Headlines News :
Home » » Berjalan di Atas Duri

Berjalan di Atas Duri

Written By Pewarta News on Rabu, 17 Februari 2016 | 20.32

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Suara kodok terdengar nyaring  di area kuburan. Adzan magrib baru saja dikumandangkan. Namun,  Ina  sama sekali belum beranjak dari   kuburan  sang ayah. Sejak  beberapa hari  ini lebih suka berdiam diri sambari berhayal. Bahkan sesekali ia pergi molor  di rumah teman dinas di Kindang, dengan alasan  banyak pasien bersalin yang harus ditangani di sana. Untuk apa pulang di rumah  jika hawanya persis neraka. Meski begitu siapa yang akan peduli? tidak ada yang memedulikannya. Tidak ibunya, yang sibuk bisnis busana. Tidak pula adiknya  masih ngontrak di Bulukumba, sebentar lagi akan rampung di SMA.

Ibu hanya menghabiskan waktu berkarir, sudah banyak pelanggan bahkan usaha bisnisnya    sudah nongol di  luar kota. Ibunya  kini menjelma sosok yang lebih asing baginya. Sangat berbeda dengan kondisi   sebelumnya, sebelum ayahnya  wafat. Ibunya  benci usaha dagang.  Entah mengapa perubahan itu sangat singkat.  Ina  juga heran, makhluk apa yang bertengger di batang tubuh sang ibu?

Ini  adalah hari ke dua puluh satu  ibunya ada diluar kota. Hanya uang y ang ditransfer melalui Bank BRI, sepekan sekali.  Apa yang sebenarnya yang ia cari  di luar sana? Padahal beberapa ladang  sawah   dan hektar cangkeh peninggalan ayah. Meskipun harta waris sudah jatuh   di tangan   Ina  dan adiknya. Setidaknya masih ada sedikit jatah untuk ibunya. Kini  Ina  hanya bisa mengubur rasa kesepian di rumah. Rumah dua lantai menyamahi     istana yang   ada di cerita dongeng. Apalah arti sebuah rumah dan harta melimpah  jika perhatian dan kasih sayang itu tidak ada.

Andai ayahnya masih ada, mungkin dia  bisa melarang ibunya berbisnis, lebih  menyuruh jadi ibu rumah tangga dan  perhatian pada anak-anaknya. Dengan begitu  Ina    tidak   perlu bersitegang  jika membicarakan hal itu kepada ibunya. Tapi, sepertinya hanya angan-angan. Ayahnya sudah tiada,  hipertensi salah satu penyebabnya lalu menghadap   yang di atas. Dan saat ini,  Ina  merasa  benar-benar kehilangan orang tua. Walaupun begitu dia tetap semangat   jadi honorer   di sebuah Puskemas Borong Rappoa. Walaupun gajinya tak seberapah.

Sudah  berbulan-bulan kesepian itu berhasil dilewati. Ina   sepulang dinas, masih melanjutkan  berhayal dalam kamar.   Tiba-tiba keajaiban itu datang.  Suara mobil terdengar  nyaring di halaman rumah.  Dia beranjak lalu membuka jendela, kini mulai antusias tak mengira bahwa seorang  ibu  yang dikenal sibuk dan kurang perhatian itu,   benar-benar berubah bahkan pulang dari luar kota tiba-tiba menyetir mobil.  Ina berlari  menuju pintu keluar,  akan  menyambut   sang ibu dengan senyuman lalu berkata ibu  adalah sosok  yang pekerja keras dan   luar biasa.

Saat menarik pintu,   senyuman itu perlahan hilang dari rautnya. “Mengapa ibu pulang    dengan   seorang lelaki  yang lebih tua darinya? Mereka  begitu lengket   persis suami istri.  Aghh bodoh, kenapa aku berburuk sangka. Mungkin dia teman bisnisnya.” Ina membatin.
“Bagaimana kabarmu sayang, aku sangat merindukanmu di mana adikmu?” Ucap ibunya perlahan mendekat.

“Siapa dia Bu?” Bukannya menjawab malah mengutarakan tanya.

“Maaf jika tidak memberitahumu sebelumnya Nak. Dia adalah ayahmu, kami menikah dua minggu yang lalu. Sekiranya kamu bisa menerima kedatangan kami.” Ucap ibunya, rautnya  merasa bersalah.

Ina   meneguk   ludah. Tak mengira   jika hal ini terjadi. Padahal ayahnya wafat baru satahun   yang lalu,  hatinya semakin terkoyak  melihat ibunya pulang  membawa  ayah baru. Luka yang sama ketika ditinggal pergi oleh al-marhum ayah.

“Apapun  yang terjadi, tak  ada yang bisa menggantikan posisi ayah. Walaupun beliau sudah tutup usia.” Jawab Ina nada tegas, lalu berlari menuju kamar.

***

Hari ini hari Senin,  Ina   pagi-pagi sekali akan  berangkat dinas.  Ibunya pun   sudah setengah  jam menunggu di   teras, bola mata bengkak. Ia berusaha  agar ada kata  maaf untuknya hanya usaha namun, belum ada hasil. Lagi-lagi kecewa yang didapat. Ina  sama sekali tak mau menghiraukan ibunya.

“Bagaimana mungkin   leluasa di rumah.  Kehadiran kami  hanya   tamu lalu ditunggu kapan angkat kaki.” Ucap ibunya  wajahnya  pucat.  Tak mikir panjang  segeralah  menulis  surat lalu di taruh di atas meja. Setelah itu  mereka pergi.

Mutiaraku
Ibu berharap kamu bisa menjaga  adikmu. Memang  tak pantas jika  pulang lalu  membawa ayah baru untuk kalian. Kupikir inilah jalan  terbaik  biar kalian bisa kembali ceria. Tapi, ternyata dugaanku salah. Setelah kalian sudah berkeluarga nanti ibumu berharap kalian lebih  baik,  dari yang kamu tonton hari ini. Maafkan ibu,  Nak.....

Hati Ina  tambah sakit  setelah membaca surat  ibunya.  Dia membuang diri ke lantai. Sambari menarik  napas pendek,  rautnya tampak   strees. Dia terombang-ambing  pada keadaan di mana dia menginginkan sebuah perhatian dan kasih sayang.  Dan pada akhirnya benar-benar telah lenyap.

***

Hari  berganti  dengan minggu.  Kini kesepian  perlahan diabaikan. “Untuk apa aku merasa sendiri  jika memang tak ada yang mau peduli denganku. Untuk apa aku selalu berharap pada akhirnya hanya lukalah  mondar-mandir yang harus kurawat.” Pertanyaan “Untuk apa” yang selalu menghantui  Ina.  Dan pada bulan Juli 2015, dia  memberanikan diri menjual  hasil  panen cangkeh lalu meninggalkan tanah kelahiran  Desa Kantisang. Hasil  penjualan itulah   dia gunakan untuk kuliah di penerbangan Yogyakarta.

*Catatan:
Aku salut sama Kak Ina. Perempuan yang luar biasa tetap semangat dan jangan patah arang.

Bulukumba, 15 Januari 2016


Penulis: Nurwahidah A.Md.
Alumni Mahasiswa Program Studi Manajemen Adminitrasi Obat dan Farmasi pada AMA Yogyakarta. Email: nurwahidah854@yahoo.com. FB : Idha Daeng Saleh.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website