Headlines News :
Home » , » Antara Aku, Dia dan Takdir

Antara Aku, Dia dan Takdir

Written By Pewarta News on Senin, 12 Oktober 2015 | 21.09

Nurhaidah.
PewartaNews.com – Cinta itu universal kan? dan kita semua punya definisi berbeda soal cinta, cinta bukan hanya tentang kata, tapi juga rasa, segala hal tentang cinta tak pernah sederhana.

Aku mengenal cinta tepat hari pertama aku dilahirkan walaupun pada saat itu aku tak menyadarinya, karena aku percaya bahwa kita dilahirkan dengan penuh cinta, percayalah, Tuhan mencintai kita, memberi kita cintanya hingga kita berada di dunia, itulah cinta yang pertama! Dan apakah itu pilihan?
Beranjak dewasa dan mulai mengerti, mengapa kita merasakan damai dari sentuhan hangat Ibu ketika ketakutan? Mengapa kita memerlukan kenyamanan pelukan ayah ketika kita merasakan kesedihan? Mengapa kita menyukai celotehan adik, merdu ocehan kakak atau mereka yang ada bersama kita di rumah? Itu karena apa? Cinta? Apakah kamu memilih untuk mencintai mereka? Apakah kamu memilih keluargamu sendiri?

Tapi ingat ada beda tipis antara; obsesi, daya tarik-menarik dan cinta! Dan seorang remaja kadang tak bisa membedakannya! Diperlukan waktu cukup lama untuk menyadari apa sesungguhnya rasa yang kita alami!

Aku ingin bercerita sedikit! Saat kecil dulu, aku selalu percaya bahwa cinta itu akan datang dalam bentuk Pangeran berkuda putih yang gagah berani, yang datang karena dia tau bahwa akulah putri yang selama ini dia cari, aku memang benar-benar terbius dongeng hingga pikiran dan imajinasi, membuatku menjadi sosok pengkhayal parah! Tapi apakah ada pangeran tampan? Berapa jumlah kodok yang harus kucium agar dia berubah menjadi pangeran? Atau aku harus tersiksa ibu dan saudara tiri, hingga sepatu kaca mampir di kaki? Atau mungkin ada cowok dengan selera fashion keren yang menganggap aku Barbie-nya? Shut up! Semuanya khayalan, semuanya hanya efek dari drama yang dicerna otakku sejak kecil dulu, cinta memang tak teraba, tapi punya sejuta makna, tapi jangan sampai membuat kita menjadi terbawa suasana, menciptakan dongeng di dunia nyata!

Tetaplah percaya cinta itu ada! Aku bukan Cinderella yang menunggu Prince Charming! Aku juga bukan Barbie yang menunggu si keren Ken! Aku hanya akan menunggu takdir cintaku sendiri!

Menjawab pertanyaan apakah cinta takdir ataukah pilihan? AKU MENJAWAB TAKDIR! Karena aku tahu sebelumnya aku pernah membuat pilihan-pilihan tak masuk akal yang ternyata itu bukan cinta hanya berupa hubungan tarik menarik yang bersifat simbiosis mutualisme atau cuma obsesi gila khas remaja, bisa juga sebuah drama! Karena kadang kita menciptakan fantasi di dunia nyata bukannya kisah cinta yang seharusnya! Kamu tau mengapa? Karena kamu tau cinta yang kita pikir cinta yang kita pilih sendiri itu belum tentu cinta yang menjadi takdir kita!

Dan bila kamu bertanya dimana takdirmu (jika yang kamu maksudkan adalah cinta yang sebuah hubungan romantis)? karena kamu yakin kamu belum menemukannya, marilah kita menganggapnya begini; mungkin saja dia tengah melakukan pilihan yang salah (anggap saja Cinderella-mu memakai sepatu yang salah!) dan… tetaplah yakin bahwa Tuhan telah menciptakan takdirmu sendiri. Tuhan telah memilihkan sebuah pilihan atas cinta yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, jangan remehkan pilihan Tuhan, karena pilihan Tuhan adalah takdir yang tak terbantahkan!

Dan sekarang apabila ada pertanyaan, bagaimana kamu tau bahwa pilihanmu bukanlah takdirmu atau takdirmu bukanlah pilihanmu? Kembali lagi pada makna cinta, bila aku mendefinisikannya sebagai cahaya Tuhan maka Tuhan akan memberikan jawabannya, tau darimana? HATI! Karena hati punya koneksi yang tidak kita mengerti, tapi satu kelebihan hati, hati bisa mengenal cinta ataupun hal lainnya, karena apa? Karena hati tak pernah berdusta. Marilah berharap.

Lalu inilah waktunya tentang bicara cinta yang fenomenal itu! Kemarin aku masih setia mengikutimu dari belakang. Dan kau tampak semakin jauh dan jauh. Hingga aku tak pernah berharap untuk dapat mengejarmu, apalagi bermimpi. Sementara kau terus menatap ke depan dengan langkah yang mantap. Kau menikmati langkah demi langkah dalam perjalananmu itu. Kau terlihat tak sabar untuk mencapai tujuanmu. Di kedua mataku, kau selalu terlihat begitu anggun.

Aku masih saja merangkak dengan luka-luka di kaki. “Jalan ini terlalu berat,” setidaknya itulah yang kupikirkan. Entah sudah berapa banyak kerikil yang melukai kakiku. Entah sudah berapa kali aku jatuh tersungkur, terkantuk batu jalanan. Entah sudah berapa kali aku terperosok ke dalam kubangan becek yang menggenang di jalan-jalan itu. Bagiku semua itu tidak terlalu menyakitkan, selama aku masih dapat melihatmu tersenyum bahagia dalam langkah-langkahmu yang semakin cepat dan semakin mantap.

Hingga saat ia datang. Aku tak tahu kapan ia datang. Ia membantuku untuk berdiri saat aku terjatuh. Membalut luka-luka di kakiku. Membersihkan pakaian kotorku yang ternoda oleh lumpur. Aku mulai goyah. Ia hadir begitu cepat dan begitu nyata. Memberiku kasih, memberiku sayang dan memberiku cinta. Ya, mungkin itu cinta. Yang aku tahu, aku memahami itu sebagai cinta. Dan aku tak ingin orang yang mencintaiku harus menjadi seorang pencinta yang pernah aku alami pada dirimu. Menjadi orang yang mencintai, tanpa mendapatkan cinta.

Haruskah itu terjadi padanya? Tidak, itu tak boleh terjadi pada dirinya. Aku tak akan membiarkan itu terjadi padanya. Itu akan terlalu menyakitkan baginya.

Namun apalah daya sinar surya telah menerangi itu semua, apalah daya jika itu benar-benar membuat luka semakin piluh, luka yang tak pernah dirasakan selama hidup ini, karena luka dikaki mempunyai bekas tetapi jika luka dihati teruslah menerangi setiap langkah ini karena melihat dan mendangarkan apa yang telah terjadi pada disekeliling. Tuhan indahkanlah perpisahan ini dengan penuh harapan pasti, indahkanlah sakit ini penuh dengan merdu tanpa ada lara dan indahkanlah perjuangan yang telah terlewatkan penuh dengan saksi bisu yang tak pernah oranglain miliki. SEMOGA PILIHANMU ADALAH TAKDIRMU!


Karya: Nurhaidah
[Mahasiswa Pendidikan Seri Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Srikandi senior Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)]
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website