Headlines News :
Home » , » Refleksi Produksi Kerajinan Tradisional Kota Ternate di Tahun 2015

Refleksi Produksi Kerajinan Tradisional Kota Ternate di Tahun 2015

Written By Pewarta News on Kamis, 14 Januari 2016 | 08.16

Salahsatu Kerajinan di Ternate.
PewartaNews.com  – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, Maluku Utara (Malut), menetapkan kawasan sentra batik dan tenun sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan produk khas daerah itu. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkot Ternate, Arif Gani di Ternate, mengatakan pihaknya menetapkan kelurahan Koloncucu sebagai sentra tenun dan Kelurahan Tubo sebagai sentra batik. “Dua kelurahan akan menjadi sentra tenun dan batik karena dua kelurahan tersebut masih aktif memproduksi tenun maupun batik. Namun dalam hal ini masih minimnya alat teknologi yang digunakan sehingga dibutuhkan pengembangan skil sumber daya manusia dan alat teknologi yang mendukung. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Industri, maka kedepan dalam industri kerajinan khususnya kerajinan tradisional akan terus dilakukan peningkatan dan pengembangan pada batik tubo dan tenun khas Ternate dalam rangka pengembangan industri kecil dan menengah (IKM).

Terkait dengan pengembangan dan peningkatan produksi industri lokal, kepala Disperindag telah berkunjung di daerah Pekalongan (Jawa Tengah) dalam beberapa hari dalam rangka melakukan pendampingan kepada pengrajin Batik Tubo tersebut. Daerah yang dikunjungi adalah Pekalongan karena daerah itu terkenal dengan industri batik terbesar di Indonesia maupun dunia. dalam kunjungan tersebut telah banyak menyaksikan proses pembuatan industri batik yang ada di Pekalongan. Maka dari itu hal yang diharapkan ke depan adalah peningkatan dan pengembangan industri Batik Tubo seperti industri batik di Pekalongan.

Kemudian harapan kunjungan atau studi banding ke kota batik adalah agar nantinya pelaku usaha, khususnya batik Tubo atau batik Kota Ternate ini mampu melakukan inovasi dan kaderisasi terkait dengan pembatikan, karena kita ketahui proses pembuatan batik membutuhkan seni dan pekerjaannya yang cukup rumit. Selain dari industri batik tubo, ada juga industri bambu tutul serta makanan tradisoional khas Ternate yang sangat perlu dikembangkan agar kedepan industri kecil dan menengah maju dan dapat berkontribusi terhadap kemajuan pembangunan daerah. dijelaskan pengrajin di Kota Ternate memproduksi batik cap dan batik tulis sudah mulai ditekuni oleh para pengrajin di kelurahan Tubo yang diharapkan akan terus berkembang.

Industri merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Selain itu industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. UU Perindustrian No 5 Tahun 1984, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengelola bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya termasuk kegiatan rancangan bangun dan perekayasaan industri. Dari sudut pandang geografi, Industri sebagai suatu sistem, merupakan perpaduan sub sistem fisis dan sub sistem manusia (Sumaatmaja, 1981).

Kementrian Perindustrian mengelompokan industri nasional Indonesia dalam 3 kelompok besar yaitu:

Kelompok Pertama, Industri Dasar: dimana meliputi kelompok industri mesin dan logam dasar (IMLD) dan kelompok industri kimia dasar (IKD). Yang termasuk dalam IMLD atara lain industri mesin pertanian, elektronika, kereta api, pesawat terbang, kendaraan bermotor, besi baja, alumunium, tembaga dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk IKD adalah industri pengolahan kayu dan karet alam, industri pestisida, industri pupuk, industri silikat   dan   sebagainya.   Industri   dasar   mempunyai   misi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membantu struktur industri dan bersifat padat modal. Teknologi yang digunakan adalah teknologi maju, teruji dan tidak padat karya namun dapat mendorong terciptanya lapangan kerja secara besar.

