Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Dollar, UMR dan Beras Jelang Reformasi dan Era Jokowi

    PEWARTAnews.com -- Beberapa waktu terakhir banyak orang membandingkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar sudah menyamai kegentingan seperti 20 tahun lalu menjelang reformasi. Mereka mengidentikan situasi ekonomi yang sama daruratnya dengan situasi di jelang kejatuhan Presiden Soeharto.

    Apakah benar demikian? Mari kita bandingkan data-datanya antara Dollar, UMR dan harga beras.

    Pertama, Nilai Dollar dan UMR

    Nilai tukar Dollar di akhir Agustus 1997 berada di kisaran 1 USD senilai Rp 2.500,-. Sementara pada saat yang sama, UMR (Upah Minumum Regional) DKI di tetapkan Rp 172.500 per bulan atau sekitar 69 USD per bulan.

    Kondisi yang terjadi dalam waktu tidak lebih dari 10 bulan dari jelang akhir Agustus 1997 hingga rentang Januari - Juli 1998 nilai tukar Dollar merayap naik lalu melonjak mendekati Rp 16,800-. Di saat Dollar menyentuh Rp 16.800 itu UMR DKI ada di angka Rp 192.000 per bulan atau satu bulan UMR setara dengan 11,4 USD.

    Dari 1997 ke 1998 kenaikan UMR hanya Rp 20.000 atau sekitar 13% sementara kenaikan nilai Dollar mencapai 600%.

    Berdasar data itu maka turunnya daya beli masyarakat saat jelang Reformasi memang sangat tajam. UMR 1997 yang setara dengan 69 USD di tahun 1998 terjun bebas menjadi setara dengan 11,4 USD. Situasi ini di sisi lain juga membuat banyak perusahaan yang gulung tikar diikuti PHK massal.

    Sekarang kita bandingkan dengan situasi hari ini di era pemerintahan Jokowi. Pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden, Oktober 2014 nilai tukar Dollar berada di kisaran Rp 12.200,- pada saat yang sama UMR DKI berada di angka Rp 2.441.000 per bulan. Artinya di bulan Oktober 2014 UMR DKI setara dengan 200 USD.

    Hari ini Juli 2018 nilai tukar Dollar ada di kisaran Rp 14.400,- sementara UMR DKI Rp 3.648.000 per bulan atau setara dengan 253 USD.

    Dari Oktober 2014 hingga Juli 2018 Dollar merayap naik Rp 2.200 atau sekitar 18% sementara kenaikan UMR DKI dari Rp 2.441.000 menjadi Rp 3.648.000 atau naik sekitar Rp 1.200.000,- yaitu sekitar 49% dari Oktober 2014.

    Perbandingan kurs Dollar dengan UMR saat ini menunjukan bahwa naiknya kurs Dollar sebesar 18% tidak berdampak pada daya beli seperti pada situasi Mei - Juli 1998 dikarenakan pada kurun waktu yang sama saat ini UMR justru mengalami kenaikan 49%. Jika di konversi dengan Dollar maka dari tahun 2014 hingga 2018 UMR naik 26% dari 200 USD menjadi 253 USD.

    Jika di bandingkan dengan nilai tukar Dollar dan UMR pada Mei - Juli 1998 maka situasinya tentu jauh berbeda karena UMR Mei - Juli 1998 setara dengan 11,4 USD sementara dengan nilai tukar Dollar hari ini UMR setara dengan 253 Dollar artinya daya beli Rakyat jika menggunakan UMR sebagai alat ukur justeru lebih besar 23 kali lipat dari Mei - Juli 1998.

    Kedua, UMR dan Harga Beras

    Mari kita bandingkan daya beli masyarakat tahun 1998 dan hari ini dengan menggunakan perbandingan UMR dan harga beras. Pada Juli 1998 besaran UMR Rp 192.000 per bulan. Harga beras medium saat itu Rp 2800 per kilogram. Artinya pada saat itu Rakyat dengan UMR-nya hanya dapat membeli 69 kg beras perbulan.

    Saat ini UMR Rp 3.648.000 per bulan sementara Harga beras Medium sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) berada di kisaran Rp 9.500 hingga Rp 10.000 per kg. Dengan demikian saat ini setiap bulan Rakyat bisa membeli 364 kg beras hingga 384 kg beras per bulan.

