Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Potensi Ekonomi Islam yang Tak Tergali di Daerah Mbojo

    Ibrahim.
    PEWARTAnews.com -- Sebuah upaya mengupas Mbojo. Mendengar sebutan Mbojo, berarti ini bermakna sebuah suku yang terletak di wilayah timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah Mbojo terdiri dari tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Bima, Kota Bima serta Kabupaten Dompu. Penulis memandang, dewasa ini di wilayah Mbojo kehilangan arah pembangunan dan jati diri sebagai daerah yang pernah berjaya dibawah kekuasaan kesultanan yang kental dengan keislamannya. Kondisi keislaman di daerah Mbojo tak perlu diragukan lagi, mayoritas masyarakatnya beragama Islam, falsafah Islam baik itu warisan tutur kata maupun simbol-simbol Islam masih ditemukan di daerah tersebut.

    Masa lampau, seorang ulama besar Buya Hamka pernah bekunjung ke dana Mbojo, “Kalau mau belajar Islam belajarlah di dana Mbojo,” begitu respon beliau setelah melihat kondisi keislaman yang terjadi di dana Mbojo. Sulit (tidak mudah) seorang ulama besar yang pernah menjabat sebagai Ketua MUI mengatakan hal demikian. Bila tak ada fakta yang menakjubkan dibalik itu semua. Lambang kesultanan Burung Garuda yang memiliki dua kepala yang menengok ke kanan dan kiri di kesultanan Bima menegaskan bahwa Mbojo memiliki tradisi hukum agama (syariat Islam) dan hukum adat sebagai acuan kehidupannya sehari-hari, baik sebagai individu, kelompok, maupun pemerintahan.

    Namun ketika era kesultan berakhir digantikan dengan era otonomi daerah sekarang. Mbojo seolah kehilangan kiblat arah pembangunan. kemiskinan dan kualitas pembanunan manusia masih tertinggal jauh. Ini momok mematikan yang berefek terhadap persoalan konflik antara desa, kriminalitas penjarahan dan pencuriah di daerah Mbojo meningkat. Padahal budaya rimpu, tutur kata dan falsafah Islam masih kental dan hidup ditengah-tengah masyarakat, namun akibat tergerus oleh era modernisasi serta inviltrasi budaya sekuler barat sehingga falsafah Islam tidak merasuk dalam tingkah laku keseharian serta arah pembangunan daerah Mbojo sendiri.

    Dana Mbojo, selain Islam masih banyak pesantren-pesantren di desa-desa bahkan di kota sebagai tiang dan lentera yang mengenalkan Islam pada dou Mbojo (orang Mbojo). Nilai-nilai selain Islam masih dianggap tabu. Potensi itu tidak tergali dari rancang bangunan pembangunan ekonomi dana Mbojo. Pemerintah lebih cenderung mengenjot potensi pengembangan ekonomi yang cenderung mengesampingkan aspek spritualitas, budaya, sosial dan etika. Sehingga paradigma memaksimalkan potensi ekonomi dipaksakan ekonomi ribawi (berbasis bunga) serta ekonomi eksploitasi alam masih membudaya ditengah-tengah masyarakat Mbojo. Oriantasi kebijakan itu pun tak menuai hasil menciptakan kesejahteraan dana Mbojo.

    Data menunjukkan bahwa kemiskinan di dana Mbojo masih banyak. Pertumbuhan ekonomi dana Mbojo masih rendah serta kualitas SDM-nya masih minim. Data yang dirilis oleh Bappenas tahun 2014 menggambarkan bahwa indeks pembangunan desa terendah di NTB yaitu di Kabupaten Bima 60.04 dari sekian kota dan kabupaten di NTB.

    Idealnya dana Mbojo harus kembali berkaca pada era kesultanan sebagai bencmark (percontohan) dalam merancang arah pembangunan daerahnya. Dana Mbojo bisa berkembang dan maju dengan mamasukkan pontesi spiritual Islam dalam merancang pembangunan daerah, baik itu pada aspek ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan. Keberpihakan terhadap Islam adalah contoh kesuksesan yang luar biasa pernah terjadi di dana Mbojo pada era kesultanan.

    Bila kita melihat perkembangan Islam, kini bukan lagi sebagai agama ritual semata yang memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat. Agama Islam bukan hanya mengurusi urusah akhirat saja, tapi lebih dari itu. Islam mengatur manusia dalam rangka memakmurkan bumi agar tercapai kemaslahatan dan kebaikkan manusia di bumi ini (rahmat bagi seluruh alam). Islam adalah agama pari purna yang bisa masuk kedalam semua lini. Baik itu lini ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan budaya.

    NTB dikenal dengan icon daerah yang menginisiasi penggerak ekonomi Islam “pariwisata syariah, hotel syariah, industry syariah bahkan pengkonversian bank umum NTB dari yang menjalankan aktifitas bunga kini menjadi aktifitas sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. NTB dibeberapa event baik nasional maupun internasional mendapatkan penghargaan terhadap konsen pembangunan ekonomi yang berbasis  prinsip-prinsip Islam.

    Isu ekonomi syariah di NTB tak semuanya bisa berkembang dan terdistribusi merata, seolah ada ketimpangan pembangunan serta respon kebijakan yang lambat khususnya di Pulau Sumbawa. Wilayah NTB sendiri memiliki dua pulau besar, pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, namun isu ekonomi Islam tidak begitu berkembang di Pulau Sumbawa khusus di wilayah Mbojo (Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu).

    Perkembangan industri syariah masih sedikit,  Bank Syariah, Koperasi Syariah, pariwisata syariah, hotel syariah, industri halal, ZISWAF (zakat, Infak, Shodaqoh dan Wakaf) masih sedikit dan belum tergali dengan maksimal khususnya di wilayah Mbojo

    Banyak sebab yang membuat hal demikian seperti yang tergambar diatas, mulai dari kebijakan pemerintah yang kurang respon terhadap perkembangan ekonomi Islam. Padahal Mbojo memiliki peluang yang besar untuk pengembangan ekonomi Islam. Disana masih didominasi mayoritas penduduknya beragama Islam, ulama serta pesantren masih banyak, potensi alam yang melimpah, pariwisata alam yang indah, serta budaya Islam yang masih kental, entah itu rimpu serta wisata religious kesultanan serta perkembangan sejarah Islam di dana Mbojo masih memiliki nilai jual dalam rangka memaksimalkan pendapatan daerah dan potensi ekonomi lokal.

