Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Mendidik Tanggung Jawab

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Anak yang dalam perkembangannya dari untrusted di usia dini menuju trusted di usia dewasa mengalami proses yang dinamis dan konstruktif. Anak dari yang belum bisa bertanggung jawab menuju anak yang bertanggung jawab. Perkembangan tanggung jawab anak tidak bisa dibiarkan. Untuk itu perlu pendampingan  yang serius dan terarah. Kehadiran orangtua atau orang dewasa di keluarga dan guru di sekolah sangat berarti dalam menfasilitasi dan  mendampingi anak untuk bisa bertanggung jawab.

    Orangtua dan atau orang dewasa dan guru memiliki kewajiban yang tidak ringan , yaitu mendidik anak untuk bisa  bertanggung jawab kepada orangtua, diri sendiri, masyarakat, Tuhan dan yang lainnya. Pertama, bahwa pada usia sampai 6 tahun anak mulai dididik bertanggung jawab kepada orangtua dengan menunjukkan ketaatannya kepada orangtua. Bertanggung  jawab menjaga dan memanfaatkan sesuatu yang telah diberikan orangtua. Juga bertanggung jawab bekerja sesuai dengan porsinya dalam keluarga. Ikut membantu pekerjaan atau tugas di rumah.

    Kedua, bahwa pada usia 8 tahun anak sudah mulai dididik tentang moralitas. Bahwa anak hidup di tengah-tengah masyarakat harus belajar mengenali ketergantungan antar manusia dan saling respek terhadap hak orang lain. Anak dididik dengan cinta dan takut (positif), yang perpaduannya menghasilkan respek. Di sisi lain anak menjadi bertanggung jawab kepada msyarakat tempat mereka belajar dan mencintai sesama. Demikian juga mereka takut melanggar peraturan yang ada dan gagal memanaj tindakan, bakat dan sikap damai.

    Ketiga, bahwa di usia 10 tahun anak mulai dididik disiplin. Disiplin inilah yang benar-benar harus ditanamkan kepada anak. Dengan landasan disiplin, anak-anak dididik bertanggung jawab terhadap diri sendiri dengan disiplin menentukan pilihan (kegiatan dan cita-citanya). Juga menjaga kebiasaan untuk menjadi karakter. Selanjutnya dengan disiplin yang sangat tinggi, bertanggung mewujudkan potensinya.

    Keempat, bahwa di usia 12 tahun dan mungkin sebelumnya, anak menjadi mukallaf. Saat anak mulai bertanggung jawab untuk berkomitmen dengan agama dan Tuhannya. Pada usia ini sudah dibebani tanggung jawab keagamaan karena dipandang sudah dewasa dengan dicirikan anak puteri dengan menstruasinya dan anak putera dengan mimpi basahnya. Tanggung jawab yang seharusnya ditanamkan adalah menjaga iman, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

    Kelima, bahwa anak yang sudah berusia 12 tahun sudah menjadi bagian dari kehidupan di lingkungannya. Anak-anak seharusnya mulai dididik untuk bisa melayani. Dalam konteks anak didik bisa peduli dan membantu anak yang lebih muda. Juga seharusnya dididik berkomitnen dengan janjinya, apa yang dikatakan harus diwujudkan dalam perilaku. Demikian juga anak seharusnya bertanggung jawab untuk berkontribusi terhadap lainnya, tidak merusak.

    Menjadikan anak bertanggung jawab merupakan tugas dan amanah yang sangat mulia. Jika berhasil mendidik anak-anak kita bisa menjadi yang bertanggung jawab, insya Allah ini investasi yang sangat besar artinya. Karena bisa menghadirkan warga negara yang mampu berbuat kebaikan, menciptakan kedamaian dan kebahagiaan. Semoga mampu mewujudkan tanggung jawab kita baik sebagai orangtua, guru, dan pejabat, tokoh agama, maupun tokoh masyarakat dengan ridlo Allah swt.


    Yogyakarta, 22 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    Hasil Kunker Jokowi di NTB, Gubernur NTB: Enam Poin Ini Menggembirakan

    Gubernur NTB saat menyambut kedatangan Presiden RI Joko Widodo di NTB.
    Mataram, PEWARTAnews.com -- Presiden RI Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Provinsi Nusa Tenggara (NTB) pada hari Jum'at, 22 Maret 2019.

    Menurut Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah ada enam poin penting yang bisa dirasakan dampak positifnya bagi warga NTB atas kedatangan Presiden RI di NTB. "Hari ini Presiden Jokowi Berkunjung ke NTB. Alhamdulillah ada beberapa hal yang menggembirakan buat kita di NTB :

    1. Sekarang Uang untuk Korban Gempa sudah 5.1 trilyun sudah berada di kita di NTB. Kemarin baru di tambah 1.6 T. Mudah-mudahan progress pembangunan rumah yang sudah bagus ini tambah lebih bagus lagi ke depan.

