Headlines News :
Home » » Benalu

Benalu

Written By Pewarta News on Sabtu, 04 Juni 2016 | 18.28

Agus Salim.
PewartaNews.com – Tulisan ini  terinspirasi dari Pedapat Dr. Kartini Kartono tentang korupsi ibarat benalu dalam kehiudpan sosial (Patologi Sosial, 2013). Juga terisnpirasi dari penadapat Syed Hussein Alatas, bahwa korupsi menghancurkan kehiudpan bermasyarakat.

Amir, sudah enam hari berturut-turut ia duduk di kebun kecil, belakang rumah panggungnya. Kebun kecil itu memang cukup menggodanya. Apalagi diwaktu siang yang gerah sepulang sekolah. Disana, kesejukan dan kenyamanan bisa rasakan, untuk menyegarkan kembali pikiran dan badah yang letih setelah dipakai di banagku sekolah. Pohon Mangga, Nangka, dan Pohon Jambu merupakan pohon-pohon besar yang menghiasi dan menyejukkan wilayah kebun dan sekitarnya. Serta beberapa tumbuhan sayur-sayuran dan obat-obatan yang tidak kalah hijaunya nan indah.

Pak Malik -yang sering disapa, Melo- diam-diam memperhatikan kebiasaan baru anaknya akhir-akhiar ini. Tak biasanya Amir berada di kebun belakang rumahnya terus-terusan seprti itu, biasanya hanya dua sampai tiga kali saja dalam sepekan. Itupun sangat jarang terjadi. Kebiasaan baru yang ia dapati dalam diri anaknya tak membuat Melo khwatir, justru sebaliknya. Ia merasa sangat senang dengan kebiasaan barunya. Terutama untuk anak seumur Amir yang masih duduk di bangku kelas IV SD. Semoga kebiasaan itu dapat memupuk kecintaan anaknya pada lingkungan alam, menjaga dan memelihara pohon-pohon serta tumbuhan di tengah semakin maraknya tangan-tangan jahil yang tanpa nurani membabat pohon-pohon secara liar dan penuh kerakusan. Harap Melo, dala hati.

Angin selalu membawa berita gembira bagi manusia akan datangnya hujan. Rahmta bagi Bumi dan kehidupan di dalamnya. Itulah yang Melo yakini. Tetapi berita gembira apa yang terselip dalam tindakan anaknya enam hari terakhir ini. Dan apa pula penyebabnya, “?”. Minggu, adalah hari ketujuh Amir menajalankan “ritualnya”. Enam hari sebelumnya ia duduk di Kebun kecil sepulang dari sekolah. Hari ini ritual itupun ia lakukan, bedanya hari ini lakukan sepulang dari sawah bersama ayahnya, Melo. Sekedar membersihkan membersihkan rumput yang tumbuh secara liar dipinggiran sawah. Sawah yang sudah ditanami padi dua pekan yang lalu.

“Mir..., Amir”. Sapa Melo. Tapi, Amir tak menghiraukannya. Mungkin ia benar-benar tak mendengar sapaan ayahnya, karena seriusnya ia memperhatikan pohon mangga – tepatnya salah sat dahannya- dengan raut wajah yang cukup serius. Laaknya para ahli di bidang tumbuh-tumbuhan. Melo langsung duduk dekat anaknya, dengan jarak hanya beberapa cm saja. Kemudian memegang pundak Amir. Seketika itu pula Amir kaget.

“A.., ayah sudah lama?”. Tanyanya sekilat.
“baru kok, baru sebentar!”. Jawab ayanya singkat, sembari tersenyum memandangi wajah Amir
“oh”. Amir.

Keduanya terdiam, masing-masing memandangi keindahan pesona tumbuhan yang ada di kebu kecil itu. Hanya suara beberapa burung kecil dan gesekan dau-daun pohon yang bertengkar dengan angin. Beberapa menit kemudian Melo angkat suara, bertanya pada Amir tentang kebiasaannya akhir-akhir ini. Adakah sesuatu hal yang membuat anaknya menjalani kebaisaan itu. Tapi apa? Ataukah kebiasaan itu semata-mata karena kecintaannya pada lingkungan sejuk dan hijau. Tidakkah ada yang lebih?

“Nak.., sebenarnya apa yang kau cari disini?”
“nggak ada !” balas Amir singkat.

“hanya memperhatikan tumbuhan yang numpang hidup di atas dahan mangga itu”. Lanjut Amir, sambil menunjuk ke arah salah satu dahan pohon mangga. Tanpa memperhatikan dengan jelas apa yang anaknya tunjuk, Melo langsung angkat suara dan bertanya.
“emang kenapa dengan dahan mangga itu?”
“coba ayah perhatikan baik-baik dahannya yang itu !”. balas Amir sembari menunjuk dengan tegas arah tangahnya, kearah salah satu dahan mangga dan tumbuhan yang numpang hidup diatasnya.

Mendengar perkataan anaknya serta memperhatikan baik-baik arah tangannya. Akhirnya perhatian Melo tertuju pada salah satu dahan yang anaknya maksud. Melihat sikap ayahnya yang agak kaget, ia langsung angkat suara.
“ayah sudah melihatnya?”.
“aapaa ayah sudah lihat tumbuhan berbahaya itu?”. Lanjutnya
“tapi..”. Ucap Melo terpotong, sambil memandang anaknya. Wajah cukup seirus pertanda ada sesuatu yang ia pikirkan, mungkin juga penuh tanya.
“bagaiamana Amir tau tumbuhan itu berbahaya?”. Tanya Melo, melepas penasarannya.

