Headlines News :
Home » » Terimakasih untuk Hari Ini [Cerpen]

Terimakasih untuk Hari Ini [Cerpen]

Written By Pewarta News on Selasa, 29 Desember 2015 | 00.10

Nufa.
PewartaNews.com – Alunan kata indah itu kasak-kusuk gelisah di lembaran halaman koran yang dijajakan di pinggir jalan. Mereka berteriak, bergemuruh, bertalu-talu hingga membuat media cetak populer yang tertata rapi itu terlihat mencolok meskipun aktivitas masyarakat perkotaan amat sangat sibuk dan berisik. Untaian kata tersebut saling berlomba-lomba mempercantik diri guna menggapai perhatian para pengguna jalan, mereka berharap agar para pejalan kaki yang super sibuk itu sejenak menghentikan langkah dan melirik barisan huruf antara a sampai dengan z yang sudah berbaris gagah.

Salah satu dari orang-orang itu adalah aku. Ya aku, seorang bocah yang lahir di atas sajadah tanah kota kecil di Jawa Tengah. Aku juga sedang berjalan menyusuri trotoar seperti kebanyakan manusia lain. Dan hatiku juga tak memiliki niat untuk menggubris kehadiran koran yang dijajakan di pinggir jalan. Padahal mereka telah berjuang keras untuk berdandan dan bisa tampil aduhai dihadapan pembaca. Namun apa daya, kebanyakan orang di negeri ini lebih suka menonton televisi

“Sayang sekali, sekeras apapun kalian berjuang membius orang-orang seperti kami, kalian akan tetap terlihat minor bagi masyarakat di sini yang memang tidak suka membaca” aku tersenyum melihat koran-koran itu belum juga terbeli.

Mereka mulai sedih, juga kecewa. Dan hal itu sepertinya memang pantas dialami sebab sampai sekarang pun belum ada pengguna jalan yang tertarik membaca, apalagi membeli. Isak tangis untaian kalimat yang bersemayam di koran itu semakin mengiris hati. Aku menjadi tidak tega dan bergegas menghampiri mereka untuk sekedar menghibur dengan setetes kalimat-kalimat penyemangat.

Namun apa yang terjadi, tangis kata-kata itu justru makin kencang. Tubuhku gemetaran takut! Bukan! Bukan aku yang membuat mereka menangis keras-keras, aku hanya berusaha menghibur! Jiwa ini mulai membela diri saat vonis tersangka dijatuhkan ke arahku sebab sedari tadi hanya sosok bocah inilah yang berdiri di dekat koran-koran pinggiran jalan itu. Sssst diamlah…

Mereka mulai mengatakan sesuatu yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Mereka minta agar bisa menjadi salah satu bagian hal penting dalam kehidupan manusia di muka bumi, termasuk di wajah Indonesia. Juga menjadi sosok yang akan berpengaruh dalam kemajuan zaman.

“Itu mustahil! Kalian hanya seonggok…”

Belum selesai ku melempar ucapan, jerit tangis kembali terdengar. Sepertinya untaian kata-kata itu sensitif dengan kata ‘mustahil’ yang kukatakan. Dimana kata tersebut berarti tak ada lagi sesuatu bisa dirubah. Dan mereka pun langsung putus harapan dan meledakkan lagi bom-bom kekecewaan yang tadi belum dinyalakan seluruhnya.

Telingaku panas, kepalaku pusing, tanganku bergetar, saat bom-bom pilu itu sengaja dijatuhkan di atas perasaan ini. Rasa lelah, sedih, tersayat, dan tidak tega mulai merasuk ke relung hati. Apalagi kala mereka sengaja bersama-sama membentuk barisan air mata dan dengan kompaknya meledak tanpa jeda, sungguh tubuh ini seakan ikut terjerumus ke dalam pusarannya.

“Baiklah, aku akan membuat kalian menjadi penyumbang terbesar dalam revolusi di dunia ini!” aku memberi titik terang

Yihaa! Sekarang bom pilu yang sempat meledak berganti menjadi bunga-bunga matahari yang bermekaran di ujung hari. Aku terkesima, sekaligus prihatin melihat berbagai media cetak yang berisikan kalimat pembangun jiwa berilmu harus teronggok tak berdaya di hadapan kebiasaan masyarakat bumi pertiwi yang tak suka membaca.

Tak mungkin merubah tabiat manusia yang tidak gemar membaca. Dan tak bisa pula bagi untaian kata itu untuk terus tampil di pinggiran jalan dan berteriak-teriak merangkul pembeli yang tidak banyak. Mereka sudah bersuara sangat keras, dan rasanya ini bukan soal kemampuan kata-kata itu untuk tetap tampil seksi tapi soal terlalu minimnya para penikmat media cetak.

