Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Menyoal Revolusi Mental

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Revolusi Mental merupakan salah satu Nawacita sempat menghentak hati dan pikiran seluruh anak bangsa. Revolusi Mental juga wujud ide cerdas. Namun dalam  perjalanannya semakin tak terdengar (dibandingkan dengan awal-awal launching) di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia. Padahal semua anak bangsa terus menanti hasilnya. Ada apa dengan Revolusi Mental?

    Setidak-tidaknya ada tiga lesson learned dari dunia luar yang bisa kita jadikan renungan. Pertama, bahwa Pembaharuan Pendidikan Abad ke-21 di Amerika Serikat lebih difokuskan kepada (1) academic achievement, (2) improvement in school climate, (3) increased school safety, and (4) the development of a morally-educated citizenry. AS belakangan mulai memberikan perhatian terhadap persoalan religisiusitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Howard Gardner yang mengangkat Ethical Mind sebagai salah satu dari 5 Minds for the Future.  Padahal pada awal kesejarahan menghasilkan seven intelligence tidak mau mengakui aspek spiritual.

    Kedua, bahwa Guangdong University of Foreign Studies, China dibangun dan dikembangkan berdasarkan tiga nilai, yaitu (1) Moral integrity, (2) Exemplary behavior, and (3) Conversance with Both  Estern and Western Learning. Universitas bertumpu pada dua nilai moral dari tiga nilai yang merupakan suatu langkah revolusi mental di China.

    Ketiga, bahwa di tengah-tengah kehidupan jahiliyah keimanan, Rasulullah saw yang dibangkitkan di atas bumi, semata-mata hanya untuk menyempurnakan akhlaq. Muhammad saw berhasil keluarkan insan dari kegelapan menuju ke alam yang terang. “Fa akhrijnaa minadz-dzulumaati ilannuur”. Mengeluarkan manusia dari alam kegelapan, yang diwarnai dengan perilaku syirik, menuju ke alam yang terang,  tersinari cahaya karena diwarnai dengan akhlaq mulia (akhlaqul kariimah).

    Dari tiga lesson learned dapat diperoleh pelajaran yang sangat berharga.  Bahwa solusi yang paling strategis dan relevan untuk menghadapi warga dan masyarakat yang krisis moral di manapun adalah Revolusi Mental. Untuk mewujudkan Revolusi Mental yang efektif, perlu diupayakan gerakan pendidikan karakter. Yang melibatkan semua ragam stakeholders. Terutama melalui semua jalur, jenjang, jenis dan satuan pendidikan. Prakteknya  memang tidak mudah. Karena sudah terbukti bahwa sehebat apapun institusi pendidikan belum bisa berhasil membangun karakter bangsa jika tidak didukung dan partisipasi dari semua sektor dan rakyat Indonesia.

    Walaupun belum bisa dikatakan sukses kebijakan Revolusi Mental selama ini, yang dibuktikan dengan masih banyaknya tindakan korupsi, tindakan kriminal, kejahatan moral dan sebagainya. Namun kebijakan ini dirasakan masih sangat diperlukan. Tinggal melakukan adaptasi dan pembaruan spirit semuanya, terutama para pimpinan di semua sektor dan level serta masyakat terlibat dalam praktek kehidupan sehari-hari. Dukungan keluarga, masyarakat (tokoh), rumah ibadah dan media massa sangat berarti. Pembangunan manusia untuk bisa lebih berkarakter dan bermartabat merupakan upaya sangat penting.


    Yogyakarta, 20 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    De Winst dan Kisah Perjodohan Rangga dan Sekar

    Novel De Winst.
    PEWARTAnews.com -- Vakuola memorinya. Agar ia terbebas dari getar-getar yang indah, namun berpotensi menghancurkan seluruh hidupnya. Menebas cita-cita yang telah lama ia pahatkan dalam pohon jiwanya.

    Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara, merupakan seorang pemuda dari keturunan bangsawan. Ia merupakan pemuda yang kini telah menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi dengan pujian tertinggi dari profesornya di Rijksuniversiteit Leiden, hasil yang sangat gemilang, bukan saja karena ia mendapatkan nilai tertinggi, namun juga karena ia seorang Bumiputera, Inlander. Bagi Profesor Johan Van De Vondel, Rangga lebih dari seorang Nederland.

    Rangga merasa tersanjung ketika Profesor Johan Van De Vondel yaitu guru besar yang terkenal bengis kepada mahasiswanya,  mengunjungi rumah sewaannya, yaitu sebuah rumah tua yang disewa bersama dengan kedua temannya yang berasal dari Bandung dan Makassar. Saat berkunjung Profesor Johan Van De Vondel mengatakan “Anda kebanggan Universiteit ini. Saya berharap, Anda tak hanya dimiliki oleh Indische, tetapi juga dunia. Suatu saat, saya yakin, bila Anda akan mengembangkan ilmu Anda, Anda akan menjadi seorang pemikir kelas dunia, seperti Adam Smith, David Ricardo, atau yang lainnya.

    Ucapan Profesornya masih terbayang-bayang dalam pikiran Rangga. Saat Rangga tengah menempuh perjalanan pulang menuju Indonesia, yaitu dengan mengendarain kapal api, ia mendapatkan satu nama lagi yang masuk dalam bursa pencapain yang diharapkan melekat padanya. “Mengapa kau tidak berpikiran tentang Karl Marx?”. Suara yang mengejutkan Rangga yang terlontar dari bibir seorang gadis berambut jagung itu. Bukan peluncurannya adalah seorang wanita, namun juga karena ia adalah seorang Nederlander yang berasal dari kalangan yang dekat dengan kekuasaan. Tidak lazim seorang bangsawan istana oranje menyebut-nyebut nama penulis buku Das Kapital itu.

