri, dan cerdas holistik. Mengapa demikian, karena pesantren memungkinkan terjadinya praktek pendidikan formal, informal, dan nonformal yang saling melengkapi. Transformasi nilai dapat berlangsung sangat efektif, jauh lebih efektif dibandingkan dengan pendidikan formal.

    Kedua, pesantren sebagai lembaga perjuangan yang mampu lahirkan santri yang memiliki tanggung jawab kebangsaan, semangat jihad fi sabiilillah, hubbul wathon minal imaan. Jika di masa penjajahan, mampu lahirkan santri pejuang untuk rebut kemerdekaan, kini lahirkan santri pejuang dan pembangunan yang mampu pertahankan kemerdekaan dengan melawan pengacau bangsa dan negara serta bekerja total untuk pembangunan bangsa menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafuur. Hanya saja caranya jangan sampai kontraproduktif, sehingga respek terhadap santri tetap terjaga.

    Ketiga, pesantren sebagai lembaga layanan ummat yang mampu menjadikan santri dan institusi menjadi khadimul ummah. Pesantren yang tangguh, seharusnya mampu hasilkan santri yang tanggap dan mampu selesaikan masalah ummat, baik pada tataran pikiran mauapun hasilkan santri yang kompeten respon terhadap masalah ummat. Karena itu pesantren idealnya harus inklusif, bukan ekslusif. Pesantren bagaikan menara air yang memberi kesejukan dan oksigen lingkungan sekitarnya.

    Selain tiga misi utama tersebut, bisa juga dikembangkan dan dimantapkan bahwa pesantren menjadi lembaga dakwah. Terutama di era digital ini, sangat mungkin pesantren menjadi lembaga dakwah, pusat lahirnya kegiatan dan bahan yang mampu didesiminasikan untuk ummat sebagai langkah dakwah yang proaktif, atau pesantren dengan timnya yang mampu merespon semua persoalan yang dihadapi ummat, sehingga pesentren bersifat reaktif dengan membuka hotline.

    Dengan menjaga misi utama pesantren yang sangat berharga ini, insya Allah pesantren tetap menjadi asset ummat Islam yang bisa bertahan dan eksis secara fungsional ilaa akhiriz zaman. Untuk itu perlu terus dijaga, sehingga dapat terhindar dari kehancuran. Aamiin. Kepada-Nya lah tempat bergantung dan mohon bimbingan. Semoga.


    Yogyakarta, 3 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 

    Atlet STKIP Yapis Dompu Raih Medali Emas dan Perak

    Mahasiswa dan Mahasiswa STKIP Yapis Dompu peraih medali emas dan perak.
    Dompu, PEWARTAnews.com -- Kabar gembira datang dari dua pesilat STKIP Yapis Dompu yang mampu meraih medali. Mereka adalah Sri Mulyati Rukmana dan Wahyudin yang merupakan Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

    Kedua atlet tersebut mampu membawa pulang medali emas dan perak dalam perhelatan Pekan Olahraga dan Sains Tingkat Mahasiswa (POSIM) tingkat Provinsi yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Nusa Tenggara Barat. Event akbar tersebut  diselenggarakan di IKIP Mataram mulai 11-20 Februari 2019.

    Sri Mulyati Rukmana mengaku sangat senang dan terharu, pasalnya, Ia tidak pernah menyangka akan menjadi juara dan meraih medali emas. Pengakuannya selama ini Ia berlatih dengan sungguh-sungguh. Begitu pula dengan wahyudin, Ia sangat bersyukur bisa mempersembahkan medali perak untuk Kampus tercinta STKIP YAPIS Dompu. Ia harus mengakui keunggulan pesilat asal IKIP Mataram yang membuatnya puas dengan peringkat kedua.

    Pada kesempatan lain. Sandi Putra Pratama, yang juga sebagai dosen pendamping Sri dan Wahyudin, merasa senang sekaligus bangga karena mendampingi mahasiswa yang memiliki prestasi di tingkat Provinsi. “Alhamdulilah saya dengan senang dan bangga mempunyai mahasiswa yang sudah berprestasi di tingkat provinsi, semoga kedepannya target menuju nasional bisa tercapai” kenangnya.

