Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Esensi Sabar

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Sabar adalah salah satu sifat terpuji (Akhkaq Mahmudah) yang seharusnya kita miliki. Sabar sangat melekat dengan mushibah (Ashshabru ‘alal mushiibah), baik terkait dengan hilangnya harta benda, buah-buahan (tanaman), bahkan hilangnya jiwa (QS Al Baqarah, 2:155). Mengapa harus sabar, karena kita itu milik Allah SWT, termasuk segala yang sering kita claim sebagai milik kita, apakah uang, harta benda, tanaman yang menghasilkan, bahkan jiwa kita, jika semua atau sebagiannya hilang dan hancur, maka sikap yang terbaik dalam menghadapinya dengan sabar. Ingat bahwa Allah swt tidak akan pernah menguji di luar kemampuan kita.

    Hal lain yang juga diperlukan sabar adalah ketika kita memperoleh karunia atau rizqi, termasuk jabatan (ashsharu ‘alar rizqi). Orang yang tidak sabar dalam menyikapi rizqinya cenderung ingin habiskan rizqi sepuas-puasnya dan secepat-cepatnya, senyampang masih bisa menikmati harta yang ada, sehingga lupa membayar zakat dan boleh jadi kehidupan masa tuanya lebih sengsara.
    Asshabru ‘alat taqwa sangatlah penting dalam kehidupan kita (QS Al Baqarah, 2:153). Hal ini dapat dilihat dengan sabar dan tekun menunaikan ibadah, sholat, puasa, dan sebagainya, sehingga tidak cukup dengan wajibnya saja, melainkan ibadah sunnahnya. Demikian juga sabar mengendalikan diri dari godaan syaitan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

    Terakhir, ashshabru ‘alal jihaad. Kesempurnaan iman dan Islam kita tergantung juga pada kemauan dan kemampuan berjihad. Allah SWT berfirman dalam QS An Nahl, 2:125), ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wal mauidhotil hasanah, wajaadilhum billatii hiya ahsan. Juga dalam QS Al-‘Ashri, 103:3)... Illalladziina aamanuu wa’aamilush shaalihati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish shabri. Keduanya sangat menganjurkan untuk terus amalkan sabar dalam berjihad.

    Menyadari akan banyaknya nilai kebaikan berbuat sabar, maka setiap kita, terutama pimpinan, perlu sekali mengamalkan kehidupan sederhana dan sabar. Demikian juga sebagai staf, perlu sekali sabar menunaikan tugas yang dihadapinya, karena dengan sabar bisa lebih fokus, sungguh-sungguh, dan selesaikan setiap tugas dan masalah yang sulit sekalipun. Insya Allah. Dengan sabar kita lebih bisa hadirkan solusi tehadap persoalan dunia dewasa ini. Kita yakin bahwa Allah SWT bersama orang-orang sabar.


    Yogyakarta, 2 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Selamat Tenggelam dalam Konspirasi Alam Semesta

    Buku "Konspirasi Alam Semesta".
    PEWARTAnews.com – Manusia terbentuk dari impian. Tanpa itu,kita hanyalah robot yang bergerak mengikuti hiruk-pikuk dunia, tapi tidak mengiringi irama yang dilantunkan bumi. Dan impian bukan sesuatu yang absolut. Ia dapat berubah, bertambah, bahkan berkurang.

    Diam dan rasakan debaran jantungku, saat kau ulurkan tangan menolongku. Kepalkan sayapmu, bawa aku terbang luka yang tersisa luruh dalam dekapmu. Pernahkah kau terjatuh secara sukarela? Seseorang akan menangkapmu. Seseorang akan mengajarimu cara tertawa, cara percaya, cara mengeja rasa tak bernama. Seketika itu pula, jagat raya berhenti bergerak. Jiwamu terbakar, ragamu  lebur, dan dirimu hanya bisa menyerah, karena tahu kau menyerah pada orang yang tepat. Aku milikmu hari ini, esok dan nanti.

    Kutitip rindu disela malam, berharap esok pagi kau ambil disudut langit. Menaruh angan dalam warnamu, tak hendak kulepaskan kenangan yang merantaiku. Berlarilah, aku akan mengejarmu. Sembunyilah, aku akan temukanmu. Membekulah, aku aka menunggumu luluh. Karena aku tahun kau yang pantas untuk hatiku.

