Headlines News :
Home » » Aku Tak Mengenal Lagi Definisi Rasa Takut

Aku Tak Mengenal Lagi Definisi Rasa Takut

Written By Pewarta News on Rabu, 25 November 2015 | 00.25

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Pagi yang mendung, seperti biasanya aku terbangun dengan badan yang kaku, memerah. Sebuah karpet hijau, ada princes dan kerabatnya tersenyum mekar memegang paku. Masih dirantau berharap di sini bisa diterima kerja, di sebuah Rumah Sakit. Semangat  yang tak pernah pupus, mengharuskan tetap bertahan. Mondar-mandir masukin berkas, dari Sangatta ke Balikpapan, dan sekarang di Samarinda. Sebenarnya aku sudah lelah, jenuh, bosan, pesimis, dan emosi. Andai saja seperti mereka. Mereka yang beruntung tamat wisuda langsung kerja. Tak  seperti diriku langsung nganggur. Tapi aku nggak malu, karena masih banyak sarjana lebih lama dariku. Lama menunggu keajaiban.

Samarinda. Sebuah kota besar yang penduduk tidak terlalu padat. Samping masjid Islamic Center ada gang kecil nomor 10. Dekat pohon mangga, rumah panggung yang terbuat dari kayu berwarna hijau. Catnya terkelupas di sana-sini dimakan ketuaan. Sudah tak jelas warnanya. Jika menaiki tangga harus pelan. Lebih pelan dari keong. Takut roboh. Rumah kosan yang hanya tiga kamar.

Kamar depan seorang lelaki lajang yang kutak tahu persis namanya. Ia kerja di kantor Bupati. Makhluk apa yang nempel di tubuhnya? Hampir setiap pagi mengantarkan sarapan. Kamar tengah masih kosong. Dan kamar ketiga adalah kamarku. Di sinilah aku masih setia. Setia memegan Handphon, hampir setiap saat ada digenggamanku. Berharap ada panggilan atau s-m-s yang masuk. Eghh bukan panggilan ikut interviu melainkan pesan dari indosat. Aku kesal jadinya. Hampir setiap hari begitu. Tak ada pilihan selain sabar.

Jika ada tawaran kerja sampingan pasti aku mau. Walaupun kerja di bengkel. Tak pernah malu selagi itu masih halal. Sering sekali Mamak memanggilku agar pulang. Beliau sangat khawatir. Apalagi aku masih perawan. Mamak takut jika terjadi hal diluar kendali. Beliau sering nonton berita yang terkait  pelecehan seksual di bawah umur. Sebenarnya aku juga takut, tapi semoga tak menjadi bagian dari mereka. Yang lebih kutakutkan jika aku mati di sini. Ya, mati kelaparan. Uang didompet tinggal limapuluh ribu. Di ATM masih ada, tapi tidak bisa ditarik. Hampir setiap hari nggak absen beli donat. Donat coklat yang kutelan agar abdomen bisa bertahan sampai keesokan harinya.

Berbagai alasan yang sudah kulontarkan, dan berusaha meyankinkan kalau bulan Desember ada panggilan. Lidahku mulai berbohong. Mungkin karena itu Allah tidak ridho  kepadaku. Sebuah hadits yang masih kusimpan dimemori kecilku. “Ridho Allah tergantung dari ridho orang tua.” Tapi semoga hal itu tidak tertuju padaku.

Namaku Nidar. Perempuan yang berumur 21 tahun. Dilahirkan di desa Kindang Sulawesi Selatan. Meskipun anak desa tapi tidak betah tinggal di sana. Sehabis kuliah di Yogyakarta masih nekad berkelana. Sering sekali dapat siraman rohani dari kerabat. Agar bisa ubah sifatku yang nekad dan egois. Aku berusaha agar mengubah. Tapi kemauan lebih kuat daripada keinginan.

Hari ini adalah hari jumat.  Aku meringkik kepanasan, akhirnya kuputuskan ke masjid Islamic Center. Sebuah masjid terbesar yang pernah kujumpai. Kupajang sepatu kets warna coklat. Pemberian dari kak Chalis. Lelaki lajang yang kutemukan di Sangatta. Dia terlalu baik dan selalu setia mendengar dukaku. Lima menit jalan kaki. Keringat meleleh dibaju kaos merah. Bagian ketetnya basah kuyup. Kutaruh buritku di kramik masjid. Mengatur napas yang tak beraturan. Badanku semakin loyo, perut pun bertasbih.  Menahan adalah hal yang sering kulakukan. Aku selalu berharap pada Tuhan, agar tetap kuat dan bertahan hidup.

