Headlines News :
Home » , » Negeriku yang Terbakar

Negeriku yang Terbakar

Written By Pewarta News on Senin, 08 Februari 2016 | 11.13

Uswatun Hasanah.
PewartaNews.com – Di saat aku membuka mataku, dan mengharapkan kedamaian, di saat itulah aku selalu melihat kehancuran. Orang-orang miskin yang kelaparan, orang-orang kaya yang menghamburkan uang, pembunuhan dimana-mana, korupsi dimana-mana, dan peperangan dimana-mana.

Dimanakah aku harus melihat kedamaian, apakah masih ada kedamaian di dunia ini, apakah sulit untuk melakukan kedamaiaan sehingga harus melakukan peperangan, pembunuhan dan lain sebagainya. Apa gunanya polisi, tentara, UUD, kalau manusia selalu bersikap semaunya, dan main hakim sendiri.

Negriku sangat memprihatinkan, yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Keadilan hanya selalu berpihak pada orang yang berduit, dan keadian tidak berlaku pada orang miskin. Kasian sekali dirimu wahai orang miskin, apakah hidupmu di negeri yang tercinta ini akan selalu dihina, menjadi buruh pabrik, atau pembatu rumah tangga yang upahnya bahkan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Dimanakah pemerintah sekarang? Dimanakah petinggi-petinggi negara sekarang? Apakah kau pura-pura tidak melihat? Apakah kau tidak mendengar jeritan tangis mereka? Apakah kau selalu menutup matamu sehigga kau tidak melihat keadaan mereka, jika kau merasa dirimu seorang pemimpin yang berilmu, memiliki rasa solidaritas atau bersikap empati pada mereka, lakukanlah sesuatu yang membuat mereka tersenyum.

Aku sulit untuk tersenyum, melihatmu wahai bangsaku, seperti terbakar hangus dan hanya meninggalkan abu, aku selalu merasa tidak adil. Disaat aku menikmati hidup, makan yang enak, memakai mobil yang bermerek, berpakaian yang bagus, jalan-jalan ke mall tapi dibalik pintu mall aku selalu melihat kesedihan, wajah-wajah tua renta yang mengemis hanya untuk sesuap nasi, gadis-gadis belia yang terpaksa melakukan pekerjaan yang tidak sewajarnya hanya untuk mendapatkan duit yang tidak seberapa, anak-anak kecil yang menjadi pemulung, yang seharusnya bersekolah dan bermain bersama teman-teman seusianya. Tapi inilah yang terjadi, apakah masih ada keadilan untuk mereka?

Orang-orang miskin, siapa yang akan memperhatikan mereka? Siapa yang akan peduli pada mereka, apakah mereka hidup hanya untuk di jadikan babu orang-orang kaya, sangat menyedihkan.

Negeriku yang tak akan pernah abadi, mereka tidak pernah berpikir masa-masa yang akan datang, dan mereka selalu berpikir pada diri mereka sendiri, dan kepuasaan mereka sendiri tapi mereka tidak memikirkan bahwa mereka akan mati. Kekuasaan, kedudukan, kekayaan, dan glamornya dunia yang membutakan mata mereka, itu tidak akan di bawa keliang lahat mereka. Keegoisan yang membawa mereka dalam kehancuran.

Wahai generasi muda lihatlah dunia ini, lihatlah negeri tercinta ini, negeri yang selalu terancam akan kebakaran. Wahai Generasi-generasi yang beruntung yang tidak senasib seperti saudaramu yang miskin itu. Sekolahlah yang tinggi, perbanyaklah ilmumu dan jangan sia-siakan kesempatanmu, karena masih banyak orang-orang yang di luar sana yang ingin sepertimu, jadilah generasi yang jujur, genersi yang takut akan murka Allah, generarasi yang akan menjadi calon pemimpin negara yang jujur, pemimpin yang beragama, dan selalu memprihatikan rakyatnya.

Wahai generasi-generasi yang beruntung, mereka membutuhkanmu mereka mengharapkan pemimpin yang jujur, mereka ingin keluar dari kemiskinan, mereka ingin sepertimu hidup yang serba ada, hidup yang selalu diperhatikan.

Wahai generasi-generasi yang beruntung jadilah generasi yang jujur dan selalu memikirkan sesama, jangan ikuti jejak mereka, jangan ikuti keegoisan mereka, jangan ikuti ketakutan mereka, yang selalu dibeli dengan uang, dan jabatan dapat dibeli dengan uang, kekuasaan  dan semuannya serba uang, karena otak mereka hanya memikirkan uang dan diri mereka sendiri.

Jadilah generasi yang jujur dan berani, bukan generasi yang akan selalu mengalahkan api dan dan membakar negri ini, tapi jadilah generasi yang semangat  berapi-api untuk membasahi negri tercinta ini, agar tumbuh menjadi negeri yang subur dan ditumbuhi bibit-bibit yang unggul?
     

Yogyakarta, Selasa 06 Januari 2016
Penulis: Uswatun Hasanah

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website