Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    HMI Cabang Purwokerto Gelar LK 2 dan SC, Ketua Umum: Mari Kembali ke Desa

    Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto. Foto: Akhir.
    Purwokerto, PEWARTAnews.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto menggelar kegiatan Intermediate Training (Latihan Kader II) dan Senior Course (SC) Tingkat Nasional, di Balai Diklat Banyumas, (19-30 September 2018).

    Lazimnya kegiatan Training di HMI adalah untuk menambah keilmuan dan kesadaran kader-kader mengenai pentingnya regenerasi dalam hal mengawal pembangunan bangsa dan negara demi terwujudkan masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT.

    Pasang surutnya eksistensi HMI di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara juga merupakan salah satu bagian dari tujuan HMI. Oleh karenanya, HMI Purwokerto menggelar training LK 2 dan SC tersebut, guna sebagai kader dapat memehami masalah yang telah diperjuangan dan dilalui oleh organisasi yang bersimbol Hijau Hitam tersebut dengan banyak haru dalam berhimpun.

    Refleksi panjang HMI telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa HMI tidak mungkin lagi berjudi tentang masa depan dengan romantika kejayaan masa lalu. Sebab dinamika organisasi yang terjadi selama ini cukup memberikan gambaran sebagai pembelajaran berharga bagi kader HMI.

    Menurut Ketua Panitia Pelaksana Isma Nikmatul Aula, terselenggaranya kegiatan ini merupakan upaya untuk menguatkan hader untuk menanamkan rasa memiliki pada HMI. “Tujuan LK 2 dan SC HMI Cabang Purwokerto adalah agar adanya regenerasi kader di HMI, terkhusus kader HMI Cabang Purwokerto, kemudian kader memiliki rasa kecintaan terhadap HMI dan semangat yang tinggi dalam ber-HMI serta mampu membawa HMI Cabang Purwokerto menjadi lebih baik lagi,” bebernya.

    Lebih lanjut, Isma mengatakan bahwasannya sejauh ini panitia pelaksana berupaya dengan semaksimal mungkin untuk mensukseskan kegiatan berskala nasional ini. “Jumlah peserta yang mengirim makalah untuk LK 2 sekitar 98 orang peserta yang menjadi utusan dari masing-masing Cabang HMI se-Indonesia, namun yang lolos sesuai dengan presentasi pembuatan makalah di HMI sekitar 47 peserta,” ujarnya.

    “Sedangkan untuk Senior Course (SC) sebanyak 26 orang yang kirim Sindikat, namun yang lolos hanya 22 orang saja. Kemudian semua peserta akan mengikuti Screening pada tanggal 19-23 September 2018 dan Kegiatan training LK 2 dan SC akan berlangsung mulai pada tanggal 23-30 September 2018 di Balai Diklat Banyumas,” tuturnya.

    Kemudian dalam momentum yang sama, Ketua Umum HMI Cabang Purwokerto Romi Fredyanto, menuturkan bahwa tujuan pengadaan training ini adalah agar kader HMI kembali kedesa, dengan upaya untuk menguatkan nasionalisasi dan pemberdayaan masyarakat yang sering kali banyak dilupa dan kader HMI mampu merasionalisasikan kebutuhan masyarakat secara realistis dan profesional.

    “Kader HMI harus benar-benar terlibat aktif dalam mengawal bangsa dan negara, kemudian untuk mengawal itu semua perlu kita kembali ke desa-desa, karena kemakmuran dan kesejahteraan yang ada di Indonesia ini ialah melalui desa,” celoteh Romi.

    Lebih jauh, Romi Fredyanto mengatakan, “Kami menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan LK II tingkat nasional ini. Terutama bagi HMI Cabang se-Indonesia yang telah mengirim kader-kader terbaiknya sebagai utusan atau perwakilan dalam megikuti training. Mudah-mudahan kami bisa menjadi tuan rumah yang baik,” lanjutnya. (Muhammad Akhir)

    Karang Taruna DIY Gelar Ekspedisi Kemanusiaan untuk Lombok NTB

    Karang Taruna DIY saat gelar Ekspedisi Kemanusiaan di Lombok NTB. Foto: Istimewa.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Peristiwa gempa yang memilukan belum lama ini terjadi pada keluarga kita di Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa yang memakan lima ratusan lebih korban jiwa meninggal dunia dan juga lebih dari tiga ratus ribu mengungsi itu tepatnya terjadi di Lombok dan sekitarnya.

    Mendengar peristiwa tersebut, belum lama ini Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tergerak hatinya untuk peduli pada peristiwa gempa yang terjadi di Lombok, dan berhasil mengumpulkan bantuan dari karang taruna se-DIY. Uang yang terkumpul dibelanjakan logistik berupa terpal, keperluan bayi, keperluan wanita, kebutuhan untuk sekolah darurat dan sembako, ada juga pakaian layak pakai. Bantuan yang telah dikumpulkan, Tim Karang Taruna DIY sudah mengirim langsung ke Lombok Utara dan Lombok Barat.

    Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono selaku Ketua Karang Taruna DIY mengutus Solihul Hadi, S.H. (Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta) dan Luthfi Eka Septerina (Koordinator seksi Kebencanaan Karang Taruna DIY), untuk mengawal dan memastikan distribusi bantuan dari Karang Taruna DIY tepat sasaran dan diterima langsung oleh masyarakat yang terdampak gempa.

    Solihul Hadi, S.H. dan tim sebagai utusan ekspedisi kemanusiaan untuk Lombok, saat tiba di Lombok langsung berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan Ketua Karang Taruna NTB Ma'ruf Syamsuddin, Kepala Dinas  Sosial NTB H. Ahsanul Khalik, S.Sos., M.H., Bapak Bupati Lombok Utara, Ketua Karang Taruna Lombok Utara, serta teman-teman Karang Taruna Lombok Barat.

    Menurut Solihul Hadi, S.H., koordinasi dilakukan untuk bisa memetakkan lokasi-lokasi korban gempa yang terjadi dan juga agar bisa dengan mudah menyalurkan bantuan tepat sasaran.  "Koordinasi ini dilakukan agar penyaluran bantuan tersebut bisa tepat sasaran, efektif dan efisien, karena karang taruna itu sendiri berdasar pada Permensos 23 Tahun 2013 adalah organisasi yang dinaungi oleh Kementerian Sosial dan pemerintah setempat. Maka kegiatan kemanusiaan seperti ini merupakan salahsatu agenda penting yang harus dilakukan oleh Karang Taruna," beber Solihul Hadi pada 17/09/2018 setelah sampai kembali di Yogyakarta usai melakukan ekspedisi kemanusiaan di Lombok NTB. 

    Setelah sukses menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Lombok, Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono dalam hal ini mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi baik secara materil maupun imateril dalam menyalurkan bantuan ke Lombok pada misi kemanusiaan. Selain itu, GKR Condrokirono juga mengucapkan terimakasih yang tak terhingga pada Dinsos NTB, Pemerintah dan Karang Taruna setempat karena telah membantu menyalurkan bantuan pada korban gempa. (PEWARTAnews)

    Manusia dan Sebiji Nasi

    PEWARTAnews.com – Kondisi dalam keheningan, setiap mereka merasa pantas untuk mendefinisikan sesuatu. Mendefinisikan apapun yang mereka anggap perlu untuk didefinisikan. Mungkin karena alasan inilah setiap orang menjadikan keheningan sebagai kekasih yang harus dimanjakan setiap hari. Dikunjungi dan dicintai disetiap detik nafas yang berhembus. Keheningan membutuhkan kesunyian, dan kesunyian membutuhkan kesepian. Karena dengan jiwa yang kesepian pintu-pintu misteri dibalik keheningan bisa terbuka. Rumah dari hati dan pikiran yang menyimpan cakrawala. Hidup harus ditemukan dan dipelajari. Melewati lembah-lembah, melalui lorong-lorong, menaiki bukit, sakit dipunggungmu mesti engkau bawah serta, tak peduli apapun pencarianmu harus tetap berlanjut. mengunci diri dari keserakahan dan berdamai dengan nurani sendiri.

    Merelakan yang pergi, memikul segudang keluh dipundakmu, tapi hidup harus terus dijalankan. Karena tugas adalah tugas. Kewajiban adalah kewajiban. Menjaga manusia, alam dan semesta. Menghargai diri bermakna menghargai orang lain, menghargai manusia bermakna menghargai alam, dan menghargai Tuhan bermakna menghargai semesta. Cara itulah yang masih melakat pada mereka. Sibuk berdiskusi dengan semesta, hidup dan menghidupi beralas kedamaian dan ketenangan.

    Dibalik sebuah gunung hiduplah orang-orang yang sholeh. Sholeh terhadap manusia, alam dan semesta. Mereka hidup bersama dalam sebuah desa. Desa itu bernama Sambori. Salah satu desa yang ada di Kabupaten Bima, terletak dikecamatan Lambitu. Desa yang dikutuk oleh kemajuan. Dibenci oleh perkembangan, dan dihardik oleh setiap generasi yang ada. Kebencian itu tentu beralasan. Sistem hidup mereka yang ketinggalan zaman. Kebudayaan mereka kolot, mereka masih peduli terhadap semesta. Kebiasaan mereka yang menganggap segala sesuatu bagian dari diri mereka. Alam dan semesta harus dihargai karena mereka sama seperti manusia. Cara hidup seperti itu yang dibenci oleh perkembangan dan kemajuan.

