Headlines News :
Home » , , , » Kabar Dari Pulau Bajo

Kabar Dari Pulau Bajo

Written By Pewarta News on Minggu, 13 Desember 2015 | 10.32

Dheyo Keanu Ch.
PewartaNews.com – Hari itu, kami baru saja tiba di Pelabuhan Sape. Perjalanan dari Dompu yang membelah gunung dengan rute berliku-liku sangat menguras tenaga. Capek. Badan pegal. Tulang-tulangku rasanya mau lepas semua. Aku memang jarang menempuh perjalanan jauh seperti itu. Apalagi harus mengendarai sendiri sepeda motor hingga empat jam lamanya. Hmm, ya sudahlah. Demi seorang teman. Apalah artinya capek itu.

Karena waktu sudah hampir pukul 1 siang, kami memutuskan untuk langsung menitipkan kendaraan di rumah seorang warga yang tinggal di situ. Oya, siang itu kami akan ke Pulau Bajo. Ada sahabat yang ingin kami datangi. Namun, sebelum bergerak ke sana kami harus menunggu konfirmasi darinya terlebih dahulu.

Enggak mau buang tempo lama-lama karena takut gosong, di bawah terik matahari kami melangkah munuju ruang tunggu pelabuhan. Tiba-tiba langkah kami dihadang oleh dua orang laki-laki dengan perawakan tinggi besar. Memakai celana jeans warna biru dengan kaos oblong putih bertuliskan I LOVE BIMA. Kami sedikit takut. Apalagi ini pelabuhan, suasananya sama dengan terminal yang rawan akan tindak kejahatan.

Keduanya melepas kacamata hitamnya sama-sama lalu menawari kami paket tour ke Pulau Komodo. Saat itu kami baru sadar ternyata mereka adalah crew sebuah biro perjalanan wisata. Kami tetap melangkah dan mereka terus membuntuti. Penolakan yang sopan enggak mempan. Mereka masih merayu sampai kami berada di ruang tunggu. Lalu mereka pun ikut-ikutan duduk. Wah, ngotot juga nih orang, kataku dalam hati.

Dari jarak 20 meter kami menyaksikan orang-orang tumpah di dermaga. Memang sedang ada aktivitas bongkar muat di sana. Satu suguhan yang membuat kami ngantuk. Disusul aksi para calo yang mondar mandir di depan kursi panjang yang kami tempati. Bak artis di televisi mereka beradu cari perhatian dengan anak-anak berseragam sekolah yang menjajakan dagangannya. Keadaan benar-benar enggak kondusif lagi. Mereka tak henti-hentinya merayu siapa pun yang baru saja dijumpainya.

Sementara sampah plastik berserakan di mana-mana. Bau pesing menusuk hidung. Orang-orang yang merokok, asapnya mengepul di udara. Dihirup oleh kami ramai-ramai. Huffff, praktis kami enggak bisa istirahat. Niat mengumpulkan sisa-sisa tenaga berbuah sebaliknya. Aku sendiri, badan yang pegal terasa makin pegal.  

Enggak lama kemudian kabar dari Pulau Bajo pun sampai. Kami diminta mencari perahu nelayan yang akan ke Pulau Bajo. Biasanya banyak merapat di sekitar pelabuhan. Ongkosnya cuma Rp.2.000,-untuk satu orang. Penyeberangan dari pelabuhan Sape menuju Pulau Bajo akan menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit. Akhirnya kami cepat-cepat meninggalkan ruang tunggu dan para calon tadi itu.

Ternyata enggak sulit menemukan perahu itu. Jika dihitung-hitung jumlahnya ada empat dengan ukuran yang hampir sama. Tapi tunggu dulu, perahu-perahu itu tak akan langsung bergerak sebelum dipenuhi oleh penumpang sesuai kapasitasnya. Jadilah kami hanya berpindah tempat duduk. Tapi masih lumayan sih duduk di perahu ketimbang di ruang tunggu tadi.

