Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Akan Selenggarakan Pelantikan, Yuuk Hadir!!

    Informasi Acara.
    Yogyakarta, PewartaNews.com - Hadiri dan Saksikan Pelantikan Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2016, dirangkaikan dengan Peluncuran Website WWW.PUSMAJAMBOJOJOGJA.OR.ID dan Diskusi Publik dengan.

    Tema yang diangkat dalam acara ini adalah "Menjawab Kekhawatiran Dana Desa, Kepemimpinan Transformasional dan Karakteristik Kepribadian". Sebagai Pemateri, Acara ini menghadirkan orang-orang yang berkompeten dibidang yang berkaitan dengan tema yang diangakat, diantaranya, Pemateri Pertama yaitu Wakil Ketua STIE YKPN Yogyakarta yang juga seorang dosen dikampus STIE YKPN Yogyakarta yakni bapak DR. Efraim Ferdinand Giri, M.Si.,Ak.CA.. selain itu menghadirkan juga dosen dikampus yang sama (STIE YKPN Yogyakarta) yakni ibu Dra. Siti Alfajar, M.Si., dan yang terakhir menghadirkan bapak Firman, SE., MPH.

    Rangkaian acara ini akan berlangsung pada Hari Sabtu, 2 Januari 2016 di Gedung Kuliah GKT 102 Kampus STIE YKPN, Seturan Yogyakarta. Banyak fasilitas yang didapat pada acara ini, diantaranya: Snack, Makan Siang, Materi, Ilmu, dan lain-lain.

    Ketua umum terpilih yang akan dilantik mengharapkan semua pihak hadir dalam rangkaian agenda ini, “Saya mengharapkan kehadiran seluruh warga PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, Para Alumni PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, semua mahasiswa Bima dan dompu yang ada di Yogyakarta. Karena acara ini dirangkaikan juga dengan Dialog Publik, masyarakat umum juga boleh menghadiri agenda ini. Dalam agenda ini panitia pelaksana juga mengundang pemerintah kabupaten Bima. Mudah-mudahan Pemda bisa hadir dan bersilaturrahmi dalam Pelantikan ini,” Ucap M. Jamil, S.H. (Ketua Umum Terpilih PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta), pada PewartaNews.com beberapa saat lalu di Yogyakarta.

    Rangkaian agenda ini dikoorninir oleh ketua Panitia bernama M. Rimawan, seorang mahasiswa Pascasarjana di Kampus STIE YKPN Yogyakarta. [MJ / PewartaNews]

    Terimakasih untuk Hari Ini [Cerpen]

    Nufa.
    PewartaNews.com – Alunan kata indah itu kasak-kusuk gelisah di lembaran halaman koran yang dijajakan di pinggir jalan. Mereka berteriak, bergemuruh, bertalu-talu hingga membuat media cetak populer yang tertata rapi itu terlihat mencolok meskipun aktivitas masyarakat perkotaan amat sangat sibuk dan berisik. Untaian kata tersebut saling berlomba-lomba mempercantik diri guna menggapai perhatian para pengguna jalan, mereka berharap agar para pejalan kaki yang super sibuk itu sejenak menghentikan langkah dan melirik barisan huruf antara a sampai dengan z yang sudah berbaris gagah.

    Salah satu dari orang-orang itu adalah aku. Ya aku, seorang bocah yang lahir di atas sajadah tanah kota kecil di Jawa Tengah. Aku juga sedang berjalan menyusuri trotoar seperti kebanyakan manusia lain. Dan hatiku juga tak memiliki niat untuk menggubris kehadiran koran yang dijajakan di pinggir jalan. Padahal mereka telah berjuang keras untuk berdandan dan bisa tampil aduhai dihadapan pembaca. Namun apa daya, kebanyakan orang di negeri ini lebih suka menonton televisi

    “Sayang sekali, sekeras apapun kalian berjuang membius orang-orang seperti kami, kalian akan tetap terlihat minor bagi masyarakat di sini yang memang tidak suka membaca” aku tersenyum melihat koran-koran itu belum juga terbeli.

    Mereka mulai sedih, juga kecewa. Dan hal itu sepertinya memang pantas dialami sebab sampai sekarang pun belum ada pengguna jalan yang tertarik membaca, apalagi membeli. Isak tangis untaian kalimat yang bersemayam di koran itu semakin mengiris hati. Aku menjadi tidak tega dan bergegas menghampiri mereka untuk sekedar menghibur dengan setetes kalimat-kalimat penyemangat.

    Namun apa yang terjadi, tangis kata-kata itu justru makin kencang. Tubuhku gemetaran takut! Bukan! Bukan aku yang membuat mereka menangis keras-keras, aku hanya berusaha menghibur! Jiwa ini mulai membela diri saat vonis tersangka dijatuhkan ke arahku sebab sedari tadi hanya sosok bocah inilah yang berdiri di dekat koran-koran pinggiran jalan itu. Sssst diamlah…

    Mereka mulai mengatakan sesuatu yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Mereka minta agar bisa menjadi salah satu bagian hal penting dalam kehidupan manusia di muka bumi, termasuk di wajah Indonesia. Juga menjadi sosok yang akan berpengaruh dalam kemajuan zaman.

    “Itu mustahil! Kalian hanya seonggok…”

    Belum selesai ku melempar ucapan, jerit tangis kembali terdengar. Sepertinya untaian kata-kata itu sensitif dengan kata ‘mustahil’ yang kukatakan. Dimana kata tersebut berarti tak ada lagi sesuatu bisa dirubah. Dan mereka pun langsung putus harapan dan meledakkan lagi bom-bom kekecewaan yang tadi belum dinyalakan seluruhnya.

    Telingaku panas, kepalaku pusing, tanganku bergetar, saat bom-bom pilu itu sengaja dijatuhkan di atas perasaan ini. Rasa lelah, sedih, tersayat, dan tidak tega mulai merasuk ke relung hati. Apalagi kala mereka sengaja bersama-sama membentuk barisan air mata dan dengan kompaknya meledak tanpa jeda, sungguh tubuh ini seakan ikut terjerumus ke dalam pusarannya.

    “Baiklah, aku akan membuat kalian menjadi penyumbang terbesar dalam revolusi di dunia ini!” aku memberi titik terang

    Yihaa! Sekarang bom pilu yang sempat meledak berganti menjadi bunga-bunga matahari yang bermekaran di ujung hari. Aku terkesima, sekaligus prihatin melihat berbagai media cetak yang berisikan kalimat pembangun jiwa berilmu harus teronggok tak berdaya di hadapan kebiasaan masyarakat bumi pertiwi yang tak suka membaca.

    Tak mungkin merubah tabiat manusia yang tidak gemar membaca. Dan tak bisa pula bagi untaian kata itu untuk terus tampil di pinggiran jalan dan berteriak-teriak merangkul pembeli yang tidak banyak. Mereka sudah bersuara sangat keras, dan rasanya ini bukan soal kemampuan kata-kata itu untuk tetap tampil seksi tapi soal terlalu minimnya para penikmat media cetak.

    Aku bergegas menghampiri pedagang koran untuk mengadakan transaksi pembelian. Lagi-lagi untaian kata itu berteriak-teriak, berharap salah satu dari mereka terpilih, tapi bagaimana mungkin? Aku hanya mampu membeli satu! Uang sakuku tidak banyak! Kebimbangan kembali memenuhi benak ini.

    “Maafkan aku, tak mungkin semuanya kuboyong!” begitu saat ku sudah memilih satu dan tak menghiraukan teriakan yang lain.

    Kaki ini melangkah pulang menuju rumah sambil menimang-nimang, akan aku apakan untaian kata-kata ini sampai suatu saat nanti ia bisa dilirik lebih banyak orang di pinggiran jalan.

    Untaian kata bukanlah benda yang multifungsi, mereka tak bisa digunakan untuk menerangi malam maupun menyibak rumput ilalang. Mereka hanya coretan yang terbujur kaku tak berdaya, mereka tak bisa berbuat apa-apa bila tak ada seseorang yang menahkodai iramanya.

    Saat kubaca dengan seksama di rumah, sebenarnya gerak-gerik kata-kata ini cukup ciamik, dan samasekali tak ada yang mengisyaratkan bahwa mereka tak menarik. Mereka bagus, sangat bagus hanya saja tak semua orang mau melirik.

    Hmmm, sepertinya memang racikannya kurang sedikit gula, aku coba menuangkan gula pada kata-kata itu agar lebih manis. Namun setelah gula ditambah, rasanya justru semakin tidak enak. Untaian kata itu meronta-ronta, mereka ingin dikembalikan ke bentuk semula. Tapi apa daya, aku tidak pandai meracik kata, mungkin aku bisa menambahkan sedikit garam. Slurrp! Uhuk! Rasanya makin tidak karuan.

    “Maafkan aku!” aku benar-benar sudah menyerah

    Untaian kata-kata itu berkecamuk. Sungguh aku membuat semuanya jadi semakin berantakan. Aku tidak pandai membumbui kata. Harus bagaimana lagi agar semua bisa berakhir baik? Kucoba berpikir lebih keras, sampai kepala dan seluruh tubuhku berkeringat.

    Ketika melihat bunga melati yang tumbuh subur di pekarangan rumah, aku mendapat ide untuk segera memetik dan menaruhnya tepat di atas untaian kata yang sedang protes dan meronta-ronta itu. Terlihat sedikit lebih baik, walau jika dicicipi rasanya tetap saja aneh! Namun ku tak punya pilihan lain dan bergegas kucampur dengan bumbu-bumbu yang tidak masuk akal. Sudahlah! Lagipula aku sudah berusaha keras.

    Saat seseorang tak sengaja lewat di depan rumah, aku menghentikannya dan kutanyai pendapat tentang racikan kata-kata yang baru saja matang dan masih berkepul-kepul hangat itu. Tapi jawabannya sungguh membuatku bagai tertusuk duri. Aneh! Tidak enak! Terlalu asin! Terlalu manis! Bahkan ada yang menyarankan untuk membuang bunga melati yang menurutku justru menjadi daya tarik karena baunya yang wangi. Aku sudah kehabisan akal.

    Tapi walau akalku tak lagi mensuplai ide, peralatan di depanku masih teronggok berserakan pertanda mereka siap digunakan. Ada gergaji, pisau, linggis, payung dan berbagai benda lainnya yang sudah memberi aba-aba siap tempur. Tanganku sudah siap, masker dan kacamata tertempel sempurna di ujung wajah. Hasrat menulisku terbakar. Apapun yang terjadi, aku ingin membuat kata-kata ini menjadi indah layaknya alam nirwana.

    Kumpulan kata yang bercampur aduk tak karuan itu kembali meronta-ronta. Mereka melompat kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Segera turun dari meja eksekusi dan berlari mencari jalan keluar dalam suasana ruangan yang gelap ini. Mereka tidak takut akan suasana tanpa cahaya, mereka hanya takut dengan diriku yang kini memegang payung dan sendok di kanan dan kiri bak pejuang. Mereka berpikir bahwa aku akan menghancurkan kalimat indah itu satu persatu.

    Padahal aku hanya ingin menyuapi mereka dengan berbagai kesenangan yang membuat untaian kata itu lebih segar. Dan payung ini hanya untuk melindungi kalian dari kotoran-kotoran dari atap bila tak sengaja jatuh dan membuat penampilan yang semula bersih menjadi penuh debu.

    “Tak ada maksud lain kawanku” aku dengan santai mulai meyakinkan mereka
    Perlahan untaian kata itu mulai beranjak dari aksi brutal mereka dan merelakan diri untuk tetap terbujur kaku di atas meja eksekusi. Bahkan sudah berpasrah dengan linggis maupun gergaji yang terpasang kuat di tangan kanan dan kiri.

