Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta akan Gelar Qurban Tahun 2016, Yuuk Mari Berdonasi..!

    Informasi Qurban PUSMAJA.
    PEWARTAnews.com – Yuuk Mari Berqurban bersama Keluarga Besar Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, Tahun 2016.

    Tema:
    "Dengan Semangat Berqurban, Melatih Diri Untuk Dermawan"

    Anjuran Untuk Berqurban dalam Al-Qur'an:
    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka ....... berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar ayat 1-2)

    Kirimkan Donasi Terbaik ANDA minimal Rp.100.000,-
    Ke Rekening dibawah ini:
    - Mandiri: 101-00-0557479-1. An. Yan Yan Supriatman
    - BNI      : 0420426189. An. Erni Yustissiani

    Donasi bisa berupa Uang, Kambing atau Sapi. Info lanjut/Konfirmasi bukti pengiriman donasi, bisa Tlp/WA di: 082298238340 (Yan)

    Daging Qurban akan disalurkan di Wilayah Baciro Yogyakarta (Asrama Bima-Yogyakarta) dan sekitarnya.

    Media PUSMAJA:
     Email: pusmajambojojogja@gmail.com
    Web: www.pusmajambojojogja.or.id
    Twitter: @PUSMAJAMbojo
    Instagram: @pusmajambojo


    Semangat Berqurban.
    Yogyakarta, 29 Agustus 2016
    Tertanda

    Bidang Kerohanian PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta

    Mengetahui,
    Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta

    NB:
    Silakan di Share di media FB/WA/Grup WA/Twitter dan sosial media lain yang anda punya. Barangkali ada yang mau berdonasi. Terimakasih.

    Kepemilikan Buku dan Bukti Kepantasan Para Pemikir

    Iskandar, S.Sos,
    PEWARTAnews.com – Ketika ingin dikenang maka menulislah. Bung Hatta, Pramudya dan para tokoh bangsa lainnya semua dikenang karena mereka menulis. Begitu berharganya sebuah tulisan sekelas  Bung Hatta menjadikan buku sebagai maharnya ketika dia menikah. Hal ini dilakukan  bukan karena alasan dia tidak memiliki uang, melainkan karena dia merasa buku adalah harga yang pantas dan terhingga bagi seorang pemikir. Buku bagi Bung Hatta adalah harta tertinggi dari setiap manusia. Tak tergantikan dan tak sepanding dengan tumpukan materi apapun. Setidaknya kita bisa buktikan betapa kecintaannya terhadap buku ketika dia meninggal, sekitar 10 ribu buku dia tinggalkan. Buku yang dia kumpulkan selama hidupnya. Dia benar2 hidup sebagai pemikir dan intelektual sejati. Jumlah buku menjadi simbol kecintaanya pada alam pemikiran. Tulisannya terdokumentasi dengan baik akan menjadi penghubung masa lalu dan masa depan manusia. Itulah keyakinannya.

    Bagi seorang penulis,  ketika tulisannya terus dibaca dan memberi manfaat bagi manusia lainnya. Maka sepanjang itu pula manusia itu akan hidup dalam aliran doa dan puja puji yang pantas. Bung Hatta dan penulis kenamaan dibangsa Ini menyadiri itu. Tapi ingat! Menulis adalah keperpihakan, pembelaan dan bicara tentang keadilan,  tampa poin ini maka tulisan itu tak layak untuk dibaca dan dihargai. Itulah semangat yang dipegang oleh para penulis kenamaan kita dimasa lalu,  sehingga dengan suka rela terus mengalirkan ide dan gagasan untuk di dokumentasikan. Serta jauh dari kesan hiruk pikuk materi. Seorang Pramudya adalah bukti dari itu, dan lahir dengan prinsip yang teguh dan memenuhi kepantasan.

    Buku menjadi cermin dari kecintaan manusia pada dunia kelak dimasa dia sudah tiada. Lewat buku pula manusia bisa merefleksikan gambaran kehidupan baik dimasa lalu hingga dimasa depan. Kepantasan bagi pencinta buku dan yang  membacanya sangat patut untuk dihargai. Buku ketika dimiliki dan dibaca bagaikan air yang terus mengalir dalam batas yang terhingga. Kini kecintaan dan kebanggaan atas kepemilikan buku yang dibaca seakan pudar oleh jaman, yang sadar atau tidak memaksa manusia untuk berfikir dengan pendekatan angka. Alam pikiran dan intelegensi seoalah dinilai dari penguasaan atas angka-angka yang sangat materialistik. Kalau saja di survei berapa buku yang dimiliki oleh setiap mahasiswa yang kuliah diseluruh perguruan tinggi mungkin hasilnya akan mencengangangkan. Saya kira para pembaca bisa berbagi tentang ini nantinya.

    Saya ingin kita menjadi manusia yang merendah, lalu mengaku saja, bahwa buku dan bacaan bukanlah barometer bagi sebagian calon intelektual yang menikmati masa-masa indahnya menjadi mahasiswa di setiap perguruan tinggi saat ini. Hal ini cukup sederhana untuk membuktikannnya. Cukup bertanya pada diri masing-masing berapakah buku yang kau beli dalam sebulan? berapakah buku yang kaubeli dalam setahun.? Berapakah buku yang kau punya selama kau menjadi mahasiswa.? Berapakah buku yang ingin kau kumpulkan dan kau baca sepanjang masa hidupmu.? Saya kira pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang sangat pantas bagi para intektual siapapun namannya dan apapun posisinya. Ketika pertanyaan ini belum terpikirkan apalagi untuk menjawab maka asumsi di atas sangatlah benar.

    Jumlah bacaan dan kepemilikkan buku adalah bagian dari jati diri seorang pemikir. Pantas tidaknya seseorang dinilai bisa diukur dari jumlah dan buku dan bacaannya. Sangatlah wajar ketika tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku pemikir tapi selama hidup dia hanya membuka lembaran awal dari setiap buku yang dia punya. Sebua ironi bagi kita saat ini ketika produksi buku kita kalah jauh dari tetangga kita dikawasan Asia Tenggara. Saya pada sudut pandang ini ingin mengatakan bahwa generasi terdidik hanya bisa lahir ketika mereka mau membaca dan memiliki buku. Buku dimasa lalu adalah simbol perlawanan, simbol kedikjayaan seorang manusia. Para pendiri bangsa setidaknya sudah meletakan dan membuktikan itu. Tapi kalau buku sudah menjadi asing dikalangan para pemikir, dibeli tapi tidak dibaca, dibuka tapi hanya lembaran awal. Maka pada titik ini kewibawaan dan keteladanan serta kepantasan para intelektual tinggallan menjadi mitos. Mempercayai penebar mitos adalah sebuah kejahilian di era modern.

    Buku takakan  pernah menjadi asing seperti saat ini ketika para generasi baru diberi tau dan kasih contoh bahwa membaca adalah simbol harga diri ketika ingin dihormati secara pantas. Kenyataan  ini bisa anda survei dan tanyakan pada setiap imam yang bertebaran disetiap kampus. Sehingga wajar ketika diskusi kewibawaan dan harga diri menjadi topik yang “seksi di era saat ini. Titik pangkalnya sederhana  terletak pada rendahnya jangkauan nalar atas setiap permasalahan yang dihadapi oleh para imam. Masalahnya karena mereka tidak membaca. Lalu tidak ditempa oleh jutaan pelajaran dari setiap bacaan. Berdiri tegak tapi menatap dengan tatapan kosong. Berbagi tapi tak memiliki “pengalaman” inilah yang disebut penebar ilusi.

    Sejatinya setiap pengalaman menjanjikan pelajaran, dari pelajaran orang akan memahami kepantasan. Melalui  “membaca” adalah cara terbaik untuk tau batas dan kepantasan. Tesis ini bisa menjadi alat untuk mengukur kedalaman sikap dan prilaku manusia. Kewibaan akan muncul dari kepantasan setiap manusia dalam menerjemahkan setiap permasalah yang dihadapinya. Kerendahan diri manusia juga akan muncul dari kumpulan pelajaran dan pengalaman yang dihadirikan dalam setiap “bacaan” manusia. Manusia yang beragama pasti akan mengakuai bahwa kedalamaan “bacaan” adalah bentuk yang nyata dari pengakuan atas ketidaktauan manusia atas luasnya hasil ciptaan sang pencipta.

    Cita-cita perlawanan atas setiap yang bernama “ketidakadilan” akan menjadi mitos ketika kepemilikan atas buku menjadi masalah pada setiap orang yang mengatas namakan dirinya pemikir ataupun cendekiawan. Ketika manusia-manusia tidak terpelajar muncul sebagai imam disetiap madrasah intelektual,  maka jangan harap akan lahir banyak perbaikan. Kenyataan itu setidaknya saat ini sudah nampak secara jelas, walaupun terkadang kita berpura-pura tak mengenalnnya. Kenapa demikian? Jawaban sederhanannya mereka yang berdiri sebagai imam tidak lahir dari jalan yang pantas. Melainkan muncul tiba-tiba atas dari kesepakatan “politik” dan sejenisnya. Tak ingin saya jelaskan kenapa proses itu tidak pantas atau pun tidak memenuhi kepantasan. Karena saya sangat yakin pembaca bisa menjelaskannya.

