Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    CBN Kota Jogja Siap Terjun Masyarakat untuk Berantas Narkoba

    Suasana saat pelantikan CBN Kota Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Karang Taruna Kota Jogja melakukan regenerasi dan pembaruan pengurus Cegah Berantas Narkoba (CBN). CBN merupakan unit pelaksana teknis dari Karang Taruna Kota Yogyakarta yang bergerak dalam bidang kepemudaan untuk menyerukan perlawanan terhadap bahaya NAPZA.

    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta, Solihul Hadi, S.H., mengatakan, proses reorganisasi CBN kali ini melibatkan 14 orang yang berasal dari 14 kecamatan se-Kota Jogja.  Dalam proses pengkaderan, Karang Taruna Kota Jogja bekerja sama dengan Dewan Pengurus Daerah Gerakan Nasional Anti Narkotika Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD GRANAT DIY).

    “Diklat-nya berlangsung selama tiga hari di Facility Sompok, Imogiri, Bantul. Pengkaderan menggunakan sistem Terapeutik Community (TC) bertujuan untuk membangun character building, kedisiplinan dan cara bersikap yang baik, sehingga ketika kembali ke masyarakat, teman-teman CBN mampu mengembalikan fungsi sosial yang bertanggungjawab,” tutur Solihul Hadi. 

    Lebih lanjut pria yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Magister Kenotariatan UGM ini menambahkan, dalam ketugasannya, CBN mengemban tiga tugas utama, yaitu campaign (kampanye dan sosialisasi), investigation (investigasi dan pelaporan), dan counselling (konseling remaja).

    Menurutnya, pembaruan CBN ini didasari oleh keprihatinannya terhadap kondisi pemuda saat ini, dimana banyak pemuda yang mengalami degradasi moral dan lemahnya iman dikarenakan  penyalahgunaan NAPZA.

    “Dari hasil data yang ada pada kami, banyak pemuda di Yogyakarta yang bermasalah dengan narkoba, ada yang terjaring sebagai pengguna dan ada juga yang terciduk menjadi pengedar maupun kurir, sehingga regenerasi atau pembentukan pengurus CBN ini, bagi kami (Karang Taruna Jogja) menjadi suatu keharusan, dan tidak bisa ditawar lagi,” tutur Solihul.

    Susunan kepengurusan CBN dibentuk pada Selasa (17/4/2018) malam lalu di Pendapa Kantor Kecamatan Jetis, Kota Jogja. Dalam kepengurusan CBN kali ini, sebagai Ketua Aditya Muhammad Syamsudin (Mahasiswa Tekhnologi Mineral UPN), dan Sekretaris Yardema Mulyani (Mahasiswa Ketahanan Nasional S2 UGM). Ketua CBN Kota Yogyakarta membeberkan keinginannya untuk berkomitmen kuat dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Gudeg Yogyakarta. “Target kerja ketua CBN yang baru, CBN harus tumbuh di semua kelurahan se-Kota Jogja dan berkomitmen bersama dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Jogja,” tegas pria yang biasa disapa Adit tersebut. (PEWARTAnews)

    Mata Garuda NTB sasar SMK Kesehatan Yahya Bima buat Toreh Cita 1000 Anak Bangsa

    Suasana acara Massive Action di Bima, NTB.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Puluhan alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang tergabung dalam organisasi Mata Garuda menggelar kegiatan akbar Massive Action. Kegiatan tersebut bertemakan “Toreh Cita 1000 Anak Bangsa” yang merupakan rangkaian dari acara welcoming alumni 2018 serta menjadi satu dari banyak bentuk kontribusi para alumni dan penerima beasiswa LPDP dalam memberikan inspirasi serta motivasi kepada siswa SMA/Sederajat di 26 provinsi se-Indonesia dengan tujuan untuk menanamkan keberanian bermimpi pada generasi penerus bangsa serta merencanakan strategi untuk menggapai mimpi tersebut.

    Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu tempat diselenggarakannya kegiatan massive action tepatnya di SMK Kesehatan Yahya Bima (23/4/2018), penunjukan SMK Kesehatan Yahya Bima merupakan hasil musyawarah para alumni penerima beasiswa LPDP Bima. Dalam kegiatan tersebut terlihat para siswa SMK Kesehatan Yahya Bima sangat antusias, terbukti dari ramainya yang menghadiri kegiatan tersebut, tidak hanya para siswa, guru-guru serta staf kepegawaiannya pun ikut menghadiri acara tersebut hingga selesai.

    PIC Mata Garuda NTB Musahrain, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan laporan kegiatan massive action yang diselenggarakan serentak pada (19/4/2018) sebelumnya sangat menarik minat siswa/siswi, "Hal ini terbukti dari melonjaknya kehadiran siswa/siswi yang menghadiri kegiatan tersebut tidak terkecuali yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat," ucap Musahrain.

    Lebih lanjut Musahrain menjelaskan terkait tujuan dari diadakannya organisasi Mata Garuda, "Tujuan organisasi Mata Garuda ini ialah sebagai wadah bagi para awardee dan alumni untuk bekerja sama sehingga tetap berkontribusi bagi bangsa dan negara," bebernya.