Kelompok Kedua, Aneka Industri (AL) :  termasuk dalam aneka industri adalah industri yang menolah sumber daya hutan, industri yang menolah sumber daya pertanian secara luas dan lain-lain.  Aneka industri mempunyai misi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan atau pemerataan, memperluas kesempatan kerja,  tidak  padat  modal dan  teknologi  yang digunakan adalah teknologi menengah atau teknologi maju.

Kelompok Ketiga, Industri Kecil, meliputi industri pangan (makanan, minuman dan tembakau), industri sandang dan kulit (tekstil, pakaian jadi serta barang dari kulit), industri kimia dan bahan  bangunan  (industri  kertas,  percetakan,  penebitan,  barang-barang karet  dan plastik), industri kerajinan umum (industri kayu, rotan, bambu dan barang galian bukan logam) dan industri logam (mesin, listrik, alat-alat ilmu pengetahuan, barang dan logam dan sebagainya).

Dalam  mendukung suatu  industri  dipengaruhi  oleh  faktor-faktor  produksi antara lain (Partadirja, 1985) :
Pertama, Faktor Produksi Modal, yang terdiri atas: (1) Modal buatan manusia yang terdiri  dari  bangunan-bangunan, mesin-mesin, jalan raya, kereta api, bahan mentah, persediaan barang jadi dan setengah jadi.; (2) Lahan terdiri dari tanah, air, udara, mineral di dalamnya, termasuk sinar matahari.

Kedua, Faktor produksi tenaga kerja terdiri dari: (1) Tenaga kerja atau buruh berupa jumlah pekerja termasuk tingkat pendidikan dan tingkat keahliannya; (2) Kewirausahaan  sebagai  kecakapan  seseorang  untuk  mengoganisasi  faktor- faktor produksi lain beserta resiko yang dipikulnya berupa keuntungan dan kerugian.

Dalam meningkatkan efisiensi penggunaan faktor produksi perlu didukung dengan  kemajuan  teknologi.  Hicks  mengklasifikasian  kemajuan  teknologi berdasarkan pengaruhnya terhadap kombinasi penggunaan faktor produksi (Rahardja,1999): Pertama, Teknologi padat modal, bila kemajuan teknologi mengakibatkan porsi pengunaan barang-barang modal menjadi lebih besar dibandingkan dengan tenaga kerja.; Kedua, Teknologi netral apabila tidak terjadi perubahan rasio faktor produksi modal dan tenaga kerja.; Ketiga, Teknologi padat karya, apabila penggunaan faktor produksi tenaga kerja lebih dari penggunaan modal.

Untuk meningkatkan hasil produksi dalam sebuah perusahaan tidak cukup hanya dengan menggunakan teknologi yang canggih saja, tetapi juga memerlukan tenaga  kerja  yang memiliki  skill  yang tinggi  untuk  mengoperasikannya. Dengan demikian diperlukan tenaga kerja yang mempunyai keahlian, kemampuan dan keterampilan kerja (Siswanto, 1989).

Perindustrian dan Perdagangan oleh Disperindag Kota Ternate, Maluku Utara, menyiapkan sejumlah produk kerajinan khas daerah untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Kepala Disperindag Kota Ternate Arif Gani di Ternate,menjelaskan, produk kerajinan khas yang disiapkan menghadapi MEA tersebut di antaranya batik tubo, mebel bambu tutul, batu mulia, dan kerajinan besi putih (sumber: Malutpost, 7/1/2015).

Dikarenakan produk kerajinan khas ternate tersebut diyakini bisa bersaing dengan produk kerajinan dari daerah lainnya di Indonesia, termasuk dari berbagai negara di kawasan ASEAN. Desain yang unik serta bahan baku berkualitas ekspor menjadi kelebihannya. Kerajinan batik tubo, misalnya, yang memiliki 18 motif yang umumnya menggambarkan kearifan lokal. Sebut saja seperti motif bambu tutul, buah pala dan cengkih, serta motif burung goheba. Motif itu diyakini akan banyak menarik minat konsumen pada MEA nanti.