    Kondisi dalam kebiasaan mereka sehari-hari, ternyata mereka telah mampu memberika solusi ditengah keadaan Negara dan Bima hari ini. Cara pandang mereka terhadap nasi mampu menjadi standar hidup untuk menghargai sesuatu melebihi diri mereka sendiri, dan semestinya itu menjadi cara pandang kita bersama dalam melihat sesuatu. Walaupun sama bukan berarti seragam. Namun ada sistem khusus yang kita bangun untuk mewadahi ini. Menurut mereka, nasi tidak hanya suatu materi yang didalamnya termuat unsur biologis dan kimiawi. Nasi tidak hanya sebagai kata benda, nasi bukan saja fungsinya untuk mengenyangkan. Tetapi mereka melihat nasi sebagai sesuatu yang hidup, sebagai bagian dari manusia. Saudara dari manusia itu sendiri. Seseorang akan dianggap bernilai terletak pada cara mereka memperlakukan sebiji nasi. Seseorang akan bermartabat apabila dia menghormati sebiji nasi sama seperti menghormati dirinya sendiri. Semua yang masuk dan keluar dari dirimu adalah saudaramu sendiri, yang masuk akan sampai ke syurga dan yang keluar akan sampai ke neraka. Kalau semua saudaramu itu merasa tidak pernah engkau hargai, maka engkau akan bertemu kembali dan mempertanggungjawabkannya pada waktunya. Memperselisihkan hal-hal yang kamu anggap sederhana tapi dimata mereka itu adalah tanda kekafiran yang nyata.

    Kebiasaan orang-orang disana, setiap kali mereka makan harus sampai tak tersisa, sebab kalau disisakan, mereka menyakini bahwa nasi itu akan menuntut keadilan kepadamu kelak. Mereka akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah kita lakukan. Kondisi dalam kebiasaannya yang lain, pada saat musim panen orang-orang disana sangat teliti dan sangat hati-hati untuk memilah dan memilih biji-biji padi. Jangan sampai ada yang berhamburan meskipun hanya sebiji. Karena membuang sebiji sama nilainya dengan membuang sekarung. Dan menelantarkan biji-biji itu sama dengan menyiksa diri sendiri. Keyakinan ini tentu bukan tanpa sebab, nasi adalah makanan pokok. Hidup kita sangat bergantung pada nasi. Nasi memberi kita segalanya, dan segala pekerjaanmu pasti berujung pada sebiji nasi. Gajimu untuk membeli nasi, ceramahmu untuk membeli nasi, pidatonya untuk membeli nasi, segala aktivitasmu berawal dari nasi dan berujung pada nasi. Nasi sangat penting mengingat fungsi dan sifatnya. Siapun pasti tau itu. Tetapi disisi lain ada soal yang muncul kemudian, seberapa jauh kita menghargai sesuatu yang memberikan kehidupan itu.?

    Selain yang penulis paparkan diatas ada juga kebiasaan orang Sambori untuk menghormati nasi. Pada saat memulai makan mereka menyediakan beberapa tikar. Tikar disiapkan tergantung banyak orang yang akan makan. Tikar tersebut tidak hanya sebagai alas duduk. Tetapi tikar disitu juga menjadi wadah untuk menahan nasi supaya tidak jatuh ke tanah. Bukan karena nasi itu kotor kalau menyentuh tanah, tapi karena rumahnya terbuat dari kayu dan dibawah rumah itu ada kolom, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk turun mengambil biji nasi yang jatuh tersebut. Sedangkan disisi lain meninggalkan nasi saat kita makan sama saja dengan menolak rezeki yang datang menghampiri kita. Keyakinan mereka sedalam itu.

    Kemudian dalam prosesi melayani tamu. Setelah para tamu makan tentu ada yang menyisahkan nasi ada juga yang memakannya sampai habis. Namun yang humanis disini terletak dari cara mereka menghargai sisa nasi dari orang yang berkunjung ke rumah mereka itu.

    Tanpa sepengetahuan tamu tersebut didapur mereka, nasi-nasi itu dicuci lalu dikeringkan. Setelah kering kemudian mereka makan kembali. Beberapa orang di Bima mungkin masih menjalankan kebiasaan tersebut. Namun kebiasaan mengeringkan nasi dilakukan dari sisa makanan sendiri atau keluarga, dan jarang yang mengeringkan nasi sisa makanan orang lain.

    Unik dan romantis memang kita lihat. Kalau para tamunya menyisahkan nasi dipiringnya, dengan rendah hati orang yang punya rumah itu merapikan piring-piring dan membawanya ke dapur. Didapur yang meracik kaharmonisan itu mereka bilang kepada nasi yang disisakan oleh para tamu, "Ma'afkan kami karena telah membuangmu, sambil menangis dan mencuci nasi tersebut supaya dikeringkan. Mudah-mudahan engkau tidak mempersoalkan kelalaikan ini dialam yang lain nanti”. Terkejut sekaligus saraf motorik penulis berhenti sejenak. Narasi macam apa yang hidup di negeri ini. Semua perjalanan saya terhenti dan pengembaraan selama ini percuma. Itu semua terbantah hanya pada proses memaknai manusia dengan sebiji nasi. Nasi saja dihargai apalagi manusia. Nasi saja dihormati apalagi manusia. Nasi juga makhluk, mereka butuh dicintai dan disayangi. Cintamu kepadanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata Tuhan, kesetiaamu padanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata manusia.