    Pemerintah Mbojo harus mengambil peran dalam pengembangan ekonomi Islam di dana Mbojo. Prospek ekonomi Islam akan terus berkembang kedepan. Ekonomi Islam telah terbukti memberikan kebaikan dan kemaslahatan ditengah masyarakat. Pemerintah harus membuat kebijakan yang berpihak terhadap perkembangan ekonomi Islam, mengembangkan SDM yang memiliki jiwa interpreneur Islam.

    Literasi Islam harus dikembangkan entah itu opini publik, kajian, penelitian harus terus digenjot dalam rangka menciptakan opini ekonomi Islam di dana Mbojo. Pengembangan pariwisata syariah serta inklusi keuangan harus masif di dana mbojo (BMT Syariah-Koperasi Syariah) bahkan Perbankan Syariah dalam rangka menyuplai dana ke UMKM-UMKM maupun industri kecil di dana Mbojo. Potensi zakat, infak, shodaqoh serta wakaf harus dikembangkan dalam rangka memberdayakan masyarakat setempat. Dengan pendekatan pembangunan ekonomi yang berbasis nilai spiritualitas bukan tidak mungkin dana Mbojo akan bisa berkembang dan maju.


    Penulis: Ibrahim
    Pusat Studi Mahasiawa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan Anak Bangsa

    Ilham.
    PEWARTAnews.com -- Pendidikan merupakan sarana prasara untuk membimbing anak didik menuju masa depannya. Pendidik tidak mungkin membuat masa depan anak didiknya, namun mereka hanya mampu mengarahkan anak didik untuk melihat kemana arah masa depannya. Anak didik perlu melihat sendiri, menganalisis, kemudian mencoba untuk membuat rancangan menuju arah yang mereka lihat. Dengan demikian, anak akan mempunyai nalar dan daya imajinasi yang didasarkan pada pandangan mereka dan kemampuan olah pikirnya.

    Pendidikan untuk masa depan anak, bukan untuk masa depan generasi kini. Masa depan anak belum terbentuk, dan akan terbentuk seiring perkembangan zaman (perkembangan ilmu, teknologi, dan seni). Setiap anak akan menuju masa depan dengan kemampuan masing-masing. Siapa yang dapat memanfaatkan dengan berpijak pada kemampuannya adalah yang memungkinkan dapat meraih/mencapai kesuksesan. Demikian pula sebaliknya, siapa yang tidak dapat memanfaatkan kesempatan dengan memanfaatkan kemampuannya akan terbelenggu dengan kemampuannya. Sehingga, pendidikan pada dasarnya hanyalah melatih anak untuk dapat mengembangkan serta memanfaatkan kemampuannya untuk mencapai kesuksesaan hidupnya.

    Pendidikan sebagai suatu investasi masa depan bagi anak untuk kemajuan suatu bangsa, tidak hanya sekedar dinikmati dan didapatkan dalam kesempatan alakadarnya untuk bisa baca-tulis-hitung sebagai suatu pemerataan. Pendidikan yang didapatkan dan dinikmati itu, haruslah pendidikan yang berkualitas dan memiliki keunggulan, sehingga menjadi bekal hidup dalam menghadapi tantangan gelobal yang keras dan kompetitif. Oleh karenanya pendidikan harus punya arah yang jelas dan substansinya tegas sebagai pembentukan karakter anak dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks kejelasan arah suatu pendidikan akan dapat membawa peserta didik kepada kondisi tentang keseluruhan potensi yang dimilikinya.


    Keseluruhan potensi peserta didik harus menjadi titik tumpu dalam arah pendidik yang dikembangkan. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menjadi manusia sebagai alat produksi, sebagaimana konsep kapitalis, untuk penguasaan iptek demi kelangsungan higemoni kekuasaan. Melainkan pendidikan harus dibawa kepada proses pembentukan manusia seutuhnya, sebagaimana dikatakan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani “Pemerintah berupaya agar warga bangsa mendapat pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia, sehingga ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan," sebagaimana diwartakan tribunnew.com. Hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), adalah memiliki tujuan utama mencerdaskan kehidupan berbangsa yang diikuti dengan peningkatan iman dan takwa serta pembinaan akhlak mulia para peserta didik yang dalam hal ini adalah seluruh warga negara yang mengikuti proses pendidikan di Indonesia. Jadi, pendidikan harus bersifat menyeluruh dan imbang antara lahir batin.

    Selaras dengan itu dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), juga menegaskan kembali fungsi dan tujuan pendidikan nasional. “Pada Pasal 3 UU Sisdiknas ditegaskan bahwa, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Amanat UU ini mengisyaratkan pada kita semua akan tanggung jawab dalam mendidik anak bangsa ke arah yang lebih baik untuk menata masa depannya yang lebih cerah.

    Investasi di bidang pendidikan merupakan suatu bentuk jaminan masa depan anak bangsa yang lebih baik. Memang tidak dapat secara langsung mengubah masa depan anak bangsa. Tentunya hal ini merupakan proses yang membutuhkan kesabaran dan keuletan sehingga mampu menciptakan insan-insan bangsa yang intelektual. Pendidikan bukan hanya sebagai sebuah bonafiditas tetapi di balik itu pendidikan menyimpan suatu kekayaan intelektual yang memiliki nilai yang tak terhingga. Singkatnya pendidikan adalah sebagai investasi jangka panjang yang harus menjadi pilihan utama bagi anak bangsa dan negara.

    Seperti yang di kutip oleh Penulis dalam bukunya (Tilaar 1999), kemajuan suatu bangsa ditandai dengan majunya kesempatan memperoleh pendidikan yang luas dan berkualitas bagi masyarakatnya. Pendidikan yang berkualitas dan dinikmati secara luas oleh setiap anggota masyarakat bangsa itu, termasuk anak usia dini merupakan usaha bangsa itu untuk memperoleh kualitas dirinya. Dengan kualitas diri yang diperoleh lewat pendidikan, maka bangsa itu akan sanggup hidup secara tangguh dalam masyarakat dunia yang ditandai dengan kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kompetisi secara ketat. Singkatnya pendidikan yang memanusiakan manusia sejatinya merupakan jembatan emas untuk anak bangsa dalam meraih masa depannya.


    Penulis: Ilham
    Pusat Studi Mahasiawa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Bantuan Dukun

    Nurwahidah Saleh.
    PEWARTAnews.com -- Pukul 03.00 Wita, angin tertiup kencang disertai petir, jendela kamar terdengar bergemetar. Mataku masih terbuka lebar. Entah apa yang terjadi malam ini. Baru kali ini gelisah dan ketakutan. Memang kuakui malam ini adalah malam yang aneh.

