Headlines News :
Home » » Gadis Keturunan Karaeng

Gadis Keturunan Karaeng

Written By Pewarta News on Rabu, 17 Februari 2016 | 20.15

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Lagi-lagi  Faisal  akan di  jodohkan  dengan anak   pengusaha  terkenal dari Makassar. Dini, seorang pengarang  buku  yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan karaeng. Hubungan keluarga Faisal dengan keluarga itu cukup baik bahkan   sejak dahulu ayah Faisal mendambakan seorang menantu yang bertahta.

Faisal yang saat ini masih melanjutkan kuliah di Pascasarjana  Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tiba-tiba di suruh pulang kampung  oleh orang tua, katanya ada pertemuan penting. Tak  ingin  jadi anak pembangkang  akhirnya  diiyakan.  Setiba di rumah, ia terpukau dengan beberapa orang yang sibuk mendekor rumah dan mobil mewah berjejer sana-sini. Bahkan bola matanya melotot  satu per satu saat melihat walasuji .  Awalnya, ia berpikir mereka adalah tamu yang berdatangan sebelum acara pernikahan adiknya Sarwan. Faisal terlihat antusias kerena adiknya  lebih duluan ke pelaminan.  Langkah Faisal cepat menuju ruang tamu.
“Egh, putraku   sudah tiba.  Sini duduk dulu! Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Sahut sang ayah yang melemparkan senyum.

Faisal hanya mengangguk.

“Tujuan kami, menyuruh kamu pulang biar bisa bertatap muka dengan calonmu, mumpung Dini libur,  dan tak sibuk  dengan kegiatan menulis. Kenalkan ini  putraku Faisal.” Lanjut sang ayah sembari mengenalkan Faisal pada keluarga yang hadir di ruang tamu.

Faisal hanya menelan ludah lalu melirik seorang gadis yang di sebut-sebut penulis papan atas. Dini pun  melemparkan senyum termanisnya, terlihat gigi gingsul sebelah kiri atas manis dan cantik, namun Faisal  sama sekali tak tertarik. Di  hatinya kini sudah ada  Hani, cinta pertama yang di temukan di kampus UIN SUKA Yogyakarta. Melihat ketampanan Faisal,  Dini langsung  jatuh hati.  Bahkan tanpa ragu, ia meminta Faisal untuk mengantarkannya membeli busana di Mall Saidin Bulukumba. Faisal hanya mengangah.


Dini  terlihat antusias  bisa  jalan berbarengan dengan lelaki tampan bahkan tinggal beberapa hari mereka akan  duduk di pelaminan. Meskipun  Faisal anak  desa, ia tak peduli.  Kali ini ia malah benar-benar jatuh cinta kepada Faisal.

“Kamu fakultas kedokteran? wah, keren !” ucap Dini  sambari memilah  busana.
“Lebih keren kamu bisa dilihat sana-sini. Buku, media bahkan Koran kan?” jawab Faisal angkat alis kiri.

“Lah  kok kamu tahu?” Dini  terlihat bahagia, kerena naik daun.

“Iya, aku pernah baca salah satu karyamu. Rembulan. Puisi yang sangat menarik.” Nada Faisal pelan.

“Wah bagus donk. Karyaku bisa di baca oleh lelaki tampan, bahkan ia sudah ada di depanku.” jawab Dini tertawa lepas.

Mendengar perkataan itu, Faisal  pun merasa bahagia bisa berjumpa langsung dengan gadis  yang hanya bertahun-tahun  dilihat di media. Dua  jam telah berlalu mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, kemudian berbincang-bincang sebentar. Keluarga Dini pun pulang tak lama setelah itu. Faisal melangkah ke kamarnya.

Pukul lima subuh. Faisal terbangun lalu mengambil air wudhu, shalat setelah itu ia melafalkan ayat suci Al-quran.

“Faisal,  ayahmu mau ngobrol sebentar.” Sahut sang ayah yang melangkah pelan ke  arah Faisal.
“Iya, ada apa  ayah?” ujar Faisal.

“Sebenarnya kami sudah merencanakan dari dulu bahwa kamu bisa dijodohkan  dengan Dini setelah menggapai kata sukses. Kupikir Tuhan memihakku, kerena persiapan menuju pelaminan ayah sudah siapkan. Insya Allah resepsinya pada hari Kamis. Jadi bagaimana tanggapanmu Nak? Kamu senang kan bisa bertemu gadis keturunan karaeng?” Tanya sang ayah.

“Gadis yang cantik.” jawab Faisal  datar.

“Sudah merasa cocok?” Potong sang ayah.