Ketika lima orang berikut barang bawaannya sudah bersama kami. Maka dari atas perahu kecil itulah pengalaman pertama akan kutulis. Ada perasaan khawatir yang mengusik. Tapi sekuat tenaga kusembunyikan. Tau enggak kenapa? Masalahnya ada Nisa di situ sebagai satu-satu perempuan dalam rombongan kami. Jadi, enggak elok rasanya jika ketakutanku berlayar dengan perahu sekecil itu harus tampak pula di wajah. Tetap jaga imej nih ceritanya.haha  

Wah, naluri fotografer dari sahabat kami Fery terpanggil. Tanpa diperintah ia mengabadikan setiap detik dari petualangan di Kabupaten Bima siang itu. Nisa sibuk membalas pesan singkat yang masuk di telepon genggamnya. Irfan tewas di antara tumpukan barang-barang penumpang. Sedangkan aku mendadak meningkat religiusitasku lantaran enggak henti-hentinya memanjatkan doa agar selamat.

Baiklah, sambil menikmati deburan ombak yang menggoyangkan perahu, mari kukenalkan sahabat yang akan kami datangi. Namanya Gilar Cahya Nirmaya. Walau banyak teman memanggilnya Gilar, selama di Bima ia lebih nyaman dipanggil Maya. Ada alasannya lho! Dalam bahasa Bima huruf konsonan di akhir kata sampai kiamat pun enggak akan pernah diucapkan. Namun tetap ditulis sih kalau etimologi kata tersebut diketahui. Sehingga kata-kata seperti Jatuh, Amir atau Naik cukup diucap Jatu, Ami atau Nai saja. Sedih ya.

Maya adalah pemudi jebolan Institut Pertanian Bogor yang saat itu sedang bergabung dengan gerakan Indonesia Mengajar (IM). Untuk menebar inspirasi bagi anak-anak Indonesia di manapun mereka berada, ia rela meninggalkan hingar bingar kota yang membesarkannya, Bekasi, Jawa Barat, demi berada di pulau kecil di ujung timur Pulau Sumbawa. Menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri Bajo Pulo.

Seketika perahu kami terombang ambing dengan hebat karena berpapasan dengan kapal dari Pulau Komodo. Hmm untung ombak yang dikirimnya enggak terlalu besar. Jika ia, bisa-bisa perahu kami terbalik digulungnya. Tamatlah kami di situ. Nauzu billahi min zalik.

Dari segi ukuran kapal itu memang lebih besar. Aduh, sial. Bikin aku takut saja. Irfan terbangun, selanjutnya memusatkan seluruh perhatiannya pada Pulau Bajo yang sudah tampak dari kejauhan. Ia juga mengarahkan Fery pada obyek-obyek yang menarik.

Kulihat Nisa yang dilanda bahagia. Sebab enggak lama lagi ia akan berjumpa dengan Maya sahabat lamanya. Sedangkan aku berusaha meredam rasa takut dengan cara melempari penumpang lain pertanyaan-pertanyaan tentang Pulau Bajo.

Lima belas menit terlewatkan. Perahu kecil yang kami tumpangi akhirnya merapat di dermaga Pulau Bajo. Meski demikian kami belum boleh bergerak sebelum perahu diikat kencang oleh pemiliknya. Seorang perempuan muda dengan kulit putih berkacamata kulihat berdiri di ujung dermaga. Ia memakai celana jeans warna coklat dengan baju warna coklat tua. Dalam hati aku sudah menebak-nebak siapa gerangan dia.

Sesaat kemudian seluruh penumpang diminta membawa tubuh masing-masing ke atas dermaga. Tapi sebelumnya transaksi rupiah dengan pemilik perahu enggak lupa kami lakukan. Teriring ucapan terima kasih yang dalam.

Tuh kan, ternyata dugaanku benar. Enggak lama setelah menginjakkan kaki di atas dermaga, Nisa langsung mendekati perempuan tadi dan berpelukan. Seolah enggak takut gosong lagi, kami bertiga menyaksikan adegan lepas kangen dua orang sahabat di bawah terik matahari. Dilanjutkan dengan prosesi memperkenalkan kami satu per satu. Mulai dari aku, diikuti Irfan, dan Fery.

Aku dan Irfan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Semua berlangsung biasa. Tapi Fery sedikit beda. Pemuda dari Sumbawa itu terlihat kikuk dan kurang lebih salah tingkah. Ia enggak berani menatap wajah Maya lama-lama. Maka usai berkenalan, secara otomatis bertambahlah koleksi sabahat yang kami punya.

Di dermaga kami langsung mengarahkan pandangan ke segala penjuru. Melihat-lihat ke sisi kiri kanan utara selatan. Mulai dari perahu-perahu nelayan hingga ikan hasil tangkapan yang dijemur untuk dijadikan ikan kering atau ikan asin. Enak ya. Tampak pula rumah-rumah panggung kayu yang kokoh setinggi dua meter dengan atap seng mengkilat dihantam sinar matahari.

