Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Momentum 21 Juni 2018 (Mengenang Bung Karno, HUT Hamdan Zoelva dan Presiden Jokowi, Pernikahan Kerabat dan Sahabat, serta Hari Krida Pertanian)

    Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. dan M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Suasana haru biru mencekam, itulah yang dirasakan oleh warga Indonesia saat meninggalnya Presiden Soekarno di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Hari ini, tanggal 21 Juni yang juga hari meninggalnya sang putra fajar bung Karno. Jasa-jasanya untuk bangsa ini tidak akan bisa terlupakan sepanjang masa. Lahumul fatihah. Semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang istimewa, dan juga semoga jerih payah perjuangan bung Karno mampu diteruskan oleh pemuda dan kita semua sebagai penerus bangsa. Aamiin.

    Topik berbeda. Kita tahu bersama bahwasannya Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi yang menerapkan teori trias politika. Teori ini untuk pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755). Trias Politika yang kini banyak diterapkan, salahsatunya di Indonesia, adalah pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif.

    Berbicara Yudikatif, di Indonesia kita kenal salahsatunya Mahkamah Konstitusi (MK). Obrolin seputar MK, pasti kita sebagai bangsa Indonesia tidak bisa menafikkan kontribusi besar yang pernah dilakukan oleh Ketua MK RI keempat 2013-2015 asal Bima NTB yakni Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., hari ini, 21 Juni adalah hari bahagianya, karena pada hari ini adalah Hari Ulang tahunnya. Selamat Ulang Tahun buat pak Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., semoga sehat selalu dan terus semangat berkontribusi untuk bangsa ini. Aamiin.

    Usai obrolin Yudikatif. Kita kembali ke Eksekutif. Ranah Eksekutif, sederhananya kita pahami yakni tupoksinya Presiden, Wakil Presiden dan para Menterinya. Obrolin seputar tanggal 21 Juni, ternyata hari ini juga merupakan hari ulang tahun Presiden Joko Widodo. Terlepas dari pro dan kontra dari kontribusi yang telah dilakukan presiden Jokowi, seorang Presiden merupakan salahsatu roh utama dari sebuah negara. Jokowi di pilih secara konstitusi. Jadi sebagai warga Indonesia, sepatutnya bahu membahu, sama-sama berkontribusi dan juga mendukung kontribusi positif yang dipersembahkan pemerintah. Apabila ada kekeliruan dalam menjalankan pemerintahan ini, juga perlu kita ingatkan bersama.

    Terkait taat dan perlunya mendukung pemerintah, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (baca: pemimpin) di antara kamu. ....”. (QS. An-Nisa’ ayat 59). Selain itu, juga telah di anjurkan dalam hadist, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Mendengar (mematuhi) dan menaati (pemerintah) adalah suatu kewajiban, selama tidak diperintahkan dengan kemaksiatan. .....” (HR. Bukhari: 2738, Muslim: 3423)

    Hal yang lain, entah layak atau tidaknya Presiden Jokowi melanjutkan estafet kepemimpinannya, biarlah seluruh rakyat Indonesia menentukannya sendiri pada tahun 2019 nanti. Selamat Ulang Tahun buat Presiden Joko Widodo, mudahan sehat terus dan tetap selalu tegar dalam memimpin bangsa ini sampai amanah rakyat bersandar secara konstitusi di punggungmu. Aamiin. Semoga jajaran Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif juga terus harmonis dalam menjaga keutuhan bangsa ini. Aamiin.

    Oh iya yach, tahun ini, karena sesuatu dan lain hal yang perlu dituntaskan, jadi saya tidak pulang kampung menikmati liburan ramadhan bersama sanak saudara. Oh iya yach, mengingat-ingat lagi tanggal 21 Juni, saya punya sepupu, Syamsil, S.Pd. namanya. Syamsil baru saja usai melangsungkan akad nikahnya kemarin pada tanggal 20 Juni 2018, hari ini tanggal 21 Juni 2018 sedang merayakan resepsi pernikahannya di lapangan Desa Diha, Kecamatan Belo, Bima, NTB. Saya sangat bahagia mendengar pernikahanmu bro, walau sedikit agak tidak enak juga dalam hati karena tidak bisa menghadiri momen bahagiamu. Selamat berbahagia saudaraku, semoga keberkahan selalu menyertai pernikahanmu. Aamiin.

    Berbicara momentum bahagia dengan hari pernikahan, pada tanggal 21 Juni tahun 2018 ini juga saya melewati hari bahagia serepsi pernikahan teman-teman saya, yakni saudara Samrin yang melangsungkan pernikahannya di Kota Bima, NTB. Di tempat yang berbeda juga ada pernikahan teman saya Munazar yang berlangsung di Sila Kabupaten Bima. Maafkan saya karna tidak bisa melihat langsung momentum terindah kalian. Walau demikian, do'a terindah teruntuk pernikahan kalian, semoga selalu bahagia dengan dambaan hati kalian. Aamiin.

