Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Tagari Mempersiapkan Diri ke Korea Selatan

    Suasana Sharing beasiswa ke Korea Selatan.
    Yogyakarta, Pewartanews.com – Salah satu kegiatan yang diikuti oleh teman-teman Tagari (Komunitas Segenggam Mentari) di akhir pekan yakni Minggu, 20 Maret 2016 dengan mengikuti diskusi tentang “Raih Impian Kuliah di Negeri Gingseng” yang di adakan oleh Ilmu Berbagi Foundation. Dari kegiatan sharing siang itu kita mendapatkan informasi yang berharga tentang seperti apa dan bagaimana agar bisa kuliah di negara yang terkenal dengan produk gadget SAMSUNG-nya. Tiket masuk acara pun sangat unik karena cukup menyumbangkan 1 buku jika termasuk buku baru dan 2 buku jika itu buku bekas. Sehingga siang itu kita dapat mendapatkan ilmu sekaligus tetep berbagai ilmu kepada teman-teman yang lain melalui buku yang disumbangkan tersebut.

    Sesi Diskusi siang itu menghadirkan 2 pembicara yang telah menyelesaikan studi masternya di universitas nasional yang ada di negeri dengan akses internet tercepat di dunia yakni Riscan Mafrur yang merupakan alumni sekaligus peraih Research Scholarship Chonnam National University yang saat ini bekerja sebagai Sofware Engineer di Kartoza dan Ahmad Nasikun yang merupakan alumni dan penerima KGSP (Korean Government Scholarschip Program) di Seoul National University yang saat ini berstatus sebagai dosen JTETI di Universitas Gadjah Mada.

    Sesuai pemaparan dari kedua narasumber diperoleh banyak sekali informasi baru dan menarik karena keduanya berasal dari universitas yang berbeda dan jenis beasiswanya pun berbeda. Misalnya Riscan yang kuliah di Chonnam National University menceritakan bahwa kebutuhan hidup jika tinggal di daerah Chonnam tidak semahal jika tinggal di ibu kota Seoul sebagaimana Nasikun yang kuliah di Seoul National University. Selain itu, profit dan tuntutan selama pendidikan jika menerima KGSP dan Research Scholarhip sangat jauh berbeda. KGSP itu merupakan beasiswa yang berasal dari pemerintah Korea Selatan sehingga penerima beasiswa ini harus mengikuti segala regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, misalnya diwajibkan mengikuti kelas budaya belajar Korea Selatan, mengikuti program belajar bahasa Korea selama 1 tahun sebelum memulai studi master selama 2 tahun sehingga Ahmad Nasikun menghabiskan waktu 3 tahun untuk menyelesaikan studinya, dan hasil studinya dipertanggung jawabkan ke pemerintah Korsel (Korea Selatan). Sedangkan jika kita merupakan penerima Research Scholarship maka sumber dananya resmi dari profesor yang memiliki banyak proyek, tidak mengikuti program belajar bahasa korea dan menurut Riscan, kita bisa meluangkan waktu lebih di laboratorium dibandingkan di kelas karena titik beratnya adalah melakukan berbagai penelitian dan mempublikasikannya dalam jurnal internasional.

    Perbedaan yang lain adalah mengenai besarnya tanggungan beasiswa. Jika menggunakan KGSP maka hampir seluruh aspek dibiayai mulai dari uang kuliah, uang bulanan, uang tesis dan segala keperluan lainnya. Dibandingkan tanggungan dari Research Scholarship mungkin tidak sebesar KGSP tetapi tetap mencukupi untuk segala keperluan di sana. Pemateri juga berbagi kepada kami bahwa jangan khawatir jika kuliah di Korea Selatan karena di sana ada PPI (Perkumpulan Pelajar Indonesia) Korea Selatan dan juga banyak TKI Indonesia yang bekerja di sana dan akses masjid atau musollah tetap bisa ditemukan.

    Selain bercerita nikmatnya kuliah di negeri Gingseng, mereka tentunya berbagi duka pun selama di sana. Menurut tuturan keduanya, makanan halal masih menjadi problem karena masih jarang ditemukan, maka solusinya adalah harus mandiri dengan memasak sendiri. Penyesuaian diri terhadap jadwal sholat pun harus dilakukan karena tiap berganti musim maka jadwal sholat pun berubah dan butuh stamina lebih untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan jika bertepatan dengan musim panas karena butuh waktu sekitar 14 jam untuk berpuasa. Diantara semua itu, perjuangan yang paling besar adalah menahan rindu kepada orang tua dan keluarga karena kita di sana kita berstatus sebagai perantau.

    Dengan segala kelebihan dan kekurangan kuliah di luar negeri termasuk di Korea Selatan, maka sebagai mahasiswa yang telah bertekad untuk menuntut ilmu nan jauh di sana harus mempersipakan diri dengan segala konsekuensi yang ada karena hidup itu tentang perjuangan. Jika ingin sukses maka harus ada proses yang di lalui. Dan ingatlah bahwa Proses Tidak Pernah Mengkhianati Hasil.


    Penulis: Mega Fia Lestari
    Anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

    Ilmu Berbagi Foundation dan ID Networkers Menyatu dalam Peresmian Rumah Komunitas

    Suasana peresmian Rumah Komunitas.
    Yogyakarta, Pewartanews.com – Sekelompok pemuda yang tergabung dalam IBF (Ilmu Berbagi Foundation) dan IDN (ID Networkers), pada hari Minggu (14/3) mengadakan peresmian Rumah Komunitas. Rumah yang terletak di Pogung ini merupakan rumah yang disewa sebagai hasil kolaborasi dari kedua institusi tersebut. Bangunan yang memiliki tiga ruang rapat serta sebuah ruang tamu yang cukup luas ini ditujukan untuk memfasilitasi komunitas atau institusi apapun untuk mengadakan kegiatan. Peresmian Rumah Komunitas dihadiri oleh beberapa orang warga sekitar serta tamu undangan lain. Dua di antara undangan yang menghadiri acara tersebut adalah perwakilan dari Komunitas Segenggam Mentari (Tagari Jogja), yaitu Henny Prasetyowati serta Eli Kumolosari.

    Pendiri IBF, Ardiansyah Ardi, peraih Kick Andy Hero Award 2016 memulai acara peresmian tersebut dengan mempresentasikan beberapa hal mengenai IBF. Salah satu hal yang dipaparkan dalam presentasi tersebut adalah mengenai program IBF yang salah satunya adalah beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu. Satu di antara beberapa lulusan dari beasiswa tersebut, Gilang, juga hadir dalam peresmian tersebut. Presentasi kedua dipaparkan oleh Andri sebagai perwakilan dari IDN.

    Dalam acara tersebut, pengelola Rumah Komunitas mendapatkan beberapa saran dari para perangkat RW, antara lain mengenai keamanan kendaraan, sampah, dan kerukunan antar warga. Puncak dari acara peresmian Rumah Komunitas ini ditandai dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Ardiansyah Ardi serta Ibu Indah Julianti atau yang biasa dipanggil Mak Ijul (Pembina IBF regional Jogja) yang kemudian diserahkan kepada Ketua RW dan RT setempat.

    Rumah Komunitas ini baru didirikan pada akhir tahun 2015 kemarin dan mulai ditempati diawal tahun 2016 dan Tagari Jogja merupakan komunitas Jogja pertama yang tergabung sebagai Mitra Rumah Komunitas. Sebelumnya, pada Jumat (4/3), perwakilan dari Tagari telah melakukan pertemuan dengan perwakilan dari IBF dan IDN untuk membahas rencana Tagari sebagai Mitra. Kedepan Rumah Komunitas akan menjadi tempat untuk Tagari Jogja dalam melakukan aktivitasnya seperti rapat koordinasi dan penyusunan acara untuk kegiatan social dari Tagari Jogja.


    Penulis: Eli Kumolosari
    Anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

    Tagari Dampingi SLB Bhakti Pertiwi sebagai Bentuk Pengabdian

    Anggota Tagari saat mendampingi siswa SLB.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Komunitas Segenggam Mentari (Tagari) Jogja atau yang biasa disebut Tagari Jogja pada hari Sabtu (5/3) mulai melakukan pendampingan pertamanya ke SLB (Sekolah Luar Biasa) yang ada di daerah Prambanan yaitu SLB Bhakti Pertiwi yang beralamat di Jl. Candi Boko KM. 3, Candirejo, Bokoharjo, Prambanan. Pendampingan ini mereka lakukan untuk berkenalan dengan adik-adik SLB dan pengajar disana, serta untuk mengetahui secara langsung bagaimana keadaan adik-adik SLB disana. Apa yang menjadi kegiatan mereka setiap harinya. Kegiatan yang mereka lakukan yang bukan hanya kegiatan belajar dikelas, tetapi juga kegiatan belajar diluar kelas.

    Anggota Tagari Jogja pada kedatangannya kali itu, yaitu mengikuti kegiatan adik-adik SLB pada pagi harinya yaitu kegiatan Pramuka. Sesuai dengan konsep yang dibawa oleh Tagari Jogja yaitu bukan hanya konsep mengajar dikelas dalam program pendampingan ini, namun juga proses interaksi bersama adik-adik SLB yang juga mereka lakukan. Hal ini bertujuan untuk melihat apasaja kelebihan-kelebihan dari adik-adik SLB Bhakti Pertiwi dan juga apa saja masalah mereka selama ini. Dan juga melatih anggota Tagari dalam berinteraksi dengan adik-adik SLB yang tidak biasa mereka lakukan sebelumnya.

    Kegiatan Tagari Jogja dalam pendampingan kali ini ditemani oleh salah seorang guru Pramuka. Tagari Jogja kemudian mengajak adik-adik bermain dan berinteraksi secara aktif. Seperti bermain tebak-tebakan dan juga mendengarkan salah satu siswa bernyanyi yang merupakan Juara III Provinsi dalam Lomba Menyanyi antar SLB atas nama Vina. Dalam kegiatan Pramuka kali itu dilakukan di lapangan tengah sekolah. Semua kelas ikut berpartisipasi dalam kegiatan Pramuka yang dimulai jam 7.30 sampai 09.00 dan selalu diadakan setiap hari Sabtu.

