Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Petalian Rindu

    Yayan Sumaryono.
    Ooh sang pemilik rasa
    Penyatu dan pemisah
    Pernah kau ikatkat tali kasih yang kujadikan ayunan bercinta
    Bertolak lalu terhempas

    Sayang beribu sesal terlalu laju kuhempaskan
    Putus sudah tali yang kurajut dengan urat nadi leluhur
    Namun simpul ikatan yang telah terpatri oleh jiwa
    Masih jaua begitu anggun di ujung pohon beringin tua itu
    Oow sanghiang jagad nara
    Jiwaku terkatung di antara empat penjuru angina

    Sumar, 13.05.16)


    Karya: Yayan Sumaryono
    [Penggiat Komunitas Sastra Rumah Jawi dan aktif di Komunitas Belajar Menulis]

    Resah

    Ilustrasi resah.
    Dalam gelisah kubertanya
    Pada kelamnya malam
    Dan linglungnya logika
    tumpulnya rasa

    Apakah ini yang kumau?
    Apakah ini kehidupan?
    Saling mencari kalimat sakti
    Mengasah taji

    Atau tafakur dalam mengasah rasa
    Memurnikan logika
    Memanjakan kata menjadi kalimat kehidupan

    Ah sajak syairku tercecer di pelantaran realitas
    Tak kuasa kupungut dengan sabda seribu mantra

    Demi-Mu
    Oh kerinduan-Ku
    Jantung hatiKu
    Hiasan semesta permata sang hiyang wasesa



    Yayan Sumaryono
    [Penggiat Komunitas Sastra Rumah Jawi dan aktif di Komunitas Belajar Menulis]


    Sumber foto: swikit.com

    Senyum Rena

    Winda Efanur FS.
    PewartaNews.com – Ada yang hilang dari senyumanmu, keceriaan yang tersembunyi di lesung pipitmu. Yang dulu mewarnai hari-harimu. Kini hilang yang tersisa hanya wajah layu.

    Aku masih menerka-nerka, dalamnya luka, yang meremukan hatimu. Yang membuatmu menjadi kamu yang lain.

    Aku pun harus mulai terbiasa, melihatmu berbeda-dirimu yang hilang.

    Selasa 14 April genap 200 hari kamu membisu. Tidak ada kata manis yang ku dengar seperti dulu. Seolah telah kamu lepas ikatan hati, yang telah terjalin empat tahun lamanya.

    Seperti malam ini. Aku bermalam di rumah sakit agar aku bisa menjagamu 24 jam. Hal nekad yang kulakukan agar senantiasa dekat denganmu. Meski awalnya pihak rumah sakit melarangnya.

    aku bersyukur ketika ku datang menjengukmu. Kamu mau merimaku, walaupun sambutanmu tak sehangat dulu.

    Aku sapa dirimu. Kamu hanya mengangguk malas. Matamu menoleh sekilas ke arahku. Lalu kamu buang lagi wajahmu ke arah jendela itu. Kamu tampak terpaku melihat taman rumah sakit, yang gelap melalui jendela.

    Entah apa, yang kamu lihat pada taman yang sepi itu. Kedua matamu mengawang, Kosong melihat jendela itu. Kekosongan akan ketidakhadiranmu di dunia nyatamu. Pikiran dan hatimu telah tersesat pada dunia yang jauh. Dunia lain yang tak mampu ku jangkau.

    Tatapanmu menuntunmu berjalan ke arah jendela. Kamu turun dari tempat tidurmu. Aku pun mulai waspada.

    Aku kembali melihat monolog, kamu meracau tak jelas. Memaki, memelas, merintih dan berteriak. Tak terkendali.

    "Aaak...bukan aku yang membunuhnya Alice, iblis itu yang bunuh bukan aku," teriakmu.

    Spontan kamu tinju. Kaca jendela. Pecah. Tanganmu berlumuran darah.