    Selain itu, Ia juga berharap mahasiswa tetap berlatih karena tiga bulan lagi akan ada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA), dan juga dalam waktu dekat akan ada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Jakarta.  (Bulan)

    Esensi Sabar

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Sabar adalah salah satu sifat terpuji (Akhkaq Mahmudah) yang seharusnya kita miliki. Sabar sangat melekat dengan mushibah (Ashshabru ‘alal mushiibah), baik terkait dengan hilangnya harta benda, buah-buahan (tanaman), bahkan hilangnya jiwa (QS Al Baqarah, 2:155). Mengapa harus sabar, karena kita itu milik Allah SWT, termasuk segala yang sering kita claim sebagai milik kita, apakah uang, harta benda, tanaman yang menghasilkan, bahkan jiwa kita, jika semua atau sebagiannya hilang dan hancur, maka sikap yang terbaik dalam menghadapinya dengan sabar. Ingat bahwa Allah swt tidak akan pernah menguji di luar kemampuan kita.

    Hal lain yang juga diperlukan sabar adalah ketika kita memperoleh karunia atau rizqi, termasuk jabatan (ashsharu ‘alar rizqi). Orang yang tidak sabar dalam menyikapi rizqinya cenderung ingin habiskan rizqi sepuas-puasnya dan secepat-cepatnya, senyampang masih bisa menikmati harta yang ada, sehingga lupa membayar zakat dan boleh jadi kehidupan masa tuanya lebih sengsara.
    Asshabru ‘alat taqwa sangatlah penting dalam kehidupan kita (QS Al Baqarah, 2:153). Hal ini dapat dilihat dengan sabar dan tekun menunaikan ibadah, sholat, puasa, dan sebagainya, sehingga tidak cukup dengan wajibnya saja, melainkan ibadah sunnahnya. Demikian juga sabar mengendalikan diri dari godaan syaitan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

    Terakhir, ashshabru ‘alal jihaad. Kesempurnaan iman dan Islam kita tergantung juga pada kemauan dan kemampuan berjihad. Allah SWT berfirman dalam QS An Nahl, 2:125), ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wal mauidhotil hasanah, wajaadilhum billatii hiya ahsan. Juga dalam QS Al-‘Ashri, 103:3)... Illalladziina aamanuu wa’aamilush shaalihati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish shabri. Keduanya sangat menganjurkan untuk terus amalkan sabar dalam berjihad.

    Menyadari akan banyaknya nilai kebaikan berbuat sabar, maka setiap kita, terutama pimpinan, perlu sekali mengamalkan kehidupan sederhana dan sabar. Demikian juga sebagai staf, perlu sekali sabar menunaikan tugas yang dihadapinya, karena dengan sabar bisa lebih fokus, sungguh-sungguh, dan selesaikan setiap tugas dan masalah yang sulit sekalipun. Insya Allah. Dengan sabar kita lebih bisa hadirkan solusi tehadap persoalan dunia dewasa ini. Kita yakin bahwa Allah SWT bersama orang-orang sabar.


    Yogyakarta, 2 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Selamat Tenggelam dalam Konspirasi Alam Semesta

    Buku "Konspirasi Alam Semesta".
    PEWARTAnews.com – Manusia terbentuk dari impian. Tanpa itu,kita hanyalah robot yang bergerak mengikuti hiruk-pikuk dunia, tapi tidak mengiringi irama yang dilantunkan bumi. Dan impian bukan sesuatu yang absolut. Ia dapat berubah, bertambah, bahkan berkurang.

    Diam dan rasakan debaran jantungku, saat kau ulurkan tangan menolongku. Kepalkan sayapmu, bawa aku terbang luka yang tersisa luruh dalam dekapmu. Pernahkah kau terjatuh secara sukarela? Seseorang akan menangkapmu. Seseorang akan mengajarimu cara tertawa, cara percaya, cara mengeja rasa tak bernama. Seketika itu pula, jagat raya berhenti bergerak. Jiwamu terbakar, ragamu  lebur, dan dirimu hanya bisa menyerah, karena tahu kau menyerah pada orang yang tepat. Aku milikmu hari ini, esok dan nanti.

    Kutitip rindu disela malam, berharap esok pagi kau ambil disudut langit. Menaruh angan dalam warnamu, tak hendak kulepaskan kenangan yang merantaiku. Berlarilah, aku akan mengejarmu. Sembunyilah, aku akan temukanmu. Membekulah, aku aka menunggumu luluh. Karena aku tahun kau yang pantas untuk hatiku.

    Manokwari, 20 Mei; Aku rindu hujan seperti aku merindukanmu. Sudah lama aku tidak memandang rintiknya memeluk bumi. Di Papua, semua terasa seperti musim panas ceria yang menyembunyikan sekelumit derita masyarakatnya. Mereka yang terus dikeruk hasil alamnya, ialah mereka yang sama yang sulit mengecap pendidikan dan pembangunan. Tapi, itu tidak berarti masyarakat papua tertinggal, sama sekali tidak. Di sini aku juga bertemudengan banyak orang pintar. Salah satunya kawan baruku, kak desi, seorang tenaga pengajar di Unipa. Dia pernah melanglang buana higga ketanah para Daeng demi menuntut ilmu. Aku mengagumi dia dan cita-cita luhurnya yang ingin mencerdaskan putra putri Papua. Anehnya, media tak pernah mengangkat soal kecerdasan anak-anak timur. Mungkin aku yang tidak pernah lihat, atau mungkin beritanya kalah pamor dengan hal-hal yang berbau pariwisata. Aku berjanji akan meliput lebih banyak soal ini. Bagaimana kabarmu dan papa? (hlm 65).