Setelah itu kami mempercepat langkah untuk menjauhi dermaga. Titik-titik keringat di kening masih bermunculan. Fery masih sibuk dengan foto-foto. Kesempatan enggak disia-siakannya untuk mengambil gambar sebanyak mungkin. Sesekali ia mengarahkan lensa kameranya ke wajah bulat Maya sembunyi-sembunyi. Mungkin ia merasa enggak ada yang memperhatikan. Hehe, kamu salah Fer. Aku memperhatikanmu.

Kami masih melangkah. Orang-orang Pulau Bajo yang melihat kedatangan kami berlomba-lomba menebar senyum lebarnya. Kami pun membalasnya dengan senyum yang enggak kalah lebarnya. Ramah, itulah kesan pertama kami di pulau yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Semakin ke dalam semakin banyak rumah warga yang kami lewati. Rumah-rumah di sana kebanyakan tak di-cat. Serat-serat alami yang tertera pada batang kayu bangunan menghadirkan ciri khas tersendiri. Ciri khas yang antik dan orisinil sih menurutku. Dinding rumah hampir semuanya dari papan. Hanya tangga yang kadang-kadang disemen.

Mataku tertuju pada dua orang anak kecil yang malu-malu melihat kami berlima. Mereka asyik bermain di kolong rumah. Tiang-tiang penyangga yang kokoh membuat mereka enggak sedikit pun khawatir bangunan itu akan roboh. Ada pula ibu-ibu yang sedang mencari kutu saudara perempuan yang lain. Tiupan angin pantai yang sejuk melengkapi obrolan santai mereka berjam-jam.

Akhirnya kami sampai di rumah tempat tinggal Maya selama menjadi Pengajar Muda (PM). Di situ kami baru benar-benar bisa merasakan istirahat. Aku, Fery, dan Irfan langsung merebahkan badan dengan posisi sesuka hati. Lantai papan rumah itu menjadi tempat kami meregangkan otot-otot yang sempat kaku karena kelamaan di perjalanan.

Sementara Nisa dan Maya membuka cerita-cerita dengan nuansa yang akrab. Walau kelihatan seperti orang tidur, telinga kami fokuskan pada apa yang mereka ceritakan.

Sekali-sekali angin berdesir pelan, mengelus-elus rambutku yang panjang. Dari atas rumah yang menghadap ke pantai, Fery kembali beraksi dengan kamera kesayangannya. Satu blitz light untuk kesekian kalinya menyambar wajah ibu guru itu. Kali ini Maya menangkapnya bulat-bulat. Lalu ia tersenyum simpul. Ujung dari drama curi gambar itu ialah melihat hasil jepretan tangan Fery sama-sama. Mereka duduk berdekatan. Suasana pun mencair. Aduhai.

Cerita-cerita Maya tentang pengalamannya selama menjadi guru Sekolah Dasar pun mengalir bagai air. Kami setia mendengarkan.
“Menjadi pengajar muda merupakan pilihan terbaikku,” kata Maya sambil menatap Fery, lalu menatap kami.
“Sebelas bulan menjadi guru sekolah dasar membuatku mengantongi berupa-rupa pengalaman hidup. Sungguh berharga.’’ lanjutnya.

Ia mandi sekali sehari. Air sulit dan harus merogoh koceh bila mau mendapatkannya. Kecuali kalau ia memilih untuk mandi di pantai setiap hari. Itu sih lain ceritanya broo. Jika ada waktu yang tepat, siswa-siswi SDN Bajo Pulo akan diajaknya untuk study tour ke museum Asi Mbojo. Letaknya di pusat Kabupaten Bima. Hal-hal yang enggak pernah dilakukan oleh guru-guru di situ sebelumnya.

“Melalui program seperti ini anak-anak muda Indonesia sesungguhnya sedang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang kuat di masa depan. Pengetahuan yang aku dapat dari bangku kuliah, seminar-seminar, simposium, forum-forum diskusi anak muda, menurutku belum mampu menandingi pelajaran hidup yang aku peroleh selama berada langsung di tengah masyarakat.” ungkapnya lagi.

