Headlines News :
Home » » Pahlawan Tutup Usia

Pahlawan Tutup Usia

Written By Pewarta News on Senin, 21 Desember 2015 | 08.55

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Saat  ayah masih hidup, ia tak pernah marah.  Mukanya sejernih telaga. Ketika aku dan saudara berbuat  salah.  Ia hanya memandang, lalu memberikan senyuman. Tak lupa sebuah nasihat terhadap kekhilafan yang telah kami perbuat. Kami sangat beruntung memiliki ayah. Beliau baik dan penyayang. Anak pertama Irma, kedua  Wahid dan ketiga Nadia. Di antara mereka, anak kedualah yang sangat bandel. Selalu salah di mata ayah dibanding  anaknya yang lain. Semuanya harus tercapai, bagaimanapun dan apapun caranya.

Terkadang ayah menegur berkali-kali. Yang kulakukan hanya berpura-pura  menundukkan  kepala. Sama sekali  tidak ada yang masuk di telinga.  Masuk telinga kanan, eggh malah keluar di telinga kiri. Aku hanya berkata, “Iya Pak, maaf  aku salah.” Besok tetap meneruskan.  Pernah suatu kali, ayah menegurku di saat keluar rumah dan memakai pakaian yang ketat. Kaos minim dan celana jins super ketat tepatnya. Mahkota ditutupi jilbab segi empat, terlihat karet merah yang tergulung di surai. Aku enjoy aja, tak peduli dengan kata-katanya sama sekali. Sungguh tragis!! Ayah selalu memperhatikan setiap apa yang kulakukan dengan sangat detail. Sekecil apapun itu. Lalai dalam shalat saja dipertanyakan.

“Nak, kamu harus  mengubah pakaianmu, supaya kehormatan sebagai perempuan tetap terjaga. Jadilah anak baik dan sholehah.” Ucap ayah nada lembut.

“Iya Pak, tapi sekarang udah modis. Sekali-kali tidak apa-apa menyimpang dikit.” Jawabku  spontan.

Saat itulah senyuman ayah keluar. Ayah tidak marah, malah senyum yang mengembang. Ayah nomor satu yang kutemui di dunia. Ayah juga tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar terhadapku. Mungkin karena inilah aku jadi tidak takut kepadanya. Aku  anak  durhaka. Sering membentak ayah. Sementara saudaraku yang lain tidak. Hmm, entahlah! Yang lebih parah lagi terkait sifatku jika pengen sesuatu tapi tidak dikabulkan, maka langsung mengamuk persis orang kesurupan. Membanting piring di dapur dan berkata ayah tidak sayang padaku, tidak adillah, kenapa harus hidup dengan keadaan serba tak ada? Ayah miskin. Namun, tetap keluar nasihat di bibir tipisnya.

Melampiaskan kekesalan  dengan berbagai cara. Kadang  nekad kabur dari rumah. Dengan cara itu  ayah mau mengerti dan mengiyakan permintaan. Walaupun tentunya ayah dan ibu sangat panik dengan ketiadaanku. Mereka merengek dan meminta segera pulang. Dari tempat  kabur itulah, aku membujuk ayah agar mau membelikan motor Ninja R. Permintaanku ditunaikan.  Ayah takut akan ancaman yang kulontarkan. Kalo aku akan bunuh diri. Akhirnya keinginan tercapai juga. Sangat bersyukur. Ternyata apa yang kulakukan tidaklah sia-sia.

***

Pada sore  hari masih berkabut. Mentari menyerpihkan sinar lembayungnya. Semarga  berkumpul di beranda  rumah menyeruput kopi hitam dan kue cucuru . Kami bercanda, tertawa bersama.

“Nak, kalian harus lanjut Sekolah. Kalian  harus sopan dan saling menghargai  sesama. Dan yang paling penting, jaga ibumu.” Ucap ayah nada tak jelas, masih mengunyah kue.

“Mau ke mana? Kok ngomon seperti itu. Kayak mau pergi saja.” Desak ibu, senyum terkupas. Namun, ayah hanya mengalihkan pembicaraan.