    Manokwari, 20 Mei; Aku rindu hujan seperti aku merindukanmu. Sudah lama aku tidak memandang rintiknya memeluk bumi. Di Papua, semua terasa seperti musim panas ceria yang menyembunyikan sekelumit derita masyarakatnya. Mereka yang terus dikeruk hasil alamnya, ialah mereka yang sama yang sulit mengecap pendidikan dan pembangunan. Tapi, itu tidak berarti masyarakat papua tertinggal, sama sekali tidak. Di sini aku juga bertemudengan banyak orang pintar. Salah satunya kawan baruku, kak desi, seorang tenaga pengajar di Unipa. Dia pernah melanglang buana higga ketanah para Daeng demi menuntut ilmu. Aku mengagumi dia dan cita-cita luhurnya yang ingin mencerdaskan putra putri Papua. Anehnya, media tak pernah mengangkat soal kecerdasan anak-anak timur. Mungkin aku yang tidak pernah lihat, atau mungkin beritanya kalah pamor dengan hal-hal yang berbau pariwisata. Aku berjanji akan meliput lebih banyak soal ini. Bagaimana kabarmu dan papa? (hlm 65).

    Jauh adalah salah satu kata yang membuatku berani melihat, mengecap, dan menyambangi hal-hal baru. Di saat yang sama, “jauh” juga menjadi hal yang menakutkan bila itu terkait denganmu. Tapi, aku beterimakaish pada “jauh”. Karenanya, aku tahu bahwa aku merindukanmu. Dan jika rasa ini tak bernama, aku yakin hangatnya akan tetap sama, dan pemiliknya akan tetap engkau.

    Suatu ketika, tatkala bintang kejora meredup dilahap sang fajar, aku teringat pada sebuah kota tempat aku dan kamu bertemu, tempat kita memupuk asa. Dengan sekoper permintaan maaf, setumpuk penjelasan, dan segudang kerinduan, aku akan pulang pada pelukanmu, Ana Tidae.

    Orang-orang bilang ia memliki ingatan fotografis. Ia masih mampu merekam jelas suasana pantai Santolo yang ia lihat ketika TK-cinta pertamanya pada Indonesia. Ia masih mampu merekam jelas sala satu episode hidupnya saat berusia delapanbelas tahun, kala seorang anak bongsor memukulinya karena alasan yang tak ia pahami. Ia masih mampu merekam jelas mimik salah satu guru SMP-nya yang berang, sewaktu ia mengacungkan jari tengah sehabis guru itu memberikan pernyataan bahwa ia berasal dari keluarga eks-tapol tentu saja pada saat itu ia belum mengerti apa arti dari kata ‘eks tapol”, yang ia mengerti adalah hampir semua tetangga membenci keluarganya hanya karena semata “gelar” tersebut.

    Juang merupakan anak sulung dari keluarga yang sering dijuluki sebagai keluarga eks tapol, dia mempunyai adik bernama Fatah Dublajaya yang selalu mengangguk mengikuti kehendak sang ayah. Sedangkan Juang Astrajingga menolak hidup normal dengan pendapat tetap. Baginya, “normal “ versi sang ayah sangat membosankan, ia sudah menunduk tetapi tidak mau lagi diatur. Juang juga merupakan seorang pemuda yang telah medapat gelar sarjana Teknik Informatika tetapi berprofesi sebagai seorang jurnalis. Juang memang pemuda yang dulunya sudah terbentuk menjadi pemuda yang kritis berkenalan dengan organisasi kampus semasa ia kuliah. Terkadang Juang terpikat pada dunia sastra pada masa-masa akhir perkuliahannya.

    Ibunda Juang adalah wanita sederhana yang senantiasa mengingatkannya agar beribadah dan tak lupa Tuhan. Sesuatu yang telah lama tidak ia turuti. Tatkalah Juang pergi dari rumah, tiga tahun silam, sehabis bertengkar hebat dengan ayahnya karena perbedaan pendapat, hanya mata ibu yang berkaca-kaca yang memberatkan langkahnya melakukan petualangan gila-dengan cara menggembel-ke daratan Sulawesi. Pada akhirnya, ia tetap berangkat selepas mengecup kening sang bunda dan meyakinkan bahwa dirinya akan menjadi seorang yang berguna.

    Juang memiliki seorang kekasih bernama Ana Tidae yang akhirya berhasil ia nikahi selepas ia memantapkan diri dan menyelesaikan Film Dokumenter yang mengangkat sejarah papua. Mereka berdua sempat menjalani hubungan jarak jauh pada saat itu. Tetapi mereka tetap berusaha menjaga komitmen. Bahkan Juang rutin mengirimkan surat kepada kekasihnya Ana Tidae. Sampai pada suatu hari Ana tidak mendapat pesan dari Juang Astrajingga. Tidak mendapatkan pesan dari kekasihnya, Ana sangat panik. Ia berusaha menghubungi kantor Juang. Sampai sebuah pesan masuk diponselnya.

    Kisah cinta yang begitu rumit. Apakah kisah Ana dan Juang akan berakhir bahagia? Atau justru cinta mereka akan hilang karena ditenggelamkan dalam konspirasi alam semesta?