Sembari mendengar penuturan Maya, kami membuang muka ke pantai. Menyaksikan anak-anak Pulau Bajo yang sedang menikmati masa kecilnya. Pantai dengan pasir putih yang bersih. Berikut batu - batu besar yang menyembul di permukaan. Meskipun jauh dari fasilitas-fasilitas seperti anak-anak di kota besar, alam yang indah menawarkan kebahagiaan bagi mereka. Gratis pula. Tuhan memang maha adil.
“Suasana di sana akan lebih menakjubkan jika matahari sudah mulai meninggi. Karena sinar matahari yang jatuh dengan sempurna di atas pemukaan laut akan membuat air laut menjadi biru berkilau.’’ terang Maya.

Keceriaan hadir di wajah anak-anak itu saat mendorong-dorong perahu yang enggak diikat oleh pemiliknya, atau kejar-kejaran di tengah alam yang begitu bersahabat.

Orang-orang Pulau Bajo merupakan sebuah komposisi masyarakat yang unik. Berbeda dengan orang Bima kebanyakan. Kulitnya lebih coklat dan hidung mancung pada beberapa orang perempuannya. Untuk berinteraksi setiap hari, mereka cenderung memakai Bahasa Bajo. Walaupun Bahasa Bima (nggahi mbojo) dan Bahasa Makassar juga dikuasai.

Nah, terkait dengan asal usulnya masyarakat yang mayoritas Islam itu, banyak yang berpendapat jika mereka berasal dari Philipina. Lalu berasimilasi dan kulturasi dengan orang-orang Bima selama bertahun-tahun. Sebagian juga bersuara bahwa nenek moyang mereka datang dari Bugis, Sulawesi Selatan.

Sekalipun orang asli Pulau Sumbawa, pengetahuan kami tentang Pulau Bajo enggak sebanyak Maya. Kami malu. Justru darinya kami banyak dapat pencerahannya. Miris ya.

Waktu terus berjalan. Mengetahui kami akan kembali ke Dompu hari itu juga, usai santap siang seadanya dengan menu khas masyarakat pesisir, Maya mengajak kami mengunjungi Pantai Pasir Putih-sebuah pulau kecil yang letaknya enggak jauh dari Pulau Bajo-. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke pulau itu. Perahu langganannya Maya siap membawa kami ke sana. Asyik.

Fery kini jalan di samping Maya. Modusnya masih seputar dunia fotografi. Satu-dua rupa Maya yang berhasil ia abadikan di zoom-out berkali-kali demi mempertegas bahwa ibu guru itu menarik. Kami yang melihatnya ikut senang. Bak melihat air laut yang memantulkan warna langit yang cerah.

Perasaanku kembali enggak tenang selama berada di atas perahu. Religiusitasku terpanggil lagi. Sementara Nisa, Irfan, Fery senangnya bukan buatan. Ketiganya memang hobi berpetualang. Seolah enggak sabar ingin menginjakkan kaki di pantai indah yang sejak tadi dipamer-pamer Maya.

Jika Fery mengabadikan semua gambar Maya, maka aku menyimpan keseluruhan ceritanya. Aku tergoda oleh pengalaman pengabdiannya. Rasanya ingin banget dapat kesempatan yang begitu. Kisah mengabdi di pelosok negeri membangun masyarakat kecil. Sebenarnya untuk memahami negeri ini secara utuh, bukan sekedar menambah pengalaman pribadi.

Perahu yang membawa kami ke Pantai Pasir Putih ukurannya lebih kecil dari perahu pertama tadi. Pemiliknya pun seorang laki-laki tua yang kurus. Kemejanya usang dan enggak dikunci. Walau demikian ia sangat lincah mengemudikan perahu membelah lautan biru. Sehingga perahu melaju dengan kecepatan yang terukur. Aku salut.

Tak terasa akhirnya kami menginjak Pantai Pasir Putih. Sebuah lanskap karya Tuhan yang belum terjamah tangan manusia. Begitu mendebarkan. Seperti biasa kami langsung pasang gaya agar difoto. Sehingga hanya dalam waktu beberapa menit saja puluhan gambar pun tercipta. Bagus-bagus. Kami sungguh enggak mau kehilangan momen terbaik saat berada di pantai yang bersih bak perawan itu.