    Kegiatan Tagari Jogja bukan hanya bermain dengan adik-adik SLB Bhakti Pertiwi Unit I tetapi juga SLB Bhakti Pertiwi Unit II. Di Unit II ini lebih mengajarkan keterampilan adik-adik SLB dalam berkreasi. Bisa dikatakan bahwa Unit II adalah laboratorium mereka dalam belajar keterampilan seperti membatik, membuat keset, dan beternak ayam serta kegiatan-kegiatan yang lain. Laboratorium ini bertujuan untuki mengasah kemampuan dan keterampilan adik-adik SLB tingkat SMP dan SMA agar setelah mereka lulus dr sekolah, mereka memiliki keahlian kedepannya.


    Penulis: Henni Prasetyowati
    Ketua Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Angkat Sejarah Islam Dana Mbojo dalam Forum Diskusi

    Suasana saat Diskusi PUSMAJA.
    Yogyakarta, Pewartanews.com – Suasana indah menyelimuti kota gudeg Yogyakarta. Suasana tersebut juga mewarnai Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2015-2017 dalam Kajian Rutin pada Hari Kamis, 10 Maret 2016 jam 20.00-selesai di Aula Asrama Mahasiswa “Putra Abdul Kahir” Bima-Yogyakarta.

    Tema yang diangkat dalam pertemuan ilmiah ini yakni “Islam di Dana Mbojo”, dengan menghadirkan pemateri yang berkompeten didalamnya yakni, pemateri pertama disampaikan oleh Muhammad Al-Irsyad, S.K.M. (Koordinator Bidang Kajian dan Riset Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta). Pemateri kedua yakni saudara Yan Yanz Supriatman, S.Pd.I. (Koordinator Bidang Kerohanian Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta).

    Di sela-sela acara berlangsung, Ketua Umum  Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta saudara M. Jamil, S.H. mengatakan bahwasannya diskusi semacam ini perlu untuk dilakukan secara terus menerus agar kesadaran kita sebagai warga Mbojo terus terpacu untuk mengetahui dan memahami seutuhnya tentang Mbojo, “mari kita terus memacu semangat kita untuk mengetahui lebih jauh tentang identitas kita sebagai orang mbojo,” ucap M. Jamil, S.H.

    Pemateri pertama Koordinator Bidang Kajian dan Riset Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta saudara Muhammad Al-Irsyad, S.K.M. menyampaikan beberapa point penting terkait keislaman di Mbojo. “Agama lahir sebagai penyelaras hubungan manusia dengan manusia, dengan alam, dan dengan tuhan itu sendiri. Agama pada prinsip dapat digunakan untuk menjadi alat pemersatu sehingga problem yang ada dalam kehidupan masyarakat bisa terselasaikan dan diselaraskan. Bima dengan mayoritas  Islam harusnya bisa menciptakan kedamaiaan dan membawa kesejateraan bagi seluruh masyarakat. Agama harus mampu dijadikan sebagai fondasi terutama persoalan moral dan etika. Masyarakat harus mampu menjadikan agama sebagai pilar proses harmonisasi kehidupan masyarakat. Agama tidak boleh ditempatkan pada ruang yang hampa. Agama memiliki ruang yang luas.” Beber Muhammad Al-Irsyad, S.K.M. dalam pemaparannya.

    Sementara pemateri kedua, selaku Koordinator Bidang Kerohanian Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta saudara Yan Yanz Supriatman, S.Pd.I. memaparkan bahwasannya menelaah kembali kecerdasan dan kearifan lokal (local wisdom) yang mulai lemah dan tercabut dari akar budayanya oleh datangnya westernisani dan modernisasi di era globalisasi dewasa ini. Kita cenderung lupa dan meninggalkan warisan leluhur kita yang sangat berharga, sehingga kita tidak tahu lagi apa yang telah diwariskan oleh para leluhur kita dahulu. Padahal kita menikmati hidup sekarang berkat kerja keras yang dilakukan oleh para leluhur dan pelaku sejarah di masa lalu. “Kesadaran sejarah adalah cerminan dari kesadaran akan identitas dan nilai. Sadar sejarah berada, merupakan sadar bahwa kita adalah siapa, dari mana, dan untuk apa.” Cetus saudara Yan Yanz Supriatman, S.Pd.I. dalam pemaparannya.

    Antusias para peserta sangat diskusi sangat tinggi dan tidak bisa di elakkan, terbukti kurang lebih 50 orang peserta memadati ruang aula asrama, pesertanya yang terdiri dari berbagaimacam lembaga dibawah naungan KEPMA dan IKPM Dompu. Interaksi dua arah pun terjadi antara peserta dan pemateri.

    Pada kesempatan itu, hadir juga diantaranya Bendahara PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta saudari Erni Yustissiani, Ketua KEPMA Bima-Yogyakarta saudara Arif Rahman. [PewartaNews].

    Peristiwa Konami: Peringatan Tragedi Gerakan Mahasiswa Maret Tahun 2012

    Ilustrasi peristiwa Konami. Foto: itoday.co.id. 
    PewartaNews.com – Tulisan ini merupakan Catatan Penulis Sekaligus Pelaku Sejarah Berdarah Yang Berujung Di Jeruji Besi tepat pada  tanggal  29 Maret 2012. Saya bagian dari  53 mahasiswa dari Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) yang ditahan oleh kepolisian karena diangap dalang mengganggu keamanan Negara dan melanggar hukum, siksaan dan kekejaman seperti gagang senjata laras panjang, pukulan, tendangan yang sangat keras  mengarah keseluruh tubuh itu dilakukan aparat Negara terhadap mahasiswa yang ditahan seperti  tidak ada lagi keprimanusiaan dalam negara hukum ini dan pada saat BAP, kita tidak sama sekali didampingi oleh kuasa hukum sehingga intimidasi dan kekerasan terjadi. Berdarah, terluka. memar, sakit menjadi ingatan sejarah sampai hari ini begitu kejamnya Negara terhadap rakyatnya, dimana ada ribuan mahasiswa yang menginginkan perubahan lebih baik untuk bangsa Indonesia tercinta justru dianggap kriminal.

    Sekitar satu minggu kita ditahan di POLDA Metro Jaya, namun masih ada dua orang  mahasiswa yang tidak dibebaskan sampai menjalani persidangan sampai putusan pengadilan dengan 6 bulan penjara, namun pada saat itu akibat dari tekanan gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat menghasilkan kemenangan kecil dimana pada saat itu harga BBM tidak jadi di naikan dan pada saat itu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bergerak ke Jakarta. Ribuan mahasiswa masuk ke Jakarta saat, bersepakat untuk mengadakan Aksi menuntut Turunkan harga BBM dan SBY - Boediono serta adili seadil-adilnya dan cabut mandat DPR/MPR.

    Sebelum itu mahasiswa yang tergabung di konsolidasi mahasiswa nasional melakukakan aksi pada tanggal 27 Maret 2012 yang akan menduduki istana, karena istana telah diduduki oleh boneka imperialis dan kaum neolib, untuk itu konami akan menyelamatkan rakyat dan Negara dari ke zaliman tersebut. Namun sebelum masuk sudah dihadang barisan ribuan aparat dengan senjata lengkap didepan tugu monas, tak lama kemudian letupan senjata dilepaskan dari senjata aparat  dengan ribuan peluru terbang yang kurang lebih satu jengkal diatas kepala masa aksi dengan harapan dapat dibubarkan, namun tetap kita bertahan dan diserang mundur dengan melakukan segala perlawanan dengan segala keterbatasan yang dimiliki hingga masa aksi didorong di depan stasiun gambir dengan waktu sekitar 2 jam kawan-kawan bentrok dengan aparat, yang tak gentar dan tetap semangat perlawanan serta keyakinan perjuangan terus menyulut dalam teriakan lantang dengan segala konskwensinya.

    Menyulutnya tragedi gambir adalah Sejarah besar bagi Gerakan Mahasiswa dan rakyat pada tahun 2012, dimana semua basis-basis gerakan, mahasiswa, rakyat, buruh dan elemen lainnya menjadi satu dalam menyuarakan perlawanan terhadap pemerintahan SBY-Boediono saat itu. Bahkan disaat itu tak terelakan lagi konsolidasi dan aksi di setiap daerah-daerah dan tak ada henti-hentinya. Bersamaan pemerintahan SBY-BOEDIONO yang mengeluarkan rencana kebijakan kenaikan harga BBM. Konsolidasi dan aksipun mulai semakin rajin dilakukan mahasiswa di kampus di berbagai daerah di Indonesia. Kampus pun mulai menjadi basis perlawanan kembali saat itu.

    Empat tahun lalu dari rentetan tanggal 27- 29 maret 2012. Banyak cerita tentang air mata dan darah meyelimuti harapan, cita-cita, impian perubahan, menjadi satu tujuan yang mulia, kita sadar bahwa kaum intelektual memiliki peran penting dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab terhadap perubahan sosial dan mampu menjawab setiap tantangan zaman.

    Perjuangan tidak boleh berakhir jika penindasan dan ketidak adilan masih ada dibumi pertiwi ini segera tabuhlah genderang perlawanan ditengah teriakan lantang dan suara bergemuruh ditengah tangisan kemiskinan dan carut marutnya negri ini, bahwa perjuangan belum selesai maka jawabanya dimasing masing kita harus mengorganisir dengan membangun kekuatan dalam menyusun barisan masa untuk berkonsolidasi dimana mahasiswa dari berbagai kampus, berbagai almamater bergandeng tangan, memancangkan bendera perlawanan, mengibarkan panji kebenaran,bahwa setiap masa memilki sejarahnya sendiri.


