Headlines News :
Home » , » Pendidikan Karakter atau Revolusi Mental?

Pendidikan Karakter atau Revolusi Mental?

Written By Pewarta News on Jumat, 05 Februari 2016 | 00.46

Syarif Aya La Abi.
PewartaNews.com – “Kesejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya”. Kata-kata itu diungkapkan Marcus Tulius Cicero (106-43 SM), cendekiawan Republik Roma, untuk mengingatkan semua warga kekaisaran Roma mengenai manfaat praktis kebajikan dalam kehidupan nyata. Sejarah peradaban di berbagai penjuru dunia membuktikan kebenaran ungkapan itu.

Kita ketahui, bangsa-bangsa yang memiliki karakter tangguh lazimnya tumbuh berkembang makin maju dan sejahtera. Contoh terkini, antara lain India, Cina, Brazil, dan Rusia. Sebaliknya, bangsa-bangsa yang lemah karakter umumnya justru kian terpuruk, misalnya, Yunani kontemporer serta sejumlah negara di Afrika dan Asia. Mereka menjadi bangsa yang nyaris tak punya kontribusi bermakna pada kemajuan dunia, bahkan menjadi negara gagal. Mengenai hal ini, sejarawan ternama, Arnold Toynbee, pernah mengungkapkan, “dari dua puluh satu peradaban dunia yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam” alias karena lemahnya karakter.

Demikianlah, karakter itu amat penting. Karakter lebih tinggi nilainya daripada intelektualitas. Stabilitas kehidupan kita tergantung pada karakter kita. Karena, karakter membuat orang mampu bertahan, memiliki stamina untuk tetap berjuang, dan sanggup mengatasi ketidakberuntungannya secara bermakna.

Para genius pendiri negara-bangsa Indonesia pun amat menyadari hal itu. Perhatikan, misalnya syair lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di dalam lirik lagu tersebut terlebih dulu ditandaskan perintah: “bangunlah jiwanya”, barulah kemudian “bangunlah badannya”. Perintah itu menghujamkan pesan bahwa membangun jiwa mesti lebih diutamakan daripada membangun badan; membangun karakter mesti lebih diperhatikan daripada sekadar membangun hal-hal fisik semata. Itulah kunci agar Indonesia berjaya.

Celakanya, sekian lama bangsa kita cenderung mengabaikan tugas maha penting itu. Alih-alih membangun karakter (Revolusi Mental), bangsa kita justru asyik melaksanakan model pembangunan yang lebih mengutamakan hal-hal fisik, seperti perkantoran mewah untuk para kepala daerah, pemukiman mahal, pusat-pusat bisnis, gedung-gedung bertingkat nan megah, jalan tol, pusat-pusat perbelanjaan, dan terutama mini market di seluruh penjuru negeri. Tugas membangun karakter cenderung terabaikan.

Akibatnya, perlahan tapi pasti, semua lini kehidupan bangsa kita pun mengalami kerusakan parah. Korupsi dan berbagai macam kejahatan merajalela. Kerusakan moral bangsa sudah dalam tahap sangat mencemaskan karena terjadi di hampir semua lini, baik di birokrasi pemerintahan, aparat penegak hukum, maupun masyarakat umum. Lalu relevannya dengan revolusi mental itu yang mana?

Karena itu, kinilah saatnya kita berupaya membangun karakter secara sungguh-sungguh. Pendidikan harus kita fugsikan sebagaimana mestinya, sebagai sarana terbaik untuk memicu kebangkitan dan menggerakkan zaman. Sekolah di seluruh penjuru negeri mesti bersama-sama menjadikan dirinya: sekolah karakter, tempat terbaik untuk menumbuh-kembangkan generasi tangguh, cerdas dan beradab.

Dimana posisi Revolusi Mental?


Penulis: 
Syarif Aya La Abi

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website