Headlines News :
Home » » Skenario Ketiga

Skenario Ketiga

Written By Pewarta News on Sabtu, 02 Januari 2016 | 19.16

Nufa.
PewartaNews.com – Jalanan yang seharusnya kau lalui mulai lengang. Lampu-lampu penerang yang sering diperdebatkan gara-gara tak diurus oleh pemerintah sebagian sudah menyala dan sebagian rusak. Tikus-tikus got keranjingan wira-wiri di keranjang sampah untuk mencari makanan. Panggung kehidupan malam dimulai, kini kau menjadi salah satu pemeran yang ikut bermain di dalamnya.

Segeralah ganti kostum, lepaskan dasi dan kemejamu! Nanti kau akan mendapat peran yang sulit, yakni peran sebagai sosok manusia terdampar yang letih dan lesu di tengah hujan malam nan sepi. Percayalah ini merupakan kehormatan bagimu, sebab peran ini belum tentu bisa dikerjakan oleh orang lain.

Simpan dulu senyummu! Kali ini kau wajib memasang raut muka memelas laiknya peminta-minta yang sering mangkal di ujung lampu merah. Cepatlah! Tak usah banyak tanya mengenai peranmu kali ini. Lakukan saja apa yang kusuruh! Oya, jangan lupa untuk membaca dulu teks skenario yang…hmm sebentar, akan kuambil dulu di lemari.

Apa?? Kau tidak bisa membaca skenario?? Ya ampun! Kenapa tidak bilang dari tadi? Ya sudah, aku bisa memahami posisimu yang memang jarang sekali bermain peran. Kubacakan saja skenarionya secara perlahan. Aku mulai ya..

Pertama, kamu harus menyeret-nyeret langkahmu dengan rasa letih yang luar biasa. Sembari memposisikan wajahmu menatap rembulan dengan penuh harap, kucurkan air matamu juga. Oh iya, sebelumnya kamu harus mencuci mukamu dengan lumpur agar tampak dekil. Ini untuk mendalami peran. Tak usah gusar, nanti kalau sudah selesai kau boleh cuci wajahmu dengan air keran.

Kedua, dengan wajah dekil, baju compang-camping dan tubuh lelah, sempurnakan aksi di tengah panggung malammu dengan gerakan tubuh yang mengayun ke kanan dan ke kiri perlahan. Lalu dalam hitungan ke lima, jatuh dan rebahkan badanmu ke tanah kemudian pejamkan matamu (kalau kamu takut dengan kerikil tajam, kamu bisa mencari tempat jatuh yang sekiranya bisa membuatmu nyaman, atau jika tidak ada, bersihkan dulu kerikil dan batu yang mengganggu sebelum pentas dimulai)

Ketiga, kau akan melihat cahaya dimalam dingin sepi itu. Seorang wanita kurus paruh baya yang kebetulan sedang lewat dan melihatmu terkapar kini mulai bersedia mengulurkan tangannya. Ia rela memegang tubuhmu yang dekil sementara wanita itu begitu suci usai melaksanakan sholat isya di surau. Dalam skenario yang kubuat, ia akan menolongmu dengan tulus ikhlas.

Membawamu menuju rumahnya yang sederhana tapi bersih, memberimu minuman hangat, menyediakan air panas untuk mandi lengkap dengan handuk dan sabun yang wangi adalah rentetan keikhlasannya. Tugasmu, ukurlah kebaikannya dengan penggaris yang sudah kusematkan diam-diam di saku celana milikmu sore tadi. Tak peduli sepanjang apa kebaikannya, teruslah mengukur, ukur, ukur dan ukur! Bila penggarismu tak mampu lagi mengukur kebaikannya yang begitu menumpuk. Aku bisa melemparkan penggaris lain nanti saat pentas, asalkan kau memberi kode kepadaku dengan melambaikan tangan.

“Mas Djarot, nanti tolong lampu pemancarnya agak diredupkan sedikit ya, biar suasana remang-remangnya makin kerasa!”

Oke kita lanjutkan! Maaf tadi agak kusela obrolan kita sedikit, soalnya aku ragu dengan setingan cahayanya yang gak pas kalo disetel segemerlap itu. Baiklah, begini, kau harus ingat bahwa posisimu adalah sebagai pemain utama. Jika kau gagal, maka panggung malam tersebut akan runtuh sampai ke tulang-tulangnya. Dan aku nggak ingin hal itu terjadi.

Makna dari penggaris itu? Hmm kalau soal itu aku mungkin perlu waktu lama untuk menjelaskannya. Bagaimana kalau nanti saja, sekalian kujelaskan sembari membaca skenario keempat dan seterusnya. Apa? Kau ingin aku menjelaskannya sekarang?

Hanya ada satu alasan mengapa aku menyuruhmu mengukur semua yang telah wanita itu berikan kepadamu. Yakni untuk memudahkanmu membalas kebaikannya bila suatu saat nanti kau bertemu dengannya lagi. Ingat, ia telah membantumu dengan tulus ikhlas saat kau hampir mati tersambar petir di tengah hujan. Masa iya saat bertemu dengannya nanti kau hanya akan memberi senyum?

Tapi entah mengapa wanita itu teramat sangat baik. Setiap kali kau membalas apa yang telah dilakukan maka ia akan memberikan lagi kebaikan-kebaikan yang membuatmu akan terus mengukur dan berusaha membayar sampai semuanya impas. Namun hingga kau sehat, kuat dan sukses meraih mimpi-mimpimu belasan tahun kemudian, kau masih tetap belum bisa membalas semua yang telah dilakukan oleh wanita itu.

Kau masih tetap berhutang budi kepadanya. Jabatanmu sebagai pengukur kebaikan wanita paruh baya itu masih belum bisa dipensiunkan. Dan penggaris yang dulu kuberikan saat pentas sampai sekarang juga tetap menempel di saku celanamu hingga terlihat usang.

Dan aku tak tahu entah sampai kapan kau akan bekerja keras untuk mengembalikan semuanya. Ingat, aku hanya akan membuat skenario tentang panggung malam saja. Untuk urusan kamu dengan wanita itu, buatlah jalan ceritamu sendiri. Oya, penggaris milikku boleh kuambil kan? Kau bisa membeli lagi yang baru, yang terpanjang dan terbesar untuk mengukur seberapa hebat wanita paruh baya itu terus memancarkan kebaikannya untukmu.

    ****

Penulis: Nufa

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website