Headlines News :
Home » , » Jika Sakit Komsumsi Obat Kimia, Obat Herbal, atau Bantuan Dukun?

Jika Sakit Komsumsi Obat Kimia, Obat Herbal, atau Bantuan Dukun?

Written By Pewarta News on Kamis, 09 Juni 2016 | 10.46

Nurwahidah, A.Md.
PewartaNews.com – Kesehatan  adalah  hal yang paling utama  yang Allah SWT karuniakan kepada hamba-hambanya yang dikehendakinya.  Sebagaimana  Rasulullah  SAW bersabda yang artinya :  “Mintalah kesehatan kepada Allah SWT. Sebab tidaklah seorang hamba dikaruniai sesuatu yang lebih utama melebihi kesehatan.(HR. Imam Ahmad).

Setiap hari  pesien datang berobat di Rumah  Sakit, Puskesmas,   Klinik bahkan ada yang  ke dukun. Berbagai keluhan dan penyakit yang berbeda-beda. Tentu,   pasien yang terserang penyakit akan   depresi dan perasaan mulai gamang. Hanya ada 2 pilihan yang pertama sembuh dari penyakit dan yang kedua   dibalut dengan kain kafan. Tapi kita sebagai umat manusia tetap semangat dan berusaha berobat.

Firman Allah SWT dalam Al-Quran   surat  Asy-Syura  ayat 80, yang artinya:”Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkan.”

Ketika kita sakit, pasti segera minum obat,  dan kita akan mengangap sembuh jika gejala penyakit yang kita rasakan hilang,  tanpa terpikirkan oleh kita bagaimana efek negative yang bisa ditimbulkan oleh obat. Di sini akan dikupas  bagaimana  perbedaan obat  kimia, obat herbal  yang sering kita komsumsi atau minta pertolongan dukun.  Obat kimia adalah barang asing bagi tubuh kita dan kerena itu bisa bersifat racun. Contoh jika kita komsumsi  antibiotika, ketika masuk ke dalam tubuh antibiotika tidak hanya membunuh kuman yang diincar, tetapi juga mikroba bermanfaat. Akibatnya keseimbangan mikroba dalam usus terganggu, dan  alhasil tingkat kesehatan akan menurun.

Berikut ini  menurut  Tn. Hj. Ismail bin Ahmad. Pengobatan kimia  sintesis adalah sebagai berikut : (1) Berasal dari barat; (2) Menggunakan bahan kimia sintesis/anorganik; (3) Daya keterserapan 50%-70% (butirannta kasar); (4) Bersifat antibiotic  (racun atau membunuh bakteri); (5) Menurunkan imunitas tubuh; (6) Mengobati gejala penyakit; (7) Menimbulkan efek   samping; (8) Memiliki kesan lebih capat tetapi merusak; (9) Pengobatan Nasrani.

Sedangkan pengobatan herbal tidak hanya sekedar menggunakan herba( tanaman obat) tetapi membawa juga pendekatan  yang bersifat holostik. Tujuan pengobatan herbal adalah mengembalikan kehormonian atau keseimbangan tubuh. Penggunaan tumbuh-tumbuhan (herbal) sebagai bahan pengobatan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat. Menurut laporan organisasi kesehatan dunia atau WHO (Word Health Organization) sekitar 80 % penduduk dunia telah menggunakan bahan-bahan herba sebagai obat. Istilah herba dikaitka dengan tumbuh-tumbuhan   yang tidak berkayu  atau tanaman yang bersifat perdu. Misalnya mengkudu hutan yang mengandung morindin sebagai bahan anti kanker. Pegagan yang mengandung astiaticoside yang berguna untuk masalah  kulit dan meningkatkan kecerdasan atau IQ.

Berikut ini  menurut Tn. Hj. Ismail bin Ahmad. Pengobatan obat herbal adalah sebagai berikut: (1) Berasal dari timur; (2) Menggunakan bahan alamiah (organic); (3) Daya keterserapan 90% (butiran  lebih halus); (4) Bersifat prabiotik; (5) Meningkatkan imunitas tubuh; (6) Bersifat holistik/  mengot sumber penyakit; (7) Tidak menimbulkan efek samping yang ada DOC; (8) Memiliki kesan lambat tetapi konstruktif( membangun); (9) Pengobatan Thibbun Nabawai.

Bahkan ada pasien yang memiliki penyakit kronis menahun mencari jalan pintas, meminta bantuan   dukun. Menurut salah satu  desa  yang pernah  berobat ke dukun, alasannya adalah pembayaran tidak banyak dan segera sembuh. Ketimbang berobat ke instansi seperti Rumah Sakit, Puskesmas dan klinik harus mengeluarkan uang jutaan bahkan puluhan dan akhirnya berujung kematian. Alur berobat ke dukun pun sangat mudah, jika pesien datang pertama  bercerita  apa keluhannya lalu diberi  ramuan atau berbentuk air yan sudah diberi kekuatan goib. Selang beberapa hari jika penyakit  yang di dederita ada perubahan atau sembuh total. Pasien  ke rumah dukun membawa ayam hitam. Ayam hitam yang tak semudah didapatkan seperti   ayam kampong yang  berkeliaran sana-sini. Mencari ayam hitam sangat sulit harus mencari dari mulut  ke mulut.

Menurut Abu Nafi Islam melarang keras segala bentuk pengobatan yang mengandung unsur mistik, di antaranya : Pertama, Tabayul dan Bid’ah  dhalalah  yang dikaitkan dengan kekuatan gaib dan roh halus  atau bantuan jin, sehingga merusak akidah. Contphnya terapi yoga, buka aura, meditasi, reiki, ruqyah kajawen larung sesaji dan sebagainya yang mengerdilkan fitrah muslimin. Kedua, Syirik,  yakni melakukan  pelanggaran saat pengobatan berupa menyetukan Allah SWT. Dalam hal ini Rububiyah, Uluhiyah, serta nama dan sifat-NYA, antara lain mendatangi tabib dukun, orang sakti, tukang sihir, dan tukang ramal, meskipun  penampilan mereka seperti ahli ibadah. Ketiga, Khurafat, yaitu mengaikatkan pengobatan dengan hari-hari khusus yang keramat, kuburan yang keramat dan benda-benda keremat. Contohnya menggunakan bunga, jampi-jampi, keris pusaka, jimat petuah, mantra ajian, wifik, rajah, atau isim-isim dalam berobat, yang semuanya itu tidak ada dalilnya dalam islam.


Penulis: Nurwahidah, A.Md.
Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Email: nurwahidah854@yahoo.com

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website