Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Hadirkan Senator Senayan

    M. Jamil, S.H. saat menyampaikan sambutan.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2017 hadirkan senator senayan dalam agenda Dialog Publik yang diselenggarakan pada Hari Sabtu, 27 Februari 2016 jam 13.00-selesai di aula kantor Dewan Pimpinan Daerah Republik Indonesia Republik Indonesia (DPD RI) perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Tema yang diangkat dalam Dialog Publik tersebut yakni “Peran DPD RI dalam Medorong Pembangunan Daerah dan Mewujudkan Smartcity Bima untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”, dengan menghadirkan pemateri yang berkompeten didalamnya yakni, pemateri pertama disampaikan oleh senator senayan Prof. Dr. Forouk Muhammad, S.H. (Wakil Ketua DPD RI Periode 2014-2019). Pemateri kedua yakni saudara Muhammad Aditia AN. Salam, ST., MBA (Prisiden Derektur PT. Gama Techno Indonesia). Kedua pemateri tersebut didampingi seorang moderator Firman, S.E., MPH. (Kandidat Doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada).

    M. Jamil, S.H. mengatakan sudah begitu lama para mahasiswa Mbojo tidak bernostalgia dengan kehadiran tokoh nasional Prof. Dr. Farouk Muhammad, S.H. di Yogyakarta, dengan adanya acara yang diselenggarakan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta melalui dukungan sesepuh Mbojo Yogyakarta ini, perlu dimanfaatkan dengan baik. “saya ucapkan selamat datang kepada ayahanda Prof. Farouk Muhammad, S.H. di kota gudek Yogyakarta, semoga dengan kehadiraanya saat ini menjadi wadah untuk berdiskusi panjang lebar terkait persoalan Mbojo saat ini,” ucap M. Jamil, S.H. pada 27 Februari 2016 di disela-sela acara berlangsung.

    Lebih lanjut ketua umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. mengatakan bahwasannya masyarakat Indonesia dewasa ini sudah sangat melek terhadap informasi, dengan perkembangan yang sedemikian cepat tersebut, pemerintah Mbojo, baik di Bima maupun Dompu perlu sigap menerimanya. “Oleh karenanya, hadirnya smartcity sangat perlu disambut baik oleh pemerintah Mbojo,” cetusnya.

    Menarik jadi sorotan dalam pertemuan siang menjelang sore sabtu lalu, salah satu diantaranya adalah adanya pertanyaan salahsatu peserta diskusi terkait keterlibatan Prof. Dr. Farouk Muhammad, S.H. untuk memperjuangkan proses terbentuknya Provinsi Pulau Sumbawa (PPS). Sang senator dari Nusa Tenggara Barat tersebut menceritakan bahwasannya ia sangat mendukung terbentuknya PPS, ia juga pasang badan memperjuangkan PPS. “PPS terus diperjuangkan, dan masih dalam progress,” ucapnya.

    Lebih lanjut Farouk Muhammad mengatakan, hadirnya lembaga perwakilan daerah penting untuk menengahi/mengimbangi kebijakan anggaran dan  pembangunan yang memihak pada daerah-daerah padat penduduk karena lebih banyak diwakili anggota DPR sebagai satu-satunya pemegang kekuasaan penentu anggaran. Kedua, ukuran kinerja dan prestasi lembaga perwakilan daerah tidak bisa dilihat (hanya) dari pemberitaan media, tapi pada peran dan kiprahnya dalam menjaga keseimbangan antarwilayah agar tidak terjadi ketimpangan pembangunan dan kemajuan.

    Selain itu, lanjutnya Farouk, penataan sistem ketatanegaraan melalui perubahan kelima UUD 1945 adalah keniscayaan agar lembaga perwakilan daerah memiliki kewenangan yang lebih jelas dan kuat berdampingan dengan lembaga perwakilan rakyat agar sistem checks and balances antarkamar parlemen berjalan efektif bagi kepentingan nasional. Terlebih lagi terdapat Keputusan MPR RI Masa Jabatan 2009-2014 yang merekomendasikan, antara lain, penguatan MPR termasuk DPD. Nah sekarang akan diuji apakah partai politik yang wakil-wakilnya di MPR telah menyetujui rekomendasi tersebut akan meng”khianat”i keputusan tersebut atau secara “gentleman” tetap mendukung penguatan DPD.

    Muhammad Aditia AN. Salam mengatakan bahwasannya smartcity merupakan istilah yang artinya “kota cerdas” yang mulai dibicarakan oleh masyarakat terutama di negara-negara besar. Smartcity tidak harus dibangun oleh pemerintah melainkan bisa juga dilakukan masyarakat biasa. Karena masyarakat cerdas merupakan tanggunjawab dari semua elemen yang ada. Pertumbuhan manusia yang begitu cepat mau tidak mau harus dipikirikan konsep dalam pengelolaan kota ditengah kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat progresnya. Sehingga wacana kota cerdas atau smartcity itu menjadi topik yang sangat hangat. Pemanfaatan teknologi informasi adalah merupakan salah opsi yang harus digunakan dalam menghubungkan keberlangsung masyarakat dengan segala aktifitasnya. Sehingga teknologi bisa bernilia positif dan bukan justru berdampak negatif dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan internet sebagai penyidia jasa informasi dengan pemanfaatan teknologi semakin gencar dibicarakan. Komponen utama penggunaan dalam membangun smartcity yakni pertama, smaart governance (pemerintahan cerdas), smart economy (ekonomi cerdas), smart mobility, smart living, smart environment, smart people. Penerapan konsep smarcity bisa saja dilakukan di Bima mengingat potensi masyarakat Bima yang hampir semua sekolah dan cepat beradaptasi dengan teknologi dan informasi. Tidak hanya bandung, surabaya, jakarta, besar harapannya untuk berkontribusi dan mendukung Bima sebagai bagian dari daerah yang akan merancang dan menerapkan smartcity. “Semoga direspon dengan baik oleh pemerintah daerah sebagai pengambil kebijakan,” bebernya.

    Peserta sangat antusias dalam dialog tersebut, terbukti dengan adanya interaksi yang intens antara para peserta dan pemateri. Acara dihadiri oleh 160 peserta yang terdiri dari S1, S2 dan S3 yang berasal dari mayoritas mahasiswa Mbojo yang berada di Yogyakarta, selain mahasiswa Mbojo dihadiri juga oleh mahasiswa Lombok, dan luar NTB.

    Turut hadir dalam acara tersebut, Drs. H. A. Hafidh Asrom, M.M. anggota DPD RI perwakilan DIY, Ketua KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman. Selain itu, hadir sesepuh Mbojo Yogyakarta yang merupakan orang-orang Hebat dari berbagai Profesi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Diantaranya, Bukhari, S.T., dr. Sitti Noor Zaenab, M.Kes., dr. Sitti Aisyah Sahidu, SU., M.Kes., Dra. Siti Alfajar, M.Si., Prof. A Salam, dr. Muchdar, Dr. Mujib, dan lain sebagainya. [MJ / PewartaNews]

    PUSMAJA Gelar Diskusi Dinamika Keilmuan Mahasiswa Mbojo di Yogyakarta

    Suasana saat Penyampaian Materi.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Suasana cuaca malam yang cerah dilangit kota Yogyakarta. Bersamaan itu, pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2017 menyelenggarakan Kajian Rutin pada Hari Sabtu, 20 Februari 2016 jam 20.00-selesai di Aula Asrama Mahasiswa “Putra Abdul Kahir” Bima Yogyakarta.

    Tema yang diangkat dalam pertemuan ilmiah ini yakni “Meneropong Dinamika Keilmuan  Mahasiswa Dana Mbojo di Yogyakarta”, dengan menghadirkan pemateri yang berkompeten didalamnya yakni, pemateri pertama disampaikan oleh Syahrul Ramadhan, S.Pd., M.Pd. (Eks Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta / Kandidat Doktor pada Universitas Negeri Yogyakarta). Pemateri kedua yakni saudara Iskandar, S.Sos. (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta).

    Ketua Umum  Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta saudara M. Jamil, S.H. mengatakan, “Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, apakah saat ini budaya-budaya keilmuan yang melekat di kota Yogyakarta masih tetap ada atau sebaliknya? Oleh karenanya, inilah yang perlu kita diskusikan agar lebih terang suatu masalahnya, kalau ada persoalan maka kita bisa tahu cara untuk mengatasinya,” ucap M. Jamil, S.H. dalam sambutannya.

    Dalam Konteks sejarah, Syahrul Ramadhan mengatakan bahwa mahasiswa dana Mbojo yang melanjutkan studinya di DIY tempo dulu, Pemuda/i yang dating benar-benar selektif, yakni hanyalah orang yang benar-benar ingin serius menuntut ilmu. Lain dengan kondisi saat ini, hampir semua kalangan sudah menginjak bangku kuliah. ditambah dilema kampus: pergeseran kebijakan oleh pihak kampus 70% kuliah. “Mahasiswa yang datang kuliah dulu sudah beda kondisinya dengan mahasiswa sekarang,” beber Syahrul.

    Sementara Iskandar mengatakan ada 2 tipe mahasiswa dewasa ini, diantaranya tipe tradisional dan tipe organik. “Pada tipe tadisional, mahasiswa kecenderungan hanya memenuhi kebutuhan materi: uang, harta: rumah dan lain-lain. Pada tipe organik, mahasiswa memandang bahwa dunia akademis bukan hanya tampak pada dunia materi tapi sebenarnya sarana pergulakan budaya, ekonomi, pendidikan dan politik” ucap Iskandar.

    Antusias para peserta sangat diskusi sangat tinggi, terbukti 50 orang peserta memadati ruang aula asrama,pesertanya yang terdiri dari berbagaimacam lembaga dibawah naungan KEPMA dan IKPM Dompu. Interaksi dua arah pun terjadi antara peserta dan pemateri.

    Usai panjang-lebar melewati rangkaian diskusi ternyata telah ditemukan benang merah untuk meminimalisir persoalan-persoalan yang muncul. Itu diakui juga oleh Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta. “Semua dari runutan persoalan yang ada, salahsatu untuk meminimalisirnya adalah memfasilitasi wadah-wadah pertemuan ilmiah, agar tidak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia, ini yang akan coba jadi komitmen PUSMAJA pada periode ini, yakni akan selalu membuat wadah-wadah pertemuan ilmiah semacam ini, mudah-mudahan niatan seperti ini selalu terus kita ingat, agar mahasiswa-mahasiswa Mbojo (Bima dan Dompu) lebih baik lagi,” ucap M. Jamil, S.H. usai diskusi berlangsung.

    Pada kesempatan itu, hadir juga diantaranya Sekretaris PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta saudara Andri Ardiansyah, Bendahara PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta saudari Erni Yustissiani, bang Haerudin, bang Rimawan, Ketua KEPMA saudara Arif Rahman, Ismail Aljihadi, dan para peserta yang lainnya. [MJ / PewartaNews]

    Suasana saat diskusi berlangsung.

    Urus Dunia Tak Ada Habisnya

    Graha Pencerah Jiwa.
    PewartaNews.com – Saudaraku, mengurus dunia itu tidak ada habisnya. Padahal ada perkara yang lebih penting yaitu urusan akherat.

    Dunia memang harus diurus.
    Karena manusia adalah pemimpin di bumi, kholifah fil ardy.
    Tapi urusan akherat harus lebih diutamakan.
    Karena akherat adalah tujuan akhir perjalanan hidup manusia.
    Banyak orang terlena urusan dunia, melupakan urusan akherat.

