Headlines News :
Home » » Ular Kakek dan Cerita Seorang Korban [Part 1]

Ular Kakek dan Cerita Seorang Korban [Part 1]

Written By Pewarta News on Kamis, 14 Januari 2016 | 13.07

Seorang kakek bermain ular. Foto: blog mayaums.
PewartaNews.com  – Apakah cinta membutuhkan pengorbanan? Apakah bisa dikatakan cinta, jika tak ada pengorbanan? Apakah cinta dan pengorbanan ibarat kuntum melati dan wanginya, tak bisa dipisah? Berapa besarnya pengorbanan,untuk bisa dikatakan cinta? Apakah pengorbanan selalu berkelindan dengan cinta? Sesungguhnya, pertanyaan lebih penting, karena tak kutemukan jawaban, setidaknya dalam kisah hidupku berikut ini.

***

Geletar hujan, gelegar petir, bunyi dering telepon. Tiga bebunyian yang menyelusup ke telingaku di senja oranye. Aku masih setengah sadar. Tergolek lemas. Tubuhku enggan bergerak, meskipun hanya ujung jemari sekalipun.

Aku berusaha membuka mata. Sabur kulihat tas berwarna kuning di ujung pandanganku. Kuraih tasku. Ritsletingnya kutarik. Tanganku langsung meraba benda yang suaranya bising dari tadi. Benda itu tak kutemukan jua. Malah novel karangan Milan Kundera yang didapat. Kukeluarkan novel tebal itu. Suara dering masih menghajar telingaku. Aku lupa mengecilkan volumenya subuh tadi saat memasang alarm.

Tangan kiriku terus mengaduk isi tas. Benda-benda didalamnya terpaksa aku bongkar habis. Ada tisu, lipstik, parfum, bedak, pembalut. Benda-benda itu menggeletak di depan mukaku. Setelah isi tas terkuras, barulah benda menjengkelkan itu kugenggam. Deringnya masih memekakkan telinga.

Baru saja jempol kiriku mau memencet tombol hijau di keypad saat suara dering itu berhenti. Sialan, umpatku. Aku berharap panggilan ini bukan untuk mempermainkanku. Kuperhatikan layar handphoneku. Tertera nama Abimanyu di sana.

Beberapa detik kemudian, handphoneku kembali berdering. Langsung kudekatkan ke telinga. Masih dalam kondisi berbaring.
“Halo,” suaraku pelan tidak begitu jelas, maklum baru bangun tidur.
“Dilla, kamu baru ngapain?” suara Abimanyu seperti dibuat sok perhatian.
“Ya..., Bim, aku baru bangun tidur, capek.Tadi baru ikut seminar, sampe sore,” jawabku.
“Ooh, gitu.” Suara Abimanyu lantang di seberang. Terdengar seperti pekik merdeka di zaman perang. Begitu semangat.
“Dil, bisa gak kita ketemuan ntar malam di depan kampusmu, maksudku.... di depan kampusmu ada kafe kan?!” sebuah ajakan yang meragukan. Mengajak ketemuan tapi detail tempat tak pasti. Dasar cowok aneh, pikirku.

Tentu saja aku kaget dengan ajakan itu. Aku baru mengenal pemuda ini sepekan terakhir. Sebelumnya hanya bertemu di forum diskusi filsafat yang diadakan sebuah komunitas. Tapi kami sering telponan.
Dari forum diskusi ke kafe. Sebuah loncatan yang tak terbayangkan sebelumnya.
“Dil! Dilla!” Abimanyu memanggil.
“Ya, bisa.” Aku masih ragu-ragu. “Jam berapa?” tanyaku singkat.
“Jam delapan aja, kutunggu, ya,” Abimanyu langsung mematikan handphonenya.

“Sialan,” umpatku. “Dasar cowok pelit,” hatiku berkata sendiri. Kuperhatikan sekeliling, kulongok tubuhku. Aku baru sadar tubuhku hanya dibalut celana pendek ketat, dan atasan transparan. Untung saja aku cuma sendiri di rumah ini. Aku baru ingat pintu depan. Aku menoleh kesana. Ternyata setengah terbuka, seperti dadaku. Aku teledor. Di kota ini hampir setiap hari terjadi kejahatan. Pencurian, perampokan, dan tindak kriminal lainnya. Bahkan, baru saja kemarin pagi kubaca di koran, seorang mahasiswi diperkosa di kontrakannya. Setelah diperkosa cewek itu diikat dalam kondisi tanpa busana. Harta bendanya berupa duit, handphone, dan laptop raib.

***

“Aku menyanggupi persyaratanmu,” ujar Abimanyu sambil mengembuskan asap rokoknya ke samping.
“Oke,” kataku sekenanya.
“Bulan depan waktu liburan kampus kita berangkat.”
Aku menatap wajah Abimanyu tak percaya. Kusapu pandang ke sekeliling. Orang-orang di kafe ini sibuk dengat laptop dan gadget masing-masing. Meraka diam. Tangan mereka yang bicara, bukan mulut. Mereka kelu, namun tangan sibuk dengan gadget. Kiamat mungkin sudah dekat.

***

Akhirnya sampai juga di rumah ini, setelah tiga jam perjalanan darat dari ibukota provinsi. Dan sebelumnya terbang dua jam dari pulau Jawa. Kuperhatikan rumah panggung yang terbuat dari kayu berwarna hijau. Catnya terkelupas di sana-sini dimakan ketuaan.