    Genting berbunyi tak beraturan di goyang angin. Telingaku mulai bengkak  mendengarnya. Aku semakin berfikir tak karuan, khawatir jika tsunami terjadi di saat jauh dari orang tua. "Tuhan, apa yang mesti kulakukan," gumamku.

    Aku berusaha menenangkan diri dari kepanikan, sembari berdzikir, bola mata mulai berkeliaran memotret isi kamar yang berukuran 4x7 meter. Ini persis di film horor. Sial, kenapa mesti terjadi, kukira ini hanya mimpi. Kucubit pipi kanan, terasa sakit, benar bukan mimpi tapi nyata.

    Aku menarik napas panjang lalu menelan ludah. Lampu mulai padam. Tangan kanan berusaha mencari hape samsung yang kutaruh di meja. Aku mencari cahaya dengan pertolongan hape itu. Tapi tidak bisa menemukanya.

    Keringat dingin mulai berjatuhan di pipi.

    Tok tok, suara orang mengetuk pintu kamarku.

    Aku memilih diam tidak bergerak.

    "Siapa yang mengetuk pintu kamar," batinku.

    Air bening jatuh per satu membasahi  bantal warna biru.  Mulut terbuka tapi tidak bersuara.

    Tiba-tiba lampu kamar sudah menyala, adzan subuh terdengar nyaring di setiap menara Masjid. Aku sedikit lega, karena beberapa jam lagi matahari akan datang menyapu ketakutanku saat ini.

    Aku memberanikan diri ke kamar mandi untuk  berudwudhu. Lalu menjalankan kewajiban.

    Usai shalat, kubuang tubuh di ranjang kayu, berusaha menutup bola mata, tapi kegelisahan masih berlanjut, aku bisa mendengar detakan jantung pelan sekali. Hingga matahari mulai terlihat jelas memantul di jendala kamar. Sinarnya sudah nampak tapi rasa takut dengan peristiwa semalam masih membayang.

    Kuputuskan angkat bokong lalu kembali mencari hape di meja. Kubuka whatshapp dan mengirim pesan pada ustaz.

    "Assalamualaikum ustaz Arif, maaf menganggu, mau bilang bahwa ada kejadian aneh yang terjadi padaku. Semalam gelisah, padam lampu dan ada suara ketukan dipintu kamar. Saat ini badanku terasa loyo persis  prajurit pulang dari perang," kataku via WhatsApp.

    "Walaikumsalam dek. Kalau seperti itu, kamu ada gangguan jin. Perlu di ruqyah," jawabnya singkat di pesan WhatsApp.

    Membaca itu, aku langsung melempar hape ke ranjang. Kesal dan marah pada jin yang kurang ajar. Tega mengganggu padahal aku tidak menganggu kehidupan mereka.

    Pukul 15.00 Wita. Aku menuju parkiran motor, rencana akan ke rumah ustaz untuk di ruqyah.

    " Mau kemana Rina," kata  tetangga kamar, Desmi sambari mengambil jemuran.

    Aku langsung mendekatinya.

    "Desmi, semalam kamu bisa tidur nggak?," kataku penasaran.

    "Bisa kak, nyenyak malah tidurnya," jawabnya.

    "Oh gitu. Oke deh aku pergi dulu ya," kataku.

    Desmi hanya menyerengai dan menaikkan alis kiri.

    Aku memilih  menutup mulut dan tidak menceritakan apa yang menimpa padaku.  Khawatir Desmi takut dan pindah kosan.

    Beberapa menit mengendarai roda dua, aku sudah sampai di pintu rumah ustaz Arif.

    "Assalamualaikum," kataku sambari mengetuk pintu.

    "Walaikumsalam, iya dek silahkan masuk," kata ustaz, menyambutku dengan senyum lebar lalu mempersilahkan masuk untuk diruqyah.

    Usai diruqyah, badanku terasa pegal dan kepala puyeng.

    "Intinya, kamu harus rutin diruqyah, perbanyak istighfar kepada Allah SWT, kurangi maksiat dan jangan pacaran. Jodoh itu sudah diatur," katanya sembari menyodorkan segelas air berisi  bidara.

    Mendengar jawaban itu, hatiku terasa babak belur, sakit. Saat mendengar kalimat jangan pacaran. Ya Allah, mungkin ini pertanda agar segera hijrah sebab selama ini banyak kekufuran pernah kulalui. Apalagi saat ini punya kekasih di Jakarta. Apakah harus bubar dengannya. Batinku.

    "Terima kasih ustaz. Kalau begitu aku pulang dulu," kataku sambil menaruh gelas di meja.

    "Tunggu! Ini serbuk bidara, jangan lupa  diminum ya," katanya.

    Aku mengangguk lalu naik di motor.

    Tiba di kosan. Aku langsung membuka minuman bidara lalu campur dengar air hangat. Kuteguk dengan pelan, sangat pahit.

    Sinar matahari mulai lenyap dikoyak petang, beberapa menit lagi bulan akan nampak di Cakrawala.

    Aku menarik napas pendek, sambari mengunyah roti dan segelas susu coklat.  Semoga saja malam ini bisa tidur dengan nyenyak.

    Pukul 24.00 Wita. Aku mengambil selimut sambari berdzikir. Memutar badan ke kiri, masih seperti kemarin malam gelisah dan  keringat dingin lalu mencoba menutup kelopak mata, memikirikan hal yang indah. Semoga saja dengan ini langsung tidur. Nyatanya tidak bisa. Kuputuskan untuk ambil novel karya Novellina A.

    Kubuka halaman 23. Melanjutkan  membaca  kisah dua orang sahabat  yang mencintai lelaki yang sama. Beberapa menit kemudian adzan subuh kembali terdengar. Aku menutup novel lalu ke kamar mandi.

    Hari ini adalah hari Senin, aku tidak ada rencana untuk berkantor. Langsung kukirim pesan WhatsApp kepada atasan bahwa aku tidak enak badan.

    Waktu telah berlalu hingga sudah sepekan tidak bisa tidur nyenyak. Padahal sudah di ruqyah. Untung kesabaranku masih ada dan memilih berobat ke dokter praktik.

    Setiba di tempat praktik yang tidak jauh dari kosan, aku duduk loyo mengantre menunggu panggilan.

