Headlines News :
Home » , » Selfie Tak Lagi “Cantik”

Selfie Tak Lagi “Cantik”

Written By Pewarta News on Senin, 21 Desember 2015 | 08.37

Cahya Adijana Nugraha
PewartaNews.com – Saat ini ditemukan fungsi selfie yang cukup bahaya, yaitu untuk menyebarkan terror. Penggunaan selfie tidak lagi sebagai ruang pamer dan membuktikan gaya hidup saja. Tetapi penggunaannya juga untuk menyebarkan terror. Ketakutan yang diberikan teroris dilakukan dengan menyebarkan foto selfie melalui media maya atau cyber. Sebut saja cyber terror.

Seperti yang dilakukan 2 gadis Swedia berusia 17 tahun yang mengambil gambar selfie sebelum melakukan perampokan pada tahun 2013 lalu. Mereka berpose dengan menggenggam pisau dan berpakaian layaknya perampok. Secara tidak langsung mereka telah menyebarkan perasaan tidak aman karena 2 gadis saja mampu melakukan perampokan. Jelas ini salah 1 (satu) bentuk terror kepada masyarakat, dan juga, mantan pemain football New England Patriot Tight End dituduh melakukan pembunuhan dan telah mengambil foto selfie sambil memegang pistol. Aaron Hernandez untuk Boston Bandits telah membunuh Odin Iloyd.

Ada juga peristiwa yang dilakukan oleh Justin Bahler (21) yang penulis kutip dari www.viralnova.com/stupid-crime-selfies/. Sebelum merampok Bank, dia memposting foto selfie ke akun facebooknya dengan menenteng pistol. Penyidik menangkapnya dengan mengenalinya lewat kamera keamanan Bank di Michigan yang dirampok Justin. Maka menurut penulis, setiap tindakan yang dapat memicu terjadinya ketakutan, tindak kekerasan, kerusakan melalui jaringan computer atau network disebut sebagai cyber terrorism.

Tanpa ada campur tangan pemerintah dan orang-orang yang ahli dalam bidang cyber, maka penyebaran terror ini dapat membuat trauma dan kepanikan. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saja tahun 2013 mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Mereka semua berpotensi diserang para teroris di dunia maya.

Penggunaan internet sekarang merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat. Dengan kemudahan penggunaan internet, entah perorangan atau kelompok dapat menciptakan ancaman dengan sangat mudah melalui dunia maya. Menggunakan akun palsu atau situs underground memungkinkan teroris sulit untuk dideteksi. Sedangkan, ancaman biasanya ditujukan kepada kelompok-kelompok khusus, misal agama tertentu, suku bangsa, atau komunitas yang lain yang dianggap bertentangan dengan penteror.

Dengan perkembangan yang cepat pada interconnection network atau internet, masalah cyber terror akan semakin kompleks dan sulit diatasi. Sabotase atau pengambilalihan suatu sistem global pada jaringan komputer menjadi ancaman yang lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan seluruh manusia.

Penyebaran foto selfie yang dapat mengakibatkan terror bisa dilakukan dengan cara mem-broadcast foto tersebut. Seperti yang dilakukan etnis Tamil pada tahun 1997 yang ditujukan kepada Kedubes Srilanka di manca negara. Mereka mengirim 800 pesan elektronik setiap hari yang berisi tulisan,” Kami adalah The Internet Black Tiger dan kami melakukan hal ini untuk melumpuhkan komunikasi data anda”. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas kejahatan email (email bombing, email harrasment, email spoofing, etc.)

Di Amerika Serikat, pada bulan Februari 1998 telah terjadi serangan (breaks-in or attack) sebanyak 60 kali perminggunya melalui media Internet terhadap 11 jaringan komputer militer di Pentagon. Dalam cyber attack ini yang menjadi target utama  adalah departemen pertahanan Amerika Serikat (DoD). Dengan pengetahuan manusia terhadap jaringan computer yang luas, maka serangan seperti di atas dapat ditujukan kepada pihak yang lebih luas juga. Tidak hanya 1 kantor, tetapi bisa ke suatu kumpulan masyarakat dan sistem pemerintahan suatu negara. Bahkan dunia internasional pun akan menjadi sasaran operasi serangan.

Seperti yang terjadi juga di Cina pada bulan Juli 1998, sebuah perkumpulan cyber terrorist atau crackers terkenal berhasil menerobos masuk kepusat komputer sistim kendali satelit Cina dan berhasil mengacaukan “selama beberapa saat” sistem kendali sebuah satelit milik Cina yang sedang mengorbit di ruang angkasa. Tujuan utama dari aksi adalah untuk melakukan protes terhadap gencarnya investasi negara barat di Cina.

Belajar dari luar negeri
Respon negara-negara di dunia terhadap cyber terror sudah sangat serius. Cyber Blue Team dibentuk pada Mei 2011 oleh Departemen Pertahanan Cina sebagai unit pertahanan online. Blue Army adalah sebutan lainnya terdiri dari 30 elite spesialis internet. Mereka secara resmi bekerja untuk mengatasi serangan cyber.

