Headlines News :
Home » » [Cerpen] Juang

[Cerpen] Juang

Written By Pewarta News on Minggu, 26 Juni 2016 | 05.52

Agus Salim.
PewartaNews.com – Sekitar jam 3-an sore itu. Agil bersama seorang temannya bernama Faris, mereka  sedang berada dalam kamar kosnya. Agil membaca buku baru yang dibelinya dua hari yang lalu. Sedangkan Faris menonton film, yang entah sudah berapa kali ia tonton ulang. Mungkin filmnya terlalu asyik? Entah!

Agil telah menyelesaikan bagian pertama buku barunya. Dan kini, baru menyelesaikan beberapa judul pada bagian kedua. Maklum. Ia telah mulai membaca buku itu sepulang dari toko buku malam itu (dua hari yang lalu) menurut rencananya, hari ini harus segera ia tuntaskan. Sementara  Faris masih asyik-asyiknya menanti ending film yang ia tonton. Ditengah keseriusan dengan aktivitas masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara. Ya, suara pintu  yang diketuk.
“Assalamulekum”.
“Walaikumsalam”. Jawab Agil. Langsung menandai halaman buku, dengan melipat ujungnya, kemudian membuka pintu.
“Oh ya, Bang”. Agil menyapanya.
“Mari masuk Bang”. Sahut Agil. Lagi.
“Kapan madu-nya tiba, Bang?”. Tanya Agil. Lalu mempersilahkan Abang Salam duduk. Iya, Salam adalah nama tamu itu. Agil menyapanya dengan Abang Salam. Suatu bentuk sapaan hormat yang tertanam kuat dalam dirinya, yang telah diajarkan oleh masyarakatnya secara kultur dalam kehidupan sehari-hari. Ya, tanpa pendidikan formal. Mungkin budaya itu masih ada? Mungkin juga mulai luntur? Mungkin juga telah luntur seutuhnya? Ah, entahlah. Ia sudah lama alpa sekedar meyaksikan perubahan masyarakat yang begitu cepat.

Sementara Faris langsung menekan tombol pause. Walaupun film-nya belum selesai. Membuat dirinya makin penasaran dengan ending-nya. Ia lakukan itu karena merasa dirinya lebih muda dan tentunya untuk menyambut tamu. Apalagi tamu itu Abang se-Daerahnya. Walaupun tidak sedarah, tapi ikatan “darah daerah” membuat mereka cukup paham, bagaimana saling mengharagai ala Bima. “Obrolan” pun dimulai oleh Agil, walau tanpa menyuguhkan segelas air putih dan sepotong roti untuk tamunya, Abangnya. Oh ya, inikan Ramadhan! Bulan puasa. Bisiknya dalam hati.

Hampir setengah jam telah berlalu, sejak kedatangan Abang Salam. Membicarakan apa saja perihal Bima yang belum di ketahui, tentunya oleh Agil dan Faris. Dengan santai keduanya mendengarkan penjelasan Abang Salam, yang memang lebih banyak dan sering berbicara daripada keduanya. Saatnya Abang Salam membicarakan masalah “inti”. Wow, masalah inti? Sejenis apakah ia. Mungkinkah semacam seminar? Workshop? Meeting kabinet Negara? Tumpukan jenis pembicarakan formal-kaku muncul dan hilang di benak Agil. Mungkin juga Faris.

Menurut pengakuannya, Abang Salam sedang menjalankan bisnis. Bisnis Madu. Iya, air madu. Obat alami yang tak tertandingi oleh jenis herbal apapun. Herbal karya Tangan Tuhan. Sumber kabaikan dengan kemanfaatannya untuk mengobati penyakit manusia, telah di abadikan oleh Tuhan lewat karya-Nya (Al-Qur’an). Bahkan binatang yang “beradab” itu (lebah) telah dijadikan sebagai nama salah satu dari seratus empat belas surah dalam Qur’an. An-Nahl (lebah) nama surahnya. Jelas Bang Salam.