    Novel konspirasi Alam Semesta merupakan Albuk. Jadi novel ini punya perlengkapan sebuah lagu. Album yang terdiri dari beberapa lagu yang beberapa liriknya tertuang dalam novel ini. Sandarkan punggung, dengarkan lagu mengiringi baris demi baris kata adalah cara teristimewa menikmati konspirasi alam semesta.

     Juang merupakan sosok pemuda yang sangat menarik terlahir dari keluarga yang ayahnya dijuluki sebagai seorang  eks tapol, yang membuat ia sempat memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Hubungannya dengan ayahnya sangat dingin, tetapi Juang sangat menyayangi ibunya, yang mampu membuat Juang kembali pada keluarganya.

    Membaca perjuangan Ana dan Juang juga sangat menyentuh hati. Terlebih lagi pada saat Ana dihadapkan dengan sebuah penyakit dan ia hanya menutupinya dari Juang, ia tidak tega memberitahukan karena ibunda Juang pada saat itu baru saja meninggal. Belum lagi muncul kesalapahaman yang membuat hubungan mereka renggang. Ada ego yang harus di taklukkan

    Konspirasi alam semesta tidak hanya bercerita tentang cinta dan asmara, melainkan mengangkat cerita keluarga yang begitu menyentuh hati pembaca. Membaca banyaknya kontradiksi yang ada pada novel ini membuat pembaca benar-benar meneteskan air mata. Keteguhan ayah Ana yang sangat luar biasa dalam menyelamatkan nyawa putrinya. Novel ini mampu membuat pembaca menyadari bahwa sosok seorang ayah dan ibu teramat penting bagi seorang anak. Karena mereka adalah nafas alam semesta.

    Dari seorang Juang kita juga belajar tentang pribadi yang sangat mengutamakan kepentingan sosial, berjiwa besar dan pekerja keras dengan segala keyakinan dan kepercayaan untuk meraih kesuksesan. Memiliki sahabat yang sangat memperdulikannya walaupun Juang telah tiada.

    Konspirasi alam semesta mampu membuat pembaca terus membuka halaman demi halaman untuk membacanya sampai-sampai pembaca tidak bisa menebak akhir dari ceritanya kecuali membacanya sampai halaman terakhir (jebakan alam semesta).

    Identitas Buku:
    Judul : Konspirasi Alam Semesta
    Penulis : Fiersa Besari
    Penyunting : Juliarga R.N.
    Penyunting Akhir : Agus Wahadyo
    Desainer Cover : Budi Setiawan
    Penata Letak : Didit Sasono
    Cetak Keenam, 2017
    Diterbitkan Pertama Kali oleh: Mediakita

    Peresensi: Nurjadidah
    Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Negeri Mataram (UNRAM)


    Musibah Lion Air JT 610

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (memakai jas)
    PEWARTAnews.com – Sabda Rasulullah saw dalam Haditsnya, berbunyi “I’mal lid dun-yaaka kaannaka ta’isyu abadan, wa’mal li akhiratika ka annaka tamuutu ghadan”, yang artinya, bekejalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selama-lamanya, dan beramal lah untuk akhiratmu seakan-akan besuk kau akan mati. Demikian juga firman Allah SWT, “faidzaa jaa-a ‘ajaluhum laa yasta-khiruuna walaa yastaqdimuun”, yang artinya, maka apabila telah datang saat kematian, maka tidaklah kamu mampu menunda saat kematian atau mempercepatnya” (QS Al A’raf, 34).

    Hadits Nabi saw dan Firman Allah swt ini terasa sekali memiliki relevansi yang sangat tinggi bagi semua yang menjadi kurban Lion Air JT 610 yang mengalami musibah tanggal 29 Oktober 2018. Sebagian besar di antara mereka bersemangat untuk tunaikan tugas dalam mencari nafkah yang halal demi diri dan keluarganya serta lembaganya, pada waktu yang sama mereka juga tidak bisa abaikan berdoa dan beramal sholeh untuk bekal, jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya untuk selama-lamanya. Apalagi di kantong tempat duduk di Lion Air selalu tersedia leaflet Tuntunan Doa untuk beberapa agama yang tidak selalu ada di pesawat terbang lainnya. Beruntunglah penumpang yang selalu manfaatkan leaflet itu dengan tambahan doa lainnya, sebelum take off dan selama penerbangan.