    Aku di urutan ke 13. Aduh memang menunggu itu tidak menyenangkan bagi orang yang punya kesabaran sedikit. Beberapa jam kemudian namaku dipanggil oleh salah satu perawat perempuan yang berbadan kurus.

    Aku langsung masuk di ruangan dokter dan bercerita keluhan bahwa tidak bisa tidur sudah sepakan, gelisah.

    "Sering main android ya, "kata dokter itu, yang tidak kutahu persis namanya. Ia menulis di resep obat.

    Aku hanya mengangguk. Lalu ia menyodorkan resep alprazolam 0,5, lalu menyuruh untuk tebus di apotik.

    Ya Allah, berjam-jam aku menunggu untuk diperiksa malah hanya di kasih resep dokter.  Aku mulai kesal dan memilih untuk mencari obat di apotik.

    Namun tidak ada satupun apotik yang memberikan obat tersebut, katanya kosong.

    Aku berusaha sabar menghadapinya, memilih keperpustaan. Tiba di rak buku lalu mengambil satu per satu cerpen dan novel sebagai koleksi bacaan minggu ini.

    "Hey sudah lama kamu di sini," suara tidak asing lagi di kupingnku.

    Aku menoleh ke kanan dan  ternyata Iwan. Iwan adalah lelaki yang kuanggap sebagai sehabat. Ia kutemukan di sini dirantau. Iwan juga suka membaca bahkan sudah ada novelnya telah terbit. Makanya aku senang bergaul dengannya sebab bisa berguru bagaiamana tehnik menulis .

    Iwan mengajakku mendengarkan ceritanya  mulai dari pengalamannya berliburan di Toraja. Aku hanya mengangguk bahagia, sesekali tertawa.

    Dari jarak satu meter terlihat kursi di depanku.  Kami langsung duduk di sana.

    "Sudah selesai bicaranya," kataku lemas.

    "Sudah donk, kenapa sih kamu kelihatan tidak bersemangat hari ini, wajahmu juga sudah pucat. Ayolah cerita," bujuknya.

    Sebagai sahabat sekaligus sudah kuanggap sebagai kakak di rantau maka kupilih menceritakan semunya.

    "Aku sudah lelah menghadapi ini semua, mulai dari berobat yang belum ada hasil hingga, merasa mulai frustasi," kataku menahan isak.

    "Kamu yang sabar ya Rina, intinya perbanyak istighfar kepada Allah SWT, jika nanti malam kamu tidak bisa tidur, hubungi saja aku. Biar kutelepon lalu berpuisi," kata Iwan.

    Aku hanya mengangguk.

    Usai jumpa dengan Iwan. Aku langsung pulang dikosan dan mengeluarkan buku koleksi dari tas. Aku mengambil novel  berjudul pulang dipangkuanmu. Rasa penasaran membacanya akhirnya kubuka halaman pertama.

    Tak terasa aku sudah memasuki halaman ke sepuluh. Novel ini menceritakan seorang perempuan kena santet hingga  menutup usia.

    Aku mulai khawatir jika kisah di novel ini akan sama persis apa yang kurasan. Khawatir jika aku menutup usia karena gangguan jin.

    Memasuki halaman  ke dua puluh, di novel ini, gadis berumur 20 tahun mulai sakit-sakitan, badannya pun tampak kurus. Orang tuanya sudah melakukan banyak cara dengan pengobatan untuk kesembuhan putrinya. Mulai dari berobat ke dokter, hingga ke dukun.

    Aku langsung menutup novel  dan memikirkan apakah ini petunjuk harus pergi ke orang pintar? Aku membatin.

    @@@

    Pagi ini, aku sudah siap-siap ke dukun. Untung saja aku mengetahui alamat rumahnya. Meski lokasinya masuk pedesaan, tapi  tetap antuasias, demi dapat kesembuhan.

    Tiba di depan rumah dukun itu, badanku terasa mengigil dan sedikit khawatir.

    "Ada yang bisa di bantu," suara nenek memegan tongkat, membuyarkan konsentrasiku.

    "Iya nek, apa benar ini rumah orang pintar?," tanyaku.

    "Tentu benar. Aku sendiri orangnya. Ayo masuk," katanya.

    Aku hanya mengangguk pasrah.

    Tiba ruang tamu, aku memilih duduk melantai. Lalu merekam pernak-pernik yang terpajang di tembok.

    "Sudah berapa hari kamu tidak bisa tidur," nenek itu membuka dialog.

    Aku langsung kaget, kenapa ia tahu sebelum kuceritakan yang terjadi.

    "Sudah sepekan nek, tolong dibantu," jawabku penuh harap padanya.

    Nenek itu langsung menuangkan air putih ke gelas plastik sambari membacakan sesuatu.

    "Ayo minum ini," katanya.

    Aku mengangguk.

    Selanjutnya, nenek ini menuangkan lagi air putih ke dalam aqua botol. Masih seperti yang tadi. Membacakan sesuatu. Tapi aku tidak mengerti apa yang ia baca.

    "Ini rutin kamu minum sebelum tidur. Minggu depan kamu ke sini lagi ya!," katanya.

    "Ia Nek," kataku sambari menyodorkan amplop kepadanya dan pamit pulang.

    Apa yang diperintahkan nenek itu. Telah kulakukan. Ternyata benar, aku bisa tidur nyenyak.

    @@@

    Hari ini hari Minggu, tidak piknik dan memilih  keperpustakaan.

    Aku sudah memilih satu cerpen. Lalu menuju kursi.

    "Hey Rina, apa kabar?," kata Iwan menyapaku.

    "Alhamdulillah baik, aku mau ngomong susuatu sama kamu," kataku.

    Iwan menaikkan alis kiri lalu menyerangai.

    "Aku cukup lega, karena bantuan dukun. Ya sudah bisa tidur. Tentu aku tidak perlu lagi keliling apotik nyari obat tidur dan pulang pergi diruqyah," kataku penuh semangat.

    "Apa!," nada Iwan terdengar shok.

    "Istighfar Rina. Kamu tidak sadar bahwa apa yang telah dilakukan itu salah," kata Iwan.

    Aku memasang raut bingung.

    "Kamu meminta kesembuhan pada orang pintar. Ya tentu itu tidak boleh meminta bantuan selain Allah SWT," ujar Iwan, wajahnya merah.

    Mendengar itu, bola mataku rasanya mau copot satu per satu ke meja. Memang kuakui bahwa apa yang telah kulakukan adalah salah.
    Aku menunduk menahan isak.