“Kalian tau?”. Tanya Bang Salam, sembari secara bergantian melihat wajah Agil dan Faris.
“Lebah itu menerima wahyu dari Tuhan, lho”.
“Cek aja dalam surah An-Nahl ayat 68-69 itu!”. Lanjutnya. Tanpa bermaksud menggurui apaladi mengkhutbahi kedua juniornya. Faris memperlihatkan wajah penasaran atas ucapan Bang Salam. Sedangkan Agil, terlihat biasa saja. Mungkin ia telah mengetahuinya. Atau mungkin ia tidak terlalu peduli? Mungkin?

Bagaimanapun juga. Agil dan Faris merasa mendapatkan penegtahuan baru, sore itu. Terlepas kekagumannya pada Abang Salam, yang telah membagi pengalaman berbisnis, juga pengetahuan tenatng Alam semesta. Ya, Alam yang kini sedang “diperkosa” oleh manusia-manusia jahil dan banal dengan mengeksploitasinya secara rakus dan kejam. Agil jadi teringat dengan mata kuliah “lingkungan” di kampusnya. Betapa pentingnya menjaga alam dan melestarikan sumber daya yang ada.

Abang Salam, lagi-lagi angkat suara. Dirinya tidak hanya berbisnis. Ucapnya. Selain berbisnis, ada banyak hal besar yang akan dicapai dari hal-hal kecil ini, sambil memegang botol berisi madu, untuk Daerah kita, Bima, Dana Mbojo. Ungkapnya. Sadar ataupun tidak orang akan tahu tentang Daerah kita dan kualitas hasil alamnya.

“Kita akan memperkenalkan Daerah!”.  Agil menyadari bahwa Bima belum ada apa-apanya, dibanding dengan beberapa Daerah yang sudah sangat tenar. Itu bukan alasan untuk tidak bangkit. Sahutnya dalam hati, melawan pikirannya sendiri.
“Dek, dengan madu ini kita akan kenalkan Bima”.
“Kita harus menyadari, kalau madu daerah kita cukup berkualitas”.
“Madu bisa saja sama. Tapi alam tempat  hidupnya lebah menentukan kualitas madu yang dihasilkan”. Jelas Abang Salam. Memperlihatkan penegetahuannya perihal madu. Kecukupan pengetahuannya perihal madu dan kelihaiannya dalam promosi sudah cukup menjadi senjatanya.

Saat ini, cukup mudah untuk mendapatkan sekedar madu. Tetapi yang sulit adalah mendapatkan madu asli. Bagi mereka yang rakus. Tidak sulit merusak keaslian dan kualitas madu dengan campuran apapun demi meraih keuntungan yang lebih. Masalah keaslian dan kualitas itu urusan belakang, yang penting bisa dapat fulus yang banyak dan cepat! Mungkin itu isi pikiran para pengikut Qorun yang hiudp di era penyembahan terhadap materialime saat ini.

“Munkgin inilah salah satu cara memperjunagkan daerah”. Agil angkat suara. Walau sedikit tak percaya dengan ucapannya.

“Bisa jadi benar!”. Jawab Abang Salam. Faris tertawa kecil memandagi Agil. Mungkin mengagumi Agil yang bicara tentang perjungan. Atau juga sebaliknya, mengejek!
“Berjuang itu banyak cara”. Kembali Bang Salam angkat suara.
“Terutama untuk daerah”.

Di era otonomi daerah ini. Dimana setiap Daerah memperlihatkan kebolehan masing-masing dalam hal kemajuan dan kekayaan Daerah.  Para putra-putri Daerah memiliki tanggungjawab untuk itu.  Bersaing menampilkan kelebihan masing-masing dalam mengelola dan menegmbangkan Daerah. Kompetisi! Siapapun bisa ikut bersaing, dengan cara dan jalur yang ditempuh menurut selera setiap orang. Mulai dari cara mulia sampai yang paling bejat sekalipun, tetap di tempuh.

