Headlines News :
Home » » Malu dan Takut

Malu dan Takut

Written By Pewarta News on Sabtu, 04 Juni 2016 | 20.04

Agus Salim.
PewartaNews.com – Setelah sepekan ia sangat bahagia dengan hasil perjuangannya selama tiga tahun, bahagia dengan kelulusannya sebagai siswa kelas tiga pada salah SMA di daerahnya, Bima.

Alek, seorang siswa kelas tiga SMA. Baru sepekan lalu mendapatkan kabar gembira bersama teman-teman seangkatannya, kabar kelulusannya. Walaupun tidak bisa menjadi siswa yang mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya, ia tetap merasa bahagia dan bersyukur. Apalagi pada hari ini, kebahagiaan itu dilengkapi dengan dengan kabar yang lebih menggembirakannya. Bahwa Ina Sei[1] - Ibunya, meridhoi niat Alek-untuk melanjutkan studi ke kota pendidikan, Yogyakarta. Rencana yang telah dirancangnya tiga bulan lalu. Itupun setelah mendapatkan kabar dari Agil, abang satu kampungnya yang sedang menempuh studi di kota Budaya, Yogyakarta.

Sore, usai solat ashar keesokan harinya. Sarangge[2] depan rumahnya cukup ramai, tidak seperti hari sebelumnya. Selain ramai, sore itu sarangge di penuhi oleh para sepuh yang terkenal bijak di kampungnya, Ncera. Suasana dan pandangan baru yang membahagiakan itu bukanlan tanpa alasan. Angin adalah pembawa berita gembira akan datangnya hujan. Begitupun dengan kehadiran para sepuh yang memenuhi sarangge Ina Sei sore itu. Berita keberangkatan Alek-anaknya- telah di ketahui oleh orang-orang di kampungnya, termasuk para sepuh yang sedang duduk dalam satu sarangge dengan Alek sore itu. Masih kentalnya tradisi oral di kampungnya, membuat berita sangat cepat menyebar, tidak butuk brosur atau sekedar selebaran apalagi bener dalam ukuran besar untuk menyebarkan berita di kampungnya. Kabar apapun akan mengalir dari mulut ke mulut baik air dalam sungai. Walaupun kadang-kadang berita yang meyebar, membuat orang terpelajar seperti Alek “tertawa”-karena berita kematian semut akan berubah menjadi kabar kematian seekor gajah.

Bagi orang-orang di kampungnya. Merantau ke tanah yang jauh, apalagi untuk memperdalam ilmu pengetahuan adalah perjalanan yang hampir sakral. Selain seorang yang merantau harus mampu secara ekonomi, yang terpenting adalah harus diimbangi dengan niat yang tulus dan keykinan yang kuat untuk  mencapai tujuan. Serta harus dilandaskan pada kesadaran pengabdian kepada dana ro rasa[3] dan dou labo dana. Hal tersebut pun berlaku pada Alek, sebagai salah pemuda pangkuan harapan masyarakat dan bangsanya.

Suasana sore yang damai nan bersahaja, dirasakan oleh Alek. Kedamaian dan kesahajaan yang dilengakapi oleh para sepuh disekitarnya. Membuat hatinya terasa nyaman, terlebib lagi apa yang dibicarakan oleh sepuh-sepuh bijak itu, berisi tentang pentingnya ilmu dalam kehidupan suatu masyarakat.

“Ilmu itu ibarat obor dalam suatu ruangan luas nan gelap” kata pak Ahmad, salah satu sepuh di kampung itu.

“Tidak sembarang orang yang bisa mengambil obor itu untuk menerangi sudut-sudut yang tak terjangkau cahayanya, kecuali orang yang sadar. Orang yang sadar itulah yang berilmu itu”. Lanjutnya penuh kehalusan.