    Gadis berambut jagung itu bernama Everdine Kareen Spinoza, gadis yang ia temui dikapal, dan menjadi teman safar yang menyenangkan. Bagi Rangga Kareen merupakan gadis yang teramat istimewa. Rambutnya yang pirang seperti rambut jagung, dan matanya yang tampak begitu bening, seperti permata biru yang bersinar cemerlang.  Pelapis tubuhnya laksana pualam putih yang halus dan terseliput cahaya kemerahan. Yang membuatnya begitu terlihat mempesona adalah keramahannya. Pada saat itu Rangga menyukai Kareen. Bahkan saat perpisahan mereka di kapal mereka saling memberikan kenangan satu sama lain. Rangga mendapatkan Horloge sebagai kenanagan dari Kareen dan Kareen mendapatkan Cundrik yaitu keris berukuran kecil. Sebenarnya itu bukan hadiah yang seharusnya diberikan seorang pemuda kepada wanita. Tetapi Rangga tidak punya pilihan lain.

    Bagaimana keberlanjutan kisah mereka? Apakah akan berakhir bahagia? Atau malah sebaliknya kisah mereka akan dibanjiri air mata?

    Setelah sampai di Solo, Rangga senang akhirnya ia bisa melepaskan kerinduannya dengan keluarga. Terkhusus kepada ibundanya. Ibunya sangat menyayangi Rangga dengan sepenuh jiwa begitupun Ayahandanya. Tetapi, rasa bangga itu tak ditunjukkan oleh sang Ayah karena suatu alasan yaitu tradisi. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryanegara, merupakan Ayah dari Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara. Ayah Rangga merupakan orang dari kalangan bangsawan yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakatnya. Karena kedisiplinan dan kepatuhannya akan tradisi dan adat yang ada. Terlepas dari itu, bagi Rangga Ayahnya merupakan orang yang sangat baik. Tetapi sifat egois Ayahnya, yang sering kali membuat pemikiran Rangga sering kali bertolak belakang dengannya.

    Di sini Rangga di suruh Ayahnya untuk bekerja di pabrik gula “De Winst”. Dimana yang berkuasa adalah orang-orang berkulit putih.  Meskipun Rangga adalah Inlander tetap saja ia termasuk dalam orang-orang dengan golongan ke dua. Di pabrik “De Winst” Rangga menjabat sebagai seorang asisten admistratur untuk bagian pemasaran. Tuan Edwar Biljmer adalah pimpinan pabrik gula “De Winst”. Dia sangat baik dan ramah dibandingkan dengan pegawai pabrik “De Winst” yang lain.

    Pagi tadi saat menemui tuan Edwar Biljmer, dijalan pulang Rangga berpapasan dengan seorang pemuda yang juga tanpan, bahkan lebih tanpan darinya. Ternyata pemuda itu bernama Kresna. Seorang pemuda yang datang dan pergi sesuka hatinya. Tetapi, memiliki pemikiran yang sangat cerdas.

    Setelah resmi bekerja di pabrik gula “De Winst” Ayah Rangga kembali membahas masalah  perjodohan antara Rangga dan Sekar. Meskipun Rangga menolak hal ini tetapi Rangga tidak bisa menunjukkan perlawanannya kepada sang Ayah. Berbeda dengan Sekar, ia malah terang-terangan menunjukkan ketidaksetujuannya dengan perjodohannya dengan Rangga. Dulu, saat mereka dijodohkan, mereka masih sangat kecil sehingga mereka belum mengerti dengan yang namanya perjodohan.  Disisi lain mereka berdua telah memiliki tambatan hati mereka masing-masing. Rangga mencintai Kareen, dan Sekar mencintai seorang pemuda bernama Jatmiko. Kareen merupakan saudara sepupu Rangga sendiri. Tetapi karena perjodohan itu, hubungan mereka berdua menjadi tidak begitu akur.

    Sekar adalah gadis cantik yang meiliki idealism yang sangat tinggi. Meskipun ia seringkali dikurung oleh Ayahnya karena ia tak mau sungkem. Menurut Sekar ia tidak mau melakukan suatu hal yang menurutnya tidak benar. Bahkan ia juga dikurung karena sikapnya yang tidak menghargai Rangga saat Rangga tengah berkunjung kerumahnya untuk membicarakan masalah perjodohannya dengan Rangga. Ia harus belajar membuat batik dengan sangat indah saat di pengasingan. Tetapi ia menolaknya.

    De Winst yang tengah mengalami krisis akibat persaingan global, harus merasa kehilangan tuan Edwar Biljmer yang harus pindah ke Negara asal karena ia harus mendapatkan kesempatan untuk meneruskan kuliahnya. Pabrik gula “De Winst” akhirnya mendapatkan pimpinan baru yaitu pengganti tuan Edward Biljmer. Kabarnya ia juga seorang pemuda dari bangsa kulit putih. Maneer Thjis akan menggantikan saya sebagai kepala pabrik gula “De Winst” kata tuan Edward. Rangga kaget mendengar hal itu ia khawatir pemuda yang akan menggantikan tuan Edward adalah pemuda yang sama yang pernah ia temui di pesta dansa dulu. Ternyata kekhawatirannya benar. Saat mengetahui hal itu, Rangga sontak ingin berhenti bekerja di pabrik gula “De Winst”. Terlebih lagi setelah ia tahu bahwa Maneer Thijs adalah suami dari Everdine Kareen Spinoza yaitu perempuan yang telah membuat hatinya bergejolak.

    Sebelum ia akhirnya berhenti bekerja di “De Winst” ia bertemu seorang perempuan bernama Pratiwi, seorang gadis yang dengan gagah berani mewakilkan dirinya sebagai utusan rakyat. Ia pernah berhadapan dengannya saat pratiwi tengah bernegosiasi terkait permintaan rakyat yang mengharapkan kenaikan sewa tanah kepada pabrik “De Winst”. Rangga kagum melihat keberanian gadis itu. Tetapi maneer Thijs hanya membalas permintaan gadis itu dengan nada marah, dan malah mengancamya. Tetapi saat itu Rangga membela gadis itu karena ia menilai bahwa apa yang di tawarkan gadis itu sangat masuk akal dan wajar.

