Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Muballigh Besar Drs. KH Sunardi Syahuri Tutup Usia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. saat berbela sungkawa di rumah duka Drs. KH Sunardi Syahuri.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Telah berpulang ke rahmatullah untuk selama-lamanya, Drs. KH Sunardi Syahuri, pada hari Ahad, 11/11/2018 di Yogyakarta, dan dimakam pada hari Senin, 12/11/2018.

    Menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., sosok seorang KH Sunardi Syahuri merupakan sosok muballigh besar juga dermawan. “(KH Sunardi Syahuri) seorang muballigh besar, dermawan, dan tokoh Islam terkenal, semoga husnul khaatimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal sholehnya, serta keluarga yang ditinggalksn diberi ketabahan dan kemampuan untuk melanjutkan perjuangannya. Aamiin,” ucap Prof. Rochmat.

    Ummat Islam DIY dan Jateng khususnya, serta Indonesia umumnya, kata Prof. Rochmat, kehilangan seorang ulama yang dicintai ummatnya. “Almarhum adalah pengurus dan aktifis di beberapa institusi dakwah dan ulama yang gigih dalam bedakwah bil-qaul dan bil-hal, ulama mutawasith yg layani semua golongan ummat, dai untuk ummat terpelajar dan ummat yang di seluruh pelosok, dan banyak lagi sebutan untuk Almarhum,” katanya. “Karena itu yang kehilangan bukan hanya keluarga, melainkan juga semua ummat Islam. Karena beliau sudah berjihad fii sabilillah, maka Almarhum sebenarnya masih hidup karena namanya insya Allah akan dikenang dan akan diikuti jejaknya oleh ummat dan terutama tokoh-tokoh yg istiqamah untuk tegakkan Islam,” beber mantan Ketua Tanfidziah PWNU DIY ini.

    Lebih jauh, kata Rochmat, “Mautul ‘aalim mautul ‘alam, (Matinya seorang yang alim, Matinya seluruh Alam). Mengapa demikian, karena orang alim yang wafat dengan membawa ilmu, ummat ikut kehilangan ilmu, kehilangan seorang yang suka menasehati dan memberikan cahaya dan pencerahan sehingga ummat hidupnya bisa menjadi tersesat. Padalah di tengah kehidupan yg krisis multidimensional, ummat sangat membutuhkan seseorang panutan dan teladan dalam berbuat kebajikan,” imbuhnya.

    Mautu ‘aalim ahabbu ila iblis min mauti sab’iina ‘aabidaa, (HR Imam Baihaqi), yang artinya “Wafatnya seorang ‘alim lebih disukai iblis daripada wafanya 70 orang ahli ibadah”. “Ini dapat diartikan betapa tingginya kedudukan seorang ulama di mata Iblis.” cerita Rochmat membacakan bunyi hadits nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW juga bersabda, kata Rochmad, bahwa “Menunggalnya ulama adalah musibah yg tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yg tidak bisa ditambal. Wafatnya ulana laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama (HR Ath Thabrani)”.

    “Dengan demikian jelaslah bahwa wafatnya seorang ulama, sungguh ummat Islam kehilangan sesuatu yang besar. Semoga anak-anak biologis dan ideologis KH Sunardi Syahuri bisa melanjutkan perjuannnya. Selamat jalan pak Kiai Sunardi, semoga disambut oleh Allah SWT dengan sangat baik dan mendapatkan tempat  terbaik di sisi-Nya. Aamiin. Lahul faatihah.” tutupnya.

    Komitmen Menulis Tiap Hari

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com -- Senang rasanya bisa berbagi lewat karya tulis. Alhamdulillah, bahagia. Hati adem dan tenteram. Pikiran segar. Beban di kepala terasa ringan. Syukur pada Ilahi, tak henti kuucapkan.

    Inilah salah satu caraku mensyukuri nikmat Tuhan. Yakni, mencoba berbagi lewat goresan pena. Mulai dari hal yang paling sederhana, hingga sesuatu yang barangkali sebagian orang menganggapnya rumit. Ya, menulis, mensyukuri nikmat Tuhan. Demikianlah artikelku dalam buku antologi “Menulis Mengabadikan Pesan”.

    Entah mengapa jemari tangan seolah tak mau diam. Maunya menari dan bergoyang terus-menerus. Pikiran pun seolah tak karuan, apabila dalam sehari saja tidak menulis. Mungkin orang lain menganggap ini adalah hal yang aneh. Akan tetapi, beginilah yang terjadi dan yang kualami.

