Headlines News :
Home » » Perjanjian Sang Kakek

Perjanjian Sang Kakek

Written By Pewarta News on Jumat, 27 November 2015 | 16.06

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Irna adalah seorang gadis yang sangat pemalu pada setiap orang. Bukan hanya pada kaum Adam, tetapi juga pada kaum Hawa. Ia dilahirkan di kota Bulukumba sulawesi selatan. Keluarga yang sangat sederhana dan hidup dengan secukupnya. Meskipun hal itu telah menjadi nasib, ia tak pernah mengeluh dan merasa kekurangan atas apa yang dimiliki. Syukur tiada henti terus dijalani karena Tuhan masih bisa memberikan rezeki walau hanya untuk mengunyah sesuap nasi.

Sejak kepergian almarhum Muh. Saleh. Sosok ayah yang luar biasa. Mondar-mandirlah masalah dalam keluarga. Hampir setiap saat matanya berkaca-kaca, mengapa hal itu terjadi dan menjadi beban di pundak yang harus dijalani sendiri? Entah apa yang harus ia lakukan. Hanya bisa menengadahkan kedua tangan dan memohon pada Tuhan berharap sedikit keajaiban untuknya.

Sebelum ditinggal oleh ayah, ia  diberi amanah untuk menjaga ibu dan adik-adiknya. Dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara.  Amanah yang lainnya, ia harus bisa mengubah sifatnya yang pemalu. Saat itu ada lelaki yang suka padanya. Bahkan tergila-gila akan kecantikan Irna. Henri namanya. Dia bukan keluarga dekat. Tapi salah satu tetangga yang sudah bertahun, jatuh hati dan menunggu sampai Irna tumbuh  dewasa.

Pemuda itu tidak hanya cakap parasnya namun ia juga terkenal akan kekayaan yang dimilikinya.  Ya, cinta tak mengenal usia, waktu, kapan dan di mana. Jika hati sudah menentukan pilihan, tak ada sesuatu yang mampu menjadi penghalang. Walaupun angin ribut datang menyerpa sekalipun. Lelaki kaya itu berusaha untuk mendekati Irna. Apapun caranya akan ditunaikan. Bahkan ingin menjadikan Irna sebagai colon istri. Ia meminta bantuan pada ibunya untuk mendekati keluarga Irna. Cara lain adalah dengan mendekati adik kandung. Ia didaulat sebagai penghubung antara Henri dan Irna. Namanya Idda, hitam manis kulitnya. Ada lesung pipit yang bertengger di pipi. Orangnya  ceriwis, dan mudah akrab dengan makhluk yang ia jumpai. Termasuk makhluk halus.

Beberapa hari  kemudian, Idda berhasil menyampaikan salam Si Henri. Kalau Hendri menyukai Irna. Sebenarnya Irna juga merasakan hal yang sama, tetapi hatinya berdebar dan ragu akan hal itu. Ia tak ingin jika ada orang yang tahu, terutama ibunya. Sesuatu yang disembunyikan suatu saat akan menyebar aromanya. Tak disangka dan tak diduga hal itu diketahui oleh sang ibu kalau anaknya disukai oleh anak orang berpunya. Bahkan beliau merespons hal itu dengan raut muka bahagia. Beliau  berharap agar putrinya berjodoh dengan Henri.  Sungguh sebuah harapan yang sangat besar!

Meskipun  Henri  tidak punya bekal pendidikan yang bisa diandalkan, tapi ia punya cinta yang besar. Keseriusan terlihat dari geriknya. Bertahun-tahun sudah ia menunggu jawaban, tapi tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir merah Irna. Musim hujan pun berganti panas.  Ia hanya bisa bersabar menanti Irna usai SMA. Lepas itu, ia akan datang meminang. Harapannya bunga mekar yang dirindukan selama ini bisa terpetik.

Irna adalah melati yang mekar di musim semi, sementara Henri adalah sebidang tanah di musim gugur. Keduanya bisa menyatu. Irna dapat memikat dunia dengan sekilas tatapan matanya, Hendrilah yang tersihir dan menjadi budaknya. Irna memegang cawan yang menampung anggur cinta, sementara Henri berdiri dimabuk aromanya.