    Orang terdahulu telah habiskan usianya untuk mengurus dunia.
    Tapi urusan dunia belum juga selesai, malah bertambah rumit.
    Kakek nenek kita telah habiskan usianya untuk mengurus dunia.
    Tapi urusan dunia belum juga rampung, malah bertambah runyam.
    Orang tua kita telah habiskan usianya untuk mengurus dunia.
    Tapi urusan dunia tidak berkurang, malah bertambah banyak.
    Mestinya kita tidak boleh larut atau terlena pada urusan dunia.

    Dalam kesibukan urusan dunia, yang tidak akan pernah selesai.
    Uruslah ibadah kita, agar lebih khusuk dan nikmat.
    Dalam kesibukan urusan dunia, yang tidak akan pernah rampung.
    Uruslah amal kita, agar bertambah banyak dan ikhlas.
    Dalam kesibukan urusan dunia, yang tidak akan pernah berkurang.
    Uruslah iman kita, agar lebih bertambah kuat dan yakin.
    Dalam kesibukan urusan dunia, yang tidak ada habisnya.
    Uruslah hati kita, agar lebih bersih dan tambah mencintai Alloh.
    Dalam kesibukan urusan dunia, yang sangat melelahkan.
    Uruslah akhlak kita, agar lebih mulia.

    Renungan:
    Hidup itu bagai meniti perjalanan panjang. Kehidupan, perlahan akan kita tinggalkan. Kematian, akan datang semakin mendekat.
    Dunia hanya tempat singgah sementara. Cepat atau lambat pasti ditinggalkan. Rumah kita yang sesungguhnya ada di akherat nanti.
    (Graha Pencerah Jiwa, Minggu, 07/02/2016, Abah, Sebarkan)


    Doddy Forever 91 via WhatsApp

    Tagari Partisipasi Menyambut Hari Peduli Sampah Nasional

    Suasana saat Tagari ikut ramaikan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, 20 Februari 2016 di sekitar Malioboro Yogyakarta.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Komunitas Segenggam Mentari (Tagari) beberapa hari lalu, pada tanggal 21 Februari 2016 yang bertepatan dengan Hari Sampah Nasional, ikut meramaikan event yang diadakan komunitas Green Pack. Tagari Jogja telah berpartisipasi dalam acara Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, yang diikuti oleh banyak peserta hampir 300 peserta dari seluruh universitas dan komunitas sosial baik dari Jogja maupun dari luar kota Jogja.

    Hari sampah Nasional memiliki visi yang besar dalam membangun kepedulian dan kebersamaan dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari diperingati berlatar belakang sejarah pada 21 Februari 2005. Dimana gunungan sampah dari TPA Leuwi Gajah longsor menimbun dua perkampungan warga hingga menewaskan ratusan jiwa. Semenjak bencana tersebut, 21 Februari dicetuskan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, sebagai pengingat kondisi persampahan di Indonesia.

    Pagi dengan suasana yang cerah pada 21 Februari 2016, Tagari Jogja bersama ratusan pemuda dari berbagai universitas dan komunitas bergerak bersama memungut sampah sepanjang jalan Malioboro. Titik kumpul awal di lapangan parkir Abu Bakar Ali pukul 06.00 pagi dan mulai bergerak sekitar pukul 07.15. Tagari Jogja sendiri mendapat bagian membersihkan sampah-sampah yang ada di sepanjang area jalan Malioboro menuju arah jalan Pabringan, dan jalan Mataram. Setiap tim mendapat beberapa tas kresek sebagai tempat pengumpulan sampah yang dibedakan dari sampah organik, sampah plastik, dan sebagainya.

    Tagari merupakan komunitas yang beruntung, dimana bisa ikut berpartisipasi dalam event tersebut dengan berbagi semangat sosial yang tinggi terhadap sesama. Harapan Tagari, dengan berpartisipasi dalam event peduli sampah tersebut, kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah lebih baik. Karena biar bagaimanapun juga kita harus tetap menyediakan lingkungan yang bersih dan aman untuk generasi mendatang.


    Penulis: Henny Prasetyowati
    Mahasiswa Magister Studi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada / salahsatu anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari).

    Percikan Kisah bersama Tagari di Hari Peduli Sampah Nasional

    Anggota Tagari usai acara peringati Hari Peduli Sampah Nasional, 21 Februari 2016.
    PewartaNews.com – Pagi yang cerah menyelimuti langit Yogyakarta, tepatnya hari minggu 21 Februari 2016 saat sang mentari baru saja menerangi kota yang biasa dikenal luas dengan kota Gudeg. Seperti biasa, malam minggunya akan selalu di selimuti malam romantis di tiap sudutnya. Wajar saja karena kota ini adalah salah satu tujuan pariwisata favorit bagi pelancong lokal dan internasional di Indonesia. Lalu lalang para pelancong tersebut tentu saja akan meningkatkan sumber pendapatan asli kota istimewa ini. Dan juga pendapatan penduduk lokal yang membuka berbagai macam usaha, seperti usaha kuliner, testil (khususnya batik), dan penginapan. Disisi lain, hal ini juga meningkatkan angka konsumsi yang tentunya akan sejalan dengan sampah yang dihasilkannya.

    Melihat kondisi yang demikian, maka beberapa komunitas yang memiliki perhatian terhadap lingkungan hidup yang pada hari itu difokuskan untuk melakukan gerakan bebas sampah sebagai bagian untuk memperingati hari Peduli Sampah Nasional. Gerakan ini di lakukan secara serentak di 30 kota besar di Indonesia oleh komunitas Green Pack dengan mengundang secara terbuka baik komunitas yang memang memiliki perhatian khusus terhadap “sampah”, juga komunitas lainnya yang mau berpartisipasi. Untuk kota Yogyakarta di angkat tema “Bergerak Dari Jogja Untuk Indonesia” bebas sampah di tahun 2020. Undangan terbuka tersebut ternyata mendapatkan respon positif dari berbagai komunitas, termasuk diantaranya adalah komunitas Segenggam Mentari. Komunitas yang usianya seperti sinar mentari pagi hari itu. Di bentuk baru dua minggu sebelumnya tapi ingin langsung memberikan kontribusi yang bermanfaat. Salah satunya melalui kegiatan peduli sampah ini.

    Ada delapan orang yang mewakili komunitas Segenggam Mentari pagi itu. Empat orang pria dan empat orang wanita. Saling menunggu di parkiran Mall Malioboro kemudian bersama-sama menuju Meeting Point. Tiba disana telah berkumpul berbagai komunitas yang masih berbincang-bincang ringan sembari menunggu panitia mengambil alih perhatian seluruh peserta kegiatan. Sepuluh menit berlalu, jam telah menunjukkan pukul 06.45 WIB saat panitia memulai pengarahannya. Seluruh peserta kemudian diminta berdiri sesuai dengan barisan yang telah tertuliskan nama koordinator yang telah diberitahukan melalui email sehari sebelumnya. Dilanjutkan dengan pembagian plastik yang warnanya akan menunjukkan jenis sampahnya. Warna putih untuk sampah plastik, hitam untuk sampah organik, dan ungu untuk jenis sampah lainnya.

    Disana ada 18 kelompok yang terdiri dari antara 16 atau 17 peserta tiap kelompoknya. Masing-masing kelompok telah diberikan area yang harus dibersihkan, sebagai contoh kelompok dua bertanggung jawab untuk membersihkan sampah-sampah sepanjang jalan kawasan wisata Sosrowijian (Malioboro). Hanya butuh waktu 20 menit, peserta mulai terlihat menyekah keringat diwajah mereka. Namun hal itu terasa menyenangkan, terlihat dari senyum dan tawa mereka sepanjang jalan, mengumpulkan sampah. Beberapa peserta juga terlihat saling bersosialisasi, memperkanlkan diri dan komunitas mereka. Ada juga yang tampak antusias terus bertanya memperlihatkan ketertarikan bergabung dengan komunitas lawan bicaranya. Sesekali juga terlihat beberapa peserta  yang berbincang dengan penduduk yang bersemangat bertanya kenapa mereka melakukan kegiatan tersebut. Mendapatkan jawaban kemudian tersenyum ramah mengucapkan terima kasih.

    Setelah hampir dua jam, semua kelompok kemudian kembali ke lokasi meeting poin. Mengumpulkan sampah diatas kendaraan sampah yang telah disediakan oleh panitia. Disusun sesuai dengan warna plastik. Untuk menutup acara itu, evaluasi dan sharing dilakukan antara seluruh peserta dengan panitia. Beberapa komunitas juga menyempatkan foto bersama. Kemudian beranjak pulang dengan harapan Indonesia bebas sampah pada tahun 2020.


    Penulis: Akbar 
    Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada / salahsatu anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari).

    Tell Me What Love Is

    Nufa.
    PewartaNews.com – Aku terkesiap kaget saat Geri membuyarkan lamunan ini. Segera kuusap wajah yang sudah dibasahi derai air mata. Tiba-tiba teringat bila sore ini harus menuju ke rumah Ana. si adik ipar, untuk mengembalikan flashdisk yang kemarin siang dipinjam. Tanpa meminta persetujuan, segera kutarik tangan Geri untuk menemani pergi ke rumah Ana yang kebetulan tak jauh dari sini.

    “Apaan sih Dav? Udah sore nih! Hampir adzan loh!” Geri terlihat enggan menemani

    “Udah ikut aja! Bentar kok!” jawabku

    Geri adalah sahabat karib yang sering bersamaku di sekolah maupun lapangan basket. Selain  bertetangga, kami juga sekelas. Geri adalah orang pertama yang membantu membopong tubuh Levi saat kecelakaan itu terjadi. Bahkan ia berniat menghajar sopir truk yang menabrak Levi saat itu juga namun si sopir keburu diamankan polisi.

    “Iya bentar!” teriak Ana dari dalam rumah saat aku memanggilnya

    Ana keluar masih mengenakan kaos olahraga kotor. Aroma semangatnya masih tercium. Wajah manisnya juga masih segar terpampang meski raut capai terlihat belum juga menghilang. Segera ku ulurkan flashdisk yang sedari tadi berada di genggaman lantas langsung berpamitan. Saat berpamitan, tak lupa memperkenalkan Geri kepada Ana.

    Selama perjalanan pulang, perasaan ini mengatakan ada hal aneh dalam diri Geri. Semenjak bertamu ke rumah Ana, Geri tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku menatap wajahnya dan mulai tersenyum seakan tahu apa yang sedang dirasakan anak pedagang pakaian itu.

    “Menurut lo, ipar gue cantik nggak Ger?”
    “Biasa aja,” jawabnya tanpa ekspresi
    “Lu suka ya sama Ana?”
    “Enggak,” sembur ia cepat. Lagi-lagi tanpa ekspresi

    Peristiwa besar hari ini mulai terungkap, ternyata sahabat dekatku sedang jatuh cinta! Ihihihi aku tersenyum licik. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membungkus dua remaja ini berada dalam satu wadah bertemakan cinta. Hmmm aku mulai menyusun rencana untuk mendekatkan Ana dan Geri. Apalagi dengar-dengar Ana juga belum punya pacar semenjak ia putus dengan kekasihnya dua bulan lalu. Kalau Geri? Dekat dengan cewek aja dia belum pernah!

    Dingin malam mulai menusuk tulang, dengan sigap jari menari-nari diatas layar ponsel hingga tekirim sebuah pesan singkat sederhana berbunyi 'cpet ke taman dket msjid! Ad sswtu! penting! Ak di dket kolam!' yang dibuat dalam bentuk SMS dan dikirim ke ponsel Ana dan Geri. Dua insan itu bertanya mengapa, tapi sengaja tidak kubalas agar makin penasaran.