    Aku memang bodoh mengenai pemeliharaan kata-kata. Gara-gara aku, mereka jadi tak bisa tumbuh dengan baik. Dan hasilnya jauh dari kata memuaskan. Mungkin masih lebih baik bila susunan kalimat-kalimat tanpa dosa ini tidak kuapa-apakan. Namun bila tugas ini tidak selesai aku akan mengkonversi banyak waktu yang seharusnya berguna menjadi tak bernilai tambah.

    “Maaf bila ini sedikit menyakitkan!” aku berbisik

    Sengaja kubentur-benturkan serpihan kata-kata itu dengan serpihan kata indah lainnya. Ada yang berhasil dan terlihat keren namun banyak juga yang menjadi semakin tak berbentuk. Dengan alat-alat sederhana seperti lem yang sebenarnya tidak terlalu memiliki daya rekat yang kuat ini, aku bereksperimen.

    Bila gagal maka kata-kata itu meletup-letup seperti gunung berapi yang akan meletus. Namun bila sukses bisa menjadi adonan magma yang garang, ganas, dan tidak melu-malu untuk menampakkan keberanian di hadapan pembaca. Tapi untuk menyelaraskan berbagai jenis kata yang bercampur itu bukan prahara gampang. Aku perlahan mulai terbiasa melakukannya hanya karena semangat dan kemauan yang berependar dalam hati. Tak ada yang bisa kulakukan selain berjuang untuk tetap memegang erat berbagai peralatan perang yang ala kadarnya. Diri ini memang lemah, lembek, mudah letih dan sering lebih memilih menyerah daripada berusaha. Tapi untuk kali ini aku tak akan pernah meninggalkan meja eksekusi yang berisi kalimat-kalimat indah ini sebelum semuanya memasuki tahap coda.

    Peralatan ini tak akan berfungsi maksimal bila tidak terdapat tangan-tangan penuh semangat dan peluh keringat yang bersedia untuk merajut kata-kata terdampar yang ada di ruang ini menjadi semakin bercahaya di balik media cetak.

    Kadang bila tak tersedia peralatan, aku mencoba untuk mengajak untaian kalimat-kalimat itu untuk saling berkenalan satu sama lain saja. Berasal dari mana dan dimana engkau biasa dipajang adalah pertanyaan yang jamak terdengar di tahap pertemuan itu. Dan pada akhirnya merekalah yang akan mencari jalan masing-masing sehingga bisa berfungsi dengan sendirinya dan membentuk barisan-barisan unik.

    Aku tersenyum.

    Tapi kata-kata itu kadang juga tak ingin diatur dan bergerak semaunya. Namun itulah yang membuat sebuah kalimat memiliki imajinasi yang liar dan tak membosankan. Dan aku pun membiarkannya.

    Biarlah mereka sesuka hati berkelana dan saling baku hantam. Aku hanya akan mengawasi saja. Yang penting kata-kata itu bergerak seirama dengan batas-batas kewajaran akan perilaku yang sudah kulingkarkan di meja eksekusi sebelumnya.

    Mereka tak boleh keluar dari “sarangnya” sebab hal itu akan sangat berbahaya dan bisa mengundang reaksi buruk dari para pembaca. Bahkan bisa membuat semangat menulis yang tertanam tak lagi memiliki nilai guna. Sebab biarpun menulis adalah seni, tapi itu semua memiliki batasan. Dan kita akan berputar-putar di area itu untuk mengekspresikan kreativitas.

    Meski kreativitas hanya sebatas peluh keringat dan tak bisa meluapkan kemampuanku yang hanya sepanjang galah, aku tetap terus berusaha. Sebab jiwaku telah mengisyaratkannya. Aku tak boleh mensia-siakan segala yang telah tumbuh di tubuh mungilku. Semua yang diciptakan pasti memiliki sebab terbaik, bahkan sesuatu yang paling buruk sekalipun.

    Sampai hari ini, meja eksekusi, peralatan, dan untaian kata inilah yang membuat hari-hariku terasa lebih indah dan tidak kaku. Aku amat sangat bersyukur dengan semua yang tersedia dihadapan wajah lelah ini.

    Untaian kata itu akan terus terbang mengitari batas cakrawala. Mereka menyemprotkan berbagai ilmu yang akan berguna bagi nusa dan bangsa. Dan untaian kata itu akan berteriak-teriak memanggil meja eksekusi yang menjadi rahim dari kepiawaian mereka untuk tetap tampil energik di hadapan pembaca setia.

    ***

    Penulis: Nufa.

    Kelas C MKN UGM 2015: Selamat Ulang Tahun buat “Natalia Cinintya”

    Natalia Cinintya.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 memberikan ucapan selamat pada salahsatu teman kelasnya yang bernama “Natalia Cinintya” pada 13 Desember 2015.
     
    Natalia Cinintya di dalam kelas biasa dipanggil teman-teman dengan sebutan ibu sekretaris, dipanggil demikian karena dalam Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 saudari Natalia Cinintya dipercayakan teman-temannya menjadi sekretaris kelas.

    Semua teman-temannya dari Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 memberikan ucapan selamat atas hari jadinya. “Happy bday natali.. wish you all d'best! cepet pulang ke jogja dengan selamat dan jangan lupa bawain oleh2 dari tour jatim-nya ya (Crying With Laughter Guy),” ungkap Suryaning Fitri R. Selamat ulang tahun ibu Natalia SH, Semoga panjang umur dan langsing ya biar makin lincah main badminton nya, amiin” cetus Rizky Anlafater. “Selamat ulang tahun cik lia. Semoga panjang umur, sehat selalu, smoga cepet maen ke palembang yah, ketemu abang palembang yah,” ucap Khoirunnisa.

     “Selamat Ulang Tahun yach ibu sekretaris, semoga panjang umur, sehat dan sukses selalu serta tercapai segala apa yang dicita-citakan dan disemogakan. Aamiin,” cetus Jamil. [MJ / PewartaNews]

    Kelas C MKN UGM 2015: Selamat Ulang Tahun buat “Wenny Arimbi”

    Wenny Arimbi bersama rekan2 saat rayakan Ultah.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 memberikan ucapan selamat pada salahsatu teman kelasnya yang bernama “Wenny Arimbi” pada 12 Desember 2015.

    Wenny Arimbi biasa di pangil teman-temannya dengan sebutan Onty. Kata Onty berasal dari kata Aunty (Tante). Ingin tahu banyak tentang Onty, bisa langsung datang di Fakultas Hukum UGM, barangkali dipertemukan suatu waktu saat Onty sudah menjadi notaris, untuk suatu urusan pembuatan akta otentik.

    Semua teman-temannya dari Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 memberikan ucapan selamat atas hari jadinya. “Selamat ulang tahun mbak wen, semoga selalu diberikan kesehatan dan keberkahan ya,” ucap Arsadt.

    Selain itu rekan-rekannya yang lain pun tak mau kalah untuk memberikan ucapan selamat, “Semoga panjang umur, panjang sabar dan yang paling penting tambah panjang angka 0 di rekening tabungan pribadinya. Hehehe.” Ungkap Yohannes Ivan sambil tersenyum.

    “Azeegg. happy bday onti Wenny, semoga apa yang onti semogakan lekas terkabul, amiin.” Suryaning Fitri R berucap. “Selamat Ulang Tahun yach onty Wenny Arimbi, semoga panjang umur, sehat dan sukses selalu serta tercapai segala apa yang dicita-citakan. Aamiin,” cetus Jamil. [MJ / PewartaNews]

    Kelas C MKN UGM 2015: Selamat Ulang Tahun buat “Muhammad Achsan Rumi”

    Muhammad Achsan Rumi.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Para mahasiswa Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 memberikan surprice pada salahsatu teman kelasnya yang bernama “Fuja Hadi Saputra” pada 26 November 2015 usai kuliah kelas C tersebut berlangsung di gedung IV Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan disambut oleh lilin Ulang tahun yang dibawakan teman-teman kelasnya.

    Muhammad Achsan Rumi merupakan salahsatu putra Makassar yang kini ambil studi strata dua (S2) pada Program Pascasarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Semasa kuliah starata 1 ia ambil S1 Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Hasanudin Makassar.

    Banyak ucapan selamat untuk Fuja Hadi Saputra, terutama dari para rekan-rekannya di  Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015. Satu persatu para teman-temannya bergegas menghampi dan memberi salam ucapan selamat. Ketua Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 yakni dari saudara Bahtera Teguh Ananda juga ikut memberikan ucapan selamat. “Selamat ulang tahun Achsan, semoga panjang umur yach”, ucap Bahtera Teguh Ananda. Datang  lagi temannya yang lain untuk memberikan selamat, “Selamat Ulang Tahun yach bro, semoga panjang umur, sehat dan sukses selalu serta tercapai segala apa yang dicita-citakan, dan yang tak kalah pentingnya semoga kuliahnya lancer tanpa hambatan. Aamiin,” ungkap M. Jamil.

    Usai pemberian ucapan selamat dari para teman-temannya, tidak lupa juga diakhiri dengan foto-foto bersama untuk mengabadikan momen tersebut. [MJ / PewartaNews]

    Kelas C MKN UGM 2015: Selamat Ulang Tahun buat “Fuja Hadi Saputra”

    Fuja Hadi Saputra
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Puluhan mahasiswa Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 memberikan surprice pada salahsatu teman kelasnya yang bernama “Fuja Hadi Saputra” pada 26 November 2015 usai kuliah kelas C tersebut berlangsung.

    Bergegas Fuja keluar dari gedung IV Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan disambut oleh lilin Ulang tahun yang dibawakan teman-teman kelasnya. Mata berbinar, senyum yang sumbringat terpancar dari wajah Fuja Hadi Saputra saat menyaksikan surprise yang dipersembahkan para teman kelasnya.

    Fuja Hadi Saputra merupakan putra daerah yang mana familiar dikenal dengan Laskar Pelangi. Semasa kuliah starata 1 ia ambil S1 Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan kini ia ambil S2 pada Program Pascasarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

    Banyak ucapan selamat untuk Fuja Hadi Saputra, terutama dari para rekan-rekannya di  Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015. Satu persatu para teman-temannya bergegas menghampi dan memberi salam ucapan selamat. Tidak lupa juga hadir ucapan selamat dari ketua Kelas C Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (MKN UGM) Yogyakarta angkatan 2015 yakni dari saudara Bahtera Teguh Ananda. “Selamat ulang tahun Fuja, semoga panjang umur”, ucap Bahtera Teguh Ananda. Datang  lagi temannya yang lain untuk memberikan selamat, “Selamat Ulang Tahun buat Fuja Hadi Saputra, semoga panjang umur bro, sehat dan sukses selalu serta tercapai segala apa yang dicita-citakan,” ucap M. Jamil. [MJ / PewartaNews]

    Pahlawan Tutup Usia

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Saat  ayah masih hidup, ia tak pernah marah.  Mukanya sejernih telaga. Ketika aku dan saudara berbuat  salah.  Ia hanya memandang, lalu memberikan senyuman. Tak lupa sebuah nasihat terhadap kekhilafan yang telah kami perbuat. Kami sangat beruntung memiliki ayah. Beliau baik dan penyayang. Anak pertama Irma, kedua  Wahid dan ketiga Nadia. Di antara mereka, anak kedualah yang sangat bandel. Selalu salah di mata ayah dibanding  anaknya yang lain. Semuanya harus tercapai, bagaimanapun dan apapun caranya.

    Terkadang ayah menegur berkali-kali. Yang kulakukan hanya berpura-pura  menundukkan  kepala. Sama sekali  tidak ada yang masuk di telinga.  Masuk telinga kanan, eggh malah keluar di telinga kiri. Aku hanya berkata, “Iya Pak, maaf  aku salah.” Besok tetap meneruskan.  Pernah suatu kali, ayah menegurku di saat keluar rumah dan memakai pakaian yang ketat. Kaos minim dan celana jins super ketat tepatnya. Mahkota ditutupi jilbab segi empat, terlihat karet merah yang tergulung di surai. Aku enjoy aja, tak peduli dengan kata-katanya sama sekali. Sungguh tragis!! Ayah selalu memperhatikan setiap apa yang kulakukan dengan sangat detail. Sekecil apapun itu. Lalai dalam shalat saja dipertanyakan.