    Aku mendekat berusaha menolongmu.

    "Jangan mendekat Arman, kamu bisa terluka. Biar aku saja yang membunuhnya. Aku sudah melihat darahnya, dia akan mati," ancammu sambil menggenggam pecahan kaca.

    Aku menangis melihatmu begitu tersiksa. Larut dalam halusinasi yang mencabik-cabik jiwamu. Aku merasakan sakit, yang teramat sakit, yang kamu rasakan sendiri.

    "Arman, ayo kita lari dari sini, kalau tidak kita akan mati. Madam Ana telah mengirim pembunuh bayaran untuk membalas dendam karena Alice mati," pintamu histeris sambil menarik lenganku erat.

    Aku berusaha menarikmu kembali ke dunia nyatamu. Tapi apalah daya. Kamu semakin menggila, berusaha merobek nadimu dengan pecahan kaca.

    "Lihat, madame bukan aku yang bunuh dia, tapi iblis itu. Ku habisi Rena karena iblis itu akan membunuhnya. Aku telah menyelamatkan Rena, bukan? Lihatlah," kamu meracau tak jelas.

    "Rena kamu akan selamat, madam Ana, atau iblis itu tak bisa menyakitimu!

    Kamu pungut pecahan kaca, secepat kilat kamu gores urat nadimu.

    Aku genggam tanganmu. Mencegahmu. Dan terlambat.

    "Tolong-tolong!" teriaku.

    Tak lama berselang. Dua orang perawat laki-laki datang menolong. Menyergapmu dari belakang. Seorang diantaranya menyuntikan obat penenang.

    Tubuhmu langsung tak sadarkan diri. Aku membopongmu ke tempat tidur.

    Perawat memperban luka-luka di tanganmu. Tak terasa luka itu juga merembes ke hatiku. Suasana pun kembali sunyi.

    ***

    Malam ini begitu panjang. Bulan purnama di langit bersembunyi di balik tirai malam. Malam selalu menjadi teman sepi yang paling setia.

    Ketenangan malam tidak berarti bagiku. Di sisiku kamu masih tertidur pulas dengan obat penenang. Aku duduk di sampingmu. Kegelisahan terus menyerangku. Tak sedetikpun mataku mampu terpejam.

    Monologmu tadi membuatku sangat gundah. Kamu selalu berusaha membunuh dirimu sendiri. Dengan dalih menyelamatkan Rena, yang tak lain dirimu sendiri.

    Perkataan dokter semakin tergiang-giang di telingaku. Dengan kondisimu yang semakin parah sangat berbahaya. Kamu bisa bunuh diri bahkan melukai orang lain.

    Dokter menyarankan kamu segera dipindahkan ke ruang isolasi. Demi keselamatan bersama. Namun aku menolak keras saran dokter, aku tidak tega melihatmu dipasung. Dengan tangan dan kaki terikat rantai.

    Karena aku tahu, kamu akan semakin sakit. Dan kebencianmu pada duniamu semakin memuncak.

    Ruang isolasi justru akan menjauhkanmu dari kenyataan. Dan juga aku. Dalam keadaan apapun aku akan selalu berada di sampingmu. Menemanimu melewati suka dan duka dunia.

    "Rena, kuatlah sayang. Lawanlah suara-suara jahat itu. Aku selalu di sini menjagamu. Aku tak kan membiarkanmu sendirian. Aku pun di sini merasakan kepedihan yang kamu rasa," isak ku sembari menggenggam tangan Rena.

    Suara langkah kaki perlahan mendekat. Aku berusaha mengusap air mata yang menetes. Salah seorang perawat menghampiriku.

    "Permisi Pak Arman, dokter memanggil anda ke ruangannya," kata perawat itu.

    Aku beranjak dari kursi berjalan menuju ruang dokter. Meski belum tahu pasti.

    "Mohon maaf Pak Arman, kami harus segera menempatkan Rena ke ruang isolasi secepatnya," kata dokter.