    2. Rumah sakit Internasional segera di bangun di Mandalika dan semua pembiayaan dari pemerintah pusat. Selesai insya Allah sebelum MotoGP Mandalika 2021 di mulai.

    3. Perbaikan dan penyempurnaan pelabuhan Lembar agar mobilisasi menjelang MotoGP 2021 lebih baik dan lebih cepat.

    4. Bandara Internasional di Loteng akan di perpanjang agar bisa didarati lebih banyak pesawat berbadan besar..yang membuat bandara Internasional kita semakin bagus.

    5. Proses penegerian Univetsitas Teknologi Sumbawa (UTS) dipercepat dan Menristekdikti tadi langsung di hubungi presiden untuk menuntaskannya. Universitas negeri di Pulau Sumbawa penting agar SDM kita  tambah pesat kemajuannya dan seimbang antara pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

    6. Segera di buat akses jalan nasional atau jalan tol dari BIL ke Mandalika dan tadi Menteri PU langsung mendiskusikan rencana detailnya dengan kami. Mudah-mudahan ada kesadaran kita bersama untuk proses pembebasan lahan yang lebih cepat dan tak merugikan maasyarakat.

    Berbagai hal di atas tentu banyak dilakukan di Pulau Lombok. Ini patut di syukuri karena semuanya menggunakan dana pusat. Sehingga dana APBD kita bisa kita alokasikan lebih banyak ke Pulau Sumbawa untuk menyelesaikan banyak infraastruktur fisik mendasar yang masih jauh tertinggal di sana," ucap Gubernur NTB melalui akun Facebooknya Bang Zul Zulkieflimansyah barusan, 22/03/2019. (MJ)

    Motif Manusia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Pada dasarnya setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya. Pada faktanya ada yang berhasil, cukup berhasil dan kurang berhasil, bahkan ada yang tidak berhasil. Banyak pengalaman empirik dan teori yang dapat menjelaskan keberhasilan hidup seseorang, baik yang terkait dengan faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal juga bisa terdiri atas faktor intelektual dan non intelektual. Salah satu faktor non intelektual yang sering memberikan kontribusi untuk meraih keberhasilan adalah motif atau kebutuhan (need).

    Secara historis, tokoh psikologi yang telah berhasil mengembangkan teori kebutuhan adalah Abraham Maslow. Selanjutnya teori kebutuhan dikembangkan oleh David McClelland (1961) melalui bukunya yang berjudul , “The Achieving Society”. Dia mengidentifikasi tiga motivator, yaitu motif berprestasi, motif affiliasi, dan motif kekuasaan. Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda tergantung pada motivator dominan. Yang tergantung juga pada budaya dan pengalaman hidup.

    Untuk lebih tahu secara detil, ketiga motif manusia dapat diungkapkan secara berturut-turut.
    Motif Berprestasi dapat dicirikan dengan antara lain, (1) memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk menentukan tujuan dan mencapai tujuan-tujuan yang menantang, (2), menghadapi resiko untuk meraih tujuan, (3) suka menerima umpan balik secara berdasarkan kemajuan dan prestasi, dan (4) sering suka bekerja sendiri.

    Motif Affiliasi dicirikan dengan antara lain, (1) ingin menjadi bagian dari kelompok, (2) ingin disukai, dan akan sering pergi bersama dengan berkelompok (3) menyukai kolaborasi untuk kompetisi, dan (4) tidak suka dengan resiko tinggi atau ketidakpastian.

    Motif kekuasaan yang dicirikan dengan antara lain(1) ingin mengontrol dan mempengaruhi orang lain, (2) suka untuk memenangkan argumentasi, (3) menikmati kompetisi dan kemenangan, (4) menikmati status dan rekognisi.

    Vinish Parikh (2018) berhasil menformulasikan keuntungan dan ketidakberuntungan Teori Motivasi Manusia Mcllaland. Keuntungannya di antaranya, (1) pegawai diberi tugas sesuai kebutuhannya, (2) tidak ada kesempatan untuk beralasan, (3) pegawai terpuaskan. Sedangkan ketidakbertuntungannya di antaranya, (1) mengabaikan kebutuhan dasar, (2) sekedar tiruan (hadir bukan karena keahlian), (3) sulit mendapatkan posisi sesuai dengan kebutuhan. Menyadari akan keuntungan dan ketidakberuntungan teori ini, maka siapapun yang mau menggunakan teori ini harus berhati-hati. Jangan sampai salah dan dirugikan.

    Secara selintas bahwa ketiga kebutuhan ini berdiri sendiri-sendiri. Seseorang bisa saja memiliki motif berprestasi tinggi, tetapi tidak tinggi pada motif lainnya. Demikian juga seseorang bisa menunjukkan motif kekuasaan tinggi, tetapi tidak tinggi pada motif lainnya. Hal ini bisa terjadi pada setting kehidupan dalam lingkungan kerajaan atau setting tertentu. Karena posisi itu didapat dari pemberian.