    “Nak, kamu harus  mengubah pakaianmu, supaya kehormatan sebagai perempuan tetap terjaga. Jadilah anak baik dan sholehah.” Ucap ayah nada lembut.

    “Iya Pak, tapi sekarang udah modis. Sekali-kali tidak apa-apa menyimpang dikit.” Jawabku  spontan.

    Saat itulah senyuman ayah keluar. Ayah tidak marah, malah senyum yang mengembang. Ayah nomor satu yang kutemui di dunia. Ayah juga tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar terhadapku. Mungkin karena inilah aku jadi tidak takut kepadanya. Aku  anak  durhaka. Sering membentak ayah. Sementara saudaraku yang lain tidak. Hmm, entahlah! Yang lebih parah lagi terkait sifatku jika pengen sesuatu tapi tidak dikabulkan, maka langsung mengamuk persis orang kesurupan. Membanting piring di dapur dan berkata ayah tidak sayang padaku, tidak adillah, kenapa harus hidup dengan keadaan serba tak ada? Ayah miskin. Namun, tetap keluar nasihat di bibir tipisnya.

    Melampiaskan kekesalan  dengan berbagai cara. Kadang  nekad kabur dari rumah. Dengan cara itu  ayah mau mengerti dan mengiyakan permintaan. Walaupun tentunya ayah dan ibu sangat panik dengan ketiadaanku. Mereka merengek dan meminta segera pulang. Dari tempat  kabur itulah, aku membujuk ayah agar mau membelikan motor Ninja R. Permintaanku ditunaikan.  Ayah takut akan ancaman yang kulontarkan. Kalo aku akan bunuh diri. Akhirnya keinginan tercapai juga. Sangat bersyukur. Ternyata apa yang kulakukan tidaklah sia-sia.

    ***

    Pada sore  hari masih berkabut. Mentari menyerpihkan sinar lembayungnya. Semarga  berkumpul di beranda  rumah menyeruput kopi hitam dan kue cucuru . Kami bercanda, tertawa bersama.

    “Nak, kalian harus lanjut Sekolah. Kalian  harus sopan dan saling menghargai  sesama. Dan yang paling penting, jaga ibumu.” Ucap ayah nada tak jelas, masih mengunyah kue.

    “Mau ke mana? Kok ngomon seperti itu. Kayak mau pergi saja.” Desak ibu, senyum terkupas. Namun, ayah hanya mengalihkan pembicaraan.

    Sore itu ayah bercanda tanpa henti tak seperti biasanya. Kami juga larut dalam canda tawanya. Tak terasa malam telah tiba. Saat itu aku merasakan ada sesuatu yang aneh di rumah. Tidak seperti biasanya, terasa sangat sepi. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian. Pada malam itu kak Irma pergi ke rumah tante berziarah. Aku pun ingin ikut. Saat  turun di tangga rumah. Aku berpapasan dengan ayah. Ia baru saja menunaikan salat Isya di masjid Pabbaeng-baeng.

    “Nak, kamu mau ke mana? jangan pergi! Sudah larut, lebih baik mengaji dan belajar. Lebih ada manfaatnya!” Ucap ayah sangat pelan, seperti muallaf yang mengucapkan syahadat. Sejanak  kulirik rautnya,  pucat dengan tarikan napas yang lemah.
    “Iya Pak, pasti pulang kok.” Nadaku lantang.

    ***

    Malam semakin larut. Embun pun turun. Kak Irma  tidak mau pulang. Katanya mau menginap. Aku membujuk agar  pulang  tapi  tetap ngotot. Ya, terpaksalah  aku menginap. Pukul 12.00 WITA. Aku terbangun dan langsung  mendengar nada ibu  menangis histeris. Rumah tante hanya bersebelahan dari rumahku. Aku sangat panik dan takut.  Akhirnya kubangunkan kakak dan tante. Segera  kubuka bilik rumah. Kami berpegangan tangan. Gemetar seperti korupsi yang akan digergaji.

    “Aku takut, Kak. Apa yang terjadi di rumah kita? Jangan-jangan ada perampok?” Tanyaku. Bukan jawaban yang kudapat. Hanya kecewa.

    Kami pun berlari dengan kencang.  Mulut  anjing  semakin dekat di betisku. Dikiranya kami perampok. Aku merasa takut. Namun, rasa takut itu kuabaikan. Ketika mencapai  tangga rumah, kami bingung. Kenapa banyak sandal jepit? Setelah melewati ambang  pintu, bola mataku seakan copot sebelah kanan.  Sosok ayah  yang terkapar di atas tikar coklat. Aku melangkah  memeluk ayah, berusaha membangunkan. Air bening bercucuran di sebuah baju kaos coklat  yang lengket di badan. Warga  pada panik. Ada yang membasuh  air putih, ada yang bayfon dokter, adapula yang beri napas buatan. Tapi  ayah tetap menutup mata dan bungkam.

    “Innalillahi Wainna Ilahi Rojiun.” Nada Pak kumis, baju hitam disebelahku. Sepertinya dia Sanro .

    Aku langsung shok, tak mengira akan kehilangan pahlawan. Pahlawan yang selama ini kuabaikan,  kubentak dan kusakiti. Pergi tak pamit  “Oh, tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Ini tidak mungkin terjadi Tuhan!” Aku tetap memeluk jasad ayah sambil berteriak histeris. Semenit berlalu, kuputar leher ke  kanan.  Ada ibu di kursi tak sadarkan diri.  Kak Irma pun hanya tunduk membisu, bibirnya seperti digembok diam membisu.  Nadia  yang masih balita ikut merengek. Mungkin dia paham kalo detik ini akan jadi anak yatim.

    Malam hingga dini hari, mataku berubah seperti mata cina yang terdampar di hutan.  Kini sesal dalam diriku datang. Atas tingkah dan sifat yang kumiliki selama ini. Mengapa aku tidak pernah mendengar perkataan ayah saat ia masih ada? Penyesalan memang selalu datang di belakang . Aku merasa sangat berdosa pada ayah. Maafkan aku ayah! Maafkan anakmu ini yang durhaka kepadamu! Aku ingin menghukum diriku. Andai kutahu  ayah cepat pergi, maka aku akan berbakti padamu.

    Trauma ditinggalkan orang yang sangat berarti dalam hidupku takkan pernah hilang sampai kapanpun. Ayah pergi, tidak ada lagi yang menasehatiku. Aku belajar dari pengalaman, kalau apa yang kulakukan selama ini salah. Aku harus berubah! Seperti yang  dinasehati ayah dulu. Ayah, aku ingin curhat padamu dan bercanda seperti dulu lagi. Aku ingin berkata kalo ayah itu bawel tapi menyenangkan.


    Samarinda, 14 November 2015

    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Perempuan kelahiran Bulukumba, 09 Nopember 1994. Jurusan Manajemen  Obat dan Farmasi, AMA Yogyakarta. Dapat hubungi via Email: Nurwahidah@yahoo.com.


    Aku Tak Mengenal Definisi Rasa Takut Part 2 [Botol Aqua]

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Pukul  empat sore,  saat itu aku bergagas pulang.   Aku melangkah turun  dari  mesjid Islamic   Center.   Menarik   napas  panjang membiarkan  hembusan angin menampar busana yang kupake. Sore yang mendung  dengan awan hitam menggelayut di langit. Aku melangkah begitu pelan. Beberapa orang di sebelah kananku berdialog,  di sebelah kiri seorang lelaki lajang sibuk memencet handphone.

    Perjalanan pulang di  kos-kosan kupikir, bisa sampai hanya beberapa menit. Tapi, dugaanku   salah.  Aku   memasuki gang 7   dan keluar di gang  12.  Seharusnya aku berada di gang 10. Aku melap  keringat di dahi,  jantung mulai berdebar kencang.  Sepertinya aku tak bisa pulang.

    Saat itu aku menyapa dua orang lelaki.  Mereka  mengenakan pakaian  warna hijau.  Kembar. Tubuhnya compang-camping. Ceceran daki mengering disekujur  pakaiannya.  Tapi, bukan aroma amis yang menyeruak   sampai jarak enam puluh meter.  Seperti dipenuhi semerbak bunga  bangkai  setaman hidungku saat  itu aku mendekat, perlahan menahan napas.  Aku mulai menyerengai biar terlihat ramah.  Di tangan mereka tergenggam botol  Aqua  dan karun. Usia mereka sekitar dua puluh tiga tahun.  Wajah Flores  mereka terlihat jelas.

    “Kenapa Dek?” Salah satu diantara mereka  membalas senyumanku. Ia pun membuka dialog.
    “Kak, aku bingung. Mau pulang di gang 10, tapi tak tahu di mana?” Nadaku gemetar. Persis orang yang lihat Dajjal.

    Aku masih ingat pesan kakak Rice, jika  bertemu dengan orang baru. Tidak boleh terlihat polos.  Apalagi di sini kota besar, sudah ada  kejadian awalnya berkenalan  tak di antar   pulang tapi diajak ke  tempat maksiat.   Di perkosa lalu di bunuh. Meskipun begitu, aku tak boleh berburuk sangka. Toh, Memang kenyataannya harus bertanya dari pada  kesasar. Di belakang mereka, berjejer  karun,  kardus dan kumpulan nyamuk yang menyebar di sana-sini.
    “Pekerjaan kakak seperti ini? Tanyaku, menaikkan alis kiri.

    “Iya, Dek. Beginilah adanya kalau tak  punya ijazah. Apapun pekerjaannya harus diterima.  Hidup ini sangat kejam,   lebih kejam dari ibu tiri.” Ucap lelaki yang dari tadi sibuk menyusun botol Aqua ke dalam  karun.

    Kutelan air ludah  tergesa-gesa.   Ternyata masih banyak   orang yang pengen  Sekolah lalu  punya ijazah, biar dapat pekerjaan  yang layak.  Aku harus lebih bersyukur karena sudah menikmati indahnya Sekolah. Apapun perkerjaan kita harus dijalani dan tak boleh gengsi. Tidak apa rendah di mata manusia, yang   penting mulia di sisi sang Kholik “Aku harus seperti mereka, mencari botol di  jalanan, di tempat sampah. Demi sesuap nasi, dan bisa bertahan hidup dirantau.”Pikirku.

    “Kak,  ada lowongan?” Ucapku penuh antusias.
    “Sampeang mau jadi pemungut botol?” Wajah lelaki itu tiba-tiba pucat, mulutnya mengangah.

    “Iya, Kak. Aku butuh uang makan.” Nadaku mulai rendah, tunduk kayak patung.
    “Hmmm. Baiklah, kapan mulai berkerja? Jika benar kamu ada niat cari duit. Kami tunggu besok pukul 07.00 ” Ujar lelaki itu sambari mengupas senyum, gigi putihnya mengalihkan duniaku.

    “Besok Kak.” ucapku agak manja” Kak bisakah antar Nidar pulang di gang 10?” Lelaki itu hanya mengangguk.

    Tepat pukul 5.30  aku terbangun tiba-tiba   leher   terasa sakit. Bagaimana tidak, sudah 2 bulan tidurnya di karpet. Bergegas aku bangkit shalat subuh lalu  mandi, untuk kemudian berangkat ke tempat kerja tanpa secuil sarapan.  Biarkan saja kutahan lapar, hanya aku dan  sang Kholik yang tahu indahnya derita. “Tuhan, jika memang ini sebuah cobaan untukku? Tolong   ajari hamba seperti apa besarnya arti kesabaran?”Ucapku sambari melangkah turun ke tangga yang terbuat dari kayu. Tiba di gang  12. Kulihat lelaki Flores di pinggir jalan, karun sudah bertengger di pundaknya. Ia  terlihat masem-masem

    “Gimana hari ini Nidar, sudah siap pungut botol?”
    “Iya Kak.”jawabku spontan.  Kucubit paha terasa  sakit dan  memang nyata. Hari ini aku harus cari botol di jalan, di tempat sampah. Dan aku jadi pemulung.