    Untuk mengembalikan kepantas para pemikir/intelektual/cendikiawan bisa dimulai dengan kemilikan buku yang pantas, dibaca, dtulis kembali, lalu ditebar benih pada setiap manusia yang beridiri mengelilingi kita. Lewat ini manusia akan uji kemampuannnya untuk melihat dan menjawab dari setiap bacaannya. Proses ini akan memantaskan manusia ketika dia didaulat jadi imam.
    #Otokritik.


    Penulis: Iskandar, S.Sos.
    Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Puisi: "Menulis Rindu"

    Nurwahidah, A.Md.
    Aku tak  pernah mengira
    Tuhan mempertemukan kita
    Agar kutetap bergelora, enggan pasrah dalam derita
    Kini Tuhan mengirim hadiah yang tak bisa kutukar dangan apa pun
    Kecuali  dengan pertemuan
    Ya, kasihku, kenangan dan rindu ini saling padu : di lampu merah itu
    Telah kulihat sosok yang menyerupai Nabi Yusuf
    Sungguh tak bisa kulukis sempurna dalam huruf

    Usai pertemuan itu, aku dihantui bayang-bayangmu
    Dan rindu membeku di hati
    Hanya mungkin cair jika kita suatu waktu
    Rindu ini membawaku pada harapan tuk sampai pada inti perasaan
    Rindu ini, kasih, akhirnya  kuhimpun dalam sajak
    Yang kapan sajak bisa kau simak


    Bulukumba, Juli 2016
    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Posisi Status Tersangka di Lihat dari Yuridis dalam Perspektif Hukum Pidana

    M. Jamil, S.H.
    Bukan rumusan undang-undangnya yang menjamin pelaksanaan hukum acara pidana, tetapi hukum acara pidana yang jelek sekali pun dapat menjadi baik jika pelaksananya ditangani oleh aparat penegak hukum yang baik.” Taverne


    PewartaNews.com – Dalam benak orang awam akan hukum, bila dipertemukan dengan istilah status tersangka maka pertanyaan awal yang akan muncul dalam benaknya adalah, apa sih yang orang maksud dengan tersangka? Agar sedikit lebih terang alangkah baiknya penulis yang mengulas sekilas tentang arti tersangka.

    Dalam rumuan Pasal 1 angka 14 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, selanjutnya penulis sebut KUHAP, kita dapat temukan bahwa “tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana”. Mengenai pengertian yang serupa tentang tersangka juga dapat kita jumpai dalam rumusan Pasal 1 angka 10 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana (Perkapolri Nomor 14 Tahun 2012).

    Seseorang bisa ditetapkan sebagai tersangka apabila Penyidik telah mengantongi bukti permulaan. Perihal bukti permulaan dapat kita jumpai pada Pasal 1 angka 21 Perkapolri Nomor 14 Tahun 2012. Pada pasal tersebut di gambarkan bahwasannya bukti permulaan adalah alat bukti berupa Laporan Polisi dan 1 (satu) alat bukti yang sah, yang digunakan untuk menduga bahwa seseorang telah melakukan tindak pidana sebagai dasar untuk dapat dilakukan penangkapan.

    Setelah kita membaca sekilas tulisan diatas, penulis akan coba menjelaskan sekilas tentang apa saja yang termasuk sebagai alat bukti yang syah. Pada Pasal 184 Ayat (1) KUHAP dapat kita jumpai apasaja yang termasuk sebagai alat bukti yang syah, diantanya; keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

    Sekilas Uraian tentang Alat Bukti yang Syah
    Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia Iihat sendiri dan ia alami sendiri (Pasal 1 Ayat 26 KUHAP).

    Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, Ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dan pengetahuannya itu (Pasal 1 Ayat 27 KUHAP). Keterangan saksi yang dapat dijadikan salahsatu pertimbangan hakim adalah keterangan saksi yang didengarkan pada saat persidangan, yang mana sebelum memberikan keterangan diwajibkan terlebih dahulu memberikan sumpah menurut agama dan kepercayaan yang dianutnya. Dalam Pasal 185 Ayat 7 KUHAP juga menyatakan “Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain tidak merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain”.

    Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan (Pasal 1 Ayat 28 KUHAP). Keterangan ahli yang dimaksud disini ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan, seperti yang jelaskan dalam Pasal 186 KUHAP.

    Pada Pasal 187 menguraikan perihal surat sebagai alat bukti yang syah. Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: Pertama, berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu; Kedua, surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan; Ketiga, Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dan padanya; Keempat, Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

    Pasal 188 KUHAP menguraikan perihal petunjuk sebagai alat bukti yang syah.  Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Petunjuk sebagaimana dimaksud ini hanya dapat diperoleh dari ; keterangan saksi; surat; dan keterangan terdakwa. Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.

    Perihal keterangan sebagai alat bukti yang syah kita dapat jumpai pada Pasal 189. Pasal ini menguraikan bahwasannya Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya. Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertal dengan alat bukti yang lain.

    Sebenarnya kalau dilihat dari tema yang diangkat dalam tulisan ini terkait status tersangka, maka “sekilas uraian tentang alat bukti yang syah” yang dijelaskan di atas tidak begitu penting, tetapi untuk tambahan penjelasan tidaklah menjadi suatu permasalahan, melainkan sebagai pelengkap semata.

    Dalam prakteknya, kita sering temukan seseorang yang dilaporkan dalam suatu kasus, dapat seketika dalam beberapa hari saja bisa di tetapkan sebagai tersangka, dan kadangkala dalam kasus berbeda ada juga kasus yang dilaporkan berlarut-larur tanpa ada kejelasan selanjutnya.

    Setelah seseorang ditetapkan sebagai tersangka, pertanyaan yang sering muncur yakni berapa lama si seseorang ditetapkan sebagai tersangka? Sejauh penulis mengotak-atik seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku, saya tidak menemukan jawaban itu, karena itu semua memang tidak ada tenggang waktu yang pasti. Karena mengenai berapa lama seseorang menjadi tersangka, ini bergantung dari berapa lama proses penyidikan yang dilakukan penyidik. Karena selama proses penyidikan tersebut berlangsung, orang tersebut masih berstatus sebagai tersangka. Dan apabila penyidikan telah selesai dan berkas perkara tersebut telah disidangkan di pengadilan, maka status orang tersebut berubah meningkat menjadi terdakwa. Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan (Pasal 1 angka 15 KUHAP).

    Sebenarnya penegak hukum tidak boleh menafsirkan kata-kata yang tertuang dalam aturan perundang-undangan yang berlaku bilamana aturan tersebut telah menjelaskannya dengan tegas. Itu juga sejalan dengan penyusunan rumusan Pasal 1342 KUH Perdata yang menyebutkan “jika kata-kata mempunyai arti yang jelas maka tidak boleh ditafsirkan”. Akan bermakna lain lagi bila mana aturan yang tertuang dalam undang-undang itu belum diatus secara jelas dalam peraturan perundang-undangan (aturan masih samar-samar). Bila mana aturat masih samar-samar dan tidak ada yang tertuang dalam undang-undang, maka itu fungsi lain dari penegak hukum (hakim) yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan melakukan terobosan baru, yang dikenal luas dalam istilah kerennya yaitu penemuan hukum.

    Melirik dari kasus yang masih hangat sampai akhir-akhir ini yakni Permohonan praperadilan Komjen Pol Budi Gunawan atas penetapan tersangka yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah dilakukan praperadilan, eksesnya permohonan tersebut dikabulkan sebagiannya oleh Hakim Sarpin Rizaldi. Salah satu amarnya yakni, “Menyatakan tidak sah segala keputusan atau penetapan lebih lanjut yang dikeluarkan oleh Termohon yang berkaitan dengan penetapan Tersangka oleh Termohon”.

    Salahsatu rujukan jurisprudensi yang pakai tim kuasa Komjen Pol Budi Gunawan yakni pada Putusan PN Jakarta Selatan pada November 2012 yang mengabulkan permohonan praperadilan tersangka kasus korupsi bioremediasi, Bachtihar Abdul Fatah. Hakil Suko Harsono yang memeriksa kasus tersebut menyatakan penerapan tersangka tidak sah, tetapi menolak mengabulkan permintaan pemohon agar penyidikan dihentikan. Putusan ini berbuntut panjang. Dinilai melanggar kode etik, Suko Harsono dilaporkan ke Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA). Kejaksaan mengetahui sang hakim akhirnya dijatuhi sangsi. Kalau melirik pemberitaan di media tentang salahsatu jurisprudensi ini, jelas-jelas cacat, karena pada akhirnya sang hakim dijatuhi sanksi atas putusannya.