Aku bergegas menghampiri pedagang koran untuk mengadakan transaksi pembelian. Lagi-lagi untaian kata itu berteriak-teriak, berharap salah satu dari mereka terpilih, tapi bagaimana mungkin? Aku hanya mampu membeli satu! Uang sakuku tidak banyak! Kebimbangan kembali memenuhi benak ini.

“Maafkan aku, tak mungkin semuanya kuboyong!” begitu saat ku sudah memilih satu dan tak menghiraukan teriakan yang lain.

Kaki ini melangkah pulang menuju rumah sambil menimang-nimang, akan aku apakan untaian kata-kata ini sampai suatu saat nanti ia bisa dilirik lebih banyak orang di pinggiran jalan.

Untaian kata bukanlah benda yang multifungsi, mereka tak bisa digunakan untuk menerangi malam maupun menyibak rumput ilalang. Mereka hanya coretan yang terbujur kaku tak berdaya, mereka tak bisa berbuat apa-apa bila tak ada seseorang yang menahkodai iramanya.

Saat kubaca dengan seksama di rumah, sebenarnya gerak-gerik kata-kata ini cukup ciamik, dan samasekali tak ada yang mengisyaratkan bahwa mereka tak menarik. Mereka bagus, sangat bagus hanya saja tak semua orang mau melirik.

Hmmm, sepertinya memang racikannya kurang sedikit gula, aku coba menuangkan gula pada kata-kata itu agar lebih manis. Namun setelah gula ditambah, rasanya justru semakin tidak enak. Untaian kata itu meronta-ronta, mereka ingin dikembalikan ke bentuk semula. Tapi apa daya, aku tidak pandai meracik kata, mungkin aku bisa menambahkan sedikit garam. Slurrp! Uhuk! Rasanya makin tidak karuan.

“Maafkan aku!” aku benar-benar sudah menyerah

Untaian kata-kata itu berkecamuk. Sungguh aku membuat semuanya jadi semakin berantakan. Aku tidak pandai membumbui kata. Harus bagaimana lagi agar semua bisa berakhir baik? Kucoba berpikir lebih keras, sampai kepala dan seluruh tubuhku berkeringat.

Ketika melihat bunga melati yang tumbuh subur di pekarangan rumah, aku mendapat ide untuk segera memetik dan menaruhnya tepat di atas untaian kata yang sedang protes dan meronta-ronta itu. Terlihat sedikit lebih baik, walau jika dicicipi rasanya tetap saja aneh! Namun ku tak punya pilihan lain dan bergegas kucampur dengan bumbu-bumbu yang tidak masuk akal. Sudahlah! Lagipula aku sudah berusaha keras.

Saat seseorang tak sengaja lewat di depan rumah, aku menghentikannya dan kutanyai pendapat tentang racikan kata-kata yang baru saja matang dan masih berkepul-kepul hangat itu. Tapi jawabannya sungguh membuatku bagai tertusuk duri. Aneh! Tidak enak! Terlalu asin! Terlalu manis! Bahkan ada yang menyarankan untuk membuang bunga melati yang menurutku justru menjadi daya tarik karena baunya yang wangi. Aku sudah kehabisan akal.

Tapi walau akalku tak lagi mensuplai ide, peralatan di depanku masih teronggok berserakan pertanda mereka siap digunakan. Ada gergaji, pisau, linggis, payung dan berbagai benda lainnya yang sudah memberi aba-aba siap tempur. Tanganku sudah siap, masker dan kacamata tertempel sempurna di ujung wajah. Hasrat menulisku terbakar. Apapun yang terjadi, aku ingin membuat kata-kata ini menjadi indah layaknya alam nirwana.

Kumpulan kata yang bercampur aduk tak karuan itu kembali meronta-ronta. Mereka melompat kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Segera turun dari meja eksekusi dan berlari mencari jalan keluar dalam suasana ruangan yang gelap ini. Mereka tidak takut akan suasana tanpa cahaya, mereka hanya takut dengan diriku yang kini memegang payung dan sendok di kanan dan kiri bak pejuang. Mereka berpikir bahwa aku akan menghancurkan kalimat indah itu satu persatu.

Padahal aku hanya ingin menyuapi mereka dengan berbagai kesenangan yang membuat untaian kata itu lebih segar. Dan payung ini hanya untuk melindungi kalian dari kotoran-kotoran dari atap bila tak sengaja jatuh dan membuat penampilan yang semula bersih menjadi penuh debu.