    Penulis: Sugiarto, S.H.
    Pengacara Publik di Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

    Biografi Lengkap Syaikh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-jawi

    Muhammad Faisal (Penulis). 
    Syaikh Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail bin abdul Karim Al-Bimawi Al-Jawi atau yang kerap disebut Al-Bimawi saja, adalah seorang Ulama besar yang sangat masyhur di dunia Islam pada paruh abad ke-19. Keluasan ilmunya menyebabkan beliau diangkat menjadi seorang ulama pengajar di Madrasah Haramayn, Makkah. Beliau menjadi tempat berguru banyak ulama yang datang ke Madrasah Haramayn. Jika kita melacak garis genealogi atau hubungan kekerabatan intelektual Abdul Ghani dengan ulama-ulama di Indonesia kira-kira pertengahan abad ke-19, Abdul Ghani tergolong salah satu moyang ulama Nusantara.

    Syaikh Abdul Ghani lahir di paruh terakhir abad ke-18 kira-kira tahun 1780 M di Bima, Nusa Tenggara Barat. Tidak ada catatan pasti mengenai kapan hari lahir Syaikh Abdul Ghani. Yang jelas beliau berasal dari lingkungan keluarga ulama yang memiliki kegandrungan tinggi dalam mengkaji Al-Qur’an. Orang tua Abdul Ghani adalah seorang ulama hafidz Al-Qur’an.

    Kakek buyut Syaikh Abdul Ghani bernama Abdul karim, seorang da’i asal Makkah kelahiran Baghdad. Konon Abdul Karim sampai ke Indonesia pertama kali menuju Banten, untuk mencari saudaranya. Dari Banten, Abdul Karim mendapat informasi bahwa saudaranya itu ada di Sumbawa. Pergilah ia ke sana dan sampai di Dompu. Seraya berdagang tembakau, Abdul Karim menyiarkan Islam. Hal itu menarik perhatian Sultan Dompu, lalu beliau diambil menjadi menantu. Dari pernikahan dengan puteri Sultan Dompu itu, Abdul Karim mendapat anak laki-laki bernama Ismail. Ismail pun mengikuti jejak ayahnya menjadi mubaligh. Ismail kemudian menikah dan mempunyai anak bernama Subuh.

    Syaikh Subuh bin Ismail bin abdul Karim sejak muda sudah hafal Al-Qur’an. Ia kemudian mengembara ke timur kea arah teluk Bima, wilayah kekuasaan Kesultanan Bima. Kehebatan ilmunya membuat Sultan Alauddin Muhammad Syah (1731-1743) yang menjadi penguasa Kesultanan Bima saat itu mengundangnya ke istana. Beliau didaulat menjadi imam kesultanan. Menulis Al-Qur’an  Mushaf Bima adalah prestasi luar biasa ulama ini. Mushaf yang beliau tulis diberi julukan La Lino, yang berarti melimpah ruah atau menyeluruh (Arab: Asy Syamil).

    Karyanya itu menjadi satu-satunya Al-Qur’an Mushaf Bima. Kitab tersebut dulunya tersimpan di kediaman keluarga sultan di Bima dan sekarang tersimpan di Museum Al-Qur’an Jakarta, dan pada tahun 2012 mendapat penghargaan sebagai mushaf Al-Qur’an terbaik dan terindah yang diselenggarakan di Yogyakarta dan menarik sekian banyak pengunjung yang hadir menyaksikannya. La Lino juga termasuk salah satu mushaf tertua di Indonesia.

    Dalam pengembaraannya ke teluk Bima, Syaikh Subuh sempat menikahi seorang gadis dari Kampo Sarita, Donggo (sekarang masuk wilayah Desa Sarita, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima). Dari pernikahan itu lahirlah Abdul Ghani.

    Abdul Ghani kecil melawat ke Makkah dan belajar dari para ulama di sana seperti Al-‘Allamah As-Sayyid Muhammad Al-Marzuqi dan saudaranya, Sayyid Ahmaq Al-Marzuqi -penulis ‘Aqidatul ‘Awwam-, Muhammad Sa’id Al-Qudsi -mufti madzhab syafi’i-, dan Al-‘Allamah ‘Utsman Ad-Dimyathi. Syaikh Abdul Ghani banyak mengambil faidah dari para ulama ini. Sebagaimana yang dicatat oleh Khairuddin Az-Zirikli dalam kamus tarajimnya, Al-A’lam.

    Nama Abdul Ghani sangat masyhur di dunia Islam pada paruh abad ke-19. Keluasan ilmunya menyebabkan beliau menjadi tempat berguru banyak ulama yang datang ke Madrasah Haramayn, Mekah. Termasuk di antaranya banyak ulama dari tanah Jawi (sebutan orang Arab untuk Nusantara waktu itu). Sebagaimana dicatat oleh Khairuddin Az-Zirikli, Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Bimawi telah ‘meluluskan’ mayoritas ulama Jawa seperti Syaikh Ahmad Khathib bin ‘Abdul Ghaffar As-Sambasi; Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani, pemilik karya-karya ilmiah seperti Tafsir Muroh Labid / At-Tafsir Al-Munir li Ma’alimit Tanzil, yang juga pendapat anugrah berupa gelar ‘Sayyid Ulamail Hijaz’ dari Negeri Timur. Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani, atau Syaikh An-Nawawi Al-Bantani adalah guru dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, TGH. Zainuddin Abdul Majid pendiri Nahdlatul Wathan di Lombok, Syaikh Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta, Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Kyai Agung Asnawi dari Banten, Abuya Dimyati dari Banten, Syaikh Mubarok bin Nuh Muhammad dari Tasikmalaya, KH. Abdul Karim dari Kediri, KH. Muhammad falak dari Bogor, dll. Syaikh Abdul Ghani senantiasa menyibukkan diri dengan mengajar, ibadah & menulis.

    Syaikh Abdul Ghani sempat “pulang kampung” ke Dompu pada tahun 1857 di masa pemerintahan Sultan Salahuddin[1] yang bergelar Mawa’a Adi (Sang Pembawa Keadilan) dan tinggal beberapa waktu. Beliau sempat membangun sebuah masjid yang kemudian diberi nama Masjid Syekh Abdul Ghani sesuai namanya. Masjid yang merupakan Masjid Kesultanan ini berlokasi di Kampo Sigi (sekarang Lingkungan Sigi, Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu).[2] Masjid ini beratap susun tiga yang merupakan corak bangunan dari pengaruh Hindu. Dindingnya terbuat dari kayu jati dan lantainya dari batu. Masjid ini terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu hingga dibongkar pada tahun 1962. Dan saat ini di atasnya berdiri kantor Kelurahan Karijawa. Menurut hasil survey Tim Survey Kepurbakalaan Depdikbud yang meneliti puing-puing bangunan itu pada tahun 1974, luas bangunan masjid ini adalah 25×15 m. Lantainya terbuat dari tegel batu dengan panjang 54 cm, lebar 48 cm dan tebal 3,5 cm. Dindingnya terbuat dari batu bata merah dengan lebar 26 cm dan tebal 8 cm.[3]

    Menurut Syaikh Mahdali cucu beliau, dalam sebuah wawancara di tahun 1985, Syaikh Abdul Ghani sempat diangkat menjadi Qadhi Kesultanan Dompu oleh Sultan Dompu. Sultan Dompu menghadiahkan kepada beliau 57 petak sawah di So Ja’do.[4] Di sinilah beliau mendirikan sebuah masjid dan pesantren yang ramai didatangi penuntut ilmu dari Dompu, Bima dan Sumbawa.[5] Namun saat ini masjid dan pesantren itu sudah tidak ada lagi.

    Setelah beberapa lama tinggal di Dompu, beliau kemudian kembali ke Makkah. Sayangnya Syaikh Abdul Ghani tidak terlalu banyak meninggalkan catatan dalam sejarahnya. Beliau wafat di Mekah pada tahun 1270-an H atau pada dasawarsa terakhir abad ke-19 M dan dimakamkan di Ma’la.

    Di Dompu, keturunan Abdul Karim sangat dihormati. Mereka dipanggil Ruma Sehe. Ruma adalah sebuah kata bermakna plural yang dapat berarti pemilik (owner), Tuhan (God), atau tuan (mister). Sedangkan Sehe adalah kata serapan dari kata dalam Bahasa Arab, Syaikh yang bermakna kakek atau orang yang sudah tua. Di dalam khasanah Islam kata Syaikh kemudian menjadi gelar bagi seorang ulama yang sangat tinggi ilmu agamanya. Ruma Sehe dapat berarti Tuan Syekh atau Gusti Syekh. Ruma adalah sebutan bagi para Raja di Dompu dan keturunannya. Setara dengan sebutan Gusti bagi raja di Jawa. Sedangkan Syaikh Abdul Ghani adalah keturunan dari Abdul karim dengan seorang puteri Sultan Dompu.

    Syaikh Abdul Ghani memiliki seorang anak di Dompu bernama Syaikh Mansyur. Beliaulah yang menggantikan Syaikh Abdul Ghani menjadi Qadhi Kesultanan Dompu dan mewarisi 57 petak sawah di So Ja’do. Di tempat tersebutlah Syaikh Mansyur menetap dan menjadikannya sebagai pusat dakwah. Oleh karena itu beliau lebih dikenal dengan nama Sehe Ja’do. So berarti padang atau areal. Ja’do adalah nama sebuah areal pertanian yang terdiri atas areal bukit dan persawahan yang sangat subur dengan irigasi yang memadai. Saat ini So Ja’do masuk dalam wilayah Kelurahan Bali Satu. Terletak di sebelah utara jalan lintas luar Dompu dari pom bensin Karijawa sampai cabang Sawete.

    Syaikh Muhammad dan Syaikh Mahdali (Sehe Boe) adalah dua orang anak dari Syaikh Mansyur sekaligus cucu dari Syaikh Abdul Ghani Al-Bimawi. Syaikh Mahdali atau di Dompu lebih akrab dipanggil Sehe Boe sempat menjadi Qadhi Kesultanan Dompu di masa-masa akhir Kesultanan Dompu. Setelah Kesultanan Dihapuskan, beliau menghabiskan sisa-sisa umurnya dengan mendekatkan diri pada Allah di tempat tinggalnya Kampo Lapadi (sekarang Desa Lepadi) sampai beliau berpulang ke hadirat Allah SWT.