    Pada kasus tersebut, hakim Sarpin Rizaldi terkesan memperluas cakupan Praperadilan disatu sisi, tetapi mempersempit makna penyelenggara negara dan penegak hukum di sisi lain.

    Sah atau tidaknya penetapan tersangka, berdasarkan hukum yang berlaku saat ini di Indonesia, bukanlah merupakan objek praperadilan. Jelas aturannya dapat kita temukan rumusannya pada Pasal 77 KUHAP, yang berbunyi:
    “Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini tentang: a. Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; b. Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan”

    Bila melirik dari rumusan yang digambarkan pada pasal 77 diatas jelas-jelas tidak menggambarkan salahsatu point cakupannya terkait sah atau tidaknya penetapan tersangka. Apakah ini suatu pelencengan penerapan hukum ataukah suatu penemuan hukum?

    Terkait persoalan ini, banyak ahli hukum yang yang mempertentangkannya. Ada yang menyayangkan penerapannya, dan disisi lain ada juga yang mendukungnya. Tetapi menurut penulis, melirik sistim hukum yang dianut oleh hukum Indonesia saat ini, bahwasannya Hakim harus mengadili berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Ekses dari kasus Budi Gunawan memunculkan Sarpin Effect. Sarpin Rinaldi adalah hakim yang menangani praperadilan Budi Gunawan yang menyatakan penetapan tersangka bisa jadi objek praperadila.

    Efek dari putusan yang ditetapkan hakim Sarpin Rinaldi ini, maka timbul juga keinginan yang dilakukan oleh tersangka-tersangka lain. Beberapa kasus diantaranya, Suryadharma Ali (SDA) yang tersandung kasus dugaan korupsi penyelenggaraan haji di Kementerian Agama tahun 2012-2013 mendaftarkan praperadilan kasusnya melalui kuasa hukumnya Humphrey Djemat. SDA ditetapkan sebagai tersangka karena melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 UU Tindak Pidana Korupsi. Pengajuan permohonan praperadilan itu dilakukan pada hari Senin, 23 Februari 2015. Kuasa hukum SDA menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan SDA sebagai tersangka tanpa mempunyai bukti permulaan yang cukup dan dilakukan secara melawan hukum, karena penetapan tersebut dilakukan pada saat dimulainya suatu rangkaian penyelidikan. Selain SDA ada juga di Banyumas, seorang pedagang sapi yang dijadikan tersangka oleh Polisi menempuh upaya hukum serupa, yakni upaya Praperadilan.

    Kasus BG Bisa di PK?
    Surat penghentian penuntutan bisa ajukan banding ke pengadilan tinggi seperti di atur dalam pasal 83 ayat (2) KUHAP. Pasal 83 ayat (2) KUHAP ini menjelaskan “Dikecualikan dan ketentuan ayat (1) adalah putusan praperadilan yang menetapkan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan yang untuk itu dapat dimintakan putusan akhir ke pengadilan tinggi dalam daerah hukum yang bersangkutan.” Namun sayang pasal 82 ayat (2) ini sudah dihapus oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Satu-satunya upaya hukum atas putusan praperadilan BG yang menyatakan penetapan status tersangka BG oleh KPK adalah peninjauan kembali (PK). Dengan syarat adanya penyelundupan Hukum sesuai SEMA Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar MA Tahun 2013 Sebagai Pedoman Pelakana Tugas Bagi Pengadilan. Juru bicara MA Suhadi mengatakan bahwasannya penyelunduan hukum ini diartikan jika dalam penjatuhan putusan praperadilan ada faktor-faktor tertentu di luar teknik praperadilan.

    Akan menjadi persoalan baru lagi kalau nanti KPK jadi melakukan peninjauan kembali, karena secara normatif upaya hukum PK merupakan hak terpidana atau ahli warisnya ketika putusan sudah berkekuatan hukum tetap. Itu semua sesuai apa yang telah diatur dengan jelas pada Pasal 26 ayat (1) KUHAP berbunyi “terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung”.

    Bila melirik Pasal 26 ayat (1) KUHAP diatas, akan bermakna apa dan bagaimana biarlah hakim yang akan menafsirkannya, karena pada prakteknya ada juga kasus-kasus tertentu yang bisa di PK-kan, namun tidak akan penulis jelaskan lebih rinci di sini. Bahkan menurut putusan MK mengatakan PK bisa berkali-kali asalkan substansi yang menjadi unsur diadakan PK itu terpenuhi.

    Komentar tentang Perluasan Praperadilan
    Terkait perluasan makna praperadilan, melirik sistim hukum yang dianut oleh hukum Indonesia saat ini, bahwasannya Hakim harus mengadili berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Sebenarnya sangat baik memperluas makna praperadilan itu, karena dalam praktek banyak juga kasus-kasus penetapan tersangka tidak sesuai dengan aturan-perundang-undangan yang berlaku serta pelencengan-pelencengan kewenangan lainnya yang dilakukan aparat penegak hukum. Kalau pun rumusan memperluas makna praperadilan itu ingin di wujudkan, maka jalan satu-satunya adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) secepatnya mensyahkan Rancangan Undang-undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) yang telah masuk di Prolegnas 2014-2019, dan tentunya menampung semua persoalan-persoalan selama ini yang belum terserap oleh KUHAP salahsatunya persoalan perluasan makna praperadilan ini.

    Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengungkapkan seperti yang diucapkan oleh Taverne “bukan rumusan undang-undangnya yang menjamin pelaksanaan hukum acara pidana, tetapi hukum acara pidana yang jelek sekali pun dapat menjadi baik jika pelaksananya ditangani oleh aparat penegak hukum yang baik.” Tegakkan hukum (keadilan), walau langit runtuh (fiat justitia ruat coelum), seperti ungkapan kalimat yang diucapkan oleh Lucius Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM).


    Catatan:
    Tulisan ini pernah disampaikan dalam diskusi pada Hari Jumat, 06 Maret 2015 di Fakultas Hukum Universitas Janabadra (FH UJB) Yogyakarta.


    Penulis: M. Jamil, S.H.
    Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2016-2017. Eks Ketua II Bagian Eksternal Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2012-2014. Senior Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Puisi: "Di Hatiku, Luka Kau Toreh"

    Nurwahidah, A.Md.
    Di bawah rembulam tak kulihat setitik cahaya di kota ini
    Hanya kunang-kunang bertebaran di udara lengang
    Sudah tujuh kilometer jalanan kota kutempuh
    Langkahku melambat karena luka di hati mendera

    Aku memilih pergi agar  tak ada kebencian di antara kita
    Agama moyangmu melarang dendam dipelihara
    Meski kau tahu betapa amarah mengisi reruang dada

    Selalu teringat hari ketika jumpa
    Aku dibuai ombak rayumu dulu
    Mungkin kau tak ada bedanya
    Dengan politisi yang menjual diri demi sebuah kursi


    Yogyakarta, Maret 2015
    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Puisi: "Di Lorong Sunyi Batinku"

    Nurwahidah, A.Md.
    Di Lorong Sunyi Batinku, aku berdiri tegak menatap cakrawala
    Kupanggil namamu lelakiku. Apakah kau tak mendegarku?
    Malam berkeluh kesah. Angin berhembus pongah
    Menampar kulitku, memeluk jiwaku yang payah
    Aku merindukan aromamu, merengkuh tubuhmu
    Lalu mendengar degup jantungmu

    Kupanggil  namamu di lorong sunyi batinku
    Aku berdiri resah di runcing duri kerinduan
    Suaraku hampir habis berteriak, persis penjual ikan di Pasar Cekkeng
    Tapi jarak  sesak dan hanya mampu berhayal
    Lalu melukismu di dalam sajak
    Sebab kau telah meminang selainku, wanita yang buat hatimu trenyuh
    Biarkan aku mampus dikoyak-koyak sunyi dan rasa cemburu


    Bulukumba, 22 Juni 2016
    Penulis: Nurwahidah, A.Md.
    Alumni AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Dapat hubungi via email: nurwahidah854@yahoo.com.

    Memimpin adalah Menderita

    Yudi Latif.
    Bencana banjir yang melanda Jakarta dan kota-kota lain di Tanah Air mestinya menyadarkan para pemimpin bangsa, betapa rapuh perlindungan keamanan bangsa ini dengan potensi ancaman dari berbagai sumber.

    Sebagian besar akar masalah dari keriskanan ini justru bermula dari mentalitas penyelenggara negara yang lebih mengutamakan kepentingan dirinya daripada melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dalam mentalitas pemimpin yang lebih mencintai kekuasaan ketimbang kesukaan untuk mencintai, pemimpin berpesta pora di tengah penderitaan rakyatnya.

    Bagi para pemimpin sejati, hujan yang membawa banjir air mata kali ini mengingatkan pentingnya kredo Agus Salim, “leiden is lijden” (memimpin adalah menderita). Dengan kredo tersebut, segera terbayang penderitaan Jenderal Soedirman, yang memimpin perang gerilya di atas tandu. Setabah gembala ia pun berpesan, “Jangan biarkan rakyat menderita, biarlah kita (prajurit, pemimpin) yang menderita.”

