Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    [Cerpen] Juang

    Agus Salim.
    PewartaNews.com – Sekitar jam 3-an sore itu. Agil bersama seorang temannya bernama Faris, mereka  sedang berada dalam kamar kosnya. Agil membaca buku baru yang dibelinya dua hari yang lalu. Sedangkan Faris menonton film, yang entah sudah berapa kali ia tonton ulang. Mungkin filmnya terlalu asyik? Entah!

    Agil telah menyelesaikan bagian pertama buku barunya. Dan kini, baru menyelesaikan beberapa judul pada bagian kedua. Maklum. Ia telah mulai membaca buku itu sepulang dari toko buku malam itu (dua hari yang lalu) menurut rencananya, hari ini harus segera ia tuntaskan. Sementara  Faris masih asyik-asyiknya menanti ending film yang ia tonton. Ditengah keseriusan dengan aktivitas masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara. Ya, suara pintu  yang diketuk.
    “Assalamulekum”.
    “Walaikumsalam”. Jawab Agil. Langsung menandai halaman buku, dengan melipat ujungnya, kemudian membuka pintu.
    “Oh ya, Bang”. Agil menyapanya.
    “Mari masuk Bang”. Sahut Agil. Lagi.
    “Kapan madu-nya tiba, Bang?”. Tanya Agil. Lalu mempersilahkan Abang Salam duduk. Iya, Salam adalah nama tamu itu. Agil menyapanya dengan Abang Salam. Suatu bentuk sapaan hormat yang tertanam kuat dalam dirinya, yang telah diajarkan oleh masyarakatnya secara kultur dalam kehidupan sehari-hari. Ya, tanpa pendidikan formal. Mungkin budaya itu masih ada? Mungkin juga mulai luntur? Mungkin juga telah luntur seutuhnya? Ah, entahlah. Ia sudah lama alpa sekedar meyaksikan perubahan masyarakat yang begitu cepat.

    Sementara Faris langsung menekan tombol pause. Walaupun film-nya belum selesai. Membuat dirinya makin penasaran dengan ending-nya. Ia lakukan itu karena merasa dirinya lebih muda dan tentunya untuk menyambut tamu. Apalagi tamu itu Abang se-Daerahnya. Walaupun tidak sedarah, tapi ikatan “darah daerah” membuat mereka cukup paham, bagaimana saling mengharagai ala Bima. “Obrolan” pun dimulai oleh Agil, walau tanpa menyuguhkan segelas air putih dan sepotong roti untuk tamunya, Abangnya. Oh ya, inikan Ramadhan! Bulan puasa. Bisiknya dalam hati.

    Hampir setengah jam telah berlalu, sejak kedatangan Abang Salam. Membicarakan apa saja perihal Bima yang belum di ketahui, tentunya oleh Agil dan Faris. Dengan santai keduanya mendengarkan penjelasan Abang Salam, yang memang lebih banyak dan sering berbicara daripada keduanya. Saatnya Abang Salam membicarakan masalah “inti”. Wow, masalah inti? Sejenis apakah ia. Mungkinkah semacam seminar? Workshop? Meeting kabinet Negara? Tumpukan jenis pembicarakan formal-kaku muncul dan hilang di benak Agil. Mungkin juga Faris.

    Menurut pengakuannya, Abang Salam sedang menjalankan bisnis. Bisnis Madu. Iya, air madu. Obat alami yang tak tertandingi oleh jenis herbal apapun. Herbal karya Tangan Tuhan. Sumber kabaikan dengan kemanfaatannya untuk mengobati penyakit manusia, telah di abadikan oleh Tuhan lewat karya-Nya (Al-Qur’an). Bahkan binatang yang “beradab” itu (lebah) telah dijadikan sebagai nama salah satu dari seratus empat belas surah dalam Qur’an. An-Nahl (lebah) nama surahnya. Jelas Bang Salam.

    “Kalian tau?”. Tanya Bang Salam, sembari secara bergantian melihat wajah Agil dan Faris.
    “Lebah itu menerima wahyu dari Tuhan, lho”.
    “Cek aja dalam surah An-Nahl ayat 68-69 itu!”. Lanjutnya. Tanpa bermaksud menggurui apaladi mengkhutbahi kedua juniornya. Faris memperlihatkan wajah penasaran atas ucapan Bang Salam. Sedangkan Agil, terlihat biasa saja. Mungkin ia telah mengetahuinya. Atau mungkin ia tidak terlalu peduli? Mungkin?

    Bagaimanapun juga. Agil dan Faris merasa mendapatkan penegtahuan baru, sore itu. Terlepas kekagumannya pada Abang Salam, yang telah membagi pengalaman berbisnis, juga pengetahuan tenatng Alam semesta. Ya, Alam yang kini sedang “diperkosa” oleh manusia-manusia jahil dan banal dengan mengeksploitasinya secara rakus dan kejam. Agil jadi teringat dengan mata kuliah “lingkungan” di kampusnya. Betapa pentingnya menjaga alam dan melestarikan sumber daya yang ada.

    Abang Salam, lagi-lagi angkat suara. Dirinya tidak hanya berbisnis. Ucapnya. Selain berbisnis, ada banyak hal besar yang akan dicapai dari hal-hal kecil ini, sambil memegang botol berisi madu, untuk Daerah kita, Bima, Dana Mbojo. Ungkapnya. Sadar ataupun tidak orang akan tahu tentang Daerah kita dan kualitas hasil alamnya.

    “Kita akan memperkenalkan Daerah!”.  Agil menyadari bahwa Bima belum ada apa-apanya, dibanding dengan beberapa Daerah yang sudah sangat tenar. Itu bukan alasan untuk tidak bangkit. Sahutnya dalam hati, melawan pikirannya sendiri.
    “Dek, dengan madu ini kita akan kenalkan Bima”.
    “Kita harus menyadari, kalau madu daerah kita cukup berkualitas”.
    “Madu bisa saja sama. Tapi alam tempat  hidupnya lebah menentukan kualitas madu yang dihasilkan”. Jelas Abang Salam. Memperlihatkan penegetahuannya perihal madu. Kecukupan pengetahuannya perihal madu dan kelihaiannya dalam promosi sudah cukup menjadi senjatanya.

    Saat ini, cukup mudah untuk mendapatkan sekedar madu. Tetapi yang sulit adalah mendapatkan madu asli. Bagi mereka yang rakus. Tidak sulit merusak keaslian dan kualitas madu dengan campuran apapun demi meraih keuntungan yang lebih. Masalah keaslian dan kualitas itu urusan belakang, yang penting bisa dapat fulus yang banyak dan cepat! Mungkin itu isi pikiran para pengikut Qorun yang hiudp di era penyembahan terhadap materialime saat ini.

    “Munkgin inilah salah satu cara memperjunagkan daerah”. Agil angkat suara. Walau sedikit tak percaya dengan ucapannya.

    “Bisa jadi benar!”. Jawab Abang Salam. Faris tertawa kecil memandagi Agil. Mungkin mengagumi Agil yang bicara tentang perjungan. Atau juga sebaliknya, mengejek!
    “Berjuang itu banyak cara”. Kembali Bang Salam angkat suara.
    “Terutama untuk daerah”.

    Di era otonomi daerah ini. Dimana setiap Daerah memperlihatkan kebolehan masing-masing dalam hal kemajuan dan kekayaan Daerah.  Para putra-putri Daerah memiliki tanggungjawab untuk itu.  Bersaing menampilkan kelebihan masing-masing dalam mengelola dan menegmbangkan Daerah. Kompetisi! Siapapun bisa ikut bersaing, dengan cara dan jalur yang ditempuh menurut selera setiap orang. Mulai dari cara mulia sampai yang paling bejat sekalipun, tetap di tempuh.

    Memperjuangkan Daerah merrupakan kewajiban sosial bagi putra-putri Daerah. Jalur yang ditempuh bisa saja berbeda. Dan tidak mungkin juga dipaksa untuk sama, itu menghambat pencapaian tujuan. Pengembangan pendidikan berorientasi kemanusiaan, bisa. Seni dan Kebudayaan, apalagi. Olahraga pun, ia. Bahkan, sampai jalur politik. Asal berbasiskan pada moralitas dan sikap kastria. Semua itu, merupakan sedikitnya jalan yang bisa ditempuh oleh putra-putri Daerah untuk mengembangkan Daerah. Memperjuangkannya.
    “Dan saya dengan berbisnis madu ini pun, terselip perjuangan untuk daerah”. Ucap Bang Salam. Mengakhiri penejelasannya yang panjang-lebar. Dalam  hati, Faris berucap, “kayak sudah dua SKS dikelas aja”.

    Hari semakin sore. Mereka masih asyik  membicarakan perihal Daerah, perjuangan dan jalan di tempuh. Ah, ternyata perjuangan dan strategi bukan monoton milik para aktivis yang kadang tak jelsa itu. Atas nama rakyat-lah. Atas nama keadilan-lah. Rakyat dan keaadilan yang mana dan untuk siapa? Sahut Agil dalam hati. Mempertentangkan kerancuan yang ia saksikan.
    “Satu hal lagi”. Kata Bang Salam.

    Dengan madu ini. Secara perlahan kita akan bisa mengurangi tingkat penebangan pohon secara liar dan rakus. Menghentikan tangan-tangan jahil yang menggunduli hutan.
    “Emang bisa, Bang?”. Faris angkat suara. Penasaran.
    “Caranya”. Lanjutnya. Tidak sabar.

    Apabila madu kita, madu Bima, sudah cukup dikenal, tentunya dengan keaslian dan kualitas yang terjaga. Orang-orang akan semakin butuh dengan madu. Pastinya orang akan penasaran dengan Bima, Daerah Bima. Tidak menutup kemungkinan mereka yang penasaran akan berkunjung ke Bima dan membeli madu, salahsatunya. Dengan demikian, secara perlahan cara  pandang dan kebiasaan masyarakat akan berubah. Ya,  walaupun perlahan dan butuh waktu. Dari kebiasaan menebang pohon secara liar dan rakus beralih pada penanaman pohon dan aksi pelestarian alam serta penghuninya.

    “Sulit menghentikan kebiasaan menebang pohon secara liar dan rakus, tanpa ada alternatif ekonomi masyarakat yang bisa di rasakan langsung oleh mereka”. Jelasnya.

    “Ya, salah satu alternatifnya. Kita perkenalkan hasil alam kita pada orang lain, seperti madu ini salah satunya”. Lajut Bang Salam

    Abang Salam melirik jam tagannya. Rupanya sebentar lagi waktu berbuka puasa segera tiba. Faris dan Agil mengajaknya buka puasa bersama di kos. Walau dengan makanan seadanya. Maklum anak kos, anak ranatauan lagi! Sahut Faris. Abang Salam terus-terang, kalau dirinya ada janjian dengan seseorang sore ini.

    “Kalau begitu, Abang pamitan ya,..!”.
    “Oke bang!”. Balas Faris.
    “Makasih ya, Bang!”. Ucap Agil

    Bang Salam keluar kamar kos. Memakai sepatunya. Lalu berjalan kearah motornya diluar, depan gerbang. Faris berdiri depan pintu, melihat Abang Salam yang berjalan sampai mengendarai motor. Sampai tak terlihat. Menyisakan Debu yang berhamburan terbang dijalan. Agil,  usai bersalaman dengan Bang Salam. Langsung menggapai bukunya. Sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba. Kemudian, Sunyi!.


    Yogyakarta, (Asrama Bima/Kamar 111) 11 Juni 2016
    Penulis : Agus Salim / Agus Mechi Angi
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Tagari Berbagi Cinta di Bulan Suci Ramadhan

    Susana saat Tagari selenggarakan Penyuluhan dan Bukber.
    PewartaNews.com – Bulan suci yang penuh kebahagiaan ini tidak disia-siakan oleh Komunitas Segenggam Mentari (Tagari) untuk berbagi kasih. Lewat dana donasi yang dikumpulkan dalam waktu kurang lebih 1 minggu, Tagari melaksanakan buka bersama dan penyuluhan kesehatan tentang keajaiban kurma di SLB Bhakti Pertiwi yang diselenggarakan pada Kamis 16 Juni 2016. Diawali dengan penyuluhan kesehatan yang materinya diberikan langsung oleh dr. Dito Anurogo, salah satu anggota aktif Tagari, berlangsung kurang lebih 45 menit. Adik-adik SLB Bhakti Pertiwi dan bapak ibu guru serta Tagari ikut mendengarkan penjelasan dr. Dito tentang keajaiban kurma. Dan dilanjutkan berbuka puasa serta sholat berjama’aah bersama.

