Headlines News :
Home » , , » Tagari Mempersiapkan Diri ke Korea Selatan

Tagari Mempersiapkan Diri ke Korea Selatan

Written By Pewarta News on Rabu, 30 Maret 2016 | 12.13

Suasana Sharing beasiswa ke Korea Selatan.
Yogyakarta, Pewartanews.com – Salah satu kegiatan yang diikuti oleh teman-teman Tagari (Komunitas Segenggam Mentari) di akhir pekan yakni Minggu, 20 Maret 2016 dengan mengikuti diskusi tentang “Raih Impian Kuliah di Negeri Gingseng” yang di adakan oleh Ilmu Berbagi Foundation. Dari kegiatan sharing siang itu kita mendapatkan informasi yang berharga tentang seperti apa dan bagaimana agar bisa kuliah di negara yang terkenal dengan produk gadget SAMSUNG-nya. Tiket masuk acara pun sangat unik karena cukup menyumbangkan 1 buku jika termasuk buku baru dan 2 buku jika itu buku bekas. Sehingga siang itu kita dapat mendapatkan ilmu sekaligus tetep berbagai ilmu kepada teman-teman yang lain melalui buku yang disumbangkan tersebut.

Sesi Diskusi siang itu menghadirkan 2 pembicara yang telah menyelesaikan studi masternya di universitas nasional yang ada di negeri dengan akses internet tercepat di dunia yakni Riscan Mafrur yang merupakan alumni sekaligus peraih Research Scholarship Chonnam National University yang saat ini bekerja sebagai Sofware Engineer di Kartoza dan Ahmad Nasikun yang merupakan alumni dan penerima KGSP (Korean Government Scholarschip Program) di Seoul National University yang saat ini berstatus sebagai dosen JTETI di Universitas Gadjah Mada.

Sesuai pemaparan dari kedua narasumber diperoleh banyak sekali informasi baru dan menarik karena keduanya berasal dari universitas yang berbeda dan jenis beasiswanya pun berbeda. Misalnya Riscan yang kuliah di Chonnam National University menceritakan bahwa kebutuhan hidup jika tinggal di daerah Chonnam tidak semahal jika tinggal di ibu kota Seoul sebagaimana Nasikun yang kuliah di Seoul National University. Selain itu, profit dan tuntutan selama pendidikan jika menerima KGSP dan Research Scholarhip sangat jauh berbeda. KGSP itu merupakan beasiswa yang berasal dari pemerintah Korea Selatan sehingga penerima beasiswa ini harus mengikuti segala regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, misalnya diwajibkan mengikuti kelas budaya belajar Korea Selatan, mengikuti program belajar bahasa Korea selama 1 tahun sebelum memulai studi master selama 2 tahun sehingga Ahmad Nasikun menghabiskan waktu 3 tahun untuk menyelesaikan studinya, dan hasil studinya dipertanggung jawabkan ke pemerintah Korsel (Korea Selatan). Sedangkan jika kita merupakan penerima Research Scholarship maka sumber dananya resmi dari profesor yang memiliki banyak proyek, tidak mengikuti program belajar bahasa korea dan menurut Riscan, kita bisa meluangkan waktu lebih di laboratorium dibandingkan di kelas karena titik beratnya adalah melakukan berbagai penelitian dan mempublikasikannya dalam jurnal internasional.

Perbedaan yang lain adalah mengenai besarnya tanggungan beasiswa. Jika menggunakan KGSP maka hampir seluruh aspek dibiayai mulai dari uang kuliah, uang bulanan, uang tesis dan segala keperluan lainnya. Dibandingkan tanggungan dari Research Scholarship mungkin tidak sebesar KGSP tetapi tetap mencukupi untuk segala keperluan di sana. Pemateri juga berbagi kepada kami bahwa jangan khawatir jika kuliah di Korea Selatan karena di sana ada PPI (Perkumpulan Pelajar Indonesia) Korea Selatan dan juga banyak TKI Indonesia yang bekerja di sana dan akses masjid atau musollah tetap bisa ditemukan.

Selain bercerita nikmatnya kuliah di negeri Gingseng, mereka tentunya berbagi duka pun selama di sana. Menurut tuturan keduanya, makanan halal masih menjadi problem karena masih jarang ditemukan, maka solusinya adalah harus mandiri dengan memasak sendiri. Penyesuaian diri terhadap jadwal sholat pun harus dilakukan karena tiap berganti musim maka jadwal sholat pun berubah dan butuh stamina lebih untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan jika bertepatan dengan musim panas karena butuh waktu sekitar 14 jam untuk berpuasa. Diantara semua itu, perjuangan yang paling besar adalah menahan rindu kepada orang tua dan keluarga karena kita di sana kita berstatus sebagai perantau.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan kuliah di luar negeri termasuk di Korea Selatan, maka sebagai mahasiswa yang telah bertekad untuk menuntut ilmu nan jauh di sana harus mempersipakan diri dengan segala konsekuensi yang ada karena hidup itu tentang perjuangan. Jika ingin sukses maka harus ada proses yang di lalui. Dan ingatlah bahwa Proses Tidak Pernah Mengkhianati Hasil.


Penulis: Mega Fia Lestari
Anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website