    Zaman sudah terjungkir. Suara-suara kearifan seperti itu terasa asing untuk cuaca sekarang. Kredo pemimpin hari ini, “memimpin adalah menikmati.” Menjadi pemimpin berarti berpesta di atas penderitaan rakyat. Demokrasi Indonesia seperti baju yang dipakai terbalik: mendahulukan kepentingan lapis tipis oligarki penguasa-pemodal, ketimbang kepentingan rakyat kebanyakan (demos).

    Banyak orang berkuasa dengan mental jelata; mereka tak kuasa melayani, hanya bisa dilayani. Bagi pemimpin bermental jelata, dahulukan usaha menaikkan gaji dan tunjangan pejabat berlipat-lipat; bangun gedung dan ruangan mewah agar wakil rakyat tak berpeluh-kesah; transaksikan alokasi anggaran untuk memperkaya penyelenggara negara dan partai; pertontonkan kemewahan sebagai ukuran kesuksesan; utamakan manipulasi pencitraan, bukan mengelola kenyataan.

    Cukup rakyat saja yang menanggung beban derita. Biarkan rakyat Lebak Banten tetap hidup mengenaskan seperti zaman Multatuli, terus meniti jembatan gantung Ciwaru yang reyot menantang maut. Biarkan jutaan harapan hidup terampas oleh perangkap narkoba yang kian menggurita.

    Biarkan petani tergusur dan terbunuh oleh keculasan aparatur negara, seperti kebiadaban pangreh praja yang menyerahkan tanah dan rakyatnya kepada tuan-tuan perkembunan kolonial di zaman tanam paksa. Biarkan petani, nelayan, perajin terus merugi: menjual murah sebagai produsen dan membeli mahal sebagai konsumen.

    Biarkan rakyat di sekitar pertambangan mengalami kerusakan ekologis, kehilangan penghidupan, dan kelumpuhan sosial-budaya. Biarkan kekerasan agama berlangsung dengan menolerir segolongan pemeluk agama menikam kebebasan berkeyakinan kelompok lain asal tidak mengganggu kekuasaan.

    Seperti suasana kehidupan nusantara pascaperang Jawa, kelas penguasa tersedot pusaran kolonialisme-kapitalisme, membiarkan rakyat hidup tanpa kepemimpinan. Rakyat yang menderita tanpa gembala menanti juru selamat. Maka, ketika Sarekat Islam muncul dengan pembelaannya terhadap kaum tani dan buruh yang terempas dan terputus, pemimpin utamanya seperti Tjokroaminoto sontak disambut sebagai ratu adil.

    Sekarang, dari manakah sumber kepemimpinan itu bisa diharapkan? Partai-partai politik yang berkembang bukanlah solusi melainkan sumber masalah. Bung Karno berkata, “Sebuah partai harus dipimpin oleh ide, menghikmati ide, memikul ide, dan membumikan ide.” Adapun partai-partai hari ini dipimpin oleh uang, menghikmati uang, memikul uang, dan membumikan uang.

    Tak ada partai yang sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi kolektif kewargaan demi kemasalahatan hidup bersama. Partai-partai gagal melahirkan kepemimpinan yang dapat mengemban amanat hati nurari rakyat. Hubungan politik digantikan oleh hubungan konsumtif. Politik mengalami proses konsumerisasi dan privatisasi.

    Dengan konsumerisasi, branding recognition lewat manipulasi pencitraan menggantikan kualitas dan jati diri. Dengan privatisasi, modal menginvasi demokrasi dengan menempatkan aku dan kami di atas kita yang menimbulkan penolakan atas segala yang civic dan publik.

    Kepentingan oligarki penguasa-pemodal nyaris selalu dimenangkan ketika nilai kebajikan sipil dan ideal kewargaan tak memiliki sarana yang efektif untuk mengekspresikan diri. Ketika politik terputus dari aspirasi kewargaan, pemimpin tercerabut dari suasana kebatinan rakyatnya. Pemimpin asyik meluncurkan album nyanyian keberhasilan, sementara rakyat kebanyakan meratapi penderitaan.

    Mereka lupa, tak ada kemajuan bangsa tanpa pengorbanan kepemimpinan. Dari keterpurukan ekonomi Amerika Serikat, begawan ekonomi Jeffrey Sachs menulis buku The Price of Civilization (2011). Ia mengingatkan bangsa-bangsa lain agar tidak meniru jalan sesat yang membawa kemunduran AS.
    Menurutnya, pada akar tunjang krisis ekonomi AS saat ini terdapat krisis moral: pudarnya kebajikan sipil di kalangan elit politik dan ekonomi. Suatu masyarakat pasar, hukum, dan pemilu tidaklah memadai bila orang-orang kaya dan berkuasa gagal bertindak dengan penuh hormat, kejujuran, dan belas-kasih terhadap sisa masyarakat lainnya dan terhadap warga dunia. “Tanpa memulihkan etos tanggung jawab sosial, tidak akan pernah ada pemulihan ekonomi yang berarti dan berkelanjutan.”

    Bagi para pemimpin Indonesia, yang menjadi epigon setia fashion Amerika, kesimpulan Sachs itu bisa menjadi dering pengingat, tak ada kemajuan tanpa jangkar moral. Pilihan-pilihan kebijakan politik dan ekonomi harus dijejakkan pada kesanggupan para pemimpin mengorbankan kepentingan egosentrismenya, demi memuliakan nilai-nilai moral kenegaraan, yang menekankan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.


    Penulis: Yudi Latif


    Sumber: republika

    Ini Dia Cara Mudah Memahami Tax Amnesty

    Tax Amnesty. (Foto: lembagapajak.com.)
    PEWARTAnews.com – Amnesti pajak (tax amnesty) merupakan program pengampunan pajak yang diberikan oleh Pemerintah kepada Wajib Pajak. Pengampunan pajak yang dimaksud meliputi penghapusan pajak yang seharusnya terutang, penghapusan sanksi administrasi perpajakan, serta penghapusan sanksi pidana di bidang perpajakan atas harta yang diperoleh pada tahun 2015 dan sebelumnya yang belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), dengan cara melunasi seluruh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan.

    Dibawah ini kami sajikan cara mudah memahami tax amnesty sebagaimana ditulis kabarpajak.com pada bulan Agustus 2016, seperti yang ditulis dibawah ini.

    (1) Budi punya celengan di rumah. Tapi Mamanya selalu cek celengan Budi setiap kali ia memecahkan/membuka celengannya.

    (2) Amir juga punya celengan di rumahnya sendiri tapi tidak pernah dicek Mamanya. Maka Budi menitipkan celengan di rumah Amir.

    (3) Mendengar celengan Amir tidak pernah dicek Mamanya, teman Amir dan Budi semua menitipkan celengannya di rumah Amir. Inilah yang disebut denfan “OFFSHORE INVESTMENT”.

    (4) Suatu hari Mama Amir memeriksa kamar Amir dan mendapati banyak celengan. Ini namanya "ACCIDENTAL AUDIT".

    (5) Celengan itu lengkap dengan tulisan nama masing-masing pemiliknya (nama kawan-kawan Amir yang menitipkan celengan). Ini namanya "PANAMA PAPER".

    (6) Mama Amir mengontak semua mama dari anak-anak yang titip celengan di rumahnya.

    (7) Ternyata Budi menitipkan celengan di sana karena Mamanya memaksa untuk memberi sumbangan setiap Budi memecahkan celengan. Ini yang disebut “TAX/PAJAK”.

    (8) Lain lagi si Polan, ia mengisi celengan untuk menyamarkan uang dari hasil memalak teman-temannya. Inilah “MONEY LAUNDERING”.

    (9) Sedangkan Badu mengisi celengan dari hasil berjualan es lilin di sekolah tanpa seijin ortu, agar fokus pada sekolah. Ini semacam “ILLEGAL BUSINESS”.

    (10) Ketika mama Budi tahu kalau anaknya titip celengan di tempat Amir, mama Budi bilang:
    “Nak, simpan aja celenganmu di rumah, Mama tdk usil lagi atau tdk akan cek lagi celenganmu". Inilah yang disebut “TAX AMNESTY”. [MJ / PEWARTAnews]

    Jadi Mahasiswa, Pintar Saja Gak Cukup

    Nawassyarif, S.Kom.
    PEWARTAnews.com – Pintar memang menjadi salah satu faktor bagi seseorang untuk mendapatkan kesuksesan. Namun pintar saja tidak cukup, ada berbagai faktor lain yang juga berpengaruh bagi kesuksesan seseorang, termasuk kesuksesan dalam menjalani studi di dunia kampus maupun ketika mereka bekerja.

    Dunia kampus memang menjadi wahana ujian dan penempaan sesungguhnya untuk mendapat sukses yang lebih besar. Mengingat di dunia kampus, selain nilai akademis yang bagus, mahasiswa juga dituntut untuk memiliki kecakapan dalam segala hal.