    Acara buka bersama dan penyuluhan kesehatan ini merupakan acara Tagari untuk lebih mempererat hubungan dan jalinan silahturahmi dengan SLB Bhakti Pertiwi yang menjadi mitra Tagari dalam berkegiatan. Buka bersama yang biasanya dilakukan Tagari dikota dan penuh dengan hingar bingar keramaian, berubah menjadi suasana haru dan bahagia ketika dilaksanakan di SLB Bhakti Pertiwi. Bertemu dengan adik-adik di SLb Bhakti Pertiwi dan bapak ibu guru disana menjadi pengalaman tersendiri bagi Tagari untuk selalu bisa bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan dan semangat tanpa menyerah dengan apa yang belum kita raih.

    Setelah ini, Tagari akan bersiap untuk acara-acara selanjutnya yang masih akan diadakan di SLb Bhakti Pertiwi.
    Salam Hangat, Salam Ceria, Mari Bermanfaat Untuk Sesama.


    Penulis: Henny Prasetyo
    Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

    TAGARI Rekrut Keluarga Baru

    Logo Tagari.
    PewartaNews.com – Komunitas Segenggam Mentari (Tagari) merupakan komunitas yang masih sangat muda belia, baru berumur 3 bulan sejak didirikan pada tanggal 13 Februari 2016, baru-baru ini mengadakan rekrutmen anggota baru. Anggota baru tersebut dikenal dengan istilah “Keluarga Baru Tagari”. Setelah melalui rekrumen terbuka selama 1 bulan, akhirnya dilakukanlah “Gathering Bersama Keluarga Baru Tagari Jogja” Minggu, 15 Mei 2016 di Rumah Komunitas. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 Keluarga Baru Tagari dari 41 orang yang mendaftarkan diri. Gathering ini bertujuan sebagai ajang silaturahmi antara para Founder Tagari dan Keluarga Baru Tagari sekaligus memperkenalkan kepada mereka tentang, Visi Misi Tagari, Sejarah Berdirinya Tagari, Filosofi Segenggam Mentari, Latar Belakang Berdirinya Tagari, Tujuan Tagari, dan Kepengurusan Tagari.

    Tagari merupakan komunitas yang bergerak untuk membantu kemandirian anak-anak difabel. Oleh karena itu, agar lebih memudahkan dalam melaksanakan berbagai program kerja, maka dalam tubuh Tagari terdapat sistem kepengurusan yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan terdapat 3 divisi yakni (1) Media dan Informasi, (2) Pengembangan Ilmu dan SDM, dan (3) Kerjasama dan Fundrising. Tetapi, dibalik sistem tersebut, sebenarnya dalam Tagari sendiri kita semuanya sama. Tidak mengenal dia merupakan ketua maka kita harus lebih sungkan kepadanya. Sistem itu semua dibuat hanya demi memudahkan saja dalam mencapai tujuan Tagari yakni (1) menumbuhkan kesadaran akan isu-isu difabel, yaitu kesadaran yang dimiliki terhadap pemenuhan hak-hak penyandang difabel, (2) mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada di DIY dan sekitarnya termasuk isu masalah difabel, (3) komunitas sosial yang peduli terhadap sesama, memiliki jiwa sosial yang tinggi dengan merancang kegiatan-kegiatan yang kreatif, (4) mampu menjadi bagian kecil dari banyaknya aksi-aksi sosial yang ada, (5) mengurangi stigma negatif dari masyarakat umum tentang difabel, dan (6) menyadarkan masyarakat umum untuk lebih peduli terhadap difabel.

    Setelah perkenalan tentang Tagari, kami yang berada di Rumah Komunitas itu melaksanakan nobar (nonton bareng) reality show yang menampilkan tentang prestasi yang diraih oleh kaum difabel. Tontonan itu sangat menggugah hati kami dan semakin bersemangat untuk memandirikan kamum difabel serta menghilangkan sedikit demi sedikit stigma negatif tentang mereka, mengubahnya menjadi “kamu difabel bisa melakukan hal yang sama dan bersaing dengan manusia normal lainnya”.

    Salam Hangat, Salam Ceria, Mari Bermanfaat Untuk Sesama.
    Begitulah bunyi dari tagline Komunitas segenggam mentari.


    Penulis: Mega Fia Lestari
    Founder Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

    Lopi Karodo (Cerpen Bahasa Bima)

    Agus Salim.
    PewartaNews.com – Wara-waraku aipu zaman ma ntoina. Mori lalo mpara Ama Beto labo Ama Bengo. Ama beto ede ededu  Bote. Ama bengo ede ededu Bango. Dei sabua ainaina, rece lalo mpara ba Ama Beto Ama Bengo ede. Ededu ba lao ngaha kalo aka nggaro Ama Beto.
    “Oe Ama Bengo”. Nggahi Ama Beto.
    “Io, Ama Beto e “. Cambe  ba Ama Bengo.
    “Ti ca’u mu lao ngaha kalo aka nggaro nahu ro?”. Sodi ba Ama Beto.
    “Ka ca’u ni”. Cambe ba Ama Bengo.

    Edempara Ama Beto labo Ama Bengo ede. Lao ngaha sama kai na mpara kalo aka nggaro Ama Beto. Sawa’u kaiba nggori ngaha mena na kalo ede. Wontu lalompara mabani/na’e nawa Ama Beto ede aka Ama Bengo. Ndi wara kai wontu mbani/na’e nawa Ama Beto aka Ama Bengo ede, palasi ba  ra ngaha ka mpoi wea kalo na ba Ama Bengo. Edempara foco sara’a lalo wea ba Ama Beto kere Ama Bengo ede, hampasi da loa kai wea na ngemo.

    “Ba auku wonto karaso kaimu kere nahu Ama Beto e?”. Sodi ba Ama Bengo, ma campo labo na’e nawa na.

    “Sarase ra ngaha ka mpoimu kalo nahu ni!”. Cambe kai ba Ama Beto. Labo adena ma waura sana ba waura ntuki ra kania na. Ededu karaso wea na kere Ama Bengo ede.

    Edempara Ama Bengo ede wontu wali na’e nawa na aka Ama Beto. Bunesi ntika wontu kai na’e nawa Ama Bengo aka Ama Beto ede, wati ra renta ba lera/rera na. Dei ade na’e kai nawa na Ama Bengo ede. Woko lalo mapara aka Ama Bengo ede. Ededu aka na ma ne’e cola rawi iha ama Beto aka wekina. Bunesi ntika aka ma woko dei ade tuta Ama Bengo ede. Ededu na receku Ama Beto lao ngaha sama jago ipa bae moti.
    “Oe Ama Beto e”. Nggahi Ama Bengo.
    “Ba au Ama Bengo e”. Cambe ba Ama Beto, ma labo sodi na.
    “Wati ca’u mu lao nagha jago ipa bae moti ro?”. Sodi ba Ama Bengo.
    “Ka ca’u  ni, bune aiku e?”. Sodi mbali ba Ama Beto.
    “Ini nai pidu nai pidu nai wali ku ampo na caru ndi ngaha ka!”. Cambe ba Ama Bengo.
    “Ncihi cao nahu ma ngena wa’u woko taho kere ku e”. Nggahi wali Ama Bengo. Karu’u na nuntu na.
    “Kabune ku lao ipa nami ke?” sodi wali ba Ama Beto.

    “Kabune poda ku kamanae”. Cambe kai ba Ama Bengo. Ma labo nenti na tuta na ba ngupa na aka. Kabune ku loakai lao ipa Ama Beto ede? Sodi na weki ndaina. Samporo sawa’u kai ba ede. Nggahi lalo Ama Bengo.
    “Ta ndawi mena mpa lopi karodo”.
    “Io poda kamanae”. Nggahi Ama Beto. Batu na aka Ama Bengo.
    “Ncihi cao mpa pidu nai ake, ndi sadia kai lopi korodo ede”. Nggahi wali Ama Beto. Karu’u na nuntu na.

    Edempara Ama Beto ede. Ndawi lalo kai na mpara lopi karodo ede, pidu nai aima ngadi pidu nai aima rai. Lopi karodo ede, ededu ra ndawi ba lenga doho Ama Beto, ma ne’e lao batu ngaha jago ipa bae moti. Pahu ba eseakana Ama Beto ede. Ainaina ma ka pidu kai na. Lopi karodo ede na wa’u ra ndadi taho. Ndede wali ja kere Ama Bengo ede na wa’u ra woko ntika. Na loadu ndi ngemo rau kai.
    “Na ndadi ku lao ngaha jago de Ama Bengo ro?”. Sodi ba Ama Beto. Wati da sabana.
    “Na ndadiku ni!”. Cambe kai ba Ama Bengo, ma campo labo neo ade na ba waura woko taho kere na labo na kapahuru aka na ede.
    “Na wa’u ra ndadi taho lopi karodo dero?”. Sodi mbali ba Ama Bengo.
    “Aina ndi mimi kaina dei woha moti”. Nggahi wali Ama Bengo, ma sodi katenggo ade Ama Beto.
    “Na wa’ura taho e!”.
    “Na wa’ura ndadi taho e, wati wara ndi dahu wea kai ba mimi na”. Nggahi wali Ama Beto, cambe katenggona ade Ama Bengo ede.

    Edempara ne’e mena kai na tu’u lao. Ba onena mboto lalo weki, wati inca ba lopi karodo ede. Wontu lalo eli Ama Beto. Eli ede, ededu wati kalao manggoma-ngoma. Baida gentena ma taho-taho (ma wati nggoma). Ba nggahi ndede Ama Beto ede. Lenga doho na mada batu ede, wara ma na’e nawa, wara wali ja ma nangi batu. Sa ndede ja mpa da kau wali kai batu.

    Edempara loja lalo na lopi karodo ede. Wuana Ama Beto labo lenga doho na ma taho-taho (ma wati nggoma) kamboto wali ja ba Ama Bengo. Nggahi lalo Ama Beto aka Ama Bengo.
    “Ba auku da ngemo kai mu Ama Bengo?”.
    “Ka ngemo ka peade ni!”. Cambe ba Ama Bengo.
    “Ngena wa’u ku woko taho ntika kere ke”. Nggahi wali Ama Bengo.

    Loja lopi karodo ede na wa’u kalalona woha moti ma na’e ede. Dei ade ndede kai na ede. Ama Bengo na iuru loa na ngemo kai kere na ma wa’u ra woko mbali ro ntika ede. Dei ade ndede kai na ede. Mpa’a rawa lalo mpara Ama Bengo.
    “Rai ka rai lopi karodo e. Na raka si ipa bae moti. Ka rinta kalea ku ba nahu lopi karodo”. Eli wua rawa Ama Bengo.
    “He ianae, aina mpa’a la lone Ama Bengo e”. Nggahi Ama Beto. Ma dahu ade.
    “Wati e ka mpa’a rawa ka e!”. Cambe kai ba Ama Bengo, ma campo labo hari na.
    “Rai ka rai lopi karodo e. Na raka si ipa bae moti. Ka rinta kalea ku ba nahu lopi karodo”. Eli wua rawa ama bengo, maka dua  kali kaina.
    “Aina mpa’a lalone kai rawi poda Ama Bengo e”. Wontu wali nggahi Ama Beto, ma naha ipi dahu.

    Edempara rawa katolu kali kai ba Ama Bengo. Sawa’u ba rawa na maka tolu kali kaina ede. Rinta kalea poda lalo ba Ama Bengo lopi karode ede.
    “Rai ka rai lopi karodo e. Na raka si ipa bae moti. Ka rinta kalea ku ba nahu lopi karodo”. Eli wua rawa ama bengo, maka tolu kali kai na. Sawatipu da rongga lopi karode ede ipa bae moti.
    “Tou e”. Eli rinta kalea ba Ama Bengo lopi karodo ede. Sawa’u ba ede lao ngemo lalo ndai kese na Ama Bengo ede.

    Edempara mimi sar’a lalo Ama Bengo, ma labo lenga doho na mara batu ncau na. Edempara lenga doho na ra kanta ncau kai batu ba ngoma-nggoma na. Mabali sana ade na badara lao batu mena na ngaha jago ma wati poda ede. Sia doho ma da ndadi lao batu ede, na rawa ka wua ku Ama Beto labo lenga doho na mimi ede. Ba Wa’ura boha ba sarente ama bengo, hampa sa mimi kai na.
    “Koci paja ipa bae moti, poripo dara lao batuku”.
    “Koci paja ipa bae moti, pori po dara lao batuku”. Ndede ku ruana wua rawa sia doho ma da ndadi batu.

