Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Like Fun Page Kami

    Benarkah Segala Kehilangan di Parkiran Kampus UIN Sunan Kalijaga Bukan Merupakan Tanggung Jawab Kampus?

    Arifin Ma’ruf, S.H.
    PewartaNews.com – Adanya aturan di kampus UIN Sunan Kalijaga yang di publish melalui pamphlet maupun banner mengenai “Kehilangan di areal parkir kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bukan tanggung jawab kampus” sering kita lihat d areal areal parkir di kampus UIN Sunan Kalijaga. Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan besar apakah benar bahwa kampus dalam hal ini tidak mempunyai tangung jawab atau kewajiban terhadap keamanan kendaraan ataupun barang yang ada di dalam kendaraan para mahasiswa maupun tamu di UIN Sunan Kalijaga.

    Adanya aturan tersebut tentu tidak memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi para mahasiswa maupun tamu yang memarkirkan kendaraan di areal kampus UIN Sunan Kalijaga, di satu sisi areal parkir kampus UIN Sunan Kalijaga kurang begitu baik maupun ketat dalam hal penjagaan oleh petugas keamanan. Hal ini didasarkan atas observasi penulis yang merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga yang seringkali melihat petugas parkir diareal UIN Sunan Kalijaga yang hanya tertidur pulas di areal parkir, bahkan banyak beberapa pos penjagaan yang ada di areal parkir kampus UIN Sunan Kalijaga yang tidak digunakan dan dibiarkan kosong, sepi bahkan sudah tidak terawat lagi. Hal tersebut tentu menambah rasa was-was atas sepeda motor yang di parkirkan di areal parkir kampus.

    Kewajiban Kampus terhadap segala kehilangan tersebut didasarkan pada ketentuan Pasal 1694 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata/KUHPer  bahwa: “Penitipan adalah terjadi, apabila seseorang menerima sesuatu barang, dari seorang lain, dengan syarat bahwa ia akan menyimpannya dan mengembalikannya dalam wujud asalnya. Sehingga ketika mahasiswa UIN Sunan Kalijaga ataupun tamu yang berkunjung di uin sunan kalijaga telah memarkirkan kendaraanya maka saat itu pula penitipan terjadi, sehingga pengelola parkir bertanggung jawab atas barang yang telah di titipkan kepada petugas parkir. Hal tersebut dikuatkan dengan Pasal 1706 KUHPer bahwa pengelola tempat parkir sebagai penerima titipan wajib menjaga dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan (motor) dalam keadaan semula pada saat dititipkan.

    Berdasarkan Yurisprudensi yang terdapat dalam  Putusan Mahkamah Agung  No. 3416/Pdt/1985, majelis hakim berpendapat bahwa parkiran merupakan perjanjian penitipan barang. Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban pihak kampus untuk senantiasa menjaga dan bertanggung jawab atas segala kehilangan di areal parkiran kampus UIN Sunan Kalijaga bukan malah membuat aturan “Segala kehilangan diareal parkir kampus UIN Sunan kalijaga bukan tangung jawab kampus”.

    Lantas bagaimana kemudian ketika penerima titipan (petugas parkir di areal UIN Sunan Kalijaga) tidak mengembalikan barang titipan (sepeda motor, helm dan lain sebagainya)  kepada orang yang menitipkan kepadanya (mahasiswa/tamu)? atau dengan kata lain telah terjadi kehilangan kendaraan atau barang di parkiran?. Jawabanya adalah bahwa pihak kampus, petugas parkir dapat digugat secara perdata oleh pihak yang dirugikan atas dasar terjadinya wanprestasi dalam perjanjian penitipan barang antara pengelola parkir dengan pemilik motor Pasal 1243 KUHPerdata (Hukum Online, 2012).

    Atas dasar problmatika diatas penulis memberikan saran/masukan agar parkir di areal UIN Sunan Kalijaga lebih baik lagi untuk kedepanya, Pertama, hapuskan aturan mengenai “Segala kehilangan diareal parkir kampus UIN Sunan kalijaga bukan tangung jawab kampus” karena aturan tersebut merupakan bentuk ketidakadilan bagi mahasiswa khususnya yang telah membayar uang SPP dan lain sebagainya akan tetapi tidak mendapatkan pelayanan parkir yang baik di UIN Sunan Kalijaga, Kedua, perketat motor-motor yang masuk di areal kampus dengan kewajiban menunjukkan STNK setiap motor keluar kampus setiap hari dan bukan hari hari tertentu saja, Ketiga, manfaatkan pos-pos penjagaan yang selama ini tidak terpakai dan harus digunakan sebagaimana mestinya, Keempat, berikan sanksi yang tegas terhadap petugas parkir yang hanya tiduran di tempat parkir dan tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya (sanksi bisa berupa, administrative sampai pemecatan), Kelima, bagi mahasiswa yang kehilangan kendaraan atau barang di kendaraan segera lapor ke petugas keamanan dan minta pertanggungjawaban kampus, dan jika kampus tidak memberikan solusi, maka harus berani untuk menggugat kampus, maupun pihak keamanan kampus termasuk petugas parkir secara perdata ke pengadilan setempat dan yakinlah bahwa Fiat iustitia, et pereat mundus: Keadilan akan tetap ada meskipun dunia akan musnah (Philipp Melanchthon).

    Penulis: Arifin Ma’ruf, S.H.
    Penulis Merupakan Alumni Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Koordinator Bidang Pendidikan Hukum DPC PERMAHI DIY, dan Aktivis di Yayasan Javlec Indonesia.

    Oposisi Sebuah Jalan Demokratisasi

    Wahyu el-k.
    PewartaNews.com – Seandainya ada pertanyaan untuk menyebut istilah populer kebangsaan hari ini, tentu orang-orang akan sepakat menyebut istilah “Demokrasi”. Demokrasi kian senter diperbincangkan, baik dalam skala serius atau sekedar bahan konkow di kalangan para politisi, aktivis dan masyarakat secara umum. Mereka tetap meyakini bahwa demokrasi akan membawa kemaslahatan dan perubahan, disamping implikasi mudharatnya juga besar.

    Demokrasi adalah konsep yang membuka peluang kepada rakyat untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan negara. sehingga pada pangkalnya demokrasi akan menjamin  kesetaraan hak rakyat; seperti adagium klasik demokrasi, oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Namun, memperbincangkan demokrasi tidak sesederhana pada konsep normatifnya. Dengan kata lain, dalam dimensi praktis demokrasi akan dibenturkan pada persoalan-persoalan, seperti bagaimana hak rakyat diwujudkan, pemilihan umum dilaksanakan, dan persaingan partai politik dalam mengisi jabatan publik yang pada akhirnya mereduksi hak-hak tersebut. Sejenak Tontonan ini membawa kita pada daya pikir pesimitik, dimana rakyat hanya dijadikan pemanis dalam kehidupan demokrasi agar segala sesuatunya tampak indah (Afan Ghaffar-2006-vii).

    Sekali lagi, kita masih menaruh harapan pada demokrasi, konsep demokrasi harus tetap dipertahankan di tengah kegamangan politik tanah air. Kenapa? Dalam sebuah warung kopi, boleh dikatakan semacam diskursus kecil, dimana salah satu teman disamping berpendapat bahwa pangkal masalah kebangsaan hari ini tidak adanya konsistensi politik dari jamaah oposisi. Sekilas orang mendengar kata “oposisi” akan menggiring akal sehat kita pada gerakan sparatisme yang selalu didengung-dengungkan kaum kiri dengan misi memberi ancaman terhadap pemerintah dan sewaktu-waktu dapat mengkudeta kepala negara (presiden). Saya kira ini persoalan pemahaman dan ketidak selarasan cara pandang bahkan kalau boleh dibilang sebagai pelacuran intelektual karena menyebar informasi dhaif.

    Kudeta kepala negara dengan cara politik hanya akan terjadi di negara yang menganut sistem pemerintahan parlementer, dan tidak dengan Indonesia yang sampai saat teguh dengan presidensilnya. Sehingga tidak ada alasan “ketakutan separatis” lagi untuk mengkonsepsi oposisi politik. Dalam negara demokrasi seperti Indonesia oposisi politik diperlukan. Namun yang menjadi soal sampai hari ini konsistensi partai yang mengproklamasikan diri sebagai partai oposisi masih belum militan.

    Tahun 2014 kemaren, masyarakat dipertontonkan adegan politik yang mempertemukan team politic KMP vs KIH. Team tersebut merupakan gabungan beberapa Parpol, dikubu KMP; Gerindra, Golkar, PAN, PKS, dan PPP. Sementara dikubu KIH; PDIP, PKB, Nasdem, Hanura dan KPPI. Dalam kompetisi tersebut KIH keluar sebagai winner, walaupun sempat melalui proses gugatan ke MK. Kendati demikian, KMP tetap menunjukkan sportifitasnya dan memilih sikap pressure terhadap jalannya pemerintahan dari luar (oposisi). Di awal banyak kalangan mengapresiasi pilihan KMP, dan ini menjadi penting.

    Robert A. Dahl seorang pemerhati politik dan demokarasi berpendapat bahwa oposisi politik dalam negara demokrasi tidak bisa dihindarkan, bahkan menjadi tolok ukur sehat atau tidaknya negara demokrasi, dikarenakan pada dasarnya konflik tidak bisa dihindarkan dalam urusan manusia (Robert A. Dahl-1989). Yang menjadi dasar pendapat Dahl bahwa kekuasaan tanpa control akan melahirkan absolutisme baru dan cenderung disalahgunakan. Hal ini yang mendasari negara demokrasi seperti Indonesia dalam dimensi politiknya konsepsi oposisi menjadi ihwal. Namun sangat disayangkan, KMP dari awal yang memilih sikap oposisi, perlahan mulai mundur teratur. Terlihat dari sikap PPP yang menerima tawaran politik dari KIH dan melebur dalam Kabinet Kerja, disusul perlahan oleh PAN dan Golkar. Sikap inilah yang dimaksud belum militansinya sikap para oposisi.

    Oposisi menjadi tidak oposisional karena posisi oposisi akhirnya hanya merupakan strategi sementara agar dibilang superhero. Seharusnya Parpol oposisi tetap pada haluannya memonitoring pemerintah dengan misi kerakyatannya, terlebih jumlah kursi dominan di parlemen menjadi sumber daya yang dimiliki Parpol oposisi. Peran oposisi sangat diperlukan di tengah apatisme masyarakat dan liberalisasi kaum elit dalam memperebutkan jabatan public. Sehingga konsistesi oposisi akan melahirkan tradisi demokrasi yang diharapkan. Suara konsistensi oposisi, suara (sebagian) rakyat.
    .

    Penulis:
    Wahyu el-k (Assyafi)
    Wakil Direktur ROEANG inisiatif

    Tinta Merah Revan

    Ilustrasi Tinta Merah. Foto: reverbnation.com.
    PewartaNews.com – Revan membuka pintu mobil dan memegang setir, semilir angin berhembus kencang saat aku menatapnya. Raut wajah Revan mengerikan. Dia menginjak pedal gas dengan tergesa. Sepertinya mobil yang sedari tadi membuntuti di belakangnya kini berusaha untuk mendahului. Mungkin ini akan sulit, akan tetapi aku harus segera menyelesaikan semua perkara. Membawa Revan beradu kecepatan di arena balap liar dan berada di posisi pertama saat menginjak garis finish menjadi tujuan utama saat ini.

    Tubuh mulai tidak nyaman. Seluruh bodi memanas. Jarum takometer penanda kecepatan putaran mesin sudah menunjukkan batas angka yang cukup untuk membuat gemetar. Ku lirik kendaraan di belakang, sebuah BMW sport membuntuti. Semakin dalam Revan menginjak pedal gas, semakin bergetar. Sebagai mobil yang baru dibeli beberapa bulan lalu, kondisiku sudah tak lagi baik, terlihat dari bodi yang lecet sana-sini, akibat saling bersenggolan dengan mobil lain saat aku melayani Revan tiap malam. Jalanan yang sepi menjadi santapan sehari-hari. Polisi menjadi musuh. Bukan! Sebenarnya polisi adalah musuh Revan. Polisi pernah menangkap basah Revan saat dia berada di arena balap liar ini bersamaku. Aku tak membenci polisi, tapi karena berada di pihak Revan mau tak mau harus mematuhi apa yang dikehendaki dia.

    Sekarang tepat di depan, BMW sedari tadi membuntuti berhasil menyalip. Aku berusaha untuk tetap tenang agar bisa melayani Revan yang agaknya sangat berambisi untuk mengejarnya. Berharap segera bisa mengejar dan menjadi pemenang dalam perlombaan ini. Semoga bisa memberikan yang terbaik bagi Revan.

