Headlines News :
Home » , » Sweeping Buku: Antara Kapitalisme-Komunisme dan Kesaktian Pancasila

Sweeping Buku: Antara Kapitalisme-Komunisme dan Kesaktian Pancasila

Written By Pewarta News on Kamis, 09 Juni 2016 | 10.28

Ajaran yang dikandung Pancasila bahkan dipuji oleh seorang filsuf Inggris, Bertrand Russel, sebagai sitesis kreatif antara “Declaration of American Independence” (yang merepresentasikan ideologi kapitalis) dengan “Manifesto Komunis” (yang merepresentasikan ideologi komunis)”. (Yudi Latif, Negara Paripurna, 2011: 47)

Agus Salim.
PewartaNews.com – Kita sangat terkejut ketika media-media televisi tanah air menyiarkan berita tentang aksi “aneh” dan kurang beradab di atas Negeri yang merdeka, yang menghendaki rakyatnya hidup dengan kesadaran akan pengetahuan sebagai langkah awal dalam mencerdeskan kehidupan Bangsa. Aksi “aneh” dan kurang beradab tersebut adalah sweeping terhadap buku-buku yang mereka anggap –padahal sekedar anggapan– buku-buku “kiri”. Tahukan mereka apa itu kiri? – tepatnya buku-buku yang dikaitkan dengan paham komunis– komunisme. Aksi tersebut penulis katakan “aneh” karena dilakukan oleh aparat keamanan yang harusnya memberikan keamanan, tidak hanya aman secara fisik, melainkan juga aman secara psikis. Tindakan kurang beradab tersebut didasarkan pada alasan yang masih berupa anggapan, bahwa “gerakan komunis sudah mulai bangkit kembali” atau setidaknya langkah “antisipatif untuk mencegah kembali lahir dan menyebarnya komunisme”. Anggapan tersebut didasarkan pada munculnya simbol-simbol yang berkaitan dengan komunisme yang terjadi di beberapa Daerah. Bahkan, kemunculan simbol-simbol  komunisme tersebut hadir sampai pada tingkat Desa di kabupaten Bima.

Terangkatnya kedua fenomena (sweeping buku dan munculnya simbol komunis) tersebut membuat masyarakat –setidaknya kaum intelektual– patut mempertanyakannya. Siapa dalang (pemain dibelakang layar) dari fenomena tersebut? Benarkah komunisme telah lahir kembali sebagai ancaman? Setelah sekian puluh tahun hilang dari perhatian nasional dan bahkan dunia internasional. Jika benar komunisme telah lahir kembali sebagai ancaman bagi kehidupan Negeri ini. Maka dalangnya patut kita pertanyakan. Benarkah pelakunya orang-orang “komunis”?. Ataukan isu kemunculan “komunisme” sekedar bingkisan untuk pengalihan isu dari masalah negara yang lebih penting? Atau bisa saja pelakunya adalah musuh “bebuyutan” “komunisme”, kapitalisme? Mengenai komunisme, Negara Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologinya tidak pernah menolak komunisme secara total. Bahkan, seorang tokoh komunis internasional yang juga seorang nasionalis –seperti Tan Malaka– menggunakannya sebagai “alat” untuk mencapai kemerdekaan dan terbebas dari cengkaraman imperialisme dan kolonilaisme pada zamannya. Selain itu, lembaran sejarah benturan antar ideologi-ideologi besar dunia perlu kita buka kembali, mengingat Indonesia merupakan bagian daripada sejarah itu. Benturan antara Komunisme dan Kapitalisme merupakan dua ideologi yang pernah memecah belah dunia dalam blok-blok. Yaitu blok barat dengan kapitalisme-nya dan blok timur dengan komunisme-nya. Walau demikian, benturan tersebut berakhir dengan kemengan berada pada pihak kapitalisme dengan runtuhnya Uni Soviet.

