Headlines News :
Home » » [Cerpen] Cinta di Ujung Jalan

[Cerpen] Cinta di Ujung Jalan

Written By Pewarta News on Sabtu, 09 Januari 2016 | 02.08

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Di Alun-alun selatan tepatnya di Yogyakarta.  Tidak pernah sepi didatangi pengunjung yang silih berganti. Dengan tujuan yang berbeda-beda. Baik dari kalangan remaja, dewasa, anak-anak, orang tua bahkan lanjut usiapun tidak mau ketinggalan. Menikmati  indahnya malam minggu. Diantara dua pohon beringin ada yang duduk saling memejok,  remaja yang bermesraan. Jeritan anak kecil saling mengejar di atas sepeda ontel. Dekat jalan raya, tikar yang  memanjang rapi kumpulan  orang yang menyantap makanan yang harga pas untuk anak kos-kosan.

“Rati,  ada uang receh ngak?” kata  Mei  sambari melirik menu makanan.  Sontak lamunan Rati, berhenti. Saat ia  melirik  di  sampingnya seorang waria yang bernyanyi dengan mulut dowernya. Gincu merah menempel di bibirnya mirip buah tomat.

“Ada, nih.” Sahut Rati,  sekeping uang logam duaratus perak dari dompet birunya. “Ini, mas!” Mengelurkan tangan kanannya   senyumannya pun masih hangat. Namun, waria itu tetap saja  bergoyang dan menggeleng-gelengkan kapala. Rautnya menolak.

“Ada uang seribuan ngak? Ujar Mei dengan nada serak.

Rati  kesal dengan sikap waria setidaknya ia menerima meski pun hanya recehan.  Rati menaikkan bibir atasnya, bola  mata melirik waria dengan tajam lalu  mengecek dompetnya.  Tanpa menunggu satu  lagu yang selanjutnya, segera  menyodorkan uang kertas dua ribu rupiah.

“Eh mbak,  gitu donk. Meskipun bukan uang  merah ngak apalah  yang penting ada.” Desak waria,  mengigit bibir bawah  terlihat menggoda.  Goyangnya  pun  semakin  kalang-kabut. Sosoknya yang sangat lucu membuat Rati  sedikit ingin tertawa.  Rambutnya  yang ikal panjang sedada diikat dengan  karet warna ungu.  Wajahnya dipenuhi bedak  padat, sangat putih. Namun,  lehernya sampai ke ujung kaki, gelap.  Persis  monyet yang ada di Gembira Loka Yogyakarta.  Rati mulai tertawa kecil pandanganya fokus  ke samping. Ia sadar dengan kehadiran sosok didekatnya. Tidak akan pernah ragu orang untuk menyebut dirinya seperti wanita. Tapi tentu saja jika melihat keseluruhan dirinya, sangat tak wajar disebut wanita.   Bajunya yang tipis ketat warna ungu yang sangat nampak kelihatan, bidang walaupun diselipi sesuatu yang sepertinya dua  buah semangka.  Sama sekali bisa dibedakan bukan dada wanita.

Betisnya yang berotot  dan berbulu.   Bokong  sangat besar dan lebar  entah apa yang diselipkan,  kapas? tumpukan pakaian? ataukah  disuntik yang jelasnya enak dipandang.  Sandal jepit keunguan  menghiasi ke dua kakinya yang lebar seperti gajah.  Keserasian antara wajah dan warna pakaian yang  menyatu,  goyang yang merangsan membuat  Rati  dan Mei  menahan tawa.  Ingin rasanya tertawa terbahak.  Demi menjaga perasaan  waria dan takut dapat tempelengan.

“Rati? Ngapain sih kamu sampai bengong ngelitin sih waria? Ujar Mei sambil mereguk es cappucino. Waria itu bergagas pergi dan marayu setiap manusia yang ia jumpai.

“Oh, Iya.” Jawabnya singkat. Sambil mengeluarkan buku dan pena di tas abu-abu. Rati mulai merangkai kata-kata romantis untuk Mei.
Aku ingin kamu selalu ada di sisiku, Jangan  bosan dan ninggalin. Walaupun tinggal beberapa bulan  akan wisuda.  Pastinya kita tak bisa jumpa lagi setelah itu.  Aku sayang kamu Mei” Coretan Rati  dilembaran terakhir buku Hello kitty.  Tunduk malu-malu kucing.
“Star from hard work for gracluation. It is be ok” Mei membalas dengan mata yang berbinar.
“Kamu bisa aja Mei. Pulang yuk, aku sudah ngantuk  nih” sontak  Rati  sambil menguap lebar.

