Headlines News :
Home » , , » Rimpu Gelar Pentas Budaya Bima di Yogyakarta

Rimpu Gelar Pentas Budaya Bima di Yogyakarta

Written By Pewarta News on Minggu, 01 November 2015 | 09.24

Mahasiswa Bima di Yogyakarta usai Pentas Budaya berlangsung.
Yogyakarta, PewartaNews.com – Hidup di Kota Budaya Yogyakarta, ternyata telah memberikan efek positif terhadap kesadaran akan budaya bangsa dan daerah kepada para mahasiswa dan pemuda dari daerah seperti dari etnis Bima (Kabupaten Bima, Kota Bima dan kabupaten Dompu) yang ada di Kota Yogyakarta. Jauh dari kampung halaman, rindu akan suasana masa kecil, belajar dari lingkungan Kota Budaya seperti Yogyakarta paling tidak telah mengilhami sekelompok mahasiswa dan pemuda yang peduli akan budaya daerah (Bima) untuk melestarikannya disini. Karena itu Komunitas RIMPU yang ada di Yogyakarta sukses menyelenggarakan pentas seni budaya di Aula Theater Eska Universitas Islam Negeri Sunan Kaligaja (UIN SUKA) Yogyakarta (31/10/15).

Dipintu masuk, para tamu sudah disambut dengan gapura “Santabe” lalu semacam tema “MAI TA KASAMA WEKI, TA KAWARA RO KALAMPA KU NGGAHI RA RAWI RASA LOA KAI RASO”

Acara yang juga didukung oleh Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta dan Dompu (IKPMD) ini berlangsung meriah. Sekitar seribuan penonton tampak antuasias mengikuti pentas seni budaya ini. Bahkan hingga pentas utama telah berakhir, sebagian penonton seperti enggan meninggalkan tempat duduknya.

Pada gelaran yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB tersebut, setelah sambutan salah satu sesepuh masyarakat Bima di Yogyakarta (Om Paul), acara langsung diikuti dengan berbagai tampilan yang sangat memikat penonton. Mulai dari Mpa’a gopa, Tutu kalikuma, Cipe Langgipe, juga mpaa Ncimbi Lombo Tembe. Lalu susul menyusul Kalero (Patu Mbojo, Pantun Bima) yang berupa kata-kata plesetan yang berisi humor dan kata-kata hiperbola. Tentu saja, hal ini membuat gelak tawa dan teriakan penonton membahana seantero aula theater karena ulah kata dan pembawaan lucu para pemeran.

Tidak hanya itu, tampilan berikutnya dari acara yang di pandu MC Anisyah dan Muhammad Alfian, Mahasiswa Pascasarjana UIN SUKA ini adalah tarian rakyat; Tari Wura Bongi Monca. Meskipun mereka dari berbagai lokasi kampus yang berbeda, mereka Nampak seperti sangat professional membawakan tarian tersebut. Apalagi bunyi gendang dan lain-lain alat musik tradional Bima begitu kental terasa, seperti nsesaat melaupakan diri kalua saat ini sedang berada di Yogyakarta. Tidak kalah serunya adalah Mpaa Gantao, para petarung ini beberapa kali melakukan atraksi yang seperti berkelahi benaran, tetapi ketika usai mereka berpelukan, mereka memberi hormat kepada penonton, mereka melakukan sebagaimana seharusnya seorang ksatria. Ksatria Bima.

Dan yang terakhir adalah musikalisasi puisi. Para pemeran benar-benar mengekspresikan kemampuannya memainkan emosi penonton. Berkata-kata sedih, tertunduk meratap, berteriak menghentak, atau berlari mengelilingi penonton di aula teater sangat menghidupkan suasana tampilan.

Untuk menutup rangkaian acara, ada penampilan khusus dari beberapa orang pemuda nusantara memainkan alat musik nusantara tapi dengan lagu “E au le”…… Luar Biasa !