    Jauh adalah salah satu kata yang membuatku berani melihat, mengecap, dan menyambangi hal-hal baru. Di saat yang sama, “jauh” juga menjadi hal yang menakutkan bila itu terkait denganmu. Tapi, aku beterimakaish pada “jauh”. Karenanya, aku tahu bahwa aku merindukanmu. Dan jika rasa ini tak bernama, aku yakin hangatnya akan tetap sama, dan pemiliknya akan tetap engkau.

    Suatu ketika, tatkala bintang kejora meredup dilahap sang fajar, aku teringat pada sebuah kota tempat aku dan kamu bertemu, tempat kita memupuk asa. Dengan sekoper permintaan maaf, setumpuk penjelasan, dan segudang kerinduan, aku akan pulang pada pelukanmu, Ana Tidae.

    Orang-orang bilang ia memliki ingatan fotografis. Ia masih mampu merekam jelas suasana pantai Santolo yang ia lihat ketika TK-cinta pertamanya pada Indonesia. Ia masih mampu merekam jelas sala satu episode hidupnya saat berusia delapanbelas tahun, kala seorang anak bongsor memukulinya karena alasan yang tak ia pahami. Ia masih mampu merekam jelas mimik salah satu guru SMP-nya yang berang, sewaktu ia mengacungkan jari tengah sehabis guru itu memberikan pernyataan bahwa ia berasal dari keluarga eks-tapol tentu saja pada saat itu ia belum mengerti apa arti dari kata ‘eks tapol”, yang ia mengerti adalah hampir semua tetangga membenci keluarganya hanya karena semata “gelar” tersebut.

    Juang merupakan anak sulung dari keluarga yang sering dijuluki sebagai keluarga eks tapol, dia mempunyai adik bernama Fatah Dublajaya yang selalu mengangguk mengikuti kehendak sang ayah. Sedangkan Juang Astrajingga menolak hidup normal dengan pendapat tetap. Baginya, “normal “ versi sang ayah sangat membosankan, ia sudah menunduk tetapi tidak mau lagi diatur. Juang juga merupakan seorang pemuda yang telah medapat gelar sarjana Teknik Informatika tetapi berprofesi sebagai seorang jurnalis. Juang memang pemuda yang dulunya sudah terbentuk menjadi pemuda yang kritis berkenalan dengan organisasi kampus semasa ia kuliah. Terkadang Juang terpikat pada dunia sastra pada masa-masa akhir perkuliahannya.

    Ibunda Juang adalah wanita sederhana yang senantiasa mengingatkannya agar beribadah dan tak lupa Tuhan. Sesuatu yang telah lama tidak ia turuti. Tatkalah Juang pergi dari rumah, tiga tahun silam, sehabis bertengkar hebat dengan ayahnya karena perbedaan pendapat, hanya mata ibu yang berkaca-kaca yang memberatkan langkahnya melakukan petualangan gila-dengan cara menggembel-ke daratan Sulawesi. Pada akhirnya, ia tetap berangkat selepas mengecup kening sang bunda dan meyakinkan bahwa dirinya akan menjadi seorang yang berguna.

    Juang memiliki seorang kekasih bernama Ana Tidae yang akhirya berhasil ia nikahi selepas ia memantapkan diri dan menyelesaikan Film Dokumenter yang mengangkat sejarah papua. Mereka berdua sempat menjalani hubungan jarak jauh pada saat itu. Tetapi mereka tetap berusaha menjaga komitmen. Bahkan Juang rutin mengirimkan surat kepada kekasihnya Ana Tidae. Sampai pada suatu hari Ana tidak mendapat pesan dari Juang Astrajingga. Tidak mendapatkan pesan dari kekasihnya, Ana sangat panik. Ia berusaha menghubungi kantor Juang. Sampai sebuah pesan masuk diponselnya.

    Kisah cinta yang begitu rumit. Apakah kisah Ana dan Juang akan berakhir bahagia? Atau justru cinta mereka akan hilang karena ditenggelamkan dalam konspirasi alam semesta?