    Aku letih adu kekuatan di arena balap liar. Ku ingin Revan kembali seperti sedia kala, kembali ke universitas tempat dia biasa menuntut ilmu. Bukan lagi berada di jalanan kota saat gelap. Siap mengantarnya pulang dan pergi ke kampus, tidak untuk melayaninya melakukan hal-hal buruk.

    Masih ingat kala Revan mengajak seorang wanita cantik. Ia duduk di jok penumpang depan. Mereka tertawa bersama, bercanda, menimbulkan suasana yang begitu hangat dalam kabin mungilku. Aku merasa sangat senang kala aku bisa mengantar Revan dan wanita itu berekreasi ke pantai, ke gunung dan tempat-tempat mengasyikkan lainnya. Mereka telihat sangat akrab. Dan mungkin itu adalah saat terakhir dimana Revan bisa melepas tawa.

    Masih ingat juga kala Revan memukul lingkar kemudiku sekuat tenaga. Aku merasa sangat kesakitan saat salah satu bagian tubuhku dipukul seperti itu. Kala menatap matanya, terlihat aneh. Bahkan tetesan air mengucur setitik demi setitik dari sana. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Revan. Hanya saja selang beberapa menit yang lalu kulihat wanita cantik yang biasa duduk di samping Revan itu berada di pinggir jalan bersama seorang pria. Aku kira Revan akan menjemputnya seperti hari-hari sebelumnya namun entah mengapa dia justru menginjak pedal gas dalam-dalam dan melesat jauh meninggalkan wanita itu yang sedang duduk bermesraan bersama seorang pria tak dikenal. Niatku yang baru saja akan membukakan pintu untuk mempersilakan wanita itu masuk, gugur. Aku segera mengunci rapat-rapat begitu tahu Revan justru tancap gas dan pergi meninggalkannya.

    Sejak kejadian itu tidak pernah kulihat si gadis bercanda bersama Revan lagi. Revan lebih sering mengajakku ke arena balap daripada pergi ke pantai seperti sebelumnya. Pernah suatu hari Revan saling adu pukul dengan seorang pria. Sampai akhirnya beberapa orang berusaha memisah mereka. Dia kembali ke kabin dengan muka kemerah-merahan dan mata menatap kosong ke depan. Sementara itu kulihat wanita yang sering bersama Revan datang lagi, namun dia tak menemui Revan. Wanita itu justru menemui pria tadi dan menolongnya. Niatku yang ingin membukakan pintu mobil dan mempersilakan dia masuk lagi-lagi tak terlaksana.

    Entah mengapa akhir-akhir ini Revan selalu bertengkar setiap bertemu dengan wanita itu. Revan juga sering membawa sebotol minuman ke dalam kabin. Bukan minuman berenergi untuk menambah semangat, bukan pula minuman mineral pereda haus. Namun minuman yang berbau menyengat dan membuatnya tak berkonsentrasi di jalan. Merasa ngeri bila Revan meminum minuman itu saat berkendara. Dia berubah ugal-ugalan. Alhasil goresan bodi pun semakin hari semakin bertambah banyak. Jika memiliki kekuatan lebih, ingin kubuang dan kupecahkan minuman itu jauh-jauh dari kabin. Namun apa daya, aku hanyalah sebuah mobil sedan, yang tak memiliki apa-apa untuk bisa melawan apapun yang dilakukan oleh Revan.

    Garis finish masih terbentang sekitar dua kilometer lagi didepan. Cukup sudah! Kali ini harus finish di posisi terdepan dan Revan harus tersenyum lagi. Kecepatan diturunkan karena musuh, sedan BMW itu jauh tertinggal di belakang. Namun ternyata Revan justru berusaha untuk menjejak pedal gas. Aku berusaha untuk menolaknya tapi tak kuasa. Jarum speedometer menyentuh angka 140 km/jam, dan ia masih berusaha untuk mempercepat lajuku. Tak tahu apa yang diinginkannya dengan semua ini.

    Tangannya mencengkram erat kemudi dan tatapan matanya makin tajam. Ada apa dengannya? Mengapa ia tak pernah lagi mengumbar senyum? Dimana wanita cantik yang sering ia ajak rekreasi dahulu, mengapa Revan tak pernah mengajaknya bersama lagi? Berbagai pertanyaan penuh penasaran mulai menjejal.

    Bau menyengat khas alkohol menguap memenuhi kabin. Revan minum lagi. Tangan Revan tak mencengkram kemudi dengan erat. Setelah ini aku yang akan bekerja lebih keras di arena. Sebab mustahil mengandalkan kemudi pada Revan yang kini tak lagi bisa berkonsentrasi menyetir. Coba membanting setir ke kiri kala sebuah sepeda motor melaju cepat melintang di jalan. Beruntung bisa dihindari. Laju makin tak terarah, terlalu cepat untuk ukuran sebuah kendaraan yang berjalan di tengah kota. Tiba-tiba dari persimpangan muncul sebuah truk yang sedang bergerak cepat, aku mencoba menghindar.

    Gagal! Decit bunyi rem yang bersahutan memecah kesunyian malam. Benturan keras membangunkan seisi kota. Lampu rumah penduduk di pinggir jalan mulai menyala pertanda mereka semua terbangun. Muatan truk itu tumpah ruah di jalan, sedangkan kepalanya sudah menghancurkan kabinku.

    Aku mendengar seseorang berteriak menyebut nama Revan dengan raut wajah yang sangat cemas, adalah pengendara BMW itu yang berusaha untuk mengeluarkan Revan yang tergencet dalam kabin sambil terus berusaha untuk memanggil namanya, berharap agar Revan menjawab dan berkata dia masih baik-baik saja.

    Makin lama Revan semakin lemas, percikan api perlahan berkobar dan menjalar ke seluruh isi kabin. Revan tak bergerak. Tangannya sudah menjulur ke bawah dan teriakan orang-orang dari luar sudah tak lagi ia tanggapi. Jika saja aku adalah sebuah benda hidup yang bisa dengan bebasnya melampiaskan perasaan, mungkin air mata ini akan mengalir deras tak terbendung dan aku ingin mengucapkan kata maaf kepadanya. Maafkan aku wahai Revan, kali ini aku tak bisa melindungi dirimu dari ajal yang siap untuk menjemput.

    Karya: Nufa

    Tak Ada Seketika

    Cahya Adijana Nugraha.
    Dulu pun sang lebah tak seperkasa sekarang
    Menggeliat di dalam lubang, disogok asupan pangan
    Dulu itu hanya hamparan tanah gersang
    Jadilah ia sebongkah piramida agung pemecah awan

    Tak mudah jadi berjaya
    Semesta bereaksi terhadap usaha
    Pecutan-pecutan bukanlah hambatan
    Cuma sekilas loncatan menuju angkasa

    Mereka bilang permata harus ditempa
    Mereka bilang mutiara harus diselam

    Dulu, sendiri itu dianggap luka
    Menyendiri itu bahkan terhina
    Mereka lupa, sang pertapa belajar bersama macan
    Bersaing hidup bersama elang
    Hingga dia turun ke ranah manusia

    Pertapa fakir berjalan terseok di daratan
    Kakinya tergores, hidup melas nestapa
    Setengah telanjang menaiki tangga istana Viceregal
    Sebuah negara merdeka karena ulahnya
    Terkenal namanya adalah mahatma.


    Yogyakarta, 18 Januari 2016
    Karya : Cahya Adijana Nugraha

    Ular Kakek dan Cerita Seorang Korban [Part 2]

    Ilustrasi. Foto: mbah google.
    PewartaNews.com – Aku hanya ketawa mendengar keluhan Abimanyu. Ada dua sisi yang berlawanan pada pemuda ini. Badannya atletis, tapi nyalinya kecil. Takluk oleh ular, makhluk Tuhan yang seharusnya berada di bawahnya dalam hal derajat. Inilah paradoks yang diciptakan Tuhan.

    Siang harinya aku dan Abimanyu sibuk membantu kakek mempersiapkan peralatan ritualnya. Banyak sekali orang datang ke rumah ini dengan berbagai keluhan penyakit. Ada yang terkilir karena bermain bola, patah tangan karena jatuh dari pohon cengkeh, sakit perut karena terlalu banyak makan rujak, tak bisa punya anak meski sudah menikah puluhan tahun, dan ada pula yang dipatuk ular di kebun.

    Segala sesuatunya kami persiapkan. Ada air putih di dalam mangkuk yang juga berwarna putih, makanya nama ritual ini disebut “Air mangkuk putih”. Yang lain kami harus menyediakan kemenyan dan gaharu dalam pinggan bekas. Kemenyan dan gaharu ini kami serahkan kepada kakek setelah dibakar terlebih dahulu.Asap dari pembakaran inilah yang diusapkan oleh kakek ke wajahsetiap pasiennya. Tentu saja dalam melakukan ritual ini kakek selalu ditemani oleh ularnya yang hitam mengkilat itu. Ular yang diikat di bagian lehernya itu selalu setia dan patuh sama kakek.

    Sepekan sudah kami melakukan aktivitas ini. Hari kedelapan, atau hari terakhir kami di rumah kakek, kami diajak ke ujung halaman rumahnya.Di situ ada bangku yang terbuat dari dahan dan batang pohon yang diambil dari kebun belakang.

    Ular kakek juga ikut meliuk-liuk.Ia tak bisa menjauh dari kakek karena ujung tali yang mengikat leher si ular berada dalam genggaman kakek.

    “Cu, juga Anyu,” kakek memanggil kami. Begitulah panggilan kakek pada kami berdua. Cu dari kata cucu.Anyu adalah panggilan pintas kakek dari Abimanyu.Begitulah orang desa selalu menyederhanakan panggilan. Percuma memberinamayang indah kepada orang desa, karena suatu hari nanti tetap saja akan digelari dengan nama ejekan. Tapi, di balik nama ejekan itu tentu saja tujuannya adalah demi humor semata. Tertawa adalah strategi orang desa masa kecilku ini untuk mengalihkan perhatian dari beratnya beban hidup.

    Kakekku melanjutkan ceritanya, “Sebelum kalian pulang ke Jawa, aku akan bercerita tentang ular ini,” kakekku berkata pelan sambil menunjuk ularnya yang membelit kaki kursi yang diduduki kakek.

    “Ya, Kek. Ceritakan semuanya!” pinta Abimanyu antusias.
    “Baiklah,” kata kakekku sambil menyibakkan rambutnya yang gondrong. “Ular ini aku dapatkan ketika aku mendatangi kuburan nenekmu sehari setelah nenekmu meninggal sekitar delapan bulan yang lalu, Cu.” Kakekku memulai cerita dengan menunduk. Mungkin kakekku enggan diketahui kesedihan yang tergurat di raut wajahnya. Ya, selama seminggu ini, kakek adalah laki-laki tegar. Tangkas melayani para pasien yang datang, cekatan membersihkan kebun di belakang rumah.

    “Lanjut, Kek,” kataku agak manja. Kuperhatikan kakek tersenyum. Baru kali ini senyum kakekku mengembang.

    Ular ini aku dapati bergelung di atas kuburan nenekmu. Ia tidak lari ketika aku menaburkan bunga di dekatnya. Ular yang jinak. Ular ini lalu kupegang lehernya, dan segera saja ekornya melilit tanganku. Aku kira dia mau melawan, ternyata tidak! Ular ini langsung aku lepaskan ke tanah dan aku bergesa pulang. Baru beberapa langkah kulihat ular ini mengikutiku dengan pelan. Aku biarkan dia menjalar ke arahku. Aku tak peduli, terus saja melangkah pulang. Setelah sepuluh meter, kuperhatikan ke belakang, ular ini terus mengikutiku. Dua puluh meter. Seratus meter. Hingga aku menjejakkan kaki di halaman ini, ia terus saja mengikutiku.”

    Kakek jeda sejenak sambil menyentak-nyentakkan tali yang ada di genggamannya. Ularnya kakek langsung mencedungkan kepalanya seperti kobra yang akan memangsa korbannya. Abimanyu langsung refleks mengambil posisi waspada. Memang ketakutannya terhadap ular ini mulai berkurang setelah seminggu ini berinteraksi dengan kakek. Ditambah lagi, ular ini begitu jinak layaknya kucing yang dipelihara banyak orang.

    “Ada cerita apa lagi, Kek, di balik ular ini,” tanya Abimanyu, masih tetap antusias. Aku merasa heran, seminggu ini Abimanyu begitu semangat setiap harinya di rumah ini. Apakah karena di Jogja ia tak menemui keunikan seperti di rumah kakekku ini? Entahlah!