    Kembali lagi kita melirik secara nasional. Kisaran bulan Juni-Juni, secara nasional memasuki masa panen raya, kita patut berbangga dan acungin jempol pada para petani-petani yang masih setia di garis perjuangan merawat dan memelihara tanaman serta budidayanya. Sebagai salahsatu penghormatan nasional, maka hari ini, 21 Juni diperingati dengan Hari Krida Pertanian. Selamat Hari Krida Pertanian untuk petani Indonesia. Semoga para petani di seluruh Indonesia tahun ini mengalami panen raya yang berlimpah ruah dan hasil panennya mendapatkan keberkahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 21 Juni 2018
    Penulis: M. Jamil, S.H.
    Keluarga, Sahabat, dan Rakyat Indonesia.

    Menjadi Pemilih Pemerhati Pemilu

    PEWARTAnews.com -- Indonesia saat ini lagi dihadapkan dengan pemilihan serentak tahap ketiga, yakni pada Juni 2018 akan dilaksanakan pilkada di 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Agenda yang sama, sebelumnya juga telah dilakukan pada tahun 2015, menjadi tahun pertama Pilkada serentak  yang berlangsung pada tanggal 9 Desember 2015 di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 36 kota. Selanjutnya Pilkada serentak tahap kedua telah dilaksanakan pada Februari 2017 di 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Kemudian, secara nasional, pilkada serentak akan digelar pada tahun 2027, di 541 daerah. (PresidenRI.co.id)

    Momentum pelaksanaan pemilu, bagi negara yang menganut demorasi adalah menjadi sarana memilih pemimpin (Pemda/Pemkot, Pemprov, dan Presiden) dan wakil rakyat (DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD RI). Ajang Pemilu ini, tentu menjadi perhatian serius bagi kita sebagai pemilih. Menjadi pemilih, pastikan kita terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di masing-masing Kabupaten/Kota yang seterusnya akan dinaikkan statusnya dalam bentuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) di tingkat provinsi, sehingga secara nasional pun akan dapat diketahui jumlah pemilih yang ditetapkan sah memberikan hak suaranya. Namun, sebelum itu tentu dalam penentuan DPT telah melalui tahapan-tahapan, mulai dari pencocokan dan penelitian (Coklit), kemudian ditetapkan menjadi Daftar Pemilih Sementara (DPS), setelah di pleno kemudian ditetapkan menjadi DPT pada tingkat kabupaten/kota masing-masing.

    Sebagai masyarakat Indonedia yang sudah ditetapkan sebagai DPT, memilih pemimpin atau anggota legislatif adalah menjadi keharusan. Ini merupakan konsekwensi logis bagi Indonesia sebagai penganut sistem demokrasi langsung (dipilih oleh dan untuk rakyat). Namun, sebelum berangkat memilih, maka perlu kita menyiapkan persyaratan untuk bisa memilih/menyoblos (tahapan sekarang), yakni membawa E-KTP/Surat keterangan (Suket) dari capil setempat dan surat pemberitahuan waktu dan tempat pemungutan suara (C6-KWK) yang telah dibagikan oleh petugas setempat, yakni Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat Desa/Kampung yang diteruskan ke Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada Desa/Kampung tersebut.

    Setelah persyaratan itu disiapkan, hal lain yang tidak kalah penting bagi masyarakat sebagai pemilih adalah menentukan siapa yang akan kita pilih. Kaitan dengan ini, ada beberapa yang penulis bisa rekomendasikan untuk pembaca yang budiman, antara lain, Pertama melihat atau memahami visi dan misi pasangan calon. Poin ini akan menjadi perhatian utama bagi kita yang mengingikan masa depan daerah kita masing-masing. Baik dan tidaknya perkembangan daerah tersebut akan bergantung sungguh pada pemimpin yang telah dirumuskan dalam bentuk visi-misi kepemimpinannya.

    Kedua, Membaca atau bertanya mengenai jejak kepemimpinan atau biografi kehidupan calon. Pengalaman selama hidupnya, baik akademik, karir politik, karir organisatoris, dan menejemen kehidupan lain yang memiliki relevansi dengan urusan sosial lainnya juga berpengarus terhadap kepemimpinannya nanti setelah ia menduduki posisi kepemimpinan dan atau menjadi wakil rakyat karena berhasil tidaknya seseorang bergantung sungguh juga dari kebiasaan baiknya selama ia belum menjabat atau setelah menjabat bagi yang menghendaki maju untuk kedua kalinya pada posisi tertentu/jabatan politik lain.