    "Lalu apa yang mesti kulakukan Iwan? Dari kecil aku sudah dibina oleh orang tua, untuk shalat dan menjalankan sunnah rasul. Tapi nyatanya, aqidah sudah goyah," kataku gemetar.

    "Sudahlah Rina, jangan menangis didepanku tapi menangislah di depan Allah. Segeralah bertaubat," kata Iwan.

    "Aku sungguh menyesal," kataku.

    @@@

    Penulis: Nurwahidah Saleh
    Perempuan asal Bulukumba, Sulawesi Selatan yang telah menerbitkan Novel "Oleh Sebab Perjanjian Kakekmu"

    Menalar Arah Baru Pulau Sumbawa yang Berkemajuan

    Arif Rahman.
    PEWARTAnews.com -- Pulau Sumbawa merupakan salahsatu pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pulau ini terletak di sebelah timur pulau Lombok. Pulau yang sangat eksotik dan menyimpan cukup banyak sumber daya alam melimpah. Secara admistratif pemerintahan, Pulau Sumbawa terdapat satu kota yakni Kota Bima, dan juga terdapat empat kabupaten, diantaranya, Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Sumbawa Barat. Letak geografis pulau ini menentukan corak khas masyarakatnya, yang mana masyarakat Pulau Sumbawa kita kenal dengan masyarakat agraris dan maritim. Hal demikian yang menjadikan daratan dan lautannya sebagai sumber penghasilan utama.

    Dewasa ini kita ketahui sendiri bahwa Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu menjadi sorotan utama pemerintah pusat terkait petani jagung. Gagasan awal pemerintah pusat adalah menganjurkan masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur yakni lahan yang tidak lagi produktif. Pada prinsipnya lahan tidur yang dimaksud disini adalah lahan pertanian yang sudah tidak digunakan selama lebih dari dua tahun buat dimanfaatkan untuk menanam jagung.

    Lahan tidur umumnya merupakan sebuah bagian dari sistem peladangan berpindah di mana petani membuka hutan, menanamnya selama beberapa musim tanam, dan meninggalkannya untuk membuka lahan baru. Kenyataan yang terjadi di pulau kita, hutan dan gunung digunduli, kemudian pohon-pohon yang besar dan lebat di ganti dengan tanaman jagung. Tentu saja secara ekonomis hal ini baik, namun masih perlu pengkajian yang lebih mendalam, sebab dibalik itu ada dampak buruk yang lebih besar yang akan terjadi.

    Seperti halnya yang pernah di ungkapkan Dr. Edi, S.S., M.Pd., M.Pd.B.Ing., belum lama ini waktu berdialog dengan mahasiswa Mbojo (Dompu dan Bima) di Yogyakarta mengatakan bahwa kenyataan lain yang terjadi berkaitan pemanfaatan lahan tidur, semisal ketika masyarakat diberi ijin oleh pemerintah daerah setempat untuk menebang hutan satu hektar, namun yang dibabat melebihi satu hektak yang diijinkan tersebut.

    Selain hal diatas, akhir-akhir ini Pulau Sumbawa mengalami bencana kemanusiaan yang lebih mengerikan daripada bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami, seolah-olah semua orang sudah menjadi hakim untuk memutuskan salah benarnya, seseorang tanpa melewati jalur hukum yang jelas, ada maling motor dikejar dan di tangkap, bukannya di serahkan kepada pihak yang berwajib malah di bunuh dan di bakar. Selain itu, watak masyarakat yang masih susah menghadapi kemajuan, menganggap bahwa modernisme itu adalah predator yang menelan kultur tradisi lokal, sehingga di tempat-tempat rekreasi/wisata sering terjadi pemandangan yang jauh dari kata aman, jelas ini akan sangat mencederai dan merugikan banyak pihak. Jelas ini akan semakin membuat wisata kita semakin terbelakang, karena masyarakatnya belum terbuka soal pandangan modernisme. Jika ada pengunjung wisata yang datang dari luar atau orang luar yang hanya sekedar masuk di kampung kita dengan pakaian serba minim sudah pasti itu di teriaki, di cemooh, di cela dan lain sebagainya. Padahal kita tahu bahwa kita dan mereka beda kultur, seharusnya kita bisa saling menghargai atas asas Bhineka Tunggal Ika.

    Tahun 2019 kita akan memasuki perhelatan  pesta demokrasi, pemilihan Presiden, Anggota DPD RI, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) --baik DPRD kabupaten/kota, DPRD Provinsi, maupun DPR RI. Upaya mewarnai perpolitikan nasional, di Pulau Sumbawa sendiri banyak orang-orang terbaik putra daerah yang bertarung maju di DPR RI, salah satunya adalah Mujahid Abdul Latief, S.H., M.H. melalui Partai Gerindra.

    Momentum tahun politik 2019 ini semua elemen masyarakat mempunyai mimpi yang sama, guna melakukan upaya maksimal untuk membangun daerah. Kita sebagai masyarakat Pulau Sumbawa pasti menginginkan adanya kemajuan Pulau Sumbawa tersebut pada tangan yang tepat, Mujahid sendiri adalah salah satu calon anggota DPR RI yang mempunyai gagasan membangun Pulau Sumbawa lewat pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM). Mujahid mengungkapkan dalam diskusi bersama teman-teman mahasiswa yang dilaksanakan di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu bahwasannya untuk membangun pulau sumbawa kita butuh modah, modal yang paling utama adalah sumber daya manusia human capital (manusia sebagai modal).

    Dari sumber daya manusia yang baik maka akan melahirkan kultur yang baik, dari sumber daya manusia yang baik maka akan melahirkan ketentraman dan keamanan yang baik, dari masyarakat yang baik dan mapan secara pola pikir maka akan melahirkan masyarakat yang cerdas dan arif terhadap lingkungan sekitarnya, dengan sumber daya manusia yang cerdas dan bermoral kita bisa mengelola sektor apa saja sebagai penopang ekonomi masyarakat, kita bisa mengeloala wisata, kita bisa mengelola pertanitan yang maju tanpa harus menggunduli hutan dan gunung. Sebab dari hutan dan gunung-lah sumber turunnya air hujan, kita bisa mengelola kebudayaan lokal, kita bisa mengelola dan membina anak-anak muda sebagai penerus bangsa ini.