Seorang penonton yang saat ini mengambil magister memberikan kesannya kalua hal seperti ini sangat langka ditemukan. “Saya kuliah S1 di Makasar, saya tidak pernah menemukan hal seperti ini dilakukan oleh teman-teman Bima disana. Disini, di Yogya teman-teman Bima bias melakukannya. Saya bangga. Saya senang. Semangat Bima !” Ujarnya disambut pekik semangat penonton.

Penonton yang hadir nampaknya bukan hanya mahasiswa Bima, namun juga mahasiswa dari daerah lain. Meskipun tidak mengerti apa yang disampaikan oleh para pemeran, namun beberapa diantaranya Nampak antusias mengikuti dan menikmati keunikan pakaian (Rimpu), tarian dan permainan dari daerah Bima.

Syahrul Ramadhan, Ketua Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta juga sangat mengapresisi gelaran budaya ini. “Iya, ini bagus. Kita sangat senang dan bangga dengan inisiasi dari teman-teman yang peduli dengan budaya kita ini. Kita sebagai mahasiswa memang harus bisa mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari Kota Pelajar ini’, ujarnya. Syahrul lalu mencoba membuat logika sederhana, kalau mahasiswa magister Bima Dompu di Yogya ini ada sekitar 100 orang, D1-S1 ada sekitar 1000 orang, kalau saja orang tua masing-masing seribu orang ini minimal mengirim uang belanja 500 ribu tiap bulan, di tambah uang pendidikan katakanlah rata-rata 5 juta satu semester, maka dalam setahun satu mahasiswa menghabiskan minimal 16 juta pertahun. Kalau 16 juta ini dikalikan 1000 maka minimal ada 16 milyar uang orang tua dari Bima Dompu yang dikirimkan kepada anak-anaknya di Yogyakarta sini. “Itu minimal. Makanya, sayang sekali kalau kita tidak mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari kota ini”, cetusnya.

Hal tersebut juga diamini Ashadi, mahasiswa Magister Hukum Kesehatan UGM. “Iya, disini kita juga belajar dengan lingkungan kita, bagaimana kesantunan orang Yogya, bagaimana cara komunikasi dan banyak lagi yang bisa kita petik. Karena itu, saya sangat bangga dengan pegelaran seperti ini. Motto Maja labo Dahu, Nggahi Rawi Pahu dari daerah kita, harus bisa kita praktekkan disini. Lihat pagelaran tadi, sangat menggugah kesadaran kita sebagai Dou Mbojo, seperti kebersamaan, seperti kegigihan, ulet, Jujur, malu dan takut berbuat salah”, Jelasnya.

RIMPU, KEPMA, IKPMD telah menunjukan kebersamaan, kesatuan, kesadaran akan budaya daerah Bima. Untuk menyukseskan acara ini mereka telah mengorbankan waktu-waktu belajarnya, waktu disela-sela mengerjakan tugas, di sela-sela UTS. Tapi, Faturrahman (Ketua panitia) dkk,  mereka merasa bangga, mereka puas bisa berkontribusi untuk budaya daerahnya. Mereka ingin budaya daerahnya tetap eksis, meski jauh dari kampung halaman. Mereka akan terus bersemangat menuntut ilmu, seperti semangatnya para orang tua yang telah mewariskan budaya dan nilai-nilai luhurnya. Mereka akan pulang ke Bima dan akan menjadi penerus, menjadi banteng kelestarian budaya. Itulah mereka Mahasiswa Bima Dompu Yogya khususnya para mahasiswa yang tergabung dalam RIMPU, KEPMA, IKPMD. Mereka relah merogoh sebagian uang sakunya untuk sekedar air minum dan rebusan kacang dan kadale buat para penonton. Ya, disamping dukungan dana dari para sesepuh dan relawan lain, mereka juga membayar iuran untuk menyukseskan acara ini.

Ke depan, semoga hal ini dapat lebih mendapat dukungan, tidak hanya dari para sesepuh dan diri mereka namun juga dari “ORANG TUA KEDUA” mereka di tanah Bima Dompu. Selamat yach. Untuk melihat beberapa foto pada saat acara ini berlangsung, silakan KLIK DISINI. [Firman / PewartaNews]


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website