Headlines News :
Home » » [Cerpen] Pulang

[Cerpen] Pulang

Written By Pewarta News on Kamis, 14 Januari 2016 | 13.43

Nurwahidah, A.Md.
Aku berani.

Namun  tak  semua perempuan  berani  mengambil suatu tindakan, karena  takut dengan  resiko.  Aku  tak persis mereka,  malah tetap  mencoba   hal  yang baru meskipun ada peringatan dari mama.  Jika hal tersebut  tidaklah  boleh  hasilnya   pun terkadang mengecewakan.

Kamar  kos  berukuran 3x4 cm, pengap  banyak sarang laba-laba.  Terlentang di atas kasur kapuknya berhamburan di lantai.  Kulirik  wajah mama  yang tertidur pulas di sebelahku. Kantong matanya semakin mengembang, rambut yang dulu tebal kini menipis. Aku bahagia  karena beliau  nongol  dihari wisuda tepatnya tanggal 22 Agustus 2015.

Namun,  merasa sangat bersalah kerena sudah berhasil meluruskan hatinya biar meridhoi,  ke Kalimantan Timur cari nafkah di sebuah perusahaan  KPC  (Kaltim Prima Coal). Aku belum  yakin sesampai di sana bisa langsung diterima bekerja karena, harus ada kerabat di perusahaan tersebut,  dan harus sabar menanti keajaiban. “Maafkan aku mama, karena lidahku mulai tak profesional.” Desahku.

Pukul sembilan pagi.  Bandara Adjisucipto Yogyakarta sangat ramai. Hari ini mama dan kerabatnya akan segera kembali ke bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Lagi-lagi akan tak bisa menatap wajahnya  lebih jelas setelah pesawat Lion Air  meleset ke angkasa.

“Jaga dirimu di sana ya Nak, apalagi kamu perempuan.” Ujar mama, bola matanya bengkak, ingus pun berjatuhan di jilbab biru yang terpasang menawan.

Aku hanya mengangguk.

Percakapan terlalu singkat. Bahkan sebelum aku menyadarinya, aku benar-benar berpisah. Tiga menit kemudian, beliau melangkah masuk ke ruang chek-in. Menoleh sejenak, tampak  terpukul dan khawatir tak jumpa lagi denganku untuk beberapa bulan.

Wajahnya dipenuhi keringat. Apalagi  sangat shok  jika naik pesawat, takut jatuh. Aku berusaha meyakinkan lewat mimik, kalau semua akan baik-baik saja. Mama  memutar badannya lalu berlari ke arahku. Memberikan pelukan, aku pun merangkulnya.

“Tidak usah takut. Sudahlah jangan teteskan air bening lagi, suatu hari nanti kita akan jumpa  secepatnya.”Ucapku menyeka hidung.

Mama  hanya bungkam. Tapi, sepertinya  bisa paham. Dan akhirnya mengalah. Hal yang sangat jarang sekali diberikan jika menyangkut diriku. Semenit berlalu, beliau melangkah masuk tak lagi menoleh. Kekuatan batin telah memisahkan antara seorang ibu dengan  putrinya. Takdir telah menebarkan mentera hitam dan memukul jatuh cawan dari tangan, anggur telah habis dan aku sekarat kehausan, dan takdir sedang menertawankanku dan  benar-benar  merasa mulai  menyesal tak  jumpa lagi dengannya.

Memang, aku telah dikutut oleh kekuatan jahat  takdir apapun namanya. Siapakah yang disalahkan  terhadap kekuatan  seperti ini? Yang kumiliki hanya kata berani dan tak boleh pantang menyerah di rantau. Keluarga pun telah berusaha menegur agar tidak boleh berangkat ke suatu tempat, apalagi di sana tak ada sanak keluarga.

