Headlines News :
Home » » Ciuman Istri Tetangga

Ciuman Istri Tetangga

Written By Pewarta News on Selasa, 01 Desember 2015 | 20.12

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Rintik-rintik hujan terdengar disetiap genting. Guntur bertempur dengan aliran udara.  Kicauan burung perlahan hilang. Rombongan anjing mengonggong di kolom rumah.  Mata mereka samakin tajam, sepertinya melihat mayat digergaji peristirahatan terakhir. Di bawah pohon cangkeh terdengar pula jeritan anak kecil. Mereka berlarian, menyambut kedatangan hujan. Begitulah kebiasaan anak desa. Desa Anrihua, Kecamatan Kindang, Kababupaten Bulukumba. Tepatnya di Sulawesi Selatan.

Di desa tersebut lebih banyak rumah panggung. Jarang terlihat rumah keramik. Padahal sudah sering masuk media massa (koran, dan lain-lain), penghasilan mereka lebih banyak dibanding  pengusaha sukses. Ya, para petani lebih tekun menanam ratusan pohon cangkeh dan menggarap berbagai hektar sawah. ”Tak perlu mewah yang penting anak bisa gelar S3.” Argument salah satu petani, yang nongol dikoran Fajar. Namaku, Sarwan mahasiswa dari UPN Yogyakarta. Prodi pertanian. Kami melakukan penelitian selama dua bulan di desa ini. Beberapa kerabatku menyebar dari desa ke desa. Alex, Jalil, Rati, Uni dan Anti.

Dekat perbatasan desa Anrihua-Balibo. Aku berdiri seperti tegaknya pohon kelapa, menatap ke depan. Sepatu kets merah yang membalut tungkai. Sekejab mengagah lalu terkelupas bagian depan. Tanah semakin lembab. Kulirik rumah panggung cat ungu. Hampir sama besarnya dengan Mesjid Dato Tiro Bulukumba. Aneh, rumah yang ada di depanku beda dengan rumah yang lain.  Terlihat angker.  Banyak bunga-bunga kamboja di area pagar. Sebagai mahasiswa harus berani. Ya, berani merebut  hati penghuninya.  Biar dibolehkan tinggal dan bisa menyelesaikan tugas kampus.

“Assalamualaikum.” Nadaku semakin nyaring. Sembari mengupil.
“Waalaikumsalam.” Sebuah wajah berseri ditampar  angin.
Senyumannya pun ikut. “Masuk!” Ucapnya.

Aku mengupas senyum agar kesan pertama terlihat ramah. Sebuah kursi kayu keunguaan. Ku duduk perlahan di kursi itu sambari memotret ikan hias, gelas mewah. Serba mewah tertata rapi di ruang tamu. Berbagai pernak-pernik menyebar di sana-sini. Aku pun merasa lega dan percaya diri. Semoga kehadiranku bisa meramaikan  suasana. Kuputar leher berpasasang dengan seorang ibu. Ia duduk rilex. Tubuhnya dibalut baju kaos  ungu, bagian depan ada tulisan “Aku Orang Bugis”. Banyak emas yang bertengger di pergelangan tangan. Sudah kuduga memang penghuninya berduit. Aku memilih bungkam. Ia pun membuka mulut.

Iye[1], ada yang bisa kubantu?” Ucapnya pelan.
“Maaf.  Bu, menganggu. Namaku Sarwan dari Jogja. Ada tugas dari kampus, melakukan penelitian. Bagaimana sistem memupuk cangkeh? mengelola sawah yang baik? Jika diberi kesempatan, bolehka aku tinggal di sini selama dua bulan?” Aku menjelaskan sedetail, persis marketing menawarkan produk.

“Iye. Silahkan Nak Sarwan. Aku punya sawah dan    ratusan pohon cangkeh. Jadi kamu bisa menyelesaikan tugasmu. Anggaplah rumah sendiri.” Ucap ibu itu sambari menunjukkan  kamar  baruku. Aku     bisa menafsirkan kalau beliau sudah bersuami.

Aku heran, baru detik ini bertemu makhluk sangat  baik, langsung  diberi kesempatan numpang. Mungkin, perampok kalau ada yang minta izin pasti diberi kesempatan. Kesempatan mengambil hartanya. Suasana hening. Ibu itu tunduk, menyembunyikan senyum.

