Headlines News :
Home » , » HMI: Harapan Masyarakat Indonesia?

HMI: Harapan Masyarakat Indonesia?

Written By Pewarta News on Rabu, 25 November 2015 | 00.46

Hartono Tasir Irwanto.
PewartaNews.com – Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam pidatonya di depan mahasiswa Yogyakarta pada peringatan Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang pertama tahun 1948 berkata bahwa HMI adalah Harapan masyarakat Indonesia. Tidakkah berlebihan pernyataan tersebut? Mengingat upaya realisasi ideal-ideal HMI terkesan jauh panggang dari api.

HMI antara Langit dan Bumi
Langit sering diasosiakan dengan cita-cita yang ideal. Destutt de Tracy menyebutnya sebagai Ideologi. Adapun ideologi HMI dalam makna mukaddimah AD-ART organisasinya memuat dimensi keislaman, keindonesiaan dan kemahasiswaan. Hal ini berarti esensi ber-HMI adalah menjadi mahasiswa yang nasionalis dan religius. Hal ini penting mengingat periode awal kebangsaan kita hanya dicekcoki oleh perdebatan kubu nasionalis dengan kubu Islam, yang mana merupakan pendikotomian yang serampangan dan kontraproduktif. HMI sebagai organisasi pencetak kader masa depan umat dan bangsa harus memahami nilai ideal tersebut.  Karena jika tidak mampu memahami nilai, manalah mungkin dapat mengamalkan nilai yang dimaksud.

Adapun bumi, sering diasosiakan dengan realitas sosial di mana manusia diuji untuk mengamalkan nilai yang dipahaminya. Kisruh HMI di Kongres dengan segala tetek bengeknya dan seluruh  perjalanan organisasi tersebut merupakan batu uji bagi nilai ideal Ideologi HMI. Apakah nilainya cukup aplikatif untuk diterapkan atau apakah kadernya tidak mampu menerapkan nilainya?

Adalah miskonsepsi jika meyakini bahwa HMI adalah organisasi yang merusak hanya karena sebagian kadernya dalam waktu yang relatif singkat berbuat kerusakan dan kemudian menggeneralisir kepada seluruh kader, terlebih pada  lembaganya. Apakah seluruh muslim rusak dan Islam juga rusak hanya karena ISIS berbuat kerusakan? Sebagaimana nilai Cinta Kasih Kristen runtuh hanya karena dibawakan oleh Belanda yang sebagaian dari mereka adalah kolonialis? Hukumlah mereka yang merusak dengan hukuman yang adil. Yang menegakkan hukum semestinya adalah penegak hukum. Warga hanya berhak melapor, bukan menghakimi apalagi menghujat. Karena hujatan tersebut bisa menjadi bumerang yang justru membuat pihak yang menghujat menjadi terhujat, atau bahkan dihukum.

Pada Pasal 28 ayat (2) UU ITE termaktub “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).”

Adapun ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45 ayat (2) UU ITE yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Harapan itu Masih Ada
Kembali pada HmI sebagai harapan masyarakat Indonesia, menurut Yudi Latif bahwa terdapat setidaknya 7 tradisi politik Indonesia; yaitu Muhammadiyah dan Sarikat Islam (Islam Pembaharu), Nahdatul Ulama (Islam Tradisional), Sosialisme Barat ala Hatta dan Syahrir, Nasionalisme ala Soekarno, Komunisme (PKI), Pagayuban Kristen, dan Fasisme Militer Jepang yang bermetamorfosis menjadi rezim Soeharto pada orde baru.

Sejatinya, setiap gerakan politik mempunyai organisasi sayap pada tingkat mahasiswa dan pemuda sebagai lumbung pengkaderan dan masifikasi gerakan organisasi tersebut. Muhammadiyah memiliki IMM, Sarikat Islam yang membesar menjadi Masyumi memiliki HMI, Nahdatul Ulama memiliki PMII, Sosialisme kurang revolusioner di kalangan mahasiswa, PNI memiliki GMNI, PKI memiliki CMNI, Paguyuban Kristen memiliki PMKRI, dan Fasisme Militer memiliki Pemuda Pancasila.

Seiring dengan dibubarkannya PKI dan lengsernya Soekarno, CMNI dan GMNI mulai redup pula. Adapun PMKRI dikarenakan kurangnya basis anggota, agak kesulitan bersaing. Sementara Pemuda Pancasila awalnya hanyalah organisasi paramiliter untuk para preman yang ditugaskan untuk memberantas PKI. Sedangkan IMM tidak mampu independen dan keluar dari skema besar organisasi induknya, yaitu Muhammadiyah. Tinggallah HMI sebagai anak yang ditinggal mati oleh ayahnya, yaitu Masyumi.

Masyumi sendiri adalah federasi dari organisasi-organisasi Islam yang eksis pada rezim Jepang. Dikarenakan universalitas dan multi aliran Islam yang diusung Masyumi, membuatnya menjadi Organisasi Islam terbesar dan plural pada waktu itu. Masyumi kemudian mendirikan HMI pada level mahasiswa dan PII pada level pelajar sebagai perpanjangan tangan dari Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia). Akibat potensi besarnya dan utamanya perlawanannya terhadap rezim Soekarno, Masyumi dibubarkan dan tidak dihidupkan kembali meski beberapa rezim telah berganti.

Sejak saat itu, HMI menjadi bebas bergerak, independen, dan menentukan sendiri skema organisasinya. Sejak saat itu pula, HMI banyak melahirkan kader-kader harapan bangsa. Sebut saja, Nur Cholis Madjid, Dawam Rahardjo, Yusuf Kalla, Munir, Mahfud MD hingga Anies Baswedan. Mesin pencetak kader harapan bangsa bernama HMI masih terus berproduksi, selama kita tidak mematikan mesinnya. Jika ada segelintir produk yang rusak, jangan buang mesinnya. Perbaiki mesin tersebut. Perbaiki dengan memahami nilai dan mengamalkannya. Harapan itu masih ada pada HMI. Apalagi jika pemimpin organisasinya adalah pemimpin yang membawa harapan, dapat diharapkan, hingga HMI menjadi harapan masyarakat Indonesia sedia kala. Seperti kata Andy dalam Film The Shawshank Redemptions; harapan adalah sesuatu yang baik, dan sesuatu yang baik takkan pernah mati.


Yakin Usaha Sampai.
Pekanbaru, 24 November 2015.

Penulis: Hartono Tasir Irwanto


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website