    Aku menulis rutin tiap hari sejak Desember 2016. Belum lama memang. Akan tetapi, setidaknya aku telah merasakan manfaat yang luar biasa. Bahagia sekali.

    Kisah dan pengalaman hidup masa kecil, tiba-tiba muncul saja di benak ini. Sehingga, memunculkan semangat untuk mengabadikannya. Aku berusaha untuk mengikat dengan tulisan atas apa yang pernah aku lalui dulu. Ya, paling tidak, untuk kenangan di masa mendatang. Juga, untuk dibaca oleh anak cucuku kemudian.

    Komitmen menulis tiap hari benar-benar hadir dari lubuk hati sendiri. Bukan terinspirasi dari siapa-siapa. Tak ada orang yang menyuruh. Juga, tak ada orang yang datang memaksa. Murni atas komitmen pribadi.

    Sebab, kala itu, aku bermimpi untuk melahirkan minimal dua buku dalam setahun. Entah itu dalam bentuk karya antologi (keroyokan) maupun buku mandiri (solo). Maka, hal yang mesti aku lakukan adalah menulis, menulis, dan menulis. Tak ada cara lain. Pun, tak ada jalan pintas.

    Ya, dengan menulis rutin tiap hari, maka aku optimis bahwa mimpi menelurkan buku (minimal dua buku setahun) akan terwujud. Dan, alhamdulillah, dengan izin Tuhan, hal demikian menjadi kenyataan.

    Begitulah. Jika segala usaha dibarengi dengan doa, maka akan mudah tercapai atas apa yang menjadi impian kita. Optimis itu penting. Dan, yang tak kalah penting adalah usaha untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, yakni menulis, dan terus menulis.

    Selain dari yang aku paparkan sebelumnya, aku menulis tiap hari sebagai wujud rasa syukurku pada Sang Pencipta. Ya, ini adalah salah satu bentuk ungkapan terima kasihku pada Sang Pemilik ilmu. Dengan asa, apa yang kutulis semoga bisa juga dinikmati oleh orang lain, dan mendatangkan kebermanfaatan bagi siapa pun. Artinya, aku tak ingin pengetahuan dan/atau pengalaman dalam diri hanya dinikmati oleh seorang diri. Aku ingin juga berbagi kepada sesama.

    Alhamdulillah, hingga kini, aku masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menulis rutin tiap hari, walau tak banyak. Aku masih bisa menikmati asyiknya “bercumbu” dengan tulisan. Aku masih bisa menggerakkan jemari dengan penuh semangat.

    Semoga kebiasaan ini bisa kulakukan hingga ajal menjemput. Dan, moga apa pun yang kutulis dan kubagi lewat karya tulis memberi manfaat bagi orang lain. Amin.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda Produktif Menulis asal Bima NTB

    Asian Para Games dan Prestasi Gemilang Atlet Indonesia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Asian Para Games saat pembukaan dibuka secara resmi oleh oleh Presiden RI Joko Widodo pada 6 Oktober 2018. Keberhasilan Asian Game Indonesia belum lama ini, baik sebagai penyelenggara maupun peserta (kontingen) telah membuktikan kesuksesan dan capaian prestasi yang gemilang. Harapan besar ini juga diikuti keberhasilan dan kesuksesan penyelenggaraan dan capaian prestasi panitia dan atlit (kontingen) Asian Para Games yang gemilang yang telah terselenggara juga belum lama ini (awal bulan Oktober).

    Asian Para Games diharapkan sekali dijadikan momentum yang strategis untuk kebangkitan layanan bagi kontingen berkebutuhan khusus, baik dari kontingen luar negeri maupun kontingen Indonesia. Penulis sebagai bagian dari komunitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ikut memberikan apresiasi terhadap Panitia yang telah berusaha memberikan fasilitas, dukungan, dan layanan yang terbaik untuk mereka, bisa mengekselerasi layanan bermutu dan relevan, sehingga mereka bisa tampil optimal.

    Hadiah dan bonus dari Pemerintah bagi atlit dan pelatihnya, idealnya sama, syukur-syukur bisa lebih. Paling tidak harapan itu jangan jauh di bawah dari peraih medali Asian Game. Alhamdulillah di hari pertama langsung dimulai untuk bulu tangkis beregu yang bisa raih medali emas.