    “Ayo kita mulai.” Ucap lelaki Flores, terlihat semangat.  Sedang aku persis ikan paus yang di panggang di pinggir nereka jahannam.

    Samarinda kota  Tepian.   Pohonan berjejer rapi, udara pagi menyambut kedatangan kami. Kulihat beberapa botol yang bertengger   di sebelah,  perempuan yang sibuk mengunyah   roti  Sweet Bakery. “Betapa lelahnya orang –orang yang nyari   botol  setiap hari biar bisa  hidup. Dan  ternyata Tuhan memihakku.   Aku yang sekarang berada diposisi  yang sama dengan mereka. Tak apalah namanya juga  perjuangan, dan aku harus ingat pesan Bapak. Jadi pahlawan.”Ucapku dengan mulut berkomat-komit.

    Jam empat lewat  tiga menit kami mondar-mandir nyari botol. Tak banyak yang kudapat hari ini . Hanya dua puluh botol aqua. Kami pulang,   tiba di gang 12 kutengok  lelaki Flores  terlihat lelah. Ia pun mengambil karun yang kupegan lalu masuk di sebuah rumah  gubuk, masih banyak sampah yang terhambur.  Kududuk dekat botol. Mengatur detak  jantung yang semakin melemah.

    “Ini Dek,  Rp.20.000.”Ujar lelaki Flores, sambil mengelurkan tangan kanannya ke arahku.

    “Iya, Kak terima kasih.”ucapku penuh antusias dan  pamit  pulang. Hari ini sudah kuhafal arah gang 10.

    Aku bangga dan percaya diri, kalau apa yang kulakukan tidaklah sia-sia. Tiba di sebelah kosan,  kulihat spanduk “Paket Hemet Rp.10.000”  aku pun mampir beli nasi telur dan sisahnya tinggal sepuluh ribu.  Kubelikan  air minum dan dua potong donat coklat. Seperti biasanya, aku harus menaiki tangga agak pelan. Tiba dikamar, banyak pakaian yang berhamburan di atas kopor. Novel “Pulang” penulis  Tere  Liye, masih mengangah lebar. Ternyata belum selesai kubaca. Kubuang badanku dikarpet, menatap lelangit kamar.

    “Aku hanya seorang  pemulung.  Pemulung kaleng   bekas. Botol  aqua dan gelas air minum bekas. Peristiwa demi peristiwa yang membekas, mungkin ini jalan terbaik  yang Tuhan berikan kepadaku. Sejak kepergian Bapak, membuatku persis ikan bandeng diambil tulangnya. Kepergiannya selalu meredupkan semangatku.   Heran,  kenapa beliau sering muncul saatku terlelap? Andai tak ada keyakinan yang kupegan, sudah dari kemarin meneguk pupuk kandang.”

    “Aku bersyukur kedatangan mereka. Ya, mereka yang kuanggap orang hebat, dan selalu memberi motivasi, Bang Darwin, kak didik, M. Jamil, kak Faisal, kak Rice, Kak Tari, Dia, Rati, Dika, Sarwan  dan masih banyak lagi. Terima kasih.” Ucapku nada melemah.

    ***

    Tak terasa sudah memasuki dua minggu mungut botol Aqua dengan upah  Rp20.000/hari.  Jika ada lebihnya tetap   selipkan di dompet merah   pemberian mamak.  Hari ini hari minggu. Aku  libur, lebih banyak menghabiskan waktu membaca lalu  tidur di kamar. Kepalaku terasa sakit, dan pengen muntah.

    Tak ada yang bisa kulakukan selain sabar.  Aku tak boleh minta tolong dengan   lelaki lajang yang ada di sebelah kamarku. Nanti dikira ganggu waktu istirahatnya. Kubuka  Netbook, warna biru. Jemari masih kuat mengotak-atik keyboard. Film horor “Hantu di atas Genteng” alurnya ceritanya sangat lucu.  Aku tidak tertawa dengan lolucon yang kadang kala sangat lucu.  Aku tak pengen tertawa saat badan mulai lemas. Buat apa? Setelah tawa tersebut, aku tahu persis bahwa tak akan sembuh dengan tiba-tiba.


    Samarinda, 05 November 2015

    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Perempuan kelahiran Bulukumba, 09 Nopember 1994. Jurusan Manajemen  Obat dan Farmasi, AMA Yogyakarta.  Dapat hubungi via Email: Nurwahidah@yahoo.com.

    Selfie Tak Lagi “Cantik”

    Cahya Adijana Nugraha
    PewartaNews.com – Saat ini ditemukan fungsi selfie yang cukup bahaya, yaitu untuk menyebarkan terror. Penggunaan selfie tidak lagi sebagai ruang pamer dan membuktikan gaya hidup saja. Tetapi penggunaannya juga untuk menyebarkan terror. Ketakutan yang diberikan teroris dilakukan dengan menyebarkan foto selfie melalui media maya atau cyber. Sebut saja cyber terror.

    Seperti yang dilakukan 2 gadis Swedia berusia 17 tahun yang mengambil gambar selfie sebelum melakukan perampokan pada tahun 2013 lalu. Mereka berpose dengan menggenggam pisau dan berpakaian layaknya perampok. Secara tidak langsung mereka telah menyebarkan perasaan tidak aman karena 2 gadis saja mampu melakukan perampokan. Jelas ini salah 1 (satu) bentuk terror kepada masyarakat, dan juga, mantan pemain football New England Patriot Tight End dituduh melakukan pembunuhan dan telah mengambil foto selfie sambil memegang pistol. Aaron Hernandez untuk Boston Bandits telah membunuh Odin Iloyd.

    Ada juga peristiwa yang dilakukan oleh Justin Bahler (21) yang penulis kutip dari www.viralnova.com/stupid-crime-selfies/. Sebelum merampok Bank, dia memposting foto selfie ke akun facebooknya dengan menenteng pistol. Penyidik menangkapnya dengan mengenalinya lewat kamera keamanan Bank di Michigan yang dirampok Justin. Maka menurut penulis, setiap tindakan yang dapat memicu terjadinya ketakutan, tindak kekerasan, kerusakan melalui jaringan computer atau network disebut sebagai cyber terrorism.

    Tanpa ada campur tangan pemerintah dan orang-orang yang ahli dalam bidang cyber, maka penyebaran terror ini dapat membuat trauma dan kepanikan. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saja tahun 2013 mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Mereka semua berpotensi diserang para teroris di dunia maya.

    Penggunaan internet sekarang merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat. Dengan kemudahan penggunaan internet, entah perorangan atau kelompok dapat menciptakan ancaman dengan sangat mudah melalui dunia maya. Menggunakan akun palsu atau situs underground memungkinkan teroris sulit untuk dideteksi. Sedangkan, ancaman biasanya ditujukan kepada kelompok-kelompok khusus, misal agama tertentu, suku bangsa, atau komunitas yang lain yang dianggap bertentangan dengan penteror.

    Dengan perkembangan yang cepat pada interconnection network atau internet, masalah cyber terror akan semakin kompleks dan sulit diatasi. Sabotase atau pengambilalihan suatu sistem global pada jaringan komputer menjadi ancaman yang lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan seluruh manusia.

    Penyebaran foto selfie yang dapat mengakibatkan terror bisa dilakukan dengan cara mem-broadcast foto tersebut. Seperti yang dilakukan etnis Tamil pada tahun 1997 yang ditujukan kepada Kedubes Srilanka di manca negara. Mereka mengirim 800 pesan elektronik setiap hari yang berisi tulisan,” Kami adalah The Internet Black Tiger dan kami melakukan hal ini untuk melumpuhkan komunikasi data anda”. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas kejahatan email (email bombing, email harrasment, email spoofing, etc.)

    Di Amerika Serikat, pada bulan Februari 1998 telah terjadi serangan (breaks-in or attack) sebanyak 60 kali perminggunya melalui media Internet terhadap 11 jaringan komputer militer di Pentagon. Dalam cyber attack ini yang menjadi target utama  adalah departemen pertahanan Amerika Serikat (DoD). Dengan pengetahuan manusia terhadap jaringan computer yang luas, maka serangan seperti di atas dapat ditujukan kepada pihak yang lebih luas juga. Tidak hanya 1 kantor, tetapi bisa ke suatu kumpulan masyarakat dan sistem pemerintahan suatu negara. Bahkan dunia internasional pun akan menjadi sasaran operasi serangan.

    Seperti yang terjadi juga di Cina pada bulan Juli 1998, sebuah perkumpulan cyber terrorist atau crackers terkenal berhasil menerobos masuk kepusat komputer sistim kendali satelit Cina dan berhasil mengacaukan “selama beberapa saat” sistem kendali sebuah satelit milik Cina yang sedang mengorbit di ruang angkasa. Tujuan utama dari aksi adalah untuk melakukan protes terhadap gencarnya investasi negara barat di Cina.

    Belajar dari luar negeri
    Respon negara-negara di dunia terhadap cyber terror sudah sangat serius. Cyber Blue Team dibentuk pada Mei 2011 oleh Departemen Pertahanan Cina sebagai unit pertahanan online. Blue Army adalah sebutan lainnya terdiri dari 30 elite spesialis internet. Mereka secara resmi bekerja untuk mengatasi serangan cyber.

    Begitu pula yang dilakukan oleh Negara Estonia Baltik, mereka dan NATO pada tahun 2008 membuat pusat pertahanan cyber baru. Hal ini disebabkan karena negara tersebut diserang oleh sistem Dennial of Service (DoS) yang telah membuat negara offline. Sistem pelayanan yang bergantung pada internet lumpuh total selama 3 minggu pada tahun 2007. Seluruh sarana di Estonia meliputi sistem komunikasi, sistem perbankan, hingga akses ke informasi kesehatan mati untuk beberapa waktu. Estonia sendiri bergabung dengan NATO sejak tahun 2004. Sedang pada tahun 2008 dengan pusat pertahanan cyber baru, mereka melakukan penelitian dan pelatihan cyber pada perang di Tallin.

    Jikapun pemerintah Indonesia belum mampu untuk melakukan hal yang sama seperti Cina dan Estonia, masih ada jalan untuk meminimalisir serangan cyber terror yang ditujukan kepada masyarakat. Langkah pertama adalah dengan memfilter atau menyaring foto-foto yang sekiranya dapat menimbulkan ketakutan dan ancaman terror yang lain. Foto-foto selfie dengan senjata atau sedang melakukan kegiatan yang berbau sadistic dan criminal dihapus otomatis oleh sistem. Penggunaan software White Paper Executive Summary cukup mampu membatasi spam gambar dan tingkat kesalahan software ini rendah dibanding provider keamanan lainnya.

    Kemudian, blokir akun atau web yang menyebarkan ancaman. Menggunakan program monitoring, situs-situs yang spesifik dapat diblock. Manfaat memblokir situs adalah tidak ada timbal balik dari korban, entah itu masyarakat umum atau pemerintah dengan teroris. Teroris tak bisa mengirim data-data ke sasaran dan masyarakat tak dapat melihat atau mengetahui ancaman-ancaman yang disebarkan. Sehingga tujuan dari terorisme tidak tercapai.

    Langkah ketiga adalah dengan menangkap pelaku terror dengan teknologi face tracing (pelacakan wajah). Melalui track record dari web-web yang diblokir dan foto-foto yang disharing, bisa dianalisa dan ditemukan pelakunya. Pada face tracing, bentuk wajah (hasil selfie oleh teroris) dicocokan dengan data foto yang ada pada seluruh network. Diperlukan data terbaru dari seluruh jaringan untuk mengetahui lokasi pelaku atau penteror. Foto-foto di keramaian pasar, dideteksi satu persatu wajah yang ada dan dibandingkan dengan bentuk muka teroris hingga ditemukan posisi terakhirnya kemudian dilakukan investigasi lapangan.