    "Baiklah dokter, jika itu yang terbaik. Tapi izinkanlah aku ikut tinggal di ruang isolasi," pintaku.

    "Maaf kami tidak bisa membiarkan anda ke ruang isolasi. Rena berada di fase kritis saat ini, dia bisa melakukan apa saja bahkan membunuh anda sekalipun. Kami akan biarkan menjenguknya sesekali. Kita semua berharap ini untuk sementara waktu. Sampai Rena membaik, dia bisa kembali ke ruang perawatan biasa," papar dokter.

    ***

    Perintah dokter memang harus ku penuhi tahu tidak ada gunanya egois menahanmu di ruang perawatan. Alasan dokter memindahkanmu demi keselamatan bersama. Sejujurnya membuatku sangat tersinggung, mereka seolah memandangmu mahluk pembunuh yang berbahaya.

    Dengan dalih monster skizofrenia yang menyusup di antara raga dan jiwamu. Entah apa yang telah terjadi, mungkin benar kata dokter aku telah buta tidak bisa melihat kenyataan. Lebih tepatnya kebenaran. Di mataku Tak ada monster di dalam dirimu Rena, sampai kapanpun kamu tetap Rena yang sama. Rena yang ku cintai seperti dulu.

    Kesedihan dan kebingungan meringkus tubuhku sekaligus. Aku berjalan gontai menelusuri lorong rumah sakit. Aku hentikan langkahku pada taman rumah sakit yang gelap. Taman gelap yang Rena lihat tadi. Aku ingin bicara pada sepi. Sekiranya sepi dapat menjadi penawar dari kesedihanku.

    Larut dalam kesedihan. Aku terlupa mengabarkan kondisi Rena kepada keluarganya, Tante Ana.
    Melaui telepon singkat ku katakan Rena akan segera dipindahkan ke ruang isolasi untuk penanganan yang intensif. Aku juga menjelaskan insiden berdarah, Rena nyaris bunuh diri.

    "Tante harus ke rumah sakit nak Arman", bagaimanapun ini salah tante yang menyebabkan Rena seperti ini,"desaknya.

    "Tidak tante, tidak ada yang perlu disalahkan. Tante tidak bertanggung jawab apapun," kataku.

    "Ini salah tante, seandainya tante tidak menyalahkan Rena atas kematian Alice," isaknya.

    Aku memahami kecemasan Tante Ana telah mencapai klimaknya. Semenjak Rena dirawat di rumah sakit jiwa keduanya memang tidak pernah bertemu. Bukan karena aku melarang ibu dan anak itu bertemu. Alasan itu semua tak lebih dari kebencian Rena kepada ibunya. Ya, alasan yang ku rahasiakan dari Tante Ana.

    Di mata Rena, Tante Ana dendam kepadanya lantaran Alice, sang adik meninggal karena ulahnya.
    Suatu peristiwa kelam yang terjadi tiga tahun yang lalu. Rena dan Alice terlibat kecelakaan mobil. Mobil yang mereka tumpangi bertabrakan dengan mobil lain ketika hendak berangkat kerja bersama. Rena sempat menyelamatkan diri namun tidak dengan Alice. Sang maut memanggilnya kembali.

    Tante Ana sangat terguncang dengan kejadian itu. Dia sempat mengalami depresi berat. Selama tiga tahun dalam kondisi tertekannya dia meluapkan kemarahan kepada Rena. Tentang kebodohan takdir yang merengut nyawa Alice sebagai salah Rena.

    ***

    Rena telah kembali. Dia telah menemukan jasad barunya. Setelah terombang-ambing dalam kegelisahan yang luar biasa. Dia benar-benar bahagia. Matanya yang dulu redup kini telah menyala lagi.

