Headlines News :
Home » » Ular Kakek dan Cerita Seorang Korban [Part 2]

Ular Kakek dan Cerita Seorang Korban [Part 2]

Written By Pewarta News on Kamis, 14 Januari 2016 | 13.54

Ilustrasi. Foto: mbah google.
PewartaNews.com – Aku hanya ketawa mendengar keluhan Abimanyu. Ada dua sisi yang berlawanan pada pemuda ini. Badannya atletis, tapi nyalinya kecil. Takluk oleh ular, makhluk Tuhan yang seharusnya berada di bawahnya dalam hal derajat. Inilah paradoks yang diciptakan Tuhan.

Siang harinya aku dan Abimanyu sibuk membantu kakek mempersiapkan peralatan ritualnya. Banyak sekali orang datang ke rumah ini dengan berbagai keluhan penyakit. Ada yang terkilir karena bermain bola, patah tangan karena jatuh dari pohon cengkeh, sakit perut karena terlalu banyak makan rujak, tak bisa punya anak meski sudah menikah puluhan tahun, dan ada pula yang dipatuk ular di kebun.

Segala sesuatunya kami persiapkan. Ada air putih di dalam mangkuk yang juga berwarna putih, makanya nama ritual ini disebut “Air mangkuk putih”. Yang lain kami harus menyediakan kemenyan dan gaharu dalam pinggan bekas. Kemenyan dan gaharu ini kami serahkan kepada kakek setelah dibakar terlebih dahulu.Asap dari pembakaran inilah yang diusapkan oleh kakek ke wajahsetiap pasiennya. Tentu saja dalam melakukan ritual ini kakek selalu ditemani oleh ularnya yang hitam mengkilat itu. Ular yang diikat di bagian lehernya itu selalu setia dan patuh sama kakek.

Sepekan sudah kami melakukan aktivitas ini. Hari kedelapan, atau hari terakhir kami di rumah kakek, kami diajak ke ujung halaman rumahnya.Di situ ada bangku yang terbuat dari dahan dan batang pohon yang diambil dari kebun belakang.

Ular kakek juga ikut meliuk-liuk.Ia tak bisa menjauh dari kakek karena ujung tali yang mengikat leher si ular berada dalam genggaman kakek.

“Cu, juga Anyu,” kakek memanggil kami. Begitulah panggilan kakek pada kami berdua. Cu dari kata cucu.Anyu adalah panggilan pintas kakek dari Abimanyu.Begitulah orang desa selalu menyederhanakan panggilan. Percuma memberinamayang indah kepada orang desa, karena suatu hari nanti tetap saja akan digelari dengan nama ejekan. Tapi, di balik nama ejekan itu tentu saja tujuannya adalah demi humor semata. Tertawa adalah strategi orang desa masa kecilku ini untuk mengalihkan perhatian dari beratnya beban hidup.

Kakekku melanjutkan ceritanya, “Sebelum kalian pulang ke Jawa, aku akan bercerita tentang ular ini,” kakekku berkata pelan sambil menunjuk ularnya yang membelit kaki kursi yang diduduki kakek.

“Ya, Kek. Ceritakan semuanya!” pinta Abimanyu antusias.
“Baiklah,” kata kakekku sambil menyibakkan rambutnya yang gondrong. “Ular ini aku dapatkan ketika aku mendatangi kuburan nenekmu sehari setelah nenekmu meninggal sekitar delapan bulan yang lalu, Cu.” Kakekku memulai cerita dengan menunduk. Mungkin kakekku enggan diketahui kesedihan yang tergurat di raut wajahnya. Ya, selama seminggu ini, kakek adalah laki-laki tegar. Tangkas melayani para pasien yang datang, cekatan membersihkan kebun di belakang rumah.

“Lanjut, Kek,” kataku agak manja. Kuperhatikan kakek tersenyum. Baru kali ini senyum kakekku mengembang.

Ular ini aku dapati bergelung di atas kuburan nenekmu. Ia tidak lari ketika aku menaburkan bunga di dekatnya. Ular yang jinak. Ular ini lalu kupegang lehernya, dan segera saja ekornya melilit tanganku. Aku kira dia mau melawan, ternyata tidak! Ular ini langsung aku lepaskan ke tanah dan aku bergesa pulang. Baru beberapa langkah kulihat ular ini mengikutiku dengan pelan. Aku biarkan dia menjalar ke arahku. Aku tak peduli, terus saja melangkah pulang. Setelah sepuluh meter, kuperhatikan ke belakang, ular ini terus mengikutiku. Dua puluh meter. Seratus meter. Hingga aku menjejakkan kaki di halaman ini, ia terus saja mengikutiku.”

Kakek jeda sejenak sambil menyentak-nyentakkan tali yang ada di genggamannya. Ularnya kakek langsung mencedungkan kepalanya seperti kobra yang akan memangsa korbannya. Abimanyu langsung refleks mengambil posisi waspada. Memang ketakutannya terhadap ular ini mulai berkurang setelah seminggu ini berinteraksi dengan kakek. Ditambah lagi, ular ini begitu jinak layaknya kucing yang dipelihara banyak orang.

“Ada cerita apa lagi, Kek, di balik ular ini,” tanya Abimanyu, masih tetap antusias. Aku merasa heran, seminggu ini Abimanyu begitu semangat setiap harinya di rumah ini. Apakah karena di Jogja ia tak menemui keunikan seperti di rumah kakekku ini? Entahlah!