    Catatan Kaki:

    [1] Ridwan, 1985: hal. 37

    [2] RM. Agus Suryanto, wawancara dengan H.M. Yahya (71), tokoh masyarakat Dompu di Potu thn 2009.

    [3] Ridwan, 1985: hal. 59

    [4] Ibidem: hal. 37

    [5] Ibidem: hal. 63



    Penulis: Muhammad Faisal

    Sumber: mumaseo

    Setiap Amal Pasti Akan Dibalas

    Graha Pencerah Jiwa.
    PewartaNews.com – Saudaraku, setiap amal perbuatan manusia pasti akan dibalas. Dan Alloh selalu punya cara untuk membalas perbuatan hamba-Nya.

    Alloh akan membalas setiap amal kebaikan hamba-Nya.
    Dan Alloh juga akan membalas setiap amal kejahatan hamba-Nya.

    - Alloh selalu punya cara dalam membalas amal hamba-Nya.
    Ada orang, berbuat baik pada orang timur.
    Dan orang timur juga yang membalas kebaikannya.
    Tapi kadang orang barat yang membalas kebaikannya.
    Alloh menggerakkan hati orang barat untuk membalasnya.
    Padahal orang barat tidak merasakan kebaikannya.
    - Alloh selalu punya cara dalam membalas amal hamba-Nya.
    Ada orang, berbuat jahat pada orang utara.
    Dan orang utara juga yang membalas kejahatannya.
    Tapi kadang orang selatan yang membalas kejahatannya.
    Alloh menggerakkan hati orang selatan untuk membalasnya.
    Padahal orang selatan tidak merasakan kejalimannya.

    Orang baik, orang yang selalu berbuat baik, hatinya selalu tenang.
    Dimanapun mereka berada, hatinya selalu tenang.
    Karena hampir semua orang berlaku baik padanya.
    Sebagai buah dari tanaman amal kebaikannya.
    Orang jahat, orang yang selalu berbuat jahat, hatinya selalu risau.
    Dimanapun mereka berada, hatinya selalu risau, tidak nyaman.
    Karena hampir semua orang berlaku kasar dan jahat padanya.
    Sebagai buah dari tanaman amal kejahatannya.

    Renungan:
    Jured adalah seorang guru ngaji. Dia durhaka menyakiti hati ibunya. Ibunya tidak kuasa membalas sakit hatinya. Karena Jured anaknya sendiri. Suatu saat Jured dipukuli orang sekampung dituduh menghamili seorang janda. Itu cara Alloh membalas Jured.

    (Graha Pencerah Jiwa, Rabu, 10/02/2016, Abah, Sebarkan)


    Doddy Forever 91, share via WhatsApp

    Syekh Mahdali (Sehe Boe) dari Kapubaten Dompu, NTB

    Syekh Mahdali Bin Syekh Mansyur.
    PewartaNews.com – Nama lengkap beliau adalah Syekh Mahdali Bin Syekh Mansyur. Lahir di Dompu pada tahun 1893. Ayahnya adalah Syaikh Mansyur, ulama kharismatik di Dompu dan Bima antara abad XVIII –XIX. Ibunya bernama Siti Khadijah, masihlah keturunan bangsawan Dompu. Syekh Mahdali adalah keturunan dari Syaikh Abdul Karim, salah satu ulama dari Timur tengah yang menyebarkan Islam di Dompu dengan istrinya seorang bangsawan Dompu. Syekh Mahdali adalah cucu dari Ulama terkenal asal Nusantara yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram, yakni Syaikh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi. Beliau adalah anak kelima dari tujuh bersaudara.

    Di Dompu, keturunan Syaikh Abdul Karim sangat dihormati. Mereka dipanggil Ruma Sehe. Ruma adalah sebuah kata bermakna plural yang dapat berarti pemilik (owner), Tuhan (God), atau tuan (master). Sedangkan Sehe adalah kata serapan dari kata dalam Bahasa Arab, Syaikh yang bermakna kakek atau orang yang sudah tua. Di dalam khasanah Islam kata Syaikh kemudian menjadi gelar bagi seorang ulama yang sangat tinggi ilmu agamanya. Ruma Sehe dapat berarti Tuan Syekh atau Gusti Syekh. Ruma adalah sebutan bagi para Raja di Dompu dan keturunannya. Setara dengan sebutan Gusti bagi raja di Jawa. Sedangkan Syaikh Abdul Ghani adalah keturunan dari Abdul karim dengan seorang puteri Sultan Dompu.

    Syekh Mahdali di Dompu dijuluki dengan sebutan Sehe ‘Boe di kalangan Masyarakat. Kata ‘Boe berasal dari kata ka’boe dalam bahasa orang Dompu yang berarti kacang hijau. Ini karena Syaikh Mahdali selama hidupnya berhasil memotivasi para petani di Dompu untuk menanam kacang hijau. Bahkan berkat kesuksesan beliau menjadi motivator di kalangan petani dan masyarakat Dompu umumnya, tahun 1980-an Pemda Dompu pernah mengusulkan agar beliau mendapat Penghargaan Kalpataru. Namun beliau menolak menerima penghargaan tersebut. Sebab beliau tidak ingin terjebak dalam riya, yakni mengharap pujian mahluk dan bukan mengharap pahala dan surga dari Allah. Beliau hanya ingin mendatkan balasan dari Allah. Itulah Ilmu ikhlas. Beliau hanya ingin contoh beliau itu diikuti dan dicontoh oleh orang banyak.Berbuat bukan agar dipilih dalam Pilkada atau agar menjadi anggota dewan, namun semata-mata karena perintah Allah. Tak penting terkenal di mata penduduk dunia. Yang penting adalah seperti Uwais Al Qarny yang terkenal di kalangan penduduk langit. Dia ikhlas beramal.

    Ulama besar Syaikh Abdul Ghani Al Bimawi, ia memiliki seorang anak di Dompu bernama Syaikh Mansyur. Beliaulah yang menggantikan Syaikh Abdul Ghani menjadi Qadhi Kesultanan Dompu dan mewarisi 57 petak sawah di So Ja’do. Di tempat tersebutlah Syaikh Mansyur menetap dan menjadikannya sebagai pusat dakwah. Oleh karena itu beliau lebih dikenal dengan nama Sehe Ja’do. So berarti padang atau areal. Ja’do adalah nama sebuah areal pertanian yang terdiri atas areal bukit dan persawahan yang sangat subur dengan irigasi yang memadai. Saat ini So Ja’do masuk dalam wilayah Kelurahan Bali Satu. Terletak di sebelah utara jalan lintas luar Dompu dari pom bensin Karijawa sampai cabang Sawete.

    Syekh Mahdali telah hidup melewati berbagai masa yakni masa Kesultanan Dompo (masa penjajahan Belanda, Masa pendudukan Jepang) dan masa Republik Indonesia (Masa Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru). Beliau sempat menjadi Qadhi Kesultanan Dompu di masa-masa akhir Kesultanan Dompu. Setelah Kesultanan Dihapuskan, beliau menghabiskan sisa-sisa umurnya dengan mendekatkan diri pada Allah di tempat tinggalnya Desa Kareke sampai beliau berpulang ke hadirat Allah SWT di usia 105 tahun pada tahun 1998.

    Syekh Mahdali adalah salah satu ulama Bima dan Dompu yang turut berperan dalam misi dakwah dalam rangka pengislaman masyarakat Etnis Donggo. Sebuah daerah pegunungan di sebelah barat teluk Bima yang dihuni oleh penduduk asli Bima. Pada masa penjajahan Belanda hingga masa proklamasi kemerdekaan masyarakat Donggo masih memegang teguh ajaran animisme/dinamisme dan sebagian memeluk agama Kristen akibat misionaris Belanda. Perjalanan dakwah beliau dan ulama lainnya di Donggo tidaklah gampang. Beliau kk harus berhadapan dengan para pemuka adat dan tokoh agama Donggo kala itu yang menentang ajaran Islam. Namun berkat kegigihan dakwah beliau dan ulama-ulama Bima-Dompu lain, Donggo berhasil diislamkan.

    Salah satu contoh dari beliau dalam berpegang teguh kepada ajaran Islam adalah beliau menghindari bersalaman dengan Jamaah wanita yang mengikuti pengajiannya kecuali dengan membalut tangannya dengan sorban. Beliau telah meninggalkan banyak ajaran sakral yang hari ini harus direnungi kembali oleh generasi muda Dompu. Beliau telah mengajarkan Islam, Syariat Islam. (MF)


    Sumber: kambalidompumantoi

    Doa, Memohon atau Memaksa

    Graha Pencerah Jiwa.
    PewartaNews.com – Anakku, berdoalah pada Alloh, pasti akan Alloh kabulkan. Berdoalah pada Alloh dengan santun dan merendahkan diri.

    Ud’uny astajib lakum.
    Berdoalah, pasti akan Aku kabulkan, kata Alloh. (ayat).
    Ud’u robbakum tadorru’an wa khufyah.
    Berdoalah pada tuhanmu dengan santun dan rendah diri. (ayat)

    Berdoa itu memohon.
    Seorang hamba memohon pada tuhannya.
    Berdoa itu mengharap.
    Seorang hamba berharap pada tuhannya.
    Yang memohon dan berharap adalah hamba yang lemah.
    Tumpuan harapan dan permohonan adalah Rob maha perkasa.
    Dan doa pasti akan terkabul.

    Doa itu tidak minta cepat-cepat.
    Doa itu tidak memerintah.
    Doa itu tidak memaksa.
    Doa itu tidak mengatur.
    Tidak ada kuasa manusia untuk memerintah tuhan.
    Tidak ada kekuatan manusia untuk memaksa tuhan.
    Tidak ada kemampuan manusia untuk mengatur tuhan.
    Dan doa seperti ini pasti akan tertolak.

    Alloh pasti akan kabulkan permohanan hamba,
    selama mereka tidak bilang cepat-cepat. (hadis).