    Rena telah terbebas. Bahkan kesunyian malam seketika tersibak menyambut kebebasannya. Malam yang sepi seolah terbangunkan oleh tawa bahagianya. Angin yang berhembus dingin perlahan-lahan mulai mengalir keras, menggerakan derak-derak dedaunan. Bersorak sorai menyambut Rena yang bebas.

    "Aku berhasil menyelamatkanmu Rena, iblis itu telah ku lenyapkan dengan tanganku. Iblis yang berwujud menjadi mama. Tidakah kamu dengar Rena, suara tangisan dan ketakutannya padaku. Kini kamu benar-benar selamat. Dan Madam Ana meski kamu jahat, aku telah menyelamatkanmu dari iblis itu. Mama, telah ku balas dendam Alice kepada takdir," tawa Rena bahagia.

    Tawa renyah Rena bercampur kegaduhan di rumah sakit. Sesosok jasad ibu paruh baya tergeletak di lantai tak bernyawa. Tangan suci Rena telah mencekik leher ibu itu hingga mengantarnya ke surga.

    Aku pun menjadi mayat hidup. Sisa kehidupan ku rasakan dari jantungku yang berdetak tak beraturan. Menyaksikan peristiwa naas itu. Dalam kebisuanku, aku menyalahkan diriku sendiri. Andai saja, aku tidak menelpon Tante Ana. Andai saja.

    Tak ada yang lebih kekal menyimpan sepi dari malam. Malam telah menjadi saksi kesepian merenggut setiap raga yang bernyawa.


    Cilacap, 27 Mei 2016.

    Karya : Winda Efanur FS
    [Seorang yang gemar merangkai kata menjadi kalimat. Penulis meyakini satu kalimat yang ditulis dengan jiwa bisa bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Kontak penulis, email : efanurw@gmail.com.]

    Sang Pemilik Rasa

    Ilustrasi.
    Ooh sang pemilik rasa
    Penyatu dan pemisah
    Pernah kau ikatkat tali kasih yang kujadikan ayunan bercinta

    Bertolak lalu terhempas
    Sayang beribu sesal terlalu laju kuhempaskan
    Putus sudah tali yang kurajut dengan urat nadi leluhur
    Namu simpul ikatan yang telah terpatri oleh jiwa
    Masih jua begitu anggun di ujung pohon beringin tua itu.

    Oow sanghiang jagad nara
    jiwaku terkatung di antara empat penjuru angina


    Sumar, 13 Mei 2016

    Karya: Yayan Sumaryono
    Penggiat Komunitas Sastra Rumah Jawi dan aktif di Komunitas Belajar Menulis


    Sumber Gambar: bacasaika.blogspot.com

    Masalah dan Solusi Pendidikan Alternatif di Dana Mbojo

    Ismail, S.H.I.
    PewartaNews.com – Menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 02 Mei 2016 tahun ini merupakan momentum terpenting dalam sejarah perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia, bisa di lihat dari berbagai latar belakang kontroversi dan inovasi pendidikan yang ada. Hardiknas diperingati antara lain untuk mengenang jasa Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara dan seluruh pejuang pendidikan yang patut kita kenang serta hargai jasanya. Hal itu sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pada BAB II Pasal 3 yang berbunyi: Tujuan pendidikan nasional ialah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Tujuan impilikasi dari UU Sisdiknas tersebut, memandang bahwa pendidikan semata-mata untuk mencerdaskan anak bangsa yang bermoral pendidkan religius berkemajuan, berawal dari moment bersejarah tersebut, Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta melakukan disksusi ilmiah pada tanggal 2 Mei 2016 di Aula Asrama Mahasiswa Bima Yogyakarta untuk membedah pendidikan nasional khususunya di Kabupaten Bima, Kota Bima dan dan Kabupaten Dompu dengan mengangkat tema “Meneropong Masalah dan Solusi Pendidikan Alternatif di Dana Mbojo”.