    Sapoda-poda kaina wati wara jago ipa bae moti aka. Lao ngaha jago ipa bae moti ede. Ededu ra kameta kaiba Ama Bengo aka Ama Beto. Wara kai kemeta ba Ama Bengo. Ededu ba na’e nawa na aka Ama Beto mara foco sara’a wea kerena.


    Yogyakarta, (Asrama Bima/kamar 111)  12 Juni 2016
    Penulis : Agus Salim / Agus Mechi Angi
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).


    Catatan:
    Ceritera  ini merupakan dongeng pengantar tidur, yang sering diceritakan oleh orangtua (Ibu) penulis. Juga oleh orangtua pada umumnya. Cerita ini hidup dilingkungan masyarakata Bima, khususnya masyarakat Desa Ncera. Penulis hanya menulis ulang apa yang masih penulis ingat semenjak kecil. Karena pemilik sesungguhnya adalah orang tua dan nenek moyang, yang telah menceritakan kapada anak cucunya dengan sangat indah. Mengingat ceritera ini telah di ceritakan dari generasi ke generasi, penulis merasa perlu “mengabadikannya” dalam bentuk tulisan, dengan harapan dapat dibaca oleh generasi yang datang kemudian. Karena, didalamnya terdapat kekayaan pesan moral dalam kehidupan – yang belum sempat dilakukan pengkajian secara serius. Penulis menyadari bahwa dalam menulis ceritera ini terdapat perbedaan terkait teknik dalam menceritakannya, namun secara substansial tetaplah sama. Selain itu, sebelum menulis  ceritera ini penulis meminta pada teman-teman yang satu Daerah atau satu Desa untuk menyamakan substansi cerita, hal itu dilakukan diwaktu “nongkrong” bareng sembari mengenang masa kecil dengan dongeng-dongenya yang penuh pendidikan ‘moral hidup’ dan tetap menyenangkan.


    Pemuda Roeang Inisiatif Adakan Baksos

    Suasana saat acara Roeang inisiatif, 19 Juni 2016.
    Sleman, PewartaNews.com – Roeang Inisiatif menggelar acara bakti sosial dan buka bersama di Dusun Karanggawang, Desa Mororejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Minggu, 19 Juni 2016. Kali ini, penyelenggara mengambil tema “Roeang Berbagi Ramadhan: Bakti Sosial dan Buka Puasa Bersama”. Acara ini didasari atas pemikiran Roeang Inisiatif yang bergerak di Bidang Kepemudaan bahwa sebagai generasi muda, sepatutnya mempunyai rasa  kepedulian dan jiwa sosial sekaligus kepekaaan terhadap keadaan sekitar untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan.

    Selain itu, kegiatan ini juga sebagai sarana sosialisasi dengan warga Dusun Karanggawang agar pemuda paham bahwa masih banyak orang sekitar yang membutuhkan bantuan. “Dengan keterkaitan antara nilai-nilai kemanusiaan tersebut, maka kami merencanakan untuk mengadakan sebuah bakti sosial,” kata Muhammad Nafiudin, ketua panitia pelaksana acara.

    Adapun tujuan dari kegiatan ini, lanjut dia, untuk mempererat tali silaturahim Roeang Inisiatif dengan warga Karanggawang dan bentuk pelampiasan tanggung jawab sosial. Agus sudjadi sebagai koordiataor acara bakti soasial juga sama mengatakan, acara ini sebagai langkah silaturrahim Roeang inisiatif agar sebagai pemuda hendaknya bisa memberikan manfaat untuk masyarakat karena itu merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosialnya.

    Sementara itu, Direktur Roeang Inisiatif, Arif Rahman, menyebutkan, kepedulian bakti social ini menjadi kewajiban bagi kaum muda untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia, seperti kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran dan sebagainya. “Semakin banyak yang peduli, maka problem sosial tersebut akan kian mudah diatasi,” kata dia.

    Kegiatan ini disambut positif dan didukung penuh oleh warga Karanggawang. Seperti yang dikatakan Sujiono, salah seorang warga, bakti sosial ini merupakan suatu bentuk bantuan yang sangat berguna untuk membantu meringankan beban di Dusun Karanggawang.

    Adapun bentuk bantuan yang diberikan yaitu berupa sembako dan kebutuhan sandang, seperti pakaian, tas, jilbab dan buku. “Dari kegiatan ini kami mendapat pelajaran indahnya berbagi dan kesalehan sosial. Kegiatan yang telah berlangsung didalam masjid secara tertib dan teratur ini akan kami jalankan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan maksimal kami,” ucap Arif.


    Kontributor: Wahyu El-K



    Deteksi Penyakit Melalui Pola Makan dan Kebiasaan Hidup

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Sehat itu mahal, dan setiap orang menginginkan sehat baik jasmani dan rohani. Deteksi penyakit secara alami  tidak hanya diketahui konsultasi langsung dengan dokter. Hal tersebut  dapat diketahui melalui makanan yang kita komsumsi. Jika semua jenis makanan yang kita komsumsi secara seimbang maka kondisi tubuh akan tetap  terjaga. Kualitas makanan yang kita komsumsi setiap hari tetap dijaga baik dari karbohidrat, protein, vitamin dan lemak. Berikut ini meneurut  B. Mahendra  makanan yang kita komsumsi dan ternyata berefek jika dibiasakan bagi tubuh kita, diantaranya:
    Pertama, Nasi dan Sayuran Matang. Jika anda terbiasa memakan nasi, buncis dan  sayuran  yang dimasak matang memiliki sistem metabolisme, fisik dan mental yang harmonis. Namun cenderung memiliki gangguan di perut.

    Kedua, Sayuran Mentah dan Setengah Matang. Tahukah anda seseorang yang sering mengkomsumsi sayur-sayuran, terutama sayuran setengah matang atau mentah, akan berhadapan dengan gangguan penyakit Kulit, pernapasan, sistem eksresi, serta usus.

    Ketiga, Buah, Sayur, dan Kacang Berlebih. Kelebihan komsumsi  buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan dapat menyebabkan kerusakan usus, fungsi percernaan, dan  organ reproduksi.

    Keempat, Susu dan Olahannya. Jika anda gemar komsumsi berbagai  produk susu cenderung memilki gangguan di kulit, jantung, sistem sirkulasi, hati, limpa kecil, empedu, serta sistem reproduksi yang berpotensi menjadi kista, tumor atau kanker.

    Kelima, Daging. Kelebihan  komsumsi daging dapat menimbulkan gangguna di jantung, sistem sirkulasi, usus kecil, serta pencernaan yang berpotensi menjadi tumor dan kanker.

    Keenam, Makanan Manis. Komsumsi lebih jenis  makanan  ini dapat menyebkan penyakit schizophrenia, obesistas, diabetes serta gangguan pada kulit, organ sensorik, sistem saraf, sistem  pencernaan, ginjal, sisrem eksresi juga kelemahan sistem reproduksi.
    Ketujuh, Rempah-Rempah. Ternyata kelebihan komsumsi rempah-rempah dan stimulan dapat menyebabkan gangguan tekanan darah, jantung, ginjal, serta sistem eksresi.

    Makanan yang kita kensumsi setiap hari  sebelum dikunyah harus dilihat secara detail bagaimana efeknya bagi kesehatan kita. Adapun cara mendeteksi penyakit melalui kebiasaan hidup, diantaranya sebagai berikut:
    Pertama, Merokok. Merokok merupakan kebiasaan hidup  yang dianggap lumrah, tidak hanya lelaki jadi korban. Namun,  sebagian perempuan  suka merokok bahkan anak dibawah umur pun ikut meramaikan. Mereka  mengatahui bahwa  bahaya rokok sangat tinggi. Kesadaran yang kurang ditanam sehingga penjualan rokok masih terjual bebas di sana-sini.

    Pernah saya mewawancarai seorang bapak petani dari pelosok desa. “Kenapa bapak tidak berhenti merokok? Padahal sangat berasiko bagi kesehatan dan akan muncul penyakit jantung koroner,  serangan struk, kanker mulut, tenggorokan, kantung kemih, pangkreas, asma, paru-paru dan rusaknya pembuluh darah ke otak. Lebih baik mencegah daripada mengobati pak.” Dengan santainya bapak tersebut menjawab “Merokok mati, tidak merokok tetap mati.”   Saat itu saya hanya menggeleng-geleng kepala.

    Seharusnya pemerintah melakukan tindakan  segera memusnahkan  pabrik rokok agar rakyatnya tidak mati binasa. Berhenti merokok bukan hal yang mudah. Namun, saat ini ada banyak cara dan program yang dapat membantu berhenti merokok. Jika seseorang sudah  menyadari bahaya dari rokok  dan masih  kecanduan, bisa meminta bantuan dokter dan dari kesadaran diri sendiri.

    Kedua, Mendengkur. Tahukah anda bahwa tidur mendengkur sudah menjadi kebiasaan hidup yang buruk. Penyebab terjadinya dengkuran adalah penyempitan saluran napas. Jika kebiasaan mendengkur cenderung memiliki gangguan di jantung dan otak. Jika jangka panjang kebiasaan ini dapat mengakibatkan stroke,  dan darah tinggi.

    Ketiga, Begadang. Begadang  memberikan kepuasan tersendiri bagi sebagian orang.  Kebiasaan ini adalah suatu hal yang susah untuk diubah,  seperti menonton sepak bola hingga larut malam. Mengerjakan tugas kampus, skripsi,  bahkan laporan akhir bulan. Tahukah anda bahwa kebiasaa begadang akan memicu timbulnya berbagai penyakit yang di sebabkan rusaknya sistema imun. Tubuh seharian beraktivitas  ada  baiknya jika kita harus menjaga kesehatan.

    Waktu paling baik untuk tidur pada malam hari adalah antara tujuh sampai delapan jam sehari. Orang yang terbiasa tidur kurang dari enam jam setiap harinya beresiko 48% mengidap penyakit jantung, hipertensi, obesitas serta meninggal di usia muda karena serangan stroke.  Sedangkan orang yang tidur lebih dari sembilan jam setiap harinya merupakan gejala awal terjadinya gangguan kesehatan. Jadi lebih baik Anda tidur secara seimbang antara tujuh sampai delapan jam, tidak kurang  dan tidak lebih karena pengaruhnya yang besar bagi kesehatan tubuh Anda.


    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Memilih Pasangan Bukan Dari Masa Lalunya

    Nurhaidah.
    Banyak orang yang bertanya pada saya.
    Mengapa kamu harus memilikinya?
    Mengapa kamu harus mencintainya?
    Mengapa kamu merusak nama kamu karnanya?
    Dan mengapa kamu rela berkorban kebahagiaan mu didepan mata deminya?
    Yang sebenarnya kamu tidak pantas dan tidak cocok dengannya, karena kamu lebih cocok dengan orang-orang sholeh yang sesuai dengan kamu, konon katanya kamu adalah seorang wanita yang baik dan sholehah, tidak terlalu suka dengan tata cara hidup yang di iringi dengan masalah.

    Lalu dengan singkat saya mencoba untuk menjawabnya, “Ia Itulah Tuhan”
    Saya tidak bisa mengelahkan ciptaan tuhan, saya memang tidak terlalu suka dengan yang namanya pacaran karna itu hanya tuntutan jaman, saya merasa diri saya tak lebih dari pada orang-orang yang sering berkeliaran dijalan, karena saya adalah ciptaan Tuhan yang memang harus mendapatkan penilaian yang sederhana, yang kelewatan dan bahkan penilaian yang sangat tidak wajar untuk saya dengar. Tapi kalau seandainya saya mengelakan ujian dari Tuhan berarti saya sudah gagal sebagai hambanya.