    Ada beberapa pelajaran dari Asian Para Games. Pertama, usaha sukseskan penyelenggaraan mengindikasikan bahwa perhatian pemerintah semakin positif terhadap individu berkebutuhan khusus. Kedua, aksesibilitas bagi individu berkebutuhan khusus meningkat secara kuantitatif dan kualitatif. Ketiga, masyarakat sudah semakin menerima kehadiran anak atau orang berkebutuhan khusus di ruang publik. Keempat, anak berkebutuhan khusus semakin selfconfident bahwa potensinya bisa tumbuh dan berkembang dengan lingkungan yang semakin kondusif. Kelima, kita seharusnya dapat melihat individu berkebutuhan khusus lebih pada potensi dan prestasinya, bukan kelemahan atau kecacatannya.

    Keenam, dalam memberikan pelayanan kepada individu berkebutuhan khusus seharusnya diorientasikan untuk menuju kemandirian. Ketujuh, semua individu sama di hadapan Tuhan, termasuk antara individu yang berkebutuhan khusus dan yang normal, karena taqwa kepada Allah lah yang bisa membedakan di antara mereka.

    Man is unique. Inilah pandangan populer Alfred Adler, seorang Ahli Psikologi Individual. Karena itu setiap individu itu punya style if life yang berbeda-beda. Kita harus respek antar sesama, rasa ini yang belakangan mulai luntur. Setiap individu memiliki kekuatan dan kelemahan. Sementara itu individu harus survive, dengan begitu seorang individu yang memiliki kelemahan yang berakibat pada rasa rendah diri (inferiority feeling) harus dikompensasi dengan pengembangan potensi atau kekuatan yang dimiliki dengan dorongan rasa keunggulan (superiority feeling). Praktek hidup ini bisa kita lihat pada Event Asian Para Games kemarin belum lama ini, bagaimana sejumlah atlet berkebutuhan khusus dengan ragam kelainannya, atas dasar kebutuhan berprestasi (need of achievement) dan kegigihan dan kesabaran pelatih dan manajer, sejumlah atlit bisa tunjukkan prestasi yang sangat gemilang.

    Contoh lain, siapa yang tidak kenal Napoleon Bonaparte (1769-1821) yang berbadan kecil dan berhasil pimpin negara Perancis dan Revolusi Perancis dan seorang Adolf Hitler (1889-1945) yang impotent, memiliki keberanian yang luar biasa pimpin Revolusi Pan-Germany. Kelemahan yang dirasakan keduanya tidak otomatis menyebabkan tak berdaya dan inferior, tetapi justru mendorong dirinya untuk mengeksplorasi kekuatan dan mengusahakan diri secara optimal untuk bisa diwujudkan sehingga tidak hanya sekedar survive tetapi terbukti mampu mewarnai kehidupan dunia.

    Atas dasar itulah kita dan orang lain yang memiliki kelemahan, seharusnya terinspirasi dan segera melakukan asesmen, baik sekali dilakukan sedini mungkin, sehingga ditemukan potensi yang terus dilakukan pembinaan dan latihan serta pendidikan yang sesuai untuk bisa tumbuh dan berkembang optimal, yang idealnya bisa lahirkan prestasi yang gemilang dan menakjubkan sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya. Kita ingat bahwa Allah swt tidak akan pernah menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya.

    Bagaimana dengan pengalaman Anda, adakah catatan penting yang perlu di-share? Terima kasih.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    BBKT Karang Taruna Kota Jogja Bertajuk “Migunani Kagem Sesami”

    Berdiri ditengah Ketua MPKT Haris Syarif Usman, SH, MKn, PLT Kadinsos Yogyakarta Bejo Suwarno, SH., dan Ketua Rarang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. (sedang memangku anaknya)
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pemuda di kota Gudeg Yogyakarta diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan bermasyarakat. Berangkat dari hal demikian, Karang Taruna Yogyakarta menginisiasi untuk mengadakan agenda Bulan Bakti Karang Taruna (BBKT). Acara bertema "Migunani Kagem Sesami" ini diadakan pada hari Ahad, (11/11/2018).

    Ketua Karang Taruna Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. mengatakan bahwa kegiatannya BBKT ini berupa senam ceria, upacara,  bakti sosial pemberian sembako pada penyandang masalah kesejahteraan sosial, ziarah makam pahlawan dan sarasehan.