    Renungan:
    Abu Bakar As Sidiq berdoa pada Alloh, Ya Robby, jangan cepat-cepat Kau kabulkan doaku ini. Kemesraan hatiku bersama-Mu dikala aku berdoa lebih aku sukai daripada pengabulan doaku. Abu Bakar lebih menikmati kemesraan daripada pengabulan doanya.
    (Graha Pencerah Jiwa, Selasa, 09/02/2016, Abah, Sebarkan)

    Doddy Forever 91, share via WhatsApp

    Sejumlah Aktivis Yogyakarta Gelar Dialog Strategi Hukum dan Politik dalam Rangka Nasionalisasi Friport

    Yogyakarta, Pewartanews.com – Persoalan di negeri tercinta Indonesia kerap silih ganti bermunculan. Dari semua persoalan-persoalan, pasti upaya penyelesaian pun silih berganti bermunculan, entah itu dari masyarakat biasa, pemerintan, bahkan aktifis pun hadir dalam upaya penyelesain itu. Begitu pun yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa Yogyakarta yang tergabung dalam Tim Pukul Mundur Freeport, Gelar acara diskusi publik edisi ke 2, kali ini tim mengusung tema “Strategi Hukum dan Politik dalam rangka Nasionalisasi Freeport untuk Kesejahteraan Rakyat.

    "Diskusi Edisi ke-2 ini merupakan komitmen bagi tim Pukul Mundur Freeport untuk melakukan gerakan jangka panjang dalam rangka Nasionalisasi Freeport," Jelas Abdullah, S.Kom.I. (Anggota Tim Divisi komunikasi Publik) yang menjadi ketua tim pelaksana acara tersebut, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jum’at (18/03/16).

    Ratusan peserta organisasi kemahasiswaan dan LSM yang ada di Yogyakarta tersebut, menghadirkan, Dr. Ahmad Redi, S.H, M.H. (Dosen FH Universitas Tarumanegara) dan Sugiarto, S.H. (Advokat Publik). Sabagai narasumber.

    Dalam kesempatan itu, Dr. Ahmad Redi, S.H, M.H menyampaikan bahwa, Momentum berahirnya Kontrak Karya Freeport Indonesia pada tahun 2021 harus dimanfaatkan oleh Republik Indonesia dengan membuat regulasi yang menguntungkan dan berpihak pada kepentingan rakyat.

    "Pemerintah harus memiliki sikap yang tegas terkait banyaknya ketidak patuhan Freeport Indonesia kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, contoh paling jelas adalah ketidak patuhan Freeport terhadap UU Minerba/2009 dalam hal semelter,"Jelasnya.

    Selain itu, Sugiarto, S.H. (Advokat Publik) yang menjadi narasumber ke-2 dalam acara tersebut menjelaskan bahwa, Pemerintah harus konsisten dalam menerapkan prinsip hukum ketatanegaraan, kaitannya dengan sentralisasi dan de-sentralisasi. Pada saat ini, Indonesia telah bersepakat dengan desentralisasi, yaitu memberikan kekuasaan lebih besar kepada daerah dalam langkah-langkah pembangunan, termasuk pertambangan.

    "Salah satu bentuk komitmen de-sentralisasi adalah tidak ada logika Kontrak Karya dalam pertambangan, yang ada ialah permohonan ijin kepada daerah. Keberadaan Kontrak Karya Freeport merupakan bentuk ketidak konsistenan pemerintah dalam prinsip de-sentralisasi kekuasaan karena secara langsung mereduksi wewenang daerah," tuturnya.

    Lanjut Sugiarto menjelaskan, Perjuangan nasionalisasi aset, khususnya Freeport, dapat dijalankan dengan dua jalur yang biasa ditempuh dalam dunia advokasi, yaitu litigasi dan non litigasi.

    "Jalur litigasi dapat ditempuh dengan mengajukan gugatan kepada pengadilan terkait pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pemerintah, bisa atas menteri terkait bahkan atas presiden sekalipun (dengan logika menteri adalah pembantu Presiden, apa yang dilakukan menteri bisa dianggap sebagai “kelakukan” presiden). Jalur non litigasi dapat ditempuh dengan melakukan konsolidasi dengan elemen-elemen masyarakat lain yang se-visi dengan gerakan nasionalisasi aset Freeport," pungkasnya, (PewartaNews)

    Mengejar Bayangan

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Apalah arti sebuah perasaan yang melingkupi hati ini, semakin mencoba untuk disingkirkan semakin terasa sakit dan tak karuan.

    Dia Budiarti namaku kebiasaan buruk  duduk terdiam lalu berhayal  dalam  keheningan, sebuah  warung makan padang. Tiba-tiba sebuah konsentrasi buyar seketika,  ketika serombongan manusia  yang lewat di depan warung,  canda tawa mencairkan suasana. Saat  itu  aku tertuju pada seorang  cowok  yang memakai  baju coklat bertuliskan 1 love Islam.  Dengan senyum yang bertengger  di  bibir tipisnya.  Kami  bertatapan  sejenak, lalu berlalulah cowok  itu.  Aku  yang dari tadi mengangah langsung bangkit  mengupas senyum. Hal yang kurasakan nyata dan perasaan   aneh seketika.

    Hari berganti dengan minggu, senyuman  cowok itu terus membayangi  langkahku.   Sesuatu hal yang tidak dapat dilukiskan namun, nyata  apakah itu yang dinamakan jatuh cinta?  ”Assalamualaikum, maaf menganggu salam kenal iya. Ahmad” kaget seketika membaca es-em-es darinya. Tentu aku sangat bahagia.

    Saat itu  Ahmad mengajak   ke Indomart.  Tanpa menolak  aku   segera   bersiap-siap lalu mencari busana terbaikku yang pernah kumiliki..

    “Aku sudah depan kosmu, kutunggu  di depan.”pesan  Ahmad  datar.
     “Iya.” Balasku  singkat.

    Tiga  puluh menit Ahmad  berdiri di sebelah pohon tomat. Sepertinya lelah menunggu aku bisa melihat lekuk tubuhnya di balik tirai kamar. Usai memakai gengcu, aku melangkah cepat dan menghampirinya.  Ahmad memutar badan “Subhanallah, cantiknya.” Ucapnya.  Baju gamis merah, hijab menutupi dada dibilang  cantik? Busana yang kupake  jarang sekali di minati  perempuan  zaman sekarang,  karena busana tersebut terlihat  agak  kampungan. Ya, persis orang kampung. Jika dinilai dari kasat mata. Aku  mulai tertawa  lepas, memamerkan  gingsul semoga  ia tambah terpikat  denganku.

    Saat itu kami menuju Indomart. Di persimpangan jalan Ahmad pun   menceritakan  pengalaman dan hobbi-nya. Aku   persis  budak,   hanya mengangguk dan senyum hangat  yang kulemparkan untuknya. Sesampai di Indomart kami  cuci mata lalu pulang.

    Hari ini hari rabu tanggal 09  November  2014 adalah hari ini aku menginjak usia 19 tahun . Ahmad  tak  memberikan suatu  kado untukku, hanya saja   mengajak   ke alun-alun selatan. Sampai di alun-alun kami duduk di sebelah becak. Ia pun duduk mengunyah permen.  Sesekali melirikku.

    “Ada yang ingin  kusampaikan.”  Ahmad membuka dialog, wajahnya penuh keringat.
    “Hmm apa itu?“ aku  lebih antusias.
    “Kamu tahu ta’aruf?” Ahmad  mengangkat alis kiri.
    Aku hanya mengangguk, menelan ludah.

    “Aku ingin kita saling mengenal.” Desah  Ahmad  masih mengangkat alis.

    Harapan  yang kutunggu-tunggu  selama ini, tak kungjung terungkap.  Mungkin berawal dari sini suatu saat  mengucap suka. Tiba-tiba kuingat cerita  Dewi dengan Mustakim salah satu mahasiswa UAD Yogyakarta. Mereka hanya saling mengenal  kurang lebih satu tahun, bahkan Mustakim datang ke rumah Dewi dan membuktikan keseriusannya di depan orang tua Dewi. Satu minggu  sebelum resepsi pernikahan tiba-tiba Mustakim menghilang entah ke mana. Dan  Dewi yang kuanggap sahabatku, depresi lalu bunuh diri. Dari kisah seorang sahabat membuat aku tak bisa mengiyakan permintaan  Ahmad, akan kukubur perasaan yang tak pantas dipelihara. Tapi,  setidaknya aku bangga karena menemukan seseorang yang terkenal di kampus,  ganteng dan ketua BEM.  Aghh apa yang harus kulakukan? Tak bisa mengatakan tidak jika hati   mulai terpikat dengannya. Akan kucoba menjalani semoga kisahku dengan  sahabat tidaklah sama.

    ***

    Tiga minggu telah berlalu kami hanya menghabiskan waktu di telefon, jarang sekali jumpa. Mungkin pengaruh ini  awan hitam mulai menyambar, Ahmad  mulai menghilang  diajak ketemuan pun sangat susah. Dia sangat sibuk dengan Organisasi.  Bahkan kabarnya   tak ada lagi.

    Hari ini aku berangkat ke kampus lalu melirik ke ruang  BEM. Bola mataku segera copot,  seseorang  yang selama ini kupercaya dan  kenyataannya yang kulihat sekarang. Dia tampak bahagia, tangan kirinya di sentuh beberapa perempuan diseblahnya. Aku berhenti melangkah hanya bisa memotret dari kejauhan. Mencoba menghubungi namun, tak ada jawaban.

    Hingga pada ahirnya aku sadar, selama ini hanya berhadapan   dengan sebuah bayangan dan harapan palsu.   Aku bisa melihat bayangan itu  namun  tak bisa maraih. Telah mencoba untuk mengejar bayangan    semakin kukejar  semakin menjauh. Keputusasaan  datang bertengger di jiwa  lalu  berbalik arah. Entah  kebetulan atau tidak? ketika aku mememutar arah bayangan itu justru  kembali  terbalik mengejarku

    “Haruskah aku kembali mengejar bayangan itu?” Pertanyaan yang melintas dalam benakku.  Namun  kumemilih untuk tetap berjalan  dan memeras ingus di jilbab biru yang kupake. Biarlah kurasakan perasaan yang sakit, bagiku kehadirannya hanya bisa  kurasakan namun,  tak bisa  kuraih seutuhnya  dan aku tak  mau bayangan itu ada.

