Headlines News :
Home » » Dosa Orang Kampung

Dosa Orang Kampung

Written By Pewarta News on Senin, 30 November 2015 | 16.55

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Sering aku berpikir, mengapa kematian  harus ada di setiap orang? Pertanyaan yang sering menghantuiku. Banyak orang berpikir bahwa  kematian adalah hal yang sangat tidak diinginkan dan menakutkan saat terbaring di suatu tempat yang sempit, gelap, sunyi pula.  Khususnya bagi orang yang sering ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka sayangi.  Termasuk juga aku, yang telah di tinggalkan oleh sang kakek dan ayah. Semua kakekku dari ayah  atau pun ibu telah meninggalkan dunia fana ini.

Kakek dari ayahku meninggal. Isu yang menyebar kerena jatuh  terpelesek kamar mandi yang licin  akhirnya  dijemput oleh malaikat Israil. Semua anak-anak dan cucunya datang di Desa Sosial (disamarkan), tepatnya desa tersebut berada di Sulawesi Selatan. Aku yang  terdampar diperantauan. Sebuah kota yaitu kota Samarinda.  tiba-tiba ditelephone oleh kak Irma yang berada di Balibo. Untuk segera pulang ke dukuh kerena sang kakek dalam keadaan sakaratul maut. Walau berenggang yang begitu jauh dan harus  terbang di atas awan. Ya, naik pesawat. Sampai detik ini masih membuatku trauma. Aku harus memutuskan untuk  pulang ke Makassar, dan ternyata  Tuhan memihakku, alhamdulillah meskipun harus menempu sepuluh jam menuju ke dukuh Malewang,  semangatku  belum repih.

Tas ransel biru yang kutaruh di punggung. Sandal jepit merah, persis  baju yang menyelimuti tubuhku yang ramping. Melangkah dengan tergopoh-gopoh,  telingaku panas suara jeritan yang  menyatu dalam  satu atap.   Aku terpaku tepat depan bilik, masuk terlihat jasad beliau yang di balut  kain putih.  Sayangnya aku tak sempat melihat kakekku yang aku hormati. Matanya  sangat menawan seperti patung  yang ada di kuil. Masih terbuka  namun, tak berkedip lagi. Kedua mulutnya mengangah. Tubuhnya masih  dingin. Air liurnya masih terlihat bening berbentuk meteor di wajahnya. Barusan Malaikat maut memanggilnya tanpa menunggu kedatanganku. Walau begitu aku sudah mengihlaskannya karena itu adalah jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan untuk kakekku. Kuberusaha menahan  duka, menjual senyum hangat di antara orang-orang yang terlihat bengkak.

Terbayang semanjak beliau hidup dikenal ganas pada anak dan menantunya. Mengambil kembali barang yang telah diserahkan pada setiap anak-anaknya. Perampasan yang kejam. Tak ada yang bisa melawan sang kakek. Kata-kata yang keluar dari bibir  runcing, yang mendegar akan terguncing. Sehingga para anaknya tunduk seperti anak kecil yang takut pada petir.

Aku pun pernah dibentak, saat berusaha memohon di tumitnya agar  mengembalikan sawah yang seharusnya jadi hakku, dari  almarhum ayah. Ayat yang pernah kupelajari sejak MTS di Ereng-Ereng kulafalkan dengan  sesuai tajwid, sangat pelan  artinya pun kubaca, bahwa haram merampas barang anak yatim. Meskipun Ustadz dikenal sebagai  iman masjid tapi ternyata dia tak mengamalkan apa yang ia ceramahkan. Bukan  hanya aku yang dibentak tapi ibuku pernah tak di anggap sebagai menantunya. Mungkin karena ibu sok melawan perintahnya.  Aku tak menyesali jadi cucunya, yang kusesali adalah ketika beliau  pergi untuk terakhir kalinya. Aku  tak ada.

Rintik hujan mulai mendesain suasana. Nada tasbih berkeliaran. Acara pemakaman yang tepatnya di belakang rumah dekat pohon  durian.  Sebuah kuburan yang begitu menakutkan barukali ini bola mataku mendidih. Tampak ketakutan melihat galian  yang di penuhi  batu kerikil  dan  ulat bulu.  Ibu-ibu menjerit  histeris sembunyi di bawa pohon pisang.  Bapak-bapak juga tak mau ketinggalan mereka berlarian. Di liang lahap terlihat  seorang ustadz, tak tahu persis namanya. Keringat bening  bertengger di kumisnya. Sarung batik bercorak merah tergulung di sebuah  bokong yang tepos. Tangannya penuh dengan ulat bulu sangat menjijikkan. Senyumnnya yang menawan, mungkin dengan cara itu bisa mengubah pola pikir mereka untuk tidak takut, dan tetap melanjutkan tasbih.