    Sejam sudah berlalu, geli membayangkan Geri dan Ana sekarang sedang ketemuan di taman. Hmmm sedang apa ya mereka? Berhasilkah rencana mempertemukan Geri dan Ana dalam satu ikatan? Semoga berhasil, sebab sudah lama sekali ingin melihat Geri memiliki dambaan hati. Bagaimana tidak? setiap kali menyukai cewek ia selalu takut mengungkapkan. Untuk kali ini agaknya aku harus ambil bagian. Itung-itung sebagai praktik balas budi atas semua kebaikan yang telah dilakukannya pada diri ini.

    Dan benar saja! Rencana untuk mempertemukan dua orang itu sukses besar! Mereka berdua marah-marah. Tapi kemarahan itu justru menjadi pertanda bahwa aku tidak gagal untuk ngecomblangin mereka.. Haha akhirnya bisa tersenyum puas saat Ana ngambek dan Geri tidak mau ku ajak main basket lagi sore ini. Sama-sama marah! Kompak! Mungkin mereka jodoh!

    Kegembiraanku berlanjut kala aku mendengar kabar bahwa Geri si pendiam sekarang lagi dekat dengan anak kelas satu bernama Yuana. Kata si Ipul teman basketku, ia kemarin lihat Geri lagi makan bareng ama Ana di warung perempatan ujung jalan. Ahahaha akhirnya proyek besar ini berjalan mulus, lus, lus!

    ***

    “Makasih ya masbro!” kata Geri saat masuk kelas pagi ini
    “Makasih apanya Ger?” aku terheran-heran
    “Makasih soal dia!” katanya sambil menunjuk ke depan kelas

    Kaget setengah mati saat melihat Ana muncul di depan pintu ruangan sambil melambaikan tangan. Sungguh tak menyangka jika melihat Ana secepat ini akrab dengan Geri. Segera kubalas lambaiannya. Senang bukan kepalang!
    “Hei jadi kalian udah resmi jadian ya?”

    “Ya begitulah masbro, pokoknya makasih deh! Maaf dulu sempet ngomel!” jawab Geri dengan logat khas anak mudanya

    “Ih selamat ya! Ditunggu makan-makannya loh! Eh nanti main basket ya, tim kita tanding ama timnya bang Ucup!” selorohku

    “Eh tanding ya? Tapi maaf kayaknya aku gak bisa Dav, Ana minta ditemenin ke toko buku nih ntar sore!”

    “Oh gak bisa ya? Hehe gak apa-apa kok masih banyak anak lain! Ati-ati loh kalo naek motor, jalanan ramai!” kataku sembari mengeluarkan senyum kecut

    Mulai merasa ada yang tidak beres dengan kisah cinta Geri dan Ana. Mereka jadi supersibuk. Geri yang biasanya semangat diajak main basket sekarang jadi nggak pernah turun ke lapangan lagi. Bahkan saat aku datang ke rumahnya kemarin malam untuk belajar bareng, Geri tidak ada di tempat. Katanya lagi pergi ama cewek, itu kata adiknya.

    Sekarang tidak ada lagi Geri maupun Ana yang bisa pergi main basket maupun bercanda bareng. Aku benar-benar merasa sendiri. Mulai teringat akan kehadiran Levi disaat kesepian seperti ini. Tentang masa lalu kala Levi masih disini. Tentu tujuan ngecomblangin dua insan itu bukan agar mereka melupakan hal lain yang tak kalah penting. Tapi apa daya nasi telah menjadi bubur. Memang sedikit menyesal dengan kisah ini. Tapi bagaimanapun juga mereka berdua telah sepakat menjalin cinta, tentu harus ada yang dikorbankan. Ku tak berharap apapun, hanya bisa berdoa semoga mereka langgeng selamanya.

    Davi berjalan sendiri menyusuri trotoar dihiasi langit petang yang menemani. Hari ini tepat setahun Levi pergi meninggalkannya. Dan hari ini pula tepat hari dimana Davi tak lagi bisa bermain basket bersama Geri sang sahabat. Sudah menjadi hal biasa jika seekor burung tak bisa lagi terbang bersama pasangannya. Burung itu wajib berlatih untuk terbang sendiri agar suatu hari nanti bila persitiwa seperti yang dialami Davi tiba ia tak akan terlampau sulit untuk menghadapinya.

    ***

    Karya: Nufa

    Tagari Survei SLB Bhakti Pertiwi Prambanan untuk Sasaran Pengabdian

    Beberapa anggota Tagari berpose dengan Kepala sekolah dan guru SLB Bhakti Pertiwi pada 20 Februari 2016.
    Sleman, PewartaNews.com – Komunitas Segenggam Mentari (Tagari) terus bergerak membuat konsep berbagi terhadap sesama. Sabtu 20 Februari 2016 beberapa hari yang lalu, komunitas ini menyambangi Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhakti Pertiwi. Kali ini komunitas sosial anak muda Jogja ini akan menggandeng SLB Bhakti Pertiwi yang beralamat di Jl. Candi Boko KM. 3, Candirejo, Bokoharjo, Prambanan untuk membuat program pendampingan guna menjadi dukungan terhadap adik-adik SLB disana.

    Menariknya, Tagari Jogja sendiri belum pernah terlibat dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di SLB. Untuk beberapa anggota Tagari Jogja, Henny misalnya, pernah menjadi volunteer pengajar untuk anak SD di daerah pinggiran kali di Kota Malang, namun bukan SLB. Pengalaman mengajar juga pernah dirasakan oleh anggota Tagari Jogja yang lain, namun bukan dengan SLB. Bagi Tagari Jogja, hal ini merupakan proyek pendampingan pertama yang bekerjasama dengan SLB.

    Pemilihan SLB Bhakti Pertiwi pun juga dilakukan melaui survey yang dilakukan hampir kurang lebih 1 bulan lamanya. Sehingga ending akhir, SLB Bhakti Pertiwi-lah sebagai tempat untuk pelaksanaan program pendampingan. Rencana pendampingan dilakukan oleh anggota Tagari setiap hari Jum’at dan Sabtu. Dimana anggota Tagari Jogja akan secara bergantian ikut berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar dikelas adik-adik SLB Bhakti Pertiwi. Bukan hanya konsep mengajar dikelas yang dibawa oleh Tagari dalam program pendampingan ini, namun juga proses interaksi bersama adik-adik SLB yang juga mereka lakukan. Karena output dari program pendampingan ini adalah kemudian bisa dihasilkan acara untuk mengangkat dan memperkenalkan eksistensi dari adik-adik SLB. Bahwa mereka juga memiliki kemampuan dan kreativitas yang juga layak diacungi jempol.

    Rencana Tagari mendapat dukungan penuh Bapak Edi Dwiyanto selaku Kepala Sekolah SLB Bhakti Pertiwi, beberapa program unggulannya seperti Bengkel kerja, notabene yang menjadi pengajarnya adalah para pengusaha. Selain itu, ada laboratorium unit produksi dan pemasaran.  Laboratorium ini semacam toko buat mereka untuk mempraktekkan langsung produksi dan penjualannya ke masyarakat. Ending akhir tujuan yang diharapkan adalah memberikan keterampilan kepada anak didik setelah mereka lulus dari SLB tersebut. Selain itu, ada juga program-program lain yang sedang dipersiapkan oleh Kepala Sekolah SLB Bhakti Pertiwi untuk meningkatkan kemampuan anak didiknya pasca lulus nanti.

    Penulis: Henny Prasetyowati
    Mahasiswa Magister Studi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada / salahsatu anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari).

    Pasar dan Wajah Kita

    Haeruddin Parewa. Foto: koleksi pribadi.
    PewartaNews.com – Pasar adalah kosakata ekonomi. Namun kata itu kini telah menyusup ke dalam berbagai aspek kehidupan. Ia menjadi akrab di mulut orang-orang. Bukan sekedar metafor atau analogi, melainkan secara penuh mengusung wacana dan segala konsekuensi logisnya. Tidak berlebihan bila dikatakan semua aspek kehidupan sekarang digerakkan oleh pasar. Kepopuleran kata pasar dalam satu dekade terakhir nyaris mengimbangi kepopuleran demokrasi dan kebebasan. Banyak orang menyukai kata itu, meski tidak sedikit yang latah dan kebablasan. Dalam konteks ini pasar perlu dikritisi, terutama menyangkut iplementasi dan implikasinya.

    Sebelum reformasi sesungguhnya kata pasar mulai populer di kalangan masyarakat. Namun selain menyimpan harapan, kata itu menyimpan pula kecemasan. Kata pasar bebas yang diandaikan menyediakan ruang untuk perkembangan ekonomi seringkali diikuti kecemasan pengusaha kecil, dalam menghadapi persaingan global. Ada banyak kritik dan saran agar pemerintah dan wakil rakyatnya menyiapkan infrastruktur yang memungkinkan pengusaha kecil siap memasuki pasar bebas. Sayangnya hingga hari ini, harapan itu jauh panggang dari api.

    Selain itu, kata pasar amat sering meluncur dari mulut pelaku dan pengamat ekonomi sebagai solusi dalam menyikapi perekonomian yang tak kunjung membaik. Seakan-akan dengan mekanisme pasar, berbagai aspek ketidakberesan akan mudah dipecahkan. Seolah-olah bila seluruh aset (perusahaan) negara dijual/dikelola oleh pasar dengan sendirinya akan menyehatkan kondisi negara dan mendorong perkembangan ekonomi.

    Mekanisme pasar berpijak pada hukum logika ekonomi yakni penawaran dan permintaan menjadi landasan berlangsungnya kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, “pencitraan dan pelayanan” menjadi doktrin sakti untuk menawarkan produk-produk. Permintaan publik akan dirayu habis-habisan melalui pelayanan dan pencitraan di media massa yang mengeksplorasi bahasa retoris, stilistik, penuh fiksi, dan impian. Sayangnya tidak jarang kualitas produk yang dicitrakan jauh di bawah kualitas pencitraan sendiri. Inilah fetisisme mutakhir di tengah masyarakat hipperealis yang kemaruk memuja (menjual dan membeli) mimpi.

    Logika ekonomi tidak hanya berlaku dalam kegiatan ekonomi lembaga pendidikan dan politik pun memberlakukannya. Lihatlah lembaga pendidikan diberbagai tingkatan, mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi (PT). Kegiatan pencitraan dan pelayanan menjadi dasar penting dalam melakukan penawaran. Implikasinya biaya pendidikan menjadi mahal, meskipun kualitas tidak dengan sendirinya menunjukkan kemajuan. Implikasi lainnya, mereka yang berduitlah yang leluasa dapat meilih lembaga pendidikan, sedangan masyarakat miskin tersisih ke tepian. Hukum besi ekonomi mengatur jalannya pendidikan membuat lembaga pendidikan pelan-pelan berubah menjadi lembaga ekonomi.

    Dunia pendidikan mengadopsi hampir seluruh strategi yang biasa digunakan para pelaku ekonomi. Istilah-istilah perdagangan seperti pencitraan, pelayanan, produk, manajemen, konsumen, dan sebagainya menjadi akrab di mulut para pengelola pendidikan. Tiba-tiba industri pendidikan hadir seperti industri ekonomi umumnya. Sekolah dan perguruan tinggi berubah menjadi “PT” (Peraseroan Terbatas) atau pabrik dan para pengelolanya bertindak sebagai direktur, manejer dan salesman.

    Tentu semua aspek kehidupan memiliki sisi ekonominya, sebagaimana seluruh aspek kehidupan memiliki sisi edukasi dan atau politiknya. Akan tetapi apakah ”bisnis” dengan “bisnis pendidikan” itu sama? Namun itulah yang terjadi, semua harus diukur oleh efisiensi kerja yang mengacu pada pendapatan material (uang). Tidak mengherankan bila indikator keberhasilan lulusan adalah kecepatan mendapat pekerjaan (menjadi para tukang) yang target pencapaiannya adalah uang.