    Kalau di kota, jangankan nasi yang dibuang, manusia saja dibuang. Maka itulah alasan penulis masih mencintai desa.

    Tetapi kebiasaan itu mulai terkikis. Entah oleh zaman atau indvidunya. Apakah karena salah penulis? Salah pembaca? Salah pemudanya? Salah birokrasinya? Ulamanya? Tokoh masyarakatnya? Ayah dan ibunya? Kakek dan neneknya?.

    Manusia dan sebiji nasi.
    "Jagalanya segalanya supaya segalanya menjagamu" Ibu semesta.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pencari Jalan Sufi / Eks Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY)

    Sebuah Sajak Tentang Perjuangan

    Morgan Guevara.
    PEWARTAnews.com -- Wahai kawan-kawanku yang satu perjuangan, bukankah revolusi itu suatu jalan untuk membebaskan rakyat dari jeratan kemiskinan.

    Jika engkau mengatakan iya, maka libatkan dirimu dalam perjuangan rakyat.
    Tidak ada jalan lain yang mampu membebaskan buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota selain revolusi.

    Bukankah engkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, dan sanggat sulit. Sulit, bukan berarti mustahil bahwa suatu kemenangan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.

    Wahai kawanku untuk apa engkau berpendidikan tinggi, untuk apa? Bukankah tujuan pendidikan yang semestinya untuk membebaskan rakyat dari jeratan kapitalisme.

    Apakah engkau hanya ingin menitipkan nasibmu dalam dunia pendidikan, menyandarkan derajat yang tinggi dimata sosial.

    Apakah engkau hanya inggin menyombongkan dirimu didepan kawan-kawanmu yang tak mampu mengenyam pendidikan tinggi.

    Apakah engkau hanya ingin mengakukan dirimu di junior-juniormu.
    Apakah enggkau hanya inggin menyombongkan dirimu di depan buruh-buruh, didepan petani-petani, dan didepan perempuan-perempuan.

    Apakah engkau tidak sadar bahwa dirimu akan menjadi buruh, apakah engkau tidak sadar bahwa enggkau akan menjadi pengangguran.

    Jika pendidikan hari ini dibawah sistem kapitalisme hanya mampu menciptakan penganguran, generasi yang memiliki sifat apatis, oportunis, dan hedonisme maka selayaknya pendidikan bukan dikatakan mencerdaskan dan membebaskan rakyat, akan tetapi  pendidikan layaknya seperti barang yang diperdagangkan untuk menghisap kaum muda.

    Aku enggan melihat anak muda yang menyandarkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat tapi aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup melawan arus. Arus itulah yang mengelamkan nyali kita semua.

    Aku inggin duduk bersama kalian, menonton orang-orang pandai berdebat di televisi, atau melihat  aktivis yang dulu lantang melawan kini mendukung elit politik borjuasi busuk untuk menjadi penguasa yang akan menindas rakyat miskin, murah sekali harga seorang aktivis yang tidak memiliki harga diri telah  melacurkan keyakinan,  sangat ngeri,  aku menyaksikan orang-orang pandai berbohong dengan ilmu pengetahuan mereka.

    Keberanian seperti sikap keberimanan, jika engkau memperoleh keberanian maka kau memiliki harga diri, sikap bermartabat yang membuat kita tidak mudah untuk dibujuk.

    Perjuangan mengajarkanku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis, kemiskinan mendidikku untuk tidak mudah yakin dengan janji-janji para elit politik busuk.

    Akan aku habiskan waktuku untuk terlibat langsung dan berjuang bersama buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota melawan.

    Akan aku libatkan diri dalam berjuang untuk mengangkat martabat Papua menuntut haknya sebagai anak bangsa, karna aku tidak mau menjadi kolonial bagimu.

    Akan aku libatkan diri dalam perjuangan buruh yang di PHK, mahasiswa yang di droup out, petani yang di gusur dan perempuan yang  memperjuangkan hak hidupnya.

    Akan aku sapa setian anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh.

    Bukankah enggkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, sanggat sulit, sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil bahwa suatu memenagan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi dinegara itu saja.

    Jika engkau inggin mengetahui bagaimana jalannya revolusi maka libatkan dirimu dalam perjuangan revolusi.

    Wahai kawanku, kita bukan melawan siput, tetapi buaya dan serigala yang akan menerkam jika kita lenggah.


