Headlines News :
Home » » Senyum Rena

Senyum Rena

Written By Pewarta News on Sabtu, 28 Mei 2016 | 11.43

Winda Efanur FS.
PewartaNews.com – Ada yang hilang dari senyumanmu, keceriaan yang tersembunyi di lesung pipitmu. Yang dulu mewarnai hari-harimu. Kini hilang yang tersisa hanya wajah layu.

Aku masih menerka-nerka, dalamnya luka, yang meremukan hatimu. Yang membuatmu menjadi kamu yang lain.

Aku pun harus mulai terbiasa, melihatmu berbeda-dirimu yang hilang.

Selasa 14 April genap 200 hari kamu membisu. Tidak ada kata manis yang ku dengar seperti dulu. Seolah telah kamu lepas ikatan hati, yang telah terjalin empat tahun lamanya.

Seperti malam ini. Aku bermalam di rumah sakit agar aku bisa menjagamu 24 jam. Hal nekad yang kulakukan agar senantiasa dekat denganmu. Meski awalnya pihak rumah sakit melarangnya.

aku bersyukur ketika ku datang menjengukmu. Kamu mau merimaku, walaupun sambutanmu tak sehangat dulu.

Aku sapa dirimu. Kamu hanya mengangguk malas. Matamu menoleh sekilas ke arahku. Lalu kamu buang lagi wajahmu ke arah jendela itu. Kamu tampak terpaku melihat taman rumah sakit, yang gelap melalui jendela.

Entah apa, yang kamu lihat pada taman yang sepi itu. Kedua matamu mengawang, Kosong melihat jendela itu. Kekosongan akan ketidakhadiranmu di dunia nyatamu. Pikiran dan hatimu telah tersesat pada dunia yang jauh. Dunia lain yang tak mampu ku jangkau.

Tatapanmu menuntunmu berjalan ke arah jendela. Kamu turun dari tempat tidurmu. Aku pun mulai waspada.

Aku kembali melihat monolog, kamu meracau tak jelas. Memaki, memelas, merintih dan berteriak. Tak terkendali.

"Aaak...bukan aku yang membunuhnya Alice, iblis itu yang bunuh bukan aku," teriakmu.

Spontan kamu tinju. Kaca jendela. Pecah. Tanganmu berlumuran darah.

Aku mendekat berusaha menolongmu.

"Jangan mendekat Arman, kamu bisa terluka. Biar aku saja yang membunuhnya. Aku sudah melihat darahnya, dia akan mati," ancammu sambil menggenggam pecahan kaca.

Aku menangis melihatmu begitu tersiksa. Larut dalam halusinasi yang mencabik-cabik jiwamu. Aku merasakan sakit, yang teramat sakit, yang kamu rasakan sendiri.

"Arman, ayo kita lari dari sini, kalau tidak kita akan mati. Madam Ana telah mengirim pembunuh bayaran untuk membalas dendam karena Alice mati," pintamu histeris sambil menarik lenganku erat.

Aku berusaha menarikmu kembali ke dunia nyatamu. Tapi apalah daya. Kamu semakin menggila, berusaha merobek nadimu dengan pecahan kaca.

"Lihat, madame bukan aku yang bunuh dia, tapi iblis itu. Ku habisi Rena karena iblis itu akan membunuhnya. Aku telah menyelamatkan Rena, bukan? Lihatlah," kamu meracau tak jelas.

"Rena kamu akan selamat, madam Ana, atau iblis itu tak bisa menyakitimu!

Kamu pungut pecahan kaca, secepat kilat kamu gores urat nadimu.

Aku genggam tanganmu. Mencegahmu. Dan terlambat.

"Tolong-tolong!" teriaku.

Tak lama berselang. Dua orang perawat laki-laki datang menolong. Menyergapmu dari belakang. Seorang diantaranya menyuntikan obat penenang.