    Semoga setiap memulai perjalanan dengan transport apapun, kita selalu sempatkan berdoa, semoga Allah SWT melindungi keselamatan kita. Aamiin. Akhirnya kami berduka yang sedalam-dalamnya atas mushibah Lion Air JT 610 dan ikut berdoa, semoga semua penumpang husnul khaatimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya, dan diterima di sisi-Nya. Demikian pula keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 31 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Deradikalisasi: Problem dan Implementasi di Masyarakat Plural

    Ilham.
    PEWARTAnews.com – Kekerasan dengan mengatasnamakan agama, mulai dari, radikalisme, hingga terorisme, ditengarai masih marak di tanah air. Betapa tidak, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak sekali, terjadinya pembomman dan konflik antar umat yang silih berganti mengguncang republik ini. Sebut saja bom Surabaya, konflik di Ambon, maupun pembakaran rumah ibadah di Tolikara. Fenomena itu terjadi dengan menjadikan jihad sebagai alasan pembenaran sekaligus sebagai landasan teologis. Masih dangkalnya pemahaman toleransi dan selalu curiga terhadap kelompok lain diindikasikan penyebab kerusuhan antar umat maupun kelompok masyarakat. Padahal keragaman dan pluralisme merupakan sunnatullah yang tak bisa di hindarkan oleh setiap manusia.

    Akar  konflik deradikalisasi yang terjadi di bumi NKRI di latar belakangi oleh beberapa kebutuhan, pertama, kebutuhan materi misalnya sumber daya alam, politik, perebutan kekuasaan,  mempertahankan toritorial, kedua, kebutuhan non materi misalnya mempertahankan harga diri, martabat kemanusiaan dan keadilan di mata hukum (persamaan di mata hukum) dan ketiga, kombinasi antar keduanya misalnya arab spring dan jihadis movements. Terlepas dari akar konflik deradikalisasi, masih banyak penyebab tindakan radikalisme misalnya pemikiran (ideologi), ekonomi, politik, sosial, psikologi, dan pendidikan.

    Fenomena Disrupsi pemahaman keagamaan Islam kontemporer yang masih banyak yang tekstual dalam memahami Al-Qur’an Hadist (mengembalikan segala persoalan langsung ke bunyi tekstual al-Qur’an dan Hadist), mudah melakukan eksklusi teologis terhadap praktik-praktik keislaman Indonesia pada umumnya atau kelompok  Islam lain dengan menyebutkan bid’ah, syirik, tersesat, kafir (eksklusivisme), tidak ramah terhadap perbedaan dan keragaman (kebinekaan), rendahnya komitmen terhadap negara dan bangsa Indonesia.

    Sumber-sumber intoleransi, radiakalisme, kekerasan keagamaan dalam dunia Islam banyak dipengaruhi oleh doktrin al walla wa al barra (setia dan penolakan; hanya setia pada kelompok agamanya sendiri dan ,menolak kerjasama dengan orang yang beragama lain), doktrin semacam ini tentu bertolak belakang dengan konsep kenegaraan yaitu kebhineka tunggal ika yang di bangun bangsa Indonesia. Dari sini muncullah ideologi Takfir/Takfirsme/Thoghut. Sebuah ajaran/doktrin yang bertentangan dengan prinsip Demokrasi yang pada dasarnya adalah memberi hak yang sama kepada muslim dan non muslim untuk membangun negara dalam sistem pemerintah Republik. Ekstrimisme, radikalisme, terorisme selain melibatkan berbagai faktor (politik, ekonomi dan lain-lain) namun ideologi semacam keagamaan juga ada ikut campur tangan dibelakangnya.

    Catatan komisi 1 dalam Rakernas Pendidikan 2016, membahas tentang tantangan pendidikan Indonesia yang di hadapi setiap hari atau setiap saat menjadi ancaman tersendiri bagi keutuhan bangsa ini dia antaranya: (1) Permasalahan bangsa: radikalisme, intoleransi, separatis, narkoba, kerusakan lingkungan, kekerasan, pengangguran, sarjana kurang siap menghadapi MEA; (2) Karakter lulusan:  ketidaksesuian kebutuhan (dunia kerja) vs ketersediaan (disiplin lulusan); (3) Kritik terhadap lulusan; (4) Kemampuan teknis vs penalaran: kemampuan teknis cukup, tetapi kurang diimbangi kemampuan bernalar; (5) Kritik lanjutan: rendahnya kemampuan komunikasi lisan dan tertulis, kurang berpikir kritis, rendahnya rasa percaya diri dan lunturnya nilai-nilai kebaikan.

    Permasalahan bangsa ini jauh lebih luas, bukan hanya masalah lulusan, tetapi masalah seluruh masyarakat misalnya: (1) Mengapa pemimpin saling berkelahi, tidak memberi contoh; (2) Mengapa semua orang ingin jalan pintas; (3) Mengapa materi (uang dan kekuasaan) menjadi nilai utama; (4) Mengapa pemerintah maunya melaksanakan program saja, bukan membangun sistem; (5) Mengapa idealisme menguap begitu saja.