    Dalam konteks kehidupan demokrasi, ketiga motif itu seharusnya dilalui secara berurutan. Diawali dengan motif berprestasi. Setelah berhasil dilanjutkan dengan motif affiliasi, dan diakhiri dengan motif kekuasaan. Ketika kekuasaan sudah diraih dan perlu dijaga terus, maka seseorang wajib menjaga motif secara istiqamah. Jika tidak, maka sangat mungkin kekuasaan bisa berakhir di tengah jalan. Namun lepas dari itu tanpa dikaitkan dengan kekuasaan, setiap individu seyogianya memiliki motif berprestasi. Karena motif berprestasi sangat berarti bagi kehidupan setiap individu. Tanpa motif berprestasi, seseorang bekerja akan semaunya, sulit disiplin, dan tidak ada gairah. Ujung-ujungnya juga merugi sendiri karena kehadirannya tidak memberikan manfaat.

    Akhirnya bahwa apapun motif manusia dalam hidup itu yang mendasari setiap perilakunya. Namun perlu difahami bahwa ketiga motif ini tidaklah bersifat melekat (inherent), melainkan dipelajari. Karena di antara tiga itu yang pasti dibutuhkan adalah motif berprestasi, maka sudah seharusnyalah keterampilan meningkatkan motif berprestasi menjadi penting. Ingat motif berprestasi akan lebih bermakna jika diwarnai dengan nilai-nilai religiusitas. Bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. (Innamal a’malu binniyaah, walikullim ri-in maa nawaa).


    Yogyakarta, 21 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Para Calon dan Prilaku Sufi

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Lalu Lintas kehidupan kita akhir-akhir ini sangat menyita seluruh sistem tubuh kita untuk bekerja lebih maksimal, metabolisme dan imunitas tubuh harus di isi setiap Saat, supaya virus dan segala macam peyakit sosial tidak mudah untuk menyerang. Mulai dari gejolak pemilihan presiden dan wakil persiden, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari daerah sampai pusat, dan segala sirkulasi problem kemanusiaan serta sosial yang merobohkan tembok kemanusiaan kita. Semua itu Sangat memotong laju kehidupan kita yang berkemajuan, baik di bidang ekonomi, politik, kesehatan, hukum, pembangunan, dan intelektualitas. Terlepas dari itu, ada hal tersembunyi yang kami temukan dibeberapa waktu terakhir, yaitu tentang para calon legislatif dan prilaku sufi.

    Kalau kita lihat lebih jauh, sungguh kita akan menemukan suatu cara pandang dari beberapa orang yang mulai melupakan nilai kemanusiaan dari para calon. Kenapa demikian? Percaya atau tidak, apapun usaha para calon untuk menyapa masyarakat sekarang ini selalu kelihatan keliru, masyarakat selalu terfokus untuk mencari sisi keburukan daripada kebaikan yang dilakukan oleh para calon. Menyapa salah, tidak menyapa pun salah, kelihatan dimuka umum salah, tidak kelihatan di muka umumpun salah. Punya gagasan dan ide dianggap nggomong doang, tidak punya ide dan gagasan juga di anggap omong besar. Dilayani seadanya salah, tidak di layanipun salah dan seterusnya, serta masih banyak lagi berderetan apresiasi kita sebagai masyarakat kepada para calon.

    Tentu sebagai masyarakat yang sudah dewasa dalam berpolitik, kita tidak boleh bersikap seperti itu, karena kebaikan harus tetap kita nilai sebagai sebuah kebaikan. Perkara niat nya keliru atau tidak itukan urusan dia dengan Tuhan nya, dan akan menjadi urusan kita Setelah mereka menjabat. Sebenarnya kita hanya menjalankan tugas untuk memaknainya dengan kebaikan apabila ada orang yang berbuat baik. Karena pada dasarnya orang hanya di tuntut untuk menjalankan tugas nya masing-masing, yaitu mengenai hak dan kewajiban yang harus kita jalankan. Alasannya kenapa? Karena ketimpangan yang terjadi dikarenakan tidak adanya rasa mengerti terhadap tugas kita masing-masing.

    Tapi terlepas dari itu, ada hal menarik yang kami temukan dalam kondisi seperti ini, yaitu tentang para calon yang sedang melakukan perjalanan batin untuk meraih kesempurnaan hidup. Bagaimana mungkin! Ini yang kami temukan. Alasan pertama : Apapun yang ditafsirkan oleh Masyarakat, para calon tetap menilai itu sebagai sebuah kebaikan tampa kekesalan sama sekali, terlepas dari para calon ada keinginan atau tidak. Kedua : apapun yang para calon berikan kepada masyarakat tidak pernah dipikirkan untuk kembali dalam bentuk apapun, Karena bagaimanapun para calon sekarang lagi mendesain dirinya supaya kelihatan layak dimata masyarakat. Ketiga : para calon tetap berusaha menyapa meskipun dia tau masyarakat tidak menyukainya. Keempat : kepekaan membaca setiap ritme kejadian dalam sosial. Kelima : Berdoa dan minta didoakan oleh siapapun dan dimanapun. Dalam kelima keadaan seperti inilah sebenarnya para calon sedang melakukan pejalanan penyucian diri, dan ketika mereka bisa melewati uji materi dari kenyataan yang terjadi, maka mereka akan di anggap pantas oleh setiap makhluk. Ketika dianggap pantas, lalu salah satu bahkan lebih dari mereka akan menjadi khalifah.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menjadi Well-Adapted