    Ketika kamu pulang ke kampung halaman atau terjun di masyarakat tidak heran lagi ada seorang yang bertanya tentang bidang yang berbeda dengan keahlianmu. Misalkan kamu adalah mahasiswa teknik mesin, tiba-tiba ditanya tentang permasalahan umum yang sering terjadi di masyarakat. Kenapa harga bawang naik? Kenapa terjadi banjir? Kenapa jalan ke kota macet? dan pertanyaan-pertanyaan lain sejenisnya. Mahasiswa yang berwawasan luas tentu saja akan menjelaskan. Kadang masyarakat terutama orang-orang tua tidak mau tahu apa pun jurusan yang diambil oleh saudara. Mereka hanya tau bahwa saudara adalah mahasiswa (punya kemampuan yang jauh lebih segalanya dari pada siswa, namanya juga maha).

    Berikut beberapa alasan mengapa pintar saja tidak cukup untuk dapat bersinar di dunia kampus.
    Sistem Belajar dan Mengajar di Kampus berbeda dengan sekolah. Jangan sekali-kali membawa kebiasaan di sekolah ke dalam kampus, karena keduanya memiliki sistem belajar mengajar yang berbeda. Di kampus, dosen hanya menjadi manajer kelas, penekanannya bukan lagi menjadi sumber utama pengetahuan, skill, maupun sikap. Tugas dosen hanya membekali mahasiswa dengan buku rujukan, dan sedikit obrolan atau presentasi dan mahasiswa dituntut aktif sendiri untuk mencari pengetahuan, skill dan sikap tauladan dari berbagai sumber. Apalagi kebanyakan kampus saat ini memberi mata kuliah dengan cara diskusi, bukan lagi dengan belajar satu arah.

    Sistem Assesment (Penilaian) di Perguruan Tinggi Berbeda, Tidak ada istilah tertinggal kelas di dalam dunia kampus, karena penilaian akademik menggunakan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Hal inilah yang menuntut seorang mahasiswa agar lebih cerdas mengelola dan mengatur tata nilai dan keberhasilan studi bagi dirinya sendiri. Bobot SKS yang berantakan akan menyulitkan mahasiswa untuk lulus tepat waktu. Untuk lulus strata satu, seorang mahasiswa harus menyelesaikan paling tidak 144 bobot SKS.

    Mahasiswa Dituntut Aktif Ada Pandangan mengatakan, kelas di kampus hanya mentransfer 5 persen pengetahuan skill dan sikap, 95 persen lainnya didapat justru di luar kelas. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, oleh karenanya seorang mahasiswa tidak hanya dituntut pintar, tetapi juga memiliki kepribadian dan aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa (ormawa), seperti teater, club bahasa internasional, kewirausahaan, riset, kelas fotografi, BEM, buka usaha mandiri atau Lembaga Dakwah Kampus untuk melatih kemampun komunikasi, berbahasa asing, Problem solving (menyelesaikan masalah), kreatif, inovatif, peka terhadap lingkungan, bekerja secara terorganisir, saling kaloborasi, saling menghargai dan menghormati dan lainnya. Jadi mahasiswa tanpa aktif di ormawa sama halnya dengan membuat sayur tanpa garam. Contohnya Sosok Choirul Tanjung yang menjadi pengusaha sukses padahal dulu kuliah dibidang Fakultas Kedokteran Gigi, Aburizal Bakrie juga seperti itu bahkan menjadi menteri koordinator perekonomian dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat padahal beliau ambil jurusan teknik elektro dan ada yang sukses didunia seni padahal ambil jurusan ilmu sosial dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

    Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Pembangun Bangsa dan perubahasan kondisi sosial masyarakat bahkan tatanan dunia secara global tak hanya aktif di dalam kampus, seorang mahasiswa juga perlu aktif di luar lingkungan kampus dengan ikut aktif dalam organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau organisasi luar kampus sejenis dan tidak melenceng dari UUD. Pengalaman di luar kampus tentu akan memberikan pengatahuan yang lebih besar, skill, kepribadian tangguh, bahkan jauh menjadi lebih berkarakter dan berdaya saing secara global, yang menjadikan seorang mahasiswa cakap dalam segala hal termasuk ilmu kepemimpinan. Maka tidak heran lagi ketika ada beberapa orang yang sukses dibidang yang berbeda dengan jurusan yang mereka ambil semasa kuliah. Contohnya pak Anis Baswedan jadi Menteri Pendidikan (saat ini sudah digantikan Muhadjir Effendy – Red) padahal dulu semasa kuliah di Fakultas Ekonomi, ilmuwan pada masa Khalifah Bani Abbasiyah dengan kepandaian di beberapa bidang ilmu untuk perubahan kondisi sosial dengan membangun perpustakaan raksasa sekaligus sekolah setelah berhasil menyembuh sang khalifah dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

    Mahasiswa dituntut punya jaringan sosial (seperti jaringan kerja yang bisa didapatkan melalu kegiatan sosial, organisasi, silaturahim dan sebagainya sehingga ketika mereka lulus langsung dipanggil untuk bekerja di orang yang mengenal kemampuan & kapasitas mereka.

    Mahasiswa dituntut untuk menjaga kesehatan, Seiring berkembangnya teknologi industri, muncul berbagai produk cepat saji, yang lemaknya tinggi, gulanya berlebihan, tersebarnya minuman keras, tersebarnya obat terlarang, lebih senang makan cepat saji, bronis, gorengan yang tidak jelas asal usulnya dibandingkan makanan-makanan segar seperti buah, kacang-kacangan, umbi-umbian tanpa bahan pengawet yang lebih berisi dan sehat. Percuma mereka cerdas, skill, karakternya bagus tapi sakit-sakitan sehingga produktifitas mereka pun terhambat ketika bekerja bahkan bisa menghabis harta yang mereka kumpulkan atau warisan keluarga untuk biaya mengobatan.

    “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah: 168)

    Salah satu yang banyak di lakukan oleh negara maju adalah mereka berusaha maksial untuk meningkatkan status kesehatan warganya melalui kebijakan publik yang unggul atau program intervenasi yang terstruktur yang di laksanaakan oleh agen pelaksana pemerintahan (government agency) atau instutisi yang bergerak di dunia pengenbangan sumber daya manusia seperti sekolah, pendidikan tinggi, dan lembaga-lembaga pelatihan lainya .

    Pepatah yang tak asing ditelinga mengatakan “mens sana in corpore sano” artinya “di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”. Teman saya dibelanda bercerita, baru-baru ini (tahun 2015 kemarin) pemerintahnya mengeluarkan peraturan, untuk membatasi kadar yang berlebihan yang membayakan kesehatan dalam memproduksi makanan dan minuman oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia harus sadar akan pentingnya kesehatan yang pastinya akan menunjang produktifitas negara secara keseluruhan.

    Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin kita belum bisa mengandalkan pemerintah kita yang belum membuat peraturan sedetail itu untuk keselamatan warga negaranya, bisa jadi karena pembangunan di negara kita masih sangat kompleks. Oleh karna itu kita perlu solusi dengan berhati-hati mengkonsumsi produk makanan dan minuman yang beredar. Satu hal yang perlu kita pikirkan tentang apa yang di lakukan oleh negara maju untuk meningkatkan kompetensi dan prodoktivitas warga negaranya adalah tubuh yang sehat, jiwa yang sehat dan otak yang cerdas.

    Yogyakarta, 20 Juni 2016


    Penulis: Nawassyarif, S.Kom.
    Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika dan Informatika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

    Desa Terkaya di Dunia dengan Pemimpin yang Luar Biasa

    Nawassyarif, S.Kom.
    PEWARTAnews.com – Meneladani para sahabat Nabi yang memegang prinsip, “Jika rakyat lapar, biarlah saya yang menjadi orang pertama merasakan lapar. Dan jika rakyat makmur dan sejahtera, biarlah saya menjadi orang terakhir merasakanya”.

    Kali ini kita menemukan sosok yang ternyata bukan seorang muslim tapi dalam memimpin justru bisa memegang prinsip seperti sahabat-sahabat nabi dulu. Beliau bernama Wu Renbao, seorang pemimpin desa yang mengantarkan kemakmuran warga desanya hingga desanya meraih gelar sebagai “Desa Terkaya di Dunia”. Dia berhasil mengubah tatanan masyarakat dari keterbelakangan menjadi masyarakat yang maju.

    Mulai dari memberikan tauladan (contoh), mampu merevolusi karakter dan budaya warga desanya untuk membangun desanya bersama-sama.

    Rahasia kesuksesanya karena dia memegang prinsip kepemimpinan “Kebahagiaan dinikmati Warga Desa, Kesulitan dipikul pejabat”.