    Jika kita berbicara tentang pantas atau tidaknya itu hanyalah tuhan yang berhak memihak semuanya. Jadi jika kita berbicara tentang sholeh atau sholehannya pasangan itu adalah suatu konteks yang sangat sempurna jika kita kaitkan dalam mengkaji teori/konteksnya. Tetapi dalam diri seseorang yang sholeh belum tentu ia memiliki jiwa yang sangat besar untuk memperbaiki dirinya karena ia merasa dirinya paling hebat dan paling sempurna dimata manusia, yang walaupun sebenarnya tak sesuai dengan apa yang kita lihat. Jadi mereka menilai orang yang tidak pernah melakukan hal baik yang diperintahkan Tuhan seperti puasa, mengaji, dan lain-lainnya itu adalah orang yang sangat hina dan sangat tidak pantas untuk kita dekati dan bahkan tidak pantas untuk dijadikan imam. Nah jika kita merasa diri orang baik dan ciptaan tuhan dan makhluk ciptaannya maka apa salahnya kita saling mendekati dan saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya karna bagi saya itu suatu hal yang wajib dan perlahan ia akan menyadarinya sendiri, karena tak mungkin orang hina ingin menjerumus suatu lubang yang sama.

    Dalam hidup saya prinsip harus selalu ada, karena prinsip-lah yang menguatkan diri sampai dengan detik ini. Tanpa menanamkan suatu prinsip hidup tidak begitu harmonis, karna itu adalah suatu keharusan yang sebenarnya wajib ada pada diri manusia.

    Sebenarnya kalau memilih pasangan harus sesuai dengan diri kita, karena kalau kita memilih pasangan yang sering melakukan ini itu apalah namanya itu sangat tidak pantas untuk kita yang jarang dan bahkan tidak pernah melakukan hal-hal yang seperti ini itu. Untuk apa meliki dia toh masih banyak yang lebih baik darinya, hanya saja kita menyempitkan pemikiran kita bahwa dunia ini sekecil atau sehelai daun kelor “konon kata mereka seperti itu” karna mereka berhak menilai tetapi tidak berhak untuk menuntut menjadi pasangan orang lain.

    Dengan senyuman yang termanisku menjawabnya. Sebenarnya dalam hidup saya tidak ingin menutut siapapun yang pernah melakukan hal-hal yang sangat di larang tuhan, karna yang saya ketahui hanya tuhan dan dialah yang tau sebab dan akibatnya, karena dalam diri saya tidak ingin tau apa masa lalunya, seburuk apa masa lalunya, nah disini saya mencoba untuk memilih ciptaan tuhan bagaiman ia memperbaiki masa lalunya itu dengan masa depan yang lebih baik dan cerah. Karna yang berhak menuntut kita adalah sang pemilik “keabadian” yaitu Tuhan.

    Beberapa orang yang mengatakan jika dalam mimilih pasangan jangan hanya melihat masa lalunya yang begitu buruk, akan tetapi bagaimana kita bisa memperbaiki masa lalunya yang begitu buruk menjadi lebih baik dan sempurna dimata Tuhan. Karena yang berhak kita sempurna kan hidup kita adalah hanya kepadanya sang agung pemilik dunia yang abadi.

    Hidup yang paling abadi adalah mensyukuri nikmat Tuhan sebaik dan seburuk apapun itu karna semuanya pasti memiliki konsekuensinya masing-masing, apapun itu namanya termasuk dalam memiliki pasangan yang dimata masyarakatnya tidak sesuai dengan kita. Hidup tidak selalu menuntut orang baik, namun hidup itu harus benar-hidup dinikmati bagaimana hidup itu harus selalu memiliki cerita entah itu buruk ataupun baik. Karna kita hanyalah ciptaan Tuhan yang jika memiliki kesalahan akan berusah untuk memperbaikinya lebih dari yang kita duga, itulah mengapa dalam hidup saya tidak berhak untuk menuntut pasangan yang pernah melakukan kesalahannya.

    Orang selalu katakan dan berhak menilai ini dan itu tentang kita. Tetapi bagaimana kita untuk menanggapinya ini dan itu yang mereka nilai. Dalam sebuah kehidupan memiliki cerita itu harus karna itu salah satu keharmonisan dalam hidup kedepannya, bagimana ia bisa menilai, menjalani dan bahkan menikmatinya, tetapi apakah ia mampu untuk memperbaikinya “ia jelas mampu”, karna kalau tidak mampu maka ia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang hanya miliki jiwa di dunianya yang sangat buruk saja tidak ada dalam dirinya untuk memperbaiki hidupnya kedepan.

    Orang-orang hanya bisa menilai bahwa saya adalah ciptaan Tuhan yang sangat baik, sempurnah jika dalam menjadikan pasangannya, bagi saya itu hanya sekedar penilaian dimana saya yang sebenarnya tidak ada yang mengetahui kesalahan dan bahkan dosa besar yang saya pernah lakukan untuk tuhan, karena yang berhak tau hanya saya dan tuhanlah dan begitupun sebaliknya.

    Seorang itu mengatakan sangat tidak pantas jika kamu memilih aku, karna “aku orang yang sangat hina dimata manusia dan Tuhan” lalu saya menjawabnya “lebih-lebih saya yang tidak pernah tau apa yang sebenarnya Tuhan ciptakan dan tidak mensyukuri apa yang ia berikan”. Seseorang itu langsung terharu, dan ia memiliki jiwa yang tangguh untuk memperbaiki hidupnya kedepan.

    Yang menjadi panutan hidup saya adalah melihat bagaimana caranya ia bertahan dan perlahan tapi pasti ia akan memperbaiki masa lalunya yang sangat buruk menjadi lebih baik untuk kedepannya, karna ia berhak untuk menikmati hidup yang sangat mewah dan indah baik di mata manusia lebih-lebih di mata Tuhan. Jika ia memiliki jiwa yang besar lalu mengapa kita harus mengabaikan ciptaan tuhan itu sama halnya dengan kita tidak mensyukuri apa-apa yang telah Tuhan ciptakan.

    Semoga kita adalah salah satu hamba Allah yang memiliki rasa ingin menempati syurga yang Tuhan siapkan. Aamiiin.
    Semoga berkah. Wallahuaalam.


    Yogyakarta, 12 Mei 2015
    Karya: Nurhaidah
    Mahasiswa Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Jika Sakit Komsumsi Obat Kimia, Obat Herbal, atau Bantuan Dukun?

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Kesehatan  adalah  hal yang paling utama  yang Allah SWT karuniakan kepada hamba-hambanya yang dikehendakinya.  Sebagaimana  Rasulullah  SAW bersabda yang artinya :  “Mintalah kesehatan kepada Allah SWT. Sebab tidaklah seorang hamba dikaruniai sesuatu yang lebih utama melebihi kesehatan.(HR. Imam Ahmad).

    Setiap hari  pesien datang berobat di Rumah  Sakit, Puskesmas,   Klinik bahkan ada yang  ke dukun. Berbagai keluhan dan penyakit yang berbeda-beda. Tentu,   pasien yang terserang penyakit akan   depresi dan perasaan mulai gamang. Hanya ada 2 pilihan yang pertama sembuh dari penyakit dan yang kedua   dibalut dengan kain kafan. Tapi kita sebagai umat manusia tetap semangat dan berusaha berobat.

    Firman Allah SWT dalam Al-Quran   surat  Asy-Syura  ayat 80, yang artinya:”Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkan.”

    Ketika kita sakit, pasti segera minum obat,  dan kita akan mengangap sembuh jika gejala penyakit yang kita rasakan hilang,  tanpa terpikirkan oleh kita bagaimana efek negative yang bisa ditimbulkan oleh obat. Di sini akan dikupas  bagaimana  perbedaan obat  kimia, obat herbal  yang sering kita komsumsi atau minta pertolongan dukun.  Obat kimia adalah barang asing bagi tubuh kita dan kerena itu bisa bersifat racun. Contoh jika kita komsumsi  antibiotika, ketika masuk ke dalam tubuh antibiotika tidak hanya membunuh kuman yang diincar, tetapi juga mikroba bermanfaat. Akibatnya keseimbangan mikroba dalam usus terganggu, dan  alhasil tingkat kesehatan akan menurun.

    Berikut ini  menurut  Tn. Hj. Ismail bin Ahmad. Pengobatan kimia  sintesis adalah sebagai berikut : (1) Berasal dari barat; (2) Menggunakan bahan kimia sintesis/anorganik; (3) Daya keterserapan 50%-70% (butirannta kasar); (4) Bersifat antibiotic  (racun atau membunuh bakteri); (5) Menurunkan imunitas tubuh; (6) Mengobati gejala penyakit; (7) Menimbulkan efek   samping; (8) Memiliki kesan lebih capat tetapi merusak; (9) Pengobatan Nasrani.

    Sedangkan pengobatan herbal tidak hanya sekedar menggunakan herba( tanaman obat) tetapi membawa juga pendekatan  yang bersifat holostik. Tujuan pengobatan herbal adalah mengembalikan kehormonian atau keseimbangan tubuh. Penggunaan tumbuh-tumbuhan (herbal) sebagai bahan pengobatan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat. Menurut laporan organisasi kesehatan dunia atau WHO (Word Health Organization) sekitar 80 % penduduk dunia telah menggunakan bahan-bahan herba sebagai obat. Istilah herba dikaitka dengan tumbuh-tumbuhan   yang tidak berkayu  atau tanaman yang bersifat perdu. Misalnya mengkudu hutan yang mengandung morindin sebagai bahan anti kanker. Pegagan yang mengandung astiaticoside yang berguna untuk masalah  kulit dan meningkatkan kecerdasan atau IQ.

    Berikut ini  menurut Tn. Hj. Ismail bin Ahmad. Pengobatan obat herbal adalah sebagai berikut: (1) Berasal dari timur; (2) Menggunakan bahan alamiah (organic); (3) Daya keterserapan 90% (butiran  lebih halus); (4) Bersifat prabiotik; (5) Meningkatkan imunitas tubuh; (6) Bersifat holistik/  mengot sumber penyakit; (7) Tidak menimbulkan efek samping yang ada DOC; (8) Memiliki kesan lambat tetapi konstruktif( membangun); (9) Pengobatan Thibbun Nabawai.

    Bahkan ada pasien yang memiliki penyakit kronis menahun mencari jalan pintas, meminta bantuan   dukun. Menurut salah satu  desa  yang pernah  berobat ke dukun, alasannya adalah pembayaran tidak banyak dan segera sembuh. Ketimbang berobat ke instansi seperti Rumah Sakit, Puskesmas dan klinik harus mengeluarkan uang jutaan bahkan puluhan dan akhirnya berujung kematian. Alur berobat ke dukun pun sangat mudah, jika pesien datang pertama  bercerita  apa keluhannya lalu diberi  ramuan atau berbentuk air yan sudah diberi kekuatan goib. Selang beberapa hari jika penyakit  yang di dederita ada perubahan atau sembuh total. Pasien  ke rumah dukun membawa ayam hitam. Ayam hitam yang tak semudah didapatkan seperti   ayam kampong yang  berkeliaran sana-sini. Mencari ayam hitam sangat sulit harus mencari dari mulut  ke mulut.

    Menurut Abu Nafi Islam melarang keras segala bentuk pengobatan yang mengandung unsur mistik, di antaranya : Pertama, Tabayul dan Bid’ah  dhalalah  yang dikaitkan dengan kekuatan gaib dan roh halus  atau bantuan jin, sehingga merusak akidah. Contphnya terapi yoga, buka aura, meditasi, reiki, ruqyah kajawen larung sesaji dan sebagainya yang mengerdilkan fitrah muslimin. Kedua, Syirik,  yakni melakukan  pelanggaran saat pengobatan berupa menyetukan Allah SWT. Dalam hal ini Rububiyah, Uluhiyah, serta nama dan sifat-NYA, antara lain mendatangi tabib dukun, orang sakti, tukang sihir, dan tukang ramal, meskipun  penampilan mereka seperti ahli ibadah. Ketiga, Khurafat, yaitu mengaikatkan pengobatan dengan hari-hari khusus yang keramat, kuburan yang keramat dan benda-benda keremat. Contohnya menggunakan bunga, jampi-jampi, keris pusaka, jimat petuah, mantra ajian, wifik, rajah, atau isim-isim dalam berobat, yang semuanya itu tidak ada dalilnya dalam islam.