“Kenapa Bu?” Ucapku datar.
“Tidak Nak. Tidak  apa-apa, istrahatlah ! sepertinya kamu lelah. Tidak usah malu-malu kucing, anggaplah ini adalah rumahmu. Namaku Bu Susi.” Ucapnya masih menyerengai. Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih, dan tidurlah aku dengan lelap di kamar baruku.

***

Pukul delapan lewat tiga puluh. Terbangun dan termangu di pinggir ranjang kayu. Terdengar suara gemeretak di pinggang. Aku merasa masih lelah, perjalanan lima jam dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju desa ini. Tiba-tiba dorongan pintu kamarku terbuka. Mata hitamku longcat satu  persatu kulihat  bu Susi memegan piring.  Ada nasi, tempe, tahu, dan segelas air putih.  Jauh-jauh dari Jogja masak cuma sarapan tempe, tahu, pikirku.

“Sarapan ki[2] dulu Nak.” kata bu Susi sambil menyibakkan rambutnya yang gondrong.

Aku  pun segera buang kaki ke papan, lalu mengunyah, gerakan mulut terlalu cepat  hingga tak bisa mengatur napas. Keheningan terjadi beberapa menit. Kuangkat dagu dan memandang bu Susi. Sepertinya ada yang memberatkan pikirannya.

“Kenapa Bu?” Aku berusaha mencairkan suasana.
“Merasa bersyukur kerena kedataganmu Nak.” nada bu Susi melemah, tunduk menyeka hidung.

“Hartaku berhamburan di setiap desa. Berhektar ladang sawah, ratusan  pohon cangkeh.  Dan punya kos-kosan di Makassar. Tapi itu semua tak membuatku, merasa damai dan bahagia. Kesepian yang kurasakan amatlah sepi.  Tak seperti  tetangga sebelah punya orang tua, suami dan anak.” Ujar bu Susi, wajahnya pucat.

“Di mana mereka?” Tanyaku, sambari memasang wajah simpati.
“Mereka....” bu Susi membuang wajah di lelangit kamar. Aku pun mengekor. Tetap penasaran apa yang sebenarnya terjadi?.

“Aku adalah anak dari keturunan karaeng[3]. Kami dikenal orang terkaya di desa ini. Beberapa orang luar daerah, Jogja, Semarang, dan Surabaya.  Datang  ke sini mencari nafkah. Meskipun pekerjaan mereka bukan di kantoran, tapi menggarap ratusan pohon cangkeh, dan  puluhan hektar sawah. Sebenarnya tak pantas, orang kota  kerja di pedesaan. Tetta[4] pun memberi kompensasi di atas gaji PNS di sini.

Tetta,  orangnya ringan tangan. Ia dikenal persis malaikat di mata masyarakat. Aku merasa bangga jadi anaknya. Tetta merasa bahagia bisa membantu sesama. Meskipun, terlihat bahagia. Namun, hatinya meringkik persis kuda. Kesepian sejak ammak[5] tutup usia dua tahun yang lalu. Beliau terserang penyakit jantung koroner.

Sejak itu tetta, belum ikhlas kepergian ammak. Andai nyawa bisa ditukar dengan harta, tak apalah seluruh kekayaan tetta ditukarkan. Aku pun belum rela jadi anak piatu. Hari berganti bulan, tetta mulai rentah dan tiba-tiba lumpuh hingga duduk di atas kursi roda. Beliau sangat khawatir dengan masa depanku. Tak mikir panjang, tetta menjodohkan aku dengan lelaki pengusaha dan terkaya di kota Makassar. Begitulah salah satu tradisi orang desa di sini, kebanyakan dijodohkan. Sebenarnya aku menolak karena umurku masih lima belas tahun. Usiaku memang masih anak-anak, tapi darahku mengalir pekat keturunan karaeng, yang alot. Seminggu aku mengurung diri di kamar. Aku sangat takut menikah dini. Lebih kutakutkan jika bergulat di atas ranjang. Apalagi lelaki yang tak tahu asal-usulnya.

Tetta, tetap berusaha agar aku  setuju. Katanya biar  tidak sengsara dikemudian hari dan harta tetta tetap terjaga. “Cukup  ammak tak melihatmu duduk di pelaminan.” Kata tetta. Sejak itu, aku mulai luluh dan mengiyakan. Tetta, sangat kagum terhadapku. Meskipun dihatinya tak rela aku menikah di bawah umur. Aku tahu karakter tetta, dari ammak.