    Dari novel De Winst kita mengambil sebuah pelajaran bahwa memaksakan kehendak orang tua kepada anaknya juga bukanlah hal yang baik. Anak perempuan seharusnya di didik dengan cara yang lebih baik, memperlakukannya dengan cara yang keras malah akan membuat mereka tertekan. Selain dari hal diatas dari novel ini kita juga dapat melihat bahwa seorang perempuan juga bisa selayaknya laki-laki. Kepribadian Sekar yang tegas, berkomitmen, dan cerdas mampu menujukkan hal itu. Novel De Winst juga mengajarkan kepada kita bahwa menjadi seorang manusia haruslah bijaksana dan selalu menghargai orang lain serta memperdulikan sesama, seperi karakter Rangga. Meskipun ia anak dari keturunan bangsawan ia tetap rendah hati dan tidak angkuh.


    Identitas Buku:
    Judul : De Winst
    Penulis : Afifah Afra
    Penyunting : Khalatu Zahya
    Desainer Cover : Andhi Rasydan
    Ilustrasi : UDInur-Andhi-NasSPur
    Penerbit : Afra Publishing
    Kleompok Penerbit Indiva : Media Kreasi
    Peresensi : Nurjadidah




    Sabarnya Seorang Pemimpin

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Banyak pemimpin tidak sabar dalam mengerjakan programnya, mengejar promosi karirnya, menghadapi bawahan, koleganya, dan atasannya dan lain sebainya. Akibatnya kepemimpinan mereka tidak berjalan lancar dan baik, juga tidak mampu tampilkan kemajuan yang berarti. Secara kasuistik kepemimpinan bisa menjadi  gagal, bahkan karirnya ada yang habis. Karena itu sabarnya pemimpin dalam menghadapi berbagai persoalan, terutama persoalan  yang berat, sangatlah diperlukan.

    Kesabaran pemimpin sangat diperlukan ketika menghadapi persoalan yang kompleks. Ketika SDM handal yang dimiliki terbatas. Ketika menghadapi mitra yang asetnya kurang memadai. Ketika ditekan oleh  atasan untuk melakukan sesuatu yang tidak cocok dengan dirinya. Ketika menghadapi persoalan kantor yang amburadul.

    Manifestasi sabar dapat dilihat dari keikutsertaan pemimpin dalam antri, tanpa harus minta diprioritaskan. Pemimpin tidak pernah marah di depan staf, ketika stafnya berbuat salah dan keliru. Pemimpin menerima kegagalan stafnya tanpa marah, ketika staf tidak berhasil menyuguhkan karya terbaik. Pemimpin menerima musibah kehilangan uang kantor di brankas tanpa memojokkan bidang keuangan.

    Pemimpin yang tidak sabar, cenderung menghalalkan segala cara untuk memenuhi obsesinya. Mengorbankan anak buahnya terkena PHK. Merugikan institusinya karena tidak dikelola secara penuh. Mengganggu perjalanan kemajuan mitra kerja karena tidak adanya kemampuan mengikuti kecepatan kerja mitra.

    Apapun kesulitan yang dihadapi pimpinan akan bisa diselesaikan dengan baik, sepanjang pimpinan itu mampu tunjukkan kesabaran. Dengan sabar Allah akan beri bantuan. Ingat  Allah bersama orang-orang yang sabar (QS,  Al Baqarah:153). Kebersamaan yang dimaksud  oleh Allah adalah kebersamaan secara khusus yang berarti menjaga, melindungi, dan menolong mereka. Demikian juga, bahwa sabar mewariskan derajat kepeloporan dan kepemimpinan.  Sebagaimana  Allah swt firmankan “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar...”(QS As Sajdah:24).

    Perhatikan bahwa sabar itu sangat penting bagi pemimpin. Kita lihat mushibah yang terjadi di Indonesia, dijumpai sejumlah tokoh  muda guling di tengah jalan. Banyak dipastikan sebagian besar dari mereka masa depan karirnya di bidang yang sama cenderung suram karena trust turun secara signifikan. Kecuali mereka melakukan revolusi mental secara all out. Percayalah bahwa Allah swt akan membersamai dan melindungi serta membimbing pemimpin yang sabar. Pemimpin yang hebat pasti banyak dan berat ujiannya. Ujian bagi pemimpin hebat tidak pernah berakhir. Tidak hanya fitnah, melainkan juga serangan fisik sampai pertaruhan jiwa. Lebih berat lagi serangan ideologi. Jika tidak sabar, yang jadi korban tidak hanya pemimpin sendiri, melainkan institusi. Semoga kita, terutama pemimpin kita, selalu sabar dalam penjagaan Allah swt.


    Yogyakarta, 19 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bahasa Bima Hampir Punah (Part 3) -- Memaknai Kata "Ta"

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Marilah sejenak kita belajar pada imperium Yahudi dengan gerakannya, meskipun zionis bukan berarti yahudi. Tapi ada hal menarik yang kita temukan dibalik kekuatan yahudi saat ini. Kenapa agama tersebut begitu besar secara kualitas bukan kuantitas? Salah satu jawaban yang tidak bisa dibantah adalah bahasa. Mereka mempelajari kembali bahasa nenek moyang mereka yang hampir mulai punah, setelah dipelajari lalu dijadikan bahasa pemersatu dan persatuan oleh kekuasaan sampai sekarang. Baiklah, kita tinggalkan yahudi dan kekuatannya, mari kembali ke bahasa Bima dan eksistensinya. (kalau mau mencari referensi yang kompeten tentang yahudi dan kekuatan bahasanya, silahkan cari di internet dan litratur yang ada).