Tubuhmu langsung tak sadarkan diri. Aku membopongmu ke tempat tidur.

Perawat memperban luka-luka di tanganmu. Tak terasa luka itu juga merembes ke hatiku. Suasana pun kembali sunyi.

***

Malam ini begitu panjang. Bulan purnama di langit bersembunyi di balik tirai malam. Malam selalu menjadi teman sepi yang paling setia.

Ketenangan malam tidak berarti bagiku. Di sisiku kamu masih tertidur pulas dengan obat penenang. Aku duduk di sampingmu. Kegelisahan terus menyerangku. Tak sedetikpun mataku mampu terpejam.

Monologmu tadi membuatku sangat gundah. Kamu selalu berusaha membunuh dirimu sendiri. Dengan dalih menyelamatkan Rena, yang tak lain dirimu sendiri.

Perkataan dokter semakin tergiang-giang di telingaku. Dengan kondisimu yang semakin parah sangat berbahaya. Kamu bisa bunuh diri bahkan melukai orang lain.

Dokter menyarankan kamu segera dipindahkan ke ruang isolasi. Demi keselamatan bersama. Namun aku menolak keras saran dokter, aku tidak tega melihatmu dipasung. Dengan tangan dan kaki terikat rantai.

Karena aku tahu, kamu akan semakin sakit. Dan kebencianmu pada duniamu semakin memuncak.

Ruang isolasi justru akan menjauhkanmu dari kenyataan. Dan juga aku. Dalam keadaan apapun aku akan selalu berada di sampingmu. Menemanimu melewati suka dan duka dunia.

"Rena, kuatlah sayang. Lawanlah suara-suara jahat itu. Aku selalu di sini menjagamu. Aku tak kan membiarkanmu sendirian. Aku pun di sini merasakan kepedihan yang kamu rasa," isak ku sembari menggenggam tangan Rena.

Suara langkah kaki perlahan mendekat. Aku berusaha mengusap air mata yang menetes. Salah seorang perawat menghampiriku.

"Permisi Pak Arman, dokter memanggil anda ke ruangannya," kata perawat itu.

Aku beranjak dari kursi berjalan menuju ruang dokter. Meski belum tahu pasti.

"Mohon maaf Pak Arman, kami harus segera menempatkan Rena ke ruang isolasi secepatnya," kata dokter.

"Baiklah dokter, jika itu yang terbaik. Tapi izinkanlah aku ikut tinggal di ruang isolasi," pintaku.

"Maaf kami tidak bisa membiarkan anda ke ruang isolasi. Rena berada di fase kritis saat ini, dia bisa melakukan apa saja bahkan membunuh anda sekalipun. Kami akan biarkan menjenguknya sesekali. Kita semua berharap ini untuk sementara waktu. Sampai Rena membaik, dia bisa kembali ke ruang perawatan biasa," papar dokter.

***

Perintah dokter memang harus ku penuhi tahu tidak ada gunanya egois menahanmu di ruang perawatan. Alasan dokter memindahkanmu demi keselamatan bersama. Sejujurnya membuatku sangat tersinggung, mereka seolah memandangmu mahluk pembunuh yang berbahaya.

Dengan dalih monster skizofrenia yang menyusup di antara raga dan jiwamu. Entah apa yang telah terjadi, mungkin benar kata dokter aku telah buta tidak bisa melihat kenyataan. Lebih tepatnya kebenaran. Di mataku Tak ada monster di dalam dirimu Rena, sampai kapanpun kamu tetap Rena yang sama. Rena yang ku cintai seperti dulu.

Kesedihan dan kebingungan meringkus tubuhku sekaligus. Aku berjalan gontai menelusuri lorong rumah sakit. Aku hentikan langkahku pada taman rumah sakit yang gelap. Taman gelap yang Rena lihat tadi. Aku ingin bicara pada sepi. Sekiranya sepi dapat menjadi penawar dari kesedihanku.