    Dengan Kerendahan hati dan dengan segala hormat, saya ingin berbagi tulisan yang menceritakan tentang kisah sukses sebuah desa yang dahulunya miskin, terbelakang dan terpencil hingga akhirnya sekarang ini bisa menjadi Desa yang maju bahkan terkaya di Dunia.
    Melalui tulisan ini semoga pemimpin-pemimpin kita mulai dari Ketua RT/RW, Kepala Desa, Camat, Bupati, sampai Presiden termasuk para calon wakil rakyat dan para menteri juga pejabat penentu kebijakan serta kepada setiap individu dari para pembaca untuk bisa terinspirasi dari cerita ini. karna perubahan yang cepat bukan hanya dilakukan oleh pemimpin saja tapi harus dilakukan bersama-sama dan dari berbagai lini. Perubahan perlu didukung dari berbagai lini (warga, para pemilik modal, dunia pendidikan melakukan riset apa yang perlu dikembangkan, industri mendukung lembaga mendidikan mencetak sarjana/teknisi yang kompeten, dan yang paling utama dukungan pemerintah).

    Jika terinspirasi dari tulisan ini mohon kiranya juga berkenan untuk membagikan tulisan ini kepada saudarasaudari , teman, group komunitas dan lainya karena ini memang sangat penting untuk bisa merubah Desa-desa di negara kita juga supaya bisa lebih maju sebagaimana Kisah dari Desa Terkaya di Dunia ini.

    Membayangkan tinggal di sebuah desa yang sangat kaya raya dengan segala aksesnya pasti menjadi impian setiap orang. Hal itu juga yang mungkin dirasakan oleh Penduduk Desa Hua Xi di China, karena Desa tersebut merupakan Desa Terkaya di Dunia.

    Namun yang harus dicatat dan di ingat bahwa pencapaian desa Hua Xi bisa menjadi Desa Terkaya di Dunia bukan tanpa perjuangan dan proses yang panjang. Dikutip dari indonesiamedia.com (24/4/12), Diberitakan bahwa Desa Hua Xi, yang terletak di propinsi Jiang Shu, di tahun 1961 merupakan satu desa kecil, hanya 380 keluarga, 1520 orang, dan sangat terbelakang.

    Saat ini setiap keluarga tidak hanya mempunyai rumah berbentuk vila 400-600 m², tapi juga ada mobil sedan bahkan ada yang sampai 3. Desa tersebut juga punya Helikopter untuk melayani kepetingan umum dan kebutuhan warga desa.

    Perlahan namun pasti desa ini perlahan bangkit dan terus berjuang membangun desanya. Dibawah pimpinan sekretaris Partai, Wu Renbao akhirnya sekarang menjadi satu desa termaju diseluruh Tiongkok, dengan penduduk lebih dari 30 ribu dan areal lebih dari 30 km. Bahkan berhasil membangun desa disekitarnya juga dengan menggabungkan 16 desa.

    Di tahun 2005 Desa Hua Xi berhasil mencapai penjualan produksi senilai lebih 30 milyar Yuan. Mereka membangun Pagoda, tugu-emas, danau, taman-internasional dan taman Petani, bahkan membangun proyek tamasya dengan 80 pemandangan alam yang indah. Selama ini telah melayani tamu-tamu dari lebih 120 negara dan daerah. Setiap tahunnya bisa menerima 1 juta orang yang ingin melihat keberhasilan desa Hua Xi.

    Semboyan yang dia ajukan: “Kebahagiaan dinikmati Rakyat, Kesulitan dipikul pejabat”. Bagaimana proses perkembangan desa Hua Xi bisa begitu hebat sehingga mendapatkan julukan “Desa Nomor 1 di dunia”?

    Disamping itu, berturut-turut Desa Hua Xi juga mendapatkan julukan “Basis Organisasi Partai termaju”, “Model Dewan Petani Tiongkok”, “Kesatuan Maju Pekerjaan Ideologi-Politik Berkebudayaan”, “Model Tipikal Kebudayaan Tiongkok”, “Kesatuan Maju Pekerjaan Ideologi-Politik Usaha Industri Pedesaan Tiongok”, “Industi Termaju Dari Perindutrian Pedesaan Tiongkok”, “Taman Industri Dari Teknologi Perindustrian Pedesaan Tiongkok”, dan sebagainya.

    Benar-benar tidak salah Desa Hua Xi mendapatkan kehormatan sebagai “Desa Nomor 1 Didunia” dari berbagai kalangan masyarakat Dalam dan luar negeri!. Dari beberapa tulisan yang di ikuti, patut diperhatikan cara memimpin Wu Renbao, sekretaris Partai di desa Hua Xi ini, sekalipun kelahiran petani biasa dan tidak berpendidikan tinggi.

    Semboyan yang dia ajukan: “Kebahagiaan dinikmati Warga Desa, Kesulitan Dipikul Pejabat”. Dan, prinsip yang dijalankan didesa Hua Xi, “maju dan makmur bersama”. Bukan sebagaimana prinsip Deng, “memperkenankan sementara orang kaya lebih dahulu”. Begitulah Pak Wu ini membawa penduduk desa Hua Xi maju makmur sampai sekarang ini. Seorang pengunjung dari Amerika menyatakan, Pak Wu seperti Lee Kuan Yao di Singapore.

    Desa Hua Xi setelah berhasil meningkatkan produksi pertanian dengan mekanisasi, mereka benar-benar mengembangkan usaha industri di desanya. Perkembangan pesat baru terjadi setelah awal tahun 80, pada saat politik “Membubarkan Komune Rakyat” mulai dijalankan dengan memperkenankan setiap Desa berinisiatif melancarkan usaha sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing dan kebutuhan pasar.

    Hal ini serupa dengan program Dana Desa oleh pemerintah kita saat ini. Jadi, setelah didesa-desa diperkenankan menggunakan tanahnya untuk berproduksi yang dikehendaki sesuai kebutuhan dan pasar. Jadi, setelah Pemerintah pusat menerima keunggulan ekonomi-pasar dari sistem kapitalis. Tidak lagi sepenuhnya menjalankan segalanya harus direncana oleh Pemerintah pusat, sedang daerah, desa-desa bertanam atau berproduksi sesuai pembagian tugas yang ditentukan Pemerintah Pusat.

    Salah satu kesalahan prinsip sistem sosialisme yang segalanya diatur/dikendalikan secara sentral, dan mudah terjerumus kekesalahan manusia yang subjective atau hanyut oleh kepentingan pribadi.

    Lanjut cerita, desa Hua Xi setelah berhasil meningkatkan produksi pertanian dengan mekanisasi, mereka benar-benar mengembangkan usaha industri di desanya, membangun pabrik baja dan pipa-baja.

    Usaha menjadi lebih besar setelah Wu Renbao menggabungkan beberapa desa disekitarnya, menambah jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk industri. Sehingga hasil produksi baja setahunnya mencapai 2,2 juta ton, sedang pipa-pipa berbagai jenis untuk sepeda, sepeda-motor dan perabot rumah-tangga, hampir 300 ribu ton/tahun.

    Dari hasil produksi desa Hua Xi sudah ada yang eksport ke AS, Canada, Eropa, Australia dan bebrapa Negara Asia-tenggara. Gedung pencakar langit ini berada di Desa Terkaya di Dunia yang pembangunanya dari iuran warga desa.

    Desa Hua Xi telah menjadi kaya tidak berarti apa-apa seandainya seluruh Tiongkok tidak menjadi kaya. Itulah sebab, di tahun 2001, Desa Hua Xi memperluas wilayah dengan menggabungkan 16 desa disekitar menjadi satu pengurusan Desa Hua Xi untuk maju bersama.
    Demikianlah sekarang ini desa Hua Xi menjadi besar dan lebih makmur lagi dengan bertambahnya tenaga kerja. Lengkap dengan produksi bahan pangan, buah-buahan, pohon, peternakan dan perikanan.

    Di tahun 2010, mereka menyambut peringatan 50 tahun pembangunan desa Hua Xi, dengan hasil produksi senilai 50 Milyar untuk kebahagiaan dengan memperkaya 50 ribu orang. Mewujutkan perkembangan yang serasi antara ekonomi, penduduk, sumber-alam dan lingkungan, lebih lanjut mempertahankan “Desa Terkaya Didunia” dengan meningkatkan kebudayaan, keserasian dan harmonis.

    Penduduk desa Hua Xi menyatakan, keberhasilan desa Hua Xi menjadi begitu makmur, tidak terlepas dari kepemimpinan Wu Renbao. Itulah sebab mereka tidak hendak pimpinan diganti orang lain, sejak tahun 1961, desa Hua Xi dipimpin oleh Wu Renbao. Dan karena pak Wu sudah lanjut usia, beberapa tahun yang lalu Wu Renbao bersikeras mengundurkan diri.

    Setelah pengunduran dirinya kemudian yang diangkat sebagai penggantinya adalah putra keempatnya. Menunjukkan kesadaran petani masih feodal, menganggap keberhasilan membawa kehidupan makmur, terutama ditentukan oleh seorang pemimpin, ketauladanan dan pribadi orangnya. Bukan bersandar pada sistemnya.