Sepertinya ada rintangan yang menghadang di hadapan. Irna merasa sedih dan bingung menghadapinya. Ada sebuah sengketa antara kakek Irna dengan kakek Henri. Dulu mereka sama-sama berjanji, di mana keturunan  H. Jalla dengan keturunan H. Pean tidak bisa saling mencintai, bahkan haram hukumnya menjalin hubungan suami istri. Permasalahannya hanya perdebatan soal tanah. Sengketa ini menjadi pertentangan yang terus lestari turun temurun.

Takut dan was-was kehilangan sudah ada di benak Henri. Ia tetap nekad datang untuk melamar meskipun Irna baru menginjak 19 tahun. Perjanjian  tak  jadi penghalang baginya untuk menyerah. Tak rela jika  Irna berpindah ke tangan lelaki lain. Usaha dan rintangan apa pun harus tetap dihadapi. Terkadang hasilnya mengecewakan, cacimaki dan berbagai  hinaan lainnya selalu menghampiri.

Subaidah adalah ibunya Henri. Badannya agak bongsor, berkulit putih, dengan tatapan mata tajam. Ia adalah perempuan yang harga dirinya sangat tinggi. Berusaha mendatangi rumah H. Jalla yang berada di Bantaeng, Provensi Selawesi Selatan.

“Sebenarnya aku malu untuk menyampaikan permintaan ini dengan berterus terang. Seperti yang engkau ketahui, tidak ada satu pun di antara kita di sini yang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan kedudukanku. Kekayaanku tidak ada yang dapat menyamai.  Aku dapat menjadi sahabatmu yang paling baik, juga dapat menjadi musuhmu yang paling menakutkan. Apa pun yang kau minta sebagai mas kawin, aku akan memenuhinya dan akan aku tambah lagi dengan berbagai ladang sawah yang melimpah.

Aku bukanlah orang yang penurut begitu saja pada adat istiadat. Aku datang ke sini sebagai seorang pelanggan, bila engkau mengetahui apa yang menguntungkan bagimu, dan aku sangat yakin bahwa engkau sangat mengetahuinya, segera menetapkan harga lalu menjual kepadaku.” Ucap Subaidah panjang lebar, terlihat congkak.

H. Jalla terpana, lalu menjawab tegas, “Kau telah berbicara dengan jelas, Saudaraku. Kata-katamu sangat dalam. Tapi engkau tidak dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh takdir hanya dengan untaian kata-kata. Apakah engkau benar-benar mengira bahwa aku akan mengabulkan permintaanmu hanya dengan kekuatan kata-kata belaka? Apa yang telah engkau tawarkan kepadaku cukup menarik, tapi apa yang berada di balik itu akan memberikan bencana yang sangat besar bagi cucu kesayanganku. Ya, memang putramu adalah pangeran para manusia, simbol keagungan cinta. Bagaimana pun, sejarah perjanjianku dengan H. Pean tidak ada yang bisa mengubah. Merah tetap merah. Mustahil akan berubah menjadi putih. Sekarang tolong angkat kaki, pintu rumah terbuka dengan lebar untuk Anda.” Tukas H. Jalla, bola mata memerah.

Subaidah tidak mengira atas kata-kata kasar H. Jalla. Bagaikan sekawanan lebah, tidak ada pilihan lain selain menarik kembali lamarannya, lalu bergegas pulang. Ia sebenarnya sulit menerima kekalahan. namun apa mau dikata, ia terpaksa mengalah. Maka pulanglah, dengan kepala tertunduk dan tangan yang hampa.

Tiba di rumah, Subaidah menceritakan akan  perdebatannya dengan H. Jalla. Saat mendengar cerita  beliau, hati Henri terasa hancur. Gairah hidupnya pun padam. Sayap  jiwanya telah patah, dan sekarang  ia  sedang menggelepar tak berdaya di dalam kubangan debu, menanti datangnya ajal. Bukan hanya Henri yang merasakan  rasa sakit dan kecewa, tetapi hal itu juga dialami ibunya Irna. Beliau shok. Tak menyangka  kalau akhirnya  penolokan lamaran terjadi. Harapan akan Henri menjadi menantu sudah tidak ada lagi. Ia hanya bisa merengek dan pasrah akan  adanya takdir.

Sementara hidupnya Henri semakin mengibakan. Apakah ada hari esok, hari terindah baginya? Ia masih berharap sebuah keajaiban mengubah dunianya jadi menawan. Tidak tahan akan siksaan itu, Henri pun jatuh sakit karena terpukul atas  hinaan H. Jalla. Ibunya berusaha membujuk agar mau mencari  pengganti  dengan menjodohkan perempuan  lain yang melebihi kecantikan Irna. Subaidah melangkah pelan dan membuka bilik. Sementara Henri terbaring loyo di atas ranjang.