    "Acara berlangsung di Taman Inspirasi Brontokusuman, Mergangsan, Jogja. Diselenggarakan  oleh Karang Taruna Kota Jogja bersama Dinas Sosial Kota Yogyakarta," ujar mahasiswa Kenotariatan FH UGM ini.

    Solihul Hadi mengatakan, kegiatan BBKT merupakan agenda tahunan yang rutin dilakukan, melalui kegiatan ini pemuda dapat meningkatkan semangat  kesetiakawanan sosial dan mampu mengeksplorasi ide gagasan yang penuh inspirasi.

    "Tujuannya agar Pemuda Karang Taruna sebagai generasi milenial tidak mudah terprovokasi dengan tetap menjaga semangat persatuan dan kesatuan di tahun politik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 saat ini," ungkapnya.

    Kabid Data Informasi dan Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kota Yogyakarta Esti Setyarsi menjelaskan, Bulan Bakti Karang Taruna selain untuk memperingati ulang tahun Karang Taruna, harapannya pengurus Karang Taruna se-Kota Yogyakarta mulai dari tingkat unit, kelurahan, kecamatan, dan kota dapat lebih solid.

    Wakil Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia Kota Jogja Peltu (Purn) Suniyat berharap, bersamaan dengan Hari Pahlawan Nasional diharapkan para pemuda di Yogyakarta dapat mengimplementasi nilai-nilai kepahlawanan ddalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

    Ketua Panitia BBKT Muhammad Iqbal Hardian mengungkapkan terima kasih pada semua pihak yang terlibat, juga pada komunitas Ketjil Bergerak. "Kegiatan ini bertujuan menjadikan Karang Taruna sebagai kebanggaan, solidaritas, kebermanfaatan sosial dan membangun kekeluargaan," jelasnya. (MJ)

    2050 Diprediksi Ada 4 Kekuatan yang Membentuk Peradaban Masa Depan Dunia Utara

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpeci).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Menurut lelaki paruh baya yang sempat menjabat rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017, Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., mengatakan bahwa sekitar pada tahun 2050 mendatang diprediksi akan ada 4 kekuatan yang membentuk peradaban masa depan dunia utara, yaitu : trend demograpik, tuntutan sumber daya alam, perubahan cuaca dan globalisasi.

    “Dunia utara dimaknai bukan hanya belahan dunia barat tetapi juga dunia timur. Sebagaimana yang pernah saya dapatkan komentar dalam forum diskusi dengan sejumlah ahli Jepang, bahwa dunia belahan timur bagian utara, misal Jepang, Korea, dan China tidak bisa dipisahkan dari bagian selatan, misalnya : negara-negara Asean, termasuk Negara-negara Asean, karena Jepang dan negara maju sekitarnya, khususnya dapat menjaga diri dengan baik.,” beber Prof Rochmat, belum lama ini di Yogyakarta, 05/10/2018.

    Trend geograpik, kata Prof. Rochmat, bisa menjadi potensi besar jika dikelola dengan sebaik-baiknya, namun jika tidak dikelola dengan sebaik-baiknya boleh jadi akan menjadi beban dan malapetaka.

    “Sumber daya alam adalah aset yang bisa habis, jika dikonsumsi secara berlebihan. Sementara kebutuhan dan tuntutan sumber daya alam akan terus berlangsung. Untuk menjaga sumber daya alam tetap bisa memenuhi kehidupan generasi mendatang sangat diperlukan pengelolaan sumberdaya alam secara hemat, produksi energi terbarukan, rekayasa sumber daya alam sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi pemborosan yang berlebihan,” ucap lelaki yang juga sempat menjabat Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016 ini.

    Adanya perubahan cuaca, lanjut Rochmat, juga tidak bisa dihindari, terlebih-lebih dengan adanya pemanasan global yang membuat es yang ada di kutub utara dan selatan berangsur-angsur mencair yang berkonsekuensi logis terjadinya permukaan air laut naik dan banjir di mana-mana tidak bisa dihindari. “Banjir tidak hanya menguntungkan dalam batas-batas tertentu, namun di sisi lain banjir bisa akibatkan malapetaka,” kata Rochmat.

    Lebih lanjut, Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini mengatakan bahwa globalisasi, yang semula hanya terkait dengan dunia ekonomi, kini globalisasi sudah menyangkut semua aspek kehidupan, baik aspek sosial, kesehatan, budaya, pendidikan, sain dan teknologi, maupun kehidupan agama serta aspek lainnya, walaupun belakangan ini secara tidak langsung kebutuhan dunia IT menjadi primadona dan tidak bisa diabaikan. “Yang jejas bahwa arah globalisasi adalah meng-guide kita untuk mewujudkan perintah Allah Swt, bagaimana menjadi rahmat bagi seluruh alam,” cetus Rochmat.

