Headlines News :
Home » » Peristiwa Konami: Peringatan Tragedi Gerakan Mahasiswa Maret Tahun 2012

Peristiwa Konami: Peringatan Tragedi Gerakan Mahasiswa Maret Tahun 2012

Written By Pewarta News on Minggu, 27 Maret 2016 | 11.48

Ilustrasi peristiwa Konami. Foto: itoday.co.id. 
PewartaNews.com – Tulisan ini merupakan Catatan Penulis Sekaligus Pelaku Sejarah Berdarah Yang Berujung Di Jeruji Besi tepat pada  tanggal  29 Maret 2012. Saya bagian dari  53 mahasiswa dari Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) yang ditahan oleh kepolisian karena diangap dalang mengganggu keamanan Negara dan melanggar hukum, siksaan dan kekejaman seperti gagang senjata laras panjang, pukulan, tendangan yang sangat keras  mengarah keseluruh tubuh itu dilakukan aparat Negara terhadap mahasiswa yang ditahan seperti  tidak ada lagi keprimanusiaan dalam negara hukum ini dan pada saat BAP, kita tidak sama sekali didampingi oleh kuasa hukum sehingga intimidasi dan kekerasan terjadi. Berdarah, terluka. memar, sakit menjadi ingatan sejarah sampai hari ini begitu kejamnya Negara terhadap rakyatnya, dimana ada ribuan mahasiswa yang menginginkan perubahan lebih baik untuk bangsa Indonesia tercinta justru dianggap kriminal.

Sekitar satu minggu kita ditahan di POLDA Metro Jaya, namun masih ada dua orang  mahasiswa yang tidak dibebaskan sampai menjalani persidangan sampai putusan pengadilan dengan 6 bulan penjara, namun pada saat itu akibat dari tekanan gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat menghasilkan kemenangan kecil dimana pada saat itu harga BBM tidak jadi di naikan dan pada saat itu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bergerak ke Jakarta. Ribuan mahasiswa masuk ke Jakarta saat, bersepakat untuk mengadakan Aksi menuntut Turunkan harga BBM dan SBY - Boediono serta adili seadil-adilnya dan cabut mandat DPR/MPR.

Sebelum itu mahasiswa yang tergabung di konsolidasi mahasiswa nasional melakukakan aksi pada tanggal 27 Maret 2012 yang akan menduduki istana, karena istana telah diduduki oleh boneka imperialis dan kaum neolib, untuk itu konami akan menyelamatkan rakyat dan Negara dari ke zaliman tersebut. Namun sebelum masuk sudah dihadang barisan ribuan aparat dengan senjata lengkap didepan tugu monas, tak lama kemudian letupan senjata dilepaskan dari senjata aparat  dengan ribuan peluru terbang yang kurang lebih satu jengkal diatas kepala masa aksi dengan harapan dapat dibubarkan, namun tetap kita bertahan dan diserang mundur dengan melakukan segala perlawanan dengan segala keterbatasan yang dimiliki hingga masa aksi didorong di depan stasiun gambir dengan waktu sekitar 2 jam kawan-kawan bentrok dengan aparat, yang tak gentar dan tetap semangat perlawanan serta keyakinan perjuangan terus menyulut dalam teriakan lantang dengan segala konskwensinya.

Menyulutnya tragedi gambir adalah Sejarah besar bagi Gerakan Mahasiswa dan rakyat pada tahun 2012, dimana semua basis-basis gerakan, mahasiswa, rakyat, buruh dan elemen lainnya menjadi satu dalam menyuarakan perlawanan terhadap pemerintahan SBY-Boediono saat itu. Bahkan disaat itu tak terelakan lagi konsolidasi dan aksi di setiap daerah-daerah dan tak ada henti-hentinya. Bersamaan pemerintahan SBY-BOEDIONO yang mengeluarkan rencana kebijakan kenaikan harga BBM. Konsolidasi dan aksipun mulai semakin rajin dilakukan mahasiswa di kampus di berbagai daerah di Indonesia. Kampus pun mulai menjadi basis perlawanan kembali saat itu.

Empat tahun lalu dari rentetan tanggal 27- 29 maret 2012. Banyak cerita tentang air mata dan darah meyelimuti harapan, cita-cita, impian perubahan, menjadi satu tujuan yang mulia, kita sadar bahwa kaum intelektual memiliki peran penting dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab terhadap perubahan sosial dan mampu menjawab setiap tantangan zaman.

Perjuangan tidak boleh berakhir jika penindasan dan ketidak adilan masih ada dibumi pertiwi ini segera tabuhlah genderang perlawanan ditengah teriakan lantang dan suara bergemuruh ditengah tangisan kemiskinan dan carut marutnya negri ini, bahwa perjuangan belum selesai maka jawabanya dimasing masing kita harus mengorganisir dengan membangun kekuatan dalam menyusun barisan masa untuk berkonsolidasi dimana mahasiswa dari berbagai kampus, berbagai almamater bergandeng tangan, memancangkan bendera perlawanan, mengibarkan panji kebenaran,bahwa setiap masa memilki sejarahnya sendiri.


Penulis: Sugiarto, S.H.
Pengacara Publik di Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website