“Nak, tak ada pilihan lain untukmu, takdir telah memisahkan kalian. Sudah berusaha dengan sekuat mungkin, bahkan ibu melibatkan diri demi kebahagianmu, tapi takdir berkata lain kalau kalian tidak pantas untuk  bersatu,” bujuk  Subaidah dengan lembut.

Henri hanya menatap kosong. “Tuhanku, ibu menyuruhku untuk menghilangkan Irna dari pikiranku dan memadamkan hasrat di dalam hatiku padanya. Aku memohon kepada-Mu, duhai Tuhan, pahatlah bayangannya lebih dalam di dalam matahariku! Buatlah hasratku padanya semakin kuat! Ambillah apa yang tersisa dari ragaku dan berikan semua kepadanya! Ambillah seluruh usia hidupku yang tersisa dan tambahkanlah kepadanya.”

Matanya memerah, ia memegang kedua tangan ibunya, “Bu, tidak ada salahnya kita coba dua kali!”

Subaidah pun terenyuh. Akhirnya ia menuruti kemauan putranya. Ia pun mencoba mendatangi rumah keluarga terdekat Irna. Rumah itu tidak begitu jauh.  Hj. Bani namanya.  Jawabannya tetap sama.  Perjanjian  dimasa lalu tetap tidak bisa diubah. Ia pun tidak sudi jika Irna dipinang oleh keturunan H. Pean. Petang telah tiba. Subaidah bertamu, lipstiknya terlihat tipis. Baju gamis coklat yang dipasang.

”Aku tidak akan pernah merestui meskipun kau berlutut di kaki H. Jalla beribu-ribu kali. Hatinya tetap merah.” Ucap Hj. Bani, nada lantang. Akhirnya  Subaidah pulang  dengan memendam kecewa.

***

Usia H. Jalla mulai retak. Sakit mulai diidap. Namun, ia ingin cucunya suatu hari kelak akan bahagia meski bukan Henri yang jadi suaminya. Maka, segeralah ia bertindak dengan mencarikan cucunya laki-laki yang lebih pantas. Baginya, Irna adalah sebuah intan berharga yang harus dijaga dengan kelembutan dan kasih sayang. Cucunya itu adalah sebuah peti permata yang kuncinya tidak akan diberikan begitu saja dengan mudah pada setiap orang. Irna sendiri tersentuh oleh perhatian sang kakek dan menampakkan rasa  terima kasih atas perhatian itu dengan senyuman dan kasih sayang. Tapi senyumannya itu adalah senyuman lilin yang menyala. Perlahan meleleh karena nyala api di ujungnya. Senyumannya adalah senyuman mawar yang menyembunyikan duri.

H. Jalla ternyata memiliki keponakan laki-laki. Namanya Jumrin. Ia tidaklah kaya. Namun H. Jalla yakin pemuda ini bisa menjaga dan membahagiakan cucunya. Maka, disuruhlah Hj. Bani untuk membujuk ibunya Irna agar mau merestui Jumrin menjadi menantunya. Sebuah amanah bagi Hj. Bani. Segeralah ia mendatangi  rumah Irna.  Siang telah berlalu. Petang pun datang. Ditandai kerlip gemintang. Rumah Irna dipenuhi banyak  sandal.  Hj. Bani berusaha membujuk.

“Kamu sudah lama menjadi janda, umurmu semakin bertambah. Ada baiknya jika anakmu kita nikahkan, agar ada yang menjaganya.” Rayu Hj. Bani. Mengatur napas agar tetap beraturan.

“Kita tidak ingin suatu hari kelak ia telantar begitu saja. Aku tahu kamu ingin menjadikan Henri sebagai menantumu, tapi H. Jalla sebagai wali  tidak akan pernah mengiyakan hal itu.”

Hj. Bani berusaha mengupas senyum, nada yang lembut. Pikirnya agar apa yang direncanakan berhasil.

“Apakah kamu ridho jika Irna, kita jodohkan dengan  Jumrin?” Jelas Hj. Bani, dengan ketegasan.“Ia tidak memiliki harta yang melimpah, tapi dia bisa bekerja keras dan meringankan bebanmu.”

Emosi memuncak tak tak terkendali di ruangan itu. Terjadilah adu mulut. Sementara Irna hanya bisa melap ingus di dalam kamar.