    Sebelum membuka pertemuan ilmiah tersebut, ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. menyampaikan sambutannya, “2 Mei 2016 bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, banyak hitam putih perjalanan pendidikan Indonesia yang masih perlu di diskusikan, begitu juga di dana Mbojo, pasti banyak persoalan yang mesti kita carikan solusinya. Dengan mengambil momentum hari Pendidikan Nasional, Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta mengundang seluruh mahasiswa Mbojo yang ada di Yogyakarta untuk menghadiri ini, mudahan dengan adanya kajian ini, kita dapat menemukan benang merah yang menjadi persoalannya, biar kita bisa merekomendasikan solusi-solusinya kepada pemerintah sebagai pemegang kebijakan strategis ‬dalam pembangunan pendidikan nasional”, ucap M. Jamil, S.H.

    Pertemuan ilmiah tersebut mengupas sekaligus mengagas pendidikan alternatif di Dana Mbojo. Sebagai informasi bagi yang belum pengetahuan makna penyebutan Dana Mbojo. Dana Mbojo merupakan peyebutan tanah suku Mbojo. Dana Mbojo terdiri dari Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu. Menurut bapak Jainudi, S.Pd. (anggota PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, yang juga sebagai pemateri) menyebutkan bahwa permasalahan serius penurunan kualitas pendidikan di Dana Mbojo disebabkan kurangnya potensi dan kualitas tenaga pengajar dalam menguasai konsep teori yang mumpuni, sehingga dalam aplikasi mengajar sangat terkendala dengan perkembangan dan perubahan pola pikir siswa sebagai objek pengajaran. Disamping kurang kualitas pendidik yang handal dalam mencetak generasi atau sumber daya manusia/siswa yang cermat, cerdas dan loyalitas, namun para pengajar juga kurang memahami potensi, kondisi dan situasi siswa yang ada.

    Menggambarkan secara umum kondisi pendidkan di Dana Mbojo memang sangat-sangat memprihatinkan sebagaimana disampaikan oleh bapak Sahrul Al Walid bahwa pendidikan harus mengacu pada pola pikir para intelek serta tokoh-tokoh nasional yang menguasai metode, pola pendidikan alternatif di Indonesia, menurut Prof. Nur Cholis Majid “Memanusiakan manusia dari pemikiran yang jahiliah” bahwa untuk membangun sumber daya manusia/siswa yang utuh, harus memadukan pendidikan moralitas, nilai regius dengan pola pendidikan yang  berbasis modernisasi dari berbagai aspek kemajuan keilmuan  yang ada, sehingga dengan perpaduan tersebut akan menempuh nilai-nilai pendidikan yang mecerdaskan, mendewasakan serta mengembangkan pola pikir siswa.

    Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 1996 mencanangkan pilar-pilar penting dalam pendidikan, yakni bahwa pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi seseorang (learning to be), dan belajar menjalani kehidupan bersama (learning to live together). Dalam konteks Indonesia, penerapan konsep pilar-pilar pendidikan ini bahwa sistem pendidikan Nasional berkewajiban untuk mempersiapkan seluruh warganya agar mampu berperan aktif dalam semua sektor kehidupan guna mewujudkan kehidupan yang cerdas, aktif, kreatif, dan mengutamakan persatuan dan kesatuan secara universal dalam berbagai segi kehidupan yang multikultural.

    Namun kondisi kekinian pendidikan di Dana Mbojo masih jauh dengan konsep dan teori seperti yang disebutkan di atas, kondisi pendidikan di Dana Mbojo masih berputar sekitar permasalahan kualitas pengajar yang tidak memadai, di samping tenaga pengajar, permasalah perkembangan pendidikan di Dana Mbojo bila dilihat dari dukungan pemerintah daerah memang  masih kurang cukup, terutama fasilitas: sarana dan pra sarana, buku-buku, media pendukung dan lain sebagainya.

