Headlines News :
Home » » Tinta Merah Revan

Tinta Merah Revan

Written By Pewarta News on Selasa, 19 Januari 2016 | 09.13

Ilustrasi Tinta Merah. Foto: reverbnation.com.
PewartaNews.com – Revan membuka pintu mobil dan memegang setir, semilir angin berhembus kencang saat aku menatapnya. Raut wajah Revan mengerikan. Dia menginjak pedal gas dengan tergesa. Sepertinya mobil yang sedari tadi membuntuti di belakangnya kini berusaha untuk mendahului. Mungkin ini akan sulit, akan tetapi aku harus segera menyelesaikan semua perkara. Membawa Revan beradu kecepatan di arena balap liar dan berada di posisi pertama saat menginjak garis finish menjadi tujuan utama saat ini.

Tubuh mulai tidak nyaman. Seluruh bodi memanas. Jarum takometer penanda kecepatan putaran mesin sudah menunjukkan batas angka yang cukup untuk membuat gemetar. Ku lirik kendaraan di belakang, sebuah BMW sport membuntuti. Semakin dalam Revan menginjak pedal gas, semakin bergetar. Sebagai mobil yang baru dibeli beberapa bulan lalu, kondisiku sudah tak lagi baik, terlihat dari bodi yang lecet sana-sini, akibat saling bersenggolan dengan mobil lain saat aku melayani Revan tiap malam. Jalanan yang sepi menjadi santapan sehari-hari. Polisi menjadi musuh. Bukan! Sebenarnya polisi adalah musuh Revan. Polisi pernah menangkap basah Revan saat dia berada di arena balap liar ini bersamaku. Aku tak membenci polisi, tapi karena berada di pihak Revan mau tak mau harus mematuhi apa yang dikehendaki dia.

Sekarang tepat di depan, BMW sedari tadi membuntuti berhasil menyalip. Aku berusaha untuk tetap tenang agar bisa melayani Revan yang agaknya sangat berambisi untuk mengejarnya. Berharap segera bisa mengejar dan menjadi pemenang dalam perlombaan ini. Semoga bisa memberikan yang terbaik bagi Revan.

Aku letih adu kekuatan di arena balap liar. Ku ingin Revan kembali seperti sedia kala, kembali ke universitas tempat dia biasa menuntut ilmu. Bukan lagi berada di jalanan kota saat gelap. Siap mengantarnya pulang dan pergi ke kampus, tidak untuk melayaninya melakukan hal-hal buruk.

Masih ingat kala Revan mengajak seorang wanita cantik. Ia duduk di jok penumpang depan. Mereka tertawa bersama, bercanda, menimbulkan suasana yang begitu hangat dalam kabin mungilku. Aku merasa sangat senang kala aku bisa mengantar Revan dan wanita itu berekreasi ke pantai, ke gunung dan tempat-tempat mengasyikkan lainnya. Mereka telihat sangat akrab. Dan mungkin itu adalah saat terakhir dimana Revan bisa melepas tawa.

Masih ingat juga kala Revan memukul lingkar kemudiku sekuat tenaga. Aku merasa sangat kesakitan saat salah satu bagian tubuhku dipukul seperti itu. Kala menatap matanya, terlihat aneh. Bahkan tetesan air mengucur setitik demi setitik dari sana. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Revan. Hanya saja selang beberapa menit yang lalu kulihat wanita cantik yang biasa duduk di samping Revan itu berada di pinggir jalan bersama seorang pria. Aku kira Revan akan menjemputnya seperti hari-hari sebelumnya namun entah mengapa dia justru menginjak pedal gas dalam-dalam dan melesat jauh meninggalkan wanita itu yang sedang duduk bermesraan bersama seorang pria tak dikenal. Niatku yang baru saja akan membukakan pintu untuk mempersilakan wanita itu masuk, gugur. Aku segera mengunci rapat-rapat begitu tahu Revan justru tancap gas dan pergi meninggalkannya.

