Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Makna Kebahagiaan

    Siti Mukaromah (depan)
    PEWARTAnews.com -- Bahagia itu mudah, sederhana dan tanpa syarat, namun seringkali “diri kita” lah yang memberikan ketentuan, kriteria dan batasan tertentu dalam menentukan kebahagiaan dalam hidup. Tanpa disadari, kita memberikan label-label tertentu untuk bahagia. Entah dalam persoalan ekonomi, fisik, pendidikan, jenjang akademik, karier maupun jodoh. Pernahkah mengalami kemrungsungan/kekhawatiran dalam hidup sehingga membuat hidup tak nyaman dan selalu merasa gelisah? Atau paling tidak, merasa tertekan dalam menjalani proses kehidupan? Satu diantara banyak alasannya ialah, kita terlalu mengejar sesuatu yang “abstrak” dan tidak menyadari apa yang telah diperoleh, dicapai dan dianugrahkan Allah kepada diri kita. Dalam hal ini, ada baiknya mempunyai paradigma “retrospective thinking”, sejenak untuk melihat ke belakang, ambil hikmah dan inspirasi disetiap peristiwa yang telah berlalu. Dengan begitu, akan memacu diri kita menjadi insan yang senantiasa bersyukur karena memaknai setiap alur yang Tuhan berikan. Bahagia itu penting dan sangat penting. Jika boleh saya katakan “bahagia” itu merupakan kebutuhan primer yang harus diutamakan dan dimiliki terlebih dahulu sebelum memiliki papan/rumah. Mengapa demikian? Karena bahagia berkaitan dengan hati. Jika hatinya riang gembira, tidur dimanapun oke. Gak percaya? Coba baca kisah hidupnya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Sewaktu muda, beliau rela tidur di emperan kota dekat Mmalioboro, dipinggir jalan bahkan dimanapun asal hatinya senang semua tempat jadi tempat tidur. Artinya apa, dengan adanya rasa bahagia dalam hati, maka semua hal bisa dilalui. Termasuk hal yang sangat primer berupa tempat tinggal. Hal demikian pula yang terjadi dalam hidup mahasiswa, santri maupun yang lain.

    Dalam konteks agama, bahagia juga berkaitan erat dengan hati. Sebagaimana dalam hadist Arbain Nawawi disebutkan bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal daging (hati). Apabila baik maka baik pula seluruh anggota badan-nya, begitu sebaliknya. Hal tersebut mengisyaratkan dengan jelas bahwa Hati sangat berperan penting dalam kehidupan manusia, jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan merusak semuanya, tidak hanya jiwa tapi raga, tidak hanya diri sendiri tapi kolektif, tidak hanya dunia tapi juga akhirat, tidak hanya dalam ranah emosional namun juga sampai pada ranah spiritual.

    Hati hanya bisa dikendalikan dengan perasaan yang penuh dengan “kebahagiaan”, dan kebahagiaan hanya bisa didapat apabila manusia benar-benar bersyukur dan menyadari setiap skenario yang digariskan-Nya. Tanpa disadari, seringkali kita merasa “besar dan paling benar”, mudah menjustifikasi seseorang dengan label-label tertentu, mudah memberikan solusi tanpa diminta dan mudah menyalahkan. Satu diantara banyak alasan karena kita melihat orang lain berdasar pada perspektif dan cara pandang kita dalam melihat diri kita sehingga menentukan bahagia atau tidaknya seseorang juga berdasar pada kriteria kita. Dalam realita emprik misalnya, kita mudah mengatakan “Ah si A itu ganteng masa sih sama cewek yang pas-pasan itu?, “Ahh dia itu kan pinter, mosok sih sama dia yang rada o'on itu”?, “Ah dia itu bla bla bla masa sih milih jadi bla bla bla”. Padahal kita tidak mengetahui, orang yang memilih seperti itu sedih, sakit, kecewa atau tidak. Maka, sekali lagi jangan menggunakan standart yang kita miliki untuk melihat dan menilai orang lain. Dalam kata lain, jika melihat orang lain maka berusahalah untuk menempatkan diri pada posisi orang tersebut, karena bahagia setiap orang itu berbeda, tidak bisa digeneralisasikan, semoga tidak terjebak pada fallacy of dramatic instance dan atau fallacy of romantic instance dengan mengatakan bahagia itu apabila aku dan kamu menjadi KITA. Hehehe.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Keikhlasan Berjuang

    Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com -- Di Era Global saat ini dan di masa-masa mendatang, tantangan para kiai dan atau ulama tidak hanya di lingkungan, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, di Indonesia, melainkan juga di seantero dunia. Tantangan bisa berupa fisik atau non fisik. Banyak tantangan yang bisa diatasi oleh para Kiai dan atau Ulama, tapi masih ada juga tantangan yang tidak bisa diatasi.