    Pagar kosan sudah terlihat di depanku.  Melangkah cepat, tanpa kembali menoleh pada bayangan.  Itulah hidup penuh dengan pilihan, dan aku  kembali  memilih kehidupan seperti sedia kala, sementara bayangan itu akan terus menjadi  bayangan yang hanya  bisa kulihat.

    Kembali bangkit dan membuka lembaran  baru. Selamat tinggal bayangan semu, aku mengikhlaskanmu, dengan kesibukanmu di Organisasi.  Aku percaya kelak saat kau memang ditakdirkan bukan hanya untuk  menjadi bayanganku,  kau akan datang dan mengenggam tanganku, di saat itulah aku akan melihatmu dan menyapamu dengan penuh kasih.  


    Yogyakarta 23 Agustus 2015

    Penulis:  Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta. Email: Nurwahidah854@yahoo.com


    Bangku Taman

    Nufa.
    PewartaNews.com – Tik, tik, tik, rintik hujan tanpa sungkan mengguyur wajah bumi yang kering dan kusam. Tak  ada satupun bagian dari isi dunia yang terlewat akan bau basahnya. Suasana nikmat seperti inilah suasana dimana para penulis, pelukis, dan musisi ramai-ramai trengginas merangkai karya. Apalagi saat seorang gadis kecil tersenyum menatap langit dan menadahkan tangan sembari berkata.

    “Ibuuu kesini!! Hujan turun!”
    Ucapan dingin yang menenggelamkan nurani dan membuat tetesan hujan merasa tak percuma menyapa dunia.

    ***

    Sementara itu dua sosok remaja yang sedang bergelimang rasa cinta dan asyik bergandengan tangan juga mulai menikmati turunnya hujan yang kini masih memegang peran sebagai gerimis. Agaknya dalam beberapa menit ke depan pasangan cowok-cewek itu bisa basah kuyup bila mereka tak cepat-cepat mencari tempat untuk berteduh.

    “Yank, ayo cepat masuk ke sini! Ntar hujannya tambah deras loh!” pekik sang putri dari balik teras sebuah rumah yang ditinggal penghuninya.

    “Cuma gerimis kok, ntar juga reda” balas sang pangeran yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu.

    Sang putri mendesah pelan, ia segera mengikuti kemana kekasih pujaaan hati yang paling disayanginya itu pergi. Sembari mengambil jaket dari dalam tas untuk menutupi kepalanya dari rintik gerimis, ia berlari kencang bagai seekor kupu-kupu malam yang dikejar matahari pagi.

    Jaket yang dibentangkan oleh sang putri berambut kucir itu ternyata tak mampu menangkis rintik gerimis yang kini sudah berevolusi menjadi hujan lebat. Pasangan mesra itu kembali tak berniat untuk berteduh. Namun tetap melanjutkan perjalanan sambil berusaha untuk mengibarkan satu jaket di atas dua kepala.

    Para muda-mudi yang kini berjalan dengan ditemani setitik remang lampu kota itu merasakan kehangatan yang amat sangat luar biasa saat hujan. Mereka justru makin merasa damai walau tubuh basah kuyup. Bahkan sengaja saling melempar senyum satu sama lain kala tatapan bertabrakan. Tentu senyum kebahagiaan yang tak ternilai nominalnya.

    “Eh yank, Tiga bulan lagi aku bakal dapat beasiswa buat kuliah di Amerika loh! Kamu seneng gak?” sang pangeran tiba-tiba nyeletuk
    Hah? Amerika?

    Jeder!! Selongsong petir menyambar sebuah trafo listrik hingga lampu-lampu jalan yang berpendar menjadi padam seketika. Suasana bertambah gelap. Dalam gulita, hati sang putri yang merasa tersengat mencoba tetap tegar dan menguatkan diri untuk melempar sedikit pertanyaan guna memastikan semua baik-baik saja.

    “Pasti seneng lah! Emang berapa lama yank kuliah disana?”

    “Enam tahun!” si pangeran dengan bangga menceritakan rencana masa depannya

    Lagi-lagi petir menyambar. Kali ini disertai kilat dan halilintar yang terus menerus menusuk palung terdalam perasaan sang putri. Tak henti-hentinya air mata menetes dari pandangan bidadari berkucir itu. Meski dari luar sana air mata itu terlihat tak ada bedanya dengan tetesan air hujan yang membasahi wajah.

    Bila kau pergi, lalu siapa yang akan melempar senyum termanis disaat pahit gerimis seperti ini kepadaku? Siapa juga yang bisa menyalakan kehangatan dikala raga membeku oleh dingin hujan? Siapa pula yang bersedia memegang sisi lain dari jaket penutup kepala ini selain tanganmu saat halilintar membumbui remang-remang kedatangan malam? Sungguh sebenarnya aku tak rela kamu pergi meski hanya sekejap mataku berkedip, yank.

    “Gimana? Seneng kan?” si pangeran mengulang pertanyaannya
    “Banget!” jawab sang putri di tengah hujan

    Tak ada alasan lagi bagi sang putri untuk menghentikan tangis. Sungguh perasaan dalam hati kecilnya sudah seperti kayu yang dimakan rayap, lapuk dan rapuh. Sementara itu sang pangeran tetap saja bangga dengan segala prestasi yang diraih walaupun sebenarnya pujaan hati yang kini hanya terpaut beberapa senti dari tempatnya berdiri itu masih menitikkan air mata. Benar-benar air mata pilu. Beruntung tetes gerimis di wajah sang putri masih mau menyamarkannya.

    Meski sama-sama sedang melangkah di tengah hujan, jarak wajah dua sejoli itu perlahan menjauh. Yang semula sepuluh senti kini menjadi ribuan kilometer. Ia sekarang hanya ditemani oleh payung saat ia menyempatkan diri singgah di taman pinggiran kota seperti biasa. Dan si pangeran, entah bagaimana kabarnya di negeri Paman Sam, sebab sampai cerita ini dibuat, ia belum mengirim e-mail.

    Hujan semakin lebat. Gadis itu buru-buru mendekap surat lamaran pekerjaannya yang baru saja dikembalikan oleh sebuah toko ritel agar tidak basah. Sudah beberapa kali ia melamar kerja, semuanya ditolak. Alasannya? Banyak! Mulai dari jumlah karyawan yang sudah penuh, sampai nilai matematika di ijasah sang putri yang jeblok, takut jika perusahaannya merugi bila wanita pelamar yang berpenampilan biasa ini salah menghitung uang hasil penjualan.

    “Takutnya nanti salah ngitung uang mbak!” ujar pemilik toko
    “Ya sudah bu, saya permisi, terimakasih!” ia cepat berlalu dengan senyum kecut.

    Ijasah dan teman-temannya pun berlarian kesana kemari mencari majikan namun sialnya sampai sekarang belum juga dapat. Ia menggigil kedinginan di pelukan sang putri. Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh gadis yang baru saja ditinggal kekasihnya pergi itu. Hanya air mata sendu yang tersisa.

    Penulis: Nufa

    Advokat Profesi Keilmuan Hukum Yang Mengabdi Kepada Masyarakat Marginal

    Hasrul Buamona, S.H., M.H.
    PewartaNews.com – Advokat adalah salah satu profesi tertua didunia selain profesi dokter, dikarenakan telah ada pada zaman Yunani kuno. Pengertian kata Advokat sendiri perlu dipahami dengan baik oleh masyarakat agar pengertian profesi ini tidak mengalami tumpang tindih dengan makna yang sebenarnya. Kata “Advokat” sendiri berasal dari bahasa latin yaitu “advocare yang berarti to defend, to call to one’s aid, to vouch or to warrant”. Dalam bahasa Inggris, kata advokat berasal dari kata advocate yang mempunyai makna to speak in favor of or defend by argument, to support, indicate or recommend publicly (Hasrul, Langkah Jitu Advokat Menjadi Sukses, Certe Pose, 2014).

    Profesi advokat secara konseptual adalah suatu pekerjaan (job) berdasarkan keahlian dalam bidang hukum untuk melayani masyarakat secara independen dengan batasan kode etik dari organisasi, sehingga profesi advokat dibutuhkan sebagai penyeimbang bahkan pelindung dari kecenderungan kekuasaan baik dibidang politik, ekonomi serta sosial yang sewenang-wenang (Luhut MP Pangaribuan Ketua DPN Peradi,2015).

    Di Indonesia sendiri advokat dikenal dengan beberapa istilah yakni Pengacara, Penasihat Hukum, dan Kuasa Hukum. Akan tetapi yang diakui adalah istilah Advokat sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, dalam “ Pasal 1 ayat (1) mengatur bahwa Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini”. Selain itu dalam “Pasal 5 ayat (1) mengatur bahwa Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan”.

    Advokat senior Indonesia seperti Alm Prof.Dr (iur) Adnan Buyung Nasution,SH (Bang Buyung) yang merupakan senior penulis selama menjadi Advokat Publik YLBHI-LBH Yogyakarta. Bang Buyung lahir sebagai advokat yang pada zamanya kondisi negara yang begitu otoriter baik pada Orde Lama dan Orde Baru, dimana kekuasaan sebagai panglima hukum (Maschstaat). Dengan keadaan inilah membuat Bang Buyung terpanggil dengan keilmuan hukumnya untuk membantu masyarakat miskin yang termaginalkan oleh kekuasaan saat itu. Bang Buyung adalah advokat hebat yang pernah dimiliki negara Indonesia, yang dalam berpraktik selalu berangkat dari aspek keilmuan tidak hanya hukum, namun juga sosial, ekonomi dan politik, serta melihat persoalan hukum bukan hanya dari kulitnya saja, namun melihat kasus tersebut lebih pada tatanan substansi, dengan keahlian dan keilmuan hukumnya yang dimiliki melahirkan beberapa hal baru dalam dunia hukum yakni bantuan hukum struktural dan praperadilan dan melahirkan UU Perkwaninan serta bagian yang tak terpisahkan dengan penemuan hukum progresif oleh Prof. Satjipto Raharjo.