Sejak kejadian itu tidak pernah kulihat si gadis bercanda bersama Revan lagi. Revan lebih sering mengajakku ke arena balap daripada pergi ke pantai seperti sebelumnya. Pernah suatu hari Revan saling adu pukul dengan seorang pria. Sampai akhirnya beberapa orang berusaha memisah mereka. Dia kembali ke kabin dengan muka kemerah-merahan dan mata menatap kosong ke depan. Sementara itu kulihat wanita yang sering bersama Revan datang lagi, namun dia tak menemui Revan. Wanita itu justru menemui pria tadi dan menolongnya. Niatku yang ingin membukakan pintu mobil dan mempersilakan dia masuk lagi-lagi tak terlaksana.

Entah mengapa akhir-akhir ini Revan selalu bertengkar setiap bertemu dengan wanita itu. Revan juga sering membawa sebotol minuman ke dalam kabin. Bukan minuman berenergi untuk menambah semangat, bukan pula minuman mineral pereda haus. Namun minuman yang berbau menyengat dan membuatnya tak berkonsentrasi di jalan. Merasa ngeri bila Revan meminum minuman itu saat berkendara. Dia berubah ugal-ugalan. Alhasil goresan bodi pun semakin hari semakin bertambah banyak. Jika memiliki kekuatan lebih, ingin kubuang dan kupecahkan minuman itu jauh-jauh dari kabin. Namun apa daya, aku hanyalah sebuah mobil sedan, yang tak memiliki apa-apa untuk bisa melawan apapun yang dilakukan oleh Revan.

Garis finish masih terbentang sekitar dua kilometer lagi didepan. Cukup sudah! Kali ini harus finish di posisi terdepan dan Revan harus tersenyum lagi. Kecepatan diturunkan karena musuh, sedan BMW itu jauh tertinggal di belakang. Namun ternyata Revan justru berusaha untuk menjejak pedal gas. Aku berusaha untuk menolaknya tapi tak kuasa. Jarum speedometer menyentuh angka 140 km/jam, dan ia masih berusaha untuk mempercepat lajuku. Tak tahu apa yang diinginkannya dengan semua ini.

Tangannya mencengkram erat kemudi dan tatapan matanya makin tajam. Ada apa dengannya? Mengapa ia tak pernah lagi mengumbar senyum? Dimana wanita cantik yang sering ia ajak rekreasi dahulu, mengapa Revan tak pernah mengajaknya bersama lagi? Berbagai pertanyaan penuh penasaran mulai menjejal.

Bau menyengat khas alkohol menguap memenuhi kabin. Revan minum lagi. Tangan Revan tak mencengkram kemudi dengan erat. Setelah ini aku yang akan bekerja lebih keras di arena. Sebab mustahil mengandalkan kemudi pada Revan yang kini tak lagi bisa berkonsentrasi menyetir. Coba membanting setir ke kiri kala sebuah sepeda motor melaju cepat melintang di jalan. Beruntung bisa dihindari. Laju makin tak terarah, terlalu cepat untuk ukuran sebuah kendaraan yang berjalan di tengah kota. Tiba-tiba dari persimpangan muncul sebuah truk yang sedang bergerak cepat, aku mencoba menghindar.

Gagal! Decit bunyi rem yang bersahutan memecah kesunyian malam. Benturan keras membangunkan seisi kota. Lampu rumah penduduk di pinggir jalan mulai menyala pertanda mereka semua terbangun. Muatan truk itu tumpah ruah di jalan, sedangkan kepalanya sudah menghancurkan kabinku.

Aku mendengar seseorang berteriak menyebut nama Revan dengan raut wajah yang sangat cemas, adalah pengendara BMW itu yang berusaha untuk mengeluarkan Revan yang tergencet dalam kabin sambil terus berusaha untuk memanggil namanya, berharap agar Revan menjawab dan berkata dia masih baik-baik saja.

Makin lama Revan semakin lemas, percikan api perlahan berkobar dan menjalar ke seluruh isi kabin. Revan tak bergerak. Tangannya sudah menjulur ke bawah dan teriakan orang-orang dari luar sudah tak lagi ia tanggapi. Jika saja aku adalah sebuah benda hidup yang bisa dengan bebasnya melampiaskan perasaan, mungkin air mata ini akan mengalir deras tak terbendung dan aku ingin mengucapkan kata maaf kepadanya. Maafkan aku wahai Revan, kali ini aku tak bisa melindungi dirimu dari ajal yang siap untuk menjemput.

Karya: Nufa

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website