    Yogyakarta, 16 Mei 2018
    Karya: Morgan Guevara
    Salahsatu Mahasiswa Yogyakarta

    Kapatu LDK FIMNY (Pantun Bahasa Bima)

    Suasana saat LDK FIMNY.
    Wara haba ma heba ro ma heboh
    Haba LDK FIMNY ndi ringa sanai-naimu bune oi manoa 
    Aka pantai ndi samadamu sampesa ntoi-ntoi 
    Pantai rindu alam, haba ndi ringa ulumu
    Pantai pelangi ndi cua meci kai lenga ro aina mori langa

    Ringa ulupu ngahi bune taroa ilo 
    Ngahi senior mai kaiba sanaa, sanaa ide ro ade ma gaga ndi eda 
    Ngahi senior ma rombo ntiri bune taroa ntara
    Ndi osumu nasihat ma ngini isi ro ma ncewi ese

    Aina bake, kamboto pu baca buku
    Aina mbou, kalampa pu sambea paida ra mori mbaimu
    Ringa pu ngahi ra ngoa, aina ncewi ngau
    Samena ngahi ra pehe, ndi kapahu mu

    Ngahi ro eli senior ndi nonto, maita ka jaya FIMNY ndi nenti


    Keterangan:
    FIMNY (Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta)
    LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan)


    Penulis: Bung Ismail
    Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pesan Bu Nyai kepada Santri Huffadz

    Suasana saat acara Kotagede Bersholawat.
    PEWARTAnews.com -- Salam ta’dzim saya kagem Al Mukarramah Ibu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ (Almarhumah – Pengasuh PP. An-Ni’mah Kanggotan) dan Al Mukarramah Ibu Ny. Hj. Barokah Asyhari Nawawi (Pengasuh PP. Nurul Ummah Putri Kotagede).

    Melalui foto ini, saya teringat wejangan/nasihat yang selalu diberikan Bu Nyai Syamsiyyah (Pengasuh PP. An-Ni’mah, Kanggotan) kepada santri putri, khususnya yang sedang menghafal al qur’an dan atau telah menyelesaikan hafalannya. Dalam wejangannya tersebut, beliau selalu berpesan: “Agar senantiasa menikmati proses. Proses itu harus dilalui dan harus dijalani dengan baik dan sabar. Nikmati-lah setapak demi setapak, langkah demi langkah untuk sebuah jalan. Tak usah buru-buru dalam hal apapun, termasuk dalam hal menikah.

    Karena pada saat itu mayoritas santri masih single/belum menikah, bu Nyai selalu memberikan nasihat dan pesan agar senantiasa memanfaatkan waktu dengan baik ketika di pondok. Artinya, mumpung masih muda, matangkan dulu Qur’an-nya. Karena ketika sudah menikah, pasti akan banyak tanggungan dan itu jelas menyita waktu untuk nderes (baca Al-Qur’an). Bagi seorang wanita, ketika sudah mempunyai anak dan suami tentu orientasinya (cara pandang dan aktivitas) jauh berbeda ketika masih single. Belum lagi ketika melayani mertua (kalau tinggal serumah). Pasti hal itu sangat menyita waktu. Maka sebelum bertemu dengan jodoh kalian (para santri), lancarkan dan lanyahkan dulu hafalan kalian. Seorang yang menghafal Qur’an dimanapun dan kapapun berada, akan dibutuhkan oleh masyarakat. Entah sebagai guru ngaji ataupun yang lainnya. Kelak ketika kalian hidup dimasyarakat, masing-masing kalian akan “membawa nama baik” suami kalian. Kalau kalian disimak, dan ternyata lancar pasti yang pertama kali ditanya itu istri siapa ya?. Dengan demikian, saat-saat menjadi santri di Pondok-lah, seharusnya kalian jadikan ajang belajar dengan mempersiapkan segala hal guna bekal untuk terjun ke masyarakat serta perbaikan kualitas diri dimasa depan.

    Lika-liku rumah tangga tidak semudah yang dipikirkan dan dibayangkan oleh kebanyakan orang. Kalian tak tau, bagaimana suami kalian besok. Apakah peka dan pengertian, atau harus dikode terlebih dahulu. Suatu kenikmatan dan kesyukuran yang luar biasa apabila kalian mendapatkan pendamping hidup yang bersedia meluangkan waktunya (meski hanya 20-30 menit/harinya) untuk nyimak kalian. Yang seperti itulah, sik bisa ngrekso (menjaga) hafalan kalian. Jika tidak, lantas bagaimana? Kalian harus mencuri-curi waktu untuk nderes. Ya kalau suami kalian dulu pernah mondok, pasti paham dan mau mengerti. Tapi jika belum pernah, kalian yang harus memberikan pengertian kepadanya. Itupun kalau Qur’an kalian sudah lancar, jika belum? Maka sekali lagi, manfaatkan waktu muda dengan baik. Jangan buru-buru menikah. Semua itu harus ada ilmu, hikmah dan kebijaksanaan-nya”.

    Oleh dasar itulah, saya sering melihat bu Nyai Syamsiyyah DZ sedih ketika melihat santrinya yang dirasa belum tuntas tapi sudah mau melangkah ke jenjang yang penuh amanah dan tanggungjawab (read : pernikahan). Nikah itu berat oey, saya aja belum kuat. Hehehe. Tapi kadang terbesit rasa ingin (pengen), ah itu hanya labil saja. Wkwkwk.