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang dinamis. Jika manusia itu bisa menunjukkan adaptasi baik, maka akan survive. Jika tidak maka menjadi terpinggirkan, bahkan bisa menjadi tiada. Tidak sedikit keberadaan manusia dianggap tidak ada, karena tidak menunjukkan identitas dirinya karena miskinnya atau kesulitannya beradaptasi dengan lingkungannya. Bisa juga dikatakan, wujuduhu ka adamihi.

    Dengan adanya globalisasi dan keterbukaan, terjadilah urbanisasi, transmigrasi, dan migrasi, baik antar kota, antar propinsi maupun antar negara. Mobilitas manusia tidak bisa dihindari, bahkan bisa jadi kebutuhan. Modal utama yang perlu dimiliki oleh setiap manusia dalam mobilitas manusia adalah kemampuan beradaptasi. Semakin tinggi sikap dan perilaku well-adapted, semakin berhasil seseorang dalam memasuki wilayah baru dan tempat barunya.

    Mayoritas warga negara Indonesia dewasa ini semakin hari semakin banyak yang meninggalkan tanah kelahirannya. Semakin banyak di antara warga negara yang terdidik semakin banyak kemungkinan pilihan untuk bekerja dan bertempat tinggal di luar tanah kelahiran. Mereka memasuki tempat kerja dan tempat tinggal yang baru. Di samping keahlian yang dimiliki, kemampuan beradaptasi sangat diperlukan. Bahkan kita perlu ikuti pesan kata hikmah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, bahwa sudah seharusnyalah  mengikuti atau menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita. Dalam konteks ini semakin meneguhkan bahwa kemampuan beradaptasi sangat diperlukan, sehingga hidup kita diterima.

    Manusia itu unik, tidak ada satupun yang sama. Sementara itu kita harus hidup bersama, baik di tempat kerja maupun di tempat tinggal. Agar kita bisa hidup dengan baik dan nyaman maka kita harus bisa menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan. Bukan sebaliknya, orang lain dan lingkungan yang harus menyesuaikan dengan kita.

    Seringkali kita dihadapkan kondisi di suatu institusi atau wilayah berkenaan dengan mayoritas dan minoritas. Tidak jarang  muncul pada kelompok minoritas bahwa posisinya terpinggirkan dan tidak mendapatkan pengakuan dan perlakuan yang baik. Yang demikian itu bisa benar bisa kurang tepat.  Saya yakin bahwa sepanjang yang minoritas mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat, bahkan mampu menaikkan nama baik institusi atau wilayah, pasti kehadirannya diterima dengan baik. Inilah wujud sikap dan perilaku well adapated.  Minoritas hadir untuk bisa sumbang solusi. Sebaliknya mayoritas yang selalu menjadi trouble maker, tentu kehadirannya tidaklah wellcome bagi institusi dan wilayah.

    Akhirnya kita menyadari bahwa manusia dilahirkan dari dua insan, laki-laki dan perempuan, dari keduanya dijadikan oleh Allah swt menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang selanjutnya untuk saling  mengenal dan menolong. Di sini sangat diperlukan  sikap dan perilaku well adapted. Kita ini semua bersaudara tidak pandang suku atau bangsa, perbedaan agama, perbedaan budaya, dan lain sebagainya. Kita bisa bangun Ukhuwwah Islamiyyah, Ukhuwwah Wathaniyyah, Ukhuwwah Basyariyah. Untuk mewujudkan ukhuwwah ini kita harus saling respek dan menghormati dengan kemampuan well adapted di mana pun berada.


    Jombang, 13 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Urgensi Membaca Buku

    “Hal yang harus dilakukan oleh pendidik PAI adalah bagaimana memperkuat akidah siswa namun disisi lain tidak mendeskreditkan golongan agama lain. Salah satu kuncinya adalah memperluas perspektif dan wawasan dengan terus membaca dan menelaah buku serta self continuous improvement agar dapat terus menghidangkan konsumsi segar nan berkualitas bagi regenerasi bangsa” (Mukaromah, 2019).

    Kebijaksanaan, tutur kata, paradigma berpikir, kearifan dan tindakan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh background organisasi, lingkungan (rumah, masyarakat, sekolah), pengalaman dan olah batin yang dilakukan secara continue, namun bacaan/buku juga merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan sikap hidup. Betapa banyak orang keras yang luluh hatinya hanya dengan “membaca” buku. Betapa banyak orang “fanatik yang ghuluw” terhadap afiliasi golongan baik inter maupun antar agama/iman, antar oganisasi, antar tokoh, suku dan budaya lalu kemudian berbesar hati menerima segala perbedaan hanya dengan melalui bacaan. Buku itu ibarat sendi dalam kehidupan. Disadari atau tidak, apa yang dibaca mempengaruhi tindakan kongkrit yang dilakukan. Semakin banyak membaca, maka akan semakin luas perspektif dan wawasan yang dimiliki sehingga tidak “grusa-grusu” dalam menghadapi setiap persoalan.