Kedamaian dan kebahagiaan menyertai suasana sore itu. Ditemani para sepuh bijak dengan petuah-petuah mereka yang mengandung pesan-pesan nilai kebajikan. Memebuat keyakinannya makin kuat dan kepribadiannya terbentuk. Enam hari lagi, Alek akan meninggalkan kampung dan Daerahnya. Katanya pada para sepuh dan sahabatnya- Arif-yang baru saja bergabung dan duduk bersama dalam satu sarangge dengannya. Dirinya akan melewati dua pulau dan menyebrangi tiga lautan untuk sampai pada kota miniatur Indonesia, Yogyakarta. Dua setengah atau hampir tiga hari waktu yang ia habiskan dalam perjalanan. Enam hari adalah waktu yang cukup lama, jika menunggu momen keberangkatannya. Enam hari juga bukanlah waktu yang lama, karena harus meningglakan Daerah, kampung, dan terutama Ibunya serta kebersamaannya dengan teman-teman dan orang-orang di kampung. Ia merasa dilema jika memikirkan tentang itu-enam hari lagi akan segera pergi dan harus meninggalkan orang-orang yang telah bersamanya selama ini. Tiba-tiba dilema itu hilang dan sirna, bagai debu diterpa badai, setelah ia menyimak pesan Guru Hima-sapaan untuk Pak Mahmud- Guru Ngaji di kampungnya.
“Menuntut ilmu itu penting nak.., walau harus meningglakna tanah kelahiran dan keluarga”.
“Jangankan yang masih muda”. katanya sambil memandang wajah Alek.
“Yang tau-pun sangat penting, jika memungkinkan”. Lanjutnya. Seakan menantang kesungguhan Alek.

Hari semakin sore, di ufuk barat - matahari hampir tak terlihat dan sebentar lagi akan bersembunyi dibalik gunung. Menyisahkan pantulan cahaya orange pada atap-atap langit dan kepulan awan sore. Mungkin sebentar lagi suara beduk di Mesjib besar akan terdengar-pertanda waktu magrib sudah tiba. Tapi, kini suara khas benda itu belun jua menggema.
“Nak, tiada uang dan emas yang mampu kami berikan kepadamu”. Kata Pak Karim-yang sering di sapa Guru Kero itu- usai menyirup kopi yang di suguhkan Ina Sei sedari awal tadi.
“Hanya ini, hanya ini yang bisa kami berikan, hanya ini bekal dari kami”[4].
Maja labo dahu[5]. Lanjut Guru Kero. Oh, adagim itu sering Alek dengar, tetapi ia belum terlalu paham dengan maksudnya. Apa pula makna yang terkandung dalam terma itu? Bisiknya dalam hati
“Rasa malu diiringi rasa takut yang muncul dari kesadaran hati yang terdalam”.
“Rasa malu diiringi rasa takut pada diri sendiri, pada masyarakat, dan pada Penciptamu. Jika melakukan perbuatan yang seleweng atau lari dari tanggung jawabmu sebagai manusia, masyarakat, dan hamba-Nya”. Lanjut Guru Kero, dengan nada yang ramah - makin menambah wibawa yang tampak di wajahnya - sembari menunjuk ke atas di akhir perkataannya.

Kini adagium yang cukup terkenal di kampung dan Daerahnya, telah ia pahami resapi dalam dirinya. Rupanya adagium itu mengandung pesan kebajikan yang cukup dalam nan luas. Kini adagium itu tak lagi menjadi misteri dalam diriku. Bisiknya dalam hati.
“tookk....tookk....tookk...., duumm....duumm....duumm”. Suara ketukan bambu yang diikuti suara dentuman beduk secara beriringan dan semakin cepat. Pertanda waktu magrib telah tiba. Alek meyalami setiap sepuh sembari mencim tiap punggung tangan mereka-bentuk hormatnya pada para sepuh.
“Allahuakbar Alla.....hu..Akbar”. Suara khas Guru Bila[6] menggema.


Catatan Kaki:
[1] Ina = ibu, Sei = sapaan hormat dan sapaan tanda rasa sayang dari nama Asiah.
[2] Sarangge adalah tempat duduk yang berbentuk persegi, terbuat dari bambu dan kayu. Biasanya di gunakan untuk - sekedar duduk mengisi waktu luang dan banyak juga yang menggunakannya untuk membahas masalah ilmu agama dan kehidupan sosialnya, terutama orang tua.
[3] Dana = tanah, ro = dan, rasa = bangsa. Artinya bangsa dan tanah air.
[4] Maksudnya merujuk pada petuah-petuah bijak yang di sampaikan sedari tadi.
[5] “maja labo dahu” adalah adagium yang hidup dalam masyarakat Bima. Secara harfiah ia berasal dari kata maja = malu, labo = dan, dahu = takut. Artinya, malu dan takut.
[6] Guru = Guru, Bila = Bilal (merujuk pada nama Bilal- sahabat Nabi yang pertama kali mengumandangkan azan).  Artinya tukang azan (mu’azin).



Yogyakarta, 20 Mei 2016
Karya: Agus Salim
Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website