    Konsep advokat sebagai profesi keilmuan hukum yang mengabdi kepada masyarakat marginal, dirasakan betul oleh penulis selama menjadi Advokat Publik (public defender) YLBHI-LBH Jogjakarta, dimana dalam waktu 3 tahun penulis diberikan kesempatan untuk mengimplmentasikan keilmuan hukum bagi masyarakat miskin yang dimarginalkan sehingga terkena masalah penggusuran, pemutusan hubungan kerja (PHK), sampai pada mendampingi beberapa kasus yang diantara korbannya, pelakunya adalah oknum penegak hukum. Selain memberi bantuan hukum, saat itu penulis juga diberi kesempatan untuk menulis, serta menjadi pembiacara dalam seminar hukum yang tujuannya sebagai bagian dari kampanye serta pendidikan hukum kepada masyarakat.

    Profesi Advokat saat sekarang oleh sebagian sarjana hukum atau calon advokat hanya dijadikan sebagai profesi yang tujuannya menumpuk kekayaan dan bermewah-mewahan serta gagah-gagahan dengan dasi dan tuxedo di Pengadilan. Padahal advokat hebat ialah advokat memiliki keilmuan hukum yang paripurna, serta memiliki pengabdian kepada masyarakat marginal, karena itu tujuan lahirnya advokat dalam sebuah negara hukum. Seharusnya yang ditampilkan dari seorang advokat selain keahlian berpraktik hukum dan pengabdian, ialah keahlian keilmuan hukum dalam membuat karya ilmiah hukum, baik berupa buku, jurnal ataupun opini hukum di surat kabar cetak ataupun elektronik. Menurut penulis “hakikatnya Advokat adalah ilmuwan hukum yang sedang berpraktik hukum yang memperjuangkan hak kaum petani, hak kaum buruh, hak Guru, hak nelayan, hak masyarakat adat serta seluruh hak masyarakat yang tertindas oleh kebijakan negara”.

    Pada saat sekarang setiap calon sarjana hukum ataupun calon advokat hanya diperlihatkan sosok advokat sukses ialah mereka yang memakai pernak pernik mewah seperti tuxedo, mobil ferarri serta gelang emas bak rantai kapal yang melingkar disekujur tubuh. Namun tidak pernah di tunjukkan sosok advokat hebat, cerdas dan bernurani seperti Munir, Yap Thiam Hien, serta Bang Buyung, seharusnya sosok tokoh-tokoh advokat inilah yang harus dijadikan panutan apabila bercita-cita menjadi Advokat. Ini menjadi penting dikarenakan advokat adalah penegak hukum yang tidak hanya memiliki keilmuan hukum, namun juga harus memiliki integritas yang bertujuan memperjuangkan keadilan sosial dan keadilan hukum masyarakat yang termaginalkan oleh kebijakan pemerintah yang dipengaruhi oleh pemodal. Penulis masih ingat dan membekas dalam hati, pesan terakhir Alm Adnan Buyung Nasution saat mengembuskan nafas terkahir pada 25 September 2015 yakni Jagalah LBH/YLBHI TERUSKAN PEMIKIRAN DAN PERJUANGAN SI MISKIN TERTINDAS.


    Penulis : Hasrul Buamona, S.H., M.H.
    Advokat,  Kandidat Doktor Hukum Kesehatan UII Yogyakarta.

    Jangan Mikir Terus

    Graha Pencerah Jiwa.
    PewartaNews.com – Saudaraku, jangan mikir terus. Istirahatkan pikiranmu agar tidak lelah.
    Mesinpun butuh istirahat, apalagi pikiran manusia.

    Mikir terus itu sangat melelahkan.
    Kita sering memikirkan kejadian masa lalu yang suram.
    Padahal itu tidak perlu, hanya menambah beban pikiran.

    Mikir terus itu sangat melelahkan.
    Kita sering memikirkan kehidupan sekarang ini.
    Padahal itu tidak perlu, jalani saja kehidupan ini bagai air mengalir.

    Mikir terus itu sangat melelahkan.
    Kita sering mengkhawatirkan sesuatu yang akan datang.
    Padahal itu tidak perlu, toh itu belum tentu terjadi.

    Jangan mikir terus, mikir terus itu melelahkan.
    Kita butuh istirahat mikir atau ngedem.
    Kalau pikiran lelah, maka hasil pemikirannya pun kurang optimal.
    Mesin yang terbuat dari baja dan besi saja butuh istirahat.
    Apalagi otak manusia yang terbuat dari darah dan daging.

    Jangan mikir terus, mikir terus itu melelahkan.
    Kita butuh refreshing atau cooling down.
    Kalau pikiran lelah, maka tubuh juga akan lelah.
    Kalau pikiran sakit, maka badan juga akan sakit.
    Mesin yang terbuat dari baja dan besi saja butuh istirahat.
    Apalagi otak manusia, yang terbuat dari darah dan daging.

    Renungan:
    Rosul saw kalau pikiran lelah, Beliau jalan-jalan di kebun kurma sekitar masjid Nabawi. Rosul saw berpesan istirahatkan pikiranmu dengan melihat kebun, daun, bunga, buah-buahan, dan air yang mengalir. Pikiran akan segar kembali dan bisa bekerja optimal.

    (Graha Pencerah Jiwa, Senin, 08/02/2016, Abah, Sebarkan)


    Doddy Forever 91, share via WhatsApp

    Penyebab Persoalan Hukum Agraria Masyarakat Adat

    Hasrul Buamona, S.H., M.H.
    PewartaNews.com – Seorang penyair asal Amerika Serikat Ralph Waldo Emerson (1803-1882) menerangkan, “If a man own land, the lands, the lands owns him”, artinya jika seseorang memiliki tanah, maka tanahnya juga akan memilikinya. Muatan penyair ini menjadi gambaran dan tolak ukur masalah agraria Masyarakat Adat di Indonesia khususnya di Maluku Utara saat ini. Agraria secara umum diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) sebagai an umbrella. Khusus terkait hukum agraria masyarakat adat, telah ada sebelum berdirinya negara ini. Persoalan hukum agraria masyarakat adat Gane di Halmahera Selatan saat ini, sedang mengemuka menjadi perbincangan dan diskusi ilmiah serta aksi yang dilakukan oleh sebagian besar Mahasiswa Maluku Utara di Yogyakarta pada Februari 2016, kesimpulannya menolak kebijakan Pemerintah Daerah dan Pusat yang tetap membiarkan pembangunan perkebunan kelapa sawit.

    Masalahnya sejak perusahaan sawit beroperasi di wilayah Gane, masyarakat kini menghadapi berbagai tantangan selain persoalan lahan (wilayah kelolanya). Setidaknya akan ada 20 desa yang terancam wilayah kelolanya jika perusahaan ini sudah merealisasikan seluruh konsesinya yang meliputi 7 desa di kecamatan Gane Barat Selatan, 6 desa di kecamatan Gane Timur Selatan serta 7 desa di kecamatan kepulauan Joronga. Terkait lahan kelola, masyarakat juga kini telah menghadapi masalah sosial dan lingkungan sebagaimana yang mereka ungkapkan dalam pertemuan warga yakni,(1) Enam anak sungai sudah hilang (4 sungai tadah hujan dan 2 anak sungai bermata air) yang tertutup urugan tanah oleh perusahaan,(2).Konflik internal di tingkatan warga mulai nampak, dengan munculnya kubu yang pro dan kontra terhadap kehadiran perusahaan.(3) Keresahan karena proses intimidasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian yang mengawal proses land clearing, dan (4) Petilasan Sangaji Gane telah digusur oleh perusahaan (Ahmad Farid.WALHI:2015) .

    Penyebab persoalan hukum agraria masyarakat adat terdapat dalam UU sektoral seperti UU Minyak dan Gas Bumi, UU Sumber Daya Air, UU Kehutanan, serta UU Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Jawahir, Republika:2012). Beberapa UU sektoral tersebut dalam konsideransnya tidak memasukan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 sebagai pertimbangan lahirnya beberapa UU tersebut, namun yang dimasukan hanya Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 yang mengatur bahwa “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara”. Ini salah satu penyebab utama terjadinya benturan kepentingan masyarakat adat dengan pemerintah seperti saat ini, dimana pemerintah tidak mengakui dan menghormati hak masyarakat adat sebagaimana Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Persoalan hukum selanjutnya terdapat dalam Pasal 3 UUPA 1960 mengatur “Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan pasal 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya. masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi”. Kepentingan nasional yang dimaksud sangat subjektif, dikarenakan siapa saja yang memimpin pemerintahan demi keuntungan pribadi dan kelompok, akan menjadikan kepentingan nasional sebagai topeng untuk memiskan dan menghilangkan masyarakat adat dan hukum agrarianya, sehingga terlihat tidak ada bedanya antara pemerintah dengan bangsa penjajah yang saat itu masih memakai hukum penjajah (agrarische wet dan agrarische besluit) yang memberlakukan “domein van den staat” tujuannya menghapus hak milik tanah pribumi untuk memperkaya bangsa penjajah saat itu.