    Akan tetapi, terkadang manusia merasa terbatasi oleh “sesuatu” yang berada diluar dari dirinya, baik itu otoritas orang lain, concern keilmuan maupun kebencian terhadap pengarang buku karena berbeda pemikiran sehingga menjadikan selektif dalam memilih buku sebagai bahan bacaan. Tentu hal demikian menjadikan hidup “tidak merdeka dan terbelenggu terhadap tuhan-tuhan (memakai t kecil)”, meminjam bahasa-nya Nurcholish Madjid. Hal ini diperkuat dengan pengamatan empirik dan pengalaman yang penulis lalui.

    Kawanku yang beda kampus curhat bahwa di dalam kelas dengan mata kuliah tertentu, saat berargumen hanya dibatasi menggunakan literatur-literatur tertentu, alias disesuaikan dengan bygroud/afiliasi dosen-nya. Alasannya, agar ilmu yang dipelajari tetap dalam koridor atau batas yang “terbatas” (dalam bahasa-ku). Jika ditelisik lebih dalam, tentu ada positif dan negatifnya. Positifnya, mahasiswa didoktrin agar memiliki paham yang “sama” dengan paham dosennya, sehingga kualitas ilmu yang disampaikan dosen tersebut terjaga. Negatifnya, daya nalar kritis dan kebebasan berpendapat mahasiswa terhambat. Implikasi-nya, model pembelajaran semacam itu hanya akan menghasilkan lulusan yang gagap akan perbedaan, mudah menyalahkan dan ingin menggeneralisasikan semua sama atas dasar pola pikirnya. Padahal Tuhan Esa saja memberikan kebebasan manusia untuk menentukan arah hidupnya dengan membekalinya beberapa potensi yakni Fitrah, Nafsu, akal, qalb dan fisik yang semuanya mengarah pada kecenderungan hanif (98%), hanya nafsu lawwamah yang negatif.

    Tidak hanya itu, afiliasi golongan organisasi maupun kegamaan seseorang juga mempengaruhi kecenderungannya terhadap buku. Betapa kagetnya penulis saat magang di sekolah beberapa bulan yang lalu, ketika seorang guru menegur buku bacaanku dengan berkata “Wah mbak pengarang buku itu kan Syi'ah”!

    Batinku (daripada debat), Padahal jelas pengarang tersebut telah klarifikasi baik di sosmed maupun secara tertulis dalam buku karya-karyanya bahwa beliau merupakan muslim ahlussunah wal jama’ah yang moderat dan tawassuth. Terkadang, kita buru-buru menghakimi sesuatu tanpa mengetahui asbab yang jelas dan kasyf-nya (al bathin), sehingga hanya beristimbatkan pada apriori yang abstrak dan dzan (prasangka) yang hanya didasarkan pada cocok dan tidak cocok.

    Membaca buku juga penting dilakukan oleh pendidik (guru dan dosen). Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen bahwa pendidik harus memiliki beberapa kompetensi, salah satunya professional dan pedagogik. Kompetensi professional dengan mengembangkan bahan dan materi ajar serta kompetensi pedagogik dengan memahami kebutuhan (sosial, psikis, intelektual, emosional) peserta didik. Di era 4.0 ini peserta didik akan merasa jenuh dan tidak tertarik dengan pendidik yang “tekstual” atau menyampaikan pembelajaran hanya berdasar pada apa yang tertera dalam buku panduan/pegangan. Apalagi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, model pembelajaran yang doktrinisasi tidak akan diterima siswa secara mentah. Berdasar pada penelitianku beberapa waktu yang lalu, bahwa Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS), pengalaman hidup dan kepribadian guru berimplikasi terhadap proses pembelajaran PAI. Maka sebaiknya pada saat proses pembelajaran lepaskan segala backgorund dan simbol diri. Teringat kata dosenku beberapa semester yang lalu, kadang PAI bukan mengajarkan Pendidikan Agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tapi mengajarkan pendidikan Agama “golongan” sesuai afiliasi guru-nya.