    Dalam dunia pendidikan sendiri pun tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang terjadi, maka perlu dan penting untuk menjelaskan dan mencarikan solusi dari setiap permasalahan atau pertanyaan seperti, mengapa kita begini, apa sesungguhnya yang terjadi dan bagaimana jalan keluarnya?

    Permasalahan-permasalahan yang terjadi perlu dan penting mendapatkan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi, oleh sebab itu penulis pun menyajikan jawaaban atas gejolak pikiran dalam memahami masyarakat plural-multikultural yang terjadi di belahan bumi ini yaitu: Literasi keagamaan, prinsip kesetaraan warga negara di depan hukum, dan keterbatasan bahasa Agama

    Literasi Keagamaan
    Mengajarkan agama di ruang publik dalam masyarakat majemuk (di sekolah, masyarakat, perguruan tinggi, majelis taklim, pengajian). Pertama, Berpegang teguh pada iman masing-masing, namun sekaligus berani menguji implikasi dan konsekuensi keyakinan dan keimanannya secara sosial dan budaya di ruang publik  secara bertanggung jawab.

    Kedua, Bukan mengahakimi kepercayaan orang lain (internal umat Islam maupun eksternal agama-agama lain). Seperti: (1) Mengajarkan agama secara akademik: bagaimana asal usul agama/aliran pemikiran/madzhab keagamaan tertentu. (2) Bagaiamana berkembang, membentuk dan dibentuk oleh situasi budaya setempat. (3) Diintepresentasikan dengan cara tertentu, membangun doktrin dan percabangan. (4) Bagaimana agama membangun aliansi  dengan gerakan politik, sosial, ekonomiyang mengitarinya. (5) Bagaimana kiyai, ustz, romo, pastur, pendeta, bhiku, guru, dosen menjelaskan kelemahan manusia, sistem ritual peribadatan yang di praktikan dan seterusnya.

    Prinsip Kesetaraan Warga Negara di Depan Hukum
    Setiap warga negara sama di mata hukum, baik dalam urusan hak dan kewajiban maupun dalam hal membela dan menjaga keutuhan NKRI.

    Pertama, Tidak ada religius supremacy di depan negara dalam masyarakat majemuk. Diantaranya, (1) Agama berperan besar dalam arus publik, tetapi waspada terhadap bahaya penyalah gunaannya; (2) Masyarakat agama diminta menaati aturan hukum yang ada, mekanisme demokrasi, permusyawaratan; (3) Penganut agama tertentu menganggap agamanya yang paling super begitu juga yang lain; (4) Klaim superioritas, menyulitrkan jalan untuk meraih kompromi akomodasi dabn negosiasi; (5) Dalam situasi tertentu dan mendesak, negara dapatt membatasai kebebasan dan bahkan dapat melarangnya.

    Kedua, Pancasila sebagai sesuatu yang melekat secara umum (a common platform) bagi agama-agama di Indonesia. Diantaranya, Dasar filsafat negara; (2) Naratif yang tidak mengandung kekerasan; (3) Agama yang “eksklusif” keluar dari kesepakatan sejarah yang di buat oleh founding parents Indonesia; (4) Pancasila tidak hanya sebagai warisan nasional namun juga warisan dunia yang perlu di rawat dan ditumbuhkembangkan.

    Keterbatasan Bahasa Agama
    Pertama, Bagaimana keluar dari jebakan “religious supremacy”. Diantaranya, (1) Secara filosofis dan sosiologi: tidak ada agama apapun yang sepenuhnya utuh dalam arti yang sama sekali terbebas dari campur tangan peran keperantaraan manusia; (2) Maksud dari ketuhanan yang suci selalu di komunikasikan dan di sampaikan dalam bahasa manusia dengan segala macam keterbatasannya; (3) Keinginan tuhan selalu ada dalam batasan definisi, pengertian, pemahaman dan penafsiran manusia.

    Kedua, Agama dan kepercayaan, keterlibatan akal dalam beragama. Diantaranya, (1) Agama melibatkan keprcayaan/keimanan, namun tindakan manusia beragama tidak hanya melibatkan kepercayaan itu saja. Karena agama dan kepercayaan tidak dapat disamakan dengan begitu saja; (2) Tindakan manusia beragama ternyata melibatkan juga banyak elemen dasar yang lain, seperti: pendapat, pilihan, keputusan.  Semuanya menunjukan keterlibatan akal pikiran dalam pernyataan dan tindakan agama dan juga pertanggungjawaban induvidu.


    Penulis: Ilham
    Mahasiswa Pascarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Anggota Pusat Studi Mahasiswa (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta

    Resolusi Jihad

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Resolusi Jihad ungkapan dahsyat yang menetapkan jihad fii sabiilillah sebagai fardlu ‘ain mampu membakar semangat juang dan siap mati syahid, berhasil membinasakan tentara sekutu dalam empat hari di ujung Oktober 1945. Gerakan santri dan rakyat, serta tentara, yang dipimpin Hadhratusyeh KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah, Bung Tomo dan para tokoh saat itu dengan pertolongan Allah Swt secara fisik mampu menumpas dan menggagalkan Belanda yang dompleng Inggris tentara sekutu yang ingin menguasai kembali Indonesia.