    Setelah melakukan hal-hal di atas, juga diperlukan sosialisasi tentang keamanan berinternet. Banyak pengguna internet tidak mengetahui perlunya keamanan dan bagaimana mengantisipasi serangan terror tersebut. Maka pemerintah dan instansi pendidikan perlu bergerak dan turun langsung ke lapangan untuk memberi pengetahuan kepada para pengguna internet yang sangat awam tentang masalah keamanan (security). Bisa dengan mengadakan penyuluhan di daerah-daerah atau juga bisa menyelenggarakan seminar tentang network security. Masalah pentingnya keamanan dan cara melakukannya bukan hanya diwajibkan diketahui orang-orang di bidang IT dan networking saja. Karena penggunaan internet sudah mendarah daging kepada banyak manusia di Indonesia.

    Selfie tidak lagi digunakan sebagai ajang pamer, lomba kecantikan ataupun pengakuan atas eksistensi diri kepada kerabat, teman, atau kolega. Selfie juga digunakan untuk menyebarkan thread atau ancaman untuk menyebar kekhawatiran, ketakutan atau melakukan protes terhadap pemerintah atau kelompok tertentu. Semoga pemerintah dan para ahli networking dapat memberantas pelaku terror dan semoga masyarakat dapat berlaku bijak dengan tidak mengunggah foto-foto pribadi yang dapat menimbulkan perasaan khawatir dan takut orang lain.

    Referensi :
    1. Ir. Kurdinanto Sarah, M.Sc.  (Koordinator ICT Lemhannas RI) 2. Kolonel Sus Dr. Ir. Rudy AG. Gultom, M.Sc. (Kabag Multimedia Biro Telematika Lemhannas RI). “CYBER CRIMES (Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?)”. 15 Juni 2014. http://www.lemhannas.go.id/portal/daftar-artikel/1555-cyber-crimes.html
    2. Adam Withnall, “Teenage girl convicted of robbery after taking pre-crime selfie wielding knife”. 17 Juni 2014. http://www.independent.co.uk/news/world/europe/teenage-girl-convicted-of-robbery-after-taking-precrime-selfie-wielding-knife-8993842.html
    3. Bint005,”Kominfo : Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang”. 14 Juni 2014.
    4. http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker#.U6RTKtKQaxs
    5. Roderic Broadhurst, Peter Grabosky, Mamoun Alazab & Steve Chon. Organizations and Cyber crime: An Analysis of the Nature of Groups engaged in Cyber Crime. ANU Cybercrime Observatory, Australian National University, Australia.


    Penulis : Cahya Adijana Nugraha
    Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Email: cahya.sragen@gmail.com

    Roeang Inisiatif Gandeng Kemenpora Selenggarakan Pelatihan Kepemimpinan

    Para Panitia berpose dengan Pemateri usai Pelatihan berlangsung
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Roeang inisiatif menggandeng Kementerian Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia (Kemenpora RI) untuk menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan pada 21 Desember 2015 di Wisma Hotel Sargede Yogyakarta. Acara berlangsung pada pukul 08.00-12.30.

    “Pelatihan ini mengambil tema Peran Pemuda dalam Mengisi Kemerdekaan (Pemuda Hari Ini Pemimpin Masa Depan). Dengan mengambil tema seperti ini diharapkan pemuda menjadi benar-benar terbekali, agar kelak menjadi pemimpin masa depan yang tanggap serta peka terhadap gejala sosial dan kemasyarakatan”, ungkap Direktur Roeang inisiatif saudara Arif Rahman.

    Pembinaan pemuda adalah salah satu element penting dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik. Roeang inisiatif sebagai Lembaga yang bergerak di bidang kepemudaan juga mengambil peran dalam membina karakter pemuda menjadi lebih bermartabat.

    Ragam elemen-elemen pemuda dan mahasiswa yang hadir dalam pelatihan ini, ada mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, UGM, UNY, Mercubuana dan elemen organisasi pemuda serta organisasi mahasiswa yang berada di kota gudeg Yogyakarta

    Sebagai bagian dari tujuan diadakannya acara pelatihan kepemimpinan ini, dalam sambutan yang disampaikan direktur ROeang Inisitif, saudara Arif Rahman mengajak para pemuda untuk menjadi calon-calon pemimpin yang muda yang berkarakter dan beritegritas. Dalam hal ini, Kemenpora yang membidangi pemuda harus lebih memperhatikan organisasi kepemudaan melalaui seminar-seminar dan pelatihan untuk menambah wawasan pemuda tentang Leadership.

    Begitu petinganya acara tersebut, Eko Suwanto selaku ketua Komisi A DPRD DIY sangat antusias untuk menghadiri acara tersebut. Dalam kesempatan memberikan materi seminar beliau mengatakan: “saya memilih datang ke acara roeang inisiatif karena pentingnya memberikan semangat kepada para pemuda sebagai para calon pemimpin masa depan”. [MJ / PewartaNews]

    Kabar Dari Pulau Bajo

    Dheyo Keanu Ch.
    PewartaNews.com – Hari itu, kami baru saja tiba di Pelabuhan Sape. Perjalanan dari Dompu yang membelah gunung dengan rute berliku-liku sangat menguras tenaga. Capek. Badan pegal. Tulang-tulangku rasanya mau lepas semua. Aku memang jarang menempuh perjalanan jauh seperti itu. Apalagi harus mengendarai sendiri sepeda motor hingga empat jam lamanya. Hmm, ya sudahlah. Demi seorang teman. Apalah artinya capek itu.

    Karena waktu sudah hampir pukul 1 siang, kami memutuskan untuk langsung menitipkan kendaraan di rumah seorang warga yang tinggal di situ. Oya, siang itu kami akan ke Pulau Bajo. Ada sahabat yang ingin kami datangi. Namun, sebelum bergerak ke sana kami harus menunggu konfirmasi darinya terlebih dahulu.

    Enggak mau buang tempo lama-lama karena takut gosong, di bawah terik matahari kami melangkah munuju ruang tunggu pelabuhan. Tiba-tiba langkah kami dihadang oleh dua orang laki-laki dengan perawakan tinggi besar. Memakai celana jeans warna biru dengan kaos oblong putih bertuliskan I LOVE BIMA. Kami sedikit takut. Apalagi ini pelabuhan, suasananya sama dengan terminal yang rawan akan tindak kejahatan.

    Keduanya melepas kacamata hitamnya sama-sama lalu menawari kami paket tour ke Pulau Komodo. Saat itu kami baru sadar ternyata mereka adalah crew sebuah biro perjalanan wisata. Kami tetap melangkah dan mereka terus membuntuti. Penolakan yang sopan enggak mempan. Mereka masih merayu sampai kami berada di ruang tunggu. Lalu mereka pun ikut-ikutan duduk. Wah, ngotot juga nih orang, kataku dalam hati.

    Dari jarak 20 meter kami menyaksikan orang-orang tumpah di dermaga. Memang sedang ada aktivitas bongkar muat di sana. Satu suguhan yang membuat kami ngantuk. Disusul aksi para calo yang mondar mandir di depan kursi panjang yang kami tempati. Bak artis di televisi mereka beradu cari perhatian dengan anak-anak berseragam sekolah yang menjajakan dagangannya. Keadaan benar-benar enggak kondusif lagi. Mereka tak henti-hentinya merayu siapa pun yang baru saja dijumpainya.

    Sementara sampah plastik berserakan di mana-mana. Bau pesing menusuk hidung. Orang-orang yang merokok, asapnya mengepul di udara. Dihirup oleh kami ramai-ramai. Huffff, praktis kami enggak bisa istirahat. Niat mengumpulkan sisa-sisa tenaga berbuah sebaliknya. Aku sendiri, badan yang pegal terasa makin pegal.  

    Enggak lama kemudian kabar dari Pulau Bajo pun sampai. Kami diminta mencari perahu nelayan yang akan ke Pulau Bajo. Biasanya banyak merapat di sekitar pelabuhan. Ongkosnya cuma Rp.2.000,-untuk satu orang. Penyeberangan dari pelabuhan Sape menuju Pulau Bajo akan menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit. Akhirnya kami cepat-cepat meninggalkan ruang tunggu dan para calon tadi itu.

    Ternyata enggak sulit menemukan perahu itu. Jika dihitung-hitung jumlahnya ada empat dengan ukuran yang hampir sama. Tapi tunggu dulu, perahu-perahu itu tak akan langsung bergerak sebelum dipenuhi oleh penumpang sesuai kapasitasnya. Jadilah kami hanya berpindah tempat duduk. Tapi masih lumayan sih duduk di perahu ketimbang di ruang tunggu tadi.

    Ketika lima orang berikut barang bawaannya sudah bersama kami. Maka dari atas perahu kecil itulah pengalaman pertama akan kutulis. Ada perasaan khawatir yang mengusik. Tapi sekuat tenaga kusembunyikan. Tau enggak kenapa? Masalahnya ada Nisa di situ sebagai satu-satu perempuan dalam rombongan kami. Jadi, enggak elok rasanya jika ketakutanku berlayar dengan perahu sekecil itu harus tampak pula di wajah. Tetap jaga imej nih ceritanya.haha  

    Wah, naluri fotografer dari sahabat kami Fery terpanggil. Tanpa diperintah ia mengabadikan setiap detik dari petualangan di Kabupaten Bima siang itu. Nisa sibuk membalas pesan singkat yang masuk di telepon genggamnya. Irfan tewas di antara tumpukan barang-barang penumpang. Sedangkan aku mendadak meningkat religiusitasku lantaran enggak henti-hentinya memanjatkan doa agar selamat.

    Baiklah, sambil menikmati deburan ombak yang menggoyangkan perahu, mari kukenalkan sahabat yang akan kami datangi. Namanya Gilar Cahya Nirmaya. Walau banyak teman memanggilnya Gilar, selama di Bima ia lebih nyaman dipanggil Maya. Ada alasannya lho! Dalam bahasa Bima huruf konsonan di akhir kata sampai kiamat pun enggak akan pernah diucapkan. Namun tetap ditulis sih kalau etimologi kata tersebut diketahui. Sehingga kata-kata seperti Jatuh, Amir atau Naik cukup diucap Jatu, Ami atau Nai saja. Sedih ya.

    Maya adalah pemudi jebolan Institut Pertanian Bogor yang saat itu sedang bergabung dengan gerakan Indonesia Mengajar (IM). Untuk menebar inspirasi bagi anak-anak Indonesia di manapun mereka berada, ia rela meninggalkan hingar bingar kota yang membesarkannya, Bekasi, Jawa Barat, demi berada di pulau kecil di ujung timur Pulau Sumbawa. Menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri Bajo Pulo.

    Seketika perahu kami terombang ambing dengan hebat karena berpapasan dengan kapal dari Pulau Komodo. Hmm untung ombak yang dikirimnya enggak terlalu besar. Jika ia, bisa-bisa perahu kami terbalik digulungnya. Tamatlah kami di situ. Nauzu billahi min zalik.

    Dari segi ukuran kapal itu memang lebih besar. Aduh, sial. Bikin aku takut saja. Irfan terbangun, selanjutnya memusatkan seluruh perhatiannya pada Pulau Bajo yang sudah tampak dari kejauhan. Ia juga mengarahkan Fery pada obyek-obyek yang menarik.

    Kulihat Nisa yang dilanda bahagia. Sebab enggak lama lagi ia akan berjumpa dengan Maya sahabat lamanya. Sedangkan aku berusaha meredam rasa takut dengan cara melempari penumpang lain pertanyaan-pertanyaan tentang Pulau Bajo.