    Jika dibandingkan kemampuan Rakyat membeli beras tahun 1998 dan saat ini maka kemampuan membeli beras naik dari 69 kg menjadi 384 kg per bulan atau naik sekitar 315 kg lebih banyak per bulan. Peningkatan ini hampir 6 kali lipat dari tahun 1998.

    Dari perbandingan-perbandingan tersebut di atas maka tentu tidak tepat jika nilai tukar Dollar hari ini yang berada di kisaran Rp 14.400 di samakan dengan kegentingan ekonomi yang sama dengan tahun 1998.

    Hanya ada dua kemungkinan kenapa ada orang-orang yang menyamakan nilai tukar Dollar hari ini sudah segenting 20 tahun lalu. Pertama mereka itu hanya melihat angka Dollar tapi tidak mengetahui angka angka lainnya termasuk UMR artinya data yang di miliki orang-orang itu sangat minim sementara nafsu bicara mereka sangat besar.

    Kedua, mereka paham data-data tersebut di atas tapi mereka mencoba mendramatisir situasi seolah menakutkan dan berbahaya. Opini ini bisa jadi di desain untuk tujuan politik.

    Desainer opini bermotif politik itu tentu berharap Rakyat percaya bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar di pemerintahan Jokowi seolah-olah sedang berada dalam situasi yang persis sama dengan situasi 20 tahun lalu.


    Jakarta, 19 Juli 2018
    Penulis: Adian Napitupulu
    Anggota DPR RI FPDI Perjuangan.
    Dapil Jabar V - Kab Bogor.

    Biasa-Biasa Saja

    PEWARTAnews.com -- Tentang anak muda, kadang mereka sakit hati/patah hati disebabkan karena terlalu berharap kepada orang lain. Harapan tersebut mudah saja timbul apabila menaruh rasa “kagum yang berlebihan” kepada orang lain. Pernah tidak berpikir mengapa Gusti Allah selalu mempertemukan kita dengan berbagai macam orang yang berbeda karakter, kepribadian, latar belakang (keluarga, karier, pendidikan)? Semua tak lain agar kita tidak “gumunan”. Gumunan inilah yang menyebabkan mudah sakit hati. Ketika seseorang menaruh rasa kagum yang berlebihan, maka orang tersebut akan mudah menaruh harapan kepada orang yang bersangkutan. Entah berharap soal asmara, reputasi, karier ataupun hal-hal lain. Padahal agama mengajarkan bahwa sebaik-baik harapan hanyalah yang disandarkan kepada Allah SWT.

    Boleh kagum kepada manusia, tapi sewajarnya saja. Pun begitupula dengan menjatuhkan perasaan kepada lawan jenis, sangat boleh. Namun yang perlu diingat, semua itu “biasa-biasa” saja, tidak usah memakai kata “banget”/ berlebihan. Bukankah perasaan cinta (kepada lawan jenis) merupakan anugrah yang diberikan Tuhan? Namun tetap mencintai itu sewajarnya saja, sehingga pada saatnya nanti melepaskan pun juga tidak akan berat. Atas dasar inilah, seharusnya manusia dapat memanage perasaannya dengan baik, jangan terlalu berharap / baper dan jangan pula berlebihan dalam memanifestasikan perasaan karena nanti akan berujung kepada sakit hati yang amat dalam.

    Sikap seperti ini bukan berarti saya tidak pernah merasakan “gejolak asmara” atau hanya omong kosong belaka, akan tetapi berdasar pada pengalaman pribadi yang empirik. Pastilah semua manusia pernah merasakan gejolak asmara, entah sekilas atau bahkan dipendam sangat lama. Mungkin pembaca dapat berimajinasi komunikasi dengan tambatan hati-nya  (face to face, melalui WA atau telpon) dan si dia ngrespon. Ada stimulus yang pada akhirnya menimbulkan respon. Apa yang terjadi? Senang dan bahagia bukan? Begitu analogi yang tepat bagi kedua insan yang saling merespon “sesuatu”. Sesuatu ini bisa dimaknai apa saja, bisa perasaan, pembahasan, diskusi, atau hal-hal lain. Akan tetapi ingat, biasa-biasa saja. Tak usah “baper”. Karena yang biasa-biasa saja itulah yang akan selamat dari kejamnya sakit hati dan pedihnya harapan semu.

