Headlines News :
Home » » Bayangan Eyang

Bayangan Eyang

Written By Pewarta News on Kamis, 26 November 2015 | 22.48

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Sangatta, masih dicap dengan Kabupaten Penuh  debu. Pokok kayu hampir amblas karena  tragedi kebakaran. Cakrawala menangis, bintang mulai congkak. Fauna mulai patah arang, lebih memilih mati. Sejak musim kemarau tiba belum menawan di tempat ini. Mandi saja susah. Virus mulai mengakar.   Namun,  mayoritas orang berbondong-bondong dari provinsi datang  mencari nafkah.

Di sana ada Masjid Al-Munawaroh. Gang kecil tepat di samping, sebuah rumah panggung dengan cat kebiruan.  Terlihat kumuh karena dihajar debu setiap hari menari-nari.  Rumah  panggung yang sekitarnya ada beberapa pohon. Ada durian, langsat, jeruk, jambu dan pisang. Di dekat  tandon ada kolom kecil, banyak ikan hias yang mati. Di sinilah aku tinggal dengan Eyang. Eyang yang kuanggap pahlawan.

Eyang umurnya memasuki sembilan puluh lima tahun. Tulangnya mulai menonjol. Kulit yang sawo matang,  pinggul besar mengharuskan beliau  memakai sarung. Di pipi kanan ada tahi lalat yang bertengger lebih besar dari hidungya. Tubuhnya yang kerempeng meskipun begitu, sebelah rumah tunduk dengannya. Karena banyak mulut. Sudah sembilan tahun menjanda. Ia tak pernah lelah mencari nafkah  demi aku.  Cucu kesayangan. Hanya berjualan pisang  goreng di teras rumah. Setiap petang. Penghasilan tidaklah seberapah. Alhamdulilah laris. Banyak orang yang datang membeli, ” Pisang Eyang enak, gurih. Beda dipasaran.” Ucap salah satu pembeli.

Apapun permintaanku. Beliau berusaha mengiyakan.  Chalis, ya itu namaku.  Nasib tak jauh berbeda dengan  Eyang. Sejak belita, ayah dan ibu membiarkan kami hidup seatap. Aku  sangat  menawan di matanya. Tak bisa mengukur rasa cinta Eyang terhadapku. Bahkan beliau pernah menjatuhkan dirinya di tanah, tak sadarkan diri. Saat melihatku  di atas pohon kedondong tak  bisa turun.  Eyang sangat takut jika ada luka lecek di tubuhku. Seperti itu hingga kutumbuh dewasa.  Bahkan eyang akan mengusir  anak-anak tetangga jika kedapatan berkata kasar  denganku.
***

“Chalis”.  Suara  Eyang  nyaring terdengar  dibilik pintu.
Seperti biasanya jam 05.00 WITA.  Dibangunkan untuk shalat subuh. Dalam keadaan masih oleng segera bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.  Masih mengigil,  saat menyentuh air. Usai shalat tak lupa panjatkan doa. Lima menit kemudian ku bergegas menuju jendela. Tangan kanan membuka gapura yang terbuat dari bambu.

“Wussss...!” Suara angin menampar pipi.
Bola mata menari-nari  melihat keindahan puspita yang nampak mekar geulis. Rambut masih kusut. Kupejam mata, meresapi hembusan angin subuh yang begitu hangat dan menentramkan pikiran. Namun, ketentraman itu tiba-tiba pecah ketika terdengar suara teriakan Eyang dengan nada keras.

“Chalis” panggil Eyang dengan nada agak teriak
“ Ada apa, Eyang?”. jawabku  nada pelan.

Ku bergegas menuju Eyang, dan ternyata hanya disuruh sarapan. Begitulah seterusnya. Hari-hariku selalu indah bersama Eyang. Jam menunjukkan pukul tiga lewat sembilan detik. Cuaca yang sangat panas, Ya. Keringat masih meleleh. Tidurku dikejutkan dengan ketukan pintu dari beberapa orang. Segera aku beranjak dan berlari menuju  pintu.

“Mana Eyang?” Ucap Pak Sudi, rautnya tampak garang.
“Kenapa, Eyang? Desahku, panik.
“Sudah lewat tiga hari. Dia belum bayar rumah. Kalo nggak bisa bayar. Angkat kaki.” Tukas pak Sudi. Kumisnya congkak.

Kutelan air liur sangat pelan. Pahit memang. “Setauku penjulan gorengan Eyang diakhir bulan September, kupake beli hape samsung. Betapa bego diiriku ini.”
“Ada apa ini, berisik sekali.” Ucap Eyang, memegan golok.

“Maksud kedatangan kami, akan menggugut.” Jawab Pak Sudi nada lembut. Senyumannya mulai mekar.

Sudah membudaya dalam diri  Eyang, jika ada orang yang datang di rumah. Pasti akan jadi budak tak berdaya. Takut dapat tempelengan. Meskipun niat mereka baik. Langkah kaki Eyang menuju Pak Sudi, yang dari tadi berdiri depan bilik bersama kawannya. Bola matanya sudah memerah. Giginya sudah terdengar tak beraturan.
Aku berlari menuju Eyang, memeluknya erat-erat dan mencoba melepaskan golok yang digenggamanya kuat. Eyang mengamuk, seolah-olah tak mengenaliku sebagai cucunya. Dia sangat marah, dikira Pak Sudi melukai tubuhku. Amukannya dikuasai dengan bantuan Pak Sudi. Akhirnya Eyang bisa ditaklukkan. Kubawa Eyang ke dalam kamar.

Maghrib telah tiba. Masih kutatap Eyang yang dari tadi terlelap. Mungkin tenaganya sudah terkikis, berjualan ditambah lagi masalah tadi sore. Begitu gigihnya beliau sudah renta tetap saja menjagaku bahkan nyawa taruhannya. Kutaruh kepalaku dekat Eyang. Tiba-tiba  kobaran  api yang menyeruap di belakang. Kuputar kepalaku sekilas. Api yang menjalar dari rumah ke rumah. Aku berlari sekuat tenaga. Pantatku terasa berat, sambil berteriak “ Api...api”. Kucari Eyang, yang dari tadi tidak nampak. Air bening sudah tertumpah.

“Gubrrak....!” Aku terjatuh di kasur. Keringat masih lengket di dahi.
Ternyata hanya mimpi.
Barulah kusadari, ternyata Eyang sudah tutup usia tiga tahun yang lalu. Aku sangat merindukan sosoknya.

Sanggatta, 07 Oktober 2015
Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah@yahoo.com.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website