    Ketiga, memperhatikan apakah bermain uang atau tidak. Jika diketahui calon tersebut bermain uang dalam berkampanye, terutama memberikan langsung dalam bentuk nominal dan atau barang serta dalam bentuk bantuan untuk pembangunan supaya dirinya dipilih maka, tindakan seperti ini dapat disebut sebagai politik perut atau dengan istilah lain, yakni politik uang (money politics). Hal demikian, sungguh berbahaya bagi demokrasi kita karena bisa saja dengan taktik itu dapat mencederai kemurnian hati pemilih sehingga mempengaruhi idealisme pemilih itu sendiri. Di sisi lain, politik perut ini juga ada indikasi mencerminkan kepemimpinan yang tidak bersih karena bisa saja seseorang yang sudah menghabiskan uangnya, apalagi dalam bentuk miliaran, maka kemungkinan akan memikirkan bagaimana uang itu kembali. Pertanyaannya, apakah hanya mengembalikan uangnya yang sudah terpakai saat kampanye? Jawabannya, kembali kepada pembaca yang budiman.

    Keempat, memilih pemimpin yang seaqidah. Ini perlu menjadi perhatian, apabila dari berbagai calon terdapat yang berbeda agama, maka pilih yang sesama agama karena kita tidak paham bagaimana kriteria menjalankan roda kepemimpinan berdasarkan ajaran agama mereka atau pengaturan sosial kemasyarakatan, perekonomian, dan perpolitikan mereka. Akan tetapi, jika semuanya beragama yang beda keyakinan dengan pemilih, maka carilah yang lebih baik dari sekian calon yang ada. Begitu juga yang sekeyakinan dengan pemilih, maka pilihlah yang paling baik di antara mereka. Hal demikian ditegaskan oleh Syaikh Yusuf Qardhawi menuliskan, "Setidaknya ada tiga cara dalam mempertimbangkan pilihan: (1) Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya. (2) Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik. (3) Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

    Kelima, jika terasa bimbang, dalam pandangan pembaca, misalkan semuanya baik atau semuanya buruk, maka shalat istikharah politiklah agar mendapatkan petunjuk mengenai siapa yang layak dipilih (seperti ungkapan Abdul Somad). Jangan karena semuanya tidak baik bagi pemilih lalu memutuskan untuk golput, sebab orang di luaran sana, baik yang seaqidah maupun yang sesama punya kebiasaan/niat jahat akan memenangkan Pemilu, yang mana akibatnya akan terjadi sesuatu yang mungkin banyak kebijakannya tidak cocok dengan pemilih tersebut atau pemilih lain pada umumnya sehingga mengakibatkan kehidupan sosial-keagamaan, sosial-ekonomi, dan sosial-politik tidak berjalan kondusif.

    Apabila pemilih mendapatkan calon yang terbukti mengecewakan dari berbagai calon yang ada, baik dari Capres, Cagub, Cabup/Cawakot, dan wakil rakyat yang calon DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD RI, maka sebaiknya mempertimbangkan saran dari Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil., menjelaskan, "Jika Anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau Parpol Islam. Itu hak Anda, tetapi ingat, jika Anda dan jutaan yang lain tidak ikut Pemilu, maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan".

    Masing-masing kita mempunyai hak dan kewajiban untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang baik-baik dari yang kita ketahui karena memilih itu juga merupakan persaksian yang kita pertanggungjawabkan di hadapan Yang Kuasa (Abdul Somad dari Syaikh Yusuf Qardhawi). Selain itu juga, supaya menghindari kesempatan atau merajalelanya bakal pemimpin yang tidak adil, mementingkan diri sendiri, dan tidak pandai. Sebab, apabila orang baik diam dan tidak mau memilih, maka akan meraja lela kezaliman. Pernyataan demikian, sebenarnya telah lama dipesankan oleh sahabat Nabi Muhammad s.a.w, yakni Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.” Hal serupa juga muncul dari Recep Toyyib Erdogan, menuliskan, "Jika orang baik tidak ikut terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya".

    Jadilah pemilih yang cerdas, bersih dari money politics, tidak terlalu terobsesi akan tawaran jabatan atau berharap akan jabatan, dan pemilih yang tidak memandang karena dia adalah orang yang dekat dengannya (padahal dia kurang bagus) sedangkan yang lain sudah terbukti. Wallahu a'lam bisshowab.



    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    Idul Fitri adalah Momentum untuk Saling Membahagiakan dan Mempererat Persaudaraan

    KH. Ahmad Ishomuddin
    PEWARTAnews.com -- Tidak terasa, Ramadlan yang penuh berkah telah berlalu dan kini hari raya idul fitri (lebaran) telah tiba. Bukan hanya umat Islam yang menjadi sibuk oleh segala tradisi berlebaran itu, melainkan juga non muslim yang terlihat ikut bergembira dan dengan suka rela mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Itulah ciri khas budaya kita yang lebih mengedepankan rasa persaudaraan dan menghindarkan segala yang berpotensi merusakkannya.