    “Setiap pasien yang datang ke sini hampir tidak pernah diserang oleh ularku, kecuali satu pasien, tepatnya tiga bulan yang lalu,” lanjut kakekku.
    “Kok, bisa,Kek,” Abimanyu nyeletuk.
    “Ya, bisa,” ucap kakekku sambil tertawa.
    “Siapa pasien itu, Kek?” Abimanyu lagi-lagi bertanya. Aku hanya diam memerhatikan tingkah setengah aneh Abimanyu.
    “Ia seorang keruptur.”
    “Keruptur, apa itu, Kek?” kataku menimpal.
    “Ooh..., itu,” kakek tergeragap dan melanjutkan, “itu yang sering mengambil duit rakyat.”
    “Ooh, koruptor,” ujar Abimanyu. Dia tertawa, aku juga.

    “Keruptur itu bercerita banyak padaku. Ia datang ke sini minta supaya ia tidak dipenjara. Ia bercerita sebentar lagi ia akan ditahan. Maka, sebelum pengadilan memutuskan. Ia datang ke sini minta perlindungan.”

    Cerita kakek berhenti di sini, kakek segera merogoh kantong dasternya di bagian paha kanan. Kami penasaran apa lagi yang dikeluarkan kakek dari sana. Apakah minuman saset lagi, atau yang lain? Mata kami tak berkedip memerhatikan tangan kecil kakek. Urat-uratbiru-kehitaman bertonjolan di sana.

    Ternyata kakekmengeluarkan dua bungkus kecil biskuit dari sana. Lalu menyerahkan satu kepadaku, dan satunya lagi kepada Abimanyu. Bungkus biskuit ini terlihat agak asing. Sepertinya beredar di masa lalu, terlihat dari asingnya merek dan desain pembungkus yang terlihat jadul.
    “Kue ini kubeli setahun yang lalu,” penjelasan kakekku.
    Aku kaget, begitu juga Abimanyu.

    Lau kuperhatikan tanda expired. Masih ada sekitar satu setengah bulan lagi baru umur dari kue ini berakhir sebelum dibuang ke tempat sampah.

    Ular kakek kulihat mulai memanjat tiang kursi. Lalu menjalar ke samping kakek duduk. Yang dicari ular itu ternyata adalah kehangatan. Ia bergelung di antara dua paha kakek, di atas daster motif bunga rebung yang dipakai kakek.

    Aku dan Abimanyu masih diliputi tanya terkait dua bungkus roti yang dihadiahkan kakek. Kakek tahu akan kebingungan kami ini. Ia sudah biasa melihat tingkah orang-orang desa ini ketika bertandang ke rumah kakek. Banyak di antara mereka yang bertanya terkait roti-roti yang disuguhkan kakek. Roti menjelang kadaluarsa, dengan pembungkus unik.

    “Kita selalu meremehkan yang lama,” kakek memandang ke arah kami berdua, dan melanjutkan, “tidak selamanya yang kuno itu tidak bermanfaat. Buktinya roti ini. Banyak sekali warga kampung ini mengatakan kepada kakek bahwa rasa setiap roti yang kakek simpan sungguh enak.”

    Aku jadi penasaran dengan rasa roti ini. Hampir kusobek bungkusnya, sebelum tangan kakek menahannya.

    “Nanti saja setelah di Jawa baru dibuka! Jika dibuka di sana, bapak-ibumu juga bisa merasakannya kan?” tukas kakek.

    Aku baru ingat kedua orangtuaku pasti menantikan oleh-oleh dari kakek.
    “Bapak sama ibumu masih di pinggir pantai kan?” Demikian pertanyaan kakek.
    “Ya, Kek,” jawabku. “Mereka tinggal di pantai Parangtritis, mengelola penginapan di sana. Kalo aku belajarnya di kota Jogja, Kek. Ngontrak rumah,” penjelasanku.
    Kakek hanya manggut-manggut. Sepertinya ia mengerti dengan penjelasanku.

    ***

    Setelah tiga hari di Jogja, aku bertemu Abimanyu di kafe depan kampusku. Sepertinya kefe ini menjadi tempat pertemuan mengasyikkan bagi kami.

    Kami baru masuk lorong depan kafe ketika seseorang memanggil nama Abimanyu dari arah depan kami. Kami pun mendekat ke seseorang dengan rambut klimis dan bertubuh jangkung itu.

    “Abi, gimana hasil penelitianmu di Sulawesi?” ia bertanya dengan senyuman.
    Abimanyu menoleh ke arahku. Ia agak gugup dan menjawab dengan singkat, “Baik! Aku duluan, ya,” ujar Abimanyu, dan refleks menarik tanganku supaya menjauh dari situ.
    Setelah sampai di meja tepat di pojokan kafe, aku menatap Abimanyu dengan muka masam.
    “Ternyata kau ke desaku untuk meneliti para dukun. Bukan karena syarat percintaan yang kuberikan,” kataku terbata menahan amarah.
    Abimanyu membisu.

    “Aku tidak menyangka, kau memanfaatkan kekagumanku padamu. Kau katakan bahwa kau mencintaiku, dan rela berbuat apa pun demiku. Bahkan bertandang ke tempat kakekku nun jauh di Sulawesi sana. Aku tidak menyangka, Bim, ternyata kau pura-pura selama dua minggu ini,” suaraku keras, mengagetkan para pengunjung kafe lainnya.

    Sampai di sini, aku bangkit, kuraih tas berwarna kuningku, dan pergi begitu saja, keluar dari kafe. Panggilan Abimanyu kuabaikan.

    Adakah pengorbanan yang sejati? Aku belum menemukannya! Mungkin nanti! ***


    (27-29 Januari 2015).

    Untuk membaca PART 1 KLIK DISINI


    Penulis: Darwin
    Penulis Buku “Filsafat dan cinta yang Menggebuh”. Tinggal di Yogyakarta.

    [Cerpen] Pulang

    Nurwahidah, A.Md.
    Aku berani.

    Namun  tak  semua perempuan  berani  mengambil suatu tindakan, karena  takut dengan  resiko.  Aku  tak persis mereka,  malah tetap  mencoba   hal  yang baru meskipun ada peringatan dari mama.  Jika hal tersebut  tidaklah  boleh  hasilnya   pun terkadang mengecewakan.

    Kamar  kos  berukuran 3x4 cm, pengap  banyak sarang laba-laba.  Terlentang di atas kasur kapuknya berhamburan di lantai.  Kulirik  wajah mama  yang tertidur pulas di sebelahku. Kantong matanya semakin mengembang, rambut yang dulu tebal kini menipis. Aku bahagia  karena beliau  nongol  dihari wisuda tepatnya tanggal 22 Agustus 2015.

    Namun,  merasa sangat bersalah kerena sudah berhasil meluruskan hatinya biar meridhoi,  ke Kalimantan Timur cari nafkah di sebuah perusahaan  KPC  (Kaltim Prima Coal). Aku belum  yakin sesampai di sana bisa langsung diterima bekerja karena, harus ada kerabat di perusahaan tersebut,  dan harus sabar menanti keajaiban. “Maafkan aku mama, karena lidahku mulai tak profesional.” Desahku.

    Pukul sembilan pagi.  Bandara Adjisucipto Yogyakarta sangat ramai. Hari ini mama dan kerabatnya akan segera kembali ke bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Lagi-lagi akan tak bisa menatap wajahnya  lebih jelas setelah pesawat Lion Air  meleset ke angkasa.

    “Jaga dirimu di sana ya Nak, apalagi kamu perempuan.” Ujar mama, bola matanya bengkak, ingus pun berjatuhan di jilbab biru yang terpasang menawan.

    Aku hanya mengangguk.

    Percakapan terlalu singkat. Bahkan sebelum aku menyadarinya, aku benar-benar berpisah. Tiga menit kemudian, beliau melangkah masuk ke ruang chek-in. Menoleh sejenak, tampak  terpukul dan khawatir tak jumpa lagi denganku untuk beberapa bulan.

    Wajahnya dipenuhi keringat. Apalagi  sangat shok  jika naik pesawat, takut jatuh. Aku berusaha meyakinkan lewat mimik, kalau semua akan baik-baik saja. Mama  memutar badannya lalu berlari ke arahku. Memberikan pelukan, aku pun merangkulnya.

    “Tidak usah takut. Sudahlah jangan teteskan air bening lagi, suatu hari nanti kita akan jumpa  secepatnya.”Ucapku menyeka hidung.

    Mama  hanya bungkam. Tapi, sepertinya  bisa paham. Dan akhirnya mengalah. Hal yang sangat jarang sekali diberikan jika menyangkut diriku. Semenit berlalu, beliau melangkah masuk tak lagi menoleh. Kekuatan batin telah memisahkan antara seorang ibu dengan  putrinya. Takdir telah menebarkan mentera hitam dan memukul jatuh cawan dari tangan, anggur telah habis dan aku sekarat kehausan, dan takdir sedang menertawankanku dan  benar-benar  merasa mulai  menyesal tak  jumpa lagi dengannya.

    Memang, aku telah dikutut oleh kekuatan jahat  takdir apapun namanya. Siapakah yang disalahkan  terhadap kekuatan  seperti ini? Yang kumiliki hanya kata berani dan tak boleh pantang menyerah di rantau. Keluarga pun telah berusaha menegur agar tidak boleh berangkat ke suatu tempat, apalagi di sana tak ada sanak keluarga.

    ***

    Hari ini adalah hari Kamis tanggal 4 September. Aku sudah menunggu beberapa menit lalu  menatap tubuh dan paras pramugari yang berlenggok-lenggok di depanku, sangat geulis.  Lima menit kemudian  pesawat Lion air  JT 679 bergerak pelan menuju bandara Spinggan Airport Balikpapan. Aku menoleh ke jendela, mengingat banyak kenangan yang kutemukan di kota ini. Kota istimewa Yogyakarta. Moncong pesawat mulai naik, dan setelah itu pesawat Lion air  JT 679 meleset ke udara. Setidaknya, saat berangkat sore seperti ini pemandangan sangat menakjubkan.

    Dua  puluh menit  di udara.  Pramugari mulai berdiri tegap, bibir  tipisnya mulai ke kiri lalu ke kanan.  Aku sama sekali tak memperhatikan, wajahku masih setia ke arah jendela pesawat.  Entah mengapa  tiba-tiba perasaanku aneh tidak seperti biasanya. Aku takut dan bimbang. Lagi-lagi kuputuskan mengambil hape samsung di tas batik. Sejenak melirik ke kanan, perempuan  di sebelahku diam kayak patung pahlawan, sesekali bibirnya bergetar sepertinya anak kampung  yang baru  melayang di udara. Kuputuskan mengaktifkan hape  lalu membaca beberapa  email  yang masuk.

    Pulanglah!

    Semoga kamu segera membuka pesan ini. Mama  tahu persis bagaimana  keinginanmu  pengen  sukses dirantau.  Kata mama,  sangat  bangga punya putri sepertimu yang pemberani namun kamu harus tahu adik,  tak semua yang kita rencanakan Tuhan akan mengiyakan. Setidaknya pesan yang kukurim ini bisa melunakkan hatimu segera pulang ke kota Makassar setelah Ijazah sudah kau pegan. Mama akhir-akhir ini hanya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar. Kami  telah berusaha membujuk biar hatinya luluh dan  mengikhlaskan kau dirantau, tapi beliau hanya memilih terkapar di atas ranjang. Wajahnya pucat, mulutnya terbuka sambil menyebut namamu lirih serta mendekap figura fotomu. Tubunya  semakin kerempeng, mulai sakit-sakitan dan malas mengunyah.

    “Jaga diri apalagi kau perempuan.” Itu kata-kata yang setiap detik keluar dari bibirnya, tentu banyak rintangan yang harus kau hadapi di sana. Kami sangat berharap ada hasil  kau bawa pulang, sekiranya bisa menghapus tangis di hati mama.  Kau harus tahu adikku,  tidak pernah absen waktu semalan pun, dan setiap sujud terakhir dalam shalat, mama selalu mendoakan yang terbaik. Selalu menyebut namamu dalam doa dan sampai beliau  terbaring di atas kasur mendoakan biar kau baik-baik saja. Ingatlah  jika tak ada hasil maka kau harus pulang!

    Kakakmu Irma.

    Aku  gemetar. Aku hanya menunduk menyeka hidung, lalu kubalas email tersebut.

    Masih berkelana.

    Maafkan aku. Mama,  jika berhasil membuatmu  meneteskan air bening. Tak ada yang bisa kulakukan saat  tahu bahwa orang yang kuhormati  belum  ikhlas dengan ketiadaanku. Jika matahari masih terbit di ufuk  timur dan belum terbit di ufuk barat. Maka seperti itulah niatku, tidak akan pulang sebelum sukses dirantau.

    Sudah  delapan tahun mama  menjanda. Beliau tak pernah lelah mencari duit. Aku sering sekali dapat telefon dari tetangga  rumah di kampung  bahwa  mama selalu membanting stir (beralih profesi). Jualan beras kiloan di pasar, jualan  tempe, jualan sayuran  bahkan mama pernah off-name di Rumah sakit Daeng Raja Bulukumba kerena drop. Dan kalian tak memberitahuku  dengan jujur. Aku benci itu.