“Setiap pasien yang datang ke sini hampir tidak pernah diserang oleh ularku, kecuali satu pasien, tepatnya tiga bulan yang lalu,” lanjut kakekku.
“Kok, bisa,Kek,” Abimanyu nyeletuk.
“Ya, bisa,” ucap kakekku sambil tertawa.
“Siapa pasien itu, Kek?” Abimanyu lagi-lagi bertanya. Aku hanya diam memerhatikan tingkah setengah aneh Abimanyu.
“Ia seorang keruptur.”
“Keruptur, apa itu, Kek?” kataku menimpal.
“Ooh..., itu,” kakek tergeragap dan melanjutkan, “itu yang sering mengambil duit rakyat.”
“Ooh, koruptor,” ujar Abimanyu. Dia tertawa, aku juga.

“Keruptur itu bercerita banyak padaku. Ia datang ke sini minta supaya ia tidak dipenjara. Ia bercerita sebentar lagi ia akan ditahan. Maka, sebelum pengadilan memutuskan. Ia datang ke sini minta perlindungan.”

Cerita kakek berhenti di sini, kakek segera merogoh kantong dasternya di bagian paha kanan. Kami penasaran apa lagi yang dikeluarkan kakek dari sana. Apakah minuman saset lagi, atau yang lain? Mata kami tak berkedip memerhatikan tangan kecil kakek. Urat-uratbiru-kehitaman bertonjolan di sana.

Ternyata kakekmengeluarkan dua bungkus kecil biskuit dari sana. Lalu menyerahkan satu kepadaku, dan satunya lagi kepada Abimanyu. Bungkus biskuit ini terlihat agak asing. Sepertinya beredar di masa lalu, terlihat dari asingnya merek dan desain pembungkus yang terlihat jadul.
“Kue ini kubeli setahun yang lalu,” penjelasan kakekku.
Aku kaget, begitu juga Abimanyu.

Lau kuperhatikan tanda expired. Masih ada sekitar satu setengah bulan lagi baru umur dari kue ini berakhir sebelum dibuang ke tempat sampah.

Ular kakek kulihat mulai memanjat tiang kursi. Lalu menjalar ke samping kakek duduk. Yang dicari ular itu ternyata adalah kehangatan. Ia bergelung di antara dua paha kakek, di atas daster motif bunga rebung yang dipakai kakek.

Aku dan Abimanyu masih diliputi tanya terkait dua bungkus roti yang dihadiahkan kakek. Kakek tahu akan kebingungan kami ini. Ia sudah biasa melihat tingkah orang-orang desa ini ketika bertandang ke rumah kakek. Banyak di antara mereka yang bertanya terkait roti-roti yang disuguhkan kakek. Roti menjelang kadaluarsa, dengan pembungkus unik.

“Kita selalu meremehkan yang lama,” kakek memandang ke arah kami berdua, dan melanjutkan, “tidak selamanya yang kuno itu tidak bermanfaat. Buktinya roti ini. Banyak sekali warga kampung ini mengatakan kepada kakek bahwa rasa setiap roti yang kakek simpan sungguh enak.”

Aku jadi penasaran dengan rasa roti ini. Hampir kusobek bungkusnya, sebelum tangan kakek menahannya.

“Nanti saja setelah di Jawa baru dibuka! Jika dibuka di sana, bapak-ibumu juga bisa merasakannya kan?” tukas kakek.

Aku baru ingat kedua orangtuaku pasti menantikan oleh-oleh dari kakek.
“Bapak sama ibumu masih di pinggir pantai kan?” Demikian pertanyaan kakek.
“Ya, Kek,” jawabku. “Mereka tinggal di pantai Parangtritis, mengelola penginapan di sana. Kalo aku belajarnya di kota Jogja, Kek. Ngontrak rumah,” penjelasanku.
Kakek hanya manggut-manggut. Sepertinya ia mengerti dengan penjelasanku.

***

Setelah tiga hari di Jogja, aku bertemu Abimanyu di kafe depan kampusku. Sepertinya kefe ini menjadi tempat pertemuan mengasyikkan bagi kami.

Kami baru masuk lorong depan kafe ketika seseorang memanggil nama Abimanyu dari arah depan kami. Kami pun mendekat ke seseorang dengan rambut klimis dan bertubuh jangkung itu.

“Abi, gimana hasil penelitianmu di Sulawesi?” ia bertanya dengan senyuman.
Abimanyu menoleh ke arahku. Ia agak gugup dan menjawab dengan singkat, “Baik! Aku duluan, ya,” ujar Abimanyu, dan refleks menarik tanganku supaya menjauh dari situ.
Setelah sampai di meja tepat di pojokan kafe, aku menatap Abimanyu dengan muka masam.
“Ternyata kau ke desaku untuk meneliti para dukun. Bukan karena syarat percintaan yang kuberikan,” kataku terbata menahan amarah.
Abimanyu membisu.

“Aku tidak menyangka, kau memanfaatkan kekagumanku padamu. Kau katakan bahwa kau mencintaiku, dan rela berbuat apa pun demiku. Bahkan bertandang ke tempat kakekku nun jauh di Sulawesi sana. Aku tidak menyangka, Bim, ternyata kau pura-pura selama dua minggu ini,” suaraku keras, mengagetkan para pengunjung kafe lainnya.

Sampai di sini, aku bangkit, kuraih tas berwarna kuningku, dan pergi begitu saja, keluar dari kafe. Panggilan Abimanyu kuabaikan.

Adakah pengorbanan yang sejati? Aku belum menemukannya! Mungkin nanti! ***


(27-29 Januari 2015).

Untuk membaca PART 1 KLIK DISINI


Penulis: Darwin
Penulis Buku “Filsafat dan cinta yang Menggebuh”. Tinggal di Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website