Kami menyusuri bibir sambil memanjakan mata. Letupan-letupan canda pun menjadikan jalan-jalan kami semakin berarti. Kadang-kadang Irfan melakukan atraksi aneh yang mengundang tawa. Aku, Nisa, Maya tertawa lepas. Kecuali Fery yang masih jaga imej.
 “Kalian pernah dengar Pencerah Nusantara” tanya Maya.
 “Tidak pernah” balasku singkat.
 “Apa itu Pencerah Nusantara’’ tanya Nisa.
“Hampir mirip dengan program Indonesia Mengajar, tapi gerakan ini fokus pada penguatan pusat layanan kesehatan primer’’.
“Wah apa lagi itu, aku enggak ngerti,” sambut Irfan polos.

Kami berhenti di bawah pohon besar. Mengambil posisi duduk karena Maya akan kembali bercerita. Tapi tenang, suasananya tetap santai kok.
“Orientasinya adalah perbaikan derajat kesehatan masyarakat dengan mengajak mereka merubah pola pikir dan perilaku kesehatannya. Anak-anak muda itu terdiri dari dokter, bidan, perawat dan para pemerhati kesehatan. Mereka akan dikirim ke puskesmas-puskesmas di daerah terpencil Indonesia. Ada baiknya kalian coba deh,’’ sarannya.

Bagi kami Pencerah Nusantara adalah susuatu yang baru. Oleh karena itu meresponnya harus dengan antusias. Aku sendiri demikian. Enggak tahu dengan ketiga sahabatku yang lain. Walau ada nada pesimis karena latar belakang pendidikan kami enggak ada yang menyentuh program itu.

Maya semangat bercerita melihat Fery semangat mendengarkan. Ia menambahkan, “Anak-anak muda yang terpilih nantinya akan ditugaskan di puskesmas-puskesmas daerah terpencil. Mereka akan diajak untuk ikut merasakan hidup bersama masyarakat di tempat-tempat yang minim fasilitas. Oya, di sana nanti hampir enggak ada listrik, enggak ada sinyal telepon, dan enggak ada sumber air bersih.’’

Diam-diam aku manaruh simpati pada program yang dimaksud. Walau masih ragu. Apa mungkin sarjana pendidikan bisa kerja di Puskesmas. Ah, bukankah the right man in the right place kini tinggal semboyan. Orang bisa kerja dimana saja selama ada kesempatan.

Kami terlibat diskusi yang panjang. Kebetulan suasana juga mendukung. Hati dan pikiran kami seratus persen dimanjakan oleh keindahan pantai Pasir Putih.
“Apa bisa orang-orang dengan latar belakang pendidikan non-kesehatan ikut menjadi Pencerah Nusantara,” tanyaku pelan
‘”Bisa. Bisa Dheyo. Nanti daftar sebagai pemerhati kesehatan aja,” jawab Maya dengan nada serius.

“Wah boleh juga nih,” sambung Fery yang juga sarjana pendidikan
“Iya, kalian harus coba,” sambut Maya dengan senyum.

Walau belum ada yang berani mendeklarasikan diri untuk mencoba, kami berempat menerima informasi itu sebagai energi positif. Matahari terus bergeser mengikuti titah pemiliknya. Sore pun menemui kami di pulau itu. Sebenarnya kami masih ingin menyaksikan lukisan spektakuler berupa matahari terbenam. Namun, waktu yang mempertemukan waktu pula yang harus memisahkan. Sejujurnya kami cukup puas dengan suguhan alam yang indah sekaligus keramahtamahan orang-orang di Pulau Bajo.

Perahu yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Sape sudah menunggu. Banyak sekali hal-hal yang aku temukan di perjalanan hari itu. Betapa beruntungnya orang-orang yang bersahabat dengan Maya. Yang dengan tulus telah berbagi inspirasi dan motivasi.

Kalimat mempersiapkan pemimpin yang kuat di masa depan yang diucapnya tadi bagaikan doktrin yang tertanam kuat dalam hati. Aku enggak kuasa menyembunyikan rasa kagumku pada pilihan hidupnya. Sekali lagi harus kukatakan bahwa pertemuan dengannya semacam highlight of the day. Tuhan memang selalu baik padaku, buktinya hari itu aku dipertemukan dengan orang yang baik banget.

Lantas aku tersenyum. Lama. Bersama senja yang perlahan turun di Pulau Bajo, diam-diam kumantapkan niat untuk mencoba apa yang disarankan Maya.


Penulis: Dheyo Keanu Ch*
*Ketua Angkatan Gerakan Pencerah Nusantara batch II dari Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk MDGs, WK I TERUNA NTB 2007

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website