    Alhamdulillah kita masih melihat sejumlah kiai atau ulama yang istiqamah dalam menjaga marwah dan maqamnya. Namun tidak sedikit terjadi ketidakpatuhan para santri atau ummat terhadap kiai dan atau ulama, karena sejumlah kiai dan atau ulama kurang memberikan teladan yang kurang baik. Beliau-beliau tergoda oleh godaan politik atau lainnya yang bersifat sementara sebagai akibat dari proxy war, musuh tak terlihat yang terkait dengan faham pragmatisme, materialisme, sosialisme, liberalisme, dan sebagainya.

    Bisa dan atau tidak bisanya tantangan hidup global dewasa ini sangat tergantung pada banyak faktor, baik kompleksitas tantangannya sendiri maupun pada kualitas dan penampilan Kiai dan atau ulama yang bertumpu pada keikhlasan berjuang atau berjihad di jalan Allah swt.

    Kita harus tetap berpegang teguh pada bimbingan Allah swt, Ya Ayyuhalladziina Aamanuu in Tanshurullaah Yanshurukum Wayutsabbit Aqdamakum (QS, Muhammad:3).  Di samping itu kita tetap menjaga ketaatan kepada Allah swt, Rasul-Nya dan Ulil Amri sepanjang Ulil Amri tetap menjaga nilai-nilai keagamaan dan tidak bertentangan dengan Al Kitaab dan Assunnah.

    Semoga kuantitas dan kualitas Kiai dan atau Ulama terus meningkat, sehingga semakin banyak ummat yang bisa diselamatkan dari godaan dunia. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta.

    PP Ulul Albab Balirejo Yogyakarta Gelar Pembacaan Ratib Al Idrus dan Pengajian Rutin

    Suasana saat acara berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Kota Yogyakarta tergolong kategori pesantren mahasiswa. Rata-rata santrinya adalah para mahasiswa-mahasiswi yang notabene stuti di kampus Negeri dan swasta di Yogyakarta. Seperti biasa yang dilakukan setiap Selasa malam, pada tanggal 11 Desember 2018 mulai jam 18.30 WIB PP Ulul Albab Balirejo menyelenggarakan pengajian rutin.

    Acara rutin ini, diawali dengan pembacaan Ratib Al Idrus yang dipimpin oleh Pengasuh Pesantren Ulul Albab Balirejo Kota Yogyakarta KH. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H., dilanjutkan pembacaan Sholawat Simthudduror, dan diakhiri dengan Mauidzoh Hasanah (Penceramah) dengan menghadirkan Ketua Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PWNU DIY Dr. Suhadi, M.A.

    Suhadi yang juga kini jadi seorang Dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan juga Universitas Gadjah Mada ini dalam penyampaiannya mengatakan bahwasannya seorang santri harus tekun dalam belajar dan mempunyai pengetahuan yang luas, agar dapat bersaing dengan orang-orang diluar santri dalam kancah nasional bahkan internasional.

    “Saya yakin, seorang santri bisa menjadi apa saja dalam berkontribusi (untuk bangsa dan juga dunia, red), tinggal menunggu kesungguhan anda (sebagai santri) untuk mau belajar dengan sungguh-sungguh. Karena pada dasarnya seorang santri sudah terlatih dan terdidik untuk menjadi orang yang sederhana, makan seadanya, jadi ketika ditempatkan dalam suatu pekerjaan tertentu (baik pekerjaan sederhana yang gaji seadanya maupun pekerjaan yang penuh kemegahan), seorang santri pasti bisa melewatinya. Kesederhanaan sudah menjadi kebiasaan mereka, bila dihadapkan dengan kemewahan juga akan lebih siap lagi,” ucap Suhadi.

    Pengasuh PP Ulul Albab Balirejo Yogyakarta, KH. Ahmad Yubaidi terus memfasilitasi santrinya agar tidak hanya fokus mempelajari ilmu agama belaka. Selain penguatan agama, kata KH. Yubaidi, santri juga perlu dibekali dengan penguatkan ilmu umum yang akan sangat diperlukan untuk bekal berharga untuk dibawa saat terjun dunia sosial.