    Baik muslim maupun non muslim terlihat berbaur sangat akur, tanpa rasa permusuhan dan saling berinteraksi (ber-muamalah) secara baik-baik di pasar-pasar tradisional hingga mall-mall yang penuh sesak sejak awal Ramadlan hingga menjelang lebaran dan setelahnya. Para pedagang menangguk keuntungan dari para pembeli yang berjubel mengantri. Rumah-rumah mereka pun dibersihkan, dicat ulang, dirapikan, dihiasi dan bahkan pembangunannya segera dituntaskan sekedar untuk menyambut lebaran itu. Jalan-jalan raya, pelabuhan-pelabuhan laut dan bandar-bandar udara pun dipenuhi oleh para pemudik. Ada banyak aktifitas lain dilakukan seperti mempersiapkan kue-kue lebaran dengan membuatnya sendiri dan atau membelinya. Para orang tua yang berkemampuan pun disibukkan memilih dan membelikan beragam pakaian untuk anak-anak mereka dan untuk diri mereka sendiri agar tampil pantas dan wajar saat saling bertemu, bertamu, atau menerima tamu.   

    Banyak juga di antara kita yang berbagi hadiah-hadiah lebaran seperti parcel atau THR dan zakat fitrah. Nabi pernah berpesan, "saling berbagi hadiah lah, agar kalian bisa saling mencintai." Pendek kata pada hari lebaran semuanya harus ikut bergembira, bersuka cita, dan tidak boleh ada saudara-saudara  kita yang bersedih dan menderita pada hari raya. "Pada harta orang-orang kaya itu ada kewajiban yang dimaklumi untuk diberikan kepada orang yang (berani) memintanya (karena sangat membutuhkan) dan orang yang membutuhkan namun tidak memintanya (karena menjaga kehormatan)." Demikian disebutkan dalam firman Allah. Sedangkan Rasulullah SAW pun berpesan kepada kita "cukupilah mereka (kaum fakir-miskin) agar mereka tidak meminta-minta pada hari raya." Demikian pesan Rasulullah kepada kita semua.

    Siapa yang bisa melaksanakan kewajiban berbagi atau memberi hendaklah dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin puja-puji, dan  jangan pernah menyombongkan diri, sedangkan siapa saja yang menerima apa yang menjadi haknya jangan pula berkecil hati, merasa hina dan rendah diri. Orang-orang  yang dianugerahi kelapangan rizki wajib bersyukur antara lain dengan cara berbagi atau bersedekah, sedangkan mereka yang sempit dan sangat terbatas rizkinya wajib bersabar dan tidak perlu iri dengki. Bila saja orang-orang kaya memerhatikan nasib kaum yang miskin, niscaya harta benda bahkan nyawa mereka akan aman dan kejahatan tidak merajalela. Siapa saja yang belum mampu bersedekah dengan hartanya, hendaklah is bersedekah dengan ucapan dan sikap baiknya. Memasukkan rasa gembira ke dalam hati orang yang beriman adalah sedekah. Tersenyum di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Meringankan bebannya dengan akal pikiran atau tenagamu juga merupakan sedekah. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada mereka juga menjadi sedekah.

    Selain itu, telah sejak lama mentradisi di negeri kita, bahwa berlebaran adalah momentum untuk halal bi halal yang biasanya diisi dengan aktifitas saling bersilaturrahmi, saling kunjung mengunjungi, saling maaf memaafkan, dan yang tidak boleh terlewatkan adalah untuk saling membahagiakan. Meskipun semua itu bisa saja dilakukan pada selain hari lebaran.

    Meski dalam berlebaran itu telah mentradisi bahwa yang muda mengunjungi yang tua sebagai bentuk penghormatan, namun juga tidak ada salahnya bila sesekali yang  tua atau yang dituakan "sedikit mengalah" mengunjungi yang muda sebagai perwujudan rasa kasih sayang. Siapa yang tidak datang maka jika sempat datangi saja. Dalam membangun persaudaraan  maka sikap "saling" tersebut harus terus dijaga. Jangan seperti Ka'bah di Makkah yang selalu mau dikunjungi namun tidak pernah mau mengunjungi.

    Berlebaran dalam suasana liburan harus diisi dengan kegiatan-kegiatan positif. Perjumpaan dengan orang lain harus diisi dengan aktifitas untuk berpesan mengenai tiga hal,  yakni saling nasehat menasehati untuk melaksanakan kebenaran (tawashau bil-haqqi), bersabar (tawashau bish-shobri) dan menebarkan sikap saling menyayangi (tawashau bil-marhamah). Dalam perjumpaan dengan setiap orang pada hari raya atau pada saat lainnya hendaklah kita menjaga lidah dari menyakiti perasaan orang lain dan menahan diri dari apa saja yang merugikan atau membahayakan orang lain.  Allah telah memerintahkan kepada kita "berkatalah kalian kepada manusia dengan perkataan yang baik." Sehingga tidak patut kiranya jika momen lebaran digunakan untuk kegiatan negatif seperti menggunjing, marah-marah, menebar kebencian, memfitnah, mengadu domba dan lain-lain berupa maksiat kepada Allah atau merugikan orang lain. Tidak ada kebajikan dalam ucapan manusia kecuali yang berisi perintah untuk bersedekah, perintah berbuat baik, atau untuk mendamaikan orang-orang yang berselisih.