    'Mada dou Mbojo ta' (saya orang Bima), setiap kata atau kalimat dalam bahasa Bima yang di akhiri dengan kata 'ta' selalu berimplikasi pada proses dan hasil komunikasi etik, romantis dan indah. Percaya atau tidak. Meskipun kalimat 'Nggomi ke sama labo sahe ta (kamu kayak kerbau)' terlihat negatif, tetapi ketika dibelakang kata 'sahe (kerbau)' itu ditambah kata 'ta' maka dia tetap bermakna agak halus daripada tidak ditambah kata 'ta'. Dan kalau dimasukkan kata 'ta' kemungkinan besar lawan bicara kita tidak akan marah, kalapun dia marah, kemarahan tersebut tidak seperti ketika kalimat itu dilontarkan tampa kata 'ta'. Tergantung orang yang menerima kalimat itu bukan tergantung pada frase kalimatnya. Konteksnya berbeda. Karena kita tidak sedang membicarakan psikologi manusia, tapi kita lagi membicarakan psikologi bahasa.

    Kata 'ta' itu apa?

    Kata 'ta' dalam litelatur bahasa Bima merupakan kata bantu untuk mempertegas dan memperjelas sesuatu. Selain itu, kata 'ta' juga sebagai identitas etik dari suatu kalimat. Secara fungsi kata 'ta' sama seperti kata 'nya' dalam bahasa Indonesia. Tapi kata 'ta dan kata 'nya' jelas berbeda secara konteks dan filosofi. Kalau kata 'nya' dalam bahasa Indonesia lebih mempertegas sesuatu yang ingin disampaikan oleh kalimat, tetapi kata 'ta' dalam bahasa Bima tidak hanya mempertegas suatu kalimat, namun juga lebih kepada nilai dan etika kalimat.

    Dari mana kata 'ta' itu?

    Secara teks, kita kewalahan untuk menemukan kata 'ta' itu dari mana asal sejarahnya, bagaimana proses terbentuknya dan untuk apa kata itu di munculkan. Tapi yang jelas, bahasa merupakan salah satu hasil dari akulturasi kebudayaan yang ada. Kata 'ta' tidak hanya kita temukan diwilayah Bima, tetapi juga kita temukan di sulawesi, jawa dan sumatra. Bahkan hampir semua daerah selalu mempunyai kata bantu 'ta' dalam kehidupan bahasa nya. Selain itu, dalam pembahasan kali ini, kita tidak terfokus pada teks sejarah, akan tetapi mencoba untuk fokus pada makna sejarah, dalam hal ini makna kata 'ta'. Namun makna tidak bisa hidup tampa teks? Memang iya, karena sekarang teks nya sudah ada yaitu bahasa itu sendiri.

    Kata 'ta' dan cinta

    Mungkin kita akan bertanya tentang bagaimana keterkaitan kata 'ta' dengan kata cinta, kenapa dia disadingkan, dan kenapa dicocok-cocokan. Kita harus mulai merenungi bersama bahwa dunia materi dalam hal ini bahasa merupakan suatu dimensi yang terpola antara satu dengan yang lain dalam membentuk sesuatu. Sejak awal mereka sudah terkoneksi dengan materi-materi yang lain. Semisal Ketika manusia tidak punya belas kasihan kepada makhluk Tuhan yang lain, maka makhluk itu juga tidak punya belas kelasihan kepada manusia, seperti gempa, tsunami dan lain sebagainya. Semua itu karena sistem kerja dari polarisasi tersebut. Sebenarnya tugas keilmuan kita tidak hanya menemukan pola, tetapi berusaha menyadari bahwa mereka juga berdialetik seperti manusia. Meskipun dalam pencarian atas pola itu membutuhkan energi, kesiapan dan waktu. Bukan berarti kita hanya tertujuh untuk menemukan pola, namun pekerjaan akademik kita harus berorientasi pada terbentuknya keteraturan dan keseimbangan dalam kehidupan bukan malah sebaliknya. Begitu juga dengan kata 'ta' dan kaitannya dengan cinta. Penerjemahan ini berorientasi pada keteraturan dan keseimbangan.

    Menurut kami kata 'ta' diambil dari kata cinta, kata cinta itu kita ambil dua huruf dibelakang nya yaitu 'ta' (Cin-ta). Kenapa bisa begitu? Bisa-bisa saja kalau kita menyadari polarisasi tadi. Selain pola, orientasi penerjemahan terfokus pada keteraturan dan keseimbangan, maka dari itulah penulis mempolarisasinya sampai ke cinta. Tidak ada yang benar-benar serius dan tidak ada yang benar- benar kosong. Tetapi terlepas dari itu, sesungguhnya suatu kata dan kalimat yang di akhiri kata 'ta' berarti didalamnya bermanisfestasi sistem etik dan estetik. Sedangkan satu-satunya nilai yang menawarkan sistem itu hanyalah Cinta. Kita bisa bayangkan ketika kalimat 'Mada dou Mbojo ta (saya orang Bima)' dilontarkan oleh seseorang kepada kita. Pasti getaran energi posistif dibalik penyampaian itu kita rasakan. Tentu sesuatu yang dapat mengantarkan energi positif hanya sesuatu yang positif. Dan puncak dari segala sesuatu yang positif adalah cinta. Jangan percaya, kita hanya perlu untuk ragu!

    Coba kita mulai berfikir secara serius, bahwa setiap kata dan kalimat yang di akhiri dengan kata 'ta' itu kemungkinan besar membuat lawan bicara mu merasa sejuk dan nyaman dengan mu. Dalam kajian bahasa tentu ini merupakan hasil dari proses pemilihan kata yang baik dan benar. Kenapa orang lain merasa nyaman dan tenang, berarti karena pemilihan kata dan proses penyampaikan kalimat mu. Dan dalam hal ini kata 'ta' menjadi simbol suatu kalimat yang akan mengantarkan penyampaian supaya diolah secara sehat oleh lawan bicara mu. Kalau sudah di olah secara sehat oleh lawan bicaramu maka dia akan merasa nyaman dan tenang denganmu.