    Sakit yang pertama kudapat saat kehilangan bapak. Aku tak mau mengenal lagi sakit yang ke dua. Tak ingin ada tangis di mata mama. Sejak kutahu keadaan mama yang hanya terpuruk dalam kesedihan. Aku mulai lemah dan tak mau jadi anak durhaka seperti cerita Malin Kundang yang kulihat di tivi.  Kupikir merantau sendiri ke Kalimantan Timur bisa  membelikan beliau, mukenah dengan banting tulang di sana. Salam buat mama, aku merindukannya.

    Adikmu  Tary.

    Aku merasa tergores setelah  membalas pesan singkat melalui email. Menyandarkan kepala dikursi penumpang. Tiba-tiba pesawat Lion air  goyang. Guntur serentak dengan hujan membuat  penumpang  berteriak histeris.  Kuputar leher ke jendela pesawat, awan semakin gelap.  Melihat badai dalam rute perjalanan.  Badai terlihat dari radar cuaca di dalam pesawat.  Setelah 90 detik memasuki badai,  kedua  mesin mati. Aku bisa merasakan seluruh badanku bergetar kencang. Pirasatku kini memang nyata kalau hari ini benar-benar akan pergi menyusul bapak. Kembali kuperhatikan penumpang, mereka memakai seragam putih. Aku mematung lalu tersenyum mekar. Aku bahagia, setidaknya bisa meninggal secara berjamaah.
    “Prooooaaaak.” Aku masih menyerengai, setengah sadar kalo  pesawat yang kutumpangi  jatuh di sebuah laut.

    Aku tidak  bisa bernapas secara sempurna. Berenang  tak pandai  akhirnya tenggelam. Hanya suara  ombak diiringi suara manusia minta tolong, bertautang  sana-sini yang bertengger  di kupingku. Bola mata semakin redup, tak kuasa lagi bertahan. Tiba-tiba ada kilasan cahaya menampar wajahku, tetap penasaran lalu mengamati perlahan cahaya itu  mendekat.

    Sosok bapak busana putih di badannya. Lalu kulirik  di sebelah kanan, mama memakai  blus hijau. Mereka mengelurkan ke dua tangannya secara bersamaan. Aku berusaha menggapai tangan bapak yang kupikir tinggal sejengkal. Tapi, semakin sulit dan terasa jauh. Tangan  kiri mama terasa hangat saat menyentuh tanganku. Aku pun berusaha  mengejar tangan bapak yang semakin menjauh lalu menghilang bersamaan dengan cahaya.

    “Mbak bangun!  Pesawat sudah mendarat.” Suara perempuan yang  melintas dengan sekejab. Aku pun membuka mata, jilbab yang kupake penuh dengan ingus. Bola mata bengkak. Ternyata hanya mimpi. Aku kembali  mengatur detak jantung lalu  menuju pintu keluar.

    ***

    Tak terasa  tiga bulan dua minggu di Kalimantan Timur  tepatnya Kabupaten Sangatta Utara. Semua orang pasti  merasa bosan dan jenuh jika menunggu sesuatu tapi belum tiba. Sambil menunggu batu loncatan kumasih setia jadi karyawan di tempat minuman coklat.  Hanya kata  pemberani dan sabar yang masih bersemayang dalam jiwa hingga  bertahan sampai hari ini. Malu pun tak kungjung lenyap, belum lagi cerita tetangga yang merambat desa ke desa. Seharusnya setiap akhir bulan kukirim duit buat mama. Ternyata kebalikannnya, dan aku pasrah pada  Ilahi lalu  menunggu cobaan selanjutnya. Tiba-tiba  kubuka hape ternyata ada pesan yang baruku baca.

    “Kalo kamu tidak pulang minggu ini, kamu tidak akan melihat senyum mama yang terakhir kalinya.” By Kakakmu.

    Kulitku terkelupas lalu meleleh. Hari ini segera kuboking tiket tanggal 15 Desember. Akhirnya aku pulang  ke  kampung halaman  bukan berarti menyerah dan gagal dirantau tapi demi Mama. Orang tua yang seharusnya kuberbakti kepadanya. Tuhan sudah mengatur setiap rezeki hambanya dan aku harus memahami maknanya. Mungkin bukan di Kalimantan aku bisa membelikan mama  mukenah tapi di daerah lain.


    Bulukumba, 05 Januari 2016

    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Prodi Manajemen Adminitrasi obat dan Farmasi pada AMA Yogyakarta. Email : nurwahidah854@yahoo.com. FB : Idha Daeng Saleh

    Ular Kakek dan Cerita Seorang Korban [Part 1]

    Seorang kakek bermain ular. Foto: blog mayaums.
    PewartaNews.com  – Apakah cinta membutuhkan pengorbanan? Apakah bisa dikatakan cinta, jika tak ada pengorbanan? Apakah cinta dan pengorbanan ibarat kuntum melati dan wanginya, tak bisa dipisah? Berapa besarnya pengorbanan,untuk bisa dikatakan cinta? Apakah pengorbanan selalu berkelindan dengan cinta? Sesungguhnya, pertanyaan lebih penting, karena tak kutemukan jawaban, setidaknya dalam kisah hidupku berikut ini.

    ***

    Geletar hujan, gelegar petir, bunyi dering telepon. Tiga bebunyian yang menyelusup ke telingaku di senja oranye. Aku masih setengah sadar. Tergolek lemas. Tubuhku enggan bergerak, meskipun hanya ujung jemari sekalipun.

    Aku berusaha membuka mata. Sabur kulihat tas berwarna kuning di ujung pandanganku. Kuraih tasku. Ritsletingnya kutarik. Tanganku langsung meraba benda yang suaranya bising dari tadi. Benda itu tak kutemukan jua. Malah novel karangan Milan Kundera yang didapat. Kukeluarkan novel tebal itu. Suara dering masih menghajar telingaku. Aku lupa mengecilkan volumenya subuh tadi saat memasang alarm.

    Tangan kiriku terus mengaduk isi tas. Benda-benda didalamnya terpaksa aku bongkar habis. Ada tisu, lipstik, parfum, bedak, pembalut. Benda-benda itu menggeletak di depan mukaku. Setelah isi tas terkuras, barulah benda menjengkelkan itu kugenggam. Deringnya masih memekakkan telinga.

    Baru saja jempol kiriku mau memencet tombol hijau di keypad saat suara dering itu berhenti. Sialan, umpatku. Aku berharap panggilan ini bukan untuk mempermainkanku. Kuperhatikan layar handphoneku. Tertera nama Abimanyu di sana.

    Beberapa detik kemudian, handphoneku kembali berdering. Langsung kudekatkan ke telinga. Masih dalam kondisi berbaring.
    “Halo,” suaraku pelan tidak begitu jelas, maklum baru bangun tidur.
    “Dilla, kamu baru ngapain?” suara Abimanyu seperti dibuat sok perhatian.
    “Ya..., Bim, aku baru bangun tidur, capek.Tadi baru ikut seminar, sampe sore,” jawabku.
    “Ooh, gitu.” Suara Abimanyu lantang di seberang. Terdengar seperti pekik merdeka di zaman perang. Begitu semangat.
    “Dil, bisa gak kita ketemuan ntar malam di depan kampusmu, maksudku.... di depan kampusmu ada kafe kan?!” sebuah ajakan yang meragukan. Mengajak ketemuan tapi detail tempat tak pasti. Dasar cowok aneh, pikirku.

    Tentu saja aku kaget dengan ajakan itu. Aku baru mengenal pemuda ini sepekan terakhir. Sebelumnya hanya bertemu di forum diskusi filsafat yang diadakan sebuah komunitas. Tapi kami sering telponan.
    Dari forum diskusi ke kafe. Sebuah loncatan yang tak terbayangkan sebelumnya.
    “Dil! Dilla!” Abimanyu memanggil.
    “Ya, bisa.” Aku masih ragu-ragu. “Jam berapa?” tanyaku singkat.
    “Jam delapan aja, kutunggu, ya,” Abimanyu langsung mematikan handphonenya.

    “Sialan,” umpatku. “Dasar cowok pelit,” hatiku berkata sendiri. Kuperhatikan sekeliling, kulongok tubuhku. Aku baru sadar tubuhku hanya dibalut celana pendek ketat, dan atasan transparan. Untung saja aku cuma sendiri di rumah ini. Aku baru ingat pintu depan. Aku menoleh kesana. Ternyata setengah terbuka, seperti dadaku. Aku teledor. Di kota ini hampir setiap hari terjadi kejahatan. Pencurian, perampokan, dan tindak kriminal lainnya. Bahkan, baru saja kemarin pagi kubaca di koran, seorang mahasiswi diperkosa di kontrakannya. Setelah diperkosa cewek itu diikat dalam kondisi tanpa busana. Harta bendanya berupa duit, handphone, dan laptop raib.

    ***

    “Aku menyanggupi persyaratanmu,” ujar Abimanyu sambil mengembuskan asap rokoknya ke samping.
    “Oke,” kataku sekenanya.
    “Bulan depan waktu liburan kampus kita berangkat.”
    Aku menatap wajah Abimanyu tak percaya. Kusapu pandang ke sekeliling. Orang-orang di kafe ini sibuk dengat laptop dan gadget masing-masing. Meraka diam. Tangan mereka yang bicara, bukan mulut. Mereka kelu, namun tangan sibuk dengan gadget. Kiamat mungkin sudah dekat.

    ***

    Akhirnya sampai juga di rumah ini, setelah tiga jam perjalanan darat dari ibukota provinsi. Dan sebelumnya terbang dua jam dari pulau Jawa. Kuperhatikan rumah panggung yang terbuat dari kayu berwarna hijau. Catnya terkelupas di sana-sini dimakan ketuaan.

    “Kek! Buka pintu, Kek!” kataku setelah pintu kuketok tanpa salam. Begitulah budaya di desa kakekku yang terletak di ujung Sulawesi ini. Salam yang jamak dilakukan orang itu tidak berlaku di desa kakekku.

    Daun pintu terkuak. Muncul sosok berdaster hitam di sana. Kepalanya juga dililit kain warna hitam.
    “Masuk,” kata kakekku setengah cuek.
    Abimanyu masuk duluan. Aku di belakangnya.

    “Aaaaakh,”Abimanyu tiba-tiba terlonjak kaget. Ia berbalik dan mendorongku. Aku hampir terjatuh. Tentu saja aku juga kaget. Kulihat Abimanyu terjun dari rumah panggung kakekku sambil menjerit. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi. Kuperhatikan kakekku berjalan ke arah kursi ruang tamu dengan langkah pelan tanpa menoleh. Seolah tak terjadi apa-apa.

    Kuperhatikan tangan kanan kakek, ia menggenggam seutas tali dari pohon terap. Di ujung tali itu, di atas lantai, terlihat seekor ular hitam sebesar pahaku. Ular itu diseret oleh kakekku menuju kursi tamu. Ternyata itulah yang menjadi penyebab kenapa Abimanyu loncat ke halaman rumah kakekku barusan.
    Aku memanggil kembali Abimanyu yang berlutut di depan rumah.
    “Bim, gakpa pa kok, ayo naik!” panggilku sambil memekarkan senyum pertanda geli. Kulihat Abimanyu masih gemetaran di halaman.
    “Ya,” jawab pemuda berkulit putih melati itu sambil tersengal. Terlihat ada sedikit malu di wajahnya.

    Abimanyu pun naik. Aku melangkah kearah kursi tamu diikuti oleh Abimanyu di belakangku.

    Abimanyu duduk tepat di hadapan kakek. Aku di sampingnya. Kakekku terlihat tanpa senyum. Misterius.

    Sudah setahun ini aku tidak bertemu kakekku. Aku tinggal di Jogja sejak kecil. Sebenarnya dari desa pelosok Sulawesi inilah aku berasal. Tapi kedua orangtuaku hijrah ke Jogja karena tidak ada pekerjaan di desa ini. Berbeda dengan kakekku yang selalu mendapatkan uang dari ‘profesinya’ yang nyentrik itu. Ya, kakekku adalah dukun terkenal di desa ini, bahkan ketenarannya sampai ke ibukota kabupaten.

    Kakekku tidak begitu antusias menyambutku kali ini. Ini dikarenakan kedatanganku sudah diketahui terlebih dahulu lewat ilmu “Tilik”. Aku tidak pernah memberitahunya sebelumnya karena kakekku tidak punya handphone. Makanya aku tidak bisa berkomunikasi dengannya selama di Jogja. Komunikasi hanya bisa dilakukan di sini, di rumah ini. Komunikasi lewat media bagi kakekku hanyalah semu. Kedua orangtuaku pun jika mau berkomunikasi dengan kakek terpaksa pulang ke sini, meskipun itu hanya terjadi setahun sekali.