    Begitu pula dengan politik. Pemilihan langsung presiden dan wakil presiden atau gubernur dan bupati/walikota di daerah, tidak berbeda jauh dengan pemilihan bintang-bintang hiburan dalam industri televisi. Oleh karena itu, keberadaan “tim sukses” menjadi amat menentukan dan bahkan menjadi lembaga industri tersendiri. Siapa yang bermodal besar dan sanggup membayar malah tim sukses, itulah yang memungkinkan jadi pemenang. Siapa yang tim suksesnya tahu menjalankan mekanisme pasar industri, kemungkinan besar merekalah yang akan menang. Sementara itu mereka yang hanya mengandalkan semangat dan idealisme, bersiap-siaplah ditinggalkan dan tersingkir.

    Singkat kata semua aspek kehidupan kini beralih pada mekanisme pasar yang berpijak pada hukum besi ekonomi. Pasar menjadi satu-satunya penentu laju gerak berbagai aspek kehidupan. Bahkan dalam kegiatan-kegiatan kesenian, kebudayaan hingga keagamaan sekalipun.

    Akan tetapi bagaimanakah sesungguhnya wajah pasar itu? Apakah benar pasar dapat menjamin efektifitas, efisiensi, keadilan, keamanan, keselamatan, dan kenyamanan masyarakat? Tapi bagaimana memahami persaingan tarif penerbangan di pasar terbuka yang justru berdampak buruk bagi keselamatan penumpang. Bagaimana pula dengan bank-bank swasta yang ketika bangkrut harus harus ditanggung negara (uang rakyat) sementara bankir-bankirnya lari ke luar negeri membawa hasil jarahan? Bagaimana menjelaskan lembaga pendidikan swasta yang menjamur hingga ke ruko-ruko sementara kualitas daya manusia Indonesia tetap memprihatinkan? Bagaimana pula menyikapi pertumbuhan mal, supermarket, ritel, dan bisnis waralaba yang dikuasai oleh para pemodal besar  kini merangsek masuk ke desa dan kampung, sementara pasar tradisional dan para pengusaha kecil terdesak dan megap-megap? Inikah yang namanya kemaslahatan pasar?

    Pasar pada kenyataannya sejenis rimba belantara yang penuh dengan binatang buas sehingga binatang-binatang kecil tidak lagi aman untuk mepertahankan diri sendiri. Sementara para singa dan harimau berkeliaran bebas melakukan “kongkalikong” dengan “para penjaga” rimba telah menjadi penguasa yang sebenarnya di rimba pasar itu. Jadi mana mungkin para penjaga rimba berani menghukum para singa dan harimau yang rakus. Jika pun mereka tertangkap, dengan suka cita dia akan disambut bak pahlawan pulang perang.

    Negara sebagai representasi rakyat nyatanya tidak berdaya di hadapan para penguasa pasar yang kemaruk dan maunya kenyang sendiri. Mungkin mekanisme pasar baru akan mampu menjamin kemaslahatan rakyat banyak jika para pemimpin bangsa sejatinya harus mampu membebaskan diri dari ketergantungannya kepada para pemilik modal yang menguasai pasar (sektor hajat hidup rakyat), baik dalam maupun luar negeri.

    Penulis: Haeruddin Parewa
    Dosen STKIP Taman Siswa Bima dan Anggota Dewan Kesenian Kota Bima

    Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

    Logo Tagari.
    PewartaNews.com – Sisi kemanusiaan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat yang sarat akan kehidupan bersosial. Komunitas Segenggam Mentari hadir sebagai salah satu dari sekian banyak komunitas yang bergerak di kegiatan aksi sosial di DIY dan sekitarnya.
    Komunitas Segenggam Mentari yang biasa disingkat dengan “Tagari” dibentuk oleh relawan-relawan yang mayoritas adalah mahasiswa UGM dari lintas disiplin ilmu ini, bertujuan agar mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada di DIY dan sekitarnya. “Tagari” sendiri berasal dari kata Aborigin Tasmania berarti “orang-orang yang berkumpul di sini”.

    Terhitung dari tanggal 13 Februari 2016, “Tagari” dibentuk dengan semangat berbagi dan menjadikan komunitas ini bisa memberikan manfaat serta berkontribusi bagi sesama. “Tagari” merupakan komunitas sosial yang peduli terhadap sesama, memiliki jiwa sosial yang tinggi, bahkan merancang kegiatan-kegiatan yang kreatif. “Tagari” juga memiliki harapan agar komunitas yang dibentuk oleh anak-anak muda ini mampu menjadi bagian kecil dari banyaknya aksi-aksi sosial yang ada.

    Tagari hadir tidak terlepas dari sejarah terjadinya runutan berbagai persoalan di Indonesia, salahsatu yang menonjol adalah ketika pada tahun 2015 terjadi peristiwa pembakaran / kebakaran hutan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa diantaranya seperti yang terjadi di Riau dan peristiwa kebakaran Gunung Merbabu. Dari semua peristiwa yang terjadi, peristiwa kebakaran Gunung Merbabu yang menjadi titik sentral perhatian. Lambat laun dari penyatuan persepsi sehingga terbentuk “Tim Relawan Korban Kebakaran Gunung Merbabu” yang kini telah bermetamorfosa menjadi Komunitas Segenggam Mentari (Tagari). Tim ini bekerja menampung dan mengumpulkan dana dari para donatur yang terketuk hatinya untuk meringankan beban korban kebakaran Merbabu, sehingga kala itu terkumpul dana sebesar Rp2.500.000,- (dua juta dua ratus lima puluh ribu rupiah), dan diserahkan langsung pada masyarakat yang membutuhkan pada hari Jumat, 09 Oktober 2015 melalui kepala desa Ngadirojo, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. [Simak beritanya DISINI dan DISINI]

    Dari awal lahir hingga saat ini, mahasiswa yang tergabung dalam “Tagari” berjumlah 11 orang, diantaranya, M. Jamil dari Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Cahya Adijana Nugraha dari Magister Teknik Sistem Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Akbar dari Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Mega Fia Lestari dari Magister Ilmu Kimia Peminatan Kimia Fisika Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada, Nining Ariani dari Magister Ilmu Peternakan Universitas Gadjah Mada, Henny Prasetyowati dari Magister Studi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Wizda Dharmawan Kusuma Putra dari Magister Pengelolaan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Azwar dari Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, minat Kesehatan Lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Ahmad Mudatsir dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Eli Kumolosari dari Magister Tekhnik Tekhnik Mesin Fakultas Tekhnik Universitas Gadjah Mada, Fitri dari Magister Ilmu Peternakan Universitas Gadjah Mada dan Aldyon Restu Azkarahman dari Magister Ilmu Peternakan Universitas Gadjah Mada. Dari keanggotaan yang ada, tidak menutup kemungkinan “Tagari” juga menerima anggota baru, selagi misi, tujuannya sama dan murni untuk kebersamaan memberi manfaat untuk sesama.

    “Tagari” sendiri membuka banyak kesempatan untuk menjalin kerjasama atau bekerjasama dengan berbagai komunitas dan instansi terkait lainnya, baik dari dalam maupun luar UGM yang memfokuskan aktivitas pada kegiatan sosial di DIY dan sekitarnya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Komunitas Segenggam Mentari (Tagari), dapat menghubungi Henny Prasetyowati di HP / WA 082136582014. [Henny dan Jamil / PewartaNews]

    Pembuka Sekaligus Penutup

    Graha Pencerah Jiwa.
    PewartaNews.com  – Saudaraku, banyak sekali faktor pembuka, tapi juga sekali gus faktor penutup.

    Bhakti pada orang tua adalah faktor utama pembuka pintu rezeki.
    Siapapun yang sayang orang tua, rezekinya akan berlimpah.
    Durhaka pada orang tua adalah faktor utama penutup pintu rezeki.
    Siapapun yang menyakiti orang tua, rezekinya akan seret.

    Sayang keluarga adalah faktor kedua pembuka pintu rezeki.
    Siapapun yang sayang keluarga, rezekinya akan berlimpah.
    Khiyanati keluarga adalah faktor kedua penutup pintu rezeki.
    Siapapun yang terlantarkan keluarga, rezekinya akan mampet.

    Peduli pada saudara adalah faktor ketiga pembuka pintu rezeki.
    Siapapun yang silaturahmi pada saudara, rezekinya berlimpah.
    Tak peduli pada saudara adalah faktor ketiga penutup pintu rezeki.
    Siapapun yang tak peduli pada saudara, rezekinya hanya menetes.

    Dermawan adalah faktor keempat pembuka pintu rezeki.
    Siapapun yang suka sedekah, rezekinya akan berlimpah.
    Pelit adalah faktor kempat penutup pintu rezeki.
    Siapapun yang tidak suka sedekah, rezekinya akan macet.

    Amal dan ibadah akan membuka pintu-pintu rezeki.
    Siapapun yang tekun ibadah, rezekinya akan berlimpah.
    Maksiat dan dosa akan penutup pintu-pintu rezeki.
    Siapapun getol maksiat, rezekinya akan mampet-pet.

    Renungan:
    Pertahankan amal atau ibadah secara istiqomah atau terus-menerus, insyaalloh rezeki akan datang berkesinambungan. Bila suatu saat rezeki datang terputus, coba perhatikan, mungkin ada amalan atau bentuk ibadah yang perlu diistiqomahkan kembali.

    (Graha Pencerah Jiwa, Sabtu, 06/02/2016, Abah, Sebarkan)

    Doddy Forever 91, share via WhatsApp

    Seni Sastra Daerah Miskin Perhatian

    Haeruddin Parewa. Foto FB: Husain Laodet II.
    PewartaNews.com – Bila satu juta manusia dibunuh, maka kemudian akan lahir sepuluh juta manusia. Jika satu perabadaban dibunuh, maka satu kehidupan tidak akan mampu mengembalikannya.

    Pernyataan di atas hanyalah bidak kecil dari realitas kehidupan manusia dewasa ini. Hal itu bagaimana warisan peradaban dari karya luhur sejarah; seni-sastra dan budaya daerah pada pandangan sekarang diidentikkan dengan udik dan ketertinggalan, sehingga perlahan tapi pasti, wajah kearifan kita, digerus oleh generasinya sendiri atas nama modernis. Namun, di sisi lain, studi tematis oleh orang luar tentang potensi yang dimiliki daerah kita di bidang seni dan budaya kian gencar dicanangkan melalui berbagai modus program.

    Tengoklah di era Orde Baru, sastra dan seni budaya selalu mendapat tempat yang dilematis. Bak memakan buah simalakama. Pernah beberapa tahun silam, sastra daerah sempat dihangatkan oleh pemberian hadiah Rancage, sebuah acara untuk dedikasi sastra daerah, atas prakarsa Ajip Rosidi. Rancage sendiri diserahkan dan atau diterima sastrawan daerah dengan beberapa tetes airmata; bahagia sekalian duka. Bahagia, karena terasa masih ada yang hidup dan bergerak dalam jagad sastra daerah. Dan duka itu pun tambah melebar manakala disadari bahwa ketiadaan perhatian Negara tidak hanya terbatas pada sastra daerah, bahkan juga pada kehidupan kesenian atau seni budaya pada umumnya.