Berita pernikahan kami sudah merebak  dari desa, kota hingga di luar kota.  Tercetak enam ratus undangan. Di halaman rumah, puluhan orang  mendekorasi. Satu minggu kemudian acara pernikahan pun tiba. Aku yang duduk di atas pelaminan persis ratu. Baju penganting dan pernak-pernik menyelimuti tubuhku. Sebelah  kanan. Lelaki yang lebih tua dariku. Dialah yang akan jadi teman  tidurku. Di tenda biru, ratusan para undangan wira-wiri. Ada yang sibuk memotret dan menikmati hidangan.  Mereka terlihat bahagia dan tertawa lepas. Tetta pun tak mau ketinggalan. Acara pernikahan pun  berlangsung dengan lancar.

***

Tetta sudah menyediakan tiket bulan madu di Paris. Jauh sebelum hari pernikahan kami. Aku menolak, bukan berarti tak menghargai tetta. Tapi aku kecewa. Setidaknya tetta juga ikut. Mobil avansa warna biru sudah terpajang di halaman rumah. Aku dan suami ada di dalamnya. Singkat cerita, kami sampai di kota Paris. Malam pertama telah tiba. Duduk di depan cermin. Tubuhku gemetar persis koruptor yang akan divonis hukuman mati. Sekejab, lelaki itu mendorong pintu dan menaruh bokongnya di sebelah kananku. Aku mendesis, tanganku mencengkeram paha, seolah ini hanya  mimpi. “Bangunkan aku, aku mohon. Aku tidak mau berada di sini.”Ucapku.

“Kau baik-baik saja? Lelaki itu bergagas, memegang bahuku. Aku  sudah    menunduk dan pasrah. Sayangnya ini bukan mimpi. Ini nyata sekali. Lelaki itu sudah sah menjadi suamiku. “Seharusnya aku melayani” . Ia pun semakin mendekat dan kami bersenggama di atas ranjang.

***

Bola mata Sarwan mulai berkaca-kaca, mulutnya mengangah. Ia masih penasaran apa cerita selanjutnya? bu Susi, tunduk dan menyeka hidung.

“Bulan madu kami, berjalan dengan mulus. Aku mulai bahagia dan beranggapan dunia ini hanya milik kami berdua. Masih di atas ranjang, tiba-tiba handphone berdering. Menandakan ada panggilan masuk. “Om Anmark.” Desahku.
“Ada apa Om?”  Suaraku masih berkumur.

“Pulanglah sekarang! Tettamu...” nada om tergesa-gesa dan menutup telefon.
Saat itu aku bergegas bangun. Ada apa dengan tetta? Tak mikir panjang. Kubangunkan suami dan  kami segera  pulang. Sepuluh  jam perjalanan,  tibalah kami di depan pagar. Bola mataku longcat keluar, melihat kain putih terpajang di halaman rumah. Mobil berjejer di sana-sini. Jalanan pun macet. Ribuan orang menjerit histeris.” Apa yang sebenarnya terjadi?” Aku berlari kencang dan memasuki ruang tamu.” Tetta....” teriakku lepas. Aku tak mengira kalau tetta pergi menyusul ammak.

***

Delapan bulan kepergian tetta. Aku sudah mengikhlaskannya, mungkin inilah jalan terbaik dari Tuhan. Saat itupula mertua mendesak kapan ada cucu? aku sudah berusaha, bahkan sunnah nabi. Tak pernah kami tinggalkan setiap malam jumat.  Kami pun pernah  keluar luar negeri terapi. “Adanya gangguan fisik pada ovarium sudah pasti akan menganggu proses ovulasi dan bahkan menyebabkan ovulasi gagal, artinya tidak ada sel telur yang dihasilkan. Jadi meskipun, berhubungan seks dilakukan setiap hari. Jika tidak ada sel telur yang dibuahi maka kehamilan mustahil terjadi.” Kata  dr. Dia Budiarti, Sp.OG.