    “Mana ular tadi, Kek?” tanyaku.
    “Kusuruh ke belakang,” jawab kakekku serak. Raut mukanya tetap cuek. Karakter kakekku.
    “Baguslah,” ucapku sambil melirik kearah Abimanyu. Tentu saja dengan senyum setengah mengejek.
    Abimanyu menginjak kakiku di bawah meja. Isyarat bahwa ia tidak mau dipermalukan di rumah ini.
    “Dilla, coba kamu ambil air putih di dapur di dalam teko hijau,” pinta kakekku.
    “Ya, Kek,” sahutku dan langsung melangkah ke dapur.
    Jauh-jauh dari Jogja masak cuma disuguhi air putih, pikirku.
    Kutaruh teko itu disertai tiga buah gelas plastikdi atas meja tepat di hadapan Abimanyu dan kakek. Aku pun kembali duduk di kursi yang tadi kududuki.

    Segera saja kakek merogoh saku samping kanan dasternya. Ya, Daster. Pakaian yang jamak dikenakan kaum wanita itu membalut tubuh kakekku. Itulah kebiasaan uniknya. Daster kakek dari dulu selalu berwarna hitam. Entah dari mana ia mendapatkannya.

    Tangan kakek merogoh sesuatu di dalam kantong dekat pahanya. Ooh, ternyata ia mengeluarkan dua saset minuman berenergi. Dua saset itu ia sobek dengan giginya, lalu menuangkannya ke dalam gelas plastik. Satu gelas lagi dibiarkannya tidak berisi. Mungkin ia sedang puasa atau sengaja tidak mau minum.

    ***

    Hari pertama di rumah kakekku berjalan lancar, Abimanyu diterima oleh kakekku dengan baik. Namun, Abimanyu sendiri kelihatan tidak terlalu menikmati. Apalagi ular kakekku yang berwarna hitam itu meliuk-liuk di tengah rumah sepanjang siang. Ketika kami tidur tadi malamlah, baru ular itu dimasukkan oleh kakekku ke kandangnya di dapur tak jauh dari tungku tempat memasak.

    “Tidurku tidak nenap tadi malam. Ular kakekumu terbayang terus. Takut kalau-kalau ular itu merayap dan masuk ke dalam selimutku,” celoteh Abimanyu ketika kami sarapan berdua. Kakekku pergi ke kebun belakang rumah setelah subuh tadi. Ia akan kembali siang nanti.


    [Bersambung ke Part 2]


    (27-29 Januari 2015)

    Penulis: Darwin

    Penulis Buku “Filsafat dan cinta yang Menggebuh”. Tinggal di Yogyakarta.

    Mediasi Sebagai Langkah Awal Penyelesaian Sengketa Medis

    Hasrul Buamona, S.H.,M.H.
    PewartaNews.com  – Hubungan sosial (manatol) yang dilakukan manusia dengan manusia lainnya tidak lepas dari ikatan kerja sama dan permasalahan yang akan terjadi di dalamnya. Kondisi ini berlaku juga dalam dunia kesehatan khususnya tindakan pelayanan kesehatan (medis) yang diberikan dokter/dokter gigi kepada pasien terikat dengan kontrak terapeutik. Begitu banyak dan rumitnya kasus kesehatan yang bermunculan pada akhir-akhir ini, menuntut solusi yang berkeadilan bagi dokter dan pasien sebagai pihak yang memiliki hubungan kontrak terapeutik.

    Tercatat, dalam beberapa tahun belakangan ini profesi dokter banyak menghadapi tuntutan hukum, setidaknya ada 405 laporan masalah medis dari berbagai daerah di Indonesia yang diterima oleh Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (Wasisto B. Suganda, Proceeding pertemuan nasional IV jaringan Bioetika dan Humaniora Kesehatan Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 30 November- 2 Desember 2004). Proses penanganan tindakan medis tidak dipungkiri bisa menimbulkan sengketa. Sengketa dalam kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat, pertengkaran, perbantahan atau dapat juga diartikan sebagai pertikaian atau perselisihan (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: Balai Pustaka; 2005). Penyebab sengketa medis ini bisa timbul dari ketidakpuasan pasien atas tindakan medis yang dilakukan oleh dokter dalam melaksanakan upaya pengobatan. Ketidakpuasan tersebut bisa semakin memanas dikarenakan adanya dugaan kelalaian dan kesalahan (perbuatan melanggar/malpraktek medis) dalam tindakan medis sehingga pasien mendapat kerugian dari aspek kesehatan.

    Beragam permasalahan dibidang kesehatan membuat kedudukan hukum menjadi penting. Hukum dijadikan sebagai alat untuk mengatur  dan menyelesaikan sengketa medis. Sengketa medis meliputi : (1) Sengketa yang terjadi dalam hubungan antara dokter dan pasien; (2) Obyek sengketa adalah upaya penyembuhan yang dilakukan oleh dokter; (3) Pihak yang merasa dirugikan dalam sengketa medis ialah pasien baik kerugian berupa cacat/luka bahkan menuju pada kematian;   (4) Kerugian yang diderita pasien disebabkan oleh adanya dugaan kesalahan dan kelalaian dari dokter.

    Sengketa mediasi diatur dalam Pasal 130 HIR, Pasal 154 RBG, dan PERMA No.1 Tahun 2008 tentang Mediasi, dimana dalam Pasal 1 ayat (7) mendefinisikan bahwa mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Hadirnya mediasi dalam menyelesaikan sengketa medis sangat beralasan dikarenakan tidak semua permasalahan sengketa medis harus di selesaikan secara litigasi di pengadilan.

    Sesuai dengan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009  tentang Kesehatan, dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus di selesaikan terlebih dahulu melalui mediasi. Selain itu, mediasi bisa juga dilakukan oleh MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia) sebagai lembaga yang menjaga marwah kehormatan dokter/dokter gigi dalam menjalankan disiplin keilmuan kedokteran. Majelis ini merupakan lembaga otonom KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) yang keberadaannya berdasarkan Pasal 1 ayat 14 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Praktek Kedokteran. Tugas MKDKI adalah menegakkan aturan-aturan dan ketentuan penerapan keilmuan kedokteran dalam pelaksanaan pelayanan medis yang seharusnya diikuti oleh dokter dan dokter gigi. Oleh karena itu, MKDKI merupakan badan yang ditunjuk oleh KKI untuk menangani kasus-kasus dugaan pelanggaran disiplin kedokteran atau kedokteran gigi dan menetapkan sanksi dimana penyelesaian dilakukan secara mediasi.

    Pelanggaran disiplin adalah pelanggaran terhadap aturan-aturan atau ketentuan penerapan keilmuan, yang pada hakekatnya dapat dikelompokkan dalam 3 hal, yakni: (1) Melaksanakan praktik kedokteran yang tidak kompeten; (2) Tugas dan tanggung jawab professional pada pasien tidak dilaksanakan dengan baik; (3) Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan profesi kedokteran.

    MKDKI dapat menangani perkara dugaan pelanggaran disiplin kedokteran dan kedokteran gigi berdasarkan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No.17/KKI/KEP/VIII/2006 tentang Penegakaan Disiplin Profesi Kedokteran. Ketentuan pelanggaran disiplin juga dapat dilihat dalam buku tentang penyelenggaraan praktik kedokteran yang baik di Indonesia yang diterbitkan berdasarkan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No.18/ KKI/KEP/IX/2006.

    Mediasi dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam menyelesaikan sengeketa medis dikarenakan beberapa alasan berikut : (1) Bahwa upaya penyembuhan yang dilakukan oleh dokter merupakan upaya penyembuhan yang didasarkan pada usaha yang maksimal dan ikhtiar (inspanningverbintenis); (2) Ruang lingkup kesehatan untuk membuktikan dugaan perbuatan melanggar (malpraktek kedokteran) bukanlah hal yang mudah namun harus dipelajari dan di analisis terlebih dahulu setiap perbuatan buruk (adverse event); dan (3) Tidak semua adverse event identik dengan malpraktek kedokteran.

    Kaitan mediasi  dengan upaya keselamatan terhadap pasien yakni sebagai berikut : (1) Bahwa keselematan pasien (patient safety) diartikan sebagai upaya menghindari dan mencegah adverse event yang disebabkan pelayanan kesehatan serta meningkatkan mutu. Keselamatan pasien tidak hanya tertumpu pada orang (person), peralatan, atau departemen saja, tetapi juga interaksi dari komponen dan sistem.; (2) Adverse event yang terjadi tidak secara otomatis merupakan bukti adanya malpraktek kedokteran yang unsurnya terdiri dari; (a) duty; (b) dereliction of duty; (c) demage; (d) direct causation between demage anda direliction of duty.

    Kesalahan diagnosis tidak dapat dikatakan sebagai malpraktek kedokteran sepanjang dokter/dokter gigi dalam membuat diagnosis telah memenuhi ketentuan dan prosedur yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran.

    Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka sengketa medis yang dikategorikan masuk dalam ruang lingkup hukum khusus, haruslah ditangani secara khusus dimana prinsip ultimum remidium yang dahulukan. Hal demikian menjadikan mediasi sebagai langkan awal untuk menyelesaikan sengketa medis baik pada badan aribitrase, MKDKI serta IDI sebagai wadah tunggal profesi kedokteran yang memiliki kewenangan menjadi mediator untuk menyelesaikan sengketa medis dalam dunia pelayanan kesehatan.


    Penulis :
    Hasrul Buamona. S.H., M.H. 
    (Advokat & Konsultan Hukum Kesehatan pada HB&Partners Attorney At Law)

    Refleksi Produksi Kerajinan Tradisional Kota Ternate di Tahun 2015

    Salahsatu Kerajinan di Ternate.
    PewartaNews.com  – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, Maluku Utara (Malut), menetapkan kawasan sentra batik dan tenun sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan produk khas daerah itu. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkot Ternate, Arif Gani di Ternate, mengatakan pihaknya menetapkan kelurahan Koloncucu sebagai sentra tenun dan Kelurahan Tubo sebagai sentra batik. “Dua kelurahan akan menjadi sentra tenun dan batik karena dua kelurahan tersebut masih aktif memproduksi tenun maupun batik. Namun dalam hal ini masih minimnya alat teknologi yang digunakan sehingga dibutuhkan pengembangan skil sumber daya manusia dan alat teknologi yang mendukung. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Industri, maka kedepan dalam industri kerajinan khususnya kerajinan tradisional akan terus dilakukan peningkatan dan pengembangan pada batik tubo dan tenun khas Ternate dalam rangka pengembangan industri kecil dan menengah (IKM).

    Terkait dengan pengembangan dan peningkatan produksi industri lokal, kepala Disperindag telah berkunjung di daerah Pekalongan (Jawa Tengah) dalam beberapa hari dalam rangka melakukan pendampingan kepada pengrajin Batik Tubo tersebut. Daerah yang dikunjungi adalah Pekalongan karena daerah itu terkenal dengan industri batik terbesar di Indonesia maupun dunia. dalam kunjungan tersebut telah banyak menyaksikan proses pembuatan industri batik yang ada di Pekalongan. Maka dari itu hal yang diharapkan ke depan adalah peningkatan dan pengembangan industri Batik Tubo seperti industri batik di Pekalongan.

    Kemudian harapan kunjungan atau studi banding ke kota batik adalah agar nantinya pelaku usaha, khususnya batik Tubo atau batik Kota Ternate ini mampu melakukan inovasi dan kaderisasi terkait dengan pembatikan, karena kita ketahui proses pembuatan batik membutuhkan seni dan pekerjaannya yang cukup rumit. Selain dari industri batik tubo, ada juga industri bambu tutul serta makanan tradisoional khas Ternate yang sangat perlu dikembangkan agar kedepan industri kecil dan menengah maju dan dapat berkontribusi terhadap kemajuan pembangunan daerah. dijelaskan pengrajin di Kota Ternate memproduksi batik cap dan batik tulis sudah mulai ditekuni oleh para pengrajin di kelurahan Tubo yang diharapkan akan terus berkembang.

    Industri merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Selain itu industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. UU Perindustrian No 5 Tahun 1984, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengelola bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya termasuk kegiatan rancangan bangun dan perekayasaan industri. Dari sudut pandang geografi, Industri sebagai suatu sistem, merupakan perpaduan sub sistem fisis dan sub sistem manusia (Sumaatmaja, 1981).