    Untuk para mbak-mbak penghafal Qur’an, sebenarnya saya punya tips sederhana untuk mengetes “calon pasangan” anda apakah benar-benar bisa meluangkan waktu-nya atau tidak. Cobalah, sebelum menerima lamarannya, suruhlah dia nyimak jenengan 1 jus/hari nya. Kalau dalam waktu 20 menit kok si doi sudah ngantuk, eliminasi-lah. Cari yang lain !. Simple kan. Hehehe

    Foto ini penulis ambil tepat pada tanggal 17 Agustus 2018 saat menghadiri prosesi wisuda bil ghaib 30 Juz teman saya di Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang nyantri di Nurul Ummah Putri, Kotagede.

    Allahummarhamnaa bil Qur’an. Wahsyurnaa ma’a ahlil qur’an. Wahdinaa bi hidayatil Qur’an. mugi kecipratan barokahipun Al-Qur'an. Aamiin.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pemuda Madura dan Orang-Orang yang Mati Mulia

    PEWARTAnews.com -- Socrates, Suhrawardi, Al-hallaj, Syekh Sti Jennar dan Pemuda dari Madura pada suatu waktu ngopi bareng membincang tentang nasib mereka yang sama-sama mati karena dihukum mati.

    “Tes” kata pilosop dari Madura memulai perbincangan. “kamu cerita selaku pilosop paling tua”

    “sebenarnya aku gak mau banyak bicara, kalian tahu kan ceritaku telah diketahui banyak orang meskipun aku tak pernah menulis apapun. Nanti kalau aku tetap cerita, dikiranya aku sombong”. Ia berhenti sejenak, menghemat nafas panjang dan melanjutkan : “tapi sudahlah, jika kalian memaksa..”

    “Tuduhan yang ditujukan kepadaku di pengadilan ada tiga hal. Pertama karena ‘meracuni’ kaum muda, kedua karena tidak mempercayai dewa-dewa dan terakhir membuat paradigma baru.” Sambil bersedih, Socrates melanjutkan ceritanya. “Bagaimana mungkin aku dituduh tidak percaya pada dewa-dewa, sementara apa yang kulakukan selama ini berasal dari bisikan yang kuyakini itu berasal dari Tuhan. Apa yang kulakukan adalah perintah Tuhan, dan aku yakin, tak ada pengabdian yang lebih baik untuk Athena kecuali pengabdianku pada Tuhan.”

    “Orang mungkin bertanya-tanya kenapa aku diam-diam sibuk mengurusi orang lain. Ada tanda-tanda Ilahiah yang datang dalam bentuk suara-suara. Dan Miletus, salah satu jaksa penuntut di sidang peradilanku mencemooh hal itu. Tapi sudahlah. Akhirnya diantara 500 jaksa yang hadir di persidanganku, 280 diantaranya menyetujui kematianku, sementara 220 sisanya menentangnya. Itulah lemahnya demokrasi kawan, tidak selamanya yang mayoritas merepresentasikan kebenaran. Lalu aku memilih untuk menjalani hukuman itu, dengan sadar, karena aku adalah bagian dari polis Athena. Warga negara yg baik harus taat kepada aturan negaranya. Meskipun saat itu aku bisa saja lari, tapi tetap saja aku membiarkan racun merenggut nyawaku, dan membiarkan kebenaran mengambil jalannya sendiri.”

    Mendengar cerita Socrates semua terharu. “Sekarang giliranmu Suh” kata Socrates pada Suhrawardi. Dengan agak kikuk tapi tampak sangat bijak pilosop muslim yang mati muda itu memulai bicaranya.

    “Waktu itu, dunia muslim begini dan begitu. Aku hadir dengan pandanganku yang oleh penguasa dan ulama pendukungnya dianggap mengancam posisi mereka. Padahal aku hanya menganjurkan sebagaimana yang diajarkan Socrates. Kritis, berpikir terbuka, dan berani berkata benar. Tapi ya begitulah penguasa waktu itu. Akhirnya karena menolak tunduk, aku harus menerima resikonya. Memilih mati”
    Selanjutnya tibalah saatnya AL-Hallaj bercerita dan Syehk Siti Jennar. Tapi tiba-tiba Socrates angkat bicara “Laj, kamu nanti saja, Kanjeng Sunan pun belakangan nggih. Biar pilosop muda dari Madura dulu yang bercerita”. “Ayo Sug, giliranmu” kata Socrates

    Sugi, yang nama lengkapnya Emile Sugibroto pun berkata dengan dialek Maduranya “O, gilirran sayya ya, baiklah” Sugi memulai ceritanya.

    “Taappi, sebenarnya sayya malu mau bercerit-ta, karena kisah sayya berbedda”

    “Bed-da gimanna” tanya Al Hallaj Penasaran.

