Headlines News :
Home » » Aku Tak Mengenal Definisi Rasa Takut Part 2 [Botol Aqua]

Aku Tak Mengenal Definisi Rasa Takut Part 2 [Botol Aqua]

Written By Pewarta News on Senin, 21 Desember 2015 | 08.43

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Pukul  empat sore,  saat itu aku bergagas pulang.   Aku melangkah turun  dari  mesjid Islamic   Center.   Menarik   napas  panjang membiarkan  hembusan angin menampar busana yang kupake. Sore yang mendung  dengan awan hitam menggelayut di langit. Aku melangkah begitu pelan. Beberapa orang di sebelah kananku berdialog,  di sebelah kiri seorang lelaki lajang sibuk memencet handphone.

Perjalanan pulang di  kos-kosan kupikir, bisa sampai hanya beberapa menit. Tapi, dugaanku   salah.  Aku   memasuki gang 7   dan keluar di gang  12.  Seharusnya aku berada di gang 10. Aku melap  keringat di dahi,  jantung mulai berdebar kencang.  Sepertinya aku tak bisa pulang.

Saat itu aku menyapa dua orang lelaki.  Mereka  mengenakan pakaian  warna hijau.  Kembar. Tubuhnya compang-camping. Ceceran daki mengering disekujur  pakaiannya.  Tapi, bukan aroma amis yang menyeruak   sampai jarak enam puluh meter.  Seperti dipenuhi semerbak bunga  bangkai  setaman hidungku saat  itu aku mendekat, perlahan menahan napas.  Aku mulai menyerengai biar terlihat ramah.  Di tangan mereka tergenggam botol  Aqua  dan karun. Usia mereka sekitar dua puluh tiga tahun.  Wajah Flores  mereka terlihat jelas.

“Kenapa Dek?” Salah satu diantara mereka  membalas senyumanku. Ia pun membuka dialog.
“Kak, aku bingung. Mau pulang di gang 10, tapi tak tahu di mana?” Nadaku gemetar. Persis orang yang lihat Dajjal.

Aku masih ingat pesan kakak Rice, jika  bertemu dengan orang baru. Tidak boleh terlihat polos.  Apalagi di sini kota besar, sudah ada  kejadian awalnya berkenalan  tak di antar   pulang tapi diajak ke  tempat maksiat.   Di perkosa lalu di bunuh. Meskipun begitu, aku tak boleh berburuk sangka. Toh, Memang kenyataannya harus bertanya dari pada  kesasar. Di belakang mereka, berjejer  karun,  kardus dan kumpulan nyamuk yang menyebar di sana-sini.
“Pekerjaan kakak seperti ini? Tanyaku, menaikkan alis kiri.

“Iya, Dek. Beginilah adanya kalau tak  punya ijazah. Apapun pekerjaannya harus diterima.  Hidup ini sangat kejam,   lebih kejam dari ibu tiri.” Ucap lelaki yang dari tadi sibuk menyusun botol Aqua ke dalam  karun.

Kutelan air ludah  tergesa-gesa.   Ternyata masih banyak   orang yang pengen  Sekolah lalu  punya ijazah, biar dapat pekerjaan  yang layak.  Aku harus lebih bersyukur karena sudah menikmati indahnya Sekolah. Apapun perkerjaan kita harus dijalani dan tak boleh gengsi. Tidak apa rendah di mata manusia, yang   penting mulia di sisi sang Kholik “Aku harus seperti mereka, mencari botol di  jalanan, di tempat sampah. Demi sesuap nasi, dan bisa bertahan hidup dirantau.”Pikirku.

“Kak,  ada lowongan?” Ucapku penuh antusias.
“Sampeang mau jadi pemungut botol?” Wajah lelaki itu tiba-tiba pucat, mulutnya mengangah.

“Iya, Kak. Aku butuh uang makan.” Nadaku mulai rendah, tunduk kayak patung.
“Hmmm. Baiklah, kapan mulai berkerja? Jika benar kamu ada niat cari duit. Kami tunggu besok pukul 07.00 ” Ujar lelaki itu sambari mengupas senyum, gigi putihnya mengalihkan duniaku.

“Besok Kak.” ucapku agak manja” Kak bisakah antar Nidar pulang di gang 10?” Lelaki itu hanya mengangguk.

Tepat pukul 5.30  aku terbangun tiba-tiba   leher   terasa sakit. Bagaimana tidak, sudah 2 bulan tidurnya di karpet. Bergegas aku bangkit shalat subuh lalu  mandi, untuk kemudian berangkat ke tempat kerja tanpa secuil sarapan.  Biarkan saja kutahan lapar, hanya aku dan  sang Kholik yang tahu indahnya derita. “Tuhan, jika memang ini sebuah cobaan untukku? Tolong   ajari hamba seperti apa besarnya arti kesabaran?”Ucapku sambari melangkah turun ke tangga yang terbuat dari kayu. Tiba di gang  12. Kulihat lelaki Flores di pinggir jalan, karun sudah bertengger di pundaknya. Ia  terlihat masem-masem

“Gimana hari ini Nidar, sudah siap pungut botol?”
“Iya Kak.”jawabku spontan.  Kucubit paha terasa  sakit dan  memang nyata. Hari ini aku harus cari botol di jalan, di tempat sampah. Dan aku jadi pemulung.