Di pipi ibunya Irna terlihat air jernih. Teringat nasib yang dialami putrinya. Ia lalu berucap terbata-bata, ”Tapi sekiranya kalian  menghargai pendapatku, apakah salah jika seorang ibu ingin melihat putrinya bahagia?“

Hj. Bani membisu. Tak ada nada yang keluar.  Bibirnya digombok. Malam semakin larut. Segeralah  bergegas  pulang tanpa permisi. Tiba-tiba Irna datang  memeluk sang ibu. ”Ibu, maafkan aku. Andai ayah masih ada, pasti ayahlah jadi pahlawan.” Ucap Irna dengan ada lembut.

***

Sudah menjadi buah Bibir di kalangan masyarakat atas tragedi semalam.  Sang ibu tak hentinya berdoa. Agar perjodohan ini dibatalkan.

Dan akhirnya Irna mengetahui ternyata dijodohkan dengan Jumrin. Tentu saja hatinya semakin hancur.  Ia pun membatin, “Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?, sungguh sangat berat cobaan ini, ya Allah. Mengapa cinta kami terhalang oleh sengketa?, dan mengapa kami terpisah? Akhirnya aku dijodohkan dengan laki-laki bukan pilihanku. Tapi pilihan sang kakek.”

***

Undangan mulai tersebar. Seminggu setelahnya, hari pernikahan pun tiba. Mentari menghamparkan jubah cahayanya ke atas pundak malam seperti orang yang mengerudungi sepasang penganting. H. Jalla bangun pagi-pagi sekali, tidak sabar untuk menyelesaikan persiapan pernikahan cucu kesayangannya. Ketika siang tiba, semuanya telah siap.

Berbagai rombongan dituntun menuju sebuah tenda berwarna biru yang didirikan khusus. Mereka duduk bersama sambil menikmati makanan berbagai rasa yang terasa kenyal di lidah. Tawa memenuhi udara. Semuanya  terasa begitu  damai. Tapi bagaimana dengan  Irna? Dia duduk di kamar pengantin, dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang bercakap-cakap dan anak-anak yang menjerit-jerit.

Di antara orang-orang yang berbahagia dan tersenyum itu, Irna menampakkan sedihnya. Pisau dingin kesepian menusuk jiwanya. Ia belum pernah merasa begitu takut sendirian seperti saat ini. Betapa dekat ia dengan Henri, pemuda idaman itu. Namun, sekarang semuanya lenyap. Ketika cawan itu baru akan menyentuh bibir mereka, ia terbanting hancur menumpahkan anggur kebahagiaan ke atas pasir.

Irna pun berusaha manampakkan rasa bahagia di tengah keramaian. Tapi bayang kematian muncul di hatinya. Ia tengah bersiap untuk menenangkan jiwanya dan akan membuka lembaran hidup baru bersama Jumrin. Tapi wujud bahagia yang ia rasakan tak kunjung hadir, justru bencana yang ia rasakan. Sementara Jumrin sangat bahagia bisa mendapatkan istri yang cantik dan soleha seperti Irna. Irna justru kebalikannya, ia tidak pernah ikhlas akan pernikahannya.

Berita tentang pernikahan mereka akhirnya sampai juga di telinga Henri. Rasa sakit yang dialami Henri  tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia terpukul, tergores. Semua rasa kesakitan hadir dalam jiwanya.

“Duhai cintaku! Betapa aku menginginkan kau sebagai istri, namun, apa daya takdir telah menyuratkan bahwa kita harus terpisah selamanya. Apakah aku harus disalahkan atas semua ini?. Hatiku sudah hancur tak bisa utuh kembali saat kutahu kamu dipinang lelaki lain. Saat ini aku terjatuh seperti jatuhnya seseorang saat sholat. Aku tak kuat lagi Tuhan, untuk bangkit!” Henri  terus meratapi nasibnya.

“Aku adalah tanah di bawah kakimu jika  kau melangkah dengan lembut. Aku akan menjadi humus di musim semi nan indah yang menumbuhkan bunga-bunga tak ada habisnya. Jika kau menginjakku dengan langkah yang keras, maka aku akan menjadi awan debu yang berputar, yang membungkus dan mencekikmu. Aku bersumpah tidak akan pernah ridho kau bersamanya.” lanjut Henri.

[Catatan: Jangan lupa ikutin terus tulisan Nurwahidah, A.Md. selanjutnya masih tetap di www.pewartanews.com dengan judul "Dosa Orang Kampung",]


Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website