    Hadiah sastra Rancage pada mulanya hanya berjumlah satu juta rupiah. Ia dikeluarkan dari dompet Ajip Rosidi secara pribadi. Fakta ini sunggulah miris. Satu juta bukanlah jumlah yang kelewat besar. Tapi ia menjadi berharga bukan terutama karena jumlahnya, melainkan niatnya. Ia menjadi bukti nyata niat baik dan perhatian bagi pengembangan kebudayaan dan sastra daerah. Terbukti kemudian bahwa perhatian dan niat tidak berhenti sekedar pada sejumlah uang, namun ia akan hidup, bergerak dan menciptakan relasi-relasinya sendiri. Untuk itu, penulis kira, pemberian hadiah Rancage atau apa pun bentuknya bagi karya sastra yang terbit dalam khasanah daerah pada dewasa ini, pada gilirannya juga akan menggerakkan metabolisme sastra daerah di mana pun di republik ini dengan semangat otonomi daerah.

    Jika perhatian dan niat baik dari perorangan bagi pengembangan sastra bisa menjadi sesuatu yang hidup dan bergerak, tentunya, dampaknya akan lebih besar dan berarti jika datang dari sebuah lembaga Negara. Pemerintah (di pusat atau daerah), jika mau atau peduli, dapat menurunkan dana dalam jumlah lebih besar. Jika dana dalam jumlah jauh lebih besar tersebut dihadirkan juga dengan perhatian dan niat baik yang lebih besar pula, maka roda metabolisme sastra, sebagai lokomotif identitas Negara dan daerah, niscaya akan bergerak lebih deras dan meluas.

    Dalam pada itu, sosok sastra kita, termasuk nyaris seluruh aktivitas seni budaya, cenderung tidak mendapat perhatian memadai dari lembaga-lembaga Negara, baik di pusat dan parahnya lagi di daerah. Peningkatan minat baca dan apresiasi sastra yang dilakukan dengan terencana oleh Negara, justru terlihat pada langkah-langkah atau pola kolonial Belanda, yaitu menjadikan sastra sebagai komoditi politik bagi kepentingan kekuasaan semata. Tengoklah di era 20-an, bagaimana Balai Pustaka dapat dikatakan merupakan salah satu agen untuk merekayasa silaturahmi sastra-masyarakat lewat pemilihan karya-karya sastra yang dianggap baik untuk diterbitkan atau didukung untuk selanjutnya disebarkan dan dimasyarakatkan lewat taman-taman bacaan yang tersebar di berbagai tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Sudah barang tentu di sana termuat kepentingan kolonial.

    Namun, rekayasa kebudayaan-sastra via Balai Pustaka sejatinya menyiratkan cita rasa Belanda (dan Eropa umumnya) akan kesarjanaan dan atau keterdidikan. Selain upaya mencetak tanaga terdidik yang patuh untuk dijadikan pegawai Belanda. Di balik semua itu, bagaimana Belanda ingin menularkan selera dan cita “Manusia model Eropa” pada murid-murid Bumiputra. Bila kita tilik di era sekarang sungguh tidak ada bedanya ; setali tiga uang. Sastra maupun seni budaya kita masihlah dipandang dan dibangun dengan pandangan kolonial yakni akan diperhatikan bila memposisikan diri untuk menopang kekuasaan, artinya seni budaya tidak pernah ditempatkan pada tempatnya yaitu netral dan universal. Mirisnya lagi, bila Belanda punya perhatian lebih pada sastra namun Negara kita, baik pusat lebih-lebih di daerah sangatlah minim perhatian dan dukungannya pada keberadaan dan perkembangan sastra dan seni budayanya sendiri. Sejatinya sastra kita tidak pernah hidup menjadi dirinya sendiri.

    Sastra maupun seni budaya pada kehadirannya tidak hanya menyuguhkan nilai-nilai kearifan bagi kehidupan, tapi juga sebagai media komunikasi dan diplomasi antardaerah juga antarnegara. Kendati demikian, Ajip Rosidi dengan merogoh uangnya sendiri mampu memberi perhatian pada keberlangsungan sastra, tapi mengapa Negara yang masih berdiri kokoh dengan segala topangan kekuatan dan kekuasaannya sunggulah miris, karena triliunan uangnya raib tanpa faedah apa-apa bagi pembangunan apa pun apalagi termasuk sastra dan seni budaya. Sangat kontras, padahal di mimbar dan podium dengan lantang mereka menyesalkan perilaku jamannya yang tidak bernilai dan bermoral.

    Ketiadaannya peran dan niat baik Negara dalam pengembangan sastra dan seni budaya di Indonesia terlihat sangat nyata pada perkembangan sastra daerah di Indonesia dan sastra Indonesia di daerah. Sebab dampak sikap ini sangatlah berpengaruh besar pada perjalanan daerah atau negara di kemudian hari. Sastra merupakan cerminan lain dari identitas daerah atau Negara itu sesungguhnya.

    Kita semua sadar, mulai pusat hingga daerah betapa kecilnya peran dan perhatian pemerintah dalam memajukan blantika sastra dan seni budaya di negeri ini. Mengutip pernyataan Goenawan Mohamad dalam esainya “Tentang Keterpencilan Kesusastraan” (1980), mengatakan, “kesusastraan, sebagaimana kehidupan, ada bersama kita tanpa rencana”. Namun Negara hadir dan kita hadirkan ke tengah kita dengan penuh rencana. Benar bahwa dalam banyak hal Jakarta identik dengan Indonesia, namun sangat tidak benar jika kita beranggapan bahwa Indonesia adalah Jakarta. Bukankah setiap karya sastra dan kesenian yang ada di daerah adalah puncak kebudayaan. Lalu kenapa dalam bernegara dan berkebudayaan selalu (dipaksa) untuk diseragamkan.

    Nasib seni-sastra dan budaya daerah perlu menyiratkan sentuhan tatanan negaranya lebih-lebih pemerintah daerahnya sendiri. Isu sastra pinggiran dan sastra yang dipinggirkan pada masyarakat di daerah-daerah, pada dasarnya bisa identik dengan status pinggiran dan dipinggirkannya daerah-daerah bersangkutan dalam seluruh silaturahim berbangsa dan bernegara. Kita mesti percaya diri dan mengangkat dagu, setiap budaya adalah puncak, dan puncak budaya bukanlah Jakarta, Jawa atau Bali. Budaya daerah kita pun adalah puncak, tinggal bagaimana niat pemerintah dan para tokoh-tokohnya. Masa depan daerah ini ada pada pemangkunya. Kalau bukan kita siapa lagi.

    Penulis: Haeruddin Parewa
    Dosen STKIP Taman Siswa Bima dan Anggota Dewan Kesenian Kota Bima

    Amandemen Ulang dan Gagasan GBHN

    Moh. Wahyudi.
    PewartaNews.com – Sudah sejak lama saya menaruh perhatian pada berita dan wacana amandemen kelima Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Setidaknya perhatian tersebut saya mulai sejak usul amandemen kelima pertama yang digagas oleh DPD RI pada tahun 2007, dimana misi utama DPD RI pada waktu itu berkeinginan memperkuat sistem bicameral Indonesia.

    Akhir-akhir ini wacana amademen kelima kembali dikumandangkan, namun focus issuenya tertuju pada “Pengembalian Garis Besar Haluan Negara (GBHN)”, yang dulu tereliminasi dari kewenangan MPR RI. Secara implisit, usul amandemen tersebut lahir dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Januari 2016 dan saat ini mulai dikampanyekan oleh para anggota DPD RI.

    Perencanaan pembangunan jangka panjang merupakan agenda yang harus direalisasikan oleh setiap pemimpin di negeri ini, karena disitu sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada rakyat. Namun, apakah pengembalian subtansi GBHN harus dilakukan melalui amandemen? Dalam berbagai pandangan, setidaknya ada kelompok yang mendukung dan ada pula mereaksi dengan menolak. artinya masyarakat tidak sepenuhnya sepakat GBHN menjadi focus poin dalam amandemen UUD 1945 karena hal ini akan retan mereposisi kedudukan MPR sebagai lembaga supremasi dan lembaga tertinggi Negara.

    Amandemen dan implikasinya menimbulkan sikap dilematis bagi masyarakat, terlebih di tengah iklim politik sektoral dan sarat dengan kepentingan. Gagasan amandemen kelima UUD 1945 di tengah perkembangan hukum, politik, ekonomi dam sosial adalah kebutuhan untuk menciptakan kehidupan yang lebih demokratis. Disamping itu, Persoalan kebangsaan dan kelemahan desain UUD 1945 yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan selama ini mulai bermunculan satu demi satu, seperti konflik antara MA dengan KY, DPD RI dengan DPR RI, kewenangan Polisi RI dengan KPK dan persoalan lain yang berkenaan normatifisasi komisi independen serta sistem perekonomian yang tidak sesuai dengan semangat cita-cita kebangsaan (Ni’matul Huda-2008-214). Menata kembali organisasi ketatanegaraan di tengah persoalanya dan mempertegas sistem perekonomian negara adalah persoalan yang seharusnya menjadi focus issue dalam menggagas amandemen.

    Namun, realitas politik saat ini menunjukkan hal berbeda, tidak pada problem yang fundamental. Pada dasarnya mereposisi GBHN dalam tata kelola pemerintahan, baik di tingkat nasional maupun daerah, tidak kalah pentingnya dengan persoalan-persoalan tersebut. Dengan dihapusnya GBHN sebagai acauan dan pedoman pembangunan nasional, maka untuk menjaga stabilitas dan pembangunan yang berkelanjutan, perlu dibentuknya sebuah pedoman baru yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagai pengganti dihapusnya GBHN. Sejalan dengan hal itu, maka dibentuk Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU SPPN) dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2015 (UU RPJPN), kedua aturan tersebut menjadi dasar atau pijakan dalam mengaktualisasi visi, misi dan agenda kerjan baik pemerintah pusat maupun daerah. Dengan demikian, dihapusnya GBHN tidak mengurangi subtansi perencanaan pembangunan nasional yang komperhensif dan berkesinambungan

    Menggagas GBHN dengan mencita-citakan amandemen kelima merupakan wacana mubazir, GBHN bukan merupakan kehendak mendesak yang harus direalisasikan melalui amandemen UUD 1945. Secara simbolik GBHN telah dihapus melalui amandemen di era reformasi, namun secara subtansi hal ini terakomodir dalam UU SPPN dan UU RPJPN sebagai kehendak mewujudkan cita-cita konstitusi, oleh karenanya tidak ada alasan untuk tetap menggagas GBHN sebagai bagian dari amandemen kelima. Dengan demikian, Persoalanya bukan pada mempertahankan GBHN sebagai gagasan amandemen, melainkam bagaimana untuk tidak menyertakan kehendak kelompok (ego sektoral) dalam setiap perencanaan dan output kebijakan, lantaran kedua peraturan tersebut bukan merupakan produk pemerintah saat ini.

     Mewacanakan amandemen dengan memfokuskan GBHN sebagai point terpenting bukan hal tepat di tengah persoalan lain yang jauh lebih penting, oleh karenanya perlu dicurigai dengan berbagai hidden agendanya, terlebih usul amandemen lahir dari lembaga politik. Dalam berbagai realitas dan dinamika kenegaraan menjadi naif kalau bersikap apatis dan disintegratif terhadap politik dengan berbagai kepentingannya, karena mengacu pada proses dan hasil amandemen di masa reformasi tidak seutuhnya didasari semangat reformasi untuk membela kehendak masyarakat mayoritas, banyak diantaranya merupakan produk politik dari kepentingan-kepentingan jangka pendek (Denni Indrayana-2007-342). Oleh karena itu, diperlukan prinsip kehati-hatian dan perencanaan yang komperhensif dengan banyak melibatkan berbagai elemen dalam mengkaji amandemen kelima, terlebih wacana mengembalikan GBHN.