    “Pondok ini awal mulanya adalah kos-kosan. Sejak 3 Maret 2003 dialihfungsikan menjadi Pondok Pesantren. Berdirinya pondok ini berawal dari kegelisahan melihat pemuda dan pemudi yang kurang baik ketika tinggal di kos-kosan. Sehingga muncullah ide untuk mendirikan Pondok Pesantren di tengah-tengah kota Yogyakarta,” beber Yubaidi.

    Ketika santri sudah kuat ilmu agama dan ilmu umum, kata Ahmad Yubaidi, itulah santri yang sudah siap ditempatkan di masyarakat. "Peran dan tanggung jawab santri perlu didorong terus agar santri matang dalam ilmu agama dan ilmu yang diperlukan untuk terjun di masyarakat dan dunia kerja," sahut pria yang juga Notaris Kota Yogyakarta ini.

    Dalam acara tersebut, selain dihadiri para santri dan juga warga sekitar, hadir juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni Sunan Kalijaga Ilmu Hukum (IKASUKA Ilmu Hukum) M. Jamil, S.H., Advokat Muda Yogyakarta Hairul Rizal, S.H.I., dan juga Pengamat Hukum Lingkungan pada Pusat Studi Pemuda Nusantara (PUSPARA) Abidin. (PEWARTAnews)

    Prof. Rochmat Wahab: Awalnya Kita Nobody, Akhirnya Kita menjadi Somebody

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berkacamata)
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com - Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. mengingatkan pada kita semua bahwasannya sebagai manusia kita harus terus belajar dan terus menerpa diri ke arah yang lebih baik.

    Siapa kita, kata Prof. Rochmat, awalnya kita sebagai nobody, akhirnya kita menjadi somebody, kecuali ada yang masih tetap sebagai nobody. “Menjadi somebody, karena terus belajar dan berusaha memperbaiki diri dengan mengharapkan pertolongan Ilahi. Tetap menjadi nobody karena kita selalu menerima apa adanya yang terjadi pada diri, dan enggan terhadap hadirnya inovasi,” ucap mantan Ketua PWNU DIY ini, 19 Oktober 2018, di Yogyakarta.

    “Untuk menjadi somebody yang memiliki harga diri, mari kita berusaha terus lakukan introspeksi, membangun komitmen diri, menjaga kesucian hati, mengikuti jejak Nabi, mengembangkan kemampuan beradaptasi, menjaga budi pekerti terpuji, belajar ilmu dan mengamalkannya hingga akhir hayat nanti, dan terus berjuang dan berdoa, semoga bisa bertemu dengan ilahi rabbi,” sebut Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 ini.

    Karang Taruna Satria Muda Desa Ncera Gelar Penyuluhan Hukum

    Suasana saat diskusi yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Satria Muda Desa Ncera, 10/12/2018.
    Bima, PEWARTAnews.com – Puluhan pelajar dari SMP, SMA maupun Pemuda secara keseluruhannya yang ada di Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima memenuhi ruangan kelas SMPN 3 Belo, pada hari Senin (10/12/2018).

    Pelajar dan  para remaja tersebut sengaja dihadirkan untuk mendapat penyuluhan hukum yang dilaksanakan oleh Karang Taruna “Satria Muda” Desa Ncera Kecamatan Belo, Kabupaten Bima Periode 2015-2018. Tema yang diangkat yakni “Posisi Hukum dan Stabilitas Masyarakat Desa Ncera”. Penyuluhan hukum tersebut berjalan  sangat lancar dan para peserta sangat antusias dalam mendengar dan bertanya perihal persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat.

    Acara Penyuluhan Hukum tersebut menghadirkan para pemateri yang terdiri dari Kapolres Kabupaten Bima yang di wakili Kasat Binmas AKP M. Saleh dan Kapolsek Kecamatan Belo yang diwakili oleh Kadek Sumetra, S.H.

    Menurut salahsatu tokoh muda Ncera Dedi Purwanto, S.H., yang juga sebagai moderator acara tersebut mengatakan bahwasannya pada acara penyuluhan tersebut para pemateri mendemonstrasikan tentang pentingnya suatu tatanan pemuda yang bebas dari ketergantungan pada Narkoba, Miras, pencurian, dan pembegalan. “Selain itu juga disampaikan tentang posisi hukum disetiap interaksi individu dalam struktur sosial, bahkan setiap orang pada dasarnya mempunyai hak dan kewajiban yang nyata serta sama,” ucap Dedi melalui rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com, 11/12/2018.

