Headlines News :
Home » » Apakah Boleh Menyikat Gigi atau Menggunakan Siwak Saat Berpuasa?

Apakah Boleh Menyikat Gigi atau Menggunakan Siwak Saat Berpuasa?

Written By Pewarta News on Kamis, 09 Juni 2016 | 10.05

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Bulan Ramadhan   adalah bulan yang dianjurkan bagi umat  islam untuk berpuasa. Saat kita berpuasa harus menjaga kebersihan  salah satunya adalah bau mulut.  Bau mulut adalah salah satu  penyakit yang dibenci oleh setiap orang,  apalagi saat kita berdialog langsung dengan seseorang, harus periksa  secara detail apakah mulut kita mengeluarkan bau  khas yang dapat meracuni orang-orang di sekitar kita.  Di sini akan dikupas apakah boleh menggunakan sikat gigi saat  berpuasa? Jawabannya adalah tidak mengapa menggunakan pasti gigi ketika berpuasa, namun orang yang berpuasa harus mengeluarkan kembali pasti gigi yang terlarut di dalam mulut. Apabila ada sebagiannya yang masuk ke kerongkongan tanpa kesengajaan, yang  demikian itu tidak mempengaruhi pada puasanya.

Diriwayatkan dengan sanad yang hasan ibnu abbas (al-Irwa 937) bahwa beliau berpendapat tidak mengapa bagi seseorang yang berpuasa untuk  mencicipi madu, minyak dan  makanan yang misalnya, bila kemudian ia meludahkan keluar. Pendapat ini telah diriwayatkan oleh beberapa, salafunash  shahih, maka saretelah anda mengetahui bagimana  cara tubuh kita, bagiamana cara tubuh kita merasakan/megindera rasa, makanan.

Pengguanaan mouthwash yang mengandung obat dengan syarat setelahnya dikeluarkan dari mulut dan tidak ada dari mounthwash itu ditelan masuk dengan sengaja di kerongkongan. Hukum yang sama pula berlaku dengan masalah mencicipi makanan selama seseorang mengeluarkannya lagi dan tidak menelannya sedikit pun (dengan sengaja). Selain menggunakan pasta gigi  saat berpuasa kita juga boleh menggunakan siwak. Siwak merupakan salah satu toleransi yang diberikan bagi kita yang berpuasa, untuk dapat memakainya di siang hari tanpa merusak ibadah puasa kita. Shahih Bukhari da Amir sahabat.

Bersiwak adalah sunnah bagi orang yang berpuasa pada semua waktu siang meskipun (siwak) basah. Kalau dia bersiwak dalam kondisi puasa dan mendapatkan (rasa) pedas atau lainnya kemudian dia telan atau dia keluarkan dari mulutnya dan dia mendapatkan ludahnya kemudian diulanginya dan ditelannya, maka hal itu tidak mengapa.’ Al-Fatawa As-Sa’diyah, 245.

Dan dihindari (siwak) yang ada bahan yang menyatu seperti siwak hijau, dan apa yang ditambahkan rasa diluar itu seperti (rasa) jeruk dan naknak. Dikeluarkan dari apa yang terkelupas darinya dari mulut, tidak boleh disengaja menelannya. Kalau tertelan dengan tidak sengaja, maka tidak apa-apa.” Selesai dari kitab ‘Sab’una Masalah Fis Siyam’.
Wallallahu’alam .

Dalam hadits-hasits ini terdapat dalil dianjurkannya bersiwak pada semua waktu. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tidak mengecualikannya, bahkan keumuman hadits mencakup bagi yang berpuasa dan selain orang yang berpuasa. Dan diperbolehkan menelan ludah setelah bersiwak. Kecuali kalau ada sesuatu yang menyatu dari siwak di mulut, maka dia harus mengeluarkannya kemudian menelan ludahnya.

Sebagimana diperbolehkan bagi orang yang berpuasa (ketika) berwudhu mengeluarkan air dari mulutnya dan menelan ludahnya dan tidak diharuskan mengeringkan mulutnya dari air yang dikumurnya.. An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab ‘Al-Majmu’, 6/327: “Al-Mutawalli dan (ulama) lainnya mengatakan, “Kalau orang yang berpuasa berkumur, maka dia harus mengumur air dan tidak diharuskan mengeringkan mulutnya dengan kain atau semisalnya tanpa ada perselisihan.” Selesai.

Hukum Bersiwak Saat Berpuasa Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya tentang hukum bersiwak ketika sedang melakukan puasa Ramadhan. Beliau memaparkan, “Tidak diragukan lagi bahwa bersiwak merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan. Bersiwak memiliki keutamaan yang besar.

Terdapat berbagai riwayat shahih yang menunjukkan dianjurkannya bersiwak, dapat kita lihat pada perbuatan maupun perkataan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengamalkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Hendaklah kita berusaha bersiwak, terlebih-lebih lagi pada saat diperlukan atau pada waktu yang disunnahkan untuk bersiwak, seperti sebelum berwudhu, ketika akan melaksanakan shalat, ketika hendak membaca al-Quran, ketika ingin menghilangkan bau mulut yang tak sedap, serta saat bangun tidur sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keadaan-keadaan tadi merupakan saat yang ditekankan untuk bersiwak. Dan asalnya, siwak itu disunnahkan di setiap waktu. Orang yang berpuasa pun dianjurkan untuk bersiwak sebagaimana orang yang tidak berpuasa. Pendapat yang tepat, bersiwak dibolehkan sepanjang waktu, dianjurkan untuk bersiwak di pagi hari maupun di sore hari.


Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Email: nurwahidah854@yahoo.com
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website