    Kementrian Perindustrian mengelompokan industri nasional Indonesia dalam 3 kelompok besar yaitu:

    Kelompok Pertama, Industri Dasar: dimana meliputi kelompok industri mesin dan logam dasar (IMLD) dan kelompok industri kimia dasar (IKD). Yang termasuk dalam IMLD atara lain industri mesin pertanian, elektronika, kereta api, pesawat terbang, kendaraan bermotor, besi baja, alumunium, tembaga dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk IKD adalah industri pengolahan kayu dan karet alam, industri pestisida, industri pupuk, industri silikat   dan   sebagainya.   Industri   dasar   mempunyai   misi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membantu struktur industri dan bersifat padat modal. Teknologi yang digunakan adalah teknologi maju, teruji dan tidak padat karya namun dapat mendorong terciptanya lapangan kerja secara besar.

    Kelompok Kedua, Aneka Industri (AL) :  termasuk dalam aneka industri adalah industri yang menolah sumber daya hutan, industri yang menolah sumber daya pertanian secara luas dan lain-lain.  Aneka industri mempunyai misi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan atau pemerataan, memperluas kesempatan kerja,  tidak  padat  modal dan  teknologi  yang digunakan adalah teknologi menengah atau teknologi maju.

    Kelompok Ketiga, Industri Kecil, meliputi industri pangan (makanan, minuman dan tembakau), industri sandang dan kulit (tekstil, pakaian jadi serta barang dari kulit), industri kimia dan bahan  bangunan  (industri  kertas,  percetakan,  penebitan,  barang-barang karet  dan plastik), industri kerajinan umum (industri kayu, rotan, bambu dan barang galian bukan logam) dan industri logam (mesin, listrik, alat-alat ilmu pengetahuan, barang dan logam dan sebagainya).

    Dalam  mendukung suatu  industri  dipengaruhi  oleh  faktor-faktor  produksi antara lain (Partadirja, 1985) :
    Pertama, Faktor Produksi Modal, yang terdiri atas: (1) Modal buatan manusia yang terdiri  dari  bangunan-bangunan, mesin-mesin, jalan raya, kereta api, bahan mentah, persediaan barang jadi dan setengah jadi.; (2) Lahan terdiri dari tanah, air, udara, mineral di dalamnya, termasuk sinar matahari.

    Kedua, Faktor produksi tenaga kerja terdiri dari: (1) Tenaga kerja atau buruh berupa jumlah pekerja termasuk tingkat pendidikan dan tingkat keahliannya; (2) Kewirausahaan  sebagai  kecakapan  seseorang  untuk  mengoganisasi  faktor- faktor produksi lain beserta resiko yang dipikulnya berupa keuntungan dan kerugian.

    Dalam meningkatkan efisiensi penggunaan faktor produksi perlu didukung dengan  kemajuan  teknologi.  Hicks  mengklasifikasian  kemajuan  teknologi berdasarkan pengaruhnya terhadap kombinasi penggunaan faktor produksi (Rahardja,1999): Pertama, Teknologi padat modal, bila kemajuan teknologi mengakibatkan porsi pengunaan barang-barang modal menjadi lebih besar dibandingkan dengan tenaga kerja.; Kedua, Teknologi netral apabila tidak terjadi perubahan rasio faktor produksi modal dan tenaga kerja.; Ketiga, Teknologi padat karya, apabila penggunaan faktor produksi tenaga kerja lebih dari penggunaan modal.

    Untuk meningkatkan hasil produksi dalam sebuah perusahaan tidak cukup hanya dengan menggunakan teknologi yang canggih saja, tetapi juga memerlukan tenaga  kerja  yang memiliki  skill  yang tinggi  untuk  mengoperasikannya. Dengan demikian diperlukan tenaga kerja yang mempunyai keahlian, kemampuan dan keterampilan kerja (Siswanto, 1989).

    Perindustrian dan Perdagangan oleh Disperindag Kota Ternate, Maluku Utara, menyiapkan sejumlah produk kerajinan khas daerah untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Kepala Disperindag Kota Ternate Arif Gani di Ternate,menjelaskan, produk kerajinan khas yang disiapkan menghadapi MEA tersebut di antaranya batik tubo, mebel bambu tutul, batu mulia, dan kerajinan besi putih (sumber: Malutpost, 7/1/2015).

    Dikarenakan produk kerajinan khas ternate tersebut diyakini bisa bersaing dengan produk kerajinan dari daerah lainnya di Indonesia, termasuk dari berbagai negara di kawasan ASEAN. Desain yang unik serta bahan baku berkualitas ekspor menjadi kelebihannya. Kerajinan batik tubo, misalnya, yang memiliki 18 motif yang umumnya menggambarkan kearifan lokal. Sebut saja seperti motif bambu tutul, buah pala dan cengkih, serta motif burung goheba. Motif itu diyakini akan banyak menarik minat konsumen pada MEA nanti.

    Saat ini, Disperindag Kota Ternate terus membina para pengusaha kerajinan khas Ternate tersebut, baik dari segi kualitas produk maupun manajemen usaha, termasuk bantuan permodalan dan sarana produksi. Selain itu, Disperindag Kota Ternate juga membantu mempromosikan produk kerajinan khas Ternate. Di antaranya melalui pameran di berbagai kota di Indonesia. Tujuannya tak lain agar produk kerajinan Ternate lebih dikenal masyarakat. Disperindag Ternate juga meminta bantuan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk memperkenal kerajinan mereka kepada masyarakat setempat. Untuk mencegah produk kerajinan khas Ternate ditiru atau diakui oleh perajin di daerah lain, sehingga Disperindag Ternate mendorong para pengusaha kerajianan agar mendaftarkan produk kerajinan mereka ke Kementerian Hukum dan Ham untuk mendapatkan hak paten.

    Jumlah produksi dan industri kerajinan tradisional dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 sejumlah 32 yang terdiri dari industri kerajinan ukiran dari kayu bukan mebeller (kerajinan bambu) dari tahun 2013-2015 adalah 100 buah dan 15 pasang, industri pengawetan rotan, bambu, dan sejenisnya (bambu) dari tahun 2014-2015 adalah 10 pasang, industri kain tenun ikat tahun 2013-2015 adalah 600 pasang dan 60 lembar, industri kain tenun songket dan batik tulis 2011-2015 adalah 1.220 potong, industri batik (batik cap dan batik tubo) tahun 2014-2015 adalah 18.720, industri sirup pala (sirup pala, dodol pala, dan karamel kacang) tahun 2011-2015 adalah 23.400 dos, industri produk roti dan kue (bagea kenari, makron, dan roti kenari) tahun 2014-2015 adalah 740.000 bungkus, industri produk roti dan kue (bagea kenari, bagea kelapa, makron, dan roti kenari) 2013-2015 adalah 1.500.000 buah, industri produksi roti dan kue (roti kenari dan coklat) 2014-2015 adalah 124.800 buah, industri pengolahan dan pengawetan lainnya untuk ikan (bakso dan nuget) 2014-2015 adalah 480.000 buah, industri pengolahan dan pengawetan lainnya untuk ikan (abon dan nuget) 2015 adalah 9.000 bungkus, industri bumbu masak dan penyedap makanan (cuka makan) 2013-2015 adalah 21.600 liter, industri manisan buah-buahan dan sayuran kering (manisan pala dan peyek) 2011-2015 adalah 5.000 bungkus, industri pengasapan ikan (ikan asap) 2011-2015 adalah 54.000 ekor, 123 ton, dan 300 kg yang diproduksi, industri pengolahan kopi dan teh (kopi rempah) 2014-2015 adalah 100 biji yang diproduksi, dan industri kerajinan ukiran kayu bukan mebeller (kerajinan kayu manis) hasil kapasitas produksi dari tahun 2013-2015 adalah 30 pak.

    Dengan adanya bermacam-macam produksi dan industri kerajinan tradisional yang telah ada di kota Ternate diharapkan lebih maju dari segi kualitas produksi maupun karya kreasi yang unik agar lebih merespon daya tarik minat pembeli dari dalam daerah maupun dari luar daerah sebab dengan berjalannya produksi dan industri kerajinan tradisional kota Ternate akan memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. Sehingga dengan berjalannya produksi dan industri kerajinan tradisional juga dapat mengurangi pengangguran karena adanya industri rumahan dan industri kerajinan tradisional akan membuka peluang bagi angkatan kerja untuk mendapatkan pekerjaan sehingga dalam hal ini campur tangan pemerintah sangat dibutuhkan untuk membuka peluang atau memberikan pelatihan-pelatihan khusus di bidang industri kerajinan tradisional bagi para angkatan kerja.


    Penulis : Nurul Hasanah Tul Zannah Umasangadji, S.E.
    (Mahasiswa S2 Ekonomi Pembangunan UNKHAIR Ternate dan Pegawai Negeri Sipil PEMKOT Ternate)
    Editor: Hasrul Buamona, S.H.


    [Puisi] Cemar

    Cahya Adijana Nugraha.
    Aku melukai namaku sendiri.
    Mencakarnya dengan lisan yang buruk.
    Aku mendurhakai rona bayangku sendiri.
    Tak lagi polos warnanya, tapi pudar di dalam ranu.

    Sejatinya tiap insan itu mulia.
    Hingga dunia memperdayai nuraninya.
    Seperti aku mencemari namaku sendiri,
    dengan pola norma yang kelewat beralih.

    Seharusnya aku sudah pakem tak perlu
    Tak perlu memakai hasrat memaknai hidup.
    Dunia ternyata penipu.
    Menarik gairahku hingga terbelenggu.

    Aku melukai namaku sendiri.
    Bukan karena aku acuh tentang hadirku.
    Aku mencemari namaku sendiri,
    Oleh dunia yang terbelenggu di kalbu.


    Yogyakarta, 6 Januari 2016
    Karya : Cahya Adijana Nugraha
    Mahasiswa S2 Teknik Sistem UGM

    [Cerpen] Cinta di Ujung Jalan

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Di Alun-alun selatan tepatnya di Yogyakarta.  Tidak pernah sepi didatangi pengunjung yang silih berganti. Dengan tujuan yang berbeda-beda. Baik dari kalangan remaja, dewasa, anak-anak, orang tua bahkan lanjut usiapun tidak mau ketinggalan. Menikmati  indahnya malam minggu. Diantara dua pohon beringin ada yang duduk saling memejok,  remaja yang bermesraan. Jeritan anak kecil saling mengejar di atas sepeda ontel. Dekat jalan raya, tikar yang  memanjang rapi kumpulan  orang yang menyantap makanan yang harga pas untuk anak kos-kosan.

    “Rati,  ada uang receh ngak?” kata  Mei  sambari melirik menu makanan.  Sontak lamunan Rati, berhenti. Saat ia  melirik  di  sampingnya seorang waria yang bernyanyi dengan mulut dowernya. Gincu merah menempel di bibirnya mirip buah tomat.

    “Ada, nih.” Sahut Rati,  sekeping uang logam duaratus perak dari dompet birunya. “Ini, mas!” Mengelurkan tangan kanannya   senyumannya pun masih hangat. Namun, waria itu tetap saja  bergoyang dan menggeleng-gelengkan kapala. Rautnya menolak.

    “Ada uang seribuan ngak? Ujar Mei dengan nada serak.

    Rati  kesal dengan sikap waria setidaknya ia menerima meski pun hanya recehan.  Rati menaikkan bibir atasnya, bola  mata melirik waria dengan tajam lalu  mengecek dompetnya.  Tanpa menunggu satu  lagu yang selanjutnya, segera  menyodorkan uang kertas dua ribu rupiah.

    “Eh mbak,  gitu donk. Meskipun bukan uang  merah ngak apalah  yang penting ada.” Desak waria,  mengigit bibir bawah  terlihat menggoda.  Goyangnya  pun  semakin  kalang-kabut. Sosoknya yang sangat lucu membuat Rati  sedikit ingin tertawa.  Rambutnya  yang ikal panjang sedada diikat dengan  karet warna ungu.  Wajahnya dipenuhi bedak  padat, sangat putih. Namun,  lehernya sampai ke ujung kaki, gelap.  Persis  monyet yang ada di Gembira Loka Yogyakarta.  Rati mulai tertawa kecil pandanganya fokus  ke samping. Ia sadar dengan kehadiran sosok didekatnya. Tidak akan pernah ragu orang untuk menyebut dirinya seperti wanita. Tapi tentu saja jika melihat keseluruhan dirinya, sangat tak wajar disebut wanita.   Bajunya yang tipis ketat warna ungu yang sangat nampak kelihatan, bidang walaupun diselipi sesuatu yang sepertinya dua  buah semangka.  Sama sekali bisa dibedakan bukan dada wanita.

    Betisnya yang berotot  dan berbulu.   Bokong  sangat besar dan lebar  entah apa yang diselipkan,  kapas? tumpukan pakaian? ataukah  disuntik yang jelasnya enak dipandang.  Sandal jepit keunguan  menghiasi ke dua kakinya yang lebar seperti gajah.  Keserasian antara wajah dan warna pakaian yang  menyatu,  goyang yang merangsan membuat  Rati  dan Mei  menahan tawa.  Ingin rasanya tertawa terbahak.  Demi menjaga perasaan  waria dan takut dapat tempelengan.