    “Namun disisi yang lain, supaya haknya terealisasi dengan baik maka diharuskan pada setiap orang untuk menjalankan kewajibannya terlebih dahulu sebelum menuntut hak,” lanjut Dedi.

    Kapolres Kabupaten Bima melalui Kasat Binmas AKP M. Saleh dalam sesi penutupannya menegaskan bahwa apa yang kita lakukan ketika mengusik kenyamanan dan ketertiban orang, maka konsekuensinya berhak mendapatkan ganjaran hukum atas sikap yang dilakukannya. “Setiap yang kita lakukan apabila sudah mengganggu hak orang lain maka hukum akan hadir sebagai hakim untuk mengadili bagi siapapun yang melakukan pelanggaraan, karena hukum harus berada diatas segalanya,” sebut M. Saleh.

    Seperti yang diwartakan indikatorntb.com, Mei Mur’a selaku Ketua Karang Taruna Desa Ncera menyampaikan bahwasannya, diselenggarakannya kegiatan penyuluhan hukum ini sebagai upaya untuk memberikan penyadaran terhadap generasi muda tentang pentingnya menanamkan kesadaran hukum.

    Sementara itu, Anwar selaku Kepala Desa Ncera memberikan apresiasi yang sangat besar terhadap inisiasi yang dilakukan Karang Taruna Satria Muda dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut, “Dengan diadakannnya kegiatan ini akan memberikan efek yang sangat luar biasa terhadap generasi muda di Desa Ncera,” cetus Anwar.

    Selain itu, Camat Belo Bambang Setiawan, S.Sos. menyatakan, bahwa terselenggaranya kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran generasi muda untuk menanamkan nilai-nilai moralitas pada diri pemuda di Kecamatan Belo khususnya pemuda Desa Ncera. “Kegiatan ini adalah kegiatan yang luar biasa, semoga dengan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran terhadap generasi muda untuk menanamkan nilai-nilai moralitas dalam diri pemuda itu sendiri”, tutur Bambang saat menyampaikan sambutannya.   

    Umar Harun Kurniawan selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa suksesnya kegiatan penyuluhan hukum tersebut tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik pemerintah Desa Ncera maupun tokoh-tokoh pemuda yang berada di Desa Ncera.

    Terakhir, Dedi Purwanto selaku moderator, dalam pernyataannya memaparkan bahwasannya acara penyuluhan hukum tersebut sangat bernilai edukatif dan membangun. “Penyuluhan seperti ini harus sering dilakukan supaya ruang-ruang patalogi sosial bisa dikendalikan dan dikontrol agar tidak semakin menyebar luas dan menambah kerusakan yang lebih parah,” tutupnya. (Siti Hawa)

    Prof. Rochmat Wahab: Pastikan Penggunaan Digital tidak untuk Merusak Akhlaq

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    YogyakartaPEWARTAnews.com -- Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. melakukan sharing dengan jamaah Majelis Ta’lim Deresan Caturtunggal Depok Sleman di Studio TVRI Yogyakarta dalam acara Sentuhan Qalbu dengan pemandu acara mbak Vira. Tema yang menjadi fokus diskusi adalah Optimalisasi Ibadah dalam Membentuk Karakter Islam.

    Menurut Prof. Rochmat, sangat penting karakter Islam (Akhlaq) dalam kehidupan sehari-hari. “Karena akhlaqlah penentu dalam perdaban kemanusiaan. Mengingat urgensinya, Rasulullah SAW dibangkitkan di bumi semata-mata untuk menyempurnakan akhlaq. Mengapa demikian, karena yang terbaik di antara adalah yang baik akhlaqnya. Ingat saat itu berada pada era jahiliyah,” bebernya pada 19 Oktober 2018, di Yogyakarta.

    Salah satu strategi untuk menyempurnakan akhlaq, kata Rochmat, adalah mengoptimalkan ibadah, terutama melalui perbaiki amalan-amalan ibadah makhdzah uang berujung pada perbaiki ketqawaan. “Pertama, iqamish shalah – menegakkan sholat, yang tidak hanya melaksanakan sholat wajib, tapi juga sholat sunnah, menegakkan sholat berjamaah, melaksanakan sholat dalam kesulitan apapun, ikut membangun tempat sholat atau masjid, dan sebagainya. Kedua, membayar zakat, bahwa zakat menjadi kebutuhan untuk diselesaikan, yang tidak saja untuk membersihkan harta, tetapi juga untuk bangun solidaritas sosial. Ketiga, membaca al-Qur’an, tidak hanya memperbanyak membaca Al-Qur’an, melainkan juga memahami, dan mengamalkan apa yang terkandung dalam al-Qur’an. Apalagi akhlaq Rasulullah adalah Al-Qur’an,” ucapnya.