    Lebih jauh Prof Rochmat mengingatkan, walaupun kita yang berusia 50-an tahun, kita yang sebagian besar, boleh jadi tidak akan bisa melihat langsung realita pada 2050, namun paling tidak kita by designed sudah ingatkan generasi anak-anak dan remaja untuk benar-benar latihan memanaj waktu.

    “Ingat, alwaqtu kassaiif, fain lam taqtha’hu qatha-aka, yang artinya, bahwa waktu laksana pedang, jika kamu tidak menggunakannya secara tepat maka akan penggal (leher) mu. Karena itu kita harus optimis dan menjaga waktu dengan sebaik-baiknya untuk produktif, jika tidak mampu mengelola waktu ke depan dengan aktivitas yang baik dan berkelas, maka akan merugi, karena tidak menjadi subjek tetapi menjadi objek. Gimana menurut Anda tantantangan masa depan ini?,” tutup Prof Rochmat dengan mengakhiranya dengan pertanyaan untuk kita dan seluruh warga Indonesia.

    Bupati dan Wakil Bupati Bima Hadir Meriahkan Festival Bombo Ncera

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. didampingi Ketua Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN) Aswad, S.Pd. saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. didampingi Wakil Bupati Bima Drs. Dahlan  M. Noer dan juga Ketua Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN) Aswad, S.Pd. saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. berfoto bersama warga setempat saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Warga saat mengikuti Pawai menuju Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Warga saat mengikuti Pawai menuju Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Rahma.

    Suasana warga di pintu gerbang Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: M. Nur Dirham.

    Suasana penenunan kain khas Bima saat acara Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: M. Nur Dirham.

    Deklarasi Karang Taruna DIY saat Perayaan Hari Pahlawan Nasional

    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. saat Upacara Hari Sumpah Pemuda DIY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dalam rangka upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda, 10/11/2018, Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta mengucapkan Deklarasi yang berisi 4 point penting tentang Hari Pahlawan Nasional.

    Pembacaan deklarasi diwakili oleh Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. saat Upacara Hari Sumpah Pemuda DIY. "Saya Solihul Hadi, Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta mewakili generasi muda Karang Taruna se DIY mngucapkan terimakasih telah diberikan kesempatan untuk menyampaikan Deklarasi dalam acara Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2018 ini," ucap Solihul saat membacakan isi point-point deklarasi.

    Point yang dibacakan dalam deklarasi tersebut diantaranya: Pertama, Kami Generasi Muda Karang Taruna mengucapkan Selamat Memperingati Hari Pahlawan Nasional 2018.

    Kedua, Kami Generasi Muda Karang Taruna mengucapkan terimakasih atas jasa para pahlawan yang telah mewariskan kemerdekaan dengan penuh pengorbanan jiwa dan raga serta pertumpahan darah dimedan pertempuran, sehingga generasi muda hari ini dapat terbentuk menjadi generasi penuh Inspirasi serta nemiliki Narasi besar dalam keikutsertaan membangun Bangsa baik dalam sektor sosial, ekonomi  budaya dan politik.
    Ketiga, Kami Generasi Muda Karang Taruna akan mengeksplorasi dan mengimplementasi nilai-nilai perjuangan para pahlawan dalam kehidupan bermasyarakat untuk mengembaliken semangat dan jiwa sosial yang bertanggungjawab.

    Keempat, Kami Generasi Muda Karang Taruna Berdo'a semoga para pahlawan yang telah gugur mendapat tempat yang layak dan diberikan nikmat kubur dialam sana, dan semoga para keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, kekuatan dan semangat yang sama dengan para leluhurnya didalam meneruskan ruh juang dan kepahlawanan. (MJ / PEWARTAnews)

    Polisi, TNI dan Masyarakat Gelar Bersih Bersama untuk Menyambut Festival Bombo Ncera

    Polisi, TNI dan Masyarakat desa Ncera saat melakukan  kerja bakti pembersihan kawasan wilayah Bombo Ncera (09/11/2018), untuk menyambut Festival Bombo Ncera yang akan di gelar pada 11-12 November 2018. Foto: Yuke.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website