    Kadang, ketika kita nyaman dengan seseorang inginnya WhatsApp-an terus, ketemu terus dan lain-lain. Itu jika kita menuruti perasaan yang ada dalam hati. Padahal semua itu harus ada “ritme, jeda dan spasi-nya”.

    Aku pun juga demikian kalau dalam posisi “punya perasaan dengan seseorang”. Jika hanya menuruti ego dan kata hati sudah pasti ingin selalu chattingan dengan-nya. Tapi, takutku lebih besar daripada ingin-ku dan harapan-ku kepada-Nya jauh lebih besar daripada semuanya. Dan suatu saat nanti, yang biasa-biasa saja akan bertemu dengan yang biasa-biasa pula. Tidak over dan tidak pula baper.

    Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir.


    Penulis: S. Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Mengomentari hastag #2019gantipresiden

    PEWARTAnews.com -- Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan hastag #2019gantipresiden. Walaupun saya bukan orang yang mendukungnya, bagi saya sah-sah saja adanya masyarakat yang menginginkan perubahan. Atau sebagai kritik terhadap pemerintah. Adapun belum adanya capres yang diusung, tetap tidak masalah. Hastag #2019gantipresiden adalah ekspresi sebagian rakyat Indonesia yang tidak puas terhadap pemerintah. Hal ini sah-sah saja dalam negara demokrasi.

    Lambat laun, setelah saya mengikuti perkembangan hastag ini di facebook, whatsaapp dan instagram, saya mulai terusik. Mulai tidak nyaman. Karena setiap postingan-postingan akun-akun #2019gantipresiden tidak sehat. Adanya pencemaran nama baik, mengklaim mewakili Islam, menghujat ulama yang bersebrangan, dan lain-lain.

    Pencemaran Nama Baik
    Sepanjang pemerintahan kabinet "Kerja", kelompok pendukung #2019gantipresiden selalu menyerang sosok pribadi Pak Jokowi. Apakah salah? Tentu salah. Ini merupakan pencemaran nama baik. Kritik yang disertai hujatan harus kita tinggalkan. Terlebih kepribadian seorang pemimpin harus di jaga. Hal yang boleh dikritisi adalah kebijakannya. Boleh-boleh saja jika memprotes kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Itulah tugas oposisi. Mengawal pemerintahan.

    Mengklaim mewakili Islam
    Kalau kita ikuti, ada kata-kata yang biasa mereka ucapkan "Bela Ulama" "untuk Ummah". Yang perlu penulis tanyakan, emangnya tokoh-tokoh Islam yang dekat dengan pemerintah itu bukan ulama? Juga masyarakat yang mendukung pemerintah itu juga bukan ummah? diksi-diksi inilah yang melahirkan tuduhan kafir dan munafik kepada mereka yang bersebrangan. Sehingga memunculkan permusuhan sesama anak bangsa. Seakan-akan mereka yang bersebrangan bukanlah Islam.


    Hal ini dimulai dari KH Ma'ruf amin yang waktu itu disinggung oleh Pak Ahok. Setelah itu, sontak hastag #belaulama muncul. Mereka dengan semangat membela KH. Ma'ruf Amin. Saya pun termasuk yang membela beliau, walaupun ada tokoh NU juga yang bersebrangan dengan KH. Ma'ruf, tapi tetap saya bela KH Ma'ruf. Saya kagum juga melihat mereka membela KH Ma'ruf. Tapi kemudian saya kecewa, karena mereka juga yang menyerang KH Ma'ruf saat beliau mengambil sikap. Astagfirullah. Bela Ulama atau memanfaatkan ulama? Hal ini pun terulang kembali kepada TGB yang berbalik mendukung Jokowi. Seorang Ulama yang Hafidz Qur'an itu pun di hujat habis-habisan.

    Beberapa hal ini yang saya ikut menentang. Bahkan di salah satu grup Whatsapp yang mereka mayoritas pun saya gak peduli. Hal yang disayangkan jika mereka bersikap seperti ini, terlebih mereka dikenal lebih Islami.

    Saran
    Pertama, Berhentilah untuk bersikap seperti itu, karena itu mencoreng nama Islam sendiri. Juga menimbulkan perselisihan atas nama agama. Apalagi jika sampai tingkat mengkafirkan atau mencap munafik orang yang berbeda pilihan politiknya.