Larut dalam kesedihan. Aku terlupa mengabarkan kondisi Rena kepada keluarganya, Tante Ana.
Melaui telepon singkat ku katakan Rena akan segera dipindahkan ke ruang isolasi untuk penanganan yang intensif. Aku juga menjelaskan insiden berdarah, Rena nyaris bunuh diri.

"Tante harus ke rumah sakit nak Arman", bagaimanapun ini salah tante yang menyebabkan Rena seperti ini,"desaknya.

"Tidak tante, tidak ada yang perlu disalahkan. Tante tidak bertanggung jawab apapun," kataku.

"Ini salah tante, seandainya tante tidak menyalahkan Rena atas kematian Alice," isaknya.

Aku memahami kecemasan Tante Ana telah mencapai klimaknya. Semenjak Rena dirawat di rumah sakit jiwa keduanya memang tidak pernah bertemu. Bukan karena aku melarang ibu dan anak itu bertemu. Alasan itu semua tak lebih dari kebencian Rena kepada ibunya. Ya, alasan yang ku rahasiakan dari Tante Ana.

Di mata Rena, Tante Ana dendam kepadanya lantaran Alice, sang adik meninggal karena ulahnya.
Suatu peristiwa kelam yang terjadi tiga tahun yang lalu. Rena dan Alice terlibat kecelakaan mobil. Mobil yang mereka tumpangi bertabrakan dengan mobil lain ketika hendak berangkat kerja bersama. Rena sempat menyelamatkan diri namun tidak dengan Alice. Sang maut memanggilnya kembali.

Tante Ana sangat terguncang dengan kejadian itu. Dia sempat mengalami depresi berat. Selama tiga tahun dalam kondisi tertekannya dia meluapkan kemarahan kepada Rena. Tentang kebodohan takdir yang merengut nyawa Alice sebagai salah Rena.

***

Rena telah kembali. Dia telah menemukan jasad barunya. Setelah terombang-ambing dalam kegelisahan yang luar biasa. Dia benar-benar bahagia. Matanya yang dulu redup kini telah menyala lagi.

Rena telah terbebas. Bahkan kesunyian malam seketika tersibak menyambut kebebasannya. Malam yang sepi seolah terbangunkan oleh tawa bahagianya. Angin yang berhembus dingin perlahan-lahan mulai mengalir keras, menggerakan derak-derak dedaunan. Bersorak sorai menyambut Rena yang bebas.

"Aku berhasil menyelamatkanmu Rena, iblis itu telah ku lenyapkan dengan tanganku. Iblis yang berwujud menjadi mama. Tidakah kamu dengar Rena, suara tangisan dan ketakutannya padaku. Kini kamu benar-benar selamat. Dan Madam Ana meski kamu jahat, aku telah menyelamatkanmu dari iblis itu. Mama, telah ku balas dendam Alice kepada takdir," tawa Rena bahagia.

Tawa renyah Rena bercampur kegaduhan di rumah sakit. Sesosok jasad ibu paruh baya tergeletak di lantai tak bernyawa. Tangan suci Rena telah mencekik leher ibu itu hingga mengantarnya ke surga.

Aku pun menjadi mayat hidup. Sisa kehidupan ku rasakan dari jantungku yang berdetak tak beraturan. Menyaksikan peristiwa naas itu. Dalam kebisuanku, aku menyalahkan diriku sendiri. Andai saja, aku tidak menelpon Tante Ana. Andai saja.

Tak ada yang lebih kekal menyimpan sepi dari malam. Malam telah menjadi saksi kesepian merenggut setiap raga yang bernyawa.


Cilacap, 27 Mei 2016.

Karya : Winda Efanur FS
[Seorang yang gemar merangkai kata menjadi kalimat. Penulis meyakini satu kalimat yang ditulis dengan jiwa bisa bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Kontak penulis, email : efanurw@gmail.com.]

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website