    Kata 'ta' dan huruf 'Tha' dalam Hijaiyah

    Mari kita mengembara ke huruf hijaiyah, huruf 'Tha' dalam hijaiyah terletak di posisi nomor tiga dari huruf Alif, dan Ba'. Secara epistimologi tasawuf, huruf alif merupakan representasi Tuhan (Allah), huruf Ba' representasi Nur Muhammad yang berasal dari Allah, itu ditandai dengan adanya satu titik di bawah huruf Ba', sedangkan huruf 'Tha' itu di reprentasi nabi Adam dan Hawa yang di ciptakan, itu ditandai dengan adanya dua titik di atas huruf Tha. Berarti huruf Tha terbentuk karena Cinta Allah dan Nur muhammad. Dan keterkaitan kata 'ta' dengan huruf 'Tha' merupakan suatu proses cinta antara sesama manusia yang menyadari bahwa diri mereka dari rahim yang satu yaitu adam dan hawa. Ketika kita mengacu pada makna ini, berarti setiap mereka yang menggunakan kata 'ta' dalam semua komunikasinya menyadari dirinya sebagai reprentasi cinta Allah dan Nur Muhammad lewat Adam dan hawa, lalu berupaya menebarkan cinta kasih itu lewat kata dan kalimat. Masa seperti itu? Berbicaralah atas nama cinta, maksudnya, apa yang kita sampaikan ke orang lain harus mulai dari cinta (hati), memilih diksi yang mewakili cinta dalam hal ini 'ta' serta tindakan yang bernilai cinta.

    Kenapa kalimat 'nahu ne,e nggomi' tidak pas untuk di masukkan kata 'ta' nya.? Karena pernyataan 'ne.e' (cinta) tidak boleh diwakili oleh kata 'ta'. Ne'e hanya bisa di wakili oleh kata 'ne'e'. Tapi apabila seseorang butuh penegasan berulang kata 'ta' bisa digunakan. Selain itu, konteks umur dan keadaan seperti pembahasan sebelumnya sangat mempengaruhi kalimat 'nahu ne.e nggomi' tidak dimasukkan kata 'ta'. Kecuali kita mengungkapkan perasaan itu ke orang yang lebih tua dari kita, baru kata 'ta' itu berlaku.  Tulisan ini mewakili dirinya sendiri, dia tidak mewakili apapun. Dan sebagai penutup, Tulisan ini sesunggunnya tidak baku, tetapi mungkin bisa menjadi pijakan awal kita untuk menemukan samudra makna dari suatu kata dan kalimat. Jangan percaya, kita hanya butuh untuk ragu.!

    Wallahualam bishawab.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Keluarga Bahagia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Keluarga bahagia merupakan idaman semua orang. Tak seorangpun yang tidak memimpikan dan mengharapkan keluarga bahagia. Hingga muncul  Rumahku Syurgaku (Baity Jannaty). Makna keluarga bahagia bisa bersifat normatif dan bersifat relatif. Tergantung atas pandangan hidup setiap keluarga. Ada yang berorientasi material dan non material. Bagaimana dengan definisi keluarga bahagia menurut masing-masing di antara kita?

    Menurut hemat kami makna keluarga bahagia adalah keluarga yang mampu menciptakan cinta, kasih sayang, dan kedamaian dan saling memberikan cinta dan kasih sayang di antara semua anggota keluarga. Juga yang selalu dalam  kebersamaan dengan kualitas waktu. Kebersamaan bisa terjadi pada waktu sarapan, makan malam, rekreasi, ibadah atau waktu silaturahmi dengan keluarga besar dan handai taulan. Sebaliknya keluarga bahagia bukan diukur harta benda yang dimiliki saja, pangkat dan jabatan yang diduduki saja, atau keturunan terhormat saja. Bahkan tidak sedikit dijumpai di tengah-tengah masyarakat orang tidak kaya raya, tidak memiliki kedudukan atau jabatan, atau bukan keturunan orang terhormat tapi dapat membangun keluarga bahagia.

    Memiliki keluarga bahagia itu penting
    karena keluarga bisa menenuhi kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual seluruh anggota keluarga. Seseorang itu akan dinilai  berdasarkan kondisi keluarganya. Kehidupan keluarga akan menjadi lebih baik secara internal maupun eksternal. Menjadi kebanggaan bagi seluruh anggota keluarga.

    Ada sejumlah hal yang menandai suatu keluarga bahagia, yaitu (1) Keluarga memiliki hirarkhi keluarga yang jelas, (2) Anak merasa aman bicara dengan orangtua, sekalipun dia komplain, (3) Anak memiliki identitas keluarga yang kuat, (4) Orangtua memberi anak bekal ilmu atau instrumen untuk sukses, (5) Orang tua menjadi model untuk memaafkan kesalahan, (6) Orangtua dan anak saling mencintai, dan (7) Orangtua memperlakukan anak dengan baik (Johnson, 2019). Ini semua yang menandai suatu keluarga bahagia yang bersifat generik, tanpa memandang agamanya.

    Adapun kunci-kunci penting keluarga bahagia menurut Islam ada 5, yaitu: (1) Adanya kesatuan rumah tangga yang mencakup tujuan berumah tangga dan nilai-nilai yang diterapkan di dalam rumah tangga, (2) Membangun keluarga yang didasari dengan niat ibadah, (3) Menjalankan peran istri yang didasarkan atas kewajiban isteri, (4) Menjalankan peran suami yang didasarkan atas kewajiban suami , dan (5) Saling memahami dan menutupi kekurangan. (Dialamislam.com). Keluarga bahagia memberikan jaminan kehidupan seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak dalam pertumbuhan dan perkembangan. Demikian juga, semua anggota keluarga terutama anak terjaga perkembangan iman, islam dan akhlaqnya.