    Pendidikan nasional pada era modernisasi ini sudah mulai menemukan embrio permasalahan serta alternatif solusi yang di anggap mampu memberikan masukan serta solusi sebagai  perbaikan  kemajuan pendidikan untuk Pemerintah Daerah (Pemda). Dalam diskusi ilmiah yang di lakukan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo- Yogyakarta yang diselenggarakan di Asrama Mahasiswa Bima “Sultan Abdul Kahir” menawarkan solusi konkrit alternatif, diantaranya seperti yang disebutkan dibawah ini.

    Pertama, Memadukan pendidikan ala pesantren dengan modernisasi pendidikan nasional. Kedua, Tokoh-tokoh intelektual Dana Mbojo yang berada di kota-kota besar lainnya harus  memberikan subangsih pendidikan di Dana Mbojo, baik berupa konsep teori atau berupa karya. Ketiga, Dalam memajukan modernisasi pendidikan di Dana Mbojo, Pemda harus memberikan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Keempat, Pemerintah  harus mengevaluasi akreditasi dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan.

    Kelima, Pendikan yang berbasis kearifan lokal yang bermuara pada nilai-nilai moral religius harus diterapkan melalui sistem yang aplikatif. Keenam, Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan, ilmu pengetahuan, skiill, pengalaman, sikapteladan, dan nilai berdasarkan standar nasional yang merata secara menyeluruh. Ketujuh, Memberdayakan peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi pendidikan dalam konteks NKRI secarachanges and balances. Kedelapan, Bagi para guru harus menguasai metode dan teori pendidikan yang inovatif serta bagi mahasiswa harus aktif terlibat sebagai agen perubahan pendidikan buat masyarakat.

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta konsisten dalam memberikan dukungan penuh kepada pemerintah daerah yang berada di Dana Mbojo dalam mengembangkan kualitas pendidikan yang bertaraf nasional bahkan bisa bersaing secara internasional, bentuk dukungan tersebut merupakan hal yang konkrit yang bisa dilakukan oleh PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta baik melalui diskusi ilmiah pendikan yang otonom,  bentuk karya atau usulan yang solutif demi kemandirian serta perkembangan pendidikan berkualitas di Dana Mbojo.


    Penulis: Ismail, S.H.I.
    [Anggota Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana Mbojo (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogykarta]

    Suasana Diskusi Hardiknas PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, 2 Mei 2016.

    Hukum Progresif Masa Depan Pendidikan Hukum Nasional

    Hasrul Buamona, S.H., M.H. 
    PewartaNews.com – Apa yang salah dengan pendidikan hukum di negara hukum Indonesia? ungkapan ini selalu disematkan dan bermunculan ketika para penegak hukum melakukan pelanggaran terhadap hukum, baik secara normatif maupun, secara etika hukum. Sehingga pertanyaan yang bermunculan kemudian oleh banyak orang tentang bagaimana pola pendidikan hukum di negeri ini, dimana sampai saat ini belum ada jawaban, atau fakta pasti yang mengembalikan calon sarjana hukum maupun sarjana hukum kembali kepada roh berhukum yang bernurani, beretika, serta bermoral tinggi sebagaimana yang termuat dalam Pancasila sebagai norma dasar negara hukum Indonesia.

    Permasalahan penegak hukum yang melanggar hukum begitu banyak di negara ini, namun yang memalukan ialah pelanggaran hukum yang dilakukan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar yang terjadi pada medio 2014, dan yang terbaru terkait dugaan pelanggaran hukum penyuapan yang dilakukan oleh Edy Nasution Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diduga juga memiliki kaitan dengan Nurhadi yang juga sebagai Sekretaris Mahkamah Agung Republik Indonesia (Koran SINDO, 29 April 2016). Dengan melihat karakter penegak hukum yang buruk, maka tidak salah Prof Soetandyo Wignjosoebroto menyatakan bahwa hukum bukan lagi eksperesi rasa keadilan, yang berakar tunjang dalam budaya masyarakat, melainkan instrumen teknis yang tak pernah punya roh (2012).