    Saat berlebaran adalah sebagaimana saat lainnya, bukan momentum untuk memamerkan segala yang dipunyai dan bukan pula waktu untuk  menonjolkan diri,  dan bukan saat untuk merasa lebih dalam segalanya dari orang lain. Sepanjang hayat harus ada kesadaran diri bahwa "banyak orang melebihi kita". Seseorang hanya bisa menghormati orang lain jika ia telah memiliki sifat rendah hati, menyadari sepenuh hati bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dan  jauh dari segala sifat kesempurnaan.

    Sebaliknya, setelah berakhirnya ibadah puasa Ramadlan kita berkewajiban untuk menjadi manusia yang mulia di sisi Allah dan merasa hina di hadapan manusia lain. Pandang lah orang lain  dengan  pandangan penuh penghormatan, tanpa diskriminasi,  dan dengan rasa kasih sayang karena banyaknya kekurangan dalam diri kita, dan jangan memandang  orang lain dengan pandangan yang menghinakan atau penuh kebencian karena pada diri mereka ada banyak kelebihan yang mungkin saja tidak ada pada diri kita. Terhadap orang yang dikenal jahat pun kita perlu bersikap baik, apalagi terhadap orang baik-baik. Rasanya tidak ada penjahat yang sama sekali tidak pernah berbuat baik dan sebaliknya tidak ada orang baik yang tidak pernah berbuat salah. Semoga momentum idul fitri menjadikan kita semua berbahagia, membahagiakan orang lain,  dan lebih mempererat persaudaraan antara sesama warga bangsa ini.


    Penulis: K.H. Ahmad Ishomuddin, M.Ag.
    Rais Syuriah PBNU

    Bupati Bima Melantik Pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, melantik Pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta.

    Merenungi Momentum Perayaan Satu Syawal 1439 H

    PEWARTAnews.com -- Umat muslim Indonesia baru saja merayakan hari kemenangannya di bulan ramadhan pada 1 Syawal 1439 H yang jatuhnya bersamaan dengan hari Jum'at, 15 Juni 2018 M. Hari kemenangan ini oleh umat muslim dianggap sebagai hari kembali fitrahnya umat manusia berdasarkan literatur umat Islam yang di dalamnya telah dijanjikan oleh Allah setelah satu bulan penuh menjalankan perintah-Nya berupa puasa dan ibadah wajib serta sunah lainnya dalam bulan ramadhan.

    Momentum ini tidak ada satu orang pun yang tidak merasa bahagia atas kehadiran 1 Syawal, apabila dilihat dari esensinya oleh mereka yang telah menganggap dan meyakininya dengan penuh keyakinan. Betapa bahagiannya mereka dalam menyambut hari itu. Kebahagiaan tersebut, terkadang tidak terbendungi. Hal demikian terjadi, bukan karena mereka dapat bertemu, bersilaturrahmi, dan berkumpul bersama keluargannya saja, melainkan puncak pengorbanan dan jihatnya dalam memerangi hawa nafsunya untuk membentengi diri dari berbagai hal yang dapat mengurangi ridha-Nya dalam prosesi ibadah puasa telah berhasil ia maksimalkan.

    Pemahaman satu Syawal itu sebenarnya bukan satu-satunya momentum untuk saling berjabat tangan ataupun menelpon dalam rangka meraih pengguguran atas kekhilafan atau salah dan dosa yang telah diperbuat terhadap sesama manusia yang terlanjur terlampiaskan terhadap tindakan asbab dari munculnya kesalahan atau dosa terhadap mereka. Tetapi, tindakan yang sebenarnya bahwa kekeliruan dan dosa, baik yang disengaja maupun tidak, itu lazimnya tidak menunggu momen tahunan, melainkan kapan waktu dari tindakan yang menyakitkan atau mengganggu perasaan itu terjadi. Baiknya adalah ketika kita langsung merendahkan ego untuk meraih secepat mungkin permaafan dari mereka. Hal demikian harus menjadi perhatian serius bagi kita, sebab ajal yang menjemput tidak pernah ada yang tahu, apakah masih dalam hitungan tahun, bulan, minggu, maupun hari kehadirannya dalam menjemput diri kita. Sebaliknya, akan menjadi aneh apabila, khilaf dan dosa itu diundur-undur sampai berminggu-mimggu atau berbulan-bulan. Pertanyaannya, apakah kita mengetahui jadwal penjemputan oleh malaikat pencabut nyawa?

    Tetapi, karena satu Syawal sudah menjadi tradisi umat Islam Indonesia, maka tidak mengapa hal maaf-memaafkan itu dilangsungkan, yang terpenting bagi kita, tidak menjadikan tradisi tahunan untuk menggugurkan salah atau khilaf kita terhadap sesama muslim atau manusia secara umum. Mari, kita sama-sama menyadari bahwa satu Syawal, bukanlah semata untuk meraih pemaafan, melainkan pada saat ini adalah penuh dengan ucapan selamat antarsesama muslim bahwa kemenangan telah diraih olehnya sebagai puncak dari satu bulan penuh atas puasa dan amal ibadah lain yang telah dimaksimalkannya dengan mengikuti prosedur dari Allah dan Rasulullah.