    Keluarga bahagia itu bukan hadiah dari Tuhan, tapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Untuk mengupayakan keluarga bahagia, di antaranya: (1) Semua anggota keluarga berada di rumah  dan bertemu secara berarti, 2) Selalu menunjukkan kasih sayang, (3) Berkomunikasi dengan efektif, (4) Perlakuan yang sama dalam keluarga (5) Membangun ikatan keluarga yg tetap dan solid, (6) Melayani semua anak secara personal, tanpa ada yang diabaikan walau sibuk, (7) Mengatakan maaf belumlah cukup, perlu follow up, (8) Memberi hadiah untuk perilaku yang baik, (9) Keseluruhan anggota keluarga melakukan olahraga bersama, (10) Membuat kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga, (11) Menyempatkan ibadah bersama (sholat, puasa, haji/umrah, infaq/shodaqah/zakat), sesuaindengan kondisi, dan (12) Orangtua perlu secara istiqamah berdoa untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua anggota keluarga diharapkan bisa berpartisiasi optimal. Inisiatif untuk melakukan  kegiatan bersama dapat dimulai dari orangtua atau anak secara silih berganti sesuai dengan kondisinya.

    Demikianlah berbagai hal terkait dengan keluarga bahagia. Kita harus terus bisa wujudkan keluarga bahagia yang tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Untuk menjadikan keluarga bahagia wajib berusaha bersama anggota keluarga dan teman-teman seperjuangan. Keluarga bahagia tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh salah satu anggota keluarga yang berjuang, melainkan juga oleh seluruh anggota keluarga.


    Yogyakarta, 18 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Hasrat Politik yang Mencerahkan

    Muhammad Nur Dirham.
    PEWARTAnews.com -- Memulai narasi pencerahan ini, penulis menguraikan kalimat berikut : “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional” (Bertolt Bracht, Penyair Jerman)

    Narasi Penyair Jerman tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak Quotes Politik yang menjadi rujukan inspiratif dari sebagian besar masyarakat. Jauh dari pada narasi tersebut, pada prinsipnya dalam proses kehidupan dan keterkaitan dengan politik sebetulnya kita sejak lahir sekalipun dan bahkan sejak dalam perut ibu sudah bersentuhan dengan politik atau dalam istilah lain yaitu produk politik. Pada banyak hal bahwa kehidupan keseharian masyarakat yang berkaitan erat dengan kebutuhannya sangat bergantung pada proses politik yang dimainkan oleh para elit politik baik dalam struktur legislatif maupun eksekutif. Semisalnya kebutuhan pupuk dan obat – obatan bagi masyarakat petani sangat ditentukan oleh proses politik yang dimanifestasikan kedalam suatu kebijakan publik oleh pemerintah, maka dibutuhkan orang-orang yang terjun dalam dunia politik yang tidak hanya sekedar hasrat politik untuk mengambil keuntungan pribadi maupun kelompoknya akan tetapi harus bisa memiliki hasrat politik yang mencerahkan dalam bahasa sederhananya adalah menerjemahkan hasrat politiknya melalui kerja politik yang berbasis pada aspirasi, kebutuhan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

    Supaya bisa menghadirkan hal yang demikian maka perlu banyak masyarakat yang harus tersadarkan untuk bisa menghadirkan wajah politik yang mencerahkan masyarakat luas. Momentum politik menuju tanggal 17 April 2019 banyak masyarakat yang ambil bagian dalam meramaikan pesta Demokrasi Lima tahunan yaitu pemilihan legislatif yang bersamaan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Menurut hemat penulis untuk menjawab hasrat politik yang mencerahkan maka kehadiran setiap individu calon legislatif ditengah-tengah masyarakat tidak hanya berbicara pada tataran mengejar elektabilitas semata, melainkan melakukan upaya yang lebih konstruktif seperti halnya memberikan Pendidikan politik, menghadirkan suasana kebatinan yang sejuk, menjaga relasi antar sesama masyarakat sebagai entitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan upaya-upaya pencerahan lain kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak terbebani oleh situasi politik yang ada dan bisa menikmati atmosfir politik dengan penuh kebahagiaan untuk terwujudnya kehidupan masyarakat yang terdidik dan tercerahkan.


    Penulis: Muhammad Nur Dirham
    Calon Legislatif DPRD Kabupaten Bima

    Menjaga dan Menjauhi Empat Perkara

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada umumnya orangtua sudah menguasai materi dan cara mendidik anak, karena mereka diassumsikan sudah mampu. Namun pada kenyataanya cukup banyak orangtua yang belum siap materi dan cara mendidik anak. Baik yang sudah mampu maupun yang belum mampu, rasanya tidak berlebihan jika kita ambil pelajaran dari Sayyidina Ali ra dalam mendidik anak. Ini diharapkan sekali bahwa orangtua dapat menunjukkan tanggung jawabnya dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya dengan lebih baik, sehingga menjadi anak sholeh dan sholehah kebanggaan orangtua.

    Ada wasiat Sayyidina Ali ra yang penting kepada anak-anaknya. Wasiat pertama terkait dengan persoalan yang harus dijaga. Beliau menyampaikan wasiatnya sebagai berikut:

    أَغْـنىَ الغِنىَ العَقْلُ وَأَكْبَرُ الفَقْـرِ الحُمْقُ وَأَوْحَشُ الوَحْشَةِ العُجْبُ وَأَكْبَـرُ الحَسَبِ حُسْنُ الخُلُـقِ

    Sebaik-baik kekayaan adalah akal, separah-parah kemiskinan adalah kebodohan, sehina-hina sifat adalah kebanggaan pada diri sendiri, dan sebaik-baik kemuliaan adalah akhlak mulia.