    Lima belas menit terlewatkan. Perahu kecil yang kami tumpangi akhirnya merapat di dermaga Pulau Bajo. Meski demikian kami belum boleh bergerak sebelum perahu diikat kencang oleh pemiliknya. Seorang perempuan muda dengan kulit putih berkacamata kulihat berdiri di ujung dermaga. Ia memakai celana jeans warna coklat dengan baju warna coklat tua. Dalam hati aku sudah menebak-nebak siapa gerangan dia.

    Sesaat kemudian seluruh penumpang diminta membawa tubuh masing-masing ke atas dermaga. Tapi sebelumnya transaksi rupiah dengan pemilik perahu enggak lupa kami lakukan. Teriring ucapan terima kasih yang dalam.

    Tuh kan, ternyata dugaanku benar. Enggak lama setelah menginjakkan kaki di atas dermaga, Nisa langsung mendekati perempuan tadi dan berpelukan. Seolah enggak takut gosong lagi, kami bertiga menyaksikan adegan lepas kangen dua orang sahabat di bawah terik matahari. Dilanjutkan dengan prosesi memperkenalkan kami satu per satu. Mulai dari aku, diikuti Irfan, dan Fery.

    Aku dan Irfan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Semua berlangsung biasa. Tapi Fery sedikit beda. Pemuda dari Sumbawa itu terlihat kikuk dan kurang lebih salah tingkah. Ia enggak berani menatap wajah Maya lama-lama. Maka usai berkenalan, secara otomatis bertambahlah koleksi sabahat yang kami punya.

    Di dermaga kami langsung mengarahkan pandangan ke segala penjuru. Melihat-lihat ke sisi kiri kanan utara selatan. Mulai dari perahu-perahu nelayan hingga ikan hasil tangkapan yang dijemur untuk dijadikan ikan kering atau ikan asin. Enak ya. Tampak pula rumah-rumah panggung kayu yang kokoh setinggi dua meter dengan atap seng mengkilat dihantam sinar matahari.

    Setelah itu kami mempercepat langkah untuk menjauhi dermaga. Titik-titik keringat di kening masih bermunculan. Fery masih sibuk dengan foto-foto. Kesempatan enggak disia-siakannya untuk mengambil gambar sebanyak mungkin. Sesekali ia mengarahkan lensa kameranya ke wajah bulat Maya sembunyi-sembunyi. Mungkin ia merasa enggak ada yang memperhatikan. Hehe, kamu salah Fer. Aku memperhatikanmu.

    Kami masih melangkah. Orang-orang Pulau Bajo yang melihat kedatangan kami berlomba-lomba menebar senyum lebarnya. Kami pun membalasnya dengan senyum yang enggak kalah lebarnya. Ramah, itulah kesan pertama kami di pulau yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat.

    Semakin ke dalam semakin banyak rumah warga yang kami lewati. Rumah-rumah di sana kebanyakan tak di-cat. Serat-serat alami yang tertera pada batang kayu bangunan menghadirkan ciri khas tersendiri. Ciri khas yang antik dan orisinil sih menurutku. Dinding rumah hampir semuanya dari papan. Hanya tangga yang kadang-kadang disemen.

    Mataku tertuju pada dua orang anak kecil yang malu-malu melihat kami berlima. Mereka asyik bermain di kolong rumah. Tiang-tiang penyangga yang kokoh membuat mereka enggak sedikit pun khawatir bangunan itu akan roboh. Ada pula ibu-ibu yang sedang mencari kutu saudara perempuan yang lain. Tiupan angin pantai yang sejuk melengkapi obrolan santai mereka berjam-jam.

    Akhirnya kami sampai di rumah tempat tinggal Maya selama menjadi Pengajar Muda (PM). Di situ kami baru benar-benar bisa merasakan istirahat. Aku, Fery, dan Irfan langsung merebahkan badan dengan posisi sesuka hati. Lantai papan rumah itu menjadi tempat kami meregangkan otot-otot yang sempat kaku karena kelamaan di perjalanan.

    Sementara Nisa dan Maya membuka cerita-cerita dengan nuansa yang akrab. Walau kelihatan seperti orang tidur, telinga kami fokuskan pada apa yang mereka ceritakan.

    Sekali-sekali angin berdesir pelan, mengelus-elus rambutku yang panjang. Dari atas rumah yang menghadap ke pantai, Fery kembali beraksi dengan kamera kesayangannya. Satu blitz light untuk kesekian kalinya menyambar wajah ibu guru itu. Kali ini Maya menangkapnya bulat-bulat. Lalu ia tersenyum simpul. Ujung dari drama curi gambar itu ialah melihat hasil jepretan tangan Fery sama-sama. Mereka duduk berdekatan. Suasana pun mencair. Aduhai.

    Cerita-cerita Maya tentang pengalamannya selama menjadi guru Sekolah Dasar pun mengalir bagai air. Kami setia mendengarkan.
    “Menjadi pengajar muda merupakan pilihan terbaikku,” kata Maya sambil menatap Fery, lalu menatap kami.
    “Sebelas bulan menjadi guru sekolah dasar membuatku mengantongi berupa-rupa pengalaman hidup. Sungguh berharga.’’ lanjutnya.

    Ia mandi sekali sehari. Air sulit dan harus merogoh koceh bila mau mendapatkannya. Kecuali kalau ia memilih untuk mandi di pantai setiap hari. Itu sih lain ceritanya broo. Jika ada waktu yang tepat, siswa-siswi SDN Bajo Pulo akan diajaknya untuk study tour ke museum Asi Mbojo. Letaknya di pusat Kabupaten Bima. Hal-hal yang enggak pernah dilakukan oleh guru-guru di situ sebelumnya.

    “Melalui program seperti ini anak-anak muda Indonesia sesungguhnya sedang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang kuat di masa depan. Pengetahuan yang aku dapat dari bangku kuliah, seminar-seminar, simposium, forum-forum diskusi anak muda, menurutku belum mampu menandingi pelajaran hidup yang aku peroleh selama berada langsung di tengah masyarakat.” ungkapnya lagi.

    Sembari mendengar penuturan Maya, kami membuang muka ke pantai. Menyaksikan anak-anak Pulau Bajo yang sedang menikmati masa kecilnya. Pantai dengan pasir putih yang bersih. Berikut batu - batu besar yang menyembul di permukaan. Meskipun jauh dari fasilitas-fasilitas seperti anak-anak di kota besar, alam yang indah menawarkan kebahagiaan bagi mereka. Gratis pula. Tuhan memang maha adil.
    “Suasana di sana akan lebih menakjubkan jika matahari sudah mulai meninggi. Karena sinar matahari yang jatuh dengan sempurna di atas pemukaan laut akan membuat air laut menjadi biru berkilau.’’ terang Maya.

    Keceriaan hadir di wajah anak-anak itu saat mendorong-dorong perahu yang enggak diikat oleh pemiliknya, atau kejar-kejaran di tengah alam yang begitu bersahabat.

    Orang-orang Pulau Bajo merupakan sebuah komposisi masyarakat yang unik. Berbeda dengan orang Bima kebanyakan. Kulitnya lebih coklat dan hidung mancung pada beberapa orang perempuannya. Untuk berinteraksi setiap hari, mereka cenderung memakai Bahasa Bajo. Walaupun Bahasa Bima (nggahi mbojo) dan Bahasa Makassar juga dikuasai.

    Nah, terkait dengan asal usulnya masyarakat yang mayoritas Islam itu, banyak yang berpendapat jika mereka berasal dari Philipina. Lalu berasimilasi dan kulturasi dengan orang-orang Bima selama bertahun-tahun. Sebagian juga bersuara bahwa nenek moyang mereka datang dari Bugis, Sulawesi Selatan.

    Sekalipun orang asli Pulau Sumbawa, pengetahuan kami tentang Pulau Bajo enggak sebanyak Maya. Kami malu. Justru darinya kami banyak dapat pencerahannya. Miris ya.

    Waktu terus berjalan. Mengetahui kami akan kembali ke Dompu hari itu juga, usai santap siang seadanya dengan menu khas masyarakat pesisir, Maya mengajak kami mengunjungi Pantai Pasir Putih-sebuah pulau kecil yang letaknya enggak jauh dari Pulau Bajo-. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke pulau itu. Perahu langganannya Maya siap membawa kami ke sana. Asyik.

    Fery kini jalan di samping Maya. Modusnya masih seputar dunia fotografi. Satu-dua rupa Maya yang berhasil ia abadikan di zoom-out berkali-kali demi mempertegas bahwa ibu guru itu menarik. Kami yang melihatnya ikut senang. Bak melihat air laut yang memantulkan warna langit yang cerah.

    Perasaanku kembali enggak tenang selama berada di atas perahu. Religiusitasku terpanggil lagi. Sementara Nisa, Irfan, Fery senangnya bukan buatan. Ketiganya memang hobi berpetualang. Seolah enggak sabar ingin menginjakkan kaki di pantai indah yang sejak tadi dipamer-pamer Maya.

    Jika Fery mengabadikan semua gambar Maya, maka aku menyimpan keseluruhan ceritanya. Aku tergoda oleh pengalaman pengabdiannya. Rasanya ingin banget dapat kesempatan yang begitu. Kisah mengabdi di pelosok negeri membangun masyarakat kecil. Sebenarnya untuk memahami negeri ini secara utuh, bukan sekedar menambah pengalaman pribadi.

    Perahu yang membawa kami ke Pantai Pasir Putih ukurannya lebih kecil dari perahu pertama tadi. Pemiliknya pun seorang laki-laki tua yang kurus. Kemejanya usang dan enggak dikunci. Walau demikian ia sangat lincah mengemudikan perahu membelah lautan biru. Sehingga perahu melaju dengan kecepatan yang terukur. Aku salut.

    Tak terasa akhirnya kami menginjak Pantai Pasir Putih. Sebuah lanskap karya Tuhan yang belum terjamah tangan manusia. Begitu mendebarkan. Seperti biasa kami langsung pasang gaya agar difoto. Sehingga hanya dalam waktu beberapa menit saja puluhan gambar pun tercipta. Bagus-bagus. Kami sungguh enggak mau kehilangan momen terbaik saat berada di pantai yang bersih bak perawan itu.

    Kami menyusuri bibir sambil memanjakan mata. Letupan-letupan canda pun menjadikan jalan-jalan kami semakin berarti. Kadang-kadang Irfan melakukan atraksi aneh yang mengundang tawa. Aku, Nisa, Maya tertawa lepas. Kecuali Fery yang masih jaga imej.
     “Kalian pernah dengar Pencerah Nusantara” tanya Maya.
     “Tidak pernah” balasku singkat.
     “Apa itu Pencerah Nusantara’’ tanya Nisa.
    “Hampir mirip dengan program Indonesia Mengajar, tapi gerakan ini fokus pada penguatan pusat layanan kesehatan primer’’.
    “Wah apa lagi itu, aku enggak ngerti,” sambut Irfan polos.

    Kami berhenti di bawah pohon besar. Mengambil posisi duduk karena Maya akan kembali bercerita. Tapi tenang, suasananya tetap santai kok.
    “Orientasinya adalah perbaikan derajat kesehatan masyarakat dengan mengajak mereka merubah pola pikir dan perilaku kesehatannya. Anak-anak muda itu terdiri dari dokter, bidan, perawat dan para pemerhati kesehatan. Mereka akan dikirim ke puskesmas-puskesmas di daerah terpencil Indonesia. Ada baiknya kalian coba deh,’’ sarannya.

    Bagi kami Pencerah Nusantara adalah susuatu yang baru. Oleh karena itu meresponnya harus dengan antusias. Aku sendiri demikian. Enggak tahu dengan ketiga sahabatku yang lain. Walau ada nada pesimis karena latar belakang pendidikan kami enggak ada yang menyentuh program itu.