“Ayo kita mulai.” Ucap lelaki Flores, terlihat semangat.  Sedang aku persis ikan paus yang di panggang di pinggir nereka jahannam.

Samarinda kota  Tepian.   Pohonan berjejer rapi, udara pagi menyambut kedatangan kami. Kulihat beberapa botol yang bertengger   di sebelah,  perempuan yang sibuk mengunyah   roti  Sweet Bakery. “Betapa lelahnya orang –orang yang nyari   botol  setiap hari biar bisa  hidup. Dan  ternyata Tuhan memihakku.   Aku yang sekarang berada diposisi  yang sama dengan mereka. Tak apalah namanya juga  perjuangan, dan aku harus ingat pesan Bapak. Jadi pahlawan.”Ucapku dengan mulut berkomat-komit.

Jam empat lewat  tiga menit kami mondar-mandir nyari botol. Tak banyak yang kudapat hari ini . Hanya dua puluh botol aqua. Kami pulang,   tiba di gang 12 kutengok  lelaki Flores  terlihat lelah. Ia pun mengambil karun yang kupegan lalu masuk di sebuah rumah  gubuk, masih banyak sampah yang terhambur.  Kududuk dekat botol. Mengatur detak  jantung yang semakin melemah.

“Ini Dek,  Rp.20.000.”Ujar lelaki Flores, sambil mengelurkan tangan kanannya ke arahku.

“Iya, Kak terima kasih.”ucapku penuh antusias dan  pamit  pulang. Hari ini sudah kuhafal arah gang 10.

Aku bangga dan percaya diri, kalau apa yang kulakukan tidaklah sia-sia. Tiba di sebelah kosan,  kulihat spanduk “Paket Hemet Rp.10.000”  aku pun mampir beli nasi telur dan sisahnya tinggal sepuluh ribu.  Kubelikan  air minum dan dua potong donat coklat. Seperti biasanya, aku harus menaiki tangga agak pelan. Tiba dikamar, banyak pakaian yang berhamburan di atas kopor. Novel “Pulang” penulis  Tere  Liye, masih mengangah lebar. Ternyata belum selesai kubaca. Kubuang badanku dikarpet, menatap lelangit kamar.

“Aku hanya seorang  pemulung.  Pemulung kaleng   bekas. Botol  aqua dan gelas air minum bekas. Peristiwa demi peristiwa yang membekas, mungkin ini jalan terbaik  yang Tuhan berikan kepadaku. Sejak kepergian Bapak, membuatku persis ikan bandeng diambil tulangnya. Kepergiannya selalu meredupkan semangatku.   Heran,  kenapa beliau sering muncul saatku terlelap? Andai tak ada keyakinan yang kupegan, sudah dari kemarin meneguk pupuk kandang.”

“Aku bersyukur kedatangan mereka. Ya, mereka yang kuanggap orang hebat, dan selalu memberi motivasi, Bang Darwin, kak didik, M. Jamil, kak Faisal, kak Rice, Kak Tari, Dia, Rati, Dika, Sarwan  dan masih banyak lagi. Terima kasih.” Ucapku nada melemah.

***

Tak terasa sudah memasuki dua minggu mungut botol Aqua dengan upah  Rp20.000/hari.  Jika ada lebihnya tetap   selipkan di dompet merah   pemberian mamak.  Hari ini hari minggu. Aku  libur, lebih banyak menghabiskan waktu membaca lalu  tidur di kamar. Kepalaku terasa sakit, dan pengen muntah.

Tak ada yang bisa kulakukan selain sabar.  Aku tak boleh minta tolong dengan   lelaki lajang yang ada di sebelah kamarku. Nanti dikira ganggu waktu istirahatnya. Kubuka  Netbook, warna biru. Jemari masih kuat mengotak-atik keyboard. Film horor “Hantu di atas Genteng” alurnya ceritanya sangat lucu.  Aku tidak tertawa dengan lolucon yang kadang kala sangat lucu.  Aku tak pengen tertawa saat badan mulai lemas. Buat apa? Setelah tawa tersebut, aku tahu persis bahwa tak akan sembuh dengan tiba-tiba.


Samarinda, 05 November 2015

Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Perempuan kelahiran Bulukumba, 09 Nopember 1994. Jurusan Manajemen  Obat dan Farmasi, AMA Yogyakarta.  Dapat hubungi via Email: Nurwahidah@yahoo.com.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website