    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Email: nurwahidah854@yahoo.com

    Sweeping Buku: Antara Kapitalisme-Komunisme dan Kesaktian Pancasila

    Ajaran yang dikandung Pancasila bahkan dipuji oleh seorang filsuf Inggris, Bertrand Russel, sebagai sitesis kreatif antara “Declaration of American Independence” (yang merepresentasikan ideologi kapitalis) dengan “Manifesto Komunis” (yang merepresentasikan ideologi komunis)”. (Yudi Latif, Negara Paripurna, 2011: 47)

    Agus Salim.
    PewartaNews.com – Kita sangat terkejut ketika media-media televisi tanah air menyiarkan berita tentang aksi “aneh” dan kurang beradab di atas Negeri yang merdeka, yang menghendaki rakyatnya hidup dengan kesadaran akan pengetahuan sebagai langkah awal dalam mencerdeskan kehidupan Bangsa. Aksi “aneh” dan kurang beradab tersebut adalah sweeping terhadap buku-buku yang mereka anggap –padahal sekedar anggapan– buku-buku “kiri”. Tahukan mereka apa itu kiri? – tepatnya buku-buku yang dikaitkan dengan paham komunis– komunisme. Aksi tersebut penulis katakan “aneh” karena dilakukan oleh aparat keamanan yang harusnya memberikan keamanan, tidak hanya aman secara fisik, melainkan juga aman secara psikis. Tindakan kurang beradab tersebut didasarkan pada alasan yang masih berupa anggapan, bahwa “gerakan komunis sudah mulai bangkit kembali” atau setidaknya langkah “antisipatif untuk mencegah kembali lahir dan menyebarnya komunisme”. Anggapan tersebut didasarkan pada munculnya simbol-simbol yang berkaitan dengan komunisme yang terjadi di beberapa Daerah. Bahkan, kemunculan simbol-simbol  komunisme tersebut hadir sampai pada tingkat Desa di kabupaten Bima.

    Terangkatnya kedua fenomena (sweeping buku dan munculnya simbol komunis) tersebut membuat masyarakat –setidaknya kaum intelektual– patut mempertanyakannya. Siapa dalang (pemain dibelakang layar) dari fenomena tersebut? Benarkah komunisme telah lahir kembali sebagai ancaman? Setelah sekian puluh tahun hilang dari perhatian nasional dan bahkan dunia internasional. Jika benar komunisme telah lahir kembali sebagai ancaman bagi kehidupan Negeri ini. Maka dalangnya patut kita pertanyakan. Benarkah pelakunya orang-orang “komunis”?. Ataukan isu kemunculan “komunisme” sekedar bingkisan untuk pengalihan isu dari masalah negara yang lebih penting? Atau bisa saja pelakunya adalah musuh “bebuyutan” “komunisme”, kapitalisme? Mengenai komunisme, Negara Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologinya tidak pernah menolak komunisme secara total. Bahkan, seorang tokoh komunis internasional yang juga seorang nasionalis –seperti Tan Malaka– menggunakannya sebagai “alat” untuk mencapai kemerdekaan dan terbebas dari cengkaraman imperialisme dan kolonilaisme pada zamannya. Selain itu, lembaran sejarah benturan antar ideologi-ideologi besar dunia perlu kita buka kembali, mengingat Indonesia merupakan bagian daripada sejarah itu. Benturan antara Komunisme dan Kapitalisme merupakan dua ideologi yang pernah memecah belah dunia dalam blok-blok. Yaitu blok barat dengan kapitalisme-nya dan blok timur dengan komunisme-nya. Walau demikian, benturan tersebut berakhir dengan kemengan berada pada pihak kapitalisme dengan runtuhnya Uni Soviet.

    Indonesia dengan “kesaktian” Pancasila sebagai ideologinya tidak berpihak pada salah satu blok dari kedua ideologi besar tersebut. Melainkan menyuarakan gerakan Non-blok, suatu sikap politik yang cukup cerdas. Secara singkat hal tersebut menjelaskan –atau setidaknya– memberikan sekilas gambaran bahwa komunisme tidak pernah menjadi ancaman bagi Indonesia, kecuali kalau Pancasila tidak lagi menjadi ideologi Negara Indonesia dan digantikan oleh Kapitalisme. Maka tidak mungkin tidak, bahwa komunisme pasti akan menjadai ancaman. Karena hanya kapitalisme yang memang harus menganggap komunisme sebagai ancaman, begitu pun komunisme menganggap kapitalisme sebagai lawah yang harus segera di kalahkan.

    Jika Indonesia menganggap komunisme sebagai ancaman, maka tidak boleh tidak kapitalisme juga harus dianggap sebagai ancaman. Karena ideologi Negara tidak pernah cenderung pada salah satu dari keduanya, baik komunisme apalagi kapitalisme. Kecuali, pertama, para penyelenggara Negara tidak mengakui lagi kesaktian Pancasila atau kedua dengan sengaja tidak mengaktualkan nilai-nilai dikandungnya. Jikapun keduanya tidak termasuk, maka penyelenggara Negara sudah “melenceng” pada salah satunya, kapitalisme. Kemunculan aksi sweeping tersebut secara tidak langsung memperlihatkan kecenderungan para penyelenggara Negara pada salah satu ideologi tersebut, jika aksi tersebut bukan pengalihan isu dari sengketa yang terjadi di antara para penyelenggara Negara. Menyikapi fenomena yang muncul di permukaan –apalagi kemunculannya secara tiba-tiba dan tanpa ada kejelasan validitasnya– tidak harus membuat sebuah institusi besar seperti Negara mengalihkan perhatiannya dari masalah yang sangat mendesak untuk segera ditemukan solusinya dan diatasi, demi memperhatikan masalah yang sebenarnya tidak perlu menguras energi.

    Pancasila sebagai sintesa kreatif dari para pendiri Bangsa –seperti yang dipuji oleh filsuf inggris, Bertnard Russel– tidak muncul dalam ruang hampa dan secara tiba-tiba. Kemunculannya didasarkan pada dialektika sejarah panjang kehiudupan Bangsa ini. Keluasan wawasan dan ketajaman analisa dari para konseptor dan pendiri Bangsa ini, menjadikan mereka mengambil langkah cerdas sekaligus kreatif dalam meletakkan Pancasila sebagai ideologi Negara dan pandangan hidup dalam ber-Bangsa dan ber-Negera. Untuk saat ini, belum ada ideologi yang tepat untuk bisa melebihi dan menggantikan keberadaan dan posisi Pancasila sebagai ideologi ber-Bangsa dan ber-Negara. Jika melihat realitas kehidupan Negara Indonesia yang multikultural sekaligus multi agama, sebagaimana saat ini. Sebagaimana telah disinggung, bahwa Pancasila memiliki akar historis yang cukup panjang. Bahkan, untuk saat ini bermuculan teori-teori yang secara tidak langsung membenarkan keberadaan Pancasila sebagai landasan untuk merasionalisasikannya untuk menjawab kebutuhan dan tatanagan zaman. Aktualisasi untuk menemukan relevansinya dengan kebutuhan saat ini adalah tanggung jawab generasi sekarang.

    Pada akhirnya, penulis ingin mengatakan “bahwa tugas kita saat ini adalah mengaplikasikannya. Tentunya harus didasarkan pada pemahaman kita tentang sejarah lahirnya Bangsa ini. Hal tersebut sangat penting bagi kita, sebagai benteng untuk menghalau setiap ancaman yang ada. Memahami  sejarah sebagai guru adalah penting untuk menentukan pijakan saat ini. Selain memahami sejarahnya, kemampuan merasionalisasikan dan menemukan relevansinya untuk menjawab kebutuhan zaman, merupakan hal yang jauh lebih penting. Terkait dimensi Historis, teoritis (rasionaslitas), dan relevansi (aktualitas) dari Pancasila dengan sangat baik dilakukan oleh Dr. Yudi Latif dalam bukunya “Negara Paripuna : Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila”.


    Penulis: Agus Salim
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Apakah Boleh Menyikat Gigi atau Menggunakan Siwak Saat Berpuasa?

    Nurwahidah, A.Md.
    PewartaNews.com – Bulan Ramadhan   adalah bulan yang dianjurkan bagi umat  islam untuk berpuasa. Saat kita berpuasa harus menjaga kebersihan  salah satunya adalah bau mulut.  Bau mulut adalah salah satu  penyakit yang dibenci oleh setiap orang,  apalagi saat kita berdialog langsung dengan seseorang, harus periksa  secara detail apakah mulut kita mengeluarkan bau  khas yang dapat meracuni orang-orang di sekitar kita.  Di sini akan dikupas apakah boleh menggunakan sikat gigi saat  berpuasa? Jawabannya adalah tidak mengapa menggunakan pasti gigi ketika berpuasa, namun orang yang berpuasa harus mengeluarkan kembali pasti gigi yang terlarut di dalam mulut. Apabila ada sebagiannya yang masuk ke kerongkongan tanpa kesengajaan, yang  demikian itu tidak mempengaruhi pada puasanya.

    Diriwayatkan dengan sanad yang hasan ibnu abbas (al-Irwa 937) bahwa beliau berpendapat tidak mengapa bagi seseorang yang berpuasa untuk  mencicipi madu, minyak dan  makanan yang misalnya, bila kemudian ia meludahkan keluar. Pendapat ini telah diriwayatkan oleh beberapa, salafunash  shahih, maka saretelah anda mengetahui bagimana  cara tubuh kita, bagiamana cara tubuh kita merasakan/megindera rasa, makanan.

    Pengguanaan mouthwash yang mengandung obat dengan syarat setelahnya dikeluarkan dari mulut dan tidak ada dari mounthwash itu ditelan masuk dengan sengaja di kerongkongan. Hukum yang sama pula berlaku dengan masalah mencicipi makanan selama seseorang mengeluarkannya lagi dan tidak menelannya sedikit pun (dengan sengaja). Selain menggunakan pasta gigi  saat berpuasa kita juga boleh menggunakan siwak. Siwak merupakan salah satu toleransi yang diberikan bagi kita yang berpuasa, untuk dapat memakainya di siang hari tanpa merusak ibadah puasa kita. Shahih Bukhari da Amir sahabat.

    Bersiwak adalah sunnah bagi orang yang berpuasa pada semua waktu siang meskipun (siwak) basah. Kalau dia bersiwak dalam kondisi puasa dan mendapatkan (rasa) pedas atau lainnya kemudian dia telan atau dia keluarkan dari mulutnya dan dia mendapatkan ludahnya kemudian diulanginya dan ditelannya, maka hal itu tidak mengapa.’ Al-Fatawa As-Sa’diyah, 245.

    Dan dihindari (siwak) yang ada bahan yang menyatu seperti siwak hijau, dan apa yang ditambahkan rasa diluar itu seperti (rasa) jeruk dan naknak. Dikeluarkan dari apa yang terkelupas darinya dari mulut, tidak boleh disengaja menelannya. Kalau tertelan dengan tidak sengaja, maka tidak apa-apa.” Selesai dari kitab ‘Sab’una Masalah Fis Siyam’.
    Wallallahu’alam .

    Dalam hadits-hasits ini terdapat dalil dianjurkannya bersiwak pada semua waktu. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tidak mengecualikannya, bahkan keumuman hadits mencakup bagi yang berpuasa dan selain orang yang berpuasa. Dan diperbolehkan menelan ludah setelah bersiwak. Kecuali kalau ada sesuatu yang menyatu dari siwak di mulut, maka dia harus mengeluarkannya kemudian menelan ludahnya.

    Sebagimana diperbolehkan bagi orang yang berpuasa (ketika) berwudhu mengeluarkan air dari mulutnya dan menelan ludahnya dan tidak diharuskan mengeringkan mulutnya dari air yang dikumurnya.. An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab ‘Al-Majmu’, 6/327: “Al-Mutawalli dan (ulama) lainnya mengatakan, “Kalau orang yang berpuasa berkumur, maka dia harus mengumur air dan tidak diharuskan mengeringkan mulutnya dengan kain atau semisalnya tanpa ada perselisihan.” Selesai.

    Hukum Bersiwak Saat Berpuasa Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya tentang hukum bersiwak ketika sedang melakukan puasa Ramadhan. Beliau memaparkan, “Tidak diragukan lagi bahwa bersiwak merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan. Bersiwak memiliki keutamaan yang besar.

    Terdapat berbagai riwayat shahih yang menunjukkan dianjurkannya bersiwak, dapat kita lihat pada perbuatan maupun perkataan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengamalkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Hendaklah kita berusaha bersiwak, terlebih-lebih lagi pada saat diperlukan atau pada waktu yang disunnahkan untuk bersiwak, seperti sebelum berwudhu, ketika akan melaksanakan shalat, ketika hendak membaca al-Quran, ketika ingin menghilangkan bau mulut yang tak sedap, serta saat bangun tidur sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keadaan-keadaan tadi merupakan saat yang ditekankan untuk bersiwak. Dan asalnya, siwak itu disunnahkan di setiap waktu. Orang yang berpuasa pun dianjurkan untuk bersiwak sebagaimana orang yang tidak berpuasa. Pendapat yang tepat, bersiwak dibolehkan sepanjang waktu, dianjurkan untuk bersiwak di pagi hari maupun di sore hari.