***

Hari ini adalah hari Kamis tanggal 4 September. Aku sudah menunggu beberapa menit lalu  menatap tubuh dan paras pramugari yang berlenggok-lenggok di depanku, sangat geulis.  Lima menit kemudian  pesawat Lion air  JT 679 bergerak pelan menuju bandara Spinggan Airport Balikpapan. Aku menoleh ke jendela, mengingat banyak kenangan yang kutemukan di kota ini. Kota istimewa Yogyakarta. Moncong pesawat mulai naik, dan setelah itu pesawat Lion air  JT 679 meleset ke udara. Setidaknya, saat berangkat sore seperti ini pemandangan sangat menakjubkan.

Dua  puluh menit  di udara.  Pramugari mulai berdiri tegap, bibir  tipisnya mulai ke kiri lalu ke kanan.  Aku sama sekali tak memperhatikan, wajahku masih setia ke arah jendela pesawat.  Entah mengapa  tiba-tiba perasaanku aneh tidak seperti biasanya. Aku takut dan bimbang. Lagi-lagi kuputuskan mengambil hape samsung di tas batik. Sejenak melirik ke kanan, perempuan  di sebelahku diam kayak patung pahlawan, sesekali bibirnya bergetar sepertinya anak kampung  yang baru  melayang di udara. Kuputuskan mengaktifkan hape  lalu membaca beberapa  email  yang masuk.

Pulanglah!

Semoga kamu segera membuka pesan ini. Mama  tahu persis bagaimana  keinginanmu  pengen  sukses dirantau.  Kata mama,  sangat  bangga punya putri sepertimu yang pemberani namun kamu harus tahu adik,  tak semua yang kita rencanakan Tuhan akan mengiyakan. Setidaknya pesan yang kukurim ini bisa melunakkan hatimu segera pulang ke kota Makassar setelah Ijazah sudah kau pegan. Mama akhir-akhir ini hanya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar. Kami  telah berusaha membujuk biar hatinya luluh dan  mengikhlaskan kau dirantau, tapi beliau hanya memilih terkapar di atas ranjang. Wajahnya pucat, mulutnya terbuka sambil menyebut namamu lirih serta mendekap figura fotomu. Tubunya  semakin kerempeng, mulai sakit-sakitan dan malas mengunyah.

“Jaga diri apalagi kau perempuan.” Itu kata-kata yang setiap detik keluar dari bibirnya, tentu banyak rintangan yang harus kau hadapi di sana. Kami sangat berharap ada hasil  kau bawa pulang, sekiranya bisa menghapus tangis di hati mama.  Kau harus tahu adikku,  tidak pernah absen waktu semalan pun, dan setiap sujud terakhir dalam shalat, mama selalu mendoakan yang terbaik. Selalu menyebut namamu dalam doa dan sampai beliau  terbaring di atas kasur mendoakan biar kau baik-baik saja. Ingatlah  jika tak ada hasil maka kau harus pulang!

Kakakmu Irma.

Aku  gemetar. Aku hanya menunduk menyeka hidung, lalu kubalas email tersebut.

Masih berkelana.

Maafkan aku. Mama,  jika berhasil membuatmu  meneteskan air bening. Tak ada yang bisa kulakukan saat  tahu bahwa orang yang kuhormati  belum  ikhlas dengan ketiadaanku. Jika matahari masih terbit di ufuk  timur dan belum terbit di ufuk barat. Maka seperti itulah niatku, tidak akan pulang sebelum sukses dirantau.

Sudah  delapan tahun mama  menjanda. Beliau tak pernah lelah mencari duit. Aku sering sekali dapat telefon dari tetangga  rumah di kampung  bahwa  mama selalu membanting stir (beralih profesi). Jualan beras kiloan di pasar, jualan  tempe, jualan sayuran  bahkan mama pernah off-name di Rumah sakit Daeng Raja Bulukumba kerena drop. Dan kalian tak memberitahuku  dengan jujur. Aku benci itu.

Sakit yang pertama kudapat saat kehilangan bapak. Aku tak mau mengenal lagi sakit yang ke dua. Tak ingin ada tangis di mata mama. Sejak kutahu keadaan mama yang hanya terpuruk dalam kesedihan. Aku mulai lemah dan tak mau jadi anak durhaka seperti cerita Malin Kundang yang kulihat di tivi.  Kupikir merantau sendiri ke Kalimantan Timur bisa  membelikan beliau, mukenah dengan banting tulang di sana. Salam buat mama, aku merindukannya.