    “Rati? Ngapain sih kamu sampai bengong ngelitin sih waria? Ujar Mei sambil mereguk es cappucino. Waria itu bergagas pergi dan marayu setiap manusia yang ia jumpai.

    “Oh, Iya.” Jawabnya singkat. Sambil mengeluarkan buku dan pena di tas abu-abu. Rati mulai merangkai kata-kata romantis untuk Mei.
    Aku ingin kamu selalu ada di sisiku, Jangan  bosan dan ninggalin. Walaupun tinggal beberapa bulan  akan wisuda.  Pastinya kita tak bisa jumpa lagi setelah itu.  Aku sayang kamu Mei” Coretan Rati  dilembaran terakhir buku Hello kitty.  Tunduk malu-malu kucing.
    “Star from hard work for gracluation. It is be ok” Mei membalas dengan mata yang berbinar.
    “Kamu bisa aja Mei. Pulang yuk, aku sudah ngantuk  nih” sontak  Rati  sambil menguap lebar.

    “Iya... Iya aku bayar dulu.”

    Setalah Mei membayar dua gelas  es cappucino di warung seberang  jalan. Rati  mulai membereskan buku  dan pena yang berhamburan di atas meja.  Beberapa orang  bergagas  pulang karena  malam semakin larut. Namun, bawah pohon beringin  ada saja   remaja yang bermesraan di atas rumput hijau. Entah berapa dosa yang mereka buat malam ini? Ada yang berpelukan, bergandengan,  saling  suapan.   Mei pun tak mau ketinggalan  merangkul tangan kanan Rati yang hangat. Mereka perlahan menyebrangi jalan raya bagian utara  yang lalu lintas sangat ramai dan macet.  Mei memarkir motornya di seberang jalan. Sementara kendaraan yang tidak bisa dihitung dengan jari, yang lalu lalang  ada yang melaju kencang sehingga yang nampak hanyalah kilasan lampu sorot.

    @@@@

    Jam  menunjukkan pukul tujuh lewat dua menit.  Rati  berjalan dengan  seragam warna biru  jilbab abu-abu  kesukaanya dan tas abu-abu yang dipakai semalam. Menunduk sambil membaca  buku “Apa Kabar Islam Kita”. Mengangkat dagu saat mau  menyebrangi jalan menuju kampus timur AMA Yogyakarta.  Dari kejauhan ia melihat Mei yang  memarkir motornya.  Perasaan lega dan senang segera ingin menghampiri. Tiba-tiba datang cewek  dengan rambut terurai, tubuhnya yang  ramping  senyum merona di wajahnya,  setiap cowok yang lewat meliriknya karena  kecantikan yang dimiliki. Cantik  sih cantik  tapi kemayu  juga.   Mei pun tak berkedip saat  cewek itu mengutarakan beberapa pertanyaan padanya.

    Hati Rati mulai bergerumuh, bagaikan pecahan gelas.  Arwahnya sudah keluar dari badannya. Ingin segera mengamuk atas tindakan yang dilakukan Mei. Kedua tangannya mulai  mengepal persisi orang  yang akan melakukan   pertandingan tinju.  Langkah  sangat cepat. Saat  sampai pada parkiran cewek itu berlalu pergi dan menuju  Perpustakaan.

    “Siapa cewek itu,? Ujar Rati wajah mengembang.

    “Itu teman sekelasku  sayang, kenapa?” jawab Mei spontan.

    “ Jujur saja sekarang,  kamu itu  mulai mendua. Mesraan lagi.” Nada Rati  keras.

    “Udahlah, Rati. Sudah capek aku dengar omelan, nih masih pagi kita mau kuliah. Yuk sarapan dulu!” ketus Mei.

    “Terserahlah itu teman atau pacar ke duamu yang penting aku ngak suka kamu kayak gitu. Kamu harus milih  sekarang aku tau cewek yang sok geulis itu?” Rati mengeluarkan apinya persis singa hutan, buku yang dipegan  lemparkan ke tempat sampah.

    “Alah.  Capek aku,   kamu juga kenapa sih possesif gitu. Hampir tiap hari aku diomelin, emang ngak boleh punya teman cewek?” Mei mulai tegas.

    “Aku itu cewekmu jadi wajar donk jika  cemburu.  Apalagi kamu cengar-cengir di depannya.  Sampai kamu belum  bisa ubah  tingkahmu itu,  sekarang kamu cari aja cewek itu dan jangan  pernah ketemu aku lagi. Kita PUTUUUUUUS.” Maki  Rati mengeluarkan unek-uneknya.

    “Terserah kamu.” Jawab Mei datar seperti tidak menyadari pujaan hati sudah hilang kesabaran. Mendengar respon Mei seperti  itu, harga diri Rati  terhampas langsung saja meninggalkan  Mei, dengan mata yang  mengembang.

    Hubungan  mereka  berdua memang  tidak  bisa dihitung dengan  tahun. Sudah lebih tiga bulan yang lalu ketika Mei pertama kali  jatuh  cinta saat melihat Rati  berjualan kue di  LET-C. Menyatakan cintanya padanya. Cinta yang disambut. Waktu telah berlalu setelah sekian lama cinta  mereka berputar-putar, putus nyambung.  Mereka  sudah mengenal satu sama lain, kelebihan dan kekurangan.  Kisah cinta  yang penuh perjuangan  akhirnya kandas di parkiran motor.

    Penulis:  Nurwahidah, A.Md.
    Prodi Manajemn Adminitrasi obat dan Farmasi Yogyakarta
    FB : Idha Daeng Saleh.

    Hubungi Redaksi

    Untuk segala keperluan, seperti sponsor, iklan, pemberitaan, dan lain-lain silakan hubungi alamat di bawah ini.

    Alamat Redaksi:
    Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55198.
    Email: redaksi@pewartanews.com, pewartanews@gmail.com
    Twitter: @PewartaNews
    FunPage FB: PewartaNews.com
    Facebook: PewartaNews
    CP: 085225777814

    [Cerpen] Bukan Karena Lelah

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Lelah salah satu  penyakit yang telah menganggu  jiwa pribadi. Banyak  manusia yang memiliki keinginan yang kuat melakukan sesuatu hal dan harus terwujud, apapun caranya. Walaupun kadang kala harapan tak sesuai kenyataan.  Beberapa orang sering mengalaminya  itulah kehidupan. Seperti yang dialami mahasiswa Ama Yogyakarta. Dika, lelaki lajang dari Sulawesi Tenggara. Ia dikenal pekerja keras, ringan tangan,  cerdas dan naif. Hidungnya agak  mancung, kulitnya sawo matang, bola matanya sayu, alis coklat dan tipis. Banyak perempuan yang tergila-gila dengannya, pernah juga ditaksir  sama dosen. Walaupun begitu ia tetap apatis.  Tidak mau mengenal apa itu pacaran.

    Sosoknya dikenal baik, ia ditawari berdiam di rumah pak Samir. Beliau kesehariannya berjualan kue basah di pasar kota gede Yogyakarta. Tak mikir panjang, Dika pun mengiyakan. Sebuah rumah warna coklat, banyak sampah berhamburan. Bakteri yang nempel di dinding, lebih banyak tikus berkeliaran dibanding nyamuk.  Kamar berukuran 2x4 cm itu terlihat kumuh, pengap tak ada jendela.  Itulah Dika selalu mencoba hal yang baru.  “Namanya juga gratis siapa sih yang mau nolak? aku harus pandai bersyukur, meskipun kenyataannya siap bertempur dengan kotoran.” Ujarnya.

    Hari ini adalah hari minggu. Sangat panas, kulit Dika terkelupas. Tak ada cara lain dilakukan kecuali berlari ke  mesjid Al-Wahid samping rumah. Di sanalah kadang tidur pulas di bawah naungan kipas angin. Dika tinggal dengan sahabat karibnya.  Harisan, namanya sungguh menawan  seperti orangnya, lembut,  perhatian, tidak berlebihan dalam berpakaian. Setia mengekor dimanapun Dika berada. Hobby-nya tertawa. Sosoknya  luar biasa di mata Dika.

    Sebagai kompensasi mereka membantu  jualan aneka kue. Membersihkan rumah, mengantar aneka kue dari kampus ke angkringan, memasak lalu cuci wadah. Pernah sekali  Dika kesal saat pak Samir menampakkan wajah serigala. Ya, pak Samir akan  mengamuk dan mengomel jika penjualan kue tak laris. Tak ada cara lain  yang dilakukan hanya tunduk dan pasrah. Itulah salah  satu adat yang ditekuni anak kos-kosan, kuat mental.

    Kata lelah tidak hilang dalam jiwa mereka. Terkadang  mandi di Mesjid, beruntung jika penjaga mesjidnya  baik, eh serigala juga. Pernah sekali Dika ke Mesjid bersiram, tiba-tiba  bertemu bapak tuyuk  tak  tahu persis namanya. Tubuhnya kurus kerempeng,  kulitnya hitam, bibirnya tebal   dan kumis yang serampangan menutupi bibir   atasnya. Saat itu ia memegang sapu. Dika pun masuk sambil tersenyum. Biar dibilang ramah.

    “Pak. Aku mau mandi boleh tidak?” Ujar Dika.

    “Apa,  Mandi? emang di tempatmu  tidak ada air?” wajah bapak tuyuk itu  merah merekah, bola matanya berputar-putar. ”Dasar anak kosan sukanya numpang.” Rasa takut  yang dialami  Dika sungguh amat takut. Ya, tidak ada cara lain kecuali lari menuju kamar  mandi.

    ***

    “Buuuurrrrrrrrmmmm”

    Suara alarm berdering,  pukul 04.00 Wita. Dika  dan Harisan bangun, menuju ke Mesjid, tak lupa mengangkat tangan dan wajah menghadap sang Ilahi, biar dimudahkan segala urusan. Usai shalat mereka menuju rumah pak Samir. Dika tugasnya mengambil beberapa wadah dan kue, lalu diantar  ke  jalan raya.  Aneka kue  arem-arem, bakpia, donat, pastel dsb. Harisan mengantar kue kampus UAD, UPN dan angkringan.

    Keseharian mereka  menuju ke kampus dengan menggayuh sepeda ontel. Perjalanan 15 menit menuju Ama Yogyakarta.  Sesampai di sana bercucuranlah keringat yang terlihat diseragam biru. Mereka  harus melewati ratusan mahasiswa yang berkeliaran di area kampus. Dika melangkah terlihat  apatis menuju  Let.C. Tempat interaksi jual beli makanan dan minuman. Meskipun Harisan mengekor dibelakangnya. Ia menyembunyikan sebuah senyum. Senyum yang menyimpan  duri. Tunduk menenteng wadah beberapa kue basah di dalamnya.  Jika  Jam kuliah  mulai tiba,  maka mereka tetap mengikuti perkuliahan, usai itu  lanjut lagi  berjualan.

    Jam tiga lewat dua puluh menit. Mereka menutup  Let.C dan segera pulang.  Lelah, letih, lesuh dan jenuh. Wajah Dika  terlihat  pucat tapi, tetap memaksa diri menggayuh sepeda. Air bening menetes bersamaan dengan keringat “Tuhan, seperti inikah perjuangan hidup? Aku harus kuat karena masih banyak orang yang belum sempurna tidak punya tangan dan kaki, tapi  tetap kuat bekerja keras, jika mereka bisa melakukan hal itu, kenapa aku tidak?” lirihnya.

    Tiba di kosan  terkumuh  tidak lupa mereka memberikan,  hasil penjualan kue  pada pak Samir yang akhir-akhir ini tambah  sangar. Harisan yang membuang badan ke lantai lalu tidur. Bagi Dika pulang kuliah tak boleh langsung lelap. Ia pun tetap  ke mesjid mandi meskipun  sudah ada peringatan keras kalau tidak boleh mandi di sana.  Berlari ke kamar mandi, shalat lalu siap-siap ke tempat kerja.  Pekerjaan  Dika  jika pulang kuliah adalah jadi waiter di Resto Bombay. Masih lelah tapi ia harus menampakkan wajah yang berbinar di mata para tamu. Berangkat jam Lima sore dan pulang jam sebelas malam, kadang lewat waktu sampai jam dua. Baginya  pekerjaan akan berjalan dengan lancar  jika di jalani dengan enjoy.