    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Email: nurwahidah854@yahoo.com

    Notifikasi Malam

    Nufa.
    PewartaNews.com – Hari ini adalah hari yang seharusnya ceria, dimana seperti biasa langit mengecat tubuhnya dengan tinta jingga dalam perbatasan senja. Yang membuat hari berbalik muram adalah suara rintihan gadis terikat tali tambang di padang rumput. Kanan kiri depan belakang atas bawah, suasana padang rumput itu terlalu hampa. Rima, sosok gadis yang dililit tali, mendengar suara notifikasi chat. Tak kurang duapuluh whatsapp masuk dan sayangnya satupun tak bisa dibalas. Tangan Rima terlilit tali kuat yang menggerus permukaan kulit. Semakin nekat ia memberontak semakin kencang belitan tali itu mengikat tubuh.

    “Ngapain kamu disitu? Seneng liat aku disiksa kayak gini?” Rima ngomel pada belalang mungil di depannya.

    Belalang itu terlihat mulai menangis dibentak Rima. Namun Rima samasekali tidak menggubris. Tak ada siapapun di sekeliling tempat itu. Hanya beberapa ekor burung dan serangga. Rima tak tahu siapa yang mengikat dirinya, sebab Rima tak merasa memiliki musuh.

    Sementara tali itu melilit semakin kuat. Kini Rima berada dalam tekanan dan siap menyerah. Ia pasrah karena terlalu lelah. Sekarang Rima hanya sanggup menikmati saja. Rima tetap berusaha mengambil salah satu sisi baiknya saja yakni kehangatan. Mungkin lebih baik dililit tali yang hangat daripada terkena angin malam.

    “Mau ikut? Sini kesini, hangat loh!” ajaknya kepada si belalang yang ternyata masih cemberut menatap Rima dari kejauhan.

    Rima hanya menikmati tekanan demi tekanan yang mungkin akan dirasakan sekali seumur hidup saja. Tapi entah mengapa, tali itu malah lepas kala Rima berusaha nyaman. Kok bisa? Entahlah! Tali itu kini tergeletak. Rima mendadak ingin membakarnya! Tapi gadis itu berubah pikiran. Ia menyimpan tali barusan, tidak jadi dirusak. Mungkin nanti berguna!

    Kalau saja Rima bersikeras membakar tali itu, mungkin Rima tak akan bisa menggunakannya untuk menakuti anjing liar yang mengintip dibalik semak seperti yang dilakukannya sekarang ini.

    Rima menancapkan powerbank. Ia membalas whatsapp, menggoda anjing liar, lalu pulang sembari tersenyum..


    Karya: Nufa

    Malu dan Takut

    Agus Salim.
    PewartaNews.com – Setelah sepekan ia sangat bahagia dengan hasil perjuangannya selama tiga tahun, bahagia dengan kelulusannya sebagai siswa kelas tiga pada salah SMA di daerahnya, Bima.

    Alek, seorang siswa kelas tiga SMA. Baru sepekan lalu mendapatkan kabar gembira bersama teman-teman seangkatannya, kabar kelulusannya. Walaupun tidak bisa menjadi siswa yang mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya, ia tetap merasa bahagia dan bersyukur. Apalagi pada hari ini, kebahagiaan itu dilengkapi dengan dengan kabar yang lebih menggembirakannya. Bahwa Ina Sei[1] - Ibunya, meridhoi niat Alek-untuk melanjutkan studi ke kota pendidikan, Yogyakarta. Rencana yang telah dirancangnya tiga bulan lalu. Itupun setelah mendapatkan kabar dari Agil, abang satu kampungnya yang sedang menempuh studi di kota Budaya, Yogyakarta.

    Sore, usai solat ashar keesokan harinya. Sarangge[2] depan rumahnya cukup ramai, tidak seperti hari sebelumnya. Selain ramai, sore itu sarangge di penuhi oleh para sepuh yang terkenal bijak di kampungnya, Ncera. Suasana dan pandangan baru yang membahagiakan itu bukanlan tanpa alasan. Angin adalah pembawa berita gembira akan datangnya hujan. Begitupun dengan kehadiran para sepuh yang memenuhi sarangge Ina Sei sore itu. Berita keberangkatan Alek-anaknya- telah di ketahui oleh orang-orang di kampungnya, termasuk para sepuh yang sedang duduk dalam satu sarangge dengan Alek sore itu. Masih kentalnya tradisi oral di kampungnya, membuat berita sangat cepat menyebar, tidak butuk brosur atau sekedar selebaran apalagi bener dalam ukuran besar untuk menyebarkan berita di kampungnya. Kabar apapun akan mengalir dari mulut ke mulut baik air dalam sungai. Walaupun kadang-kadang berita yang meyebar, membuat orang terpelajar seperti Alek “tertawa”-karena berita kematian semut akan berubah menjadi kabar kematian seekor gajah.

    Bagi orang-orang di kampungnya. Merantau ke tanah yang jauh, apalagi untuk memperdalam ilmu pengetahuan adalah perjalanan yang hampir sakral. Selain seorang yang merantau harus mampu secara ekonomi, yang terpenting adalah harus diimbangi dengan niat yang tulus dan keykinan yang kuat untuk  mencapai tujuan. Serta harus dilandaskan pada kesadaran pengabdian kepada dana ro rasa[3] dan dou labo dana. Hal tersebut pun berlaku pada Alek, sebagai salah pemuda pangkuan harapan masyarakat dan bangsanya.

    Suasana sore yang damai nan bersahaja, dirasakan oleh Alek. Kedamaian dan kesahajaan yang dilengakapi oleh para sepuh disekitarnya. Membuat hatinya terasa nyaman, terlebib lagi apa yang dibicarakan oleh sepuh-sepuh bijak itu, berisi tentang pentingnya ilmu dalam kehidupan suatu masyarakat.

    “Ilmu itu ibarat obor dalam suatu ruangan luas nan gelap” kata pak Ahmad, salah satu sepuh di kampung itu.

    “Tidak sembarang orang yang bisa mengambil obor itu untuk menerangi sudut-sudut yang tak terjangkau cahayanya, kecuali orang yang sadar. Orang yang sadar itulah yang berilmu itu”. Lanjutnya penuh kehalusan.

    Kedamaian dan kebahagiaan menyertai suasana sore itu. Ditemani para sepuh bijak dengan petuah-petuah mereka yang mengandung pesan-pesan nilai kebajikan. Memebuat keyakinannya makin kuat dan kepribadiannya terbentuk. Enam hari lagi, Alek akan meninggalkan kampung dan Daerahnya. Katanya pada para sepuh dan sahabatnya- Arif-yang baru saja bergabung dan duduk bersama dalam satu sarangge dengannya. Dirinya akan melewati dua pulau dan menyebrangi tiga lautan untuk sampai pada kota miniatur Indonesia, Yogyakarta. Dua setengah atau hampir tiga hari waktu yang ia habiskan dalam perjalanan. Enam hari adalah waktu yang cukup lama, jika menunggu momen keberangkatannya. Enam hari juga bukanlah waktu yang lama, karena harus meningglakan Daerah, kampung, dan terutama Ibunya serta kebersamaannya dengan teman-teman dan orang-orang di kampung. Ia merasa dilema jika memikirkan tentang itu-enam hari lagi akan segera pergi dan harus meninggalkan orang-orang yang telah bersamanya selama ini. Tiba-tiba dilema itu hilang dan sirna, bagai debu diterpa badai, setelah ia menyimak pesan Guru Hima-sapaan untuk Pak Mahmud- Guru Ngaji di kampungnya.
    “Menuntut ilmu itu penting nak.., walau harus meningglakna tanah kelahiran dan keluarga”.
    “Jangankan yang masih muda”. katanya sambil memandang wajah Alek.
    “Yang tau-pun sangat penting, jika memungkinkan”. Lanjutnya. Seakan menantang kesungguhan Alek.

    Hari semakin sore, di ufuk barat - matahari hampir tak terlihat dan sebentar lagi akan bersembunyi dibalik gunung. Menyisahkan pantulan cahaya orange pada atap-atap langit dan kepulan awan sore. Mungkin sebentar lagi suara beduk di Mesjib besar akan terdengar-pertanda waktu magrib sudah tiba. Tapi, kini suara khas benda itu belun jua menggema.
    “Nak, tiada uang dan emas yang mampu kami berikan kepadamu”. Kata Pak Karim-yang sering di sapa Guru Kero itu- usai menyirup kopi yang di suguhkan Ina Sei sedari awal tadi.
    “Hanya ini, hanya ini yang bisa kami berikan, hanya ini bekal dari kami”[4].
    Maja labo dahu[5]. Lanjut Guru Kero. Oh, adagim itu sering Alek dengar, tetapi ia belum terlalu paham dengan maksudnya. Apa pula makna yang terkandung dalam terma itu? Bisiknya dalam hati
    “Rasa malu diiringi rasa takut yang muncul dari kesadaran hati yang terdalam”.
    “Rasa malu diiringi rasa takut pada diri sendiri, pada masyarakat, dan pada Penciptamu. Jika melakukan perbuatan yang seleweng atau lari dari tanggung jawabmu sebagai manusia, masyarakat, dan hamba-Nya”. Lanjut Guru Kero, dengan nada yang ramah - makin menambah wibawa yang tampak di wajahnya - sembari menunjuk ke atas di akhir perkataannya.

    Kini adagium yang cukup terkenal di kampung dan Daerahnya, telah ia pahami resapi dalam dirinya. Rupanya adagium itu mengandung pesan kebajikan yang cukup dalam nan luas. Kini adagium itu tak lagi menjadi misteri dalam diriku. Bisiknya dalam hati.
    “tookk....tookk....tookk...., duumm....duumm....duumm”. Suara ketukan bambu yang diikuti suara dentuman beduk secara beriringan dan semakin cepat. Pertanda waktu magrib telah tiba. Alek meyalami setiap sepuh sembari mencim tiap punggung tangan mereka-bentuk hormatnya pada para sepuh.
    “Allahuakbar Alla.....hu..Akbar”. Suara khas Guru Bila[6] menggema.


    Catatan Kaki:
    [1] Ina = ibu, Sei = sapaan hormat dan sapaan tanda rasa sayang dari nama Asiah.
    [2] Sarangge adalah tempat duduk yang berbentuk persegi, terbuat dari bambu dan kayu. Biasanya di gunakan untuk - sekedar duduk mengisi waktu luang dan banyak juga yang menggunakannya untuk membahas masalah ilmu agama dan kehidupan sosialnya, terutama orang tua.
    [3] Dana = tanah, ro = dan, rasa = bangsa. Artinya bangsa dan tanah air.
    [4] Maksudnya merujuk pada petuah-petuah bijak yang di sampaikan sedari tadi.
    [5] “maja labo dahu” adalah adagium yang hidup dalam masyarakat Bima. Secara harfiah ia berasal dari kata maja = malu, labo = dan, dahu = takut. Artinya, malu dan takut.
    [6] Guru = Guru, Bila = Bilal (merujuk pada nama Bilal- sahabat Nabi yang pertama kali mengumandangkan azan).  Artinya tukang azan (mu’azin).



    Yogyakarta, 20 Mei 2016
    Karya: Agus Salim
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    MPR RI Gandeng DPC PERMAHI DIY Selenggarakan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan

    Dedi Purwanto saat sambutan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan (04/06/2016).
    PewartaNews.com – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) gandeng Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PEMAHI DIY) dalam menyelenggarakan acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan pada hari Sabtu 04 Juni 2016 di Balai Pemuda dan Olahraga Ambarbinangun, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    “Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini ini bukanlah kali pertama diselenggarakan di Yogyakarta. Yogyakarta yang merupakan kota pelajar dan banyak beranggapan bahwa Yogyakarta merupakan miniatur Indonesia yang dikarenakan banyak sekali generasi penerus bangsa menuntut ilmu di kota pelajar yang berasal dari Sabang hingga Merauke. Sehingga ada harapan besar dari para pelajar yang merantau ke kota pelajar ini untuk dapat menanamkan rasa nasionalisme dan kesatuan bangsa ketika pulang ke kampung halaman.” Kata sambutan yang disampaikan oleh Bpk. Dr. H. Hermanto, S.E., M.M. perwakilan MPR RI sekaligus membuka acara.