Satu menit kemudian  belum ada orang yang  mendekat,  masih terlihat ustadz yang berusaha menyingkirkan  hewan yang lengket di jasad sang kakek. Aku sangat kecewa apresiasi orang kampung setidaknya mereka ikut campur tangan. Jiwaku bergerumuh, pengen mengamuk. Kedua tanganku mengepal persis seorang yang  akan berlomba pertandingan tinju. Langit seolah bertukar dengan bumi.

“Sini pak  Ustadz. Aku bantu.” Nadaku yang  semakin keras berusaha melawan guncangan petir.

Wajah Pak Ustadaz terkelupas. Memutar kepalanya ke samping. Seperti melihat dajjal. Mulutnya terbuka. Mendegar apa yang kukatakan barusan.

Kedua kakiku  tertancap diliang kubur, tubuhku  gemetar, celanaku mulai terasa  hangat. “Maafkan aku kek, tidak sengaja pipis di rumah barumu.” Desahku melawan rasa takut  yang tak bisa kuungkapkan saat itu. Tangan kanan mulai  memindahkan ulat yang semakin menempel di jasad sang kakek.  Bola mata yang melirik ke atas, berharap ada bantuan dari orang-orang penakut. Ini adalah pengalaman yang terburuk yang pernah kualami  seorang perempuan jadi pahlawan dihari duka sang    kakek.  “ Aghhhhh” ucapku keras, beberapa ulat mulai mencubit kulitku.

“Kamu  kuat angkat? Sebaiknya kita turunkan saja. Demi mengejar waktu.” Nada Pak ustadz  agak lirih. Aku  mengangguk seperti tuna wicara,  tenagaku yang sebesar  buah rambutan, harus angkat beban sebarat 2000 kilogram. Rasanya tak kuat.

“Prakkkkkkkk” jasad sang kakek terjatuh  begitu saja.  Kami sangat terkejut. Bola mataku tidak mendidih lagi tapi sekarang copot satu persatu melihat wajah  gosong, kulitnya  terkelupas dan keluar ular di mata kirinya. Tak menyangka sosok yang ada ditanganku belum menghadap dengan sang Kholik, sudah berubah duluan. Badanku mulai lembek, berusaha berlari, detak jantung seakan-akan tak terdengar lagi. Pingsang. Bukannya aku harus menolong sang kakek malah aku yang di tolong.

Gubrak!!

Aku  merasa masih berlari dengan  kencang sampai suara keras itu membangunkanku. Mataku terbuka setelah tadi terlelap. Kulihat  pojok-pojok kamar.  Tak ada lagi dunia yang aneh. Tak ada lagi wajah yang gosong, ulat bulu, tak ada lagi ulat.  Semuanya berubah. Selimutku masih terasa  bau molto,  yang kucuci   kemarin sore.

Aku mengusap dahi.

Basah.

Ada peluh, lelah. Lelah kerana berusaha berlari  dan menjauh dari jasad yang menyeramkan. Kakek. Aku akhirnya memimpikannya, ia benar-benar datang saat aku berhayal sebelum tidur. Kuputar badanku ke kanan. Meskipun benar aku tak  datang saat jasad sang kakek dimakamkan, setidaknya dengan mimpi yang barusan menjadi pelajaran buatku. Untuk tidak mengikuti  sifat kakek semasa hidupnya.

Semua telah berakhir, kesedihan bersama kakekku telah tamat.  Aku harus kehilangan orang-orang yang  hebat dan sayang padaku. Walau begitu kakekku selalu ada dalam sujud terakhirku. Selama aku  masih hidup dan sekarang aku telah menjawab  sendiri pertanyaan yang selama ini aku pertanyakan ternyata jawabannya adalah karena tanpa adanya kematian penduduk akan semakin bertambah  banyak dan takkan pernah mengubah  dunia lama menjadi dunia baru.  Semua telah diatur oleh Tuhan dan hanya di tangan-NYA lah kita mampu merubah hidup  kita menjadi yang baru. Aku harus menyadari sendiri bahwa suatu kelak aku akan menyusul mereka hanya waktu saja dan keadaan yang berbeda. Selamat Jalan Kakek, Nenek, Ayah, Om dan Keponakan. Tunggu kami di  Surga.

Surakarta, 13 Maret 2015


Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website