    Maya semangat bercerita melihat Fery semangat mendengarkan. Ia menambahkan, “Anak-anak muda yang terpilih nantinya akan ditugaskan di puskesmas-puskesmas daerah terpencil. Mereka akan diajak untuk ikut merasakan hidup bersama masyarakat di tempat-tempat yang minim fasilitas. Oya, di sana nanti hampir enggak ada listrik, enggak ada sinyal telepon, dan enggak ada sumber air bersih.’’

    Diam-diam aku manaruh simpati pada program yang dimaksud. Walau masih ragu. Apa mungkin sarjana pendidikan bisa kerja di Puskesmas. Ah, bukankah the right man in the right place kini tinggal semboyan. Orang bisa kerja dimana saja selama ada kesempatan.

    Kami terlibat diskusi yang panjang. Kebetulan suasana juga mendukung. Hati dan pikiran kami seratus persen dimanjakan oleh keindahan pantai Pasir Putih.
    “Apa bisa orang-orang dengan latar belakang pendidikan non-kesehatan ikut menjadi Pencerah Nusantara,” tanyaku pelan
    ‘”Bisa. Bisa Dheyo. Nanti daftar sebagai pemerhati kesehatan aja,” jawab Maya dengan nada serius.

    “Wah boleh juga nih,” sambung Fery yang juga sarjana pendidikan
    “Iya, kalian harus coba,” sambut Maya dengan senyum.

    Walau belum ada yang berani mendeklarasikan diri untuk mencoba, kami berempat menerima informasi itu sebagai energi positif. Matahari terus bergeser mengikuti titah pemiliknya. Sore pun menemui kami di pulau itu. Sebenarnya kami masih ingin menyaksikan lukisan spektakuler berupa matahari terbenam. Namun, waktu yang mempertemukan waktu pula yang harus memisahkan. Sejujurnya kami cukup puas dengan suguhan alam yang indah sekaligus keramahtamahan orang-orang di Pulau Bajo.

    Perahu yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Sape sudah menunggu. Banyak sekali hal-hal yang aku temukan di perjalanan hari itu. Betapa beruntungnya orang-orang yang bersahabat dengan Maya. Yang dengan tulus telah berbagi inspirasi dan motivasi.

    Kalimat mempersiapkan pemimpin yang kuat di masa depan yang diucapnya tadi bagaikan doktrin yang tertanam kuat dalam hati. Aku enggak kuasa menyembunyikan rasa kagumku pada pilihan hidupnya. Sekali lagi harus kukatakan bahwa pertemuan dengannya semacam highlight of the day. Tuhan memang selalu baik padaku, buktinya hari itu aku dipertemukan dengan orang yang baik banget.

    Lantas aku tersenyum. Lama. Bersama senja yang perlahan turun di Pulau Bajo, diam-diam kumantapkan niat untuk mencoba apa yang disarankan Maya.


    Penulis: Dheyo Keanu Ch*
    *Ketua Angkatan Gerakan Pencerah Nusantara batch II dari Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk MDGs, WK I TERUNA NTB 2007

    Nasib Perempuan

    Nurwahidah, A.Md.
    Kau terlalu nakal dengan perempuan yang tak pasti
    Tak pasti milikmu
    Seakan-akan kau tak bisa hidup tanpanya

    Kau sudah berani bermain cinta
    Kau sudah berani pinjem duit demi malam minggu dengannya
    Kau sudah berani  bercipokan
    Kau sudah berani meraba dadanya
    Kau sudah berani minta ronde pertama di atas ranjang
    Katamu, oh nikmat! Ternyata di dunia ini masih ada gratis

    Setelah itu
    Kau akan di sidang, atas apa yang kau buahi
    Namun, kau takut akan derita
    Kau bukanlah pecinta sejati
    Tapi kau hanyalah lelaki penikmat nafsu


    Yogyakarta, 09 April 2015

    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Landreform Sebagai Upaya Melaksanakan Prinsip Tanah Untuk Tani Dalam Rangka Meningkatkan Produksi Nasional

    Arifin Ma’ruf, S.H. 
    Landreform dan Kaum Tani
    PewartaNews.com – Kaum tani sudah seharusnya diperhatikan oleh pemerintah, petani dalam menjalankan pekerjaanya tentu memerlukan lahan untuk bercocok tanam. Namun sebagian besar petani petani kita saat ini tidak mempunyai lahan yang memadai untuk melakukan kegiatan pertanian.

    Landreform merupakan sarana untuk mempertinggi taraf hidup para petani terutama petani kecil, perkataan landreform berasal dari bahasa Inggris yaitu; Land artinya Tanah dan Reform artinya Perubahan, perombakan. Namun menurut Arie Sukanti Hutagalung, bila kita mencoba menerjemahkan definisi landreform secara harfiah, kita akan menghadapi suatu hal yang membingungkan, karena istilah Land yang diartikan sebagai tanah, sedangkan reform berarti perubahan, perombakan atau herforming Jadi dari kata tersebut landreform diartikan sebagai perubahan dasar perombakan struktur pertanahan. (Departemen Penerangan RI:1982) Sedangkan istilah Reform berarti mengubah dan terutama mengubah kearah yang lebih baik. Jadi landreform berkaitan dengan perubahan struktur secara institusional yang mengatur hubungan manusia dengan tanah, dan masih banyak para sarjana yang mendefinisikan tentang landreform.

    Menurut Gunawan Wiradi landreform mengacu pada penataan kembali susunan penguasaan tanah demi kepentingan petani kecil, penyakap (tenants). Buruh tani tak bertanah, Gunawan Wiradi mengetengahkan istilah reforma agraria, pemakaian reforma agraria digunakan untuk mengganti istilah landreform dan agrarian reform dengan pengertian sebagai usaha untuk melakukan perombakan struktur penguasaan tanah. (Sediono MP:1992)

    Jika dilihat dari pengertian tersebut, pada dasarnya landreform memerlukan program redistribusi tanah untuk keuntungan pihak yang mengerjakan tanah dan pembatasan dalam hak-hak individu atas sumber-sumber tanah. Jadi landreform lebih merupakan sebuah alat perubahan sosial dalam perkembangan ekonomi, selain merupakan manifestasi dari tujuan politik, kebebasan dan kemerdekaan suatu bangsa.

    Tujuan Landreform di Indonesia
    Landreform berlaku di Indonesia tentunya ada dasar hukum yang melandasinya, antara lain yang terdapat dalam pancasila, UUD 1945, maupun aturan pelaksana yang terdapat dalam Undang-Undang Pokok-Pokok Agraris (yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut UUPA). Landreform sendiri memiliki tujuan tujuan tertentu yang salah satunya untuk kesejahteraan rakyat, tujuan landreform ada bagian bagian yang bersangkutan dari usul dewan pertimbangan agung, pernyataaan Menteri Agraria Sadjarwo, pidato jarek dan ketetapan MPRS, semuanya dikemukakan atau ditetapkan menjelang belakunya UUPA dalam tahun 1960.

    Masyarakat yang memperoleh tanah berdasarkan pelaksanaan landreform akan diberikan hak-hak menggarap dengan syarat tanah tersebut harus dikerjakan sendiri untuk paling lama 2 tahun dan kepadanya diwajibkan membayar sewa kepada pemerintah sebesar 1/3 dari hasil panen atau uang yang senilai dengan itu.

    Melihat perkembanganya di Indonesia dalam tanah obyek landreform dalam kegiatan redistribusi tanah yang telah dibagikan di seluruh Indonesia sejak periode Tahun 1960 mencapai 1.159.527,273 Ha dengan jumlah penerima 1.510.762 keluarga petani dan rata-rata yang diterima 0,77 Ha. Dengan demikian, tujuan landreform itu sesungguhnya adalah untuk melakukan perubahan terhadap taraf hidup rakyat, dan dalam Pasal 4 UUPA mengandung segala sesuatu yang ditujukan untuk mencapai kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya dalam rangka menuju rakyat yang adil dan makmur. (CST Kansil:1989) Landreform mempunyai tujuan yang secara eksplisit adalah mensejahterakan masyarakat atau meningkatkan ekonomi tani terutama tani kecil serta membatasi pemilikan tanah dari tuan tanah yang berlebihan.

    Penulis: Arifin Ma’ruf, S.H. 
    Koordinator Bidang Pendidikan Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2014-2015 / Alumni Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.


    Kertas Buram untuk Ayah

    Nurwahidah, A.Md.
    Malam ini  begitu sunyi tak seperti malam kemarin. Ramai
    Putrimu  yang terdampar di sebuah kota yang jauh dari kampung
    Itu semua karenamu ayah
    Demi menimba ilmu dan menjalankan wasiatmu sebagai pahlawan
    Pahlawan yang telah gugur dari sangketa keluarga

    Kemarin masih kulihat senyummu yang dipenuhi kumis
    Kemarin masih kurasakan pelukmu, belaimu yang lembut
    Kemarin kau masih kokoh panjat pinang
    Kemarin kau tendang putrimu jika lalai dalam Sholat
    Dan kemarin terakhir kali kau berkedip

     Tak sadarkah ayah? sejak kepergianmu
    Istrimu, cucumu dan bahkan putrimu
    Merengek minta uang
    Mereka seperti pengemis

     Kau sungguh egois
     Kau tak pernah mengerti bahwa akulah yang kau sakiti
    Aku semakin terpuruk karenamu ayah
    Apakah aku yang harus menggantikanmu sebagai pahlawan?


    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Pemberlakuan MEA di Indonesia, Untung atau Buntung?

    Santos Muhammad.
    PewartaNews.com – Dalam hitungan beberapa hari lagi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diberlakukan, ini sesuai dengan isi pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke 12 yang digelar di kota Cebu, Filiphina, pada Januari 2007 silam. Para pemimpin ASEAN sepakat untuk pembentukan komunitas ASEAN, yang direalisasikan pada tahun 2015. Terdapat tiga pilar dasar pada MEA yaitu ASEAN Political Security Community, ASEAN Economic Community, serta ASEAN Socio-Cultural Community.

    Tidak bisa dipungkiri memang, dengan berlakunya MEA ini akan terjadi perputaran arus barang dan jasa yang sangat besar, mengingat populasi penduduk ASEAN sendiri sekitar 636 juta jiwa pada tahun 2014. (ilmupengetahuanumum.com)

    Dengan melihat situasi seperti ini apakah Indonesia mampu memanfaatkan atau justru Indonesia yang dimanfaatkan. Tidak berlebihan memang melihat dari yang sudah-sudah terjadi, Indonesia yang notabenya negara agraris masih mengimpor beras dari negara Thailand dan juga Vietnam. Kalau kita mau melihat yang lebih luas, ekonomi Indonesia berada diurutan ke 4 dari negara-negara ASEAN, dibawah Singapura, Malaysia serta Thailand. (republika.co.id)

    Kenyataan dalam dunia pendidikan tidak berbeda jauh dengan dunia ekonomi, Indonesia masih ketinggalan dari pesaing utamanya yaitu Singapura, Thailand serta Malaysia. Satu-satunya bidang yang patut kita banggakan sebagai warga negara Indonesia, bahwa dalam bidang pertahanan Indonesia lebih unggul dari negara anggota-anggota ASEAN lainnya. Menurut data global fire power Indonesia berada pada urutan 12, disusul oleh Thailand (20), Vietnam (21), Singapura (26), dan Malaysia (35) – (globalfirepower.com). Jika sewaktu-waktu terjadi konflik antar negara anggota ASEAN maupun konflik yang melibatkan anggota ASEAN dengan negara non anggota ASEAN maka disini Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting.  

    Akankah masyarakat ekonomi ASEAN ini menguntungkan atau merugikan Indonesia, dengan melihat jumlah populasi penduduk Indonesia yang lebih dari 1/3 penduduk ASEAN?