    Penulis sendiri merasa terpukau dengan konsep dan gagasan beliau, yang mana saat calon-calon yang lain sibuk membangun daerah dengan mengedepankan investasi, program ini, program itu, tapi beliau hadir dengan kecerdasan dan gagasan yang mampu menjawab akar permasalah kita selama ini. Saatnya kita titipkan masa depan Pulau Sumbawa pada tangan yang tepat, tangan yang mengerti suara rakyat, bukan suara pemodal. Semoga niat baik dan ketulusan dalam membangun Pulau Sumbawa benar terwujudkan, “Wajah baru Pulau Sumbawa bersama Mujahid Abdul Latief”.


    Penulis: Arif Rahman
    Aktifis Mahasiswa Pulau Sumbawa di Yogyakarta

    Pengda INI Kota Yogyakarta Kupas Implementasi Akad Syariah dalam Perbankan Syariah

    Suasana usai Seminar Nasional Pengda INI Kota Yogyakarta, 22/12/2018. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (Pengda INI) Kota Yogyakarta selenggarakan seminar nasional dengan mengangkat tema “Implementasi Akad-akad Syariah dan Pengikatan Jaminannya pada Perbankan Syariah” yang digelar di Hotel Grand Dafam Rohan Yogyakarta (depan JEC) Jalan Janti Gedongkuning 336 Yogyakarta, Sabtu (22/12/2018). Agenda ini terselenggara juga atas dukungan PT. Pertamina, PT. Timah dan Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

    Ketua Pengda INI Kota Yogyakarta Muhammad Firdaus Ibnu Pamungkas, S.H. menuturkan bahwa agenda seminar nasional ini diselenggarakan sebagai upaya mewadahi semua pihak yang bersentuhan dengan dunia notaris untuk peningkatan wawasan dan keilmuan. “Seminar ini bertujuan meningkatkan wawasan keilmuan para mahasiswa sebagai calon Notaris, kepada Notaris, maupun kepada masyarakat umum yang berkaitan dengan implementasi akad-akad syariah dan pengikatan jaminannya pada perbankan syariah (hak tanggungan),” ucap Firdaus. 

    Seminar nasional ini menghadirkan narasumber diantaranya, Dr. Habib Adjie, S.H., M.Hum. (Notaris dan PPAT Surabaya, Presiden INC, Sekretaris DKP PP INI), Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H., S.IP., M.Hum. (Hakim Mahkamah Agung), Ikhwan Abidin Basri, B.Sc. M.Sc., M.A. (Dewan Syariah Nasional MUI), dan Ro’fah Setyowati, S.H., M.H., Ph.D. (Ketua APPHEISI, Dosen FH UNDIP). Selain itu, hadir juga pemateri kunci Prof. Jawahir Thontowi.

    Dalam penyampaian materinya, Habib Adjie mengucapkan bahwa Standarisasi Penyusunan Akta Perbankan Syariah selaras dengan Undang-undang Jabatan Notaris dan Pengikatan Jaminan. Pasalnya, kata Habib, dalam pembiayaan diperlukan adanya jaminan, hanya saja yang dipermasalahkan apabila tidak bisa membayar, ada tanggungan dan diberikan lelang. “Memang benar dalam syariah prinsip tolong menolong. Tapi ketika lelang tetap saja dibabat habis. Walaupun tidak sanggup membayar, maka tidak mungkin mau membebaskan dari utang tersebut,” tegas Habib.

    Menurut Habib, DKP PP INI berupaya membuat standar penyusunan. Hanya saja sampai saat ini belum ada hasil karena adanya pandangan selalu berbeda terkait bank yang bersangkutan. Sebab dalam perbankan syariah harus mematuhi hukum positif, KUHPerdata buku ke-3, Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT), Undang-undang Jabatan Notaris (UUJN) dan kaitan dengan kontrak syariah.

    “Dasar legalitas akta otentik terkait Pasal 1868 KUHPerdata harus diikuti. Jika dibuat akta notaris, maka ikuti Pasal 38 UUJN. Dalam praktik saya temukan sesuatu yang bermasalah. Ketika awal menangani syariah, bentuknya akta notaris. Setiap akta notaris dimulai dari judul. Tapi dalam akta syariah dibuat dari Bismillah. Padahal dalam Pasal 38 UUJN jelas menyatakan awal akta adalah judul. Tetapi pihak lain menyatakan awal akta adalah Bismillah,” urai Habib.

    Sementara narasumber lain, Abdul Manan dalam paparannya berjudul “Penyelesaian Sengketa terhadap Akad Syariah di Pengadilan Agama” menjelaskan peraturan terkait penyeleseaian sengketa termaktub dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 yang merupakan perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. Dalam UU tersebut dinyatakan sengketa diselesaikan di PA.

    “Pada awalnya memang ada reaksi dari banyak kalangan. Apa mungkin PA ini dapat menyelesaikan sengketa ekonomi syariah? Padahal selama ini hanya menyelesaikan pada ranah hukum kekeluargaan,” beber Abdul Manan.

    Dijelaskan pada awalnya perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 ini tidak hanya terkait penyelesaian sengketa perbankan syariah saja. Tapi juga menyangkut ekonomi syariah secara lebih luas. “Memang ketika dibahas, kami ditanya apa bisa PA menyelesaikan sengketa syariah? Kami memberi penjelasan kepada DPR, untuk hitung menghitung PAlebih pintar daripada PN. Sehingga hakim PA bisa menyelesaikan waris,” ungkapnya.

    Acara Seminar Nasional berlangsung dengan meriah, dan terjadi interaksi yang elok pun tak dapat dihindarkan, sehingga dengan suasana demikian nuansa akademis pun kian terpancar. (MJ / PEWARTAnews)

    Keren! Sembilan Alumni STKIP YAPIS DOMPU Ini Lulus CPNS

    Para alumni STKIP YAPIS Dompu yang telah lulus CPNS. 
    Dompu, PEWARTAnews.com -- Awal tahun 2019 merupakan awal yang sangat menggembirakan bagi sebagian orang yang lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pasalnya, hari Kamis tanggal 3 kemarin merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh para pelamar CPNS yang telah mengikuti seluruh rangkaian tes. Kegembiraan itu juga terpercik pada 9 alumni STKIP YAPIS DOMPU yang telah resmi menjadi PNS. 

    Adapun 9 alumni tersebut antara lain: Adnan alumni Program Studi (Prodi) Penjaskesrek yang ditempatkan di SMAN 2 Hu’u, Romlah Alumni Prodi Teknologi (TI) Informasi yang ditempatkan di  SMPN 1 Dompu, Haidonullah Alumni Prodi TI yang ditempatkan di SMPN 2 Hu’u, Nurul Hairiah Alumni Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang ditempatkan di SDN 5 Pekat.