    Empat perkara yang harus dijaga merupakan persoalan yang penting dalam kehidupan manusia. Pertama, Anak harus menjadi kaya ilmu untuk naik derajatnya sama tingginya dengan orang beriman. Kedua, Anak juga harus dijauhkan dari kebodohan ilmu, iman dan akhlak, karena anak jangan sampai terperosok sebagai hamba-Nya yang paling miskin. Dengan tak berilmu karena kebodohan, maka tidak bisa terjaga kemuliannya dalam meraih rejeki dan hina di tengah masyarakat.

    Ketiga, Untuk tidak menjadi paling hina di mata Allah swt dan ummat, kita jangan sombong dan ujub akan keagungan yang dimiliki, karena semuanya itu anugerah Allah swt. Terakhir, kita harus menghiasi hidup dengan akhlaq yang baik, karena sesungguhnya yang terbaik  di antara ummat Muhammad adalah yang paling baik akhkaqnya.

    Selanjutnya Sayyidina Ali ra mewasiatkan sesuatu yang terkait dengan apa yang harus dijauhi.

    يَابُنَيَّ,
    إِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الأَحْمَقِ فَإِنَّهُ يُرِيْـدُ أَنْ يَنْفَعَكَ فَيَضُرُّكَ
    إِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ البَخِيْلِ فَإِنَّهُ يُبْعِدُ عَنْكَ أَحْوَجَ مَـاتَكُوْنُ إِلَيْهِ
    وَإِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الفَـاجِرِ فَإِنَّهُ يَبِيْعُكَ بَِالتَّـافِهِ
    وَإِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الكَذَّابِ فَإِنَّهُ كاَلسَّرَّابِ يُقْرِبُ عَلَيْكَ البَعِيْدَ وَيُبْعِدُ عَلَيْكَ القَـرِيْبَ

    Wahai anakku, jauhilah orang bodoh, karena ketika ia ingin memberikan manfaat kepadamu ia malah membahayakanmu.
    Jauhilah orang kikir, karena ia akan menjauhkan darimu apa yang sangat kau butuhkan. Jauhilah pelaku maksiat, karena dia akan menjualmu dengan harga yang murah. Dan jauhilah pendusta, karena dia laksana fatamorgana, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

    Pertama, Kita harus berhati-hati terhadap tindakan orang bodoh, karena boleh jadi tindakannya berpotensi menipu. Kelihatannya tindakan yang memberi manfaat, malahan justru merugikan banyak orang. Kedua, pada dasarnya orang bakhil itu tidak banyak memberikan kentungan bagi orang lain, bahkan merugikan orang lain. Untuk itu jauhilah pergaulan dengan mereka. Memperhatikan posisi orang bakhil yang kurang positif, maka berhati-hatilah dalam menyikapi terhadap harta. Karena pada hakekatny sebagian dari harta yang dimiliki bukanlah menjadi haknya.

    Ketiga, jagalah dirimu dengan sebaik-baiknya, dengan mendekati dan bergaul dengan orang baik. Jangan sekali-kali mencoba mendekati orang yang berbuat maksiat. Karena boleh jadi lama-lama akan ketularan berbuat maksiat. Ingat Almar-u khaliluhu, bahwa seseorang itu tergabtung temannya. Akhirnya, kita harus menjaga hati kita dari perbuatan munafik, khususnya perbuatan dusta. Perbuatan dusta merugikan orang lain, bahkan merugikan diri sendiri. Karena hakekatnya bertentangan dengan hati nurani.

    Insan yang memiliki martabat lebih dari makhluk yang lain, akan tetap terjaga jika ikuti nasehat Sayyina Ali ra. Perilaku apa yang harus dijaga dan apa yang harus dijauhi. Kondisi ini membutuhkan kesadaran, keberanian, dan ikhtiar untuk mewujudkannya. Sepanjang kita terus faqarrub dengan Allah swt, dan tetap istiqamah menjauhi dari apa  yang tidak diinginkan-Nya, insya Allah kita dalam kebaikan.


    Padang, 14 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bahasa Bima Hampir Punah (Part 2)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- "Rahasia para petuahmu tersusun dari kata-kata dan kalimat, sehingga itu menjadi kunci untuk berkomunikasi dengan segala energi dan partikel yang ada disemesta ini" se sakral itulah posisi kata dan kalimat dalam kehidupanmu.

    Bahasa telah menemani manusia sejak pertama kali melihat dunia, sampai kelak berjumpa dengan Tuhan-Nya. Kita bisa membayangkan kalau ada peradaban tanpa bahasa, setiap interaksi manusia terjadi tanpa ada media komunikasinya. Kita bisa bayangkan kalau Tuhan tidak menggunakan Bahasa ketika menurunkan firmannya. Apa yang terjadi? Terlepas dari itu, Bahasa juga telah menjaga manusia supaya segala sesuatu diposisikan pada tempatnya masing-masing. Ketika semua sudah diposisikan demikian, maka akan terwujud kehidupan yang seimbang serta harmonis. Memposisikan pada tempatnya tidak hanya secara formal tapi juga secara subtantif. Mari kita lihat contohnya, kata 'mada' dalam bahasa Indonesianya (aku, saya, kami) mewakili suatu keadaan, mewakili sistem komunikasi tertentu, dan bisa digunakan pada beberapa aktifitas (formal) . Tetapi,  kata tersebut juga bisa digunakan untuk pembicaraan yang berkiblat pada nilai (subtantif). Kata 'mada' digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua (standar formalnya), tapi kata 'mada' juga bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang belum kita ketahui umurnya, orang yang baru kita jumpai, orang yang sebaya umurnya dengan kita maupun dibawa kita (subtantif). Kenapa bisa begitu, karena kata tersebut mewakili suatu bentuk penghargaan terhadap lawan bicara, bukan hanya mewakili umur (formal).