    Prof Jawahir Thontowi mengemukakan bahwa muatan hukum adat sebagai living law dalam UUPA kurang mewakili aspirasi masyarakat adat yang lain, dimana hanya mewakili masyarakat adat Sumatera Barat dan Jawa, sehingga perubahan UUPA 1960 perlu dilakukan terkait dengan kebutuhan koordinatif dan sinkronisasi dengan UUD 1945 khususnya Pasal 33 ayat (2). Selain itu juga tidak adanya muatan hak asasi manusia, yang ini salah satu kekurangannya. Karena itu, dapat dipahami pemerintah mudah bersekutu dengan pengusaha untuk merampas hak tanah, air dan hutan masyarakat adat (Media Indonesia,2012). Seharusnya pemerintah, baik daerah dan pusat haruslah menghormati dan mengakui kepentingan hukum agraria masyarakat adat dengan dengan cara memasukan Pasal 18B ayat (2)UUD 1945 dalam setiap konsiderans produk UU dan kebijakan yang bersifat administrasi. Selain itu sudah saatnya Pemerintah,DPR dan seluruh komponen masyarakat Indonesia, melakukan amandemen terhadap UUD 1945, UUPA 1960 serta UU Sektoral, dengan tujuan untuk melindungi kepentingan hukum, ekonomi dan sosial masyarakat adat itu sendiri. Perubahan beberapa produk Undang-Undang diatas, harus dilakukan dengan tujuan mengurangi kecenderungan permufakatan jahat antara pemerintah dan pengusaha untuk menghilangkan hukum agraria masyarakat adat, yang seharusnya menjadi living law dan living constitution bagi negara ini.


    Penulis : Hasrul Buamona, S.H., M.H.
    Advokat & Alumnus Pengacara Publik YLBHI-LBH Yogyakarta.

    Pelajar Musi Rawas dan Musi Rawas Utara Bersatu untuk Membangun Daerah

    Pelajar Musi Rawas dan Musi Rawas Utara di Yogyakarta.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Kualitas pemuda akan menentukan kulitas masa depan bangsa. Baiknya kulitas pemuda akan memeberikan harapan kemakmuran suatu bangsa di masa depan, dan begitu juga sebaliknya jika kualitas pemudanya hancur maka harapan masa depan bangsa akan suram. Maka tidak mengherankan di negara-negara maju sangat memperhatikan kondisi pemudanya. Kualitas intelektual, kreativitas, dan kepemimpinan terus dilakukan baik dibina melalui pendidikan formal maupun dari kegiatan positif yang difasilitasi oleh negara. Negara memberikan ruang dan mendukung untuk pengembangan diri baik hard skill maupun soft skill bagi kalangan pemudanya.

    Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa (IKPM) Sumatera Selatan Komisariat Silampari Yogyakarta sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri, baik hard skill ataupun soft skill. Organisasi yang berbasis kekeluargaan ini merupakan rumah besar bagi para pelajar dan mahasiswa yang menuntut ilmu di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Selain itu organisasi ini juga berfungsi sebagai sarana menyambung tali silaturrahmi antar warga masyarakat Kab. Musi Rawas yang berdomisili di wilayah kesultanan Ngayogyakarta Nadiningrat.

    Menjelang usianya yang memasuki ke-59 tahun, organisasi ini terus melakukan usaha mempererat persatuan antar pelajar dan mahasiswa Musi Rawas di Yogyakarta. Salah satu upaya untuk mempersatukan hal tersebut pasca wilayah Musi Rawas terbagi menjadi tiga kabupaten yaitu Musi Rawas, Lubuk Linggau dan Musi Rawas Utara, maka diadakanlah sebuah forum pertemuan membahas persatuan mahasiswa Silampari. Forum yang diinisiasi oleh M. Yayan Adi Putra dan Ongky NHU dari Musi Rawas serta Baruri Pasolima, Libra Dika dan Mukromin dari Musi Rawas Utara. Dalam pertemuan tersebut dihasilkan sebuah kesepakatan bahwa untuk membangun daerah Musi Rawas, Lubuklinggau dan Musi Rawas Utara itu dibutuhkan peran serta Pelajar dan Mahasiswa dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkulitas serta siap menyambung estapet kepemimpinan masa depan. Untuk memwujudkan hal tersebut, maka dibutuhkan sebuah kerjasama yang bersinegri dan persatuan dikalangan pelajar dan mahasiswa yang diwujudkan dalam Ikatan Pelajar Silampari yang menaungi tiga organisasi IKPM yaitu IKPM Musi Rawas, IKPM Lubuklinggau dan IKPM Musi Rawas Utara.

    Persatuan dibutuhkan untuk menjalin kerjasama dan sinergi dalam meningkatkan kualitas antar pelajar. Sedangkan perpecahan akan menimbulkan bibit-bibit baru gesekkan antar golongan yang akan memicuh konflik, yang membuat generasi penerus estapet kepemimpinan ini hanya disibukkan dengan konflik yang akan menghabiskan energi dan membuat generasi muda hanya mengedepankan emosional dari pada kreativitas dan intelektualitasnya. Dengan adanya kesepakatan tentang persatuan ikatan pelajar Silampari ini diharapkan dapat menumbuhkan semnagat saling membahu untuk meningkatkan kulitas diri, kepemimpinan, kreativitas dan intelektual dikalangan pelajar Musi Rawas, Lubuklinggau dan Musi Rawas Utara. Banyak kegiatan yang bisa dimunculkan kedepannya dalam memupuk sinergi memperbaiki kulitas intelektual, kreativitas dan kepemimpinan.

    Dengan semboyan semangat persatuan mahasiswa silampari “Dari Yogyakarta Kami Bangun Daerah” pada akhir bulan Februari 2016 ini akan dilaksanakan agenda Musyawarah Anggota (MUSYANG) IKPM Sumatera Selatan Komisariat Silampari Musi Rawas. Dengan adanya MUSYANG  sebagai tanda berakhirnya masa kepengurusan periode 2014-2016 dan membentuk kepengurusan baru untuk periode mendatang. Dalam agenda MUSYANG ini akan dibahas beberapa agenda, pertama pembahasan AD/ART dan Pedoman Pokok IKPM Sumatera Selatan Komisariat Silampari Yogyakarta, kedua akan memilih pengurus periode 2016-2017, ketiga membentuk presidium pembentukan Ikatan Pelajar Silampari, IKPM Musi Rawas dan IKPM Musi Rawas Utara.

    “Ikpm-Silampari Yogyakarta sebagai wadah atau sarana komunikasi baik mahasiswa dari Musi Rawas dan Muratara yang ada diyogyakarta, Bisa dikatakan Pusat komunikasi bagi saudara-saudara yang inggin belajar dan bersilaturahmi ditanah rantau”. ujar Baruri Pasolima (Ketua IKPM-Silampari Periode 2014-2016)


    * Sugiarto

    Antara Korupsi dan Illegal Logging

    Arifin Ma’ruf, S.H.
    PewartaNews.com – Dalam Pasal 1 ayat (4) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan,  illegal logging atau Pembalakan liar adalah semua kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu secara tidak sah yang terorganisasi. Permasalahan Illegal logging merupakan salah satu problem yang menarik untuk dibahas, di Indonesia kasus illegal logging yang terjadi semakin menunjukkan aktivitas yang cukup mengkhawatirkan. Akan tetapi terdapat permasalahan yang serius yang menyebabkan semakin eksisnya kasus illegal logging yang ada di Indonesia. Greenpeace melaporkan bahwa 88 persen kayu-kayu yang masuk ke industri perkayuan di Indonesia disinyalir illegal.

    Salah satu penyebabnya adalah keterkaitan illegal logging dengan korupsi. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Igm Nurdjana dkk bahwa tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi factor utama sekaligus faktor pendukung semakin maraknya illegal logging di Indonesia (Igm Nurdjana dkk, 2008). Hal tersebut dikuatkan dengan dengan pernyataan WALHI bahwa antara korupsi dan illegal logging memiliki keterkaitan (Ginting, 2003). Berdasarkan hasil riset oleh Berlin- Transparancy International menguak data bahwa dari lima negara yang terkorup di dunia yakni Rusia, Indonesia, dan Venezuela, negara-negara tersebut mempunyai sumberdaya hutan yang cukup tinggi, dan ditemukan indikasi hubungan hasil hutan dengan praktik korupsi (Palmer, 2000).

    Illegal logging merupakan kejahatan yang mempunyai dampak yang sangat luas dan mendalam, bahkan kejahatan illegal logging selain menjadi factor penyebab kerusakan hutan di Indonesia, illegal logging juga menyebabkan kerugian negara yang cukup besar sehingga berdampak pada perekonomian nasional.

    Modus yang biasa dilakukan oleh oknum adalah kolusi yang terjadi antara aparat pemerintah dengan pengusaha dalam kegiatan pengelolaan hutan (Igm Nurdjana dkk, 2008). Tindakan-tindakan tersebut menjadi pemicu utama semakin maraknya illegal logging di Indonesia, karena ada kong kali kong antara oknum pejabat dan oknum penebang hutan. Kalau sudah terjadi tindakan seperti itu tentu menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hutan di Indonesia.  Praktik dilapangan sebagaimana dikutip dalam gresnews.com, menyebutkan bahwa sebenarnya para petugas kehutanan sudah mengetahui praktik illegal logging, dalam izin tercantum 1000 meter kubik akan tetapi yang diangkut adalah 2000 meter kubik, hal tersebut lazim terjadi di lapangan dan lolos dari pengawasan pemerintah (gresnews.com, 2015). ICW mencatat bahwa sejak KPK berdiri, akhir tahun 2003 hingga Agustus 2012, setidaknya ada tujuh perkara korupsi sektor kehutanan telah dan sedang ditangani. Dari perkara-perkara itu, tercatat 26 aktor diproses KPK, kerugian negara sektor non pajak kawasan hutan selama kurun waktu 2004-2007 mencapai Rp169,797 triliun. (mongabay.co.id, 2013)

    Dari data rill dilapangan tersebut maka sudah seharusnya pemerintah serius dalam menangani kasus illegal logging di Indonesia, modus korupsi, pemalsuan dokumen yang selama ini lolos dari pengawasan pemerintah haruslah menjadi salah satu evaluasi mendalam bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap problematika illegal logging di Indonesia. Selain itu kesadaran para petugas kehutanan untuk tidak lagi kebiasaan kolusi yang selama ini dilakukan oleh para oknum sangat diperlukan dan pemberian sanksi yang tegas bagi para oknum yang terbukti melakukan praktik permufakatan jahat harus dilakukan.


    Penulis: Arifin Ma’ruf, S.H.
    Pemerhati Hukum Kehutanan di Yayasan Javlec Indonesia,  Mahasiswa Pascasarjana Hukum UII.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website