    Penulis: Moh. Wahyudi
    *Pemerhati Hukum dan Konstitusi di ROEANG inisiatif

    Pedoman Pemberitaan Media Siber

    Kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Keberadaan media siber di Indonesia juga merupakan bagian dari kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers.

    Media siber memiliki karakter khusus sehingga memerlukan pedoman agar pengelolaannya dapat dilaksanakan secara profesional, memenuhi fungsi, hak, dan kewajibannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Untuk itu Dewan Pers bersama organisasi pers, pengelola media siber, dan masyarakat menyusun Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai berikut:

    1. Ruang Lingkup
    Media Siber adalah segala bentuk media yang menggunakan wahana internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik, serta memenuhi persyaratan Undang-Undang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan Dewan Pers. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content) adalah segala isi yang dibuat dan atau dipublikasikan oleh pengguna media siber, antara lain, artikel, gambar, komentar, suara, video dan berbagai bentuk unggahan yang melekat pada media siber, seperti blog, forum, komentar pembaca atau pemirsa, dan bentuk lain.

    2. Verifikasi dan keberimbangan berita
    a. Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.
    b. Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.
    c. Ketentuan dalam butir (a) di atas dikecualikan, dengan syarat:
    1. Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang bersifat mendesak;
    2. Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya, kredibel dan kompeten;
    3. Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya dan atau tidak dapat diwawancarai;
    4. Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya. Penjelasan dimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, di dalam kurung dan menggunakan huruf miring.

    d. Setelah memuat berita sesuai dengan butir (c), media wajib meneruskan upaya verifikasi, dan setelah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran (update) dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi.

    3. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)
    a. Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan mengenai Isi Buatan Pengguna yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, yang ditempatkan secara terang dan jelas.
    b. Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan registrasi keanggotaan dan melakukan proses log-in terlebih dahulu untuk dapat mempublikasikan semua bentuk Isi Buatan Pengguna. Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.
    c. Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:
    1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul;
    2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan;
    3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.

    d. Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus Isi Buatan Pengguna yang bertentangan dengan butir (c). Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan Isi Buatan Pengguna yang dinilai melanggar ketentuan pada butir (c). Mekanisme tersebut harus disediakan di tempat yang dengan mudah dapat diakses pengguna.
    e. Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir (c), sesegera mungkin secara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima.
    f. Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir (a), (b), (c), dan (f) tidak dibebani tanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan akibat pemuatan isi yang melanggar ketentuan pada butir (c).
    g. Media siber bertanggung jawab atas Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan bila tidak mengambil tindakan koreksi setelah batas waktu sebagaimana tersebut pada butir (f).

    4. Ralat, Koreksi, dan Hak Jawab
    a. Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Hak Jawab yang ditetapkan Dewan Pers.
    b. Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi atau yang diberi hak jawab.
    c. Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut.
    d. Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber lain, maka:
    1. Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada berita yang dipublikasikan di media siber tersebut atau media siber yang berada di bawah otoritas teknisnya;
    2. Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga harus dilakukan oleh media siber lain yang mengutip berita dari media siber yang dikoreksi itu;
    3. Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber dan tidak melakukan koreksi atas berita sesuai yang dilakukan oleh media siber pemilik dan atau pembuat berita tersebut, bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari berita yang tidak dikoreksinya itu.

    Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak melayani hak jawab dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).

    5. Pencabutan Berita
    a. Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers.
    b. Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telah dicabut.
    c. Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan diumumkan kepada publik.

    6. Iklan
    a. Media siber wajib membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan.
    b. Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi berbayar wajib mencantumkan keterangan 'advertorial', 'iklan', 'ads', 'sponsored', atau kata lain yang menjelaskan bahwa berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.

    7. Hak Cipta
    Media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    8. Pencantuman Pedoman
    Media siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini di medianya secara terang dan jelas.

    9. Sengketa
    Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini diselesaikan oleh Dewan Pers.


    Jakarta, 3 Februari 2012
    (Pedoman ini ditandatangani oleh Dewan Pers dan komunitas pers di Jakarta, 3 Februari 2012).

    Tugas Suami atau Istri, Sama Beratnya

    Graha Pencerah Jiwa.
    PewartaNews.com – Anakku, sebenarnya tugas seorang suami atau seorang istri itu sama beratnya. Sudah semestinya untuk saling menghargai.

    Tugas suami untuk mencari nafkah memang berat.
    Tugas istri untuk mengurus keluarga juga berat.
    Tugas suami untuk mencari uang memang melelahkan.
    Tugas istri untuk mengatur membelanjakan uang juga melelahkan.

    Tugas suami untuk keluar rumah mencari kerja memang berat.
    Tugas istri di dalam rumah untuk urus keluarga juga berat.
    Setiap hari mencari uang, tidak ada habisnya.
    Setiap hari mengatur rumah tangga, juga tidak ada habisnya.

    Betapa indahnya, suami istri saling menghargai.
    Peran berbeda demi kebahagiaan keluarga.
    Tugas berbeda demi kecukupan keluarga.
    Saling mengalah, demi keharmonisan keluarga.

    Seberat apapun bekerja di luar.
    Bila pulang melihat anak istri bahagia, lelahnya hilang.
    Seberat apapun mengurus rumah tangga.
    Bila suami pulang selamat membawa uang, lelahnya hilang.

    Tidak ada saling curiga, tidak ada saling khawatir.
    Tidak ingin saling menyakiti, tidak ingin saling mengkhianati.
    Yakin dengan janji Alloh, suami baik untuk istri yang baik.
    Tidak ragu dengan janji Alloh, istri baik untuk suami yang baik.

    Renungan:
    Alloh menghargai kerukunan, terutama kerukunan dalam suatu rumah tangga. Alloh akan melimpahkan rezeki bagi keluarga yang mampu menjaga kerukunan. Kerukunan keluarga adalah asbab terbukanya pintu rezeki terbesar kedua, setelah sayang orang tua.
    (Graha Pencerah Jiwa, Jumat, 05/02/2016, Abah, Sebarkan)

    Doddy Forever 91, share via WhatsApp

    Kehadiranmu Adalah Berkat KKN

    Nurhaidah.
    PewartaNews.com – Minggu pertama kami menginjak tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta yang tepatnya di Dusun: Pengasih, Kecematan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami saling mengenal antara satu dengan yang lainnya walaupun kami berbeda jurusan dan juga suku. Kami menjalankan aktivitas seperti biasanya kami layaknya hidup di desa sendiri, tetapi pada malam evaluasi pertama kami memperkenalkan diri satu persatu dan juga tiap-tiap bidang perbidang, kebetulan saya lebih suka jadi sekretaris dibandingkan jadi seksi yang lainnya.

    Tugas sekretaris pada saat melaksanakan KKN itu membuat Proposal, surat menyurat, membuat strategi dalam hal notulen lainnya itulah sepintas yang sekretaris laksanakan dalam programnya.

    Minggu kedua kami memulai menyusun program pelaksanaan untuk KKN khusunya Padepokan 13, kemudian kami mulai mengeluarkan ide satu persatu sewalaupun masih ada beberapa yang belum bisa berbicara didepan orang banyak karena masih belum berani berbicara dengan orang baru. Namun seiring berjalannya waktu dan menuntut dengan berbagai program individu yang harus mereka lakukan dengan sendiriya walaupun bantuan dari kami dari belakang.

    Dalam minggu ke-dua ini kami sedikit tidak nyaman karena ada beberapa konflik, tetapi konflik ini adalah kesalahfahaman dalam memahami sifat satu sama lainnya, namun dengan adanya konflik di minggu kedua ini juga kami mempunyai inisiatif bahwasannya “Bagaimana Caranya Menyelesaikan Masalah”.

    Dalam jangka waktu yang tidak banyak kami langsung bertindak dan memberanikan diri untuk menjadwalkan untuk mengevaluasi diri masing tiap satu kali dalam seminggu, karena kami rasa itu adalah hal yang sangat bagus agar tidak adanya konflik lagi didalamnya. Kami pahami disini bahwa dengan adanya konflik adalah suatu hal yang mendewasakan diri kami masing-masing bukan berarti dengan adanya konflik ini kami malah tidak bertanggungjawab dan lainnya.

    Minggu ke tiga kami memulai memfiksasikan program kami (matrik kelompok), untuk itu kami mengkonsultasikan sama dosen Pembimbing Lapangan Ibu Sripuji. Ibu Sripuji merupakan salah satu dosen pendidikan IPA di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UST. Beliau adalah salah satu dosen yang paling baik dan sangat menyayangi kami semuanya. Pada minggu ke-tiga ini kami sudah memulai menjalankan program kelompok kami walaupun pada saat itu belum ada persetujuan dari dosen pembimbing, karena menurut beberapa dari kami mempunyai pikiran bahwasannya dengan menjalankan program yang banyak dalam jangka waktu yang tidak panjang adalah suatu hal yang mustahil untuk kami jalankan semuanya, maka dari itulah kami memberanikan diri untuk melaksanaknnya namun setelah kami laksanakan alhamdulillah dosen pembmbing juga sangat menyetujuinya, karena program awal kami adalah Mengaktifkan kembali karang Taruna. Kebetulan program ini adalah program sahabat satu jurusan dengan saya Nilam Cahaya.

    Minggu ke-empat kami sudah mulai sibuk dengan masing-masing bidang dan masing-masing individu dalam mengerjakan program kami PAUD (koordinir oleh Nurhaidah), TK (Koordinir oleh Hesty), Taman Baca yang Koordinir oleh Marhayati Ali dan pada saat program ini saya sebagai sekretaris mulai sibuknya membuat proposal dan mengirimkannya ke berbagai tempat, BPDA, Perpustakaan Kota, Royal Buku, dan juga Perpusataaakn Swasta lainnya. Alhamdulillah dalam mengirim beberapa proposal beberapa tempat yang menerima proposal kami dan itu sangat mendukung sekali dengan adanya Program Taman Baca yang kami sepakati bersama. Sewalaupun pada saat itu saya sebegai sekretaris tidak pernah lelah untuk mengelilingi tempat-tempat yang dominan untuk menerima proposal yang kami kirimkan.

    Minggu ke-Lima sudah beberapa program yang kami laksanakan terutama di minggu ini adalah Mendampingi TPA dan LOMBA TPA dan alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

    Minggu ke- enam kami menerukan untuk merancang kembali program kelompok yang belum kami selesaikan, dan malam evaluasi terakhirnya juga kami saling mengisi kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Karena kami pertama mengenal satu sama lain adalah dengan baik dan kami akhir dengan baik pula.

    Detik-detik kami mulai berpisah ada salah satu dari padepokan kami mengatakan pada saya bahwa ada yang menyukai saya, namun saya pada saat ini belum brani utnuk “ge’er” atau apalah karena saya pahami itu adalah hal yang leluon dan hanya membuat saya senang. Tetapi setelah lama kelamaan saya memperhatikannya ia sangat menyukai kamu hanya saja kamu sendiri yang belum menyadarinya “ucapan sahabat saya pada saya waktu itu”

    Alih-alih pembicaraan saya pernah merasakan keraguan dengan perkataan sahabat saya itu namun dengan beriringNya waktu saya membuktikan dan menuggu siapakan yang menyukai saya itu ?. setelah hari kemudian saya dan salah satu teman saya pergi menengok ke padepokan sebelah ceritannya hanya jalan-jalan biar gak suntuk di padepokn sendiri, dan pada saat itu kami diajak jalan-jalan keliling alun-alun Wates dan situ kami makan bersama dengan padepokan tetangga namun disitulah hatiku pada saat itu mulai bergetar dan bertanya pada diriku sendiri, “Kenapa dengan Hatiku Tuhan”. Lalu beberapa hari kemudian waktu telah menjawab itu semua.