Adikmu  Tary.

Aku merasa tergores setelah  membalas pesan singkat melalui email. Menyandarkan kepala dikursi penumpang. Tiba-tiba pesawat Lion air  goyang. Guntur serentak dengan hujan membuat  penumpang  berteriak histeris.  Kuputar leher ke jendela pesawat, awan semakin gelap.  Melihat badai dalam rute perjalanan.  Badai terlihat dari radar cuaca di dalam pesawat.  Setelah 90 detik memasuki badai,  kedua  mesin mati. Aku bisa merasakan seluruh badanku bergetar kencang. Pirasatku kini memang nyata kalau hari ini benar-benar akan pergi menyusul bapak. Kembali kuperhatikan penumpang, mereka memakai seragam putih. Aku mematung lalu tersenyum mekar. Aku bahagia, setidaknya bisa meninggal secara berjamaah.
“Prooooaaaak.” Aku masih menyerengai, setengah sadar kalo  pesawat yang kutumpangi  jatuh di sebuah laut.

Aku tidak  bisa bernapas secara sempurna. Berenang  tak pandai  akhirnya tenggelam. Hanya suara  ombak diiringi suara manusia minta tolong, bertautang  sana-sini yang bertengger  di kupingku. Bola mata semakin redup, tak kuasa lagi bertahan. Tiba-tiba ada kilasan cahaya menampar wajahku, tetap penasaran lalu mengamati perlahan cahaya itu  mendekat.

Sosok bapak busana putih di badannya. Lalu kulirik  di sebelah kanan, mama memakai  blus hijau. Mereka mengelurkan ke dua tangannya secara bersamaan. Aku berusaha menggapai tangan bapak yang kupikir tinggal sejengkal. Tapi, semakin sulit dan terasa jauh. Tangan  kiri mama terasa hangat saat menyentuh tanganku. Aku pun berusaha  mengejar tangan bapak yang semakin menjauh lalu menghilang bersamaan dengan cahaya.

“Mbak bangun!  Pesawat sudah mendarat.” Suara perempuan yang  melintas dengan sekejab. Aku pun membuka mata, jilbab yang kupake penuh dengan ingus. Bola mata bengkak. Ternyata hanya mimpi. Aku kembali  mengatur detak jantung lalu  menuju pintu keluar.

***

Tak terasa  tiga bulan dua minggu di Kalimantan Timur  tepatnya Kabupaten Sangatta Utara. Semua orang pasti  merasa bosan dan jenuh jika menunggu sesuatu tapi belum tiba. Sambil menunggu batu loncatan kumasih setia jadi karyawan di tempat minuman coklat.  Hanya kata  pemberani dan sabar yang masih bersemayang dalam jiwa hingga  bertahan sampai hari ini. Malu pun tak kungjung lenyap, belum lagi cerita tetangga yang merambat desa ke desa. Seharusnya setiap akhir bulan kukirim duit buat mama. Ternyata kebalikannnya, dan aku pasrah pada  Ilahi lalu  menunggu cobaan selanjutnya. Tiba-tiba  kubuka hape ternyata ada pesan yang baruku baca.

“Kalo kamu tidak pulang minggu ini, kamu tidak akan melihat senyum mama yang terakhir kalinya.” By Kakakmu.

Kulitku terkelupas lalu meleleh. Hari ini segera kuboking tiket tanggal 15 Desember. Akhirnya aku pulang  ke  kampung halaman  bukan berarti menyerah dan gagal dirantau tapi demi Mama. Orang tua yang seharusnya kuberbakti kepadanya. Tuhan sudah mengatur setiap rezeki hambanya dan aku harus memahami maknanya. Mungkin bukan di Kalimantan aku bisa membelikan mama  mukenah tapi di daerah lain.


Bulukumba, 05 Januari 2016

Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Prodi Manajemen Adminitrasi obat dan Farmasi pada AMA Yogyakarta. Email : nurwahidah854@yahoo.com. FB : Idha Daeng Saleh

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website