Headlines News :
Home » , , » Percikan Kisah bersama Tagari di Hari Peduli Sampah Nasional

Percikan Kisah bersama Tagari di Hari Peduli Sampah Nasional

Written By Pewarta News on Selasa, 23 Februari 2016 | 07.32

Anggota Tagari usai acara peringati Hari Peduli Sampah Nasional, 21 Februari 2016.
PewartaNews.com – Pagi yang cerah menyelimuti langit Yogyakarta, tepatnya hari minggu 21 Februari 2016 saat sang mentari baru saja menerangi kota yang biasa dikenal luas dengan kota Gudeg. Seperti biasa, malam minggunya akan selalu di selimuti malam romantis di tiap sudutnya. Wajar saja karena kota ini adalah salah satu tujuan pariwisata favorit bagi pelancong lokal dan internasional di Indonesia. Lalu lalang para pelancong tersebut tentu saja akan meningkatkan sumber pendapatan asli kota istimewa ini. Dan juga pendapatan penduduk lokal yang membuka berbagai macam usaha, seperti usaha kuliner, testil (khususnya batik), dan penginapan. Disisi lain, hal ini juga meningkatkan angka konsumsi yang tentunya akan sejalan dengan sampah yang dihasilkannya.

Melihat kondisi yang demikian, maka beberapa komunitas yang memiliki perhatian terhadap lingkungan hidup yang pada hari itu difokuskan untuk melakukan gerakan bebas sampah sebagai bagian untuk memperingati hari Peduli Sampah Nasional. Gerakan ini di lakukan secara serentak di 30 kota besar di Indonesia oleh komunitas Green Pack dengan mengundang secara terbuka baik komunitas yang memang memiliki perhatian khusus terhadap “sampah”, juga komunitas lainnya yang mau berpartisipasi. Untuk kota Yogyakarta di angkat tema “Bergerak Dari Jogja Untuk Indonesia” bebas sampah di tahun 2020. Undangan terbuka tersebut ternyata mendapatkan respon positif dari berbagai komunitas, termasuk diantaranya adalah komunitas Segenggam Mentari. Komunitas yang usianya seperti sinar mentari pagi hari itu. Di bentuk baru dua minggu sebelumnya tapi ingin langsung memberikan kontribusi yang bermanfaat. Salah satunya melalui kegiatan peduli sampah ini.

Ada delapan orang yang mewakili komunitas Segenggam Mentari pagi itu. Empat orang pria dan empat orang wanita. Saling menunggu di parkiran Mall Malioboro kemudian bersama-sama menuju Meeting Point. Tiba disana telah berkumpul berbagai komunitas yang masih berbincang-bincang ringan sembari menunggu panitia mengambil alih perhatian seluruh peserta kegiatan. Sepuluh menit berlalu, jam telah menunjukkan pukul 06.45 WIB saat panitia memulai pengarahannya. Seluruh peserta kemudian diminta berdiri sesuai dengan barisan yang telah tertuliskan nama koordinator yang telah diberitahukan melalui email sehari sebelumnya. Dilanjutkan dengan pembagian plastik yang warnanya akan menunjukkan jenis sampahnya. Warna putih untuk sampah plastik, hitam untuk sampah organik, dan ungu untuk jenis sampah lainnya.

Disana ada 18 kelompok yang terdiri dari antara 16 atau 17 peserta tiap kelompoknya. Masing-masing kelompok telah diberikan area yang harus dibersihkan, sebagai contoh kelompok dua bertanggung jawab untuk membersihkan sampah-sampah sepanjang jalan kawasan wisata Sosrowijian (Malioboro). Hanya butuh waktu 20 menit, peserta mulai terlihat menyekah keringat diwajah mereka. Namun hal itu terasa menyenangkan, terlihat dari senyum dan tawa mereka sepanjang jalan, mengumpulkan sampah. Beberapa peserta juga terlihat saling bersosialisasi, memperkanlkan diri dan komunitas mereka. Ada juga yang tampak antusias terus bertanya memperlihatkan ketertarikan bergabung dengan komunitas lawan bicaranya. Sesekali juga terlihat beberapa peserta  yang berbincang dengan penduduk yang bersemangat bertanya kenapa mereka melakukan kegiatan tersebut. Mendapatkan jawaban kemudian tersenyum ramah mengucapkan terima kasih.

Setelah hampir dua jam, semua kelompok kemudian kembali ke lokasi meeting poin. Mengumpulkan sampah diatas kendaraan sampah yang telah disediakan oleh panitia. Disusun sesuai dengan warna plastik. Untuk menutup acara itu, evaluasi dan sharing dilakukan antara seluruh peserta dengan panitia. Beberapa komunitas juga menyempatkan foto bersama. Kemudian beranjak pulang dengan harapan Indonesia bebas sampah pada tahun 2020.


Penulis: Akbar 
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada / salahsatu anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari).

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website