    Kalau kata 'mada' sebagai bentuk dari menghargai, berarti dia punya fungsi general. Sebab tidak hanya orang tua yang harus kita hargai tapi juga semua manusia perlu kita hargai dan sayangi lewat sistem kata dan kalimat. Namun muncul pertanyaan lanjutan,  tidak harus dengan menggunakan kata 'mada' sebagai bentuk menghargai seseorang dibawah umur kita?  Iya memang betul, karena terlepas dari posisi kata, sesungguhnya redaksi kalimat sangat mempengaruhi penilaian seseorang. Contoh : "nahu dou Mbojo ta' (saya orang Bima)", dan "nahu dou mbojo (saya orang Bima)". Kalau dilihat dari dua kalimat tersebut bermakna sama, dua kalimat itu sama-sama digunakan kepada lawan bicara yang lebih muda dari kita, sebaya dari kita, maupun kepada orang yang belum kita kenal (analisis umur), tetapi tingkat kesopanan kalimat itu berbeda. Kalimat pertama lebih sopan dari kalimat kedua, karena ada tambahan 'ta' nya. Dari sini bisa kita lihat bahwa susunan kalimat yang kita gunakan bisa dinilai sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang, tidak hanya dilihat dari menposisikan katanya. Kita simpan point itu. Baiklah, mari kita kembali kepada makna kata 'mada' tersebut,  jika kata 'mada' sebagai kata ganti aku (bahasa Indonesia) dalam bentuk yang halus bermaksud untuk menghargai, maka kata tersebut bisa keluar dari makna dasarnya yaitu kata 'mada' digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih 'tua' saja. Kenapa bisa keluar? Sebab semua manusia butuh dihargai, meskipun bentuk penghargaan itu bukan hanya terletak di kata dan kalimat yang kita gunakan. Tetapi alangkah lebih indahnya kalau penghargaan itu di mulai dari kata, kalimat dan berujung pada tindakan.

    Persoalan berlanjut, tapi semua sudah ada kata yang mewakili setiap fase komunikasinya? Iya memang betul. Semisal, kata 'nahu', kata tersebut digunakan untuk lawan komunikasi yang sebaya dengan kita maupun dibawah kita. Begitu juga dengan kata-kata yang lain, semua sudah tersedia dan digunakan untuk setiap keadaan yang berbeda-beda. Namun, bukan tidak mungkin kata 'mada' bisa difungsikan untuk semua lawan bicara, kalau kita mengacu pada subtansi bukan hanya formalnya.  Semisal 'mada dou Mbojo ta'.  Kalimat itu bisa digunakan untuk semua manusia, tidak hanya kepada orang yang lebih tua dari kita.

    Gugatan tentang posisi kata 'mada' selain  berawal dari kebiasaan, juga datang dari lawan bicara kita. Terkadang lawan bicara kita merasa tidak pantas merima kalimat tersebut untuk di ucapkan, kalau lawan bicara umurnya dibawah dari orang melemparkan kalimat itu. Namun orang Bima telah menyiapkan kata yang lain sebagai pengganti kata 'mada'. Khususnya digunakan kepada lawan bicara yang umurnya dibawah dari kita. Kalaupun kata 'mada' susah kita terima maka kita harus mencari alternatif lain untuk menjawab ini. Oleh Karena itu, muncullah kata 'ndaiku' sebagai suatu representasi untuk menghargai lawan bicara yang seumur dengan kita,  dibawah kita atau orang yang belum kita ketahui umurnya (berdasarkan pertimbangan analisis). Contoh : 'ndaiku dou Mbojo ta', kata itu digunakan untuk lawan bicara yang sebaya dengan kita, yang belum kita kenal (pertimbangan analisis) dan dibawah dari umur kita. Bukan Berarti kata 'mada' tidak bisa kita gunakan untuk lawan bicara dibawah umur kita tetapi kebiasaan dan cara kita melihat sesuatu yang perlu di benahi bersama, supaya tidak berdampak menjadi kebiasaan yang dibenarkan dalam sirklus kehidupan sosial. Karena titik tekannya terletak pada cara untuk menghargai orang lain.

    Apa yang bisa kita ambil? Sesungguhnya bahasa telah mendisiplinkan kita semua dari kemungkinan ketidakteraturan komunikasi yang terjadi, supaya tidak berakibat pada gagal paham, kurang paham, tidah paham dan salah paham. Mengenai sejarah. Sejarah memang membutuhkan fakta supaya bisa dianggap sebagai sejarah. Tetapi kita tidak hanya mengumpulkan fakta, namun juga bertugas menelusuri setiap makna dibalik peristiwa sejarah. Dan bahasa merupakan salah satu peristiwa sejarah, fakta sejarah, serta makna sejarah.

    Kalau bahasa mulai di perkosa dengan upaya (sengaja maupun tidak sengaja) untuk menggantikan posisinya berarti kita sedang mengubur salah satu peristiwa sejarah, fakta sejarah, dan makna sejarah kita. Oleh Karena itulah kenapa kita menjaga bahasa daerah kita sebagai salah satu aset kebudayaan orang Bima itu sendiri. Satu kata saja bisa membuat ribuan pengetahuan baru, apalagi seluruh kata yang tersaji dikehidupan orang Bima.

    Penulis tidak yakin kita benar-benar bisa membedakan kata 'mada, nahu, nggomi,  ndaiku, ndaita, ita, ita ta' secara formal maupun subtantif. Jangankan berbicara peradaban, menelusuri setiap jengkal kata yang tersedia di kehidupan orang Bima tidak cukup umur kita untuk mengkajinya. Kata dan kalimat adalah makrifat mu menemukan Tuhan.

    Bersambung.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website