    Mari kita saling memaafkan antar satu sama lain, dengan tidak lagi ada kerikil pengganjal satu pun dalam diri kita sehingga peluang kesucian bagi saudara-saudara kita sangat terbuka. Kemudian, tidak lupa juga bagi kita, dari kebiasaan yang baik-baik pada prosesi puasa kita yang baru saja kita lewati, untuk kita terus menjaga dan bila mungkin dan sanggup, kita tingkatkan hal itu, seperti bacaan Qur'an, salat taraweh (salat malam/tahajud), sedekah, infak, dan senang berbagi antarsesama.

    Akhirnya, semoga Allah meridhai semua amal ibadah yang kita jalankan mulai dari awal sampai akhir ramadhan dan kefitrahan yang dijanjikan mudah-mudahan dapat kita raih sebagai salah satu hadiah dari-Nya (Bagi yang sungguh-sunggu menjalankan ibadah puasannya). Mari, kita sama-sama tingkatkan amal ibadah kita kemudian kita berharap agar bulan ramadhan berikutnya kembali bertemu lagi dengan kita.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Semoga Kita Kembali Fitrah.


    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    Ta’lilul Ahkam: Definisi dan Aplikasi (Hari Raya Bertepatan Hari Jum’at, Isbal Celana/Sarung dan Janggot Panjang)

    Wawan Gunawan Abdul Wahid. 
    Definisi

    Diantara satu kaedah yang perlu diperhatikan dalam penetapan hukum Islam adalah ketentuan ta’lilul ahkam. Ta’ill ahkam pada intinya menyatakan bahwa hukum-hukum itu ditetap dengan sebab yang menyertainya jika sebab yang menyertai hukum itu ada maka ketentuan dalam hukum itu dipraktekan. Jika sebab yang menyertai adanya hukum itu tidak ada maka ketentuannya tidak diterapkan. Aljukmu yaduuru ma’a ‘illatihu wujudan wa ‘adaman.

    Aplikasi:
    1. Tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Hadis-hadis terkait keringanan untuk tidak tunaikan shalat jumat dan diganti dengan shalat zhuhur manakala idul fithri atau idul adlha bertepatan dnegan hari jumat dibaca secara seksama mengacu pada sebab jarak antara rumah para shahabat dengan masjid Nabi saw dan lapangan yang dijadikan tempat shalat hari begitu jauhnya. Saat shalat shaat hari raya telah ditunaikan, Rasulullah sarankan kepada mereka yang rumahnya berjarak jauh dari masjid dan lapangan shalat id, untuk sementara tidak langsung pulang ke rumahnya. Mereka disarankan untuk menunggu shalat jumat. Sementara kepada mereka yang tetap memilih pulang Rasulullah berikan izin untuk tidak tunaikan shalat jum’at.

    Saat ini jarak antara rumah dengan masjid untuk tunaikan shalat jumat, dan jarak antara rumah dengan pilihan lapangan untuk shalat hari raya relative dekat. Bahkan ketika begitu berjarak relative jauh pun ada kendaraan yang dapat antarkan kedua tempat yang mulia itu. Kerana itu alasan untuk keringanan tidak tunaikan shalat jum’at zaman kiwari nyaris tidak ada. Kerana itu pula tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Natijahnya pada saat hari raa bertepatan dengan hari jumat pilihan utamanya adalah tunaikan shalat jumat.

    2. Larangan berisbal memanjangkan celana dan sarung hingga mata kaki itu jika disertai dengan motivas kesombongan. Jika itu dilakukan semata-mata sebagai pilihan keikhlasan sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq melakukannya maka larangan itu tidak ada.

    3. Janggot panjang itu dianjurkan  Nabi saw untuk tujuan berbeda dengan non Muslim saat Mobilisasi Perang. Sebutlah itu sebagai jaggot ideologis. Peperangan mana yang diikuti oleh seorang Muslim sehingga mengharuskannya untuk memanjangkan janggotnya. Pada saat yang sama tidak sedikit yang berjenggot panjang itu adalah saudara-saudara kita yang non Muslim. Kerana itu saat Muslim kini memilih untuk berjenggot hendaknya niatnya tidak sebagai janggot ideologis pembeda dari non Muslim. Pilihan terbaik saat ini adalah berjanggot untuk keindahan. Sebutlah itu sebagai janggot asesoris. Janggot yang menambah keindahan tampilan. Innallaha jamilun yuhibbul jamaala;


    Penulis: Wawan Gunawan Abdul Wahid
    Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

    Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia yang Hanif

    PEWARTAnews.com -- Mengapa ayat Rabbana laa tuakhidznaa in nasiinaa au akhta’na memakai redaksi “au” bukan “wa”? Tanya Prof. Dr. KH. Muhammad Chirzin, M.Ag saat dalam perkuliahan Ma’anil Qur’an semester 3 yang lalu di IAT Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semua mahasiswa terdiam, dengan nada lirih beliau berkata ayat tersebut mengandung makna psikologi yang amat sangat dalam. Faktanya, manusia sering berbuat salah dan lupa. Tapi, Allah berkenan membesarkan hati kita seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang kita perbuat karena kesalahan atau kelupaan kita.