Wajah masem suamiku terlihat mengendur. Mulai berubah dua bulan terakhir,  mudah sekali marah. Dia bisa mengamuk tanpa sebab di atas ranjang. Persis orang keserupan. Aku semakin khawatir, mungkin dia tak mau jika punya istri mandul. Saat itu pula  memilih sibuk dengan usahanya. Perhatiannya sudah hilang. Mondar-mandir keluar kota. Jarang sekali kami tidur bersama. Sering kubujuk pulang. Namun, ia tetap beralasan sibuk. Akhirnya aku harus menhandel para pekerja tetta. Pernikahan tak selamanya harmonis. Itulah yang terjadi dalam keluarga kami. Kutukan apa yang menampar suamiku, kenapa  secepat itu berubah?

Kerinduanku pada tetta dan ammak  tak menyamahi dengan sang suami. Aku lebih merindukannya. Lima bulan dia meninggalkanku, tak sekali pun pernah pulang. Hari-hariku semakin sepi, hanya bisa mengingat tawanya yang samar terus terbayang di kepalaku. Persis televisi yang memutar siaran ulang. Tak disangka aku pun diserang penyakit  jantung, persis ammak. Akhirnya off-name di Rumah Sakit Daeng Raja Bulukumba. “Suami durhaka” Ucapku. Setidaknya dia nongol saat aku sakit. Untung ada Om Anmark yang satia merawat sampai aku lekas sembuh. Mulutnya dipenuhi nasihat indah, “Bersabarlah!” Bagaimana aku harus bersabar setelah tetta, ammak dan samiku pergi. Mudah sekali bicara, tapi menyakitkan menjalaninya.” Desahku pada Om.

Beberapa minggu kemudian, dokter menyuruh  pulang. Tiba di rumah aku dan Om, duduk di depan televisi tertawa lepas. Om berusaha menghibur.

“Om tahu bagaimana rasanya bersabar selama ini? Tak bisa ki[6],  bayangkan bagaimana aku? Harus menipu diri sendiri. Menikah dini, melayani, melaksanakan tugasku dengan patuh. Tapi apa balasannya?” ucapku pada om, terdengar kasar. Ia pun memilih bungkam.

Tiba-tiba terdengar suara mobil. Kupikir itu adalah suamiku. Pulang dari luar kota. Segera kuberlari kencang. Menarik pintu sangat antusias. Ternyata benar suamiku. Aku mulai menyerengai. Tapi, senyumanku perlahan hilang. Melihat dia bercipokan dengan seorang perempuan. Aku bisa memotret siapa perempuan itu. Dia adalah tetangga sebelah, sudah bersuami. Aku memilih bungkam, dan perlahan mundur. Menjatuhkan badan di papan.

Langkah kaki Om Anmark bisa kudengar. Di tangan kanannya merangkul badik. Ia pun segera keluar menghampiri lelaki yang kuanggap menyeleweng. Begitulah kerakter Om beda dengan tetta. Ia sangat keras dan harga dirinya sangat tinggi. Apalagi kami keturunan kareang. Hanya suara adu mulut yang bisa kudengar dari area pagar. Aku berusaha bangun, tapi tubuhku loyo. Dadaku mulai sakit.” ucap bu Susi. Bola matanya sudah bengkak.

“Terus apa lagi?” Lagi-lagi Sarwan, bertanya. Ia tambah penasaran.
“Aku sangat kehilangan. Saat kutahu Om Anmar, mengusir suamiku. Memang pantas suamiku  seperti itu. Pantas mencari perempuan lain, aku tak boleh cemburu. Karena kutak bisa memberikan ia seorang anak.

Alis Sarwan menggerut. Seharusnya bu Susi tak boleh menyebutnya sebagai suami, tapi penghianat. Suasana hening, bu Susi berhenti bercerita dan tutup mulut. bersandar di bahu Sarwan. Sarwan pun merasa simpati “Setegar itukah? berulang kali kehilangan orang yang ia sayangi” Ucapnya. Namun, pengalaman bu Susi. Setidaknya ada pelajaran yang ia bisa petik, kalau sebagai lelaki tak boleh menyeleweng. Sarwan berharap  kehadirannya di rumah ini bisa menambal luka bu Susi.


___________
Catatan Kaki:
[1] Iya. Kata sopan
[2] Ki, digunakan untuk perkataan sopan
[3] Orang bangsawan
[4] bapak
[5] ibu
[6] Ki, kata sopan dgunakan  saat bercerita dengan orang yang lebih tua



Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website