    Bagaimana Wu Renbao mengatur pembagian hasil-kerja di Desa Hua Xi? Prinsip “mendapatkan sesuai dengan hasil kerja”, “kerja makin keras mendapatkan makin banyak” berusaha dipegang dan dilaksanakan. Keuntungan 20% untuk Grop Hua Xi yang melancarkan usaha, 80% digunakan untuk usaha; Dari 80% yang digunakan untuk Usaha itu, 10% untuk bonus pemborong; 30% untuk bonus manager dan teknisi; 30% untuk bonus pegawai/buruh; 30% akumulasi modal untuk mengembangkan usaha.

    Mereka mengeluarkan semboyan: “Pembagian lebih sedikit, akumulasi modal lebih besar, mencatatkan saham lebih besar”. Pelaksanaannya? Bonus yang seharusnya jatuh ketangan pribadi pemborong, buruh/pegawai, kenyataan hanya 20% yang diuangkan dan diterima orang bersangkutan, selebihnya 80% dicatatkan sebagai pembelian saham perusahaan Hua Xi Grops. Jadi sekarang ini saham perusahaan Hua Xi Grop telah lebih 70% menjadi hak-milik kolektif dan kurang dari 30% saham milik Komune Hua Xi semula.

    Bagaimana pula dengan kehidupan Petani/Buruh didesa Hua Xi? Praktis mereka tidak ada hari libur, Sabtu dan Minggu tetap bekerja. Setahun hanya 2 hari libur Tahun Baru Imlek. Jadi mereka, penduduk yang datang dari luar harus lebih dahulu ajukan permohonan pada Kepala Barisan Produksi untuk pulang kampung.

    Sedang bagi orang yang hendak keluarkan uang simpanan yang dalam bentuk saham itu, juga harus lebih dahulu mengajukan permohonan pada Dewan Desa. Dengan demikian, setiap penduduk desa Hua Xi, sudah ada uang simpanan setidaknya 1 juta Yan. Pembangunan perumahan bentuk vila dan pembelian mobil sedan yang dibagikan pada setiap penduduk desa itu diambil dari simpanan saham yang terkumpulkan.

    Referensi:
    - https://wikipedia.org
    - https://aribicara.com
    - http://www.independent.co.uk
    - https://www.theguardian.com


    Penulis: Nawassyarif, S.Kom.
    Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika dan Informatika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).


    Puisi: "Mawar Putih"

    Nawassyarif, S.Kom.
    Mawar putih
    Begitu mempesona
    Setiap mata memandang dengan penuh kekaguman
    Keindahanya tertusuk sampai ke hati bahkan mendinginkan jiwa

    Bungamu putih bersinar menahan mata berkedip lagi
    Daunmu tumbuh lebar tanpa cacat
    Batangmu tumbuh begitu kuat
    Durimu tajam berkilau merah

    Walaupun terlihat tumbuh dengan fisik yang sempurna
    Para hama thrips bersiap-siap merusak keindahan bungamu
    Para ulat menyantap daunnya segarmu
    Kutu batang melemahkan batangmu yang kuat

    Mawar putih
    Penuh dengan ancaman
    Cobaan segara mendekat
    Sekaligus tantangan menghampirimu

    Walapun demikian
    Sambutlah harimu dengan penuh warna
    Tersenyumlah menyambut mentari pagi yang bersinar terang
    Yang menerangi dari ujung daun sampai batangnmu


    Yogyakarta , 23 Juli 2016

    Penulis: Nawassyarif, S.Kom.
    Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika dan Informatika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

    Fenomena Penggunaan TIK Sebagai Wabah Atau Peluang Bagi Pelajar

    Nawassyarif, S.Kom.
    PEWARTAnews.com – Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai modal sangat besar diarahkan untuk mampu membangun nilai-nilai baru kehidupan bermasyarakat terutama pelajar untuk menjadi lebih produktif, lebih cepat, lebih cermat, lebih hemat dalam mengelola dan mengoptimalkan berbagai sumberdaya, kebermanfaatan berbagai jenis teknologi, mencipta nilai-nilai baru dengan memanfaatkan potensi biologis, psikologis dan sosial diri mereka bukan malah terjerumus dalam kenyamanan, inovasi dan kecangihan teknologi.

    Perlu kita bangkit bersama-sama dengan penuh kesadaran mengarahkan masyarakat pelajar menjadi sibuk melakukan hal-hal yang baik dengan cara yang benar menggunakan TIK sebagai pendukung kegiatan produktif. Tidak menjadi wabah baru untuk jadi pemalas, cepat cacat mata dan cacat anggota tubuh lainnya, maraknya tindakan kriminal, akses pornografi yang melaja lela, propokatif yang menyebabkan kericuhan karna tidak memahami kebermanfaatan, standar dan peraturan penggunaan TIK. Bahkan hanya sebatas bersenang-senang di media TIK seperti banyak diantara kita lebih tanpa sadar banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dari pada melakukan hal-hal untuk mencapai produktifitas dan melakukan hal-hal yang produktif untuk diri kita sendiri maupun untuk perubahan sosial. Jangan sampai kita terlena dalam kenyamanan, tantangan inovasi game online dan kecangihan teknologi.

    Contoh penggunaan : Pokemon Go, Dotta, dan Media Sosial yang berlebihan tanpa mengenal waktu.

    Keberhasilan dalam peletakan pondasi pendidikan dapat dipastikan menjadi penyebab utama perilaku etik-produktif masyarakat pendidikan. Praksis pendidikan perlu mengedepankan subyek dasar pendidikan adalah persoalan anak manusia dengan seluruh interaksi visi dan misi kehidupannya bersama lingkungan terkendali yang dihadapinya. Praksis pendidikan dimanapun di belahan bumi ini adalah praksis berkehidupan yang terbuka terhadap berbagai bentuk sistem nilai dan keyakinan yang saling terhubung antara kelompok masyarakat yang satu dengan masyarakat belahan bumi yang lainnya melalui akses TIK yang semakin cepat dan semakin gampang. Karena akses yang terbuka dan akan selalu semakin terbuka akibat perkembangan TIK perlu ditanggapi dengan serius maka peranan instansi terkait, guru, dosen, orang tua, tokoh agama dan tokoh masyarakat menjadi sangat penting dalam meletakkan pondasi pendidikan yang utuh dan benar dalam menata dan membangun masa depan kosmos.

    Sleman DIY, Minggu  21 Agustus 2016.


    Penulis: Nawassyarif, S.Kom.
    Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika dan Informatika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

    Mencegah Konflik Sentimen di Bima

    Haeruddin, S.Pd.
    PEWARTAnews.com – Di Bima, dalam dekade terakhir ini sering muncul sejumlah sengketa yang mengarah pada kekerasan berbasis sentimen kelompok, kampung hingga etnik. Peristiwa perkelahian melibatkan kelompok di sebuah kampung, beberapa kali terjadi, yang dipicu oleh kesalahpahaman dalam relasi sosial bisa berubah menjadi saling serang, menjadi teror dengan segala akibat kerusakan materi hingga korban jiwa. Karuan saja, hal ini melahirkan kekhawatiran hubungan antar kelompok makin terganggu sehigga integrasi sosial di aras komunitas jadi terganggu. Bagaimana kita melhat kasus ini dalam kacamata sosial, adakah hubungan kasus-kasus itu dengan kian menurunnya derajat toleransi masyarakat, dan bagaimana menjawab masalah-masalah ini agar kerukunan sosial tetap terjaga di tengah perbedaan tersebut?

    Ditinjau dari struktur masyarakatnya, Bima tergolong heterogen, dari latar belakang kelompok kepentingan, bahkan kelas dan etnik. Selain disebut sebagai kota transit, dimana para pendatang dari berbagai daerah di Indonesia bermukim. Predikat itu memberi imajinasi atas Bima identik dengan perkembangan peradaban dinamik. Dalam perjalanannya, Bima memang dikenal dalam konstruksi tidak aman, terbangun solidaritas sosial yang rapuh ditandai kecenderungan dengan kekerasan. Selain faktor budaya, terutama erat kaitannya dengan dominasi kultur Mbojo. Komunitas Mbojo sebagian besar diisi kaum menengah cendikiawan produk pendidikan tinggi dari dalam dan berbagai daerah/kota di luar Bima, seperti Makassar, Malang, Surabaya, Jogjakarta, Mataram dan Jakarta demikian banyak. Sebut saja, di Bima banyak perkumpulan/komunitas etnik dari berbagai daerah. Wajah Bima dengan demikian mengekspresikan keberagaman Indonesia. Nah, melihat kasus-kasus konflik dan kekerasan berbasis komunal, kampung, kelompok kepentingan hingga etnik sebagaimana digambarkan di atas, apakah semua ini bukti bahwa keragaman menjadi bagian kekayaan dalam mewujudkan integrasi sosial, ataukah ancaman bagi kohesi sosial Bima?