“Iya... Iya aku bayar dulu.”

Setalah Mei membayar dua gelas  es cappucino di warung seberang  jalan. Rati  mulai membereskan buku  dan pena yang berhamburan di atas meja.  Beberapa orang  bergagas  pulang karena  malam semakin larut. Namun, bawah pohon beringin  ada saja   remaja yang bermesraan di atas rumput hijau. Entah berapa dosa yang mereka buat malam ini? Ada yang berpelukan, bergandengan,  saling  suapan.   Mei pun tak mau ketinggalan  merangkul tangan kanan Rati yang hangat. Mereka perlahan menyebrangi jalan raya bagian utara  yang lalu lintas sangat ramai dan macet.  Mei memarkir motornya di seberang jalan. Sementara kendaraan yang tidak bisa dihitung dengan jari, yang lalu lalang  ada yang melaju kencang sehingga yang nampak hanyalah kilasan lampu sorot.

@@@@

Jam  menunjukkan pukul tujuh lewat dua menit.  Rati  berjalan dengan  seragam warna biru  jilbab abu-abu  kesukaanya dan tas abu-abu yang dipakai semalam. Menunduk sambil membaca  buku “Apa Kabar Islam Kita”. Mengangkat dagu saat mau  menyebrangi jalan menuju kampus timur AMA Yogyakarta.  Dari kejauhan ia melihat Mei yang  memarkir motornya.  Perasaan lega dan senang segera ingin menghampiri. Tiba-tiba datang cewek  dengan rambut terurai, tubuhnya yang  ramping  senyum merona di wajahnya,  setiap cowok yang lewat meliriknya karena  kecantikan yang dimiliki. Cantik  sih cantik  tapi kemayu  juga.   Mei pun tak berkedip saat  cewek itu mengutarakan beberapa pertanyaan padanya.

Hati Rati mulai bergerumuh, bagaikan pecahan gelas.  Arwahnya sudah keluar dari badannya. Ingin segera mengamuk atas tindakan yang dilakukan Mei. Kedua tangannya mulai  mengepal persisi orang  yang akan melakukan   pertandingan tinju.  Langkah  sangat cepat. Saat  sampai pada parkiran cewek itu berlalu pergi dan menuju  Perpustakaan.

“Siapa cewek itu,? Ujar Rati wajah mengembang.

“Itu teman sekelasku  sayang, kenapa?” jawab Mei spontan.

“ Jujur saja sekarang,  kamu itu  mulai mendua. Mesraan lagi.” Nada Rati  keras.

“Udahlah, Rati. Sudah capek aku dengar omelan, nih masih pagi kita mau kuliah. Yuk sarapan dulu!” ketus Mei.

“Terserahlah itu teman atau pacar ke duamu yang penting aku ngak suka kamu kayak gitu. Kamu harus milih  sekarang aku tau cewek yang sok geulis itu?” Rati mengeluarkan apinya persis singa hutan, buku yang dipegan  lemparkan ke tempat sampah.

“Alah.  Capek aku,   kamu juga kenapa sih possesif gitu. Hampir tiap hari aku diomelin, emang ngak boleh punya teman cewek?” Mei mulai tegas.

“Aku itu cewekmu jadi wajar donk jika  cemburu.  Apalagi kamu cengar-cengir di depannya.  Sampai kamu belum  bisa ubah  tingkahmu itu,  sekarang kamu cari aja cewek itu dan jangan  pernah ketemu aku lagi. Kita PUTUUUUUUS.” Maki  Rati mengeluarkan unek-uneknya.

“Terserah kamu.” Jawab Mei datar seperti tidak menyadari pujaan hati sudah hilang kesabaran. Mendengar respon Mei seperti  itu, harga diri Rati  terhampas langsung saja meninggalkan  Mei, dengan mata yang  mengembang.

Hubungan  mereka  berdua memang  tidak  bisa dihitung dengan  tahun. Sudah lebih tiga bulan yang lalu ketika Mei pertama kali  jatuh  cinta saat melihat Rati  berjualan kue di  LET-C. Menyatakan cintanya padanya. Cinta yang disambut. Waktu telah berlalu setelah sekian lama cinta  mereka berputar-putar, putus nyambung.  Mereka  sudah mengenal satu sama lain, kelebihan dan kekurangan.  Kisah cinta  yang penuh perjuangan  akhirnya kandas di parkiran motor.

Penulis:  Nurwahidah, A.Md.
Prodi Manajemn Adminitrasi obat dan Farmasi Yogyakarta
FB : Idha Daeng Saleh.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website