    Persoalan yang dihadapi saat sekarang pada pendidikan hukum nasional ialah sebagian mahasiswa hukum yang masuk pada fakultas hukum, menganggap bahwa kuliah hukum ialah study yang mudah, dan gampang lulus dikarenakan hanya mempelajari atau menghafal pasal-pasal hukum, tidak seperti kuliah pada fakultas matematika atau fisika yang harus bejibaku dengan rumus-rumus yang membosankan. Selain itu mahasiswa hukum pada saat sekarang, menganggap bahwa Undang-Undang ataupun hal-hal yang prosedural seperti hukum acara pidana, ataupun perdata merupakan bagian hukum yang harus dipelajari, dan tidak menjadikan etika hukum dan moral hukum, sebagai hal yang substansi untuk dipelajari dan dijiwai sebagai nilai-nilai kebenaran. Padahal yang harus disadari oleh mahasiswa hukum ialah kedepan mereka merupakan calon penegak hukum baik itu sebagai Advokat, Polisi, Jaksa, Hakim, Legislator, Notaris, Pemerintah dan Konsultan Hukum, yang tujuanya menghadirkan nilai keadilan bagi masyarakat luas.

    Kecenderungan mahasiswa hukum pada saat sekarang lebih mempelajari hukum hanya pada tatanan postivisme, legalistik dan dogmatik hukum semata, tanpa mempelajari hukum dari teropong hukum progresif, sebagaimana Prof Satjipto Rahardjo yang menjelaskan bahwa hukum progresif ialah menjalankan hukum tidak hanya sekedar kata hitam putih dari peraturan (according to the letter), melainkan menurut semangat dan makna lebih dalam yakni nurani dan moralitas.

    Mahasiswa hukum Indonesia saat sekarang lebih mempelajari hukum hanya pada pasal-pasal hukum yang berasal dari aliran filsafat positivisme hukum yang lahir pada abad ke-19, maupun teori hukum murni yang dikemukakan oleh Hans Kelsen yang menyatakan bahwa hukum adalah nilai yang bebas, yang tidak memiliki dengan ilmu lain baik itu Agama, Budaya, Sosial dan Ekonomi yang tidak memiliki kecocokan dengan living law negara hukum Indonesia. Padahal karakter berhukum,maupun norma-norma hukum Indonesia telah ada sebelum berkembangannya postivisme hukum di daratan Eropa, sebagai contohnya norma Adat Se Atoran dibumi Maluku Utara yang memiliki nilai etika dan moral, yang memiliki kerterkaitan tidak hanya antar sesama manusia sebagai subjek hukum, melainkan juga dengan alam dan Allah Swt.

    Dalam hukum progresif dijelaskan bahwa hukum diciptakan untuk manusia, dan bukan untuk hukum, maka ini memiliki kaitan juga dengan nilai-nilai Adat Se Atoran yang menjelaskan bahwa keberadaan manusia harus dimuliakan. Sehingga menjadi patut bahwa nilai-nilai yang luhur ini, harus menjadi dasar pendidikan hukum nasional.

    Prof Satjipto Raharjo menjelaskan bahwa latar belakang lahirnya hukum progresif, disebabkan oleh carut marut penegakan hukum, dimana mind set (cara berpikir) penegak hukum yang menjadikan hukum positif (Undang-Undang) sebagai pusat orientasi. Keadilan selalu dan senantiasa ingin diwujudkan ialah keadilan formal, keadilan yang dianggap tercapai semata-mata karena segala prosedur formal telah terpenuhi, tak peduli pencari keadilan merasakan kesewenang-wenangan belaka (Natangsa Surbakti,2013). Sehingga menurut penulis, hukum progresif sudah seharusnya dijadikan sebagai aliran filsafat hukum dalam pendidikan hukum nasional yang di integrasikan kedalam kurikulum pada fakultas hukum, tujuannya untuk memberi khazanah keilmuan yang bernilai tinggi, agar kedepan mahasiswa hukum mampu merubah pola pikir positivisme hukum, legalistik, formalistik dan dogmatik hukum, yang telah menjadi penyakit bagi mahasiswa hukum dan penegak hukum seperti sekarang ini, agar kedepan menjadi lebih bernurani dan bermoral, baik sebagai Advokat, Jaksa, Polisi, Hakim, Notaris, Eksekutif, Legislator, dan Konsultan Hukum.