    Jika Resolusi Jihad saat itu sangat diperlukan untuk membela dan melindungi kemerdekaan bangsa dari penjajahan fisik, maka Resolusi Jihad saat ini, terutama di era Revolusi Industri 4.0 dan Disrupsi secara kontekstual harus berbentuk lain.

    Jihad pendidikan harus diorientasikan untuk bisa mengenraskan kebodohan seluruh warga Indonesia, terutama bagi kelompok yang tak beruntung secara fisik, mental, ekonomis, geografis, dan kultural. Juga pendidikan diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan knowledge society tetapi juga innovative society. Dengan begitu bangsa Indonesia bisa mandiri dalam berkreasi dan berinovasi (There is no zero creativity).

    Jihad ekonomi mendorong bangsa memiliki kekuatan dalam menghadapi kapitalisme, mengurangi atau menghentikan hutang yang mencengkeram, mendorong gerakan beli Indonesia, melakukan gerakan cinta produk dalam negeri karena memiliki keutamaan (misal, halal)
    Jihad budaya mendorong untuk melakukan filter yang ketat terhadap budaya asing yang bertentangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila, Islam, sehingga merusak karakter bangsa, akhlaq ummat Islam. Dengan nilai-nilai luhur yang kita miliki, mestinya kita menjadi trendsetter. Untuk itu dibutuhkan keteladanan dalam action (uswatun hasanah).

    Jihad sosial mendorong untuk peduli dan care terhadap penderitaan orang lain dengan cekatan dan cepat merespon orang lain yang terkena musibah, terlebih-lebih bencana alam yang dahsyat. Wujud simpati dan empati bisa ditunjukkan dengan materi, maupun nonmaterial (doa/istighizah), bisa langsung maupun tak langsung.

    Dengan memperingati Hari Santri Nasional yang membawa misi Resolusi Jihad, tidak berarti bahwa santri atau pelajar atau warga diajak untuk meningkatkan keterampilan berperang (walau keterampilan ini masih penting jika diperlukan), tidak cukup dengan upacara atau tidak harus dengan pawai keliling kota, yang jauh lebih penting adalah kecakapan melawan hawa nafsu, kecakapan melawan kemalasan belajar dan berpikir, kecakapan melawan ketergantungan ekonomi, kecakapan melawan budaya asing yang merusak, kemampuan berempati dan solidaritas sosial, dan kesiapan untuk menjaga kesatuan dan persatuan (Aljamaa’atu rahmatun walfurqatu ‘adzaabun) yang didasai cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).


    Yogyakarta, 21 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Ncera (Part III)

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Makna yang tersebunyi. Ncera merupakan sebuah peradaban bahasa yang akan mengantarkanmu pada kesejatian hidup. Kesejatian mengenali diri sendiri lewat kekayaan bahasanya, serta kesejatian mengenali nur Tuhan pada setiap makhluk-Nya. Kata 'Ncera' tidak lahir dari ruang hampa, ibaratkan bunga, Ncera tidak tumbuh dengan begitu saja tampa faktor sejarah dan keterlibatan semua eksisten. Bunga yang indah dan segar itu sesungguhnya telah melalui ruang sejarah yang panjang, dia membutuhkan tanah, udara, cahaya, dan dirinya sendiri yang menopangnya untuk hidup. Begitu juga Ncera, dia telah melalui kerikil dan bebatuan sejarah sehingga membuat Ncera bertahan sampai sekarang. Kita harus pulang untuk memungut kerikil dan bebatuan itu, pulanglah ke rumah sejarah mu sendiri.!

    Kalau hidup membutuhkan nurani, berarti dia perlu mata dan telinga sebagai perantara supaya nurani itu hidup. Kalau Ncera adalah martabat hidup berarti dia membutuhkan manusia dan alam untuk hidupnya, dan kalau manusia adalah manusia, berarti dia membutuhkan Ncera untuk eksistensinya. Ncera merupakan sebuah kata benda penunjuk tempat, namun Ncera juga merupakan kata sifat yang mensifati sesuatu. Ncera merupakan kata kerja yang menjadi wadah untuk berproses mencapai sesuatu, Ncera juga kata penghubung yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu.