    Malam selanjutnya saya pergi kepadepokan sebelah bersama dengan teman aku pada malam itu aku seperti dipanggil sama seseorang tetapi aku tidak tahu siapa yang memanggil saya sehingga saya kepengen bangat pergi kepadepokan sebelah pada malam itu. Namun pada akhirnya aku kelaparan dan ingin seklai makan nasi goreng, kebetulan ia dari padepokan sebelah turun ke warung ingin membeli rokok dan kopi dan saya ingin menitip samaNya nasi goreng namun pada saat itu secara spontan saya mengatakan bahwa “Boleh saya Ikut Saya Ingin Membeli Makanan saya sangat LAPAR”. Dengan dek-dekan saya lihat ia itu dan memanggil saya ayo silahkan naik di motornya dan malam itu hujannya kuat sekali pada saat kami pergi hujannya berhenti sebentar dan sadel motornya sangat basah dan ia mengeringkannya dengan tangannya karena ia lihat masih basah ia mengambil lap didalam kamarnya untuk mengeringkan sadel motornya sampai benar-benar kering dan akhirnyapun kamu mulai “capcus”

    Beberapa pertanyaan yang membingungkan untuk aku di dalam perjalanannya malam itu dan akhirnya ia memulai menceritakannya, saat pertama kali kita berjumpa kita masih ragu-ragu dan tersimpun malu karena pada saat itu kita belum pernah bertemu dan belum mengenal antara satu dengan yang lainnya. Namun seiring berjalannya waktu kita dekat dan kita saling menyapa walaupun masih tersimpun malu pada saat itu. Ketika ia datang dipadepokan KKN kami pada saat itu aku sangat tidak menyukai cara ia berbicaranya, ia sangat songong yang pernah aku kenal dan aku sangat membencinya, tapi satu hal yang tidak bisa aku lupanakan darinya bahwa ia adalah sosok seorang yang sangat-sangat dan sangat SONGONG itulah sebabnya aku memulai menyukainya.

    Aktivitas terbengkalai, pikiran terkuras dan kondisi kesehatan drop. Inilah saat-saat dimana masa-masa sulit dalam hidup indah ku. Ibarat roda yang sedang berputar, posisiku berada di bawah tepat di bagian alas. Terinjak-injak, tergores pedih, bahkan juga menanggung beban berat di atasnya sendirian. Namun pada saat itu ia mulai memperlihatkan perhatiannya pada ku dan benar-banar menyayangiku walaupun ia pada saat itu kesehatannya masih kurang membaik namun dengan memberanikan diri ia pergi tanpa sepengetahuanku untuk membelikan aku makanan kesukaanku padahal pada saat itu hujannya sangat deras sekali dan membelikan aku obat. Aku rasa pada malam itu ia adalah pangeran yang dikirim Tuhan untuk menjaga ku.

    Seiring berjalannya waktu kami saling membantu antara satu dengan yang lainnya, menemani ia membuat laporannya begitupun sebaliknya. Kami berdua saling mempeingati antara satu dengan yang lainnya. Cepat-cepat kamu raih cita-cita mahalmu jangan pernah menyerah sebelum menjadi orang yang sukses.

    Dalam beberapa bulan kemudian kami menjalani hubungan sebagai Teman Dekat ini kami sangat ragu dengan apa yang kami lakukan sewalaupun itu hanyalah hubungan sebatas Teman Dekat. Ia pernah berkata pada aku “kamu bisa menyelesaikan masalah orang lain namun masalahmu sendiri kami tidak bisa menyelsaikannya” Masa bodoh, kamu samasekali masa bodoh dengan pemecahan masalah sebab sampai saat ini yang paling penting bagiku adalah keluh kesahmu terdengar. Dan kamu bisa membagi beban berat, juga air mata. Dan beberapa hari ini kami memilih untuk tidak berkomunikasi dan masing-masing fokus pada bidang kami masing-masing.

     “Ya ampun, aku tak mengerti mengapa semua ini terjadi..apa salahku?”
    Aku simpulkan bahwa dengan kami memilih untuk memfokuskan masing-masing bidang ini kami agak lega dan keraguan untuk memiliki antar satu dengan yang lainnya kami tetap terjaga, karena jodoh pasti akan bertemu.

    Itulah mengapa sampai detik ini banyak sekali lagu-lagu band ternama yang mengalunkan lirik tentang cinta. Dan irama yang digunakan pun pasti penuh semangat. Selain itu, dalam sinetron yang tayang setiap petang pun kamu tentu melihat bahwa peran seorang teman dekat akan lebih krusial.

    Sebab pada dasarnya kedudukan seorang teman dekat dalam kehidupan cukup tinggi karena ia datang bagaikan malaikat yang turun saat seseorang sedang melangkah tertatih terluka penuh goresan. Kamu harus percaya bahwa teman dekat akan selalu ada dalam tiap bulir air mata, karena dunia telah membuktikannya.

    Bedakan anatar calon kekasih dan teman dekat biar gak salah paham. Ok!.

    Penulis: Nurhaidah
    Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta.

    Berjalan di Atas Duri

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Suara kodok terdengar nyaring  di area kuburan. Adzan magrib baru saja dikumandangkan. Namun,  Ina  sama sekali belum beranjak dari   kuburan  sang ayah. Sejak  beberapa hari  ini lebih suka berdiam diri sambari berhayal. Bahkan sesekali ia pergi molor  di rumah teman dinas di Kindang, dengan alasan  banyak pasien bersalin yang harus ditangani di sana. Untuk apa pulang di rumah  jika hawanya persis neraka. Meski begitu siapa yang akan peduli? tidak ada yang memedulikannya. Tidak ibunya, yang sibuk bisnis busana. Tidak pula adiknya  masih ngontrak di Bulukumba, sebentar lagi akan rampung di SMA.

    Ibu hanya menghabiskan waktu berkarir, sudah banyak pelanggan bahkan usaha bisnisnya    sudah nongol di  luar kota. Ibunya  kini menjelma sosok yang lebih asing baginya. Sangat berbeda dengan kondisi   sebelumnya, sebelum ayahnya  wafat. Ibunya  benci usaha dagang.  Entah mengapa perubahan itu sangat singkat.  Ina  juga heran, makhluk apa yang bertengger di batang tubuh sang ibu?

    Ini  adalah hari ke dua puluh satu  ibunya ada diluar kota. Hanya uang y ang ditransfer melalui Bank BRI, sepekan sekali.  Apa yang sebenarnya yang ia cari  di luar sana? Padahal beberapa ladang  sawah   dan hektar cangkeh peninggalan ayah. Meskipun harta waris sudah jatuh   di tangan   Ina  dan adiknya. Setidaknya masih ada sedikit jatah untuk ibunya. Kini  Ina  hanya bisa mengubur rasa kesepian di rumah. Rumah dua lantai menyamahi     istana yang   ada di cerita dongeng. Apalah arti sebuah rumah dan harta melimpah  jika perhatian dan kasih sayang itu tidak ada.

    Andai ayahnya masih ada, mungkin dia  bisa melarang ibunya berbisnis, lebih  menyuruh jadi ibu rumah tangga dan  perhatian pada anak-anaknya. Dengan begitu  Ina    tidak   perlu bersitegang  jika membicarakan hal itu kepada ibunya. Tapi, sepertinya hanya angan-angan. Ayahnya sudah tiada,  hipertensi salah satu penyebabnya lalu menghadap   yang di atas. Dan saat ini,  Ina  merasa  benar-benar kehilangan orang tua. Walaupun begitu dia tetap semangat   jadi honorer   di sebuah Puskemas Borong Rappoa. Walaupun gajinya tak seberapah.

    Sudah  berbulan-bulan kesepian itu berhasil dilewati. Ina   sepulang dinas, masih melanjutkan  berhayal dalam kamar.   Tiba-tiba keajaiban itu datang.  Suara mobil terdengar  nyaring di halaman rumah.  Dia beranjak lalu membuka jendela, kini mulai antusias tak mengira bahwa seorang  ibu  yang dikenal sibuk dan kurang perhatian itu,   benar-benar berubah bahkan pulang dari luar kota tiba-tiba menyetir mobil.  Ina berlari  menuju pintu keluar,  akan  menyambut   sang ibu dengan senyuman lalu berkata ibu  adalah sosok  yang pekerja keras dan   luar biasa.

    Saat menarik pintu,   senyuman itu perlahan hilang dari rautnya. “Mengapa ibu pulang    dengan   seorang lelaki  yang lebih tua darinya? Mereka  begitu lengket   persis suami istri.  Aghh bodoh, kenapa aku berburuk sangka. Mungkin dia teman bisnisnya.” Ina membatin.
    “Bagaimana kabarmu sayang, aku sangat merindukanmu di mana adikmu?” Ucap ibunya perlahan mendekat.

    “Siapa dia Bu?” Bukannya menjawab malah mengutarakan tanya.

    “Maaf jika tidak memberitahumu sebelumnya Nak. Dia adalah ayahmu, kami menikah dua minggu yang lalu. Sekiranya kamu bisa menerima kedatangan kami.” Ucap ibunya, rautnya  merasa bersalah.

    Ina   meneguk   ludah. Tak mengira   jika hal ini terjadi. Padahal ayahnya wafat baru satahun   yang lalu,  hatinya semakin terkoyak  melihat ibunya pulang  membawa  ayah baru. Luka yang sama ketika ditinggal pergi oleh al-marhum ayah.

    “Apapun  yang terjadi, tak  ada yang bisa menggantikan posisi ayah. Walaupun beliau sudah tutup usia.” Jawab Ina nada tegas, lalu berlari menuju kamar.

    ***

    Hari ini hari Senin,  Ina   pagi-pagi sekali akan  berangkat dinas.  Ibunya pun   sudah setengah  jam menunggu di   teras, bola mata bengkak. Ia berusaha  agar ada kata  maaf untuknya hanya usaha namun, belum ada hasil. Lagi-lagi kecewa yang didapat. Ina  sama sekali tak mau menghiraukan ibunya.

    “Bagaimana mungkin   leluasa di rumah.  Kehadiran kami  hanya   tamu lalu ditunggu kapan angkat kaki.” Ucap ibunya  wajahnya  pucat.  Tak mikir panjang  segeralah  menulis  surat lalu di taruh di atas meja. Setelah itu  mereka pergi.

    Mutiaraku
    Ibu berharap kamu bisa menjaga  adikmu. Memang  tak pantas jika  pulang lalu  membawa ayah baru untuk kalian. Kupikir inilah jalan  terbaik  biar kalian bisa kembali ceria. Tapi, ternyata dugaanku salah. Setelah kalian sudah berkeluarga nanti ibumu berharap kalian lebih  baik,  dari yang kamu tonton hari ini. Maafkan ibu,  Nak.....

    Hati Ina  tambah sakit  setelah membaca surat  ibunya.  Dia membuang diri ke lantai. Sambari menarik  napas pendek,  rautnya tampak   strees. Dia terombang-ambing  pada keadaan di mana dia menginginkan sebuah perhatian dan kasih sayang.  Dan pada akhirnya benar-benar telah lenyap.

    ***

    Hari  berganti  dengan minggu.  Kini kesepian  perlahan diabaikan. “Untuk apa aku merasa sendiri  jika memang tak ada yang mau peduli denganku. Untuk apa aku selalu berharap pada akhirnya hanya lukalah  mondar-mandir yang harus kurawat.” Pertanyaan “Untuk apa” yang selalu menghantui  Ina.  Dan pada bulan Juli 2015, dia  memberanikan diri menjual  hasil  panen cangkeh lalu meninggalkan tanah kelahiran  Desa Kantisang. Hasil  penjualan itulah   dia gunakan untuk kuliah di penerbangan Yogyakarta.