Memperjuangkan Daerah merrupakan kewajiban sosial bagi putra-putri Daerah. Jalur yang ditempuh bisa saja berbeda. Dan tidak mungkin juga dipaksa untuk sama, itu menghambat pencapaian tujuan. Pengembangan pendidikan berorientasi kemanusiaan, bisa. Seni dan Kebudayaan, apalagi. Olahraga pun, ia. Bahkan, sampai jalur politik. Asal berbasiskan pada moralitas dan sikap kastria. Semua itu, merupakan sedikitnya jalan yang bisa ditempuh oleh putra-putri Daerah untuk mengembangkan Daerah. Memperjuangkannya.
“Dan saya dengan berbisnis madu ini pun, terselip perjuangan untuk daerah”. Ucap Bang Salam. Mengakhiri penejelasannya yang panjang-lebar. Dalam  hati, Faris berucap, “kayak sudah dua SKS dikelas aja”.

Hari semakin sore. Mereka masih asyik  membicarakan perihal Daerah, perjuangan dan jalan di tempuh. Ah, ternyata perjuangan dan strategi bukan monoton milik para aktivis yang kadang tak jelsa itu. Atas nama rakyat-lah. Atas nama keadilan-lah. Rakyat dan keaadilan yang mana dan untuk siapa? Sahut Agil dalam hati. Mempertentangkan kerancuan yang ia saksikan.
“Satu hal lagi”. Kata Bang Salam.

Dengan madu ini. Secara perlahan kita akan bisa mengurangi tingkat penebangan pohon secara liar dan rakus. Menghentikan tangan-tangan jahil yang menggunduli hutan.
“Emang bisa, Bang?”. Faris angkat suara. Penasaran.
“Caranya”. Lanjutnya. Tidak sabar.

Apabila madu kita, madu Bima, sudah cukup dikenal, tentunya dengan keaslian dan kualitas yang terjaga. Orang-orang akan semakin butuh dengan madu. Pastinya orang akan penasaran dengan Bima, Daerah Bima. Tidak menutup kemungkinan mereka yang penasaran akan berkunjung ke Bima dan membeli madu, salahsatunya. Dengan demikian, secara perlahan cara  pandang dan kebiasaan masyarakat akan berubah. Ya,  walaupun perlahan dan butuh waktu. Dari kebiasaan menebang pohon secara liar dan rakus beralih pada penanaman pohon dan aksi pelestarian alam serta penghuninya.

“Sulit menghentikan kebiasaan menebang pohon secara liar dan rakus, tanpa ada alternatif ekonomi masyarakat yang bisa di rasakan langsung oleh mereka”. Jelasnya.

“Ya, salah satu alternatifnya. Kita perkenalkan hasil alam kita pada orang lain, seperti madu ini salah satunya”. Lajut Bang Salam

Abang Salam melirik jam tagannya. Rupanya sebentar lagi waktu berbuka puasa segera tiba. Faris dan Agil mengajaknya buka puasa bersama di kos. Walau dengan makanan seadanya. Maklum anak kos, anak ranatauan lagi! Sahut Faris. Abang Salam terus-terang, kalau dirinya ada janjian dengan seseorang sore ini.

“Kalau begitu, Abang pamitan ya,..!”.
“Oke bang!”. Balas Faris.
“Makasih ya, Bang!”. Ucap Agil

Bang Salam keluar kamar kos. Memakai sepatunya. Lalu berjalan kearah motornya diluar, depan gerbang. Faris berdiri depan pintu, melihat Abang Salam yang berjalan sampai mengendarai motor. Sampai tak terlihat. Menyisakan Debu yang berhamburan terbang dijalan. Agil,  usai bersalaman dengan Bang Salam. Langsung menggapai bukunya. Sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba. Kemudian, Sunyi!.


Yogyakarta, (Asrama Bima/Kamar 111) 11 Juni 2016
Penulis : Agus Salim / Agus Mechi Angi
Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website