Amir,  si bocah  kelas IV SD itu  menjelaskan perihal pengetahuannya tentang benalu dan bahayanya bagi pohon tempat ia menumpang. Penegetahuan itu ia dapatkan dari Pak Arif, guru mata pelajaran IPA di kelasnya. Melo yang ingin tahu banyak hal –tepatnya menguji- penguji pengetahuan anaknya terus mengajukan pertanyaan.
“mengapa kau tidak langsung cabut  benalu itu?”. Melo
“aku ingin membuktikannya!”. Amir
“membuktikan apa?”. Melo
“ya.., membuktikan bahaya benalu bagi pohon mangga!”. Amir

Melo sedikit kaget mendengar jawaban polos anakanya, tapi cukup kritis untuk bocah seumur Amir. Dalam hatinya Melo merasa bangga dengan daya kritis yang mulai tumbuh dalam diri anaknya. Demi menjaga daya kritis anaknya yang baru mulai tumbuh dan agar tak mengecewakannya, serta menjaga pohon mangga agar tetap hidup. Melo bingung!  Ia berpikir keras, mencoba menemukan penjelasan yang tepat, demi menjaga dua aset tersebut, Amir dan pohon Mangga. Jika penjelasannya tidak tepat, maka anaknya mungkin saja akan kecewa atau dua pekan lagi mungkin pohon mangga mengering dan mati.
“nak.., sebenarnya bahaya yang di timbulkan benalu itu sudah ada”. Melo angkat suara.
“bahkan sejak awal ia hidup dan menumpang di dahan pohon mangga itu”. Jelas Melo.
“hanya saja..., mata telanjang kita belum bisa melihatnya saai ini, paling kita bisa lihat setelah dahan mangga itu mengering atau bahkan samapai pohon dan akarnya”. Lanjut Melo menjelaskan, tanpa menggurui anaknya, sedang Amir perlahan menyimak isi ucapan ayahnya.

Amir kembali angkat suara dan meminta isyarat untuk mencabut benalu yang hidup menumpang, tapi mematikan di dahan mangga. Melo mengangguk tanda mengiyakan. Usai mencabut dan membersihkan benalu dari dahan mangga, Melo mengajaknya duduk dihalaman depan rumah. Setelah menyuruh istrinya menyiapkan segalas kopi. Melo mulai menaseghati anakya. Ia menjelaskan pada Amir, bahwa dalam kehidupan bermasyarakat terdapat banyak sekali benalu-benalu yang setiap saat menggerogoti hampir setiap sisi kehidupan ber-Negara. Jelasnya. Nak, benalu-benalu yang ada dalam masyarakat dan numpang hidup di Negeri ini, ribuan kali jauh lebih berbahaya daripada benalu yang menumpang pada dahan mangga, di kebun kecil belakang rumah kita. Amir yang belum terlalu paham maksud ayahnya, langsung bertanya.
“apa itu Yah ?”.
“korupsi Nak !”. Jawabnya singkat.

Amir sering mendengar istilah itu dari siaran Televisi yang ia tonton. Tetapi selama ini ia belum tahu mksudnya, apalagi memahaminya. Melo, usai menyirup kopi yang kini telah tersdia di depannya. Melanjutkan nasehatnya. Bahaya korupsi itu bagi masyarakat ibarat benalu bagi Pohon. Akibatnyapun sama, benalu menjadikan  dahan yang ia hinggapi mengering bahkan mematikan pohon itu jika tidak segera di bersihkan. Begitupun korupsi, menjadikan kehidupan suatu masyarakat miskin, rakyatnya melarat dan mati kelaparan. Bahkan suatu Negara akan hancur jika tidak mampu memberantas korupsi dan melumpuhkan para koruptor.
“kenapa mereka tega melakukannya, Yah?” tanya Amir polos, sembari memandangi wajah ayahnya.
“mereka itu orang-orang rakus nak!”.
“nuraninya telah tertutup dengan tembok nafsu duniawi yang amat berlebihan”. Lanjut Melo
“apa di desa kita juga ada korupsi Yah?”.
“ayah belum tau Nak!”.
“tapi.., setau ayah. Saat ini korupsi tidak hanya terajdi pada tingkat Nasional dan daerah. Tapi juga sudah menjalar sampai ke desa-desa”. Lanjut Melo, layaknya seorang pakar korupsi.

Amir terlihat mengantuk. Sebelumnya anaknya istrahat siang. Melo menasehatinya untuk rajin belajar, supaya kelak bisa bermanfaat bagi diri dan masyarakat. Jangan sampai menjadi benalu dalam kehidupan bermasyarakat, melainkan harus menjadi pohon yang bisa memberi manfaat dengan buah-buah yang di hasilkannya. Kemudian Melo mengajak anaknya istrahat siang. Keduannya langsung berbaring di atas sarangge dan berbantalkan lengan.


Yogyakarta, 20 Mei 2016
Karya: Agus Salim
Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website