Begitu pula yang dilakukan oleh Negara Estonia Baltik, mereka dan NATO pada tahun 2008 membuat pusat pertahanan cyber baru. Hal ini disebabkan karena negara tersebut diserang oleh sistem Dennial of Service (DoS) yang telah membuat negara offline. Sistem pelayanan yang bergantung pada internet lumpuh total selama 3 minggu pada tahun 2007. Seluruh sarana di Estonia meliputi sistem komunikasi, sistem perbankan, hingga akses ke informasi kesehatan mati untuk beberapa waktu. Estonia sendiri bergabung dengan NATO sejak tahun 2004. Sedang pada tahun 2008 dengan pusat pertahanan cyber baru, mereka melakukan penelitian dan pelatihan cyber pada perang di Tallin.

Jikapun pemerintah Indonesia belum mampu untuk melakukan hal yang sama seperti Cina dan Estonia, masih ada jalan untuk meminimalisir serangan cyber terror yang ditujukan kepada masyarakat. Langkah pertama adalah dengan memfilter atau menyaring foto-foto yang sekiranya dapat menimbulkan ketakutan dan ancaman terror yang lain. Foto-foto selfie dengan senjata atau sedang melakukan kegiatan yang berbau sadistic dan criminal dihapus otomatis oleh sistem. Penggunaan software White Paper Executive Summary cukup mampu membatasi spam gambar dan tingkat kesalahan software ini rendah dibanding provider keamanan lainnya.

Kemudian, blokir akun atau web yang menyebarkan ancaman. Menggunakan program monitoring, situs-situs yang spesifik dapat diblock. Manfaat memblokir situs adalah tidak ada timbal balik dari korban, entah itu masyarakat umum atau pemerintah dengan teroris. Teroris tak bisa mengirim data-data ke sasaran dan masyarakat tak dapat melihat atau mengetahui ancaman-ancaman yang disebarkan. Sehingga tujuan dari terorisme tidak tercapai.

Langkah ketiga adalah dengan menangkap pelaku terror dengan teknologi face tracing (pelacakan wajah). Melalui track record dari web-web yang diblokir dan foto-foto yang disharing, bisa dianalisa dan ditemukan pelakunya. Pada face tracing, bentuk wajah (hasil selfie oleh teroris) dicocokan dengan data foto yang ada pada seluruh network. Diperlukan data terbaru dari seluruh jaringan untuk mengetahui lokasi pelaku atau penteror. Foto-foto di keramaian pasar, dideteksi satu persatu wajah yang ada dan dibandingkan dengan bentuk muka teroris hingga ditemukan posisi terakhirnya kemudian dilakukan investigasi lapangan.

Setelah melakukan hal-hal di atas, juga diperlukan sosialisasi tentang keamanan berinternet. Banyak pengguna internet tidak mengetahui perlunya keamanan dan bagaimana mengantisipasi serangan terror tersebut. Maka pemerintah dan instansi pendidikan perlu bergerak dan turun langsung ke lapangan untuk memberi pengetahuan kepada para pengguna internet yang sangat awam tentang masalah keamanan (security). Bisa dengan mengadakan penyuluhan di daerah-daerah atau juga bisa menyelenggarakan seminar tentang network security. Masalah pentingnya keamanan dan cara melakukannya bukan hanya diwajibkan diketahui orang-orang di bidang IT dan networking saja. Karena penggunaan internet sudah mendarah daging kepada banyak manusia di Indonesia.

Selfie tidak lagi digunakan sebagai ajang pamer, lomba kecantikan ataupun pengakuan atas eksistensi diri kepada kerabat, teman, atau kolega. Selfie juga digunakan untuk menyebarkan thread atau ancaman untuk menyebar kekhawatiran, ketakutan atau melakukan protes terhadap pemerintah atau kelompok tertentu. Semoga pemerintah dan para ahli networking dapat memberantas pelaku terror dan semoga masyarakat dapat berlaku bijak dengan tidak mengunggah foto-foto pribadi yang dapat menimbulkan perasaan khawatir dan takut orang lain.

Referensi :
1. Ir. Kurdinanto Sarah, M.Sc.  (Koordinator ICT Lemhannas RI) 2. Kolonel Sus Dr. Ir. Rudy AG. Gultom, M.Sc. (Kabag Multimedia Biro Telematika Lemhannas RI). “CYBER CRIMES (Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?)”. 15 Juni 2014. http://www.lemhannas.go.id/portal/daftar-artikel/1555-cyber-crimes.html
2. Adam Withnall, “Teenage girl convicted of robbery after taking pre-crime selfie wielding knife”. 17 Juni 2014. http://www.independent.co.uk/news/world/europe/teenage-girl-convicted-of-robbery-after-taking-precrime-selfie-wielding-knife-8993842.html
3. Bint005,”Kominfo : Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang”. 14 Juni 2014.
4. http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker#.U6RTKtKQaxs
5. Roderic Broadhurst, Peter Grabosky, Mamoun Alazab & Steve Chon. Organizations and Cyber crime: An Analysis of the Nature of Groups engaged in Cyber Crime. ANU Cybercrime Observatory, Australian National University, Australia.


Penulis : Cahya Adijana Nugraha
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Email: cahya.sragen@gmail.com

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website