Headlines News :
Home » » Bangku Taman

Bangku Taman

Written By Pewarta News on Selasa, 22 Maret 2016 | 09.33

Nufa.
PewartaNews.com – Tik, tik, tik, rintik hujan tanpa sungkan mengguyur wajah bumi yang kering dan kusam. Tak  ada satupun bagian dari isi dunia yang terlewat akan bau basahnya. Suasana nikmat seperti inilah suasana dimana para penulis, pelukis, dan musisi ramai-ramai trengginas merangkai karya. Apalagi saat seorang gadis kecil tersenyum menatap langit dan menadahkan tangan sembari berkata.

“Ibuuu kesini!! Hujan turun!”
Ucapan dingin yang menenggelamkan nurani dan membuat tetesan hujan merasa tak percuma menyapa dunia.

***

Sementara itu dua sosok remaja yang sedang bergelimang rasa cinta dan asyik bergandengan tangan juga mulai menikmati turunnya hujan yang kini masih memegang peran sebagai gerimis. Agaknya dalam beberapa menit ke depan pasangan cowok-cewek itu bisa basah kuyup bila mereka tak cepat-cepat mencari tempat untuk berteduh.

“Yank, ayo cepat masuk ke sini! Ntar hujannya tambah deras loh!” pekik sang putri dari balik teras sebuah rumah yang ditinggal penghuninya.

“Cuma gerimis kok, ntar juga reda” balas sang pangeran yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu.

Sang putri mendesah pelan, ia segera mengikuti kemana kekasih pujaaan hati yang paling disayanginya itu pergi. Sembari mengambil jaket dari dalam tas untuk menutupi kepalanya dari rintik gerimis, ia berlari kencang bagai seekor kupu-kupu malam yang dikejar matahari pagi.

Jaket yang dibentangkan oleh sang putri berambut kucir itu ternyata tak mampu menangkis rintik gerimis yang kini sudah berevolusi menjadi hujan lebat. Pasangan mesra itu kembali tak berniat untuk berteduh. Namun tetap melanjutkan perjalanan sambil berusaha untuk mengibarkan satu jaket di atas dua kepala.

Para muda-mudi yang kini berjalan dengan ditemani setitik remang lampu kota itu merasakan kehangatan yang amat sangat luar biasa saat hujan. Mereka justru makin merasa damai walau tubuh basah kuyup. Bahkan sengaja saling melempar senyum satu sama lain kala tatapan bertabrakan. Tentu senyum kebahagiaan yang tak ternilai nominalnya.

“Eh yank, Tiga bulan lagi aku bakal dapat beasiswa buat kuliah di Amerika loh! Kamu seneng gak?” sang pangeran tiba-tiba nyeletuk
Hah? Amerika?

Jeder!! Selongsong petir menyambar sebuah trafo listrik hingga lampu-lampu jalan yang berpendar menjadi padam seketika. Suasana bertambah gelap. Dalam gulita, hati sang putri yang merasa tersengat mencoba tetap tegar dan menguatkan diri untuk melempar sedikit pertanyaan guna memastikan semua baik-baik saja.

“Pasti seneng lah! Emang berapa lama yank kuliah disana?”

“Enam tahun!” si pangeran dengan bangga menceritakan rencana masa depannya

Lagi-lagi petir menyambar. Kali ini disertai kilat dan halilintar yang terus menerus menusuk palung terdalam perasaan sang putri. Tak henti-hentinya air mata menetes dari pandangan bidadari berkucir itu. Meski dari luar sana air mata itu terlihat tak ada bedanya dengan tetesan air hujan yang membasahi wajah.

Bila kau pergi, lalu siapa yang akan melempar senyum termanis disaat pahit gerimis seperti ini kepadaku? Siapa juga yang bisa menyalakan kehangatan dikala raga membeku oleh dingin hujan? Siapa pula yang bersedia memegang sisi lain dari jaket penutup kepala ini selain tanganmu saat halilintar membumbui remang-remang kedatangan malam? Sungguh sebenarnya aku tak rela kamu pergi meski hanya sekejap mataku berkedip, yank.

“Gimana? Seneng kan?” si pangeran mengulang pertanyaannya
“Banget!” jawab sang putri di tengah hujan

Tak ada alasan lagi bagi sang putri untuk menghentikan tangis. Sungguh perasaan dalam hati kecilnya sudah seperti kayu yang dimakan rayap, lapuk dan rapuh. Sementara itu sang pangeran tetap saja bangga dengan segala prestasi yang diraih walaupun sebenarnya pujaan hati yang kini hanya terpaut beberapa senti dari tempatnya berdiri itu masih menitikkan air mata. Benar-benar air mata pilu. Beruntung tetes gerimis di wajah sang putri masih mau menyamarkannya.

Meski sama-sama sedang melangkah di tengah hujan, jarak wajah dua sejoli itu perlahan menjauh. Yang semula sepuluh senti kini menjadi ribuan kilometer. Ia sekarang hanya ditemani oleh payung saat ia menyempatkan diri singgah di taman pinggiran kota seperti biasa. Dan si pangeran, entah bagaimana kabarnya di negeri Paman Sam, sebab sampai cerita ini dibuat, ia belum mengirim e-mail.

Hujan semakin lebat. Gadis itu buru-buru mendekap surat lamaran pekerjaannya yang baru saja dikembalikan oleh sebuah toko ritel agar tidak basah. Sudah beberapa kali ia melamar kerja, semuanya ditolak. Alasannya? Banyak! Mulai dari jumlah karyawan yang sudah penuh, sampai nilai matematika di ijasah sang putri yang jeblok, takut jika perusahaannya merugi bila wanita pelamar yang berpenampilan biasa ini salah menghitung uang hasil penjualan.

“Takutnya nanti salah ngitung uang mbak!” ujar pemilik toko
“Ya sudah bu, saya permisi, terimakasih!” ia cepat berlalu dengan senyum kecut.

Ijasah dan teman-temannya pun berlarian kesana kemari mencari majikan namun sialnya sampai sekarang belum juga dapat. Ia menggigil kedinginan di pelukan sang putri. Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh gadis yang baru saja ditinggal kekasihnya pergi itu. Hanya air mata sendu yang tersisa.

Penulis: Nufa

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website