Matahari, sudah meredupkan cahayanya. Badanku sudah dingin dan damai. Aku terbaring terlentang. Kutatap keramik Mesjid, indah sekali. Seakan-akan sudah di surga Firdaus. Kupejam bola mata. Terdengar vokal, yang tak asing lagi dikupingku. Vokal  yang sering kujumpai di Yogyakarta.

“Nidar!” nada yang tak tahu persis darimana asalnya.

Aku mulai bingung. Dan pura-pura tak menghiraukan. Nada itu masih terulang. Semakin nyaring. “Sial orang tidur di ganggu.” Dalam benakku. Ah sudahlah sebaiknya aku bangun, sepertinya dia butuh bantuan.

Sosok yang mamasan baju kokoh putih. Duduk bersila dekat bilik. Tak nampak rautnya. Detak jangtungku tak berdenyut lagi. Mengingatkan pahlawan yang pernah hadir. “Bapak?” Ucapku. Namun, ia tetap bungkam. Mataku mulai berkaca-kaca, ingus bisa kurasakan asingnya. Tak sempat melap. Aku memilih bersandar dipilar.

“Bapak sudah tutup usia, tujuh tahun yang lalu. Lah kok bisa nongol di sini?” Ucapku.
“Aku membawakanmu makanan.” Ujarnya, pelan. Memutar badannya ke arahku.

Kutelan air ludah berulang kali. Apakah Tuhan menghidupkan orang yang sudah mati?. Apapun yang terjadi di dunia ini kalau dihendaki pasti terjadi. Kujawab pertanyaan yang seharusnya kutahu jawabannya. Sedikit takut dan heran. Tapi aku bahagia bisa melihatnya. Setidaknya Bapak datang menambal lukaku.
“Kamu naik apa kemari Nak?” Tanya Bapak.
“Jalan kaki.” Jawabku, sambari membuka kotak yang ia bawa.
“Kamu terlalu berani.”
“Apa ini buatan Bapak?” Aku mendesak.

Bapak hanya mengangguk kecil. Menatap busana yang kupakai. Saat aku mengunyah makananku begitu lahap. Bapak berkata.” Bapak, mengkhawatirkanmu.” Sontak aku menghentikan makan dan berhenti mengunyah.

“Masih saperti kemarin. Tak ada yang berubah. Masih nekad. Bapak senang karena kamu berani. Semoga kamu bisa menggantikan Bapak sebagai pahlawan.” Ujar Bapak, ia mengupas senyum. Aku pun semakin semangat, mendengar kata pahlawan.
“Tapi, aku masih takut. Takut dengan kesepian. Tak ada kerabat di sini.” Ucapku melemah.

Kotak nasi, dipenuhi air bening. Sudah nggak mood mengunyah. Aku pengen bersandar dipundaknya. Membagi cerita.
“Sudahlah. Bapak paham dengan kondisimu sekarang Nak. Bapak tak mau melihat selalu ada duka diranting jiwamu. Berjuanglah di sini. Jangan pulang kalo belum sukses. Takut adalah awal dari kata gagal.” Ucap Bapak dengan wajah simpati.

Aku hanya tunduk, mengigit bibir atas. Keheningan terjadi satu menit. Aku masih menunggu nasihat. Namun, hanya suara adzan yang kudengar. “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Aku tersentak bangun dari lantai masjid. Badanku semakin dingin. Aku mencari Bapak, kuputar leher ke kanan. Ada mahasiswi baca buku. Kuputar lagi ke kiri. Rombongan anak yatim menuju tempat wudhu. Bola mata tetap mencari Bapak yang tiba-tiba menghilang. Tanganku berkeringat, aku pun mencari kotak nasi.  Benar tidak ada. Ternyata hanya mimpi. Mungkin kedatangan Bapak, mengingatkan  biar aku tidak mengenal definisi rasa takut. Masih oleng. Kuangkat bokong dan menuju tempat wudhu.


Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Email: Nurwahidah@yahoo.com.

Share this post :

+ komentar + 7 komentar

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website