Indonesia dengan “kesaktian” Pancasila sebagai ideologinya tidak berpihak pada salah satu blok dari kedua ideologi besar tersebut. Melainkan menyuarakan gerakan Non-blok, suatu sikap politik yang cukup cerdas. Secara singkat hal tersebut menjelaskan –atau setidaknya– memberikan sekilas gambaran bahwa komunisme tidak pernah menjadi ancaman bagi Indonesia, kecuali kalau Pancasila tidak lagi menjadi ideologi Negara Indonesia dan digantikan oleh Kapitalisme. Maka tidak mungkin tidak, bahwa komunisme pasti akan menjadai ancaman. Karena hanya kapitalisme yang memang harus menganggap komunisme sebagai ancaman, begitu pun komunisme menganggap kapitalisme sebagai lawah yang harus segera di kalahkan.

Jika Indonesia menganggap komunisme sebagai ancaman, maka tidak boleh tidak kapitalisme juga harus dianggap sebagai ancaman. Karena ideologi Negara tidak pernah cenderung pada salah satu dari keduanya, baik komunisme apalagi kapitalisme. Kecuali, pertama, para penyelenggara Negara tidak mengakui lagi kesaktian Pancasila atau kedua dengan sengaja tidak mengaktualkan nilai-nilai dikandungnya. Jikapun keduanya tidak termasuk, maka penyelenggara Negara sudah “melenceng” pada salah satunya, kapitalisme. Kemunculan aksi sweeping tersebut secara tidak langsung memperlihatkan kecenderungan para penyelenggara Negara pada salah satu ideologi tersebut, jika aksi tersebut bukan pengalihan isu dari sengketa yang terjadi di antara para penyelenggara Negara. Menyikapi fenomena yang muncul di permukaan –apalagi kemunculannya secara tiba-tiba dan tanpa ada kejelasan validitasnya– tidak harus membuat sebuah institusi besar seperti Negara mengalihkan perhatiannya dari masalah yang sangat mendesak untuk segera ditemukan solusinya dan diatasi, demi memperhatikan masalah yang sebenarnya tidak perlu menguras energi.

Pancasila sebagai sintesa kreatif dari para pendiri Bangsa –seperti yang dipuji oleh filsuf inggris, Bertnard Russel– tidak muncul dalam ruang hampa dan secara tiba-tiba. Kemunculannya didasarkan pada dialektika sejarah panjang kehiudupan Bangsa ini. Keluasan wawasan dan ketajaman analisa dari para konseptor dan pendiri Bangsa ini, menjadikan mereka mengambil langkah cerdas sekaligus kreatif dalam meletakkan Pancasila sebagai ideologi Negara dan pandangan hidup dalam ber-Bangsa dan ber-Negera. Untuk saat ini, belum ada ideologi yang tepat untuk bisa melebihi dan menggantikan keberadaan dan posisi Pancasila sebagai ideologi ber-Bangsa dan ber-Negara. Jika melihat realitas kehidupan Negara Indonesia yang multikultural sekaligus multi agama, sebagaimana saat ini. Sebagaimana telah disinggung, bahwa Pancasila memiliki akar historis yang cukup panjang. Bahkan, untuk saat ini bermuculan teori-teori yang secara tidak langsung membenarkan keberadaan Pancasila sebagai landasan untuk merasionalisasikannya untuk menjawab kebutuhan dan tatanagan zaman. Aktualisasi untuk menemukan relevansinya dengan kebutuhan saat ini adalah tanggung jawab generasi sekarang.

Pada akhirnya, penulis ingin mengatakan “bahwa tugas kita saat ini adalah mengaplikasikannya. Tentunya harus didasarkan pada pemahaman kita tentang sejarah lahirnya Bangsa ini. Hal tersebut sangat penting bagi kita, sebagai benteng untuk menghalau setiap ancaman yang ada. Memahami  sejarah sebagai guru adalah penting untuk menentukan pijakan saat ini. Selain memahami sejarahnya, kemampuan merasionalisasikan dan menemukan relevansinya untuk menjawab kebutuhan zaman, merupakan hal yang jauh lebih penting. Terkait dimensi Historis, teoritis (rasionaslitas), dan relevansi (aktualitas) dari Pancasila dengan sangat baik dilakukan oleh Dr. Yudi Latif dalam bukunya “Negara Paripuna : Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila”.


Penulis: Agus Salim
Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website