    Penulis : Hasrul Buamona, S.H., M.H. 
    (Advokat & Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta / Eks Ketua I Bagian Internal DPC PERMAHI DIY Periode 2011-2012)

    Dari Tagari Untuk Bumi

    Suasana saat peringatan Hari Bumi.
    PewartaNews.com – Hari bumi yang jatuh pada hari jumat, 22 April 2016 lalu diperingati sebagai hari dimana manusia menunjukkan kecintaannya kepada bumi yang sudah semakin tua dan renta akibat polusi dan global warming yang makin parah. Orang-orang, baik yang tegabung pada organisasi, lingkungan kerja, ataupun perseorangan memperingati hari tersebut dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi bertambah panjangnya usia bumi ini. Salah satunya dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (HMTG UGM). Mereka para mahasiswa dan mahasiswi bergerak bersama memperingati hari Bumi dimulai dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor ataupun mobil khusus pada tanggal 22 April tersebut. Seluruh mahasiswa Teknik Geologi UGM, dengan kesadaran penuh sebagai wujud kecintaannya terhadap bumi yang hanya satu ini, memilih berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda ke kampus. Puncak kegiatan dalam memperingat hari bumi dilaksanakan dengan melakukan penanaman Bakau di kawasan Pantai Baros, Kulon Progo pada sabtu, 24 april 2016. Kegiatan ini diikuti dari kalangan yang beragam, mulai dari mahasiswa Teknik Geologi UGM sendiri, mahasiswa dari jurusan lain yang ada di UGM, anak SMA, dan juga dari Komunitas Segenggam Mentari (Tagari) Jogja.

    Teman-teman Komunitas Segenggam Mentari (Tagari) yang dikenal dengan komunitas yang fokus pada pengembangan anak-anak difabel yang juga aktif dalam beberapa kegiatan sosial lainnya juga mengikuti acara yang diselenggarakan oleh HMTG UGM ini. Tagari ingin ikut andil dalam menjaga kelestarian bumi karena mereka sadar bahwa kehidupan ini tidak hanya berurusan dengan kepentingan masing-masing tetapi juga tentang bagaimana menjaga bumi yang merupakan rumah dari berlangsungnya segala aktivitas. Jika rumah rusak, maka tidak ada tempat untuk tinggal apalagi untuk menjalankan rutinitas yang padat tiap harinya. Tujuan Tagari ketika mengikuti kegiatan tanam pohon bakau bukan hanya mendukung acara yang diselenggrakan oleh HMTG UGM tetapi juga atas kesadaran bahwa kita harus menyediakan lingkungan yang sustainable untuk generasi yang akan datang.

    Menyediakan lingkungan yang sustainable melalui kegiatan memperingati Hari Bumi yang jatuh tiap tanggal 22 April ini adalah bagaimana kita agar dapat terus menjaga keberlangsungan bumi ini karena ingat: Kita tidak hanya hidup untuk hari ini. Ada anak dan cucu kita yang akan hidup di masa yang akan datang. Oleh karena itu kita harus mewariskan kepada mereka suatu bumi yang tetap terawat dan terjaga kehijauannya.


    Penulis: Mega Fia Lestari
    Anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)


    Suasana saat penanaman Bakau.

    Para peserta setelah prosesi penanaman Bakau.


     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website