    Kedua, Terus Kritik pemerintahan berdasarkan data. Hal ini bisa mencerdaskan rakyat untuk memahami permasalahan negara.

    Ketiga, Hentikan hujatan terhadap pribadi pemimpin. Hal ini untuk menjaga wibawa pemimpin juga simbol negara kita.

    Keempat, Jalin silaturahim dan dialog kepada tokoh-tokoh agama dan bangsa terhadap masalah-masalah negara seperti Pak Mahfud MD di segi hukum, Dahlan Iskan di segi BUMN, Choirul Tanjung di segi ekonomi. Semoga bisa memunculkan solusi atas permasalahan.

    Setiap warga negara adalah saudara, Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetap satu jua. Termasuk perbedaan dalam hal politik. Walaupun berbeda politik, kita tetaplah saudara. Mereka tetaplah Islam. Jangan sebut kafir atau munafik. Jadikan Fastabiqul khoirot sebagai dasar bersaing politik. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga manfaat.


    Penulis: Ali Ruslan
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sekelumit Rahasia Wanita

    PEWARTAnews.com -- Berdasar pada wawancara temen-temen saya di kampus, pondok maupun organisasi kemasyarakatan. Mereka (para wanita) lebih nyaman dengan laki-laki yang memberikan peluang dan kesempatan untuk berbicara. Artinya, sebelum wanita selesai berbicara jangan sampai dipotong terlebih dahulu. Hal itu pasti langsung menurunkan mood nya. Bagi wanita (single) yang mudah memahami lelaki, mungkin hal itu tidak menjadi persoalan rumit hanya saja ia telah sedikit “mengkantongi”  alasan untuk tidak menerima ajakannya menikah. 

    Kadang, ego lelaki tidak mau mengalah. Dia ingin segala apa yang dikatakan dapat diterima, padahal sangat perlu dan harus ada masukan-masukan terutama dari wanita. Ada pertanyaan menarik dari temen “bagaimana cara memilih pasangan yang baik”? Saya hanya mengatakan, Pertama kali pilihlah pasangan yang Agamanya baik, dzahir dan bathin. Keshalehan laki-laki terletak pada Agamanya, namun kegantengan-nya terletak pada “bersedia-nya Tahlil dan Shalawat-an”. Rasionalisasinya, leluhur yang sudah tiada saja diperhatikan dan dimuliakan, apalagi pasangannya. Kedua, lihat bagaimana dia berbicara dengan ibumu. Ketiga, rasakan setiap kali mengobrol dengan-nya, bagaimana cara dia merespon dan memberikan feedback/umpan balik. Yang ke-empat temukan kenyamanan, keamanan dan kebahagiaan saat bersama-nya. Rasa nyaman dan aman inilah yang terkadang mudah dirasakan apabila “hati sudah satu frekuensi”.Karena itulah, jangan heran apabila ada pasangan yang sangat ganteng menikah dengan wanita yang biasa-biasa saja, atau bahkan sebaliknya. Karena bukan fisik yang utama, melainkan rasa nyaman dan aman itu lah yang menjadi pondasi dan patokan utama lelaki dan perempuan mantap mengarungi bahtera kehidupan bersama.

    Terakhir, seperti apapun wanita. Dia tetap-lah wanita yang membutuhkan lelaki. Sebagaimana “Arrijaalu qawwamuna ‘ala an-nisaa’. Redaksi ayat tersebut menggunakan ‘ala bukan fauqa padahal memiliki arti yang sama, tak lain lafal ‘ala bermakna “menempel” sedangkan fauqa “tidak”. Artinya, sejauh apapun wanita melangkah, secerdas apapun dia, sebaik dan seburuk apapun ia, laki-laki adalah tempat pulang yang paling nyaman.

    Sama halnya dengan rasa cinta dan sayang dari seorang anak perempuan kepada Bapak-nya. Ya Allah, Titip rindu untuk Bapak yang ada disana, Lahu Al Fatihah.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sekolahan Binatang

    Sastro Jendro.
    PEWARTAnews.com -- Al kisah, di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para  binatang. Layaknya sekolah manusia. Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran untuk mendapatkan ijazah.

    Terdapat 5 mata pelajaran dalam sekolah tersebut:

    a. Terbang
    b. Berenang
    c. Memanjat
    d. Berlari
    e. Menyelam

    Banyak siswa yang bersekolah di "animals school", ada elang, tupai, bebek, kelinci dan kura2. Terlihat di awal masuk sekolah, masing masing siswa memiliki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.

    Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada di atas kemampuan binatang lain.

    Demikian juga kura2, sangat mahir pada pelajaran menyelam.

    Namun, beberapa waktu kemudian karena "animals school" mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.

    Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.

    Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi karena belajar terbang.

    Bebek seringkali ditertawakan meski sudah bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sudah mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

    Semua siswa berusaha dengan susah payah namun belum juga menunjukkan hasil yang lebih baik.

    Tidak ada siswa yang menguasai 5 mapel tersebut dengan sempurna.

    Kini, lama kelamaan. Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dengan baik karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, karena terlalu sering belajar memanjat.

    Sahabat...
    Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita.

    Senin, 16 Juli 2018 anak-anak kita sudah mulai masuk sekolah lagi. Ada baiknya kita sedikit  merenung dalam menghadapi Tahun ajaran baru nanti.

    Hampir semua orangtua berharap anaknya serba bisa. Dan menjadi sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.

    Maka si anakpun dipacu dengan: Les A, Kursus B, Privat C, Les khusus D, dan sebagainya serta berjibun kegiatan lainnya  tanpa memperhatikan dan fokus pada potensi dan bakat anaknya masing masing.

    Mari kita syukuri karunia  luar biasa yang sudah Tuhan berikan pada kita  para orang tua yang diamanahi anak-anak yang sehat,  lucu dan lincah.

    Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing masing. Ada yang dominan di limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak. Sehingga masing masing memiliki kelebihan dan talentanya sendiri sendiri.

    Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar mereka terus berkembang optimal. Janganlah kita disibukkan dengan kekurangan anak kita, tapi fokuslah pada kelebihan dan bakatnya.

    Karena sesungguhnya setiap anak yang terlahir di dunia ini adalah cerdas dengan kelebihannya masing-masing, istimewa dengan bakatnya dan mereka adalah laksana bintang gemintang yang bersinar di antara kegelapan malam.

    Inilah saatnya kita sebagai orang tua bergandeng tangan menggali potensi diri anak dan anak didik kita seoptimal mungkin.

    Selamat berjuang Bapak Ibu Guru, Ayah dan Bunda. Semoga Tuhan mudahkan segala usaha kita untuk mengawal dan mengiringi kesuksesan peserta didik serta putra putri kelak di dunia dan di akhirat.


    Penulis: Sastro Jendro
    Pemuda Pencinta Islam Ramah, Islam Nusantara

    Ada Apa Dibalik Nama?

    “Memanggil orang dengan menyebut namanya, merupakan salah satu cara menyentuh hati dan jiwa-nya” (Mukaromah, 2018)

    PEWARTAnews.com – Sepele, tapi sesungguhnya sangat berarti dan bermakna. Saya merupakan salah satu orang yang sulit sekali menghafal nama orang, kecuali kalau orang tersebut mempunyai ciri khas dan karakteristik tertentu. Sudah hampir 6 bulan saya mengajar disebuah sekolah, tapi belum hafal juga nama-nama siswa dikelas tersebut, kecuali kalau siswa tersebut sering bertanya, kritis, aktif dan murah senyum. Sikap yang seperti itu mudah sekali untuk dihafal. Mungkin hal seperti ini dapat terjadi juga dikalangan dosen dan mahasiswa. Biasanya kalau dosen, cepat hafal nama mahasiswa yang “sering” duduk di depan dan yang sering bertanya.

    Memanggil seseorang dengan menyebutkan “nama-nya” merupakan sentuhan psikologi yang amat dalam. Hal ini mudah saja diamati dan dirasakan oleh setiap manusia. Seperti di Media sosial misalnya. Lebaran Idul Fitri kemarin banyak orang yang mengucapkan permintaan maaf dan selamat Idul Fitri dengan mengetik panjang lebar dan di share ke orang yang bersangkutan, namun tanpa menyebutkan nama orang yang dituju. Rasanya (orang yang dituju) ah nanti dulu-lah balasnya, mungkin ini hanya di broadcast (BC) ke semua orang.