    Jika hari libur tiba, Dika tetap semangat mengikuti sebuah komunitas belajar menulis pada malam Senin, di Jl. Golo Yogyakarta. Di sana ia tumpahkan isi hatinya melalui tulisan. Berawal  dari sinilah  Dika mulai mengenal para penulis mayor. Kanda Ahmad, bang Darwin, pak Sukma, Sabil dan masih banyak lagi. Dika pun mau mengikuti jejak mereka biar bisa dikenang dalam sebuah karya.
    Kuliah, berjualan kue, bekerja di restoran dan selipkan waktu menulis. Dika  mengalami  drop lalu tipes. Ia pun dirujuk  ke Rumah Sakit Hidayatullah. Ia terbaring lemas dan tak berdaya. Harisan tetap setia disampingnya. Setia menemani bahkan ia pun  absen  kuliah dan tak berjualan kue. Beberapa mahasiswa dan dosen terpukul mendegar kabar duka bahwa mahasiswa yang hebat itu tak nongol di kampus. Mereka mengangah dan tak percaya melihat raut Dika yang tinggal menunggu ajal. Namun, Dika  tetap mengupas senyum. Dipikirannya hanya satu, bagaimana  soal pembayaran Rumah Sakit  Rp5.000.000. Dan ternyata Tuhan masih dipihaknya. Berapa bantuan dari dosen dan sekelasnya melakukan baksos. Duapekan  kemudian. Uang tersebut berhasil dipengan Dika. Namun, ia mulai berbohong menyembunyikan sesuatu malah  ketahuan juga.

    “Dasar ya, Dika dikasih uang buat bayar biaya Rumah Sakit. Malah duitnya disumbangkan di panti asuhan.” Ujar beberapa orang sekelasnya. Mereka kesal dangan tingkah Dika yang  sangat konyol.

    Itulah Dika, lebih memetingkan orang lain dibanding dengan nasibnya. Baginya masih banyak orang yang lebih butuh bantuan. Selagi masih bisa membantu maka ia akan membantu.  Meskipun pembayaran Rumah Sakit, ia minta dengan orang tua. Dika berharap ada kata maaf dari mulut para kerabat yang rela mengadakan baksos demi melunasi biaya Rumah Sakit.

    Sebulan off-name, Dika mulai sembuh. Ia pun tetap kembali beraktivitas seperti biasanya. Meskipun disuruh istirahat tapi, tetap saja nekad dan tetap bekerja keras. Katanya tak boleh memanjakan diri selagi masih dirantau, memang harus siap menderita dan tetap semangat.


    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni Ama Yogyakarta, Prodi Manajemen Adminitrasi Obat dan Farmasi. Facebook:   Idha Daeng Saleh.

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Selenggarakan Dialog Publik

    Suasana usai dialog publik berlangsung.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Publik dengan tema “Menjawab Kekhawatiran Dana Desa, Kepemimpinan Transformasional dan Karakteristik Kepribadian” pada hari Sabtu, 2 Januari 2016 di Gedung Kuliah GKT 102 Kampus STIE YKPN, Seturan Yogyakarta.

    Diskusi Publik dengan menghadirkan para pemateri yang berkompeten dibidangnya, antara lain,  Dr. Efraim Ferdinand Giri, M.Si.,Ak., CA. (Dosen / Ketua III STIE YKPN Yogyakarta) dengan materi yang disampaikan yakni “Dana Desa untuk Kesejahteraan Rakyat Desa”. “Filosofi Dana Desa yakni meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan desa melalui peningkatan pelayanan publik di desa, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antar desa serta memperkuat masyarakat desa sebagai subjek pembangunan” ungkap Dr. Efraim Ferdinand Giri, M.Si.,Ak., CA.

    Pada pemateri kedua, Dra. Siti Alfajar, M.Si. (Dosen STIE YKPN Yogyakarta) dengan materi yang disampaikan yakni ‘Kepemimpinan Transformasional dan Karakteriik Kepribadian’. Saat penyampaian materi beliau mengatakan, “Implikasi managerial dengan adanya hubungan antara kepemimpinan transformasional dan karakeristik kepribadian ini, maka muncul kebutuhan konsep kepemimpinan untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terus berlangsung. Konsep kepemimpinan tersebut dapat digunakan  dalam proses seleksi dan pelatihan terhadap calon pemimpin dalam suatu organisasi,” beber Dra. Siti Alfajar, M.Si. dengan penuh semangat.

    Pemateri terakhir, Firman, SE., MPH. (Mahasiswa Program Doktor pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada) dengan materi yang disampaikan yakni ‘Dana Desa dan Pelayanan Kesehatan’. Firman dalam penyampaiannya mengatakan, “Pembangunan bangsa Indonesia harus mulai dari desa. Kita juga harus menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, desa sekarang sudah menjadi suatu Miniatur Kabupaten,” imbuhnya.

    Ketiga Pemateri tampil dalam satu panggung didampingi oleh seorang moderator yakni Muhammad Al-Isyar, SKM. (mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada).

    Hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ketua Demisioner PUSMAJA Mbojo Yogyakarta Syahrul Ramadhan, S.Pd., M.Pd., ketua awarde Penerima beasiswa LPDP Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta saudara Anis Bulan. Senior PUSMAJA Mbojo Yogyakarta Ashadi, SKM., Wildanul Hakim.

    Tak ketinggalan, para sesepuh weki Ndai Mbojo juga luangkan waktu dalam perhelatan tersebut, diantaranya Buhari, S.T., Sitti Noor Zaenab, M.Kes., dan beberapa sesepuh lainnya.

    Pada awal pembukaan, dalam sambutannya, ketua Panitia mengatakan, “Saya ucapkan terimakasih atas kehadiran semua pihak. Saya juga ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila penyajian atau penyambutan dalam acara ini ada hal-hal yang kurang berkenan di hati para hadirin,” beber Ketua Panitia Penyelenggara Pelantikan kepengurusan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2016, saudara M. Rimawan, S.E. saat sambutannya.

    Acara ini, selain Dialog Publik juga dirangkaikan dengan Peluncuran Website WWW.PUSMAJAMBOJOJOGJA.OR.ID dan pelantikan pengurus baru PUSMAJA Mbojo Yogyakarta Periode 2015-2016. Rangkaian kegiatan berjalan tanpa hambatan, dari awal hingga akhir agenda. [MJ / PewartaNews]

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Resmi Luncurkan Website

    Ashadi dan Nawassyarif saat peluncuran website.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta meluncurkan website resmi dengan nama “www.pusmajambojojogja.or.id” pada hari Sabtu, 2 Januari 2016 di Gedung Kuliah GKT 102 Kampus STIE YKPN, Seturan Yogyakarta.

    Secara simbolis peluncuran website diresmikan oleh salahsatu senior Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta yakni Ashadi, SKM. “Dengan saya membalikkan kertas bergambar website ini, maka dengan ini website www.pusmajambojojogja.or.id telah resmi diluncurkan,” ucap Ashadi, SKM. diikuti oleh riuk-riuk tepuk tangan dari seluruh hadirin.

    Peluncuran website dipresentasikan oleh Nawasyarif, S.Pd. sebagai koordinator bidang Humas, Media dan Publikasi pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2016. “Dengan adanya website PUSMAJA harapannya lebih mempermudah penyaluran aspirasi para anggota PUSMAJA,” ungkap Nawassarif, S.Pd.

    Ketua umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta beberapa agenda inti yang akan dilaksanakan satu periode kedepan. “Ada beberapa agenda inti yang insya Allah akan dilaksanakan pada periode 2015-2016, diantaranya, pembuatan website PUSMAJA, penerbitan buku serta penerbitan Jurnal Ilmiah. Roh yang mendasar adalah tiga point penting tersebut, mudah-mudahan agenda yang dicanangkan tersebut bisa dimudahkan dalam pelaksanaannya. Aamiin. Kalau pun ada agenda-agenda yang lain yang ingin dicanangkan, maka akan lebih memfokuskan untuk mendukung program-program inti tersebut, semisalnya ingin mengadakan pelatihan-pelatihan serta kajian-kajian rutis, pengajian, maupun beragam bakat dan minat yang disalurkan, pada ending akhirnya diharapkan program pendukung tersebut menguatkan kecerdasan dan kemahiran para anggota PUSMAJA untuk menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan. Tulisan tersebut baik disalurkan melalui website maupun dituangkan kedalam buku atau Jurnal Ilmiah. Alhamdulillah pembuatan website telah dilaksanakan,” beber M. Jamil, S.H. disela-sela acara berlangsung.

    Acara ini, selain Peluncuran Website “www.pusmajambojojogja.or.id” juga dirangkaikan dengan pelantikan dan Diskusi Publik dengan mengangkat tema “Menjawab Kekhawatiran Dana Desa, Kepemimpinan Transformasional dan Karakteristik Kepribadian”, dengan menghadirkan para pemateri yang berkompeten diantaranya,  Dr. Efraim Ferdinand Giri, M.Si.,Ak.CA., Dra. Siti Alfajar, M.Si., dan Firman, SE., MPH., serta didampingi oleh seorang moderator yakni Muhammad Al-Isyar, SKM. [MJ / PewartaNews]

    M. Jamil Resmi Menahkodai PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta

    M. Jamil, S.H.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – M. Jamil S.H. resmi menahkodai Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta yang ditandai dengan dilantiknya kepengurusan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2016 pada Hari Sabtu, 2 Januari 2016 di Gedung Kuliah GKT 102 Kampus STIE YKPN, Seturan Yogyakarta.

    Saat ini M. Jamil, S.H. sedang melangsungkan studinya pada Program Pascasarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Lelaki yang semasa kuliah S1 di Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, ini merupakan pria berasal dari desa Ncera, kecamatan Belo, kabupaten Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Kepengurusan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2016 dilantik oleh ketua Forum Silaturrahmi Weki Ndai Mbojo Yogyakarta, yakni ibu dr. Sitti Noor Zaenab, M.Kes., “Dengan berakhirnya pembacaan ikrar pelantikan ini, maka secara resmi M. Jamil dan jajarannya telah resmi menjadi pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2016, semoga kalian amanah,” ungkap dr. Sitti Noor Zaenab, M.Kes. usai membacakan ikrar pelantikan kepengurusan.

    Ketua umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta usai di lantik, dalam sambutannya mengungkapkan terimakasih kepada berbagai pihak. “Saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga pada STIE YKPN yang telah memfasilitasi tempat kegiatan ini, terimakasih juga kepada para pemateri yang telah meluangkan waktu dalam rangkaian kegiatan Pelantikan ini, dan juga tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih kepada para sesepuh Weki Ndai Mbojo dan juga para tamu undangan yang telah meluangkan waktu untuk menghadi acara pelantikan ini.,” cetus M. Jamil, S.H. saat sambutan pertamanya secara resmi pada kepengurusan periode 2015-2016.

    Lebih lanjut, M. Jamil dalam sambutannya memberikan seruan pada para hadirin terutama pemuda yang sempatkan diri hadir dalam acara tersebut. “Sudah menjadi rahasia umum bahwa kondisi bangsa Indonesia saat ini sangat jauh dari harapan, kita boleh pesimis dengan kondisi negara saat ini, namun jangan sekali-sekali mengatakan hal yang sama pada Bangsa Indonesia 10 tahun kedepannya, kita harus optimis dengan kondisi bangsa kedepannya, bangsa Indonesia kedepannya akan lebih besar dan jaya karena bangsa Indonesia kedepannya akan berada ditangan-tangan para pemuda saat ini, yakni pemuda-pemuda yang mempunyai misi yang besar untuk kejayaan Indonesia, sebagian besar dari pemuda itu adalah para mahasiswa-mahasiswa yang hadir pada ruangan saat ini, oleh karena itu kita harus optimis dan berkontribusi sebisa serta dengan kadar kemampuan kita masing-masing,” celoteh Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H.

    Meski penyajian kegiatan sudah dipersiapkan dengan matang, dalam kesempatan saat laporan panitia, ketua panitia penyelenggara menyampaikan maaf serta ucapan terimakasih pada seluruh tamu undangan, “Saya ucapkan terimakasih atas kehadiran semua pihak. Saya juga ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila penyajian atau penyambutan dalam acara ini ada hal-hal yang kurang berkenan di hati para hadirin,” beber Ketua Panitia Penyelenggara Pelantikan kepengurusan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2016, saudara M. Rimawan, S.E. saat sambutannya.

    Acara ini, selain pelantikan juga dirangkaikan dengan Peluncuran Website WWW.PUSMAJAMBOJOJOGJA.OR.ID dan Diskusi Publik dengan mengangkat tema “Menjawab Kekhawatiran Dana Desa, Kepemimpinan Transformasional dan Karakteristik Kepribadian”, dengan menghadirkan para pemateri yang berkompeten diantaranya,  Dr. Efraim Ferdinand Giri, M.Si.,Ak.CA., Dra. Siti Alfajar, M.Si., dan Firman, SE., MPH., serta didampingi oleh seorang moderator yakni Muhammad Al-Isyar, SKM. [MJ / PewartaNews]

    Suasana usai pelantikan PUSMAJA.


     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website