    Mengingat PAI merupakan pelajaran yang sangat penting untuk membentuk dan membina individu yang shalih ritual dan sosial, maka seharusnya PAI dikemas dengan sedemikian rupa, Baik dari segi penyampaian/penjelasan yang dilakukan oleh guru maupun strategi dan metode dalam proses KBM. Hal yang harus dilakukan oleh guru PAI adalah bagaimana memperkuat akidah siswa namun disisi lain tidak mendeskriditkan golongan agama lain. Penting untuk dikaji lebih dalam, dan salah satu kuncinya adalah memperluas perspektif dan wawasan dengan terus membaca buku, apapun itu. Sehingga, dalam menjelaskan materi pelajaran berdasar pada konteks-nya. Apalagi menjelaskan ayat al Qur’an yang terdapat banyak kata-kata kafir, dzalim, fasiq dll. Dengan demikian, menjadi guru PAI di sekolah umum lebih berat tantangannya daripada menjadi guru PAI di madrasah. Karena di sekolah umum, teradapat multi agama, sehingga guru juga harus hati-hati dalam menyebut dan memaknai kata “kafir”. Dan yang tidak kalah pentingnya ialah, pendidik harus mengembangkan diri secara berkelanjutan (self continuous improvement) agar dapat terus menghidangkan “makanan/konsumsi segar” bagi regenerasi bangsa yang dapat ditempuh melalui beberapa cara, salah satunya dengan membaca buku.

    Selain itu, membaca juga harus dibudayakan oleh kaum single/non pacaran agar hidup kian berwarna alias tidak hampa. Sebagaimana Al kitabu khairu jalisun wa khairu anisun, buku merupakan kawan setia yang selalu menemani pembacanya baik diwaktu lapang maupun sempit. Dengan membaca buku, akan paham mengenai tipe-tipe manusia ditinjau dari berbagai aspeknya. Baik sisi psikologi (olah rasa, jiwa) fenomenologi (sebab), sosiologi (konteks) dan leadership (pengaruh, kebijaksanaan), dengan menjunjung tinggi eksistensi/keberadaan oranglain manakala berkomunikasi dan berinteraksi, tak terkecuali dengan sikap/trik/steps/kunci/rumus mendekati (ta’aruf) dan menakhlukan hati perempuan tanpa mengiba, bagi laki-laki. Begitulah, kiranya urgensi membaca buku.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menyoal Revolusi Mental

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Revolusi Mental merupakan salah satu Nawacita sempat menghentak hati dan pikiran seluruh anak bangsa. Revolusi Mental juga wujud ide cerdas. Namun dalam  perjalanannya semakin tak terdengar (dibandingkan dengan awal-awal launching) di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia. Padahal semua anak bangsa terus menanti hasilnya. Ada apa dengan Revolusi Mental?

    Setidak-tidaknya ada tiga lesson learned dari dunia luar yang bisa kita jadikan renungan. Pertama, bahwa Pembaharuan Pendidikan Abad ke-21 di Amerika Serikat lebih difokuskan kepada (1) academic achievement, (2) improvement in school climate, (3) increased school safety, and (4) the development of a morally-educated citizenry. AS belakangan mulai memberikan perhatian terhadap persoalan religisiusitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Howard Gardner yang mengangkat Ethical Mind sebagai salah satu dari 5 Minds for the Future.  Padahal pada awal kesejarahan menghasilkan seven intelligence tidak mau mengakui aspek spiritual.

    Kedua, bahwa Guangdong University of Foreign Studies, China dibangun dan dikembangkan berdasarkan tiga nilai, yaitu (1) Moral integrity, (2) Exemplary behavior, and (3) Conversance with Both  Estern and Western Learning. Universitas bertumpu pada dua nilai moral dari tiga nilai yang merupakan suatu langkah revolusi mental di China.

    Ketiga, bahwa di tengah-tengah kehidupan jahiliyah keimanan, Rasulullah saw yang dibangkitkan di atas bumi, semata-mata hanya untuk menyempurnakan akhlaq. Muhammad saw berhasil keluarkan insan dari kegelapan menuju ke alam yang terang. “Fa akhrijnaa minadz-dzulumaati ilannuur”. Mengeluarkan manusia dari alam kegelapan, yang diwarnai dengan perilaku syirik, menuju ke alam yang terang,  tersinari cahaya karena diwarnai dengan akhlaq mulia (akhlaqul kariimah).

    Dari tiga lesson learned dapat diperoleh pelajaran yang sangat berharga.  Bahwa solusi yang paling strategis dan relevan untuk menghadapi warga dan masyarakat yang krisis moral di manapun adalah Revolusi Mental. Untuk mewujudkan Revolusi Mental yang efektif, perlu diupayakan gerakan pendidikan karakter. Yang melibatkan semua ragam stakeholders. Terutama melalui semua jalur, jenjang, jenis dan satuan pendidikan. Prakteknya  memang tidak mudah. Karena sudah terbukti bahwa sehebat apapun institusi pendidikan belum bisa berhasil membangun karakter bangsa jika tidak didukung dan partisipasi dari semua sektor dan rakyat Indonesia.

    Walaupun belum bisa dikatakan sukses kebijakan Revolusi Mental selama ini, yang dibuktikan dengan masih banyaknya tindakan korupsi, tindakan kriminal, kejahatan moral dan sebagainya. Namun kebijakan ini dirasakan masih sangat diperlukan. Tinggal melakukan adaptasi dan pembaruan spirit semuanya, terutama para pimpinan di semua sektor dan level serta masyakat terlibat dalam praktek kehidupan sehari-hari. Dukungan keluarga, masyarakat (tokoh), rumah ibadah dan media massa sangat berarti. Pembangunan manusia untuk bisa lebih berkarakter dan bermartabat merupakan upaya sangat penting.