    *Catatan:
    Aku salut sama Kak Ina. Perempuan yang luar biasa tetap semangat dan jangan patah arang.

    Bulukumba, 15 Januari 2016


    Penulis: Nurwahidah A.Md.
    Alumni Mahasiswa Program Studi Manajemen Adminitrasi Obat dan Farmasi pada AMA Yogyakarta. Email: nurwahidah854@yahoo.com. FB : Idha Daeng Saleh.

    Tugas Suami atau Istri, Sama Beratnya

    Graha Pencerah Jiwa.
    PewartaNews.com – Anakku, sebenarnya tugas seorang suami atau seorang istri itu sama beratnya. Sudah semestinya untuk saling menghargai.

    Tugas suami untuk mencari nafkah memang berat.
    Tugas istri untuk mengurus keluarga juga berat.
    Tugas suami untuk mencari uang memang melelahkan.
    Tugas istri untuk mengatur membelanjakan uang juga melelahkan.

    Tugas suami untuk keluar rumah mencari kerja memang berat.
    Tugas istri di dalam rumah untuk urus keluarga juga berat.
    Setiap hari mencari uang, tidak ada habisnya.
    Setiap hari mengatur rumah tangga, juga tidak ada habisnya.

    Betapa indahnya, suami istri saling menghargai.
    Peran berbeda demi kebahagiaan keluarga.
    Tugas berbeda demi kecukupan keluarga.
    Saling mengalah, demi keharmonisan keluarga.

    Seberat apapun bekerja di luar.
    Bila pulang melihat anak istri bahagia, lelahnya hilang.
    Seberat apapun mengurus rumah tangga.
    Bila suami pulang selamat membawa uang, lelahnya hilang.

    Tidak ada saling curiga, tidak ada saling khawatir.
    Tidak ingin saling menyakiti, tidak ingin saling mengkhianati.
    Yakin dengan janji Alloh, suami baik untuk istri yang baik.
    Tidak ragu dengan janji Alloh, istri baik untuk suami yang baik.

    Renungan:
    Alloh menghargai kerukunan, terutama kerukunan dalam suatu rumah tangga. Alloh akan melimpahkan rezeki bagi keluarga yang mampu menjaga kerukunan. Kerukunan keluarga adalah asbab terbukanya pintu rezeki terbesar kedua, setelah sayang orang tua.

    (Graha Pencerah Jiwa, Jumat, 05/02/2016, Abah, Sebarkan)


    Doddy Forever 91, share via WhatsApp

    Gadis Keturunan Karaeng

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Lagi-lagi  Faisal  akan di  jodohkan  dengan anak   pengusaha  terkenal dari Makassar. Dini, seorang pengarang  buku  yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan karaeng. Hubungan keluarga Faisal dengan keluarga itu cukup baik bahkan   sejak dahulu ayah Faisal mendambakan seorang menantu yang bertahta.

    Faisal yang saat ini masih melanjutkan kuliah di Pascasarjana  Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tiba-tiba di suruh pulang kampung  oleh orang tua, katanya ada pertemuan penting. Tak  ingin  jadi anak pembangkang  akhirnya  diiyakan.  Setiba di rumah, ia terpukau dengan beberapa orang yang sibuk mendekor rumah dan mobil mewah berjejer sana-sini. Bahkan bola matanya melotot  satu per satu saat melihat walasuji .  Awalnya, ia berpikir mereka adalah tamu yang berdatangan sebelum acara pernikahan adiknya Sarwan. Faisal terlihat antusias kerena adiknya  lebih duluan ke pelaminan.  Langkah Faisal cepat menuju ruang tamu.
    “Egh, putraku   sudah tiba.  Sini duduk dulu! Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Sahut sang ayah yang melemparkan senyum.

    Faisal hanya mengangguk.

    “Tujuan kami, menyuruh kamu pulang biar bisa bertatap muka dengan calonmu, mumpung Dini libur,  dan tak sibuk  dengan kegiatan menulis. Kenalkan ini  putraku Faisal.” Lanjut sang ayah sembari mengenalkan Faisal pada keluarga yang hadir di ruang tamu.

    Faisal hanya menelan ludah lalu melirik seorang gadis yang di sebut-sebut penulis papan atas. Dini pun  melemparkan senyum termanisnya, terlihat gigi gingsul sebelah kiri atas manis dan cantik, namun Faisal  sama sekali tak tertarik. Di  hatinya kini sudah ada  Hani, cinta pertama yang di temukan di kampus UIN SUKA Yogyakarta. Melihat ketampanan Faisal,  Dini langsung  jatuh hati.  Bahkan tanpa ragu, ia meminta Faisal untuk mengantarkannya membeli busana di Mall Saidin Bulukumba. Faisal hanya mengangah.


    Dini  terlihat antusias  bisa  jalan berbarengan dengan lelaki tampan bahkan tinggal beberapa hari mereka akan  duduk di pelaminan. Meskipun  Faisal anak  desa, ia tak peduli.  Kali ini ia malah benar-benar jatuh cinta kepada Faisal.

    “Kamu fakultas kedokteran? wah, keren !” ucap Dini  sambari memilah  busana.
    “Lebih keren kamu bisa dilihat sana-sini. Buku, media bahkan Koran kan?” jawab Faisal angkat alis kiri.

    “Lah  kok kamu tahu?” Dini  terlihat bahagia, kerena naik daun.

    “Iya, aku pernah baca salah satu karyamu. Rembulan. Puisi yang sangat menarik.” Nada Faisal pelan.

    “Wah bagus donk. Karyaku bisa di baca oleh lelaki tampan, bahkan ia sudah ada di depanku.” jawab Dini tertawa lepas.

    Mendengar perkataan itu, Faisal  pun merasa bahagia bisa berjumpa langsung dengan gadis  yang hanya bertahun-tahun  dilihat di media. Dua  jam telah berlalu mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, kemudian berbincang-bincang sebentar. Keluarga Dini pun pulang tak lama setelah itu. Faisal melangkah ke kamarnya.

    Pukul lima subuh. Faisal terbangun lalu mengambil air wudhu, shalat setelah itu ia melafalkan ayat suci Al-quran.

    “Faisal,  ayahmu mau ngobrol sebentar.” Sahut sang ayah yang melangkah pelan ke  arah Faisal.
    “Iya, ada apa  ayah?” ujar Faisal.

    “Sebenarnya kami sudah merencanakan dari dulu bahwa kamu bisa dijodohkan  dengan Dini setelah menggapai kata sukses. Kupikir Tuhan memihakku, kerena persiapan menuju pelaminan ayah sudah siapkan. Insya Allah resepsinya pada hari Kamis. Jadi bagaimana tanggapanmu Nak? Kamu senang kan bisa bertemu gadis keturunan karaeng?” Tanya sang ayah.

    “Gadis yang cantik.” jawab Faisal  datar.

    “Sudah merasa cocok?” Potong sang ayah.

    “Mengapa mesti Faisal pulang jika hanya membahas seperti ini. Bukan berarti aku tak  mengiyakan permintaan ayah dan ibu. Tapi, sudah ada sosok  gadis  yang  akan jadi teman tidurku nanti. Hani gadis sederhana meskipun  bukan keturunan keraeng, kupikir ia layak jadi menantu ayah.” Balas Faisal dengan nada yakin.

    “Nak, harus kamu tahu niat kami adalah baik. Bahkan hidupmu akan sejahtera jika kamu dan Dini  bersatu. Kamu kan dokter, dan Dini  penulis buku. Apalagi yang kurang? ia gadis yang baik, keluarganya pun terpandang. Dan jangan kamu sebut-sebut gadis yang bukan keturunan karaeng itu. Kehormatan keluarga kita harus  tetap dijaga.” ujar sang ayah tiba-tiba bola mata memerah.

    “Ayah, Hani orangnya cerdas bahkan ia kuliah kerena beasiswa. Bukankah itu lebih istimewa disbanding kata keturunan karaeng? ada apa dikeluarga kita hampir semua  saudaraku yang sudah berkeluarga bukan pilihan sendiri tapi, pilihan orang tua dan sekarang aku jadi korbannya.” jawab Faisal  melawan.

    “Terserah apa katamu. Hani bukanlah gadis yang tepat kalo jadi menantuku.  Jika kamu masih menganggap aku adalah ayahmu, maka kutunggu kamu di serambi pukul tujuh pagi. Dan jika kamu tak datang berarti setelah kubuka pintu kamarmu seorang Faisal di kamar ini sudah tak ada.” Tukas sang ayah lalu meninggalkan Faisal.

    Faisal hanya bungkam lalu  tertunduk dalam hati ia merasa bersalah karena menentang keinginan orang  tua.  Keyakinan memilih Hani, sosok gadis yang kelak akan ia jadikan pendamping hanya mimpi. Kini ia benar-benar tak menyukai keinginan ayahnya. Bagaimana mungkin dijaman sekarang masih ada bentuk dijodohkan? Kenapa ia harus dipaksa dengan gadis keturunan keraeng?

    Pukul tujuh pagi sang ayah dan beberapa keluarga sudah  menunggu  di serambi.  Faisal pun datang wajah yang muram, bola matanya  berkaca-kaca. Adrian yang sedang membaca koran,  lalu meletakkan koran itu ke paha. Suasana di serambi itu mengingatkannya dulu saat ia  berbicara lalu berdebat dengan ayahnya karena perkawinan dengan Zulfatmi. Kini, Faisal  pun harus menjalani hal yang sama, semata agar nama baik keluarga bisa harmonis dan terangkat derajatnya diketurunan karaeng.

    “Faisal, kami tahu cinta tak bisa dipaksakan namun mencari pasangan hidup yang pantas, demi masa depanmu. Jangan sampai hari ini kamu membatalkan semuanya karena persiapan pernikahanmu tinggal beberapa hari. Hani apa yang kamu harapkan darinya?” Ujar sang ayah membuka dialog.

    Faisal lebih memilih menunduk menurutnya seperti merantai hati saja. Sebuah perbudakan halus yang justru membuatnya  harus dalam keterpaksaan. Kini ia persis  sebatang jambu yang harus hidup di atas kobaran api. Disisi lain  tak ingin mengecewakan keluarga dan di sisi lain ia begitu takut kehilangan Hani. Apalagi Faisal sudah berikrar bahwa tahun depan mereka akan menuju ke pelaminan.

    “Jika menurut kalian perkawinan ini adalah jalan yang terbaik untuk Faisal, insya Allah akan kuturuti.” ujar Faisal nada pasrah.

    ***

    Hari ini adalah hari Kamis. Para undangan dituntun masuk  menikmati  hidangan  yang berjejer di atas meja, suara riuh yang menyebar sana-sini. Mereka terlihat bahagia sementara Faisal duduk kursi pelaminan persis patung yang ada di kuil. Hatinya terkoyak tak  ada pilihan lain, lagi-lagi tunduk pasrah menjalani takdir yang telah digariskan. Dini  terlihat sangat girang, senyum dirautnya tak pernah hilang sesekali melirik Faisal di sebelahnya. Sebuah cinta yang bertahun-tahun di jalani oleh Hani kini hanya semata cerita dongeng dan Faisal hanya bisa tertawa sakit bercampur kecewa.


    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni Mahasiswa Program Studi Manajemen Adminitrasi Obat dan Farmasi pada AMA Yogyakarta. Email: nurwahidah854@yahoo.com. FB : Idha Daeng Saleh

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website