“Kek! Buka pintu, Kek!” kataku setelah pintu kuketok tanpa salam. Begitulah budaya di desa kakekku yang terletak di ujung Sulawesi ini. Salam yang jamak dilakukan orang itu tidak berlaku di desa kakekku.

Daun pintu terkuak. Muncul sosok berdaster hitam di sana. Kepalanya juga dililit kain warna hitam.
“Masuk,” kata kakekku setengah cuek.
Abimanyu masuk duluan. Aku di belakangnya.

“Aaaaakh,”Abimanyu tiba-tiba terlonjak kaget. Ia berbalik dan mendorongku. Aku hampir terjatuh. Tentu saja aku juga kaget. Kulihat Abimanyu terjun dari rumah panggung kakekku sambil menjerit. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi. Kuperhatikan kakekku berjalan ke arah kursi ruang tamu dengan langkah pelan tanpa menoleh. Seolah tak terjadi apa-apa.

Kuperhatikan tangan kanan kakek, ia menggenggam seutas tali dari pohon terap. Di ujung tali itu, di atas lantai, terlihat seekor ular hitam sebesar pahaku. Ular itu diseret oleh kakekku menuju kursi tamu. Ternyata itulah yang menjadi penyebab kenapa Abimanyu loncat ke halaman rumah kakekku barusan.
Aku memanggil kembali Abimanyu yang berlutut di depan rumah.
“Bim, gakpa pa kok, ayo naik!” panggilku sambil memekarkan senyum pertanda geli. Kulihat Abimanyu masih gemetaran di halaman.
“Ya,” jawab pemuda berkulit putih melati itu sambil tersengal. Terlihat ada sedikit malu di wajahnya.

Abimanyu pun naik. Aku melangkah kearah kursi tamu diikuti oleh Abimanyu di belakangku.

Abimanyu duduk tepat di hadapan kakek. Aku di sampingnya. Kakekku terlihat tanpa senyum. Misterius.

Sudah setahun ini aku tidak bertemu kakekku. Aku tinggal di Jogja sejak kecil. Sebenarnya dari desa pelosok Sulawesi inilah aku berasal. Tapi kedua orangtuaku hijrah ke Jogja karena tidak ada pekerjaan di desa ini. Berbeda dengan kakekku yang selalu mendapatkan uang dari ‘profesinya’ yang nyentrik itu. Ya, kakekku adalah dukun terkenal di desa ini, bahkan ketenarannya sampai ke ibukota kabupaten.

Kakekku tidak begitu antusias menyambutku kali ini. Ini dikarenakan kedatanganku sudah diketahui terlebih dahulu lewat ilmu “Tilik”. Aku tidak pernah memberitahunya sebelumnya karena kakekku tidak punya handphone. Makanya aku tidak bisa berkomunikasi dengannya selama di Jogja. Komunikasi hanya bisa dilakukan di sini, di rumah ini. Komunikasi lewat media bagi kakekku hanyalah semu. Kedua orangtuaku pun jika mau berkomunikasi dengan kakek terpaksa pulang ke sini, meskipun itu hanya terjadi setahun sekali.

“Mana ular tadi, Kek?” tanyaku.
“Kusuruh ke belakang,” jawab kakekku serak. Raut mukanya tetap cuek. Karakter kakekku.
“Baguslah,” ucapku sambil melirik kearah Abimanyu. Tentu saja dengan senyum setengah mengejek.
Abimanyu menginjak kakiku di bawah meja. Isyarat bahwa ia tidak mau dipermalukan di rumah ini.
“Dilla, coba kamu ambil air putih di dapur di dalam teko hijau,” pinta kakekku.
“Ya, Kek,” sahutku dan langsung melangkah ke dapur.
Jauh-jauh dari Jogja masak cuma disuguhi air putih, pikirku.
Kutaruh teko itu disertai tiga buah gelas plastikdi atas meja tepat di hadapan Abimanyu dan kakek. Aku pun kembali duduk di kursi yang tadi kududuki.

Segera saja kakek merogoh saku samping kanan dasternya. Ya, Daster. Pakaian yang jamak dikenakan kaum wanita itu membalut tubuh kakekku. Itulah kebiasaan uniknya. Daster kakek dari dulu selalu berwarna hitam. Entah dari mana ia mendapatkannya.

Tangan kakek merogoh sesuatu di dalam kantong dekat pahanya. Ooh, ternyata ia mengeluarkan dua saset minuman berenergi. Dua saset itu ia sobek dengan giginya, lalu menuangkannya ke dalam gelas plastik. Satu gelas lagi dibiarkannya tidak berisi. Mungkin ia sedang puasa atau sengaja tidak mau minum.

***

Hari pertama di rumah kakekku berjalan lancar, Abimanyu diterima oleh kakekku dengan baik. Namun, Abimanyu sendiri kelihatan tidak terlalu menikmati. Apalagi ular kakekku yang berwarna hitam itu meliuk-liuk di tengah rumah sepanjang siang. Ketika kami tidur tadi malamlah, baru ular itu dimasukkan oleh kakekku ke kandangnya di dapur tak jauh dari tungku tempat memasak.

“Tidurku tidak nenap tadi malam. Ular kakekumu terbayang terus. Takut kalau-kalau ular itu merayap dan masuk ke dalam selimutku,” celoteh Abimanyu ketika kami sarapan berdua. Kakekku pergi ke kebun belakang rumah setelah subuh tadi. Ia akan kembali siang nanti.


[Bersambung ke Part 2]


(27-29 Januari 2015)

Penulis: Darwin

Penulis Buku “Filsafat dan cinta yang Menggebuh”. Tinggal di Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website