“Mengapa mesti Faisal pulang jika hanya membahas seperti ini. Bukan berarti aku tak  mengiyakan permintaan ayah dan ibu. Tapi, sudah ada sosok  gadis  yang  akan jadi teman tidurku nanti. Hani gadis sederhana meskipun  bukan keturunan keraeng, kupikir ia layak jadi menantu ayah.” Balas Faisal dengan nada yakin.

“Nak, harus kamu tahu niat kami adalah baik. Bahkan hidupmu akan sejahtera jika kamu dan Dini  bersatu. Kamu kan dokter, dan Dini  penulis buku. Apalagi yang kurang? ia gadis yang baik, keluarganya pun terpandang. Dan jangan kamu sebut-sebut gadis yang bukan keturunan karaeng itu. Kehormatan keluarga kita harus  tetap dijaga.” ujar sang ayah tiba-tiba bola mata memerah.

“Ayah, Hani orangnya cerdas bahkan ia kuliah kerena beasiswa. Bukankah itu lebih istimewa disbanding kata keturunan karaeng? ada apa dikeluarga kita hampir semua  saudaraku yang sudah berkeluarga bukan pilihan sendiri tapi, pilihan orang tua dan sekarang aku jadi korbannya.” jawab Faisal  melawan.

“Terserah apa katamu. Hani bukanlah gadis yang tepat kalo jadi menantuku.  Jika kamu masih menganggap aku adalah ayahmu, maka kutunggu kamu di serambi pukul tujuh pagi. Dan jika kamu tak datang berarti setelah kubuka pintu kamarmu seorang Faisal di kamar ini sudah tak ada.” Tukas sang ayah lalu meninggalkan Faisal.

Faisal hanya bungkam lalu  tertunduk dalam hati ia merasa bersalah karena menentang keinginan orang  tua.  Keyakinan memilih Hani, sosok gadis yang kelak akan ia jadikan pendamping hanya mimpi. Kini ia benar-benar tak menyukai keinginan ayahnya. Bagaimana mungkin dijaman sekarang masih ada bentuk dijodohkan? Kenapa ia harus dipaksa dengan gadis keturunan keraeng?

Pukul tujuh pagi sang ayah dan beberapa keluarga sudah  menunggu  di serambi.  Faisal pun datang wajah yang muram, bola matanya  berkaca-kaca. Adrian yang sedang membaca koran,  lalu meletakkan koran itu ke paha. Suasana di serambi itu mengingatkannya dulu saat ia  berbicara lalu berdebat dengan ayahnya karena perkawinan dengan Zulfatmi. Kini, Faisal  pun harus menjalani hal yang sama, semata agar nama baik keluarga bisa harmonis dan terangkat derajatnya diketurunan karaeng.

“Faisal, kami tahu cinta tak bisa dipaksakan namun mencari pasangan hidup yang pantas, demi masa depanmu. Jangan sampai hari ini kamu membatalkan semuanya karena persiapan pernikahanmu tinggal beberapa hari. Hani apa yang kamu harapkan darinya?” Ujar sang ayah membuka dialog.

Faisal lebih memilih menunduk menurutnya seperti merantai hati saja. Sebuah perbudakan halus yang justru membuatnya  harus dalam keterpaksaan. Kini ia persis  sebatang jambu yang harus hidup di atas kobaran api. Disisi lain  tak ingin mengecewakan keluarga dan di sisi lain ia begitu takut kehilangan Hani. Apalagi Faisal sudah berikrar bahwa tahun depan mereka akan menuju ke pelaminan.

“Jika menurut kalian perkawinan ini adalah jalan yang terbaik untuk Faisal, insya Allah akan kuturuti.” ujar Faisal nada pasrah.

***

Hari ini adalah hari Kamis. Para undangan dituntun masuk  menikmati  hidangan  yang berjejer di atas meja, suara riuh yang menyebar sana-sini. Mereka terlihat bahagia sementara Faisal duduk kursi pelaminan persis patung yang ada di kuil. Hatinya terkoyak tak  ada pilihan lain, lagi-lagi tunduk pasrah menjalani takdir yang telah digariskan. Dini  terlihat sangat girang, senyum dirautnya tak pernah hilang sesekali melirik Faisal di sebelahnya. Sebuah cinta yang bertahun-tahun di jalani oleh Hani kini hanya semata cerita dongeng dan Faisal hanya bisa tertawa sakit bercampur kecewa.


Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni Mahasiswa Program Studi Manajemen Adminitrasi Obat dan Farmasi pada AMA Yogyakarta. Email: nurwahidah854@yahoo.com. FB : Idha Daeng Saleh

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website