    Desamu begitu banyak menyimpan permata, dia ada tapi tidak terlihat, dia tersembunyi tampa tempat persembunyian. Ncera dalam bahasa Indonesia berarti 'murah'. Secara ekonomi, murah berarti harga sesuatu barang dibawah ukuran normal (standar). Kalau melihat berdasarkan kaca mata tersebut, orang Ncera mempunyai paradigma historis tersendiri dalam melakukan segala transaksi yang berkaitan dengan ekonomi, paradigma tersebut berorientasi pada konsep barokah, bukan pada persoalan untung dan rugi semata. Tetapi Secara teologis-folosofis, Ncera berarti sifat dari sesuatu, sifat itu merujuk untuk menjadi suatu identitas. Kalau Ncera itu sifat, berarti Ncera bermakna taho, lembo ade, raso ade, dan segala diksi bahasa Bima yang baik. Mari kita cari kalimatnya. Contoh, Ncera ade na, Taho ade na, raso ade na. Ncera ade sama halnya dengan taho ade yang dalam bahasa indonesia nya 'baik hati', orang yang mempunyai sifat baik berarti dia mempunyai segala kebaikan dalam dirinya untuk direduksikan kepada orang lain dan seluruh makhluk. Tetapi ada kalimat kunci yang bisa mengantarkan seseorang pada pencarian dirinya sendiri. Kalau kita teliti melihat kalimat Ncera ade dan taho ade, kalimat tersebut bisa mengantarkan kita pada 'raso ade'. Raso ade adalah penentu dalam laku sosial dan transenden. Kira-kira seperti itu. Ncera mengajarimu segalanya, dia juga makrifatmu untuk menemukan Tuhan.

    Perjalanan kita tidak berhenti sampai disitu. Sebagai kata benda, Ncera merupakan kata untuk menunjuk tempat 'mada dou Ncera' (saya orang Ncera), tetapi selain kata benda, Ncera juga bisa menjadi kata sifat yang mensifati sesuatu 'mada dou ma Ncera' (saya orang baik). Ncera juga bisa menjadi kata kerja 'mada dou ma ne'e Ncera'(saya ingin menjadi orang baik. Selain itu Ncera juga bisa menjadi kata penghubung antara sesuatu dengan sesuatu 'dou ma Ncera, rahose ba dou ntau na ngge'e mpa mbeina'. (orang baik, kalau diminta oleh orang lain miliknya pasti dikasih). Hanya orang yang baik yang bisa memberikan sesuatu miliknya kepada orang lain, Selain orang baik tidak. Penghubung antara sesuatu dengan sesuatu adalah 'baik'. Tetapi semua kata dan kalimat itu hidup dalam satu kalimat tunggal yaitu 'mada dou Ncera'. Ketika kita mengucapkan itu sesungguhnya kata Ncera telah menjadi kata benda, sifat, kerja, dan penghubung dalam waktu yang bersamaan.

    Mada dou Ncera, kalimat itu telah menjadi bukti terhadap esensi dan eksistensi diri kita sendiri. Ketika kita mengucapkan kalimat itu, maka kita tidak hanya memberitahukan tempat tinggal kita, namun juga kita telah menyatakan sikap dan prinsip kepada orang lain. Ketika kita mengucapkan kalimat itu, berarti kita sudah berprinsip akan punya sifat dan berprilaku 'Ncera' pada lawan bicara kita. Kenapa bisa begitu? Karena Ncera tidak hanya mewakili nama desamu, tapi juga mewakili sebuah identitas diri dan perjalanan batinmu. Dibalik kalimat tersebut, sebenarnya ada sebuah tanggung jawab etik yang harus dijalankan oleh setiap mereka yang mengatakan demikian. Tanggungjawab sosial serta moril yang menjadi identitas dan personalitas dari seseorang yang mengucapkan itu.

    Mari kita cari anonim maknanya ke hal yang lain, ketika manusia bersyahadat berarti itu akan menjadi pembeda antara dirinya dengan orang lain. Tapi kenapa Tuhan memberikan kalimat tersebut sebagai pembeda antara manusia yang satu dengan lain? Sebab, segala sesuatu butuh kata atau bahasa untuk mewakili dirinya, tapi dengan cacatan kalimat atau bahasa itu tidak sepenuhnya mewakili dirinya. Kalimat itu tidak hanya selesai di kalimat, tapi juga dibalik ikrar itu sesungguhnya ada kesiapan jahir dan batin untuk hanya menyakini Allah sebagai Allah dan Muhammad sebagai Nabi ( yang haru kita ikuti ucapan, kesepakan, dan prilakunya). Begitu juga dengan Ncera tersebut diatas. Dengan mengatakan 'Mada dou Ncera' maka konsekuensi logisnya berarti kita menyanggupi diri kita sebagai orang baik dan siap menjadi orang baik. Hal tersebut terjadi disebabkan karena makna dari Ncera itu sendiri. Ncera telah menumbukan bunga-bunga serta duri-duri, Ncera telah menumbuhkan cinta juga segala rupa dari kebencian, tetapi kebencian salah satu wajah dari Cinta.