    Yogyakarta, 20 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    De Winst dan Kisah Perjodohan Rangga dan Sekar

    Novel De Winst.
    PEWARTAnews.com -- Vakuola memorinya. Agar ia terbebas dari getar-getar yang indah, namun berpotensi menghancurkan seluruh hidupnya. Menebas cita-cita yang telah lama ia pahatkan dalam pohon jiwanya.

    Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara, merupakan seorang pemuda dari keturunan bangsawan. Ia merupakan pemuda yang kini telah menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi dengan pujian tertinggi dari profesornya di Rijksuniversiteit Leiden, hasil yang sangat gemilang, bukan saja karena ia mendapatkan nilai tertinggi, namun juga karena ia seorang Bumiputera, Inlander. Bagi Profesor Johan Van De Vondel, Rangga lebih dari seorang Nederland.

    Rangga merasa tersanjung ketika Profesor Johan Van De Vondel yaitu guru besar yang terkenal bengis kepada mahasiswanya,  mengunjungi rumah sewaannya, yaitu sebuah rumah tua yang disewa bersama dengan kedua temannya yang berasal dari Bandung dan Makassar. Saat berkunjung Profesor Johan Van De Vondel mengatakan “Anda kebanggan Universiteit ini. Saya berharap, Anda tak hanya dimiliki oleh Indische, tetapi juga dunia. Suatu saat, saya yakin, bila Anda akan mengembangkan ilmu Anda, Anda akan menjadi seorang pemikir kelas dunia, seperti Adam Smith, David Ricardo, atau yang lainnya.

    Ucapan Profesornya masih terbayang-bayang dalam pikiran Rangga. Saat Rangga tengah menempuh perjalanan pulang menuju Indonesia, yaitu dengan mengendarain kapal api, ia mendapatkan satu nama lagi yang masuk dalam bursa pencapain yang diharapkan melekat padanya. “Mengapa kau tidak berpikiran tentang Karl Marx?”. Suara yang mengejutkan Rangga yang terlontar dari bibir seorang gadis berambut jagung itu. Bukan peluncurannya adalah seorang wanita, namun juga karena ia adalah seorang Nederlander yang berasal dari kalangan yang dekat dengan kekuasaan. Tidak lazim seorang bangsawan istana oranje menyebut-nyebut nama penulis buku Das Kapital itu.

    Gadis berambut jagung itu bernama Everdine Kareen Spinoza, gadis yang ia temui dikapal, dan menjadi teman safar yang menyenangkan. Bagi Rangga Kareen merupakan gadis yang teramat istimewa. Rambutnya yang pirang seperti rambut jagung, dan matanya yang tampak begitu bening, seperti permata biru yang bersinar cemerlang.  Pelapis tubuhnya laksana pualam putih yang halus dan terseliput cahaya kemerahan. Yang membuatnya begitu terlihat mempesona adalah keramahannya. Pada saat itu Rangga menyukai Kareen. Bahkan saat perpisahan mereka di kapal mereka saling memberikan kenangan satu sama lain. Rangga mendapatkan Horloge sebagai kenanagan dari Kareen dan Kareen mendapatkan Cundrik yaitu keris berukuran kecil. Sebenarnya itu bukan hadiah yang seharusnya diberikan seorang pemuda kepada wanita. Tetapi Rangga tidak punya pilihan lain.

    Bagaimana keberlanjutan kisah mereka? Apakah akan berakhir bahagia? Atau malah sebaliknya kisah mereka akan dibanjiri air mata?

    Setelah sampai di Solo, Rangga senang akhirnya ia bisa melepaskan kerinduannya dengan keluarga. Terkhusus kepada ibundanya. Ibunya sangat menyayangi Rangga dengan sepenuh jiwa begitupun Ayahandanya. Tetapi, rasa bangga itu tak ditunjukkan oleh sang Ayah karena suatu alasan yaitu tradisi. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryanegara, merupakan Ayah dari Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara. Ayah Rangga merupakan orang dari kalangan bangsawan yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakatnya. Karena kedisiplinan dan kepatuhannya akan tradisi dan adat yang ada. Terlepas dari itu, bagi Rangga Ayahnya merupakan orang yang sangat baik. Tetapi sifat egois Ayahnya, yang sering kali membuat pemikiran Rangga sering kali bertolak belakang dengannya.

    Di sini Rangga di suruh Ayahnya untuk bekerja di pabrik gula “De Winst”. Dimana yang berkuasa adalah orang-orang berkulit putih.  Meskipun Rangga adalah Inlander tetap saja ia termasuk dalam orang-orang dengan golongan ke dua. Di pabrik “De Winst” Rangga menjabat sebagai seorang asisten admistratur untuk bagian pemasaran. Tuan Edwar Biljmer adalah pimpinan pabrik gula “De Winst”. Dia sangat baik dan ramah dibandingkan dengan pegawai pabrik “De Winst” yang lain.