Saat ini, Disperindag Kota Ternate terus membina para pengusaha kerajinan khas Ternate tersebut, baik dari segi kualitas produk maupun manajemen usaha, termasuk bantuan permodalan dan sarana produksi. Selain itu, Disperindag Kota Ternate juga membantu mempromosikan produk kerajinan khas Ternate. Di antaranya melalui pameran di berbagai kota di Indonesia. Tujuannya tak lain agar produk kerajinan Ternate lebih dikenal masyarakat. Disperindag Ternate juga meminta bantuan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk memperkenal kerajinan mereka kepada masyarakat setempat. Untuk mencegah produk kerajinan khas Ternate ditiru atau diakui oleh perajin di daerah lain, sehingga Disperindag Ternate mendorong para pengusaha kerajianan agar mendaftarkan produk kerajinan mereka ke Kementerian Hukum dan Ham untuk mendapatkan hak paten.

Jumlah produksi dan industri kerajinan tradisional dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 sejumlah 32 yang terdiri dari industri kerajinan ukiran dari kayu bukan mebeller (kerajinan bambu) dari tahun 2013-2015 adalah 100 buah dan 15 pasang, industri pengawetan rotan, bambu, dan sejenisnya (bambu) dari tahun 2014-2015 adalah 10 pasang, industri kain tenun ikat tahun 2013-2015 adalah 600 pasang dan 60 lembar, industri kain tenun songket dan batik tulis 2011-2015 adalah 1.220 potong, industri batik (batik cap dan batik tubo) tahun 2014-2015 adalah 18.720, industri sirup pala (sirup pala, dodol pala, dan karamel kacang) tahun 2011-2015 adalah 23.400 dos, industri produk roti dan kue (bagea kenari, makron, dan roti kenari) tahun 2014-2015 adalah 740.000 bungkus, industri produk roti dan kue (bagea kenari, bagea kelapa, makron, dan roti kenari) 2013-2015 adalah 1.500.000 buah, industri produksi roti dan kue (roti kenari dan coklat) 2014-2015 adalah 124.800 buah, industri pengolahan dan pengawetan lainnya untuk ikan (bakso dan nuget) 2014-2015 adalah 480.000 buah, industri pengolahan dan pengawetan lainnya untuk ikan (abon dan nuget) 2015 adalah 9.000 bungkus, industri bumbu masak dan penyedap makanan (cuka makan) 2013-2015 adalah 21.600 liter, industri manisan buah-buahan dan sayuran kering (manisan pala dan peyek) 2011-2015 adalah 5.000 bungkus, industri pengasapan ikan (ikan asap) 2011-2015 adalah 54.000 ekor, 123 ton, dan 300 kg yang diproduksi, industri pengolahan kopi dan teh (kopi rempah) 2014-2015 adalah 100 biji yang diproduksi, dan industri kerajinan ukiran kayu bukan mebeller (kerajinan kayu manis) hasil kapasitas produksi dari tahun 2013-2015 adalah 30 pak.

Dengan adanya bermacam-macam produksi dan industri kerajinan tradisional yang telah ada di kota Ternate diharapkan lebih maju dari segi kualitas produksi maupun karya kreasi yang unik agar lebih merespon daya tarik minat pembeli dari dalam daerah maupun dari luar daerah sebab dengan berjalannya produksi dan industri kerajinan tradisional kota Ternate akan memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. Sehingga dengan berjalannya produksi dan industri kerajinan tradisional juga dapat mengurangi pengangguran karena adanya industri rumahan dan industri kerajinan tradisional akan membuka peluang bagi angkatan kerja untuk mendapatkan pekerjaan sehingga dalam hal ini campur tangan pemerintah sangat dibutuhkan untuk membuka peluang atau memberikan pelatihan-pelatihan khusus di bidang industri kerajinan tradisional bagi para angkatan kerja.


Penulis : Nurul Hasanah Tul Zannah Umasangadji, S.E.
(Mahasiswa S2 Ekonomi Pembangunan UNKHAIR Ternate dan Pegawai Negeri Sipil PEMKOT Ternate)
Editor: Hasrul Buamona, S.H.


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website