    Jadi yang merasa melakukan hal semacam itu, jangan sakit hati ya apabila nggak dibalas-balas. Soalnya nggak jelas sih minta maaf sama siapa. Biasanya benar, hanya BC-an dan dishare ke semua kontak, untuk lebih mengefektifkan waktu dan kata. Memang pada dasarnya, semua amal perbuatan tergantung pada niatnya. Niat-nya sudah bagus ingi minta maaf dan lain-lain, tapi cara-nya saja yang kurang pas. Akan lebih baik apabila diedit dengan menyebutkan nama masing-masing orang yang akan dituju. Misal, “dek Mukaromah, kulo banyak salahnya mohon dimaafkan ya lahir batin dan kita saling mendoakan”. Redaksi seperti itu jauh lebih menyentuh hati dan membuat orang yang bersangkutan bergegas untuk membalas. Beda dengan Selamat hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, Salam Mukaromah sekeluarga. Coba deh rasakan pakai hati. Beda kan?

    Begitu halnya dengan pemanggilan langsung/face to face. Mudah ditebak, bagi orang yang lupa-lupa ingat nama orang yang disapa, ia hanya akan memanggil/menjawab panggilan orang dengan sebutan “mbak, mas, om, bang, bung”. Kalau orang nggak peka, rasanya biasa aja alias tidak terlalu mempersoalkan pemanggilan yang penting tatapan mata dan wajahnya menghadap ke yang bersangkutan. Akan tetapi, ingatlah bahwa ketika kita menyapa orang lain dengan melampirkan namanya, maka orang tersebut akan sangat senang, merasa dihargai dan merasa namanya terkenang.

    Selain itu, saya sendiri suka membedakan pemanggilan nama. Kata “Bang + nama yang bersangkutan (ybs)” biasa saya lontarkan kepada temen-temen aktivis di kampus. Kata “mbak + nama ybs” saya ucapkan kepada teman-teman perempuan pada umumnya, sedangkan saya hanya memanggil nama “jeng + nama ybs” kepada orang yang benar-benar udah nempel dihati. Lain halnya dengan kata “Master, suhu, pak, kiyai, bu + nama ybs” saya berikan kepada senior saya. Adapun kata “Kang + nama ybs” biasanya saya pakai kata ini untuk temen organisasi kemasyarakatan. Sedangkan yang terakhir kata “Mas/Ms + nama ybs” hanya untuk orang-orang tertentu saja.

    Biasanya bagi wanita ada satu kata yang sangat terkesan dibenak-nya, ketika ada yang memanggil dengan sebutan “dek + nama”. Apalagi yang manggil tersebut orang yang disukai/dicintainya. Ah sepertinya ceprik-ceprik dihati, jangan baper yang masih jomblo.

    Marilah, kita belajar menghargai dan menghormati orang lain melalui hal-hal yang sangat sepele/kecil namun efeknya sangat luar biasa, yakni membiasakan memanggil nama orang dengan menyertakan namanya.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    FBN RI Se-DIY Gelar Syawalan dan Keakraban

    Pengurus FBN RI Kota Yogyaakarta usai acara Syawalan FBN RI se-DIY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Minggu 1 Juli 2018 berlangsung rangkaian kegiatan syawalan dan keakraban Forum Bela Negara Republik Indonesia se-Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengusung tema “Semangat Kebersamaan Untuk Mewujudkan Bela Negara.” Kegiatan yang berlangsung di D’Barracs Coffee Shop ini diikuti sekitar 50 orang peserta yang pernah mengikuti Pendidikan Kader Bela Negara di Daerah Istimewa Yogyakarta.


    Diungkapkan oleh Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. selaku Sekretaris Forum Bela Negara Kota Yogyakarta, menurutnya kegiatan Syawalan/Halal bi Halal ini digunakan sebagai ajang silaturrahim seluruh anggota FBN. "Halal bi Halal ini memberikan kedamaian dan sebagai ajang silaturahim antar pengurus maupun anggota. Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk saling berbaik hati, berkata lembut, tolong menolong. Namun kadang kala, ada beberapa yang melakukan perbuatan tercela seperti menyakiti hati, mencuri dan lain sebagainya," ucapnya.

    Selain itu, Ricco berpesan untuk senantiasa kita meminta maaf dan memohonkan maaf kepada sesama jika pernah ada kesalahan tanpa harus menunggu momen lebaran.

    Kegiatan Halal Bihalal yang merupakan tradisi di Indonesia ini telah dikenal sejak lama. Menurut Ricco, istilah tersebut digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU. "Kisah tersebut bermula ketika Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara pada pertengahan bulan Ramadhan, untuk dapat dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat," beber Ricco.