    Semoga obrolan ini, sebut Rochmat, bisa bermanfaat untuk merubah akhlaq yang lebih baik. “Menjadi lebih baik akhlaq terpuji (aklaq mahmudah)-nya, dan berkurang akhkaq tercela (akhlaq madzmumah)-nya. Kehadiran literasi digital harus bisa bermanfaat untuk perbaikan akhlaq. Kita harus bisa kuasai digital untuk menjadikan kita lebih beradab. Juga Kita wajib pastikan, penggunaan digital tidak untuk merusak akhlaq kita. Semoga,” cetus mantan Ketua PWNU DIY ini.

    Sambut Tahun Politik, IKASUKA Ilmu Hukum Beri Edukasi Mahasiswa terkait Penyelesaian Sengketa Pemilu

    Moh. Ariyanto, S.H. saat memberi materi saat diskusi IKASUKA Ilmu Hukum, 09/12/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Hari Minggu, 09 Desember 2018 jam 14.00-17.00 WIB., Ikatan Keluarga Alumi Sunan Kalijaga Ilmu Hukum (IKA SUKA Ilmu Hukum) menyelenggarakan kegiatan diskusi dengan mengusung tema “Evolusi Penyelesaian Sengketa Pemilu”, yang dilaksanakan di Gedung Student Center Lantai dua UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Kegiatan ini merupakan kegiatan kerjasama antara IKASUKA Ilmu Hukum dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan didukung juga oleh Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Suasana diskusi berlangsung meriah dan lancar. Interaksi yang intens pun terjadi antara pemateri dengan para peserta. Acara tersebut selain dihadiri oleh puluhan mahasiswa Ilmu Hukum, hadir juga dalam acara tersebut Ketua IKASUKA Ilmu Hukum M. Jamil, S.H., Koordinator Divisi Kerja Sama dan Hubungan Antar Lembaga IKASUKA Ilmu Hukum Moh. Khalilullah A. Razaq, S.H., dan juga Abidin (Pengamat Hukum Lingkungan PUSPARA).

    Menurut Ketua IKASUKA Ilmu Hukum M. Jamil, S.H., Diskusi ini merupakan kegiatan rutin yang di gelar tiap hari minggu sore, dengan tema tiap-tiap pertemuan mengupas terkait isu-isu hukum perdata, hukum pidana dan hukum tata negara. “Diskusi seperti ini, insya Allah akan terus dilakukan dengan menghadirkan para alumni sebagai pematerinya. Sebagai alumni, kami merasa terpanggil untuk mewadahi dan memfasilitasi mahasiswa ilmu hukum guna mempermudah menemukan dan/atau bahkan menguasai bidang konsentrasi hukum yang diinginkan para mahasiswa,” bebernya.

    Tema Penyelesaian Sengketa Pemilu ini, kata Jamil, diangkat karena saat ini merupakan tahun politik, dan mahasiswa ilmu hukum wajib mengikuti perkembangannya. “Jadi sebagai mahasiswa Hukum harus melek terhadap isu-isu hukum, salahsatunya terkait bagaimana cara Penyelesaian Sengketa Pemilu. Agar mahasiwa juga dapat turut andil memberikan pemahaman yang baik pada masyarakat umum,” ucap mahasiswa Magister Kenotariatan FH UGM ini.

    Diskusi ini, menghadirkan pemateri Moh. Ariyanto, S.H. (Sekjen  IKA SUKA Ilmu Hukum / Pemerhati Pemilu dan Demokrasi). Guna memperlancar berjalannya diskusi, kegiatan ini dimoderatori oleh saudara Rizki Ramdani  yang merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Moh. Ariyanto, S.H. dalam kesempatannya sebagai pemantik menyampaikan bahwa potensi pelanggaran dalam pemilu masih sangat besar. Masih terjadi praktik politik uang, kampanye hitam dan pemilu yang menghilangkan hak pilih masyarakat. “Pelaksanaan dan pengawasan pemilu baik secara struktural dan fungsional dari seluruh elemen dapat meminimalisir kekurangan yang ada. KPU dan Bawaslu memiliki keterbatasan personil, di topang kembali oleh lingkaran setan yang telah lama mengikat sistem pemilu kita. Potensi pelanggaran pemilu semakin besar, penting mengkaji relasi pelaksanaan KPU l, pengawas Bawaslu dan masyarakat serta penyelesaian sengketa pemilu,” ungkap Ariyanto.

