Headlines News :
Home » , » Islam, HAM dan LGBT

Islam, HAM dan LGBT

Written By Pewarta News on Jumat, 29 April 2016 | 02.08

Arsadt, S.H.
PewartaNews.com – Akhir-akhir ini masyarakat indonesia dihebohkan dengan isu lesbian, gay, bisektual, transgender (LGBT), tak pelak ini banyak menimbulkan pro-kontra dalam masyarakat, para aktivis yang pro terhadap gerakan LGBT ini bergerak karena pemikiran hak asasi manusia (HAM) para kaum LGBT ini harus diperjuangkan, itu tidak salah tak juga benar, mari kita bahas satu persatu mengenai konsep dan pertentangan gerakan LGBT ini dalam pandangan islam maupun HAM itu sendiri. Pertama, dalam agama islam, sudah lama dikisahkan mengenai kaum-kaum yang mempunyai orentasi seks yang berbeda dan menyalahi fitrahnya yang di ciptakan berpasang-pasangan (lawan-jenis) di suatu negeri bernama negeri sodom, yang kemudian di utuslah oleh tuhan seorang nabi (Nabi Luth) sebagaimana tertera dalam Alqur’an mengenai kisah Nabi Luth di negeri Sodom, Tuhan mengadzab kaum Luth (masyarakat negeri sodom) karena penyimpangannya orentasi mental yang diimplementasikan dalam prilaku seks oleh masyarakat negeri sodom tersebut, yang menjadi pertayaan awal saya? Apakah begitu bencikah tuhan dengan prilaku ini?. Dalam islam sendiri pasangan manusia pertama yang di ciptakan oleh tuhan bernama adam dan hawa, dari awal di ciptakannya adam (yang digambarkan sebagai lelaki) dengan bermacam sifat yang di lekatkan kepada manusia (mempunyai akal, emosi, nafsu) maka di ciptakanlah hawa (yang digambarkan sebagai perempuan) sebagai pasangan yang melengkapi adam, hal ini sudah menjadi konsep tuhan dari awal di ciptakannya manusia (sunnatullah), manusia diciptakan dengan kemampuan berfikir (akal), emosi, nafsu. Konon karena manusia mampu berfikir ini lah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan tuhan yang lain, berfikir merupakan ciri khas dari seorang manusia, karena berfikir lah manusia bisa menentukan mana yang baik mana yang buruk secara rasio. Eksremnya jika manusia tak berfikir maka ia tak ubahnya dengan dengan tumbuhan ataupun hewan. Adam di turunkan kedunia karena pada waktu itu dia hanya mengikuti nafsunya memakan buah kuldi, sehingga di hukum di turunkan di dunia. Ini merupakan pelajaran pertama bagi manusia untuk lebih mengutamakan akal dalam tindakannya daripada nafsu belaka. Bagaimana dengan LGBT? Bisa kita pikirkan masing-masing.

Diturunkannya Adam ke bumi ini menjadi awal cerita manusia, perjalanan manusia dari zaman kezaman, dari manusia-manusia yang terkenal pernah di adzab oleh tuhan karena hanya mengikuti nafsu dan emosinya saja sampai manusia-manusia yang dikenal sampai detik ini karena berhasil memamfaatkan pikirannya untuk perkembangan peradaban manusia, hingga lahirlah sebuah konsep mengenai hak asasi manusia setelah dunia mengalami dua proses peperangan yang melibatkan hampir seluruh kawasan dunia, dimana hak-hak asasi manusia telah diinjak-injak, timbul keinginan untuk merumuskan hak hak asasi manusia itu di dalam suatu naskah Internasional. Usaha ini baru dimulai tahun 1948 dengan diterimanya Universal Declaration of Human Rights yaitu pernyataan sedunia tentang hak hak asasi manusia oleh negara-negara yang tergabung dalam PBB yang kemudian di ratifikasi oleh indonesia dalam Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Ada yang menjadi pertayaan saya lagi, apakah sudah benar gerakan-gerakan mendukung keberadaan kaum LGBT berdasarkan konsep HAM? Mari kita coba artikan mengenai HAM itu sendiri, HAM adalah hak dasar atau hak pokok manusia yang dibawa sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan, bukan pemberian manusia ataupun penguasa. Hak ini sifatnya sangat mendasar bagi hidup dan kehidupan manusia yang bersifat kodrati yakni ia tidak bisa terlepas dari dan dalam kehidupan manusia. Jika kita liat dalam dasar menimbang UU HAM maka akan kita temui salah satu dasar pertimbangan UU ini ada, yaitu manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang semua hak-hak dasarnya yang bersifat kodrati wajib di lindungi, dan sifatnya universal. Apakah hak-hak dasar manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan? Yaitu hak hidup, hak berfikir (mengembangkan diri), hak untuk berkeluarga agar mempunyai keturunan.

Hak-hak ini lah yang bersifat kodrati yang melekat pada manusia, dan hak lain seperti rasa aman, kebebasan individu, hak memperoleh keadilan, hak untuk turut dalam pemerintahan,  merupakan hak-hak pemberian pemerintah dan penguasa yang harus dijamin dan harus tidak bertentangan dengan kepentingan umum (universal). Indonesia dengan pancasila sebagai falsafah hidup, sila pertama berbunyi ketuhanan yang maha esa, ini jelas menunjukan bahwa indonesia sebagai negara tidak melepaskan unsur-unsur agama dalam kehidupan bernegara, tidak seperti negara-negara barat yang melepaskan unsur agama dalam kehidupan bernegara (sekular) dan di rumuskan juga dalam dasar pertimbangan UU HAM, mengenai manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan dan mempunyai kodrat (hak-hak dasar yang melekat semenjak lahir) harus di lindungi, bukankah salah satu kondrat manusia itu di ciptakan berpasangan dengan lawan jenisnya agar mempunyai keturunan? Bukankah jika penyakit sosial (baca: LGBT) ini di perjuangkan keberadaannya malah menjauhkan mereka dari kodratnya? Siapa pejuang HAM sebenarnya? Berjuang atau membunuh hak mereka sendiri jika keberadaanya harus diterima dan di akui oleh negara dengan embel-embel HAM?. Lebih baik mari kita bersama-sama memperjuangkan kualitas pendidikan sebagai pusat berfikir berupa HAK ASASI MANUSIA.

Penulis:
Arsadt, S.H. (Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Madah)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website