    Dalam ayat yang lain dalam redaksi fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah/lupa) akan tetapi disisi lain manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al-Qur'an mengatakan manusia dengan ahsanu taqwim wa ahsanul khaliqin yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
    1. Potensi beragama (+)
    2. Potensi akal  (+)
    3. Potensi fisik (+)
    4. Potensi Nafsu (+ dan -)

    Potensi nafsu memiliki sisi positif dan negatif : Yang pertama ialah, Muthmainnah yang merupakan nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan berusaha menjadi yang terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan perdamaian dengan hati, diri sendiri maupun orang lain. Pun begitupula dengan hatinya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan mengingat Allah, maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus di manifestasikan dalam tindakan nyata sebagai wujud ketaqwaan kepada-Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dan lain-lain. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika kita mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insya Allah hati akan merasa tenang dan nyaman.

    Yang kedua adalah nafsu Waswasah yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisannya. Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah lisan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Jika tidak bisa berbicara baik, maka diam lah”. Diam merupakan kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan kita bersama.

    Yang ketiga adalah nafsu Lawwamah yakni Nafsu yang mendorong manusia berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindarinya. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsunya dengan baik.

    Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dari segala aspek dan dimensinya dengan mengaungrahinya akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia memiliki titik pembeda dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mempunyai arah tujuan yang jelas. Berbeda dengan manusia yang hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah menuju kehadirat Nya dengan jalan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al-Qur'an.

    Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi. Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman-Nya : "wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna" (Qs. Al A’raf ayat 79).

    Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam mengarungi kehidupan. Allah memberikan hati, agar manusia peka terhadap realitas sosial dengan dapat memahami dan merasakan keadaan orang yang berada dibawah-nya. Dengan mata, agar mampu melihat karunia dan ciptaan-Nya yang luar biasa. Dan dengan telinga, agar mampu mendengar jerit tangis orang-orang yang teraniyaya dan terdzalimi karena di rampas hak-hak hidupnya.

    Adapun relevansinya dengan makna puasa ialah, tak lain agar dapat merasakan betapa perihnya orang yang kekurangan makanan, menahan diri dari sesuatu yang secara dzahir terlihat indah nan mempesona. Seperti kata guru spiritual saya, Mr. Radino Fernando, puasa itu belajar mati. Meskipun di iming-imingi sesuatu yang menggoda di depan mata, namun tidak akan tertarik untuk mencicipinya.

    Seusai bulan Ramadhan, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada manusia untuk berzakat. Mensucikan diri dari segala kotoran baik dzahir maupun batin. Serta mengasah kepedulian terhadap sesama dengan menyantuni fakir miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

    Dengan demikian, mari kembalikan diri kepada Fitrah sejati manusia yang suci dan hanif untuk menuju insan paripurna dengan melepas segala hal yang membelenggu dalam hati, jiwa dan akal pikiran kita. Harus disadari bahwa seperti apapun manusia, tentu pernah berbuat salah dan khilaf kepada orang lain, sehingga harus saling memohon maaf dan memaafkan. Kerena  kedua hal tersebut merupakan wujud kasih sayang dan manifestasi hati yang mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, sehingga menyadari diri bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa. Bukan-kah "innal insana mahaalul khata'i wa nisyan"? Tak lain karena manusia ialah human being.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    NOL

    M. Kholid Syeirazi.
    PEWARTAnews.com -- Banyak orang sudah datang ke Israel, bicara baik-baik dengan politisi, pemuka agama, dan NGO baik yang pro maupun kontra-zionisme untuk mengusahakan perdamaian dengan Palestina—hasilnya NOL.

    Banyak juga yang sudah datang ke Palestina bawa uang, menggotong senjata, bertempur dan terbunuh, entah sudah beratus, beribu, atau beratus ribu nyawa melayang—hasilnya juga NOL.

    Hampir tidak ada kemajuan apa pun, dari saya kecil sampai beranak-pinak dan entah sampai kapan, terkait prospek perdamaian di kawasan itu. Situasinya seperti buntu.

    Saya kira sebagian besar kita, termasuk saya, menganggap Israel bangsa agresor yang dipimpin politisi zionis yang tidak mau berbagi tempat dengan Palestina. Di sisi lain, pejuang kemerdekaan Palestina terbelah. Hamas (حركة المقاومة الاسلامية), faksi terkuat selain Fatah (حركة التحرير الوطني الفلسطني), juga ngotot tidak mau berbagi tempat dengan Israel, mengabaikan fakta bahwa negeri itu telah menjelma menjadi raksasa militer dan ekonomi dengan jaringan lobi terkuat di dunia. Apa mungkin mengusir Israel dari tanah yang telah diklaimnya dan memindahkannya ke kawasan antah berantah? Kalau mungkin, mau dipindah kemana? Kalau seluruh dunia bersatu, dan ini agaknya mustahil, apa Israel mau? Mereka mengkoloni daerah itu karena klaim teologis dan historis tentang Tanah Israel (Eretz Yisrael) yang dijanjikan Tuhan di sebuah bekas wilayah Kerajaan Yehuda kuno.

    Israel menjadi bangsa kuat karena ketakutan dan ancaman. Mereka pernah diaspora, hidup terlunta-lunta tanpa tanah air, diusir Firaun dan diburu Hitler, mengalami Holocaust, dan nyaris punah karena sentimen anti-semit yang meluas di Eropa. Berkat Deklarasi Balfour 1917 dan Mandat Britania atas Palestina 1922, mereka kembali ke tempat yang disangka menjadi tanah yang dijanjikan. Mereka bahkan tidak peduli bahwa di situ telah tinggal bangsa lain yang menetap turun temurun, punya hak hidup sebagai bangsa merdeka: Palestina.

    Perjanjian Oslo 1993 menyepakati solusi dua negara, tetapi tidak gampang. Perjanjian ini diteken di bawah otoritas PLO/Fatah dengan Israel, tetapi ditolak Hamas. Hamas ingin mendirikan Palestina berdasarkan Islam, PLO/Fatah berhaluan nasionalis sekuler. Fatah mengakui negara Israel, Hamas menolak. Hamas ingin Israel terhapus dari peta dunia. Hamas dan Fatah terkunci dalam perang saudara (صراع الأخوة ) pada 2006. Sejak saat itu, Hamas menguasai Gaza, Fatah menguasai Tepi Barat. Fatah yang kompromis dan setuju solusi dua negara dalam  rangka peaceful co-existence juga gamang terkait status Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Seluruh faksi ingin tiga wilayah itu menjadi bagian tak terpisah dari negara Palestina merdeka. Situasinya menjadi buntu karena Israel juga telah menetapkan Jerusalem sebagai Ibu Kota yang tak terbagi.

    Siapa pun tidak punya kemampuan menerobos kebuntuan ini. Andaikata kita demo tiap hari mengutuk Israel, Israel tidak akan mundur. Andaikata kita ikut memanggul senjata dan jihad bersama Hamas, itu hanya jalan pintas menambah daftar korban nyawa. Harus dicatat, Israel adalah negara kecil dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Setiap kali Hamas menembakkan roket, Israel akan membalasnya dengan lebih sadis dan brutal. Melawan Israel dengan kekerasan hanya menambah jumlah korban nyawa, termasuk warga sipil yang tidak berdosa. Andaikata kita pakai jalur ekonomi dengan memboikot produk-produk Israel, ini juga tidak akan benar-benar efektif selagi Amerika di belakang mereka. Kita juga tahu, produk-produk Israel dan Yahudi telah menyusup banyak dalam kehidupan manusia zaman now.

    Sekarang kita rame-rame mencaci maki Gus Yahya C. Staquf karena mendatangi Israel tetapi tidak menyinggung isu Palestina. Andaikata Gus Yahya ngomong berbuih-buih soal Palestina, apa Israel bergeming? Apa tiba-tiba orang-orang zionis jadi lebih welas asih dan ingin hidup damai dengan menyerahkan Jerusalem kepada rakyat Palestina? Never!

    Politik LN RI sudah tegas, mendukung kemerdekaan Palestina dengan Jerusalem sebagai Ibu Kota. Apa yang kita lakukan sudah benar, meski kita tahu hasilnya NOL. Kita ibarat semut di zaman Namrudz. Dia menadah air dan menampungnya untuk memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim. Ketika dicela bahwa perbuatan itu sia-sia, semut menjawab: “Aku tahu perbuatanku tidak berguna, tetapi aku perlu tunjukkan kepada siapa aku berpihak.”

    Sampai saat ini, dan entah sampai kapan, konflik Palestina-Israel belum akan selesai. Apakah ini kutukan sejarah karena di tempat itu dulu tertumpah darah para Nabi dan Rasul? Wallahu a’lam. Segala jurus sudah ditempuh, dari diplomasi damai hingga moncong senapan. Dua-duanya hasilnya NOL! Saya kira Gus Yahya tahu. Beliau tidak akan mampu mengubah peta. Dugaan saya, beliau cuma ingin kirim pesan: meskipun sampai saat ini belum ada hasilnya, dialog, negosiasi, diplomasi harus tetap berdiri di depan dalam menyelesaikan konflik ketimbang kekerasan. Masa depan peradaban manusia terletak dalam dialog di mimbar nalar, bukan kekerasan di ujung senapan!


    Penulis: M Kholid Syeirazi
    Sekretaris Jenderal PP Ikatan Sarjana NU, Direktur Eksekutif Center for Energy Policy

    Sumber: Personal Facebook M Kholid Syeirazi

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website