    “Anu, sayya dibunuh karna” kata Sugi membuat yang dengar penasaran

    “Karena apa, cepat ceritakan. Aku penasaran” kata Suhrawardi.

    “Sabar, biarkan Sugi bicara” kata Syekh Siti Jennar dengan bijak.

    “Sayyya, di bunuh karena menolak…” Sugi pun diam tak melanjutkan

    “Menolak apa Su” bentak Socrates tampak tak sabar.

    “Menolak dijodohkan” jawab Sugi.

    “Wkwkw” Socrates ketawa.

    “Hahahahaha” Suhrawardi tertawa lepas.

    “Huhuhuu” sambung AL-Hallaj

    “Subhanallah. Nasibmu lucu Su” seru Syekh Siti Jennar.

    Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar pun tak Jadi dapat giliran cerita, karena warung kopi tempat mereka nongkrong sudah mau tutup.


    Penulis: Rusdiie
    Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
      

    Manah Nyegoro

    PEWARTAnews.com -- Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun. Ini hanyalah untaian kata penulis saat masih Mahasiswi Semester 3 dengan segala kelemahan dan kekurangannya, untuk itu undzur maa qoola wa laa tandzur man qoolaa dengan berlandaskan pada QS. An-Nisaa’: 1, Al-A’raf : 189, Faathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya ilmu, iman dan taqwa yang membedakannya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.

    Hari ini, ada pelajaran berharga yang penulis dapatkan dari pengalaman hidup salah seorang sahabat seperjuangan yang semangatnya luar biasa. Lelah, letih dan penat tak pernah dirasakannya, yang ada dalam hidupnya ialah belajar, bekerja dan berdoa. Setiap hari dari pukul 15.00 - 23.00 ia bekerja di salah satu tempat makan untuk menyambung hidup dan untuk membiayai kuliah. Bahkan tak jarang, tidur hanya 2-3 jam. Berangkat kuliah pukul 7 smpe dg 14.15 setelah itu lanjut kerja. Kerja dan kerja.

    Topik yang menjadi akar pembahasan tulisan ini adalah “nitip TA (titip absen -- hanya satu kali) itupun karena menggantikan partner kerjanya yang berhalangan datang karena ada urusan yang sangat penting yang harus diselesaikan. Tapi sayangnya ketahuan oleh seorang pendidik, dan akhirnya namanya di coret dari daftar absen. Menyedihkan bukan?

    Karena ia merasa bersalah, kemudian minta maaf dan menghadap langsung pada pendidik tersebut. Lalu pendidik tersebut tanya “kenapa”? Kemudian dijelaskanlah semua itu, tapi sayangnya pendidik tersebut menyahut “saya tidak menerima alasan apapun”. Kita bisa membayangkan, bagaimana rasanya. Sakit kan? Kalau hanya ingin bilang “tidak menerima alasan apapun” mengapa tanya “Sebab yang menyebabkan ia TA?”

    Hidup itu tak selalu mulus, bagaikan roda yang berputar. Kadang dibawah kadang pula diatas. Hidup itu penuh kejutan, penuh misteri, penuh lika-liku, perlu adanya perjuangan, semangat dan kerja keras. Perlu adanya rintikan air mata, keluh, kesat, penat, lelah. Hidup itu sekali, maka hiduplah yang berarti.

    Apakah selamanya akan susah? Ingat, Allah bersama dengan orang-orang yang senantiasa berbuat baik lagi bersabar. Hidup pasti berputar, sahabat. Bersabarlah. Masih ingat kisah perjalanan hidup motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikkiy? Beliau adalah warga negara Kanada yang berimigrasi dari Mesir. Elfiky muda adalah seorang atlet tenis meja dan pernah tampil dalam pertandingan internasional di Jerman Barat pada tahun 1969. Setelah lulus dari sekolah perhotelan, beliau migrasi ke Kanada dan bekerja di sebuah restoran sebagai pencuci piring. Berbagai pekerjaan pun dilakukannya untuk bisa bertahan hidup di Kanada termasuk juga menjadi penjaga malam. Sampai akhirnya dia berhasil menapaki karir sebagai Genaral Manager di hotel berbintang 5. Beliau menekankan pentingnya seseorang untuk memiliki cita-cita, dengan memilikinya, pasti seseorang itu akan punya terget, dengan adanya target, ia akan bekerja keras untuk meraihnya. “Orang yang sukses mengetahui bahwa cita-cita adalah fondasi kemajuan. Tanpa adanya cita-cita, segala sesuatu akan terhenti. Tanpa tindakan dan kegigihan, maka kemajuan tidak akan pernah terjadi. Karena itu, orang yang sukses selalu berusaha keras dalam meraih cita-cita dan menghadapi tantangan hidup.