    Sementara itu, Ketua Umum DPC PERMAHI DIY saudara Dedi Purwanto sangat mengapresiasi  upaya-upaya yang dilakukan MPR RI untuk terus mensosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan. “Atasnama DPC PERMAHI DIY, kami mengapresiasi upaya sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang dilakukan MPR RI, mudah-mudahan dengan ini menjadi bekal buat kader DPC PERMAHI DIY untuk dapat menggagas bangsa ini agar lebih bermartabat lagi kedepannya. Dengan adanya agenda sosialisasi ini mudah-mudahan menjadi pintu awal DPC PERMAHI DIY untuk terus menjalin kerjasama dengan MPR RI. Kami siap menjadi mitra MPR RI dalam hal penguatan keilmuan hukum, baik untuk pemuda/mahasiswa maupun untuk masyarakat yang membutuhkan.” Beber Dedi Purwanto selaku Ketua Umum DPC PERMAHI DIY.

    Di tengah beberapa konflik antar RAS di Indonesia, MPR RI yang merupakan lembaga legislatif negara terus berusaha dalam menanamkan kembali rasa nasionalisme dan kesatuan bangsa sesuai dengan semangat kemerdekaan RI tahun1945. Salah satunya dengan cara mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI yaitu Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara serta Ketetapan MPR, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.

    DPC PERMAHI DIY merupakan organisasi mahasiswa hukum yang bergerak dalam keprofesian hukum juga merasakan dampak bagaimana mulai kurangnya rasa nasionalisme dan kesatuan bangsa sehingga perlu adanya sebuah sosialisasi kebangsaan yang harapannya dapat menjadi suntikan semangat untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dan kesatuan bangsa.

    Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini menjadi sebuah momentum yang sangatlah penting bagi MPR RI maupun DPC PERMAHI DIY dikarenakan memperingati 71 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 1 Juni yang merupakan hari peringatan lahirnya sebuah ideologi negara yaitu Pancasila serta bertepatan dengan acara Masa Perkenalan Calon Anggota ke XIX (MAPERCA XIX) DPC PERMAHI DIY yang merupakan agenda pelatihan calon anggota DPC PERMAHI DIY.

    “Acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini sangatlah sinergis dengan ideologi organisasi yang selalu menanamkan pancasila menjadi dasar seseorang kader profesi hukum yang baik, sama halnya dengan tema MAPERCA XIX ini yaitu ‘Membentuk Kader Profesi Hukum yang Kritis dan Bermoralkan Pancasila demi Terwujudnya Masyarakat Taat Hukum’.” Jelas Musa Akbar selaku Ketua I Bagian Internal DPC PERMAHI DIY.

    Musa menjesalkan bahwa dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini dihadiri sekitar 200 peserta baik itu kader PERMAHI dan juga umum. Dalam sosialisasi diisi oleh Narasumber yaitu Dr. H. Hermanto, S.E., M.M. (dari MPR RI) dan Drs. Muhammad Afnan Hadikusumo (DPD RI Yogyakarta) dan Moderatori oleh Gusti Randa, S.H., M.H..

    Acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini berlangsung meriah, dimana dalam acara sosialisasi terdapat antusias yang sangat besar dari para peserta. Seterlah acara sosialisasi dilanjukan acara makan bersama dan dilanjutkan acara khusus DPC PERMAHI DIY yaitu MAPERCA XIX yang digunakan untuk para calon anggota PERMAHI untuk menjadi anggota PERMAHI secara resmi. (An / PewartaNews)

    Benalu

    Agus Salim.
    PewartaNews.com – Tulisan ini  terinspirasi dari Pedapat Dr. Kartini Kartono tentang korupsi ibarat benalu dalam kehiudpan sosial (Patologi Sosial, 2013). Juga terisnpirasi dari penadapat Syed Hussein Alatas, bahwa korupsi menghancurkan kehiudpan bermasyarakat.

    Amir, sudah enam hari berturut-turut ia duduk di kebun kecil, belakang rumah panggungnya. Kebun kecil itu memang cukup menggodanya. Apalagi diwaktu siang yang gerah sepulang sekolah. Disana, kesejukan dan kenyamanan bisa rasakan, untuk menyegarkan kembali pikiran dan badah yang letih setelah dipakai di banagku sekolah. Pohon Mangga, Nangka, dan Pohon Jambu merupakan pohon-pohon besar yang menghiasi dan menyejukkan wilayah kebun dan sekitarnya. Serta beberapa tumbuhan sayur-sayuran dan obat-obatan yang tidak kalah hijaunya nan indah.

    Pak Malik -yang sering disapa, Melo- diam-diam memperhatikan kebiasaan baru anaknya akhir-akhiar ini. Tak biasanya Amir berada di kebun belakang rumahnya terus-terusan seprti itu, biasanya hanya dua sampai tiga kali saja dalam sepekan. Itupun sangat jarang terjadi. Kebiasaan baru yang ia dapati dalam diri anaknya tak membuat Melo khwatir, justru sebaliknya. Ia merasa sangat senang dengan kebiasaan barunya. Terutama untuk anak seumur Amir yang masih duduk di bangku kelas IV SD. Semoga kebiasaan itu dapat memupuk kecintaan anaknya pada lingkungan alam, menjaga dan memelihara pohon-pohon serta tumbuhan di tengah semakin maraknya tangan-tangan jahil yang tanpa nurani membabat pohon-pohon secara liar dan penuh kerakusan. Harap Melo, dala hati.

    Angin selalu membawa berita gembira bagi manusia akan datangnya hujan. Rahmta bagi Bumi dan kehidupan di dalamnya. Itulah yang Melo yakini. Tetapi berita gembira apa yang terselip dalam tindakan anaknya enam hari terakhir ini. Dan apa pula penyebabnya, “?”. Minggu, adalah hari ketujuh Amir menajalankan “ritualnya”. Enam hari sebelumnya ia duduk di Kebun kecil sepulang dari sekolah. Hari ini ritual itupun ia lakukan, bedanya hari ini lakukan sepulang dari sawah bersama ayahnya, Melo. Sekedar membersihkan membersihkan rumput yang tumbuh secara liar dipinggiran sawah. Sawah yang sudah ditanami padi dua pekan yang lalu.

    “Mir..., Amir”. Sapa Melo. Tapi, Amir tak menghiraukannya. Mungkin ia benar-benar tak mendengar sapaan ayahnya, karena seriusnya ia memperhatikan pohon mangga – tepatnya salah sat dahannya- dengan raut wajah yang cukup serius. Laaknya para ahli di bidang tumbuh-tumbuhan. Melo langsung duduk dekat anaknya, dengan jarak hanya beberapa cm saja. Kemudian memegang pundak Amir. Seketika itu pula Amir kaget.

    “A.., ayah sudah lama?”. Tanyanya sekilat.
    “baru kok, baru sebentar!”. Jawab ayanya singkat, sembari tersenyum memandangi wajah Amir
    “oh”. Amir.

    Keduanya terdiam, masing-masing memandangi keindahan pesona tumbuhan yang ada di kebu kecil itu. Hanya suara beberapa burung kecil dan gesekan dau-daun pohon yang bertengkar dengan angin. Beberapa menit kemudian Melo angkat suara, bertanya pada Amir tentang kebiasaannya akhir-akhir ini. Adakah sesuatu hal yang membuat anaknya menjalani kebaisaan itu. Tapi apa? Ataukah kebiasaan itu semata-mata karena kecintaannya pada lingkungan sejuk dan hijau. Tidakkah ada yang lebih?

    “Nak.., sebenarnya apa yang kau cari disini?”
    “nggak ada !” balas Amir singkat.

    “hanya memperhatikan tumbuhan yang numpang hidup di atas dahan mangga itu”. Lanjut Amir, sambil menunjuk ke arah salah satu dahan pohon mangga. Tanpa memperhatikan dengan jelas apa yang anaknya tunjuk, Melo langsung angkat suara dan bertanya.
    “emang kenapa dengan dahan mangga itu?”
    “coba ayah perhatikan baik-baik dahannya yang itu !”. balas Amir sembari menunjuk dengan tegas arah tangahnya, kearah salah satu dahan mangga dan tumbuhan yang numpang hidup diatasnya.

    Mendengar perkataan anaknya serta memperhatikan baik-baik arah tangannya. Akhirnya perhatian Melo tertuju pada salah satu dahan yang anaknya maksud. Melihat sikap ayahnya yang agak kaget, ia langsung angkat suara.
    “ayah sudah melihatnya?”.
    “aapaa ayah sudah lihat tumbuhan berbahaya itu?”. Lanjutnya
    “tapi..”. Ucap Melo terpotong, sambil memandang anaknya. Wajah cukup seirus pertanda ada sesuatu yang ia pikirkan, mungkin juga penuh tanya.
    “bagaiamana Amir tau tumbuhan itu berbahaya?”. Tanya Melo, melepas penasarannya.

    Amir,  si bocah  kelas IV SD itu  menjelaskan perihal pengetahuannya tentang benalu dan bahayanya bagi pohon tempat ia menumpang. Penegetahuan itu ia dapatkan dari Pak Arif, guru mata pelajaran IPA di kelasnya. Melo yang ingin tahu banyak hal –tepatnya menguji- penguji pengetahuan anaknya terus mengajukan pertanyaan.
    “mengapa kau tidak langsung cabut  benalu itu?”. Melo
    “aku ingin membuktikannya!”. Amir
    “membuktikan apa?”. Melo
    “ya.., membuktikan bahaya benalu bagi pohon mangga!”. Amir

    Melo sedikit kaget mendengar jawaban polos anakanya, tapi cukup kritis untuk bocah seumur Amir. Dalam hatinya Melo merasa bangga dengan daya kritis yang mulai tumbuh dalam diri anaknya. Demi menjaga daya kritis anaknya yang baru mulai tumbuh dan agar tak mengecewakannya, serta menjaga pohon mangga agar tetap hidup. Melo bingung!  Ia berpikir keras, mencoba menemukan penjelasan yang tepat, demi menjaga dua aset tersebut, Amir dan pohon Mangga. Jika penjelasannya tidak tepat, maka anaknya mungkin saja akan kecewa atau dua pekan lagi mungkin pohon mangga mengering dan mati.
    “nak.., sebenarnya bahaya yang di timbulkan benalu itu sudah ada”. Melo angkat suara.
    “bahkan sejak awal ia hidup dan menumpang di dahan pohon mangga itu”. Jelas Melo.
    “hanya saja..., mata telanjang kita belum bisa melihatnya saai ini, paling kita bisa lihat setelah dahan mangga itu mengering atau bahkan samapai pohon dan akarnya”. Lanjut Melo menjelaskan, tanpa menggurui anaknya, sedang Amir perlahan menyimak isi ucapan ayahnya.

    Amir kembali angkat suara dan meminta isyarat untuk mencabut benalu yang hidup menumpang, tapi mematikan di dahan mangga. Melo mengangguk tanda mengiyakan. Usai mencabut dan membersihkan benalu dari dahan mangga, Melo mengajaknya duduk dihalaman depan rumah. Setelah menyuruh istrinya menyiapkan segalas kopi. Melo mulai menaseghati anakya. Ia menjelaskan pada Amir, bahwa dalam kehidupan bermasyarakat terdapat banyak sekali benalu-benalu yang setiap saat menggerogoti hampir setiap sisi kehidupan ber-Negara. Jelasnya. Nak, benalu-benalu yang ada dalam masyarakat dan numpang hidup di Negeri ini, ribuan kali jauh lebih berbahaya daripada benalu yang menumpang pada dahan mangga, di kebun kecil belakang rumah kita. Amir yang belum terlalu paham maksud ayahnya, langsung bertanya.
    “apa itu Yah ?”.
    “korupsi Nak !”. Jawabnya singkat.