    Selain itu, ada Nur Yulvita Alumni Prodi PGSD yang ditempatkan di SDN 25 Pekat, Muslimin Alumni Prodi PGSD yang ditempatkan di SDN 30 Pekat, Taawatul Hasanah Alumni Prodi PGSD yang ditempatkan di SDN 11 Kempo, Nanu Anriani Alumni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang ditempatkan di SMPN 2 Pekat, dan yang terakhir adalah Elita Alumni Prodi TI yang masih kami konfirmasi penempatannya.

    Berbagai ucapan selamat pun mengalir kepada 9 alumni STKIP YAPIS DUMPU tersebut. Salah satunya datang dari Ayu Ruminti, yang kami himpun dalam sosial media Facebook. “Selamat saudaraku, mulai sekarang harus kuat, jangan lemah lagi," begitu cuitan dalam statusnya.

    Ucapan selamat juga disampaikan oleh para dosen-dosen STKIP YAPIS DOMPU, salah satu Ibu Enung Nurhasanah, M.S.I yang merupakan Alumni Universitas Islam Indonesia.

    Beberapa dari alumni yang telah resmi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut kami wawancarai secara langsung. Di antaranya adalah Romlah, “Senang banget,” ujarnya saat ditanya tentang suasana hatinya.

    Romlah melanjutkan bahwa perjuangan yang ia lakukan sangat sungguh-sungguh, ia banyak belajar dan banyak berdo'a. “Do’a orang tua juga sangat penting,” imbuhnya. Perempuan yang biasa disapa Ola tersebut juga merupakan lulusan terbaik keempat pada wisuda tahun 2017 STKIP YAPIS DOMPU.

    Secara terpisah, Nurul Hurairah yang merupakan kakak tingkat jurusan dari Ola juga mengungkapkan kegembiraan hatinya saat diwawancara. “Pastinya senang banget, saya menyerahkan semua pada Allah, dan Alhamdulilah lulus. ini berkat persiapan belajar dan do’a,” terangnya. “Saya pas dengar ada pembukaan tes CPNS langsung belajar,” celotehnya lagi dengan semangat.

     Ekspresi kegembiraan pun terpancar dari wajah Muslimin dan Taawul Hasanah saat diwawancarai. Awul, sapaan akrab Taawul Hasanah, menyebutkan dirinya sudah mulai belajar 1 minggu sebelum tes resmi diumumkan. Saat ditanya tentang persiapan, Awul menjawab, “Paling penting persiapan mental, karena sebelum daftar CPNS ada isu hoax yang beredar, bahwa alumni kampus saya tidak bisa daftar CPNS, tentu itu membuat saya khawatir,” kenangnya.

    Awul melanjutkan, “Rupanya itu hanya isu hoax, ya saya tetap daftar, ya alhamdulilah akhirnya saya lulus,” ucapnya dengan penuh syukur. Ia pun berpesan kepada adik-adik mahasiswa, “Jangan percaaya isu hoax, tugas kita terus belajar agar kita mampu meraih cita-cita,” serunya.

    Dihubungi secara terpisah melalui pesan Whats’app, Ketua STKIP YAPIS DOMPU, Drs. Muhammad Gunawan, M.Pd. menyampaikan ucapan selamat kepada Sembilan Alumni yang lulus menjadi ASN. Beliau menambahkan “Awalnya saya tidak menyangka alumni STKIP YAPIS DOMPU dapat lulus sebanyak ini, sampai saya terharu melihat realita ini,” ungkapnya.

    Gunawan melanjutkan, “Ribuan sarjana memperebutkan kursi yang dipersiapkan oleh pemerintah, dan alhamdulilah beberapa kursi ASN itu diraih oleh Alumni STKIP YAPIS DOMPU,” sebutnya. Sebagai penutup beliau berpesan, “Kepada beberapa alumni yang belum lulus, tetaplah semangat masih ada kesempatan untuk berkompetisi lagi,” tutupnya. (Arif Bulan / PEWARTAnews)

    Politik Parasit dan Perjuangan Kuda Putih yang Istimewa

    Muhammad Akhir.

    PEWARTAnews.com -- Indonesia merupakan negara yang sangat besar dan strategis untuk segala bidang maupun mata pencaharian, sebut saja strategis di bidang ilmu pengetahuan salah satunya.

    Sampai hari ini, ilmu pengetahuan menjadi tolak ukur perkembangan zaman, dengan ilmu pengetahuan manusia dapat mencetus hal-hal baru yang mempermudah keberlangsungan hidup di dunia.

    Ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah warisan berharga dari pencipta untuk manusia, sehingga manusia mampu menata dan mengelola negeri yang kaya akan alam dan sumber-sumber kehidupan. Dari ilmu tersebut pula manusia melahirkan banyak kegaduhan dalam kehidupan, sebab tidak banyak orang yang mampu mendapatkan kelebihan memiliki ilmu pengetahuan untuk mengelola kehidupan.

    Ilmu pengetahuan juga melahirkan politik strategis yang ideal demi keberlangsungan hidup yang lebih baik, sehingga manusia merasa tenang jika ada manusia lain yang berbicara kehidupan harus lebih baik, kemudian dengan perkembangan yang terus menerus terjadi, maka akan melahirkan berbagai macam polemik, salah satunya nanti akan melahirkan polemik politik parasit.

    Politik pada dasarnya adalah hal baik untuk mengajak orang lain berjalan beriringan menuju hal kemakmuran dan perubahan hidup, politik bisa terjadi karena ada lawan bicara, harus lebih dari satu orang atau bahkan banyak sekalipun tidak masalah. Karena salah satu unsur politik adalah berinteraksi, jadi siapapun yang berinteraksi berarti dia sudah berpolitik.

    Sampai hari ini politik terus berkembang, dari politik yang positif seperti mengajak dalam kebaikan hingga politik yang berdampak negatif mengajak dalam kegelapan dan kemunduran berfikir, sehingga tidak heran jika hari ini ada banyak yang saling menjatuhkan yang lain demi kepentingan individu dan kelompoknya.

    Dari kian apa yang terjadi, maka polemik poletik parasit melahirkan pandangan yang membingunkan masyarakat, politik parasit maksudnya politik menyerang orang lain sampai pada penurunan produktivitas lawanya, politik parasit dia tidak akan mengenal kawan ataupun lawan, yang jelas dia berpikir bahwa saya kenyang saya hidup.