    Lebih lanjut, Ariyanto menjabarkan pada tranformasi Bawaslu sekarang telah memiliki tugas, wewenang, dan kewajiban yang sedikitnya dapat di rangkum menjadi tiga hal. Pertama, melakukan pencegahan pelanggaran pemilu dan pencegahan sengketa pemilu. Kedua, mengawasi pelaksaan seluruh tahapan proses penyelenggaraan pemilu. Ketiga, melakukan penindakan pelanggaran pemilu dan sengketa proses Pemilu.

    Suasana usai Diskusi IKASUKA Ilmu Hukum, 09/12/2018.

    “Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum telah memperkuat wewenang Bawaslu dan jajarannya dari sekedar memberi rekomendasi hingga sebagai pemutus perkara pelanggaran administratif. Menurut Pasal 460 UU No 7/2017, pelanggaran administrasi meliputi pelanggaran terhadap tata cara, prosedur, atau mekanisme yang berkaitan dengan administrasi pelaksaan pemilu dalam setiap tahapan penyelenggaraan Pemilu,” cetusnya.

    Potensi pelanggaran dalam Pemilu masih sangat besar, , kata Ariyanto, tidak hanya di Indonesia tetapi telah lumrah terjadi bahkan di negara maju lainnya. “Tidak heran bila masih terjadi praktik politik uang, kampanye hitang, dan pemilu yang menghilangkan hak pilih masyarakat. Urgensi pengawasan baik secara struktural dam fungsional dari seluruh elemen dapat meminimalisir  kekurangan yang ada. Tingginya biaya politik bila tidak terawasi secar masif juga dapat berpotensi mejadi satu konflik yang berkepanjangan,” sebutnya.

    Demi kepentingan kepemimpinan Negara, Mahkamah Agung telah menerbitkan peraturan untuk mengantisipasi sengketa pelanggaran pemilu 2019 sesuai amanah UU Nomor 7 tahun 2017. “Pertama, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 tahun 2017 tentang Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilihan Umum di Mahkamah Agung. kedua,  Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 tahun 2017 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Proses Pemilihan Umum di Pengadilan Tata Usaha Negara. Ketiga, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 2017 tentang Hakim Khusus Pemilihan Umum di Pengadilan Tata Usaha Negara,” jelasnya. (Reporter: Muslehuddin)

    Kompetisi Harus Dibangun dengan Healthy Competation

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Kompetisi bisa dikehehdaki, bisa juga harus dihindari, tergantung konteksnya. Begitu kata mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. belum lama ini.

    Kompetisi, kata Rochmat, dikehendaki karena menjamin keterbukaan, objektivitas, bahkan merupakan sunnatullah, karena kita sangat dianjurkan untuk fastabiqul khairaat. “Harus dihindari, karena kompetisi ada kecenderungan meniadakan, yang tidak hanya satu orang, tapi bisa banyak orang, bahkan bisa juga menghakalkan segala cara, sehingga hilangkan self esteem dan dignity. Jika ada yang menang, itupun jumlahnya terbatas bisa timbulkan rasa superior yang kadang kurang baik bagi dirinya dan orang lain,” beber Prof. Rochmat, pada 18 Oktober 2018, di Ygyakarta.

    Jika kita ingin jadikan Kompetisi sebagai solusi terhadap masalah, ucap Rochmat, maka Kompetisi harus dibangun dengan healthy competation. “Kompetisi yang tidak hanya andalkan Individual Intelligence, melainkan Collective Intelligence. Kompetisi untuk bangun keunggulan bersama. Di sini interdiciplinair, multidiciplinair dan transdiciplinair sangat diperlukan untuk solusi masalah kehidupan kompleks,” sebutnya.

    “Dengan begitu cooperative learning menjadi perlu sekali, karena memungkinkan bisa sharing antar anggota kelompok. Di samping terbangun juga objektivitas, kejujuran, empati dan respek,” tutupnya. (MJ / PEWARTAnews)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website