    Amir sering mendengar istilah itu dari siaran Televisi yang ia tonton. Tetapi selama ini ia belum tahu mksudnya, apalagi memahaminya. Melo, usai menyirup kopi yang kini telah tersdia di depannya. Melanjutkan nasehatnya. Bahaya korupsi itu bagi masyarakat ibarat benalu bagi Pohon. Akibatnyapun sama, benalu menjadikan  dahan yang ia hinggapi mengering bahkan mematikan pohon itu jika tidak segera di bersihkan. Begitupun korupsi, menjadikan kehidupan suatu masyarakat miskin, rakyatnya melarat dan mati kelaparan. Bahkan suatu Negara akan hancur jika tidak mampu memberantas korupsi dan melumpuhkan para koruptor.
    “kenapa mereka tega melakukannya, Yah?” tanya Amir polos, sembari memandangi wajah ayahnya.
    “mereka itu orang-orang rakus nak!”.
    “nuraninya telah tertutup dengan tembok nafsu duniawi yang amat berlebihan”. Lanjut Melo
    “apa di desa kita juga ada korupsi Yah?”.
    “ayah belum tau Nak!”.
    “tapi.., setau ayah. Saat ini korupsi tidak hanya terajdi pada tingkat Nasional dan daerah. Tapi juga sudah menjalar sampai ke desa-desa”. Lanjut Melo, layaknya seorang pakar korupsi.

    Amir terlihat mengantuk. Sebelumnya anaknya istrahat siang. Melo menasehatinya untuk rajin belajar, supaya kelak bisa bermanfaat bagi diri dan masyarakat. Jangan sampai menjadi benalu dalam kehidupan bermasyarakat, melainkan harus menjadi pohon yang bisa memberi manfaat dengan buah-buah yang di hasilkannya. Kemudian Melo mengajak anaknya istrahat siang. Keduannya langsung berbaring di atas sarangge dan berbantalkan lengan.


    Yogyakarta, 20 Mei 2016
    Karya: Agus Salim
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    SILPA dalam Anggaran Daerah

    Maria Goreti Padu Keray (Mahasiswa Magister Ekonomika dan Pembangunan, Konsentrasi Perencana Pembangunan Daerah, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada)
    PewartaNews.com – Dalam membangun suatu daerah, kedudukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen penting dan dapat dikatakan sebagai “nadi’’ dari suatu roda pemerintahan. Pemerintahan yang dapat melayani masyarakatnya diukur dengan seberapa besar kualitas pelayanan kepada rakyat didalam wilayah pemerintahan daerah baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten atau Kota. Untuk itu, instrumen APBD berisikan sebagian besar kebutuhan kepentingan daerah dan masyarakatnya  yang akan diperoleh (pendapatan) maupun yang juga dipakai (belanja) demi terwujudnya cita-cita kesejahteraan masyarakat. Berdasarakan pemahaman tesebut, selayaknya suatu APBD dapat terserap secara mutlak atau seratus persen dari perencanaan semula. Namun, ada ada fakta maupun fenomena menarik dalam pengelolaan keuangan daerah belakangan ini, yakni seringnya terjadi sisa anggaran (SILPA) dalam laporan realisasi anggaran (LRA). Padahal dalam anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya (APBD) Pemerintah Daerah telah menetapkan prediksi akan terjadi defisit, yakni pendapatan daerah tidak dapat menutupi seluruh belanja daerah. Mengapa bisa terjadi perkiraan dalam anggaran berbalikan dengan realisasinya?

    Anggaran adalah rencana keuangan. APBD adalah rencana keuangan pemerintah daerah (Pemda), yang disepakati dan ditetapkan bersama oleh kepala daerah dan DPRD dalam bentuk peraturan daerah (Perda). APBD disusun melalui sebuah proses yang bersifat partisipatif dan desentralistis, yang melibatkan konstituen dan pengguna anggaran di daerah. Perda APBD merupakan sebuah “kontrak” antara kepala daerah selaku pelaksana (eksekutif) dengan DPRD selaku pemberi kewenangan (legislatif). Abdullah dan Halim (2006) menyebut hubungan ini sebagai bagian dari hubungan keagenan di pemerintahan atau sektor publik.

    Penerapan anggaran defisit yang sejalan dengan konsep penganggaran berbasis kinerja, memunculkan kecenderungan di pemerintahan daerah untuk mengakomodir lebih banyak kebutuhan publik dan aparatur daerah dalam APBD. Akibatnya, semakin besar beban daerah untuk mencari sumber penerimaan agar program dan kegiatan yang sudah disetujui DPRD dapat dilaksanakan pada tahun anggaran berkenaan. Untuk merespon hal ini, Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Pemerintah No.54/2005 tentang Pinjaman Daerah. PP ini memberi kewenangan kepada daerah untuk melakukan pinjaman kepada pihak luar, meskipun sesungguhnya persyaratan yang harus dipenuhi cukup berat.

    Pada praktiknya, APBD yang defisit tidak selalu defisit dalam pertanggungjawabannya. Artinya, LRA bisa saja surplus, yakni pendapatan yang terealisasi lebih besar daripada belanja yang terealisasi. Hal ini menunjukkan bahwa prediksi dalam perencanaan keuangan berbeda dengan yang terealisasi dalam pelaksanaan anggaran. Namun, perbedaan antara anggaran dan realisasi ini (dari defisit menjadi surplus) akan bermakna dan berkaitan dengan anggaran daerah untuk tahun berikutnya jika berkaitan dengan sisa anggaran definitif pada akhir tahun.

    Beberapa pertanyaan kemudian dapat saja muncul, misalnya ;Apakah anggaran disengajakan defisit? Oleh siapa? ; Apakah keuntungan atau kerugian untuk anggaran yang defisit bagi Pemda dan atau DPRD? Bagaimana pula untuk masyarakat yang akan menerima outcome anggaran tersebut? ; Apakah “perubahan” anggaran yang defisit ke realisasi yang surplus merupakan sebuah “prestasi” bagi pemerintah daerah? sehingga “dinilai baik” oleh DPRD dan masyarakat? Atau juga mempengaruhi opini auditor eksternal atas laporan keuangan Pemda?


    SILPA dan SiLPA
    Sisa anggaran adalah dana milik pemda yang belum terpakai selama satu tahun anggaran atau masih tersisa pada akhir tahun anggaran. Dalam konsep anggaran berbasis kas, sisa anggaran sama dengan jumlah uang atau kas Pemda yang belum terpakai. Ada dua bentuk sisa anggaran, yakni SiLPA dan SILPA.

    SiLPA ada sisa anggaran tahun lalu yang ada dalam APBD tahun anggaran berjalan/berkenaan. SiLPA merupakan penerimaan daerah yang bersumber dari sisa kas tahun anggaran sebelumnya. sebagai contoh, SiLPA di dalam APBD 2016 adalah SILPA tahun anggaran 2015. Sedangkan SILPA dalam APBD 2016 adalah “rencana” sisa anggaran pada akhir tahun 2016, yang akan menjadi definitif ketika Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah ditetapkan.

    Di beberapa daerah dibuat kebijakan (misalnya di kabupaten Alor,Propinsi Nusa Tenggara Timur) bahwa SILPA dalam APBD di Pemda kabupaten  diharuskan bernilai 0 (nol) atau nihil (tanpa nilai rupiah). Artinya, tidak direncanakan terjadi selisih antara jumlah penerimaan dan jumlah pengeluaran daerah. Hal ini dimaknai sebagai anggaran berimbang (balanced budget). Namun, Silpa di Kabupaten Alor, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari tahun 2015 lalu berkisar pada 53 Milyaran Rupiah, meningkat  lagi di tahun 2016 yakni SiLPA berkisar di angka 90 Milyaran, suatu peningkatan yang signifikan.  Dengan melihat fenomena ini dan setelah ditelusuri lebih jauh ditemukan bahwa ada beberapa penyebabnya antara lain : perubahan regulasi di dalam tahun berjalan sehingga menyebabkan Pejabat atau pemimpin SKPD sangat berhati-hati sekali dan terkesan ragu-ragu dalam melakukan eksekusi program dan kegiatan yang sudah ditetapkan. Akibatnya, dana mengendap dan bahkan tidak digunakan karena ketakutan bermasalah dan ditindak secara pidana ; dan alasan pelaksanaan beberapa kegiatan belanja modal yang belum rampung.

    Memang realitas seperti yang digambarkan diatas demikian, tetapi pada prinsipnya, kebijakan ini untuk mendorong Pemda kabupaten/kota untuk lebih bertanggungjawab terhadap penggunaan uang publik, sehingga sejalan dengan konsep value for money, yang mencakup ekonomi, efisiensi, dan efektifitas.

    Hubungan SilPA dan SILPA ini masih menjadi tanda tanya: apakah berkorelasi atau tidak. Jika SiLPA berkorelasi positif dengan SILPA, apakah perlu mengurangi SiLPA dalam APBD? Jika nilai SiLPA dalam APBD ditetapkan kecil, tapi kemudian nilai realisasinya jauh lebih besar, apakah berakibat pada SILPA yang juga lebih besar? Apabila dikaitkan dengan kinerja keuangan atau daya serap anggaran, apakah kinerja masa lalu berpengaruh terhadap kinerja masa depan?


    Hubungan Defisit/Surplus dan SILPA
    Pemda yang menetapkan APBD defisit mungkin saja memiliki SILPA realisasian yang lebih besar daripada APBD surplus. Hal ini disebabkan oleh adanya komponen pembiayaan neto yang diperhitungkan dalam penentuan angka SILPA. Terlepas dari perhitungan matematis, yang menarik untuk didiskusikan adalah alasan yang rasional dalam penetapan surplus/defisit dan penetapan SiLPA dan SILPA tersebut.

    Dalam pandangan Niskanen (1971), agency merupakan budget maximizer. Agency (untuk konteks pemerintahan daerah di Indonesia disebut SKPD) bekerja berdasarkan anggaran yang telah ditetapkan secara politik oleh kepala daerah dan lembaga perwakilan daerah (DPRD). Oleh karena itu, proses penyusunan anggaran yang melibatkan partisipasi SKPD memungkinkan SKPD untuk melakukan penggelembungan (mark-up) untuk target belanja atau pengecilan (mark-down) untuk target pendapatan dalam usulan anggaran yang disampaikannya ke tim anggaran pemerintah daerah (TAPD).

    TAPD menyusun rancangan anggaran daerah berdasarkan usulan SKPD (internal participative budgeting). Rancangan Perda APBD yang disampaikan kepada DPRD merupakan gabungan dari usulan SKPD yang telah disesuaikan dengan masukan dari masyarakat (melalui Musrenbang), dan diharapkan mendapatkan persetujuan dari DPRD untuk ditetapkan menjadi Perda tentang APBD. Penetapan Perda APBD berarti persetujuan DPRD atas potensi varian yang mungkin terjadai nantinya.

    Akibat dari penggelembungan anggaran adalah terjadinya sisa anggaran, baik ketika output kegiatan sudah tercapai atau belum. Ketika output anggaran tercapai, maka sisa anggaran sering disebut sebagai hasil dari efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan, sehingga bersifat bebas untuk digunakan bagi kegiatan lain pada tahun anggaran berikutnya (free cash flow). Ada dua akibat dari “ketidak-akuratan” dalam penganggaran, yakni terjadinya senjangan anggaran atau budget slack dan varian anggaran (budget variances).

    Pemda yang mengalami defisit dalam anggaran dapat saja menyisakan dana pada akhir tahun dalam bentuk SILPA realisasian karena pelampauan target pendapatan dan tidak tercapainya target realisasi belanja. Pelampauan target pendapatan bisa disebabkan beberapa hal, seperti PAD yang ditargetnya di bawah potensi riil, informasi tentang penerimaan daerah dari Pemerintah diperoleh setelah penetapan Perda APBD-P, dan diterimanya lain-lain pendapatan yang sah setelah APBD-P ditetapkan. Sedangkan ketidaktercapaian target belanja bisa disebabkan karena efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan (output kegiatan tercapai, tetapi anggarannya tidak terealisasi seluruhnya), kegiatan belum selesai (sehingga anggaran yang belum digunakan “dibawa” ke tahun anggaran berikutnya), dan kegiatan yang batal dilaksanakan.

    Dengan asumsi pembiayaan neto bernilai nol, maka besar kecilnya SILPA sangat ditentukan oleh kemampuan Pemda dalam mengestimasi pendapatan dan belanja, dan kemampuan SKPD dalam melaksanakan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak selalu sisa anggaran yang berasal dari kegiatan yang telah selesai 100% sebagai efisiensi, tetapi bisa juga diartikan sebagai ukuran besarnya “oportunisma” (dengan menggelembungkan anggaran) yang dilakukan oleh SKPD (agency sebagai budget maximizer). Adanya asimetri informasi antara SKPD dengan TAPD dan/atau kepala daerah menyebabkan SKPD berperilaku oportunis.


    Penulis: Maria Goreti Padu Keray
    (Mahasiswa Magister Ekonomika dan Pembangunan, Konsentrasi Perencana Pembangunan Daerah, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website