Sore itu ayah bercanda tanpa henti tak seperti biasanya. Kami juga larut dalam canda tawanya. Tak terasa malam telah tiba. Saat itu aku merasakan ada sesuatu yang aneh di rumah. Tidak seperti biasanya, terasa sangat sepi. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian. Pada malam itu kak Irma pergi ke rumah tante berziarah. Aku pun ingin ikut. Saat  turun di tangga rumah. Aku berpapasan dengan ayah. Ia baru saja menunaikan salat Isya di masjid Pabbaeng-baeng.

“Nak, kamu mau ke mana? jangan pergi! Sudah larut, lebih baik mengaji dan belajar. Lebih ada manfaatnya!” Ucap ayah sangat pelan, seperti muallaf yang mengucapkan syahadat. Sejanak  kulirik rautnya,  pucat dengan tarikan napas yang lemah.
“Iya Pak, pasti pulang kok.” Nadaku lantang.

***

Malam semakin larut. Embun pun turun. Kak Irma  tidak mau pulang. Katanya mau menginap. Aku membujuk agar  pulang  tapi  tetap ngotot. Ya, terpaksalah  aku menginap. Pukul 12.00 WITA. Aku terbangun dan langsung  mendengar nada ibu  menangis histeris. Rumah tante hanya bersebelahan dari rumahku. Aku sangat panik dan takut.  Akhirnya kubangunkan kakak dan tante. Segera  kubuka bilik rumah. Kami berpegangan tangan. Gemetar seperti korupsi yang akan digergaji.

“Aku takut, Kak. Apa yang terjadi di rumah kita? Jangan-jangan ada perampok?” Tanyaku. Bukan jawaban yang kudapat. Hanya kecewa.

Kami pun berlari dengan kencang.  Mulut  anjing  semakin dekat di betisku. Dikiranya kami perampok. Aku merasa takut. Namun, rasa takut itu kuabaikan. Ketika mencapai  tangga rumah, kami bingung. Kenapa banyak sandal jepit? Setelah melewati ambang  pintu, bola mataku seakan copot sebelah kanan.  Sosok ayah  yang terkapar di atas tikar coklat. Aku melangkah  memeluk ayah, berusaha membangunkan. Air bening bercucuran di sebuah baju kaos coklat  yang lengket di badan. Warga  pada panik. Ada yang membasuh  air putih, ada yang bayfon dokter, adapula yang beri napas buatan. Tapi  ayah tetap menutup mata dan bungkam.

“Innalillahi Wainna Ilahi Rojiun.” Nada Pak kumis, baju hitam disebelahku. Sepertinya dia Sanro .

Aku langsung shok, tak mengira akan kehilangan pahlawan. Pahlawan yang selama ini kuabaikan,  kubentak dan kusakiti. Pergi tak pamit  “Oh, tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Ini tidak mungkin terjadi Tuhan!” Aku tetap memeluk jasad ayah sambil berteriak histeris. Semenit berlalu, kuputar leher ke  kanan.  Ada ibu di kursi tak sadarkan diri.  Kak Irma pun hanya tunduk membisu, bibirnya seperti digembok diam membisu.  Nadia  yang masih balita ikut merengek. Mungkin dia paham kalo detik ini akan jadi anak yatim.

Malam hingga dini hari, mataku berubah seperti mata cina yang terdampar di hutan.  Kini sesal dalam diriku datang. Atas tingkah dan sifat yang kumiliki selama ini. Mengapa aku tidak pernah mendengar perkataan ayah saat ia masih ada? Penyesalan memang selalu datang di belakang . Aku merasa sangat berdosa pada ayah. Maafkan aku ayah! Maafkan anakmu ini yang durhaka kepadamu! Aku ingin menghukum diriku. Andai kutahu  ayah cepat pergi, maka aku akan berbakti padamu.

Trauma ditinggalkan orang yang sangat berarti dalam hidupku takkan pernah hilang sampai kapanpun. Ayah pergi, tidak ada lagi yang menasehatiku. Aku belajar dari pengalaman, kalau apa yang kulakukan selama ini salah. Aku harus berubah! Seperti yang  dinasehati ayah dulu. Ayah, aku ingin curhat padamu dan bercanda seperti dulu lagi. Aku ingin berkata kalo ayah itu bawel tapi menyenangkan.


Samarinda, 14 November 2015

Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Perempuan kelahiran Bulukumba, 09 Nopember 1994. Jurusan Manajemen  Obat dan Farmasi, AMA Yogyakarta. Dapat hubungi via Email: Nurwahidah@yahoo.com.


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website