    Novel konspirasi Alam Semesta merupakan Albuk. Jadi novel ini punya perlengkapan sebuah lagu. Album yang terdiri dari beberapa lagu yang beberapa liriknya tertuang dalam novel ini. Sandarkan punggung, dengarkan lagu mengiringi baris demi baris kata adalah cara teristimewa menikmati konspirasi alam semesta.

     Juang merupakan sosok pemuda yang sangat menarik terlahir dari keluarga yang ayahnya dijuluki sebagai seorang  eks tapol, yang membuat ia sempat memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Hubungannya dengan ayahnya sangat dingin, tetapi Juang sangat menyayangi ibunya, yang mampu membuat Juang kembali pada keluarganya.

    Membaca perjuangan Ana dan Juang juga sangat menyentuh hati. Terlebih lagi pada saat Ana dihadapkan dengan sebuah penyakit dan ia hanya menutupinya dari Juang, ia tidak tega memberitahukan karena ibunda Juang pada saat itu baru saja meninggal. Belum lagi muncul kesalapahaman yang membuat hubungan mereka renggang. Ada ego yang harus di taklukkan

    Konspirasi alam semesta tidak hanya bercerita tentang cinta dan asmara, melainkan mengangkat cerita keluarga yang begitu menyentuh hati pembaca. Membaca banyaknya kontradiksi yang ada pada novel ini membuat pembaca benar-benar meneteskan air mata. Keteguhan ayah Ana yang sangat luar biasa dalam menyelamatkan nyawa putrinya. Novel ini mampu membuat pembaca menyadari bahwa sosok seorang ayah dan ibu teramat penting bagi seorang anak. Karena mereka adalah nafas alam semesta.

    Dari seorang Juang kita juga belajar tentang pribadi yang sangat mengutamakan kepentingan sosial, berjiwa besar dan pekerja keras dengan segala keyakinan dan kepercayaan untuk meraih kesuksesan. Memiliki sahabat yang sangat memperdulikannya walaupun Juang telah tiada.

    Konspirasi alam semesta mampu membuat pembaca terus membuka halaman demi halaman untuk membacanya sampai-sampai pembaca tidak bisa menebak akhir dari ceritanya kecuali membacanya sampai halaman terakhir (jebakan alam semesta).

    Identitas Buku:
    Judul : Konspirasi Alam Semesta
    Penulis : Fiersa Besari
    Penyunting : Juliarga R.N.
    Penyunting Akhir : Agus Wahadyo
    Desainer Cover : Budi Setiawan
    Penata Letak : Didit Sasono
    Cetak Keenam, 2017
    Diterbitkan Pertama Kali oleh: Mediakita

    Peresensi: Nurjadidah
    Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Negeri Mataram (UNRAM)


    Musibah Lion Air JT 610

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (memakai jas)
    PEWARTAnews.com – Sabda Rasulullah saw dalam Haditsnya, berbunyi “I’mal lid dun-yaaka kaannaka ta’isyu abadan, wa’mal li akhiratika ka annaka tamuutu ghadan”, yang artinya, bekejalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selama-lamanya, dan beramal lah untuk akhiratmu seakan-akan besuk kau akan mati. Demikian juga firman Allah SWT, “faidzaa jaa-a ‘ajaluhum laa yasta-khiruuna walaa yastaqdimuun”, yang artinya, maka apabila telah datang saat kematian, maka tidaklah kamu mampu menunda saat kematian atau mempercepatnya” (QS Al A’raf, 34).

    Hadits Nabi saw dan Firman Allah swt ini terasa sekali memiliki relevansi yang sangat tinggi bagi semua yang menjadi kurban Lion Air JT 610 yang mengalami musibah tanggal 29 Oktober 2018. Sebagian besar di antara mereka bersemangat untuk tunaikan tugas dalam mencari nafkah yang halal demi diri dan keluarganya serta lembaganya, pada waktu yang sama mereka juga tidak bisa abaikan berdoa dan beramal sholeh untuk bekal, jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya untuk selama-lamanya. Apalagi di kantong tempat duduk di Lion Air selalu tersedia leaflet Tuntunan Doa untuk beberapa agama yang tidak selalu ada di pesawat terbang lainnya. Beruntunglah penumpang yang selalu manfaatkan leaflet itu dengan tambahan doa lainnya, sebelum take off dan selama penerbangan.

    Semoga setiap memulai perjalanan dengan transport apapun, kita selalu sempatkan berdoa, semoga Allah SWT melindungi keselamatan kita. Aamiin. Akhirnya kami berduka yang sedalam-dalamnya atas mushibah Lion Air JT 610 dan ikut berdoa, semoga semua penumpang husnul khaatimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya, dan diterima di sisi-Nya. Demikian pula keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 31 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website