Headlines News :
Home » » Mengejar Bayangan

Mengejar Bayangan

Written By Pewarta News on Selasa, 22 Maret 2016 | 09.44

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Apalah arti sebuah perasaan yang melingkupi hati ini, semakin mencoba untuk disingkirkan semakin terasa sakit dan tak karuan.

Dia Budiarti namaku kebiasaan buruk  duduk terdiam lalu berhayal  dalam  keheningan, sebuah  warung makan padang. Tiba-tiba sebuah konsentrasi buyar seketika,  ketika serombongan manusia  yang lewat di depan warung,  canda tawa mencairkan suasana. Saat  itu  aku tertuju pada seorang  cowok  yang memakai  baju coklat bertuliskan 1 love Islam.  Dengan senyum yang bertengger  di  bibir tipisnya.  Kami  bertatapan  sejenak, lalu berlalulah cowok  itu.  Aku  yang dari tadi mengangah langsung bangkit  mengupas senyum. Hal yang kurasakan nyata dan perasaan   aneh seketika.

Hari berganti dengan minggu, senyuman  cowok itu terus membayangi  langkahku.   Sesuatu hal yang tidak dapat dilukiskan namun, nyata  apakah itu yang dinamakan jatuh cinta?  ”Assalamualaikum, maaf menganggu salam kenal iya. Ahmad” kaget seketika membaca es-em-es darinya. Tentu aku sangat bahagia.

Saat itu  Ahmad mengajak   ke Indomart.  Tanpa menolak  aku   segera   bersiap-siap lalu mencari busana terbaikku yang pernah kumiliki..

“Aku sudah depan kosmu, kutunggu  di depan.”pesan  Ahmad  datar.
 “Iya.” Balasku  singkat.

Tiga  puluh menit Ahmad  berdiri di sebelah pohon tomat. Sepertinya lelah menunggu aku bisa melihat lekuk tubuhnya di balik tirai kamar. Usai memakai gengcu, aku melangkah cepat dan menghampirinya.  Ahmad memutar badan “Subhanallah, cantiknya.” Ucapnya.  Baju gamis merah, hijab menutupi dada dibilang  cantik? Busana yang kupake  jarang sekali di minati  perempuan  zaman sekarang,  karena busana tersebut terlihat  agak  kampungan. Ya, persis orang kampung. Jika dinilai dari kasat mata. Aku  mulai tertawa  lepas, memamerkan  gingsul semoga  ia tambah terpikat  denganku.

Saat itu kami menuju Indomart. Di persimpangan jalan Ahmad pun   menceritakan  pengalaman dan hobbi-nya. Aku   persis  budak,   hanya mengangguk dan senyum hangat  yang kulemparkan untuknya. Sesampai di Indomart kami  cuci mata lalu pulang.

Hari ini hari rabu tanggal 09  November  2014 adalah hari ini aku menginjak usia 19 tahun . Ahmad  tak  memberikan suatu  kado untukku, hanya saja   mengajak   ke alun-alun selatan. Sampai di alun-alun kami duduk di sebelah becak. Ia pun duduk mengunyah permen.  Sesekali melirikku.

“Ada yang ingin  kusampaikan.”  Ahmad membuka dialog, wajahnya penuh keringat.
“Hmm apa itu?“ aku  lebih antusias.
“Kamu tahu ta’aruf?” Ahmad  mengangkat alis kiri.
Aku hanya mengangguk, menelan ludah.

“Aku ingin kita saling mengenal.” Desah  Ahmad  masih mengangkat alis.

Harapan  yang kutunggu-tunggu  selama ini, tak kungjung terungkap.  Mungkin berawal dari sini suatu saat  mengucap suka. Tiba-tiba kuingat cerita  Dewi dengan Mustakim salah satu mahasiswa UAD Yogyakarta. Mereka hanya saling mengenal  kurang lebih satu tahun, bahkan Mustakim datang ke rumah Dewi dan membuktikan keseriusannya di depan orang tua Dewi. Satu minggu  sebelum resepsi pernikahan tiba-tiba Mustakim menghilang entah ke mana. Dan  Dewi yang kuanggap sahabatku, depresi lalu bunuh diri. Dari kisah seorang sahabat membuat aku tak bisa mengiyakan permintaan  Ahmad, akan kukubur perasaan yang tak pantas dipelihara. Tapi,  setidaknya aku bangga karena menemukan seseorang yang terkenal di kampus,  ganteng dan ketua BEM.  Aghh apa yang harus kulakukan? Tak bisa mengatakan tidak jika hati   mulai terpikat dengannya. Akan kucoba menjalani semoga kisahku dengan  sahabat tidaklah sama.

***

Tiga minggu telah berlalu kami hanya menghabiskan waktu di telefon, jarang sekali jumpa. Mungkin pengaruh ini  awan hitam mulai menyambar, Ahmad  mulai menghilang  diajak ketemuan pun sangat susah. Dia sangat sibuk dengan Organisasi.  Bahkan kabarnya   tak ada lagi.

Hari ini aku berangkat ke kampus lalu melirik ke ruang  BEM. Bola mataku segera copot,  seseorang  yang selama ini kupercaya dan  kenyataannya yang kulihat sekarang. Dia tampak bahagia, tangan kirinya di sentuh beberapa perempuan diseblahnya. Aku berhenti melangkah hanya bisa memotret dari kejauhan. Mencoba menghubungi namun, tak ada jawaban.

Hingga pada ahirnya aku sadar, selama ini hanya berhadapan   dengan sebuah bayangan dan harapan palsu.   Aku bisa melihat bayangan itu  namun  tak bisa maraih. Telah mencoba untuk mengejar bayangan    semakin kukejar  semakin menjauh. Keputusasaan  datang bertengger di jiwa  lalu  berbalik arah. Entah  kebetulan atau tidak? ketika aku mememutar arah bayangan itu justru  kembali  terbalik mengejarku

“Haruskah aku kembali mengejar bayangan itu?” Pertanyaan yang melintas dalam benakku.  Namun  kumemilih untuk tetap berjalan  dan memeras ingus di jilbab biru yang kupake. Biarlah kurasakan perasaan yang sakit, bagiku kehadirannya hanya bisa  kurasakan namun,  tak bisa  kuraih seutuhnya  dan aku tak  mau bayangan itu ada.

Pagar kosan sudah terlihat di depanku.  Melangkah cepat, tanpa kembali menoleh pada bayangan.  Itulah hidup penuh dengan pilihan, dan aku  kembali  memilih kehidupan seperti sedia kala, sementara bayangan itu akan terus menjadi  bayangan yang hanya  bisa kulihat.

Kembali bangkit dan membuka lembaran  baru. Selamat tinggal bayangan semu, aku mengikhlaskanmu, dengan kesibukanmu di Organisasi.  Aku percaya kelak saat kau memang ditakdirkan bukan hanya untuk  menjadi bayanganku,  kau akan datang dan mengenggam tanganku, di saat itulah aku akan melihatmu dan menyapamu dengan penuh kasih.  


Yogyakarta 23 Agustus 2015

Penulis:  Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta. Email: Nurwahidah854@yahoo.com


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website