“Tak ada maksud lain kawanku” aku dengan santai mulai meyakinkan mereka
Perlahan untaian kata itu mulai beranjak dari aksi brutal mereka dan merelakan diri untuk tetap terbujur kaku di atas meja eksekusi. Bahkan sudah berpasrah dengan linggis maupun gergaji yang terpasang kuat di tangan kanan dan kiri.

Aku memang bodoh mengenai pemeliharaan kata-kata. Gara-gara aku, mereka jadi tak bisa tumbuh dengan baik. Dan hasilnya jauh dari kata memuaskan. Mungkin masih lebih baik bila susunan kalimat-kalimat tanpa dosa ini tidak kuapa-apakan. Namun bila tugas ini tidak selesai aku akan mengkonversi banyak waktu yang seharusnya berguna menjadi tak bernilai tambah.

“Maaf bila ini sedikit menyakitkan!” aku berbisik

Sengaja kubentur-benturkan serpihan kata-kata itu dengan serpihan kata indah lainnya. Ada yang berhasil dan terlihat keren namun banyak juga yang menjadi semakin tak berbentuk. Dengan alat-alat sederhana seperti lem yang sebenarnya tidak terlalu memiliki daya rekat yang kuat ini, aku bereksperimen.

Bila gagal maka kata-kata itu meletup-letup seperti gunung berapi yang akan meletus. Namun bila sukses bisa menjadi adonan magma yang garang, ganas, dan tidak melu-malu untuk menampakkan keberanian di hadapan pembaca. Tapi untuk menyelaraskan berbagai jenis kata yang bercampur itu bukan prahara gampang. Aku perlahan mulai terbiasa melakukannya hanya karena semangat dan kemauan yang berependar dalam hati. Tak ada yang bisa kulakukan selain berjuang untuk tetap memegang erat berbagai peralatan perang yang ala kadarnya. Diri ini memang lemah, lembek, mudah letih dan sering lebih memilih menyerah daripada berusaha. Tapi untuk kali ini aku tak akan pernah meninggalkan meja eksekusi yang berisi kalimat-kalimat indah ini sebelum semuanya memasuki tahap coda.

Peralatan ini tak akan berfungsi maksimal bila tidak terdapat tangan-tangan penuh semangat dan peluh keringat yang bersedia untuk merajut kata-kata terdampar yang ada di ruang ini menjadi semakin bercahaya di balik media cetak.

Kadang bila tak tersedia peralatan, aku mencoba untuk mengajak untaian kalimat-kalimat itu untuk saling berkenalan satu sama lain saja. Berasal dari mana dan dimana engkau biasa dipajang adalah pertanyaan yang jamak terdengar di tahap pertemuan itu. Dan pada akhirnya merekalah yang akan mencari jalan masing-masing sehingga bisa berfungsi dengan sendirinya dan membentuk barisan-barisan unik.

Aku tersenyum.

Tapi kata-kata itu kadang juga tak ingin diatur dan bergerak semaunya. Namun itulah yang membuat sebuah kalimat memiliki imajinasi yang liar dan tak membosankan. Dan aku pun membiarkannya.

Biarlah mereka sesuka hati berkelana dan saling baku hantam. Aku hanya akan mengawasi saja. Yang penting kata-kata itu bergerak seirama dengan batas-batas kewajaran akan perilaku yang sudah kulingkarkan di meja eksekusi sebelumnya.

Mereka tak boleh keluar dari “sarangnya” sebab hal itu akan sangat berbahaya dan bisa mengundang reaksi buruk dari para pembaca. Bahkan bisa membuat semangat menulis yang tertanam tak lagi memiliki nilai guna. Sebab biarpun menulis adalah seni, tapi itu semua memiliki batasan. Dan kita akan berputar-putar di area itu untuk mengekspresikan kreativitas.

Meski kreativitas hanya sebatas peluh keringat dan tak bisa meluapkan kemampuanku yang hanya sepanjang galah, aku tetap terus berusaha. Sebab jiwaku telah mengisyaratkannya. Aku tak boleh mensia-siakan segala yang telah tumbuh di tubuh mungilku. Semua yang diciptakan pasti memiliki sebab terbaik, bahkan sesuatu yang paling buruk sekalipun.

Sampai hari ini, meja eksekusi, peralatan, dan untaian kata inilah yang membuat hari-hariku terasa lebih indah dan tidak kaku. Aku amat sangat bersyukur dengan semua yang tersedia dihadapan wajah lelah ini.

Untaian kata itu akan terus terbang mengitari batas cakrawala. Mereka menyemprotkan berbagai ilmu yang akan berguna bagi nusa dan bangsa. Dan untaian kata itu akan berteriak-teriak memanggil meja eksekusi yang menjadi rahim dari kepiawaian mereka untuk tetap tampil energik di hadapan pembaca setia.

***

Penulis: Nufa.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website