    Bersambung.

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Refleksi Kematian

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berkaca mata). 
    PEWARTAnews.com – Kematian bagi setiap anak Adam adalah terpisahnya ruh dan jasadnya. Mempercayai adanya kematian adalah salah satu rukun iman, terkait dengan beriman tehadap qadla-qadar dan Hari Kiamat. Kematian menjadikan manusia itu berhenti beramal. Tiga hal yang terus mengalirkan pahala adalah shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan (HR Muslim). Tentu ada hal lain yang perlu diyakini bahwa syafaat Allah (termasuk doa bagi yang sudah wafat) dapat diberikan kepada siapapun atas izin-Nya (QS Al Baqarah:255).

    Ada kematian lain yang tidak kalah pentingnya untuk menjadi refleksi bersama. Pertama, kematian pikir, kita sudah tidak bisa berpikir sehat, berpikir logik, berpikir kritis, berpikir kreatif dan sebagainya, akibatnya pikiran kita tak logis, berpikir destruktif, suka debat kusir, dan tidak mau menerima hasil pikir orang lain dan sebagainya. Orang yang demikian itu sulit diajak sharing ideas, karena mau menangnya sendiri.

    Kedua, kematian rasa, kita sudah tidak bisa lagi menenggang rasa, toleran, empati, respek, dan sebagainya. Akibatnya kita intoleran, apriori dominan, sinikal, dan sebagainya. Orang yang demikian mengalami kesulitan hidup dalam kondisi multi kultural dan masyarakat hiterogin. Padahal di depan mata dan sekitar kita wajah saudara, tetangga, sahabat kita, dan warga bangsa dan dunia berwarna-warna.

    Ketiga, kematian hati, kita sudah tidak lagi teguh dalam beriman, kurang taat beragama, tidak patuh dengan norma sosial, dan kurang biasa bebuat kebajikan. Akibatnya kita sering dan cenderung meragukan keesaan Tuhan, berbuat kufur, bertindak asosial, berbuat maksiat dan destruktif.

    Kita memang masih diberi kehidupan, namun jika kita mengalami kematian pikir, rasa, dan hati, maka hidup ini terasa sia-sia bahkan sangat merugi. Karena itu bagaimana kita diberi kehidupan oleh Allah Swt dan kita maknai diri kita, semua aspek benar-benar hidup dengan kadar yang membaik secara terus menerus, walau gangguan hidup tidak bisa dihindari. Yang penting semua aspek kehidupan diusahakan dibalut dan diwarnai dengan nilai-nilai religiusutas/Islam.


    Yogyakarta, 20 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Dongkrak Literasi, Komunitas BuAI Kirim Paket Buku Amal 4.300 Kg


    Salam Literasi (L).
    Jakarta, PEWARTAnews.com – Komunitas Buku untuk Anak Indonesia (BuAI) telah mendistribusikan paket buku pada 31 Januari 2019. Pendistribusian buku sempat tertunda dari tanggal resmi 17 tiap bulan mengikuti instruksi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tentang kejelasan fasilitas free cargo literacy. Paket buku yang didistribusikan sekitar 4.300 Kg ke 50 Taman Bacaan Masyarakat terpilih se-Indonesia. Mekanisme pengiriman pada empat titik. Dua titik di Jakarta Timur di bawah tanggung jawab Mathilde May Tumenggung dan Indah Prastiwi, sisanya wilayah Cilacap dengan penanggung jawab Winda Efanur FS, Jogjakarta penanggung jawab Dewi Pangesti. Meliputi Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Sulawesi , Papua, Maluku dan pulau kecil seperti kepulauan Babel dan Halmahera.

    "TBM dipilih menurut masing-masing pengirim seleksinya beda-beda. kalau aku, supaya tersebar seadil mungkin jangan ngumpul di satu daerah," ungkap Koordinator Sie. Buku Mathilde May.

    Program pendistribusian ini berisi paket buku amal terbitan Komunitas BuAI Serial Cerita Anak Negeri "Kerjasama Penghuni Hutan & 16 Cerita Menarik Lainnya" dan buku bacaan tambahan lainnya. Program pendistribusian buku amal ini bagian dari kepedulian Komunitas BuAI turut mensukseskan program Gerakan Literasi Nasional (GLN), yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 lalu. Cakupan GLN meliputi enam aspek penguasaan literasi : literasi numerasi, literasi baca tulis, literasi sains, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan.

    Melalui pendistribusian buku amal ini, Komunitas BuAI turut mensukseskan aspek literasi tulis menulis. Sasarannya memberikan buku-buku bacaan bermutu anak-anak Indonesia, dengan memfasilitasi para pegiat Literasi di daerah-daerah. (WFS).

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website