    Pagi tadi saat menemui tuan Edwar Biljmer, dijalan pulang Rangga berpapasan dengan seorang pemuda yang juga tanpan, bahkan lebih tanpan darinya. Ternyata pemuda itu bernama Kresna. Seorang pemuda yang datang dan pergi sesuka hatinya. Tetapi, memiliki pemikiran yang sangat cerdas.

    Setelah resmi bekerja di pabrik gula “De Winst” Ayah Rangga kembali membahas masalah  perjodohan antara Rangga dan Sekar. Meskipun Rangga menolak hal ini tetapi Rangga tidak bisa menunjukkan perlawanannya kepada sang Ayah. Berbeda dengan Sekar, ia malah terang-terangan menunjukkan ketidaksetujuannya dengan perjodohannya dengan Rangga. Dulu, saat mereka dijodohkan, mereka masih sangat kecil sehingga mereka belum mengerti dengan yang namanya perjodohan.  Disisi lain mereka berdua telah memiliki tambatan hati mereka masing-masing. Rangga mencintai Kareen, dan Sekar mencintai seorang pemuda bernama Jatmiko. Kareen merupakan saudara sepupu Rangga sendiri. Tetapi karena perjodohan itu, hubungan mereka berdua menjadi tidak begitu akur.

    Sekar adalah gadis cantik yang meiliki idealism yang sangat tinggi. Meskipun ia seringkali dikurung oleh Ayahnya karena ia tak mau sungkem. Menurut Sekar ia tidak mau melakukan suatu hal yang menurutnya tidak benar. Bahkan ia juga dikurung karena sikapnya yang tidak menghargai Rangga saat Rangga tengah berkunjung kerumahnya untuk membicarakan masalah perjodohannya dengan Rangga. Ia harus belajar membuat batik dengan sangat indah saat di pengasingan. Tetapi ia menolaknya.

    De Winst yang tengah mengalami krisis akibat persaingan global, harus merasa kehilangan tuan Edwar Biljmer yang harus pindah ke Negara asal karena ia harus mendapatkan kesempatan untuk meneruskan kuliahnya. Pabrik gula “De Winst” akhirnya mendapatkan pimpinan baru yaitu pengganti tuan Edward Biljmer. Kabarnya ia juga seorang pemuda dari bangsa kulit putih. Maneer Thjis akan menggantikan saya sebagai kepala pabrik gula “De Winst” kata tuan Edward. Rangga kaget mendengar hal itu ia khawatir pemuda yang akan menggantikan tuan Edward adalah pemuda yang sama yang pernah ia temui di pesta dansa dulu. Ternyata kekhawatirannya benar. Saat mengetahui hal itu, Rangga sontak ingin berhenti bekerja di pabrik gula “De Winst”. Terlebih lagi setelah ia tahu bahwa Maneer Thijs adalah suami dari Everdine Kareen Spinoza yaitu perempuan yang telah membuat hatinya bergejolak.

    Sebelum ia akhirnya berhenti bekerja di “De Winst” ia bertemu seorang perempuan bernama Pratiwi, seorang gadis yang dengan gagah berani mewakilkan dirinya sebagai utusan rakyat. Ia pernah berhadapan dengannya saat pratiwi tengah bernegosiasi terkait permintaan rakyat yang mengharapkan kenaikan sewa tanah kepada pabrik “De Winst”. Rangga kagum melihat keberanian gadis itu. Tetapi maneer Thijs hanya membalas permintaan gadis itu dengan nada marah, dan malah mengancamya. Tetapi saat itu Rangga membela gadis itu karena ia menilai bahwa apa yang di tawarkan gadis itu sangat masuk akal dan wajar.

    Dari novel De Winst kita mengambil sebuah pelajaran bahwa memaksakan kehendak orang tua kepada anaknya juga bukanlah hal yang baik. Anak perempuan seharusnya di didik dengan cara yang lebih baik, memperlakukannya dengan cara yang keras malah akan membuat mereka tertekan. Selain dari hal diatas dari novel ini kita juga dapat melihat bahwa seorang perempuan juga bisa selayaknya laki-laki. Kepribadian Sekar yang tegas, berkomitmen, dan cerdas mampu menujukkan hal itu. Novel De Winst juga mengajarkan kepada kita bahwa menjadi seorang manusia haruslah bijaksana dan selalu menghargai orang lain serta memperdulikan sesama, seperi karakter Rangga. Meskipun ia anak dari keturunan bangsawan ia tetap rendah hati dan tidak angkuh.


    Identitas Buku:
    Judul : De Winst
    Penulis : Afifah Afra
    Penyunting : Khalatu Zahya
    Desainer Cover : Andhi Rasydan
    Ilustrasi : UDInur-Andhi-NasSPur
    Penerbit : Afra Publishing
    Kleompok Penerbit Indiva : Media Kreasi
    Peresensi : Nurjadidah




     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website