    Ketika berbicara tentang takdir manusia, tepatnya saat menafsirkan ayat dalam Al-Quran yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”,(Qs. Ar-Ro'du: 11) Dr. Ibrahim Elfiky mengatakan,“Tuhan sudah sangat jelas memberikan rambu-rambu betapa nasib seseorang tergantung dari usahanya. Untuk mengubah nasib harus dimulai dengan mengubah kebiasaan. Untuk bisa mengubah kebiasaan dimulai dengan mengubah pola pikir. Mind Set (sudut pandang, paradigma ataupun pola pikir) dapat mempengaruhi segalanya. Penulis teringat ngendikanipun bunda Hibana Yusuf, orang yang berpikiran positif ketika memandang sesuatu itu sulit, ia mengatakan pasti dapat diselesaikan. Tetapi orang yang berpikiran negatif memandang segala sesuatu itu mudah namun sulit untuk diselesaikan. Kuncinya adalah optimis. Allah SWT tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya, dalam menentukan suatu kehendak/ketetapan yang entah baik maupun buruk, Allah selalu memperhatikan dan mempertimbangkan usaha manusia itu sendiri.

    Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasannya Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ)  adalah 3 aspek yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, ibarat sebuah sistem. Sistem tersebut tak bisa berjalan dengan baik manakala tak bersinergi dengan sistem-sistem yang lain. Jika berkaca pada IQ, maximal hanya berperan 20%. Lalu selebihnya apa? Yakni EQ dan SQ.

    Oleh karena itu, cerdas saja tak cukup, tapi juga harus diimbangi dengan hati (kalbu) yang baik pula, yang biasa disebut santri dengan “Qolbun Salim”.  EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengerti, memahami dan memposisikan dirinya sebagai orang lain (yang mengalami sesuatu hal). Satu contoh, penulis ambilkan dari kasus tadi adalah “sikap pendidik yang tak mau menerima alasan apapun padahal sebelumnya tanya sebab yang menyebabkan akibat kenapa ia TA?”

    Menurut penulis, akan lebih bijaknya jika seorang pendidik, tidak ngendiko “tidak menerima alasan”. Ya meski tak bisa dipungkiri, bahwa teman penulis memang salah. Tapi akan lebih baik jika pendidik tersebut memahami, memberikan arahan dan nasihat yang baik serta memberikan motivasi kepada teman penulis tadi. Jarang loh yaa ada anak didik yang mau bekerja keras, dan mandiri. Seharusnya “bangga” punya anak didik yang seperti itu, siapa tau kelak ia jadi orang besar dan berhasil. Kan nasib orang tidak ada yang tau.

    Jika berkaca pada Psikologi pendidikan mengenai teori belajar behavioristik yang menekankan adanya reward dan punishment, memang hal itu perlu dipraktikkan agar mahasiswa taat pada aturan. Sehingga, sikap disiplin dapat berjalan dengan baik. Tapi akan lebih bijaknya manakala pendidik menghadapi sesuatu hal tersebut (kasus tadi) dengan memposisikan diri dengan berbagai kacamata dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

    Bukankah in ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa'tum falahaa. Orang berbuat baik tidak akan rugi. Masih ingat dengan kisah 2 mahasiswa dengan Paderewski? Kisah Paderewski merupakan kisah nyata yang terjadi pada tahun 1892 di Stanford University. Pesan moral yang tersirat dalam kisah tersebut masih relevan saat ini. Dua mahasiswa tersebut mengumpulkan uang untuk membiayai biaya pendidikan mereka dengan menggelar konser piano Paderewski, tapi tiket tak terjual dengan habis dan akhirnya 2 mahasiswa tersebut menemui Paderewski dan menceritakan semuanya. Dengan lantang Paderewski mengatakan “siap datang di konser yang mereka adakan” tanpa mereka bayar sepeserpun (gratis), singkat cerita 5 tahun berlalu 2 orang mahasiswa tadi menjadi orang sukses (Presiden) di AS sedangkan Paderewski saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Polandia. Karena saat itu Polandia sedang mengalami masa paceklik / masa sulit, akhirnya Paderewski meminta bantuan pada Presiden AS yang mana beliau tidak tau bahwa Presiden tersebut adalah “mahasiswa” yang ia bantu dulu. Ya mungkin Paderewski telah lupa, tapi mahasiswa tadi tak akan pernah lupa atas kebaikan dan jasa Paderewski.

    Kebaikan sekecil apapun yang orang lain beri, penulis yakin tak akan pernah dilupakan oleh orang tersebut meskipun yang memberi pertolongan telah melupakannya. Seseorang dikatakan sukses dan berhasil, manakala ia mampu memahami keadaan orang lain dan dapat bermanfaat bagi makhluk-Nya. Fastabiqul Khoirot!

    “Khoirunnaas anfa’uhum linnaas”. Semoga selalu dalam naungan dan ridho-Nya, Tujuan hidup ialah ridho Ilahi Robbi.


    Yogyakarta, 14 Desember 2016
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi di salahsatu kampus Negeri di Yogyakarta.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website