    Penulis: Santos Muhammad
    Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Respati Yogyakarta / Dewan Pengurus Daerah Posko Perjuangan Rakrat (DPD POSPERA) Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Sang Ayah

    Nurwahidah, A.Md.
    Memandangmu bukan tujuan utama ku Ayah
    Mengingatmu hanya membuat aku membasuh pilu air mata ini

    Ayah
    Kumasih ingat betapa kokohnya tanganmu
    Kumasih ingat betapa tegarnya dirimu
    Kumasih yakin bahwa ayah satu-satunya sang pelindungku
    Ketika aku haus akan belaian mu
    Ketika aku menangis merengek di pelukmu
    Dengan Penuh kasih. Ayah melepaskan  segalanya bagiku. Kau auraku

    Ayah
    Mengenangmu membuat aku bersimpuh
    Mengingatmu membuat aku luluh
    Menangisimu membuatku terus terjatuh
    Mengharapmu membuatku lelah menunggu

    Ayah
    Kuyakin suatu hari nanti
    Kukan melihat pelangi tinggi… tinggi sekali
    Yang selalu mengisi rasa asa ini
    Yang akan  selalu mengairi rasa peluh ini
    Hari ini, aku akan selalu iringi indahnya berdoa untuk hari-hari dan perjalananmu Ayah

    Ayah
    Kuyakin ayah sudah mulai tersenyum bahagia
    Kuyakin ayah sudah sempurna di  sana
    Sambil ku tengadahkan tangan ini Ayah
    Hanya butir-butir doa yang selalu kusampaikan
    Hanya butir-butir keluh kesah yang telah aku ucapkan

    Aku Rindu Ayah
    Air mata dan keringat ini takkan pernah lelah
    Untuk selalu mengenangmu hingga akhir hayatku
    Untuk mu selamanya. Peace Ayah. I Love You Seumur Hidupku
    Aku. Aku. Mutiara Hatimu


    Surakarta,  24 Maret 2015


    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Setelah Menyandang Dimas Jogja, Kini Dimas Ricco Mencoba Meniti Kemampuan pada Pemilihan Duta Wisata Indonesia 2015 Mewakili DIY

    Dimas Ricco Survival Yubaidi
    PewartaNews.com – Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu destinasi populer baik untuk wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal. Selain karena kental dengan kebudayaan dan sisi historis yang dimiliki oleh Yogyakarta, daerah ini terkenal memiliki berbagai macam obyek wisata yang memanjakan. Kraton, Tamansari, Malioboro, Parangtritis, merupakan sedikit contoh obyek wisata yang sudah akrab bagi telinga wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Tidak salah, jika banyak yang berkata bahwa setiap sudut di Yogyakarta adalah romantis, karena meninggalkan kenangan tuk kembali lagi.

    Selain itu, salah satu ikon yang membuat menarik Yogyakarta adalah dengan adanya ikon pemuda-pemudi yang akrab disebut Dimas Diajeng. Mereka adalah Duta Wisata dan Duta Budaya terpilih untuk bertugas bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, Dimas Diajeng juga menjadi agen percontohan bagi generasi muda Yogyakarta khususnya untuk dapat memberikan contoh dan inspirasi yang baik bagi remaja sebayanya.

    Ricco Survival Yubaidi, A.Md., S.H. (lahir di Yogyakarta, pada 11 Juni 1993; umur 22 tahun). Anak sulung dari 4 bersaudara pasangan Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., C.N., M.H. dan Siti Arum Hidayati, S.H. saat ini tengah menjabat sebagai Dimas Sleman dan Dimas Jogja. Kiprahnya di Dimas Diajeng berawal dari keikutsertaan dalam pemilihan Dimas Diajeng Kabupaten Sleman yang digelar oleh Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Sleman pada bulan Mei 2014, proses pemilihan, karantina, hingga Grand Final. Awalnya keikutsertaannya pada acara tersebut merupakan dorongan dari orang tua, karena Ricco sempat merasa kurang percaya diri untuk mengikuti pemilihan tersebut. Kegiatan demi kegiatan dijalani, ternyata berjalan lancar hingga akhirnya dinobatkan pada malam Grand Final. Setelah terpilih menjadi Wakil II Dimas Sleman, kemudian Ricco secara otomatis membawa nama baik Kabupaten Sleman untuk melaju ke pemilihan tingkat provinsi, hingga akhirnya meraih gelar Wakil I Dimas Jogja.

    Menjadi Dimas Diajeng merupakan tugas dan tantangan yang berat namun memiliki banyak manfaat. Bermacam kegiatan yang dijalani Dimas Diajeng diantaranya mengikuti pameran potensi daerah, menghadiri Grand Final Duta Wisata antar daerah, aksi sosial, fashion show, menjadi narasumber/pemateri, menghadiri jamuan dan berbagai macam kegiatan lainnya baik yang diselenggarakan oleh Dinas maupun rekanan Dinas. Selain kiprahnya di Dimas Diajeng, Ricco saat ini tengah melanjutkan studi-nya di Magister (S2) Kenotariatan Universitas Gadjah Mada. Tak hanya itu, ia juga tengah menjalankan suatu bisnis yang dibuatnya di bidang pijat refleksi dan kesehatan. Usaha tersebut diberi nama “nDalem Saras Benefit”, dalam pemberian nama memang Ricco sengaja menggunakan Bahasa Jawa, ia berharap bahwa dengan usahanya tersebut juga dapat menjadi salah satu cara untuk mempromosikan keunikan bahasa jawa. Usaha tersebut berjalan dengan baik hingga saat ini hampir mencapai usia 1 tahun berdiri. Ia juga mempunyai mimpi besar bahwa usahanya kelak dapat memiliki banyak cabang baik di Yogyakarta maupun di luar daerah, sehingga dapat membantu program pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran.

    Rabu, 9 Desember 2015, Ricco akan mewakili Dimas Diajeng untuk maju ke Pemilihan Duta Wisata Indonesia 2015. Acara ini merupakan acara tahunan yang diikuti 33 provinsi se-Indonesia. Diharapkan bahwa melalui acara ini, Ricco dapat memperkenalkan keistimewaan yang ada di Yogyakarta, baik pariwisata, budaya, maupun kearifan lokal lainnya. Ia mengaku sangat bangga dapat menjadi representasi bagi Yogyakarta, karena akan banyak yang dapat dijelaskan tentang keindahan Yogya. Proses karantina berlangsung selama 1 minggu dengan berbagai macam kegiatan yang akan dijalani para finalis, diantaranya Kunjungan ke Kantor Gubernur Jakarta, Pembekalan oleh Komite III DPD RI, Pembekalan oleh KPAI, Official Visit ke Gedung MPR/DPD/DPR, Pameran Potensi Daerah, Unjuk Bakat, Official Visit ke ASEAN, Latihan Koreografi, Penjurian, hingga Malam Grand Final. Selama mengikuti Pemilihan Duta Wisata Indonesia 2015, ia akan mengenakan baju dan jas rancangan desainer lokal Yogyakarta, ia juga membawa beberapa makanan khas Yogyakarta untuk diperkenalkan pada Duta Wisata provinsi lain. Setelah selama ini mengikuti pembekalan baik secara pribadi, paguyuban dimas diajeng, maupun melalui dinas pariwisata, Ricco mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah mendukungnya dalam mempersiapkan diri menuju pemilihan tersebut dan akhirnya mengharapkan doa dan restu warga Jogja agar dalam proses pemilihan tersebut dapat berjalan dengan lancar dan memberikan hasil terbaik bagi Jogjakarta. [MJ / RSY / PewartaNews]

    Sang Ayah

    Nurwahidah, A.Md.
    Memandangmu bukan tujuan utama ku Ayah
    Mengingatmu hanya membuat aku membasuh pilu air mata ini

    Ayah
    Kumasih ingat betapa kokohnya tanganmu
    Kumasih ingat betapa tegarnya dirimu
    Kumasih yakin bahwa ayah satu-satunya sang pelindungku
    Ketika aku haus akan belaian mu
    Ketika aku menangis merengek di pelukmu
    Dengan Penuh kasih. Ayah melepaskan  segalanya bagiku. Kau auraku

    Ayah
    Mengenangmu membuat aku bersimpuh
    Mengingatmu membuat aku luluh
    Menangisimu membuatku terus terjatuh
    Mengharapmu membuatku lelah menunggu

    Ayah
    Kuyakin suatu hari nanti
    Kukan melihat pelangi tinggi… tinggi sekali
    Yang selalu mengisi rasa asa ini
    Yang akan  selalu mengairi rasa peluh ini
    Hari ini, aku akan selalu iringi indahnya berdoa untuk hari-hari dan perjalananmu Ayah

    Ayah
    Kuyakin ayah sudah mulai tersenyum bahagia
    Kuyakin ayah sudah sempurna di  sana
    Sambil ku tengadahkan tangan ini Ayah
    Hanya butir-butir doa yang selalu kusampaikan
    Hanya butir-butir keluh kesah yang telah aku ucapkan

    Aku Rindu Ayah
    Air mata dan keringat ini takkan pernah lelah
    Untuk selalu mengenangmu hingga akhir hayatku
    Untuk mu selamanya. Peace Ayah. I Love You Seumur Hidupku
    Aku. Aku. Mutiara Hatimu


    Surakarta,  24 Maret 2015

    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Lelaki Idaman

    Nurwahidah, A.Md.
    Mencintaimu meskipun kau berkulit hitam
    Mencintaimu meski  dompetmu masih datar
    Mencintaimu  walau kau tak pernah mengajakku shoping
    Mencintaimu adalah pilihanku
    Mungkin akulah perempuan yang aneh. Aneh  jatuh cinta denganmu
    Kau selalu mengajariku menjadi perempuan yang indah di matamu
    Kau mengajariku menutup aurat
    Karena itu, aku mencintaimu
    Biarkanpun aku sengsara hidup denganmu
    Asalkan kau tetap setia menggandengku ke surga


    Yogyakarta, 10 Mei 2015
    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    “Suka-Suka Gue Dong”: Generasi Bangsa yang Apatis!

    PewartaNews.com – Baru baru ini media sosial di hebohkan dengan berita perusakkan taman bunga Amarilis yang dilakukan oleh pengujung yang berfoto selfie bersuka ria seperti tanpa dosa. Taman bunga Amirilis tepatnya terletak di Dusun Ngasemayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta sontak menjadi ramai pengunjung karena memang bunga ini hanya tumbuh satu kali dalam setahun dan pemandangannya pun tidak kalah dengan taman bunga yang di Eropa seperti di Belanda. Pengunjung yang mayoritasnya pemuda ini berpose ria, hal yang wajar ketika anak muda mengabadikan moment tersebut dengan berfoto, tapi yang jadi permasalahnya para pengunjung ini foto sembarang tempat dimana bunga yang masih hidup diinjak-injak sampai akhirnya menjadi layu dan mati.

    Pengunjung sudah diingatkan oleh pihak pengelolan untuk tidak menginjak-injak tanaman bunga tersebut. Tapi lihat hasilnya, pengunjung yang mayoritasnya pemuda yang katanya berpendidikan, yang katanya menjadi generasi penerus bangsa tapi tak memiliki etika. Mau dibawa kemana bangsa ini kalau generasi mudanya tidak beretika? Dari hal terkecil saja sudah tidak peduli dengan sesama makhluk hidup, bunga juga punya hak untuk hidup sama seperti kita manusia. Tapi lihat apa yang mereka lakukan menginjak-injak tanaman bunga ala-ala Eropa ini demi untuk mendapatkan pose berfoto yang bagus tanpa memperdulikan tanaman tersebut. Dari hal terkecil saja mereka acuh tak acuh apalagi dengan masalah masalah sosial yang di hadapi masyarakat sekarang.

    Sikap yang demikian kini sudah terjadi, ya mau bagaimana lagi, ini memang kenyataan yang terjadi, dengan adanya kejadian ini membuat kita terutama diri saya sendiri untuk merefleksikan diri apakah kita sudah peduli dengan sesama baik manusia tumbuhan atau jangan jangan kita termasuk golongan mereka juga?, PEMUDA YANG APATIS!


    Penulis: Nur Rohman 
    Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website