    Terbentuknya integrasi sosial, jika keragaman itu mampu dikelola dengan baik diantara kelompok atau aktor-aktor yang ada. Pengelolaan itu, didasarkan kesepakatan nilai dan persepsi untuk memahami keadaan masing-masing. Sebaliknya, kemajemukan dapat berpotensi munculnya konflik, bahkan kekerasan yang mengarah disintegrasi, jikalau terkandung anggapan bahwa perbedaan merupakan “ancaman”, apalagi tidak ada kesepahaman atas keragaman itu. Intergrasi sosial, dengan demikian dipahami sebagai kesatuan suatu komunitas sosial dalam keberagaman dan rasa kebersamaan. Kunci dasar keduanya adalah “kesepahaman” atas perbedaan dan struktur sosial yang majemuk itu.

    Secara kontekstual Bima, pertautan kultur Mbojo sebagai social capital bersemai terus oleh konstruksi kaum terpelajar dan etnik dengan ide-ide kemajemukan dan toleransi. Karenanya, sejauh ini relasi antar kelompok relatif terbangun secara resisten, nyaris begitu mudah tersulut konflik-kekerasan yang membawa keretakan sosial. Sehingga kemajemukan, atau plural society, terbukti konflik-konflik berbau komunal begitu aktual menjalar. Faktor sosial budaya dan rapuhnya kemampuan masyarakat adalah factor yang cukup signifikan lahirnya konflik, baik horizontal maupun vertikal di Bima.

    Jika fakta-fakta sengketa antar kelompok/kampung terjadi berbasis kepentingan dan etnik sebagai diilustrasikan di awal terjadi di Bima, jelas hal ini merupakan tantangan yang harus diatasi sesegara mungkin. Pertama, perlunya mempromosikan dan melembagakan kesadaran kritis “manfaat kebersamaan”, dalam perbedaan antar kelompok. Perbedaan dapat dipahami, dimengerti dan ditoleransi agar tidak saling merugikan. Diantaranya, perlu di Bima menciptakan ruang mediasi, komunikasi lintas kelompok dengan semangat membaur dan terintegrasi. Masyarakat kita kadangkala menikmati ruang-ruang mereka tersekat-sekat perbedaan, tanpa dihubungkan arena dalam berkomunikasi. Keterbatasan media komunikasi menyebabkan munculnya potensi manipulasi informasi dan persepsi. Wajar saja jika perbedaan kemudian terdistorsi, lalu lahirlah kecurigaan, tidak saling percaya (distrust) antar sesama. Persepsi yang saling berlawanan tidak dikomunikasikan, akibatnya saling bermusuhan. Hal ini berkembang oleh konstruksi dan stereotip kelompok atau etnik, mengidentikkan perilaku seseorang dengan latar belakang kepentingan dan etnik.

    Perlu mengembangkan forum-forum komunikasi kewargaan tingkat kampung yang menjangkau perbedaan asal daerah, bersifat informal biasanya efektif sebagai basis penguatan kesadaran membangun hubungan kebersamaan. Kedua, senantiasa membuka diri secara inklusif diantara keragaman kelompok dan etnik. Interaksi sosial jangan dibatasi karena kesamaan suku, adat, agama atau asal-muasal kelompok yang eksklusif. Tetapi, justeru melintasi perbedaan kelompok itu supaya saling mengenal, mengerti watak, karakter, pemikiran, yang akhirnya muncul saling pemahaman dan toleransi. Ketiga, memperluas dan mengembangkan tradisi dialog, menghilangkan cara kekerasan. Mengelola hubungan sosial hendaknya mengedepankan prinsip dialogis, fasilitasi, partisipasi warga menjadi sangat relevan, terutama dikaitkan konteks struktur dan kultur masyarakat yang sudah berubah ke arah lebih maju saat ini.

    Langkah-langkah itulah, barangkali bisa menjadi bagian memecahkan ketegangan antar kelompok yang berbeda, sehingga dalam struktur majemuk apapun bisa hidup rukun dan terbangun integrasi sosial di Bima.


    Penulis: Haeruddin, S.Pd.

    Surat Buat Bapak Menteri Pendidikan

    Haeruddin, S.Pd.
    PEWARTAnews.com – Sesungguhnya, lebih baik berbuat jahat daripada memiliki pikiran kerdil (Nietzsche).

    Pak mungkin sudah banyak ucapan selamat dilayangkan padamu. Juga telah banyak harapan diberikan untukmu. Aku tak ingin mengulangnya kembali. Bagiku tindakan itu hanya sebuah awalan. Yang kadang fungsinya basa-basi dan terbatas tata-krama.

    Pak menteri yang terhormat, mungkin waktunya aku ingin jujur padamu. Bahwa pilihan presiden Jakowi atasmu itu benar dan menjanjikan. Selama ini seorang menteri pendidikan seperti pilihan kepala sekolah: tua, padat petuah dengan karir seorang birokrat. Maka kebijakanya selalu serupa: mengubah-ubah kurikulum, memastikan kepatuhan siswa dan membuat banyak janji.

    Maka girang rasanya melihatmu tampil sebagai menteri. Berbusana putih dengan lengan panjang berdasi dibalut jas hitam. Posisimu kunci: pendidikan dasar dan menengah. Kedudukan yang akan memastikan titik berangkat mutu sebuah pendidikan. Jika berkaca pada sebelumnya maka pendidikan dasar dan menengah bisa jadi awal sebuah niat.

    Niat untuk membuat pendidikan tak berjalan seperti sekarang. Beban materinya padat dengan isi yang terlampau berlebihan. Sesekali bapak periksa isi buku pelajaran anak sekolah dasar dan menengah: sejarahnya berisi kisah yang dangkal, matematika berisi angka tanpa imaginasi apalagi pelajaran kewarganegaraan: tak ada daya gugahnya. Seakan sekolah seperti kegiatan isi waktu luang.

    Pasti engkau kenal Paulo Freire. Aku tahu gagasanya pasti mengerti. Mungkin engkau tak sepakat denganya tapi rasanya penting untuk memahami idenya. Guru buatnya bukan kilang pengetahuan yang datang dengan membawa keranjang materi. Paulo Freire lebih percaya bahwa semua anak sudah punya bekal pengetahuan. Lingkungan membesarkan, melatih hingga membimbingnya dalam praktek hidup. Realitas sosial adalah bahan utama pengetahuan. Tugas pendidikan adalah mengembangkan kesadaran peserta didik untuk memahami realitas sosial di sekelilingnya secara lebih kritis. Bagi Freire pendidikan adalah pembebasan. Bukti keberhasilan pendidikan bukan kelulusan tapi kemampuan mengubah realitas.

    Mandat pendidikan ini hebat pak. Sehingga pelajaran mengenal aksara sama dengan mengenal struktur sosial. Bahkan mengenal ilmu hitung sejajar dengan pengenalan apa yang pantas diperhitungkan dalam hidup siswa. Itu sebabnya Freire ajak kita kenal tingkatan kesadaran. Mustahil ada budaya pengetahuan kalau kesadaranya membatu dalam tingkatan naif. Begitu pula tak mungkin pengetahuan mampu meyentuh keberanian kalau dalam tangga fungsional. Freire membuat jembatan kesadaran kritis untuk menindih dua kesadaran yang kini hidup dalam alam pendidikan kita pak.

    Sekolah kita hanya menanam bibit kesadaran naif dan fungsional. Naif selalu percaya kalau semua sebab sosial itu akarnya pada takdir atau keputusan di luar nalar. Sedangkan fungsional mirip dengan gayamu: perubahan harus diubah dari diri sendiri. Sikap, perangai dan kebiasaan ubahlah terlebih dulu. Pandangan motivasional selalu mengandaikan hal itu. Dan dirimu kurasa punya pandangan serupa. Keduanya punya titik lemah: naif membuat manusia seperti boneka sedang fungsional manusia seperti minyak pelumas. Dalam bilik kesadaran naif pelajaran berbentuk hafalan sedang pada bilik fungsional pembelajaran mirip arena suntik semangat. Keduanya alpa pada keadaan dan sulit untuk ubah kenyataan.

    Bapak menteri yang terhormat, aku tak ajak engkau untuk berdebat. Tapi sejenak kuajak menengok melihat pelataran sekolah dasar. Bangku coklat berjajar rapi dengan foto penguasa yang mengapit burung garuda. Persis di tengah ada papan tulis dengan guru yang kerapkali berdiri di depan. Guru menguasai kelas: mengabsen, memberi tugas hingga menghukum. Sandaranya ada pada kebiasaan dan ketetapan. Guru dianggap selalu benar dan sulit dianggap salah. Sesekali mencetuskan gurauan tapi lebih sering memberi petuah. Tak ada anak yang berani membantah dan tak sedikit anak ketakutan. Sekolah memang lambang kekuasaan guru: melaluinya julukan anak baik, nakal dan pintar ditambatkan. Mirip seperti dewa guru memang sudah terlanjur dianggap kunci pembawa pengetahuan. Apalagi akhir dan awal pelajaran berada tetap di tanganya.

    Kini