    Dengan demikian politik parasit gak boleh dikerjakan oleh manusia, sebab parasit adalah cara kerja hewan yang tak punya fikiran, namun silakan lakukan politik parasit jika ingin dianggap sebagai hewan renik.

    Politik harus diperjuangkan dengan nilai-nilai kebenaran yang baik, harus dijaga, dirawat dan disucikan, sehingga dapat membantu keberlangsungan hidup yang baik bagi umat, bangsa, dan negara.

    Yakin saja, dengan modal lillah dan usaha yang keras, kita bisa mewujudkan nilai-nilai politik yang damai, sejuk, dan tentram, karena hanya dengan demikianlah kita akan mendapatkan nilai keberkahan dalam hidup, yakni bermanfaat bagi orang lain dan membantu mewujudkan kesejahteraan yang merata.

    Manusia-manusia tersebut pantaslah disebut sebagai pejuang kuda putih yang istimewa, karena hanya manusia-manusia yang lahir dari rahim suci yang mampu menjadi orang-orang Istimewa atau orang-orang pilihan, mereka tidak diragukan lagi dalam mengajak, mengawal, dan memperjuangkan kebenaran sekalipun nyawah taruhan mereka.

    Sampai saat ini, jarang kita menemukan manusia-manusia istimewa tersebut, karena politik parasit sudah mempengaruhi terlebih dahulu cara berfikir manusia. Semoga Semuanya kembali pada kebaikan dan mengenal politik yang sesungguhnya.


    Penulis: Muhammad Akhir
    Sekertaris Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta

    Mahasiswa dan Tanggung Jawabnya pada Kehidupan Sosial

    Muhammad Akhir.
    PEWARTAnews.com -- Mahasiswa adalah anak zaman yang akan melahirkan zaman pula, melalui tanggung jawab dan peranan mahasiswa menjadi harapan negeri untuk mensejahterakan masyarakat pada umumnya. Selain itu mahasiswa juga mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik sebagai harapan umat dan bangsa melalui kualitas ilmu pengetahuanya.

    Mahasiwa menjadi agent of sosial control yaitu dengan menjadi layaknya badan hukum yang benar-benar syahadah mengontrol kebijakan yang disahkan dan mengawal terlaksananya kebijakan tersebut. Agent of social change dimana mahasiswa dengan skill dan pengetahuan dan profesionalitas berorganisasi sehingga dapat menyongsong pembangunan untuk menjadikan peradaban Indonesia yang terbaik.

    Adapun harapan ideal seorang mahasiswa bagi umat dan bangsa, berangkat dari
    kesadaran diatas, maka perlu dipandang penting bahwa mahasiswa adalah tolak ukur pembangunan umat, bangsa, dan negara.

    Ketika harapan tersebut berusaha untuk direalisasikan demi mewujudkan kesejahteraan umat dan bangsa melaui kelebihan-kelebihan ilmu yang mereka miliki, maka ketika itu pulalah mahasiswa menjadi mahasiswa hedonis yang egois tanpa memikirkan harapan keluarga dan lingkunganya, maksudnya dia memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan individu dan kelompok-kelompok tertentu.

    Mahasiswa yang seharusnya agent of social control, menjadi agent who should to control (agen yang harus dikontrol) karena sifat kekanak-kanakan, egoisme, fanatis, hedonis, pragmatis yang dapat menjadi parasit bagi masyarakat dan negara. Kemudian yang seharusnya agent of social change, menjadi agent who should to change (agen yang harus dirubah) karena manja, bodoh, miskin skill, bibit pengemis, bibit koruptor, bibit yang hanya mengikuti egoisme, fanatisme, hedonisme, dan pragmatisme.

    Bukti hal-hal di atas sudah tidak perlu
    dipertanyakan lagi karena memang sudah menjadi kebenaran mutlak disetiap kampus seluruh Indonesia.

    Dari Problem tersebut, maka perlu penataan awal bagi mahasiswa dengan membangkitkan potensi-potensi yang ada dalam diri mahasiswa. Mengunggulkan diri mahasiswa dengan nalar berfikir kritis dan kreatif untuk menciptakan inovasi baru yang memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan bangsa umat dan masyarakat. Juga berusa terus menjadi mahasiswa yang berkualitas akademis, kaya akan skill/kemampuan yang menjadi modal awal bagi pergerakan dan perjuangan mahasiswa dikancah sosial.

    Tanggung jawab yang dimiliki mahasiswa bukan hanya untuk memberikan pengawalan dan pembangunan untuk infrastruktur, bukan hanya ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, dan budaya, namun lebih dari itu mengawal pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk masyarakat, pemuda, dan anak-anak adalah hal yang paling pertama dan utama.

    Pembangunan SDM merupakan hal paling penting dalam kehidupan sehari-hari tentu untuk anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, jika semua sudah dikembangkan melalui SDM, maka beberapa faktor di atas seperti pengaruh pembangunan sosial, ekonomi, hukum, budaya dan pendidikan akan berjalan dengan baik, sebab semua hal demikian hanya bisa dijalankan melalui karakter mahasiswa yang sudah dewasa dalam pengembangan nilai-nilai jati diri keilmuanya.

    Pembangunan melalui SDM akan memperlihatkan mahasiswa tidak menunggu waktu lulus kuliah baru bisa mendidik dan mengajar serta bersosial, namun saat menjadi mahasiswa itulah maka peran pentingnya menjadi bagian tersebut diatas diutamakan, sehingga cikal bakal untuk dikemudian hari mampu berjalan sesuai arah dan kebijakan kultur masing-masing.

    Mahasiwa juga harus memiliki kualitas
    spiritual yang tinggi (religius), sehingga mampu membawa ilmu tersebut untuk kembali membahagiakan masyarakat di kehidupan sosial bermasyarakat.

    Disanalah sebenarnya peran mahasiswa tanpa menafikan status kampus, hanya saja mahasiswa terlalu gengsi dalam mengakukan diri demi kesombongan yang tak jelas, saling menghujat dan mencaci antara satu sama lain, sehingga yang ada adalah bentrok intelektual, bentrok argumen, bentrok persepsi dan lain sebagainya, yang seharusnya mahasiswa berkumpul menyatukan kualitas dan kuantitas sehingga membentuk menjadi wadah mewujudkan mahasiswa harapan umat, bangsa dan negara.

    Kesadaran mahasiswa itu perlu dihadirkan dalam kehidupan sosial, sehingga agar tidak membuat kekacauan dengan argumentasi pilihan mahasiswa ketika nanti bermasyarakat.


    Penulis: Muhammad Akhir
    Sekretaris Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website