    Dalam momentum yang sama, Wakil Sekretaris FBN RI Kota Yogyakarta M. Jamil, S.H., juga mengatakan bahwasannya momentum Syawalan FBN se-DIY ini merupakan ajang konsolidasi pengurus dan anggota agar terus membangun kesadaran masyarakat di lingkungan dan profesinya masing-masing, itu semua sebagai bentuk begitu pentingnya keterlibatan kita dalam upaya bela negara. "Kita sebagai masyarakat dan juga pengurus FBN harus terus semangat dalam upaya bela negara sebagai bentuk rasa syukur dan cinta kita terhadap NKRI," katanya.

    Dalam kegiatan Syawalan/halal bi halal tersebut, selain hadir pengurus FBN RI DIY, hadir pula para pengurus harian FBN RI Kabupaten Sleman, FBN RI Kota Yogyakarta, FBN RI Kabupaten Gunungkidul, FBN RI Kabupaten Bantul dan FBN RI Kabupaten Kulonprogo. Beberapa pejabat lokal turut hadir dalam acara yang dibalut dengan kemeriahkan musik dan ditutup dengan Ikrar Syawalan dan Foto Bersama. (PEWARTAnews)

    FKPP Kota Yogyakarta Gelar Silaturrahim dengan Kapolresta

    FKPP foto bersama Kapolresta Kota Yogyakarta usai pertemuan, (03/07/2018).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta periode 2015 -2017, H. Ahmad Yubaidi, SH MH,  yang sekarang  menduki jabatan Wakil Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Yogyakarta, bersama Ketua FKPP Hj Fatimah Asmuni, beserta bapak Kasi Pontren Drs H.  Bambang Inanta, pada hari Selasa, 3 Juli 2018 pukul 13.00 diterima oleh Kapolresta  Yogyakarta, Kombes Pol. Armaini, SIK di Mapolresta Yogyakarta.

    Kunjungan silaturahim masih dalam suasana bulan syawal yang dipergunakan halal bi halal karena selama ini sudah terjalin komunikasi antara FKPP Yogyakarta dengan Kapolresta. Masih dalam suasana tugas awal di Yogyakarta dalam waktu 2 bulan kapolresta sudah sibuk dengan tugas. Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat adalah tugas yang sudah ditekuni sejak lulus Akpol Semarang angkatan 96.

    Wakil Ketua FKPP Kota Yogyakarta Ahmad Yubaidi, SH MH mengatakan bahwasannya Kapolresta Yogyakarta dalam silaturahim ini menerima baik undangan dari FKPP yang akan mengadakan Halal bi Halal di Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta pada hari Jumat, tanggal 6 Juli 2018. "Halal bi halal akan dihadiri Kapolresta Yogyakarta dan juga dihadiri Kakankemenag Yogyakarta,  Drs Sigit Warsita. Selain itu, di diundang pula Walikota Yogyakarta dan Ketua DPRD Kota Yogyakarta," ujarnya.

    Lebih lanjut, Ahmad Yubaidi menghapkan seluruh Pondok Pesantren datang lebih awal dan memanfaatkan sebaik mungkin pertemuan ini untuk ajang silaturrahim antar ponpes se-Kota Yogyakarta. "Diharapkan pengasuh Pondok Pesantren Yogyakarta dapat hadir lebih awal dan memanfaatkan silaturahim yang sudah difasilitasi oleh FKPP Kota Yogyakarta. Setiap pesantren yang diundang diwakili oleh 1 orang pengasuh dan 1 orang ketua/lurah pondok," bebernya. 

    Lebih jauh, dalam kesempatan halal bi halal yang akan di helat beberapa hari lagi, wakil ketua FKPP menghimbau Ponpes dan semua elemen masyarakat agar bahu membahu menyuarakan gerakan ayo mondok. Selain itu, kata Ahmad Yubaidi, untuk lebih luas dan masif lagi penyebaran hal-hal positif dalam islam, seorang harus mempunyai akhlak yang baik. "Untuk mendakwahkan Islam dan memperbaiki akhlak masyarakat perlu digerakkan teladan dari para pemimpin (eksekutif legislatif yudikatif dan tokoh masyarakat serta orang tua)," katanya. (rls / PEWARTAnews)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website