    Kegiatan ini disambut bahagia oleh Ketua Yayasan Al-Yahya Burhan, S.E., lantaran terpilihanya SMK Kesehatan Yahya Bima sebagai tempat terselenggaranya kegiatan tersebut selain itu beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh awardee LPDP Bima yang telah mau memberikan motifasi dan semangat kepada siswa SMK Kesehatan Yahya. “Alhamdulillah kita dipercaya, rupanya di Kabupaten Bima ini kita dipercaya yang kedua setelah SMA di Wera yang sebelumnya telah menyelanggarakan acara ini, saya cukup bangga, alhamdulillah dipilih (SMK Kesehatan Yahya, red) sebagai lokasi kegiatan massive action,” kata Burhan.

    Lebih lanjut kepala Yayasan berpesan kepada para siswa agar dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan saksama agar dapat mengambil manfaat untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi.

    Kegiatan massive action selanjutnya di isi dengan pemaparan singkat perjalanan hidup para awardee Bima hingga mampu meraih beasiswa LPDP, tentu hal tersebut menjadi suntikan motifasi bagi para siswa untuk dapat mengambil sikap sehingga mampu berbicara banyak demi majunya bangsa dan negara lebih khusus daerah Bima. Dalam pemaparan perjalan hidup para awardee diwakili oleh tiga awardee yakni Arif Bulan, M.Pd lulusan Magister Ilmu Linguistik Terapan Universitas Negeri Yogyakarta, M. Averil Prima Putra R., S.Farm.Apt kandidiat master ilmu forensik Uppsala University dan Amar Ma’ruf, M.Pd lulusan magister pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Diakhir kegiatan seluruh siswa ditugaskan untuk mengisi lembar peta mimpi mereka yang kemudian menjadi pegangan bagi para siswa untuk terus menjaga mimpi tersebut. (PEWARTAnews)

    Warga Jogja Gelar Deklarasi dan Peresmian Posko Relawan C1NTA

    Suasana saat peresmian Posko Relawan C1NTA di Jogjakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Siang tadi, tepatnya tanggal 23 April 2018, Relawan Cak Imin Untuk Indonesia (C1NTA) mendeklarasikan diri sekaligus meresmikan ihwal pendirian Posko C1NTA di Yogyakarta.

    Koordinator Posko Relawan C1NTA Jogja Abdul Khalid Boyan dalam rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com pada 23/04/2018 mengatakan bahwa Posko C1NTA didirikan dalam rangka mendukung A. Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi cawapres pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. "Deklarasi dan peresmian Posko C1NTA di Yogyakarta bukan lahir dari ruang kosong, tetapi ini merupakan manifestasi dari label Yogyakarta sebagai kota seribu cinta. Di kota ini, toleransi, keadaban, dan kemanusiaan atas dasar cinta, terpatri secara kuat. Sehingga Posko C1NTA betul-betul menemukan pelabuhannya," ucap Khalid.

    Posko C1NTA, kata Khalid, merupakan ide bottom up (dari bawah ke atas), sebagai wujud inisiatif warga (terutama pemuda) Yogyakarta yang ingin membuka posko secara mandiri. Posko C1NTA dibuat sebagai pusat informasi tentang Cak Imin, mulai profil, sepak terjang, prestasi, dan dedikasi Cak Imin. Sehingga publik Yogyakarta makin mengenal sosok Cak Imin secara utuh. "Mengenalnya sebagai sosok yang selalu menebar rasa cinta terhadap masyarakat, Bangsa dan Negara. Gerakan-gerakan cinta Cak Imin, sudah tak dapat diragukan. Ia kerapkali menjadi garda depan dalam ikut serta membangun harmoni, kerukunan antar agama, dan membumikan Islam yang  rahmatan lil alamin," katanya.

    Lebih lanjut, Khalid mengatakan Posko C1NTA ini berfungsi sebagai tempat berkumpul warga, bersilaturrahim, berdiskusi, berdialog, untuk saling mengingatkan, menguatkan, dan share pengetahuan. "Dengan begitu, masyarakat Yogyakarta semakin mudah mendapatkan dan kemudian menyebarkan informasi seputar Cak Imin terkait cawapres secara luas dan secara benar. Latar belakang warga yang berminat untuk membuat posko ini adalah para pemuda. Mulai dari pelajar, mahasiswa, sosialita, hingga hijabers. Mereka berkumpul secara tulus dengan menghilangkan sekat agama, suku dan ras. Sebab bagi mereka rasa cinta lebih penting dari sentimen apa saja," beber Khalid.

    Sebagai tindak lanjut, ucap Khalid, Posko ini akan mengupayakan untuk menyebarkan pesan-pesan cinta dari Cak Imin sebagai salah satu tokoh yang layak menjadi Cawapres. Selain karena rekam jejak dan prestasi, Cak imin adalah kandidat Cawapres yang masif relatif muda. Pernah menjadi pimpinan DPR termuda, menteri di usia yang relatif muda, dan inspirator gerakan sosial-kegamaan kaum muda. Sehingga salah satu segmen yang akan diajak untuk berbartisipasi dalam posko ini tentu saja  adalah kelompok-kelompok melenial yang merepresentasikan kaum muda.

    "Kelompok milenial inilah yang kerapkali gandrung akan pesan-pesan cinta, dan rentan punya masalah dengan cinta. Kaum melenial, rata-rata memiliki keterikatan yang lemah dengan parpol, mudah kagum ataupun benci pada tokoh tertentu, dan sangat aktif di media sosial. Padahal pada Pemilu 2019  jumlah pemilih melenial hampir mencapai 40 persen dari total pemilih di tahun 2019. Dengan Posko C1NTA, kegelisan-kegelisan kaum melenial perihal politik dan sebagainya akan segera menemukan jawabannya," terang lelaki alumni UIN Sunan Kalijaga ini.

    Lebih jauh, Khalid yang juga Ketua GEMASABA DIY ini mengatakan bahwa, kedepan Posko-posko C1NTA akan terus digerakkan secara massif, tidak hanya di kabupaten atau kota saja, tapi di seluruh pelosok desa, khususnya di Yogyakarta. Termasuk lahirnya Posko-posko C1NTA yang berlatar belakang profesi, dari profesi nelayan, petani, guru, dan profesi-profesi yang lain.

    "Posko C1NTA ke depan akan terus menjadi sarana aspirasi masyarakat Yogyakarta. Terutama keluh-kesah dan kebutuhan yang dihadapi masyarakat Yogyakarta hari ini. Sehingga Posko C1NTA akan menjadi sumber kehangatan antara masyarakat karena di sini mereka akan saling bertatap muka dan ngobrol santai tentang semua hal. Di Posko ini para relawan-relawan dan seluruh masyarakat akan terus menyuarakan dan mendoakan Cak Imin agar dilantik menjadi Wapres pada tahun 2019. Aamiin," ucapnya. (PEWARTAnews)

    Pemuda KUB TIRTA Gempita Gemparkan Pertanian Bantul

    Pusat pembuatan pupuk organik di Bantul.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Program Regenerasi petani yang diluncurkan Menteri Pertanian (Mentan) Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP melalui Gerakan Nasional Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gernas Gempita) berbuah manis. Kali ini sekelompok pemuda yang tergabung dalam Kelompok Usaha Berusaha (KUB) berhasil ciptakan inovasi pupuk organik tidak tanggung-tanggung pemakaian inovasi kelompok pemuda ini dongkrak 60% produksi petani.

    Jajaran Koordinator Gerakan Nasional Gempita secara khusus meninjau pusat Pengolahan dan Produksi KUB Tirta Gempita di Desa Giritirto, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari Minggu, 22 April 2018.

    Seiring makin maraknya para petani menggunakan pupuk kimia pengusir hama mengundang keprihatinan. Berangkat dari rasa prihatin tersebut Kelompok Usaha Bersama pertanian disingkat KUB mencoba ber inovasi dengan menciptakan pupuk cair organik berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan hasil produksi para petani," ujar Sugiarto Korwil Gempita DIY.

    Salah satu kepedulian tersebut muncul dari Kelompok Usaha Bersama Tirta Gempita DIY yang bernaung di bawah Gerakan Pemuda Tani (GEMPITA) luncuran Mentan Amran berbuah bukti. KUB ini berhasil menciptakan Pupuk Cair Organik yang sangat ampuh mengusir hama dan memaksimalkan hasil produksi panen para petani.

    Menurut Ketua KUB Tirta Gempita DIY Sunardi, KUB sendiri berjuang untuk Meningkatkan peran pemuda/petani muda dalam mendukung program prioritas Kementerian Pertanian dan Menumbuhkan kelembagaan ekonomi yang dikelola pemuda/petani muda dalam rangka membangun daya saing dan posisi tawar dengan pelaku usaha lain.

    "Terkait hal tersebut KUB kami fokus untuk pengembangan Pupuk Organik sebagai karya yang kami akan persembahkan buat pelaku Pertanian/pemuda tani seluruh Indonesia agar hasil panen yang diharapkan para petani lebih memuaskan," tutur Sunardi

    Lanjut Sunardi, salah satu bukti yang menakjubkan dari pupuk cair organik ini adalah kemampuan menumbuhkan tembakau secara subur diatas media Batu, selain itu penggunaan pupuk organik juga bisa meningkatkan hasil panen yang cukup membanggakan, “Untuk Gunungkidul saja hasil panen petani meningkat hingga 60 persen setelah beralih menggunakan pupuk organik produksi KUB Tirta Gempita tersebut,” sebut Sunardi.

    "Pupuk cair ini juga mampu menghemat biaya produksi, karena selain sebagai pupuk, pupuk cair bisa digunakan sebagai bahan aktif untuk mempercepat pembuatan kompos atau pupuk kandang yang bekerja dalam proses pembusukan dan pematangan,” tambahnya.

    Kornas Gempita Andi Anugerah Wijaya yang mengunjungi pusat Kegiatan produksi KUB Tirta Gempita menyebut inovasi ini bukti kehadiran pemuda akan berdampak positif bagi menjawab persoalan yang ada di petani.

    Anugerah menegaskan, KUB sebagai kelembagaan tani bagi pemuda untuk memberikan layanan cepat dan  cikal bakal terbentuknya Korporasi petani disetiap kecamatan.

    "KUB akan jadi wadah belajar dan bekerja pemuda, dimana pertanian kita dapat dioptimalkan berkat pemuda dari hulu hingga hilirnya. Ini amanah Presiden Jokowi, pemuda harus kembali rebut kesempatan bekerja di sektor pertanian yang sangat menjanjikan," pungkas Anugerah. (PEWARTAnews)

    Sebuah Kajian Menyoal Multitafsir Puisi Sukmawati

    “Jika teriakanmu tidak didengar orang lain, maka teriaklah lewat TULISAN” (Tan Malaka)

    PEWARTAnews.com – Kali ini saya ingin mengulas hasil diskusi Komunitas Dialektika LARIS dengan Tema “Multitafsir Puisi Sukmawati” yang diselenggarkan pada hari Kamis, 5 April 2018, Lt.2 FITK UIN Sunan Kalijaga, dengan berdasar pada opini teman-teman diskusi. Diskusi ini dihadiri oleh saya sendiri (Penulis), Bintan, Karina, Totu, Zaenal, Zainal Arifin/Ipin, Nindi, Dewi, Shiffu, Bayu, Ilyas dan Romdhoni. Opini dapat dikatakan sebagai pendapat yang didasari dengan argumen yang logis, rasional dan empirik. Tak ayal, banyak orang yang menyebut opini dengan hasil pemikiran otaknya. Dengan demikian, opini sifatnya subjektif yang tidak bisa digeneralisasikan/disamakan dengan pemikiran orang lain. Bisa jadi antara satu orang dengan yang lain pun berbeda-beda dalam melihat suatu hal.

    Dekat-dekat ini Indonesia dihebohkan dengan hotnews yang mampu mengalihkan isu nasional yakni terkait dengan kontroversi puisi Ibu Sukmawati yang mengandung pro dan kontra di masyarakat. Sejumlah organisasi keagamaan-kemasyarakatan dan partai politik pun mengeluarkan surat dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan agar tidak semakin membuat suasana menjadi panas. Berkenaan dengan hal itu, (sebagian) mahasiswa di kampus menjadikan isu aktual itu sebagai bahan diskusi menarik untuk diperbincangkan, tak terkecuali oleh Komunitas Dialektika LARIS dibawah naungan PAI yang mayoritas anggotanya adalah angkatan 2015 (Sekarang semester 6).

    Dari hasil diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa Masyarakat Indonesia itu terlalu “sepaneng” dalam beragama. Menurut kami, tidak ada yang salah dari teks puisi yang dibacakan oleh Bu Sukma. Karena puisi merupakan karya sastra yang bebas, penuh dengan majaz dan merupakan manifestasi dari luapan emosi si Penulis. Sehingga yang mengetahui “hakikat substansi” dari sebuah penciptaan karya/tulisan ialah yang menulisnya, dan yang meng-interpretasi adalah si pembaca. Dengan demikian, tidak ada yang salah. Karena puisi tidak bisa diadili, yang ada hanyalah estetika. Puisi mengandung kata-kata bermajaz. Dulu ketika pelajaran Bahasa Indonesia dikenal ada majaz hiperbola, personifikasi, metofora dll. Persoalannya adalah tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui itu lebih dalam, karena hanya melihat pada yang terlihat/tekstual.

    Sebagai contoh, manusia mudah menyimpulkan dan menilai sesuatu berdasar pada apa yang dilihat, atau apa yang didengar dan apa yang dibaca. Apa yang terlihat, itulah kesimpulannya. Faktanya begitu, kan. Meski kita tahu, bahwa melihat sesuatu yang hanya terlihat “luar nya” saja tidak baik. Namun lihatlah dari berbagai perspektif, dari berbagai sudut pandang. Sehingga pemahaman real dan komprehensif meski tidak 100% obyektif, karena sifat manusia adalah nisbi. Hal ini jika dihubungkan dengan sebuah tulisan (karya sastra) jangan hanya terfokus pada tekstual-nya saja, namun lihatlah substansinya dan bawa teks itu pada konteksnya. Untuk memahami itu, perlu pendekatan historis, sosiologis, fenomenologis dan estetika.

    Dengan pendekatan historis, Bu Sukma membacakan puisi tersebut saat dalam acara “Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018. Jelas, terkait dengan budaya baik pakaian maupun hal-hal yang berkenaan dengan identitas negara. Wajar kalau beliau menaruh perhatian yang lebih terhadap budaya Indonesia, yakni konde dan kidung ibu Pertiwi. Persoalannya kini ada di bait “Tak tau syariat Islam, suara adzan dan cadar” (mengkomparasikan antara konde dengan cadar, antara kidung ibu pertiwi dengan suara adzan serta membawa-bawa nama Islam).

    Hal tersebut jika dikorelasikan dengan fenomenologi memang nyata adanya. Cadar kini dianggap sebagai syariat Islam, padahal jelas Al-Qur’an hanya meyuruh untuk menutup aurat. Sedangkan konde merupakan budaya asli Indonesia, dengan begitu substansi puisi tersebut ialah mengajak masyarakat Indonesia untuk “mencintai budaya-nya, bukan malah Arabisasi. Lalu terkait dengan membawa-bawa nama Islam, ini bermakna “agama Islam yang dianut oleh kaum muslim” atau islam yang speerti apa maksud ibu Sukma? Karena menurut kami, Islam itu Universal. Islam bermakna tunduk, taat, patuh terhadap perintah Tuhan Yang Maha Esa. Meminjam kata Nurcholish Madjid, Agama apapun di dunia ini yang “mengajarkan” tunduk, taat dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat disebut sebagai Islam. Sehingga makna Islam dalam puisi tersebut dapat dimaknai sebagai agama-agama di Indonesia yang mengajarkan ketaatan dan ketundukan epada Tuhan YME, tanpa dibatasi hanya agama Islam semata. Arti Islam dalam puisi Ibu Sukma dapat juga dimaknai Indonesia ini merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam agama, namun yang terlihat hanyalah agama Islam semata. Oleh karenanya, tetaplah jaga persatuan dan kesatuan antar agama sebagai upaya untuk membangun stabilitas nasional dan pembangunan bangsa. Jadikanlah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang melindungi kaum “minoritas” dan memberikan peluang dan kesempatan yang sama untuk berkancah dalam ranah publik dengan dasar Hak Asasi Manusia (HAM) dan egality.

    Solusi yang ditawarkan dalam diskusi ini ialah bagaimana memberikan edukasi sastra kepada peserta didik. Selama ini materi pelajaran bahasa Indonesia hanya seputar ide pokok, kesimpulan, kata baku, membuat kalimat yang memahamkan orang namun sangat kurang dalam menginterpretasi karya sastra yang berbentuk satir. Implikasinya adalah mudah menyimpulkan sesuatu yang literlek/tekstual.

    Ayolah beragama jangan sepaneng, jangan “fanatik yang berlebihan” (ingat dalam tanda kutip) dan marilah melihat sesuatu lebih dalam. Jangan gumunan dan mudah menjudge sesuatu kalau belum menganlisis lebih dalam.

    Akhir kata dari Penulis, mohon maaf jika tulisan sederhanana ini (ulasan dari diskusi yang bersumber dari hasil pemikiran teman-teman diskusi LARIS) tidak berkenan dihati pembaca. Perlu diketahui, bahwa kami adalah orang-orang yang “santai” alias nggak sepaneng dalam beragama dan memahami agama secara universal meski mayoritas jebolan dari pesantren. Kalau tidak setuju, silahkan debat dengan tulisan jangan jotos-jotosan, yang penting sedulur kabeh yo.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik

    M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com – Akhir-akhir ini suasana bangsa Indonesia kian hari kian memanas, salah satu penyebabnya adalah kini Indonesia memasuki tahun politik. Tahun 2018 Pilkada Serentak. Tahun 2019 pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden.

    Dalam lampiran Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 1 Tahun 2017 disebutkan, kegiatan sosialisasi kepada masyarakat sudah dimulai sejak pada 14 Juni 2017 dan pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018.

    Sedangkan tahapan jadwal penyelenggaraan Pemilu 2019 yang dirilis KPU untuk pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden yakni, 1 Agustus 2017-28 Februari 2019 penyusunan peraturan KPU. 26 Maret 2018-21 September 2018 pencalonan. 23 September 2018-13 April 2019 masa kampanye. 14 April 2019-16 April 2019 masa tenang. 8 April 2019-17 April 2019 pemungutan dan penghitungan suara. Juli-September 2019 peresmian keanggotaan. Agustus-Oktober 2019 pengucapan sumpah/janji.

    Dalam suasana tahun politik ini, tidak jarang ditemukan isu-isu yang seksi yang ditampakkan di khalayak publik. Dari adu dan penawaran program yang pro rakyat, saling serang dan cari kesalahan lawan politik, bahkan tidak jarang ada juga yang menyebarkan hoax untuk kepentingan politiknya.

    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik
    Masyarakat merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur (https://id.wikipedia.org, 19/04/2017).

    Sarwono (1978) memberi gambaran bahwa mahasiswa merupakan setiap orang yang secara resmi telah terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. Mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh status karena memiliki ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan seorang calon intelektual ataupun cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat dalam masyarakat itu sendiri. (https://masukuniversitas.com, 19/04/2018.

    Kita sebagai masyarakat, lebih-lebih sebagai pemuda terpelajar (Mahasiswa) harus mengambil bagian untuk melakukan sesuatu perubahan positif dalam masyarakat, salahsatunya dalam menangkal hoax yang tersebar luar di masyarakat. Biar bagaimana pun, peran mahasiswa dalam menangkal hoax di tahun politik ini sangat diharapkan, karena karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent). Mahasiswa harus berperan aktif membantu mengawas dan mengontrol berjalannya Pemilu agar terbebas dari hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti penyebaran ujaran kebencian, hoax, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

    Dengan kemurnian pikiran yang disandang oleh mahasiswa, diharapkan ketika hadir di tengah-tengah masyarakat menjadi benar-benar sebagai agen perubahan (agent of change), jangan malah menjadi bagian dalam penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut.

    Peran Masyarakat Umum di Tahun Politik
    Hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat syarat akan nilai kebersamaan, itulah sejatinya hidup dalam bermasyarakat yang telah menjadi tradisi dari masa ke masa sejak ribuan tahun silam, yang mana kebersamaan tersebut dibuktikan dengan adanya nilai-nilai yang tertanam dalam pribadi-pribadi masyarakat, diantaranya seperti gotong royong, musyawarah mufakat, dan lain sebagainya. Sikap kebersamaan (kolektifitas) tersebut juga harus terpartri dalam mensukseskan tahun politik, karena tahun ini (2018) dan tahun depan (2019) kita sudah dihadapkan dengan Pemilu yang akan menyita lebih dalam daya kepekaan kita dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, karena hasilnya tersebut akan menentukan perubahan bangsa ini untuk 5 tahun selanjutnya. Maka oleh karena itu, semua lapisan masyarakat harus berperan aktif untuk mensukseskannya, yang bisa dilakukan masyarakat adalah ketika para calon kepala daerah/caleg/capres turun di masyarakat mengubarkan janji-janji manisnya, maka masyarakat harus jeli dan cerdas dalam menyikapinya, jangan sampai orang yang di pilih tidak mewakili aspirasi-aspirasi masyarakat hingga sebaliknya yang terjadi kelak bila telah terpilih malah menyimpangi dari tanggungjawab yang harus diembannya. Bila mana dalam lapangan ada yang melakukan penyuapan di masyarakat, yakin dan percayalah, orang-orang semacam itu tidak akan sepenuhnya mau melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya bila kelak telah terpilih. Karena ketika telah terpilih yang paling pertama  dia pikirkan adalah, bagaimana caranya untuk mengembalikan uang-uang yang telah mereka keluarkan, dan dengan kewenangannya yang besar, mereka bisa dengan leluasa memanfaatkannya untuk menggunakan dana yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat digunakan sepenuhnya untuk pribadinya, agar uang yang dia keluarkan semasa kampanye cepat kembali dan bahkan mengambil sebanyak-banyaknya untuk memperkaya dirinya dan keluarganya.

    Peran Mahasiswa dalam Menyambut Tahun Politik
    Mahasiswa merupakan agen pengontrol sosial (agents of social control) dan agen perubahan (agent of change), yang mana ditangan mahasiswa bisa membuat atau menciptakan suatu perubahan dalam suatu lingkup masyarakat, bangsa, Negara, bahkan dunia. Karena dengan sifat dan karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent), dengan kemurnian hati dan pikiran seorang mahasiswa bisa merangkul dari aspirasi semua kalangan, lebih-lebih untuk kepentingan masyarakat menengah kebawan. Seperti selogan yang pernah digembar-gemborkan oleh sang pendiri bangsa (funding father) kita yaitu Soekarno, tentang besarnya pengaruh pemuda/mahasiswa bila mereka bersatu, beliau pernah mengatakan dengan lantang “berikan saya sepuluh pemuda, maka saya akan bisa mengguncangkan dunia”, itulah sejatinya prestasi yang akan diraih oleh pemuda/mahasiswa bila mana mereka menyatukan ide, pikiran, gagasan, dan bersama-sama melangkah melakukan perubahan untuk masyarakat, bangsa dan Negara tercinta ini, maka suatu perubahan yang nyata akan terlihat atau terpampang dengan jelas dari buah tangan atau karya pemuda/mahasiswa.

    Sejatinya kita semua harus menyatu dengan indah seperti halnya lidi-lidi yang berserakan dikumpulkan jadi satu, membentuk satu kekuatan yang utuh, yaitu kekuatan untuk membangun suatu masyarakat, bangsa dan Negara. Karena  seberapa besarpun suatu persoalan kalau dikerjakan secara bersama maka akan terasa mudah, begitu juga sebaliknya, sesederhana apa pun suatu pekerjaan kalau dikerjakan sendirian akan terasa sulit adanya, seperti halnya sapu lidi, sapu lidi merupakan gabungan dari puluhan atau ratusan lidi, bila satu lidi ingin menyapu batu yang besarnya sebesar genggam tangan maka lidi tersebut tidak akan bisa menyapu batu itu, begitu juga sebaliknya, bila mana lidi-lidi tersebut digabungkan jadi satu dalam satu ikatan akan menjadi sapu lidi dan juga akan bisa menyapu batu yang besarnya sebesar genggaman tangan tersebut. Oleh karena itu, makna atau hasil yang didapat dari suatu kebersamaan itu akan bernilai tinggi adanya. Itulah sikap-sikap kolektifitas yang harus tertanam dalam hidup dan kehidupan dalam suatu masyarakat, bangsa dan Negara, yang mana bila kita ingin menggapai tujuan yang mulia sejatinya kita harus melaksakan tujuan tersebut secara bersama-sama biar suatu persoalan sesulit apapun bisa dilakukan atau disa dipecahkan secara bersama-sama. Begitu juga apabila kita semua ingin mensukseskan dan turut andil dalam menjaga keharmonisan tahun politik, kita harus bahu membahu membentuk satu kekuatan yang utuh untuk mensukseskannya.

    Wallahu a’lam bish-shawabi.


    Penulis: M. Jamil, S.H.
    - Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada -- IG/FB/Twitter: @MJamilSH
    - Tulisan ini disampaikan sebagai pengantar dalam acara Pelantikan dan Dialog Publik Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu (IPMLY) Bima-Yogyakarta pada 20 April 2018.

    Guru pun Harus Menulis

    Ilustrasi Guru. Foto: merdeka.com.
    PEWARTAnews.com – Aktivitas tulis-menulis sudah barang tentu melekat pada diri setiap guru. Hal ini bukan lagi sesuatu yang langka atau pun asing baginya. Mengingat, guru harus mengajar dan menyampaikan materi kepada siswanya. Tentu menyampaikannya lewat tulisan. Mungkin dituliskan di papan tulis, atau ditampilkan tulisannya lewat LCD Proyektor atau pun sejenisnya. Sehingga siswanya pun bisa membaca dan menuliskannya di bukunya masing-masing.

    Saya yakin, setiap kali mengajar, besar kemungkinan guru pasti menulis. Di samping itu juga, mengenai persoalan administrasi, seperti perangkat pembelajaran, tentu seorang guru harus menyiapkannya sebelum mengajar. Contoh, menyusun program tahunan, program semester,  kriteria ketuntasan minimal (KKM), rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan lainnya. Belum lagi administrasi lainnya juga untuk persiapan akan datangnya tim supervisi. Hemat saya, semuanya tentu berhubungan dengan tulis-menulis.

    Namun, bukan lagi menjadi sebuah rahasia, bahwa kebiasaan tulis-menulis yang dimaksud hanya sebatas rutinitas kewajiban dari sekolah saja. Jarang kita lihat guru yang mau betul-betul membiasakan diri untuk menulis, selain dari yang disebutkan di atas. Padahal, kalau saja guru mau membiasakan diri untuk menulis dari apa yang dialami, yang diketahui selama hidup dan selama ia mengajar, sungguh guru yang luar biasa.

    Kalau saja kita mau menelusuri satu per satu dari sekolah ke sekolah, guru penulis bisa dihitung jari. Bahkan, banyak sekolah yang tidak kita temukan guru penulis seperti yang dimaksud. Yang jelas, di setiap sekolah lebih banyak guru yang biasa daripada guru yang luar biasa (baca: guru penulis).

    Menjadi seorang guru itu, mestinya harus membiasakan diri untuk menulis (di luar rutinitas di sekolah). Apalagi guru merupakan pencetak generasai bangsa. Guru penulis itu, besar kemungkinan akan bisa menginspirasi siswanya untuk menulis juga. Sehingga lahirlah generasi-generasi yang cinta akan menulis. Dengan demikian, kelak ketika mereka (baca: siswa-siswa) bekerja, mereka tidak lupa juga untuk meluangkan waktunya untuk menulis. Bila ada di antara mereka yang menjadi tentara negara Indonesia (TNI), maka ia akan menjadi TNI penulis. Jika mereka bekerja sebagai politisi, maka ia akan menjadi politisi penulis. Begitu pula dengan profesi-profesi lainnya.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Bangkitlah Mahasiswa (Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)

    PEWARTAnews.com – Hidup adalah anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Namun dalam hidup ada banyak pilihan, begitupula dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam membangun bangsa. Sebagaimana maqalah arab mengatakan syubbaanul yaum rijalul ghad. Pemuda (syabab) yang dapat juga diartikan sebagai mahasiswa merupakan pemimpin masa depan. Realitanya tak hanya untuk masa depan, namun juga pemimpin saat ini. Sehingga mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depannya serta mempersiapkan untuk menjadi agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial) dan agent of problem solver (agen pemecah masalah) dalam menghadapai problema kehidupan. Mahasiswa disebut sebagai Maha Atas Ke-Siswaan-nya, yang berarti memiliki tanggungjawab yang lebih besar dibanding dengan dahulu ketika mengenyam pendidikan dasar, pertama dan menengah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi Mahasiswa untuk mengembangkan dirinya baik didalam maupun luar kelas.

    Pernakah berfikir mengapa IP maupun IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, yakni melalui kajian literasi, berdiskusi maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar didalam kelas saja lalu pulang ke rumah ataupun kos (Mahasiswa Kupu-kupu) merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (read : mahasiswa) secara perlahan.

    Penulis sering mengamati mahasiswa yang hanya fokus pada akademiknya, dengan mahasiswa aktivis. Tentu ini berdasar pada pengamatan empirik di Kampus. Untuk menelaah lebih dalam hal itu, saya sering mengajak berdiskusi (apapun itu) dengan mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis dengan memaparkan sebuah persoalan dan saya minta solusi juga pendapat berdasar pada persoalan yang telah saya kemukakan. Ternyata jawaban yang memuaskan (analitik, konkrit, logis, rasional dan bereferensi) lebih banyak saya dapatkan dari mahasiswa aktivis. Tentu aktivis tidak hanya sekedar demo, debat dll. Namun seorang aktivis yang mengimbangi dirinya dengan selalu membaca buku.

    Yang menjadi persoalan ialah telah mendarah daging pola pikir (mind set) kalangan akademis dan masyarakat mengenai mahasiswa aktivis yang terkenal dengan “lulusnya lama”, sehingga memandang anak-anak aktivis dengan sebelah mata. Hal ini kongkrit, faktanya memang begitu!.

    Penulis pun banyak menjumpai teman-teman aktivis yang lulusnya lama, ingat “bukan berarti mereka bodoh”. Namun mereka hanya ingin menikmati masa-masa menjadi mahasiswa, karena masa-masa mahasiwa merupakan masa yang nikmat dan penuh warna. Ada pula faktor lain, karena mereka beranggapan bahwa “dirinya” belum layak untuk lulus dengan indikator belum banyak buku-buku yang dibaca dan dikuasai. Dari hal ini jelas bahwa mereka mengedepankan aspek “kualitas keilmuan” daripada mengejar angka 3,9 sekian diatas kertas putih. Karena faktanya IPK tinggi itu mudah dicari dengan hanya terus masuk kelas tanpa ada keterangan sakit, izin atau bahkan alfa alias “tidak masuk tanpa keterangan” (saya pastikan nilai-nya 4,0) karena yang menyebabkan seseorang IPK-nya rendah bukan karena faktor intelegensi, namun karena faktor “kehadiran/administratif”. Hal ini tidak bisa diubah, karena sistem yang telah berperan, sehingga secerdas apapun mahasiswa kalau dia tidak pernah masuk kelas jangan harap dapat IPK 3,5. Boro-boro 3,5 dapat 3,0 pun tidak akan pernah. Kalau tak percaya coba saja buktikan.

    Dulu lulus SD masuk ke SMP harus mempunyai nilai yang tinggi, begitupula dengan lulus SMA ke PT memerlukan nilai yang tinggi pula, meskipun faktanya nilai saja tidak cukup. Akan tetapi perlu dan harus memiliki sertifikat penghargaan/kejuaraan yang diraih saat di SMA baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Begitupula dengan lulus Kuliah, tidak cukup hanya dengan nilai yang baik, akan tetapi yang lebih dari itu ialah harus memiliki nilai plus atau biasa disebut dengan skill komparatif yang salah satunya mempunyai jiwa leadership. Itu yang jauh dibutuhkan untuk masa depan, daripada hanya sekedar IPK tinggi ataupun embel-embel yang lain.

    Penulis teringat nasihat dari Prof. Anis Baswedan saat seminar di UGM Yogyakarta tahun 2015 yang lalu bahwa “Kemampuan belajar” menjadi satu kunci, bukan “kemampuan menguasai suatu bidang”. Karena ketika lulus, mahasiswa belum tentu melakukan dan berhadapan dengan bidang yang digelutinya saat masa-masa kuliah. Namun kemampuan dalam belajar akan membuat mahasiswa menjadi pembelajar terus menerus, sehingga mempunyai peluang untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kontribusi disekelilingnya. Sehingga saat-saat menjadi mahasiswa seperti ini jangan hanya disebut sebagai “masa kuliah nan masa muda semata” namun harus dijadikan sebagai spirit untuk “terus mengembangkan diri secara optimal dan berkelanjutan”. Jika hal ini dilakukan, maka InsyaAllah “jalan kedepan akan jauh lebih lebar, jauh lebih menantang, dan akan menemukan simpul-simpul baru kebahagiaan yang membanggakan termasuk dalam memperluas jaringan”.

    Tulisan ini bukan berarti mengesampingkan hal-hal akademik, seperti IPK. Karena faktanya IPK juga penting namun harus diimbangi dengan soft skill dan pengalaman yang lain. Penulis hanya ingin membukakan “sedikit” cakrawala dan paradigma berpikir ala anak-anak aktivis yang seharusnya dipahami oleh kalangan akademis seperti dosen dan masyarakat pada umumnya agar tidak menjustifikasi anak-anak aktivis sebagai mahasiswa yang malas dan terkenal dengan lulus kuliah “lama”. Coba lihat 10-20 tahun yang akan datang, siapa yang lebih banyak berkontribusi nyata untuk Indonesia. Mahasiswa aktivis-kah atau mahasiswa yang hanya “Mencerdaskan dirinya sendiri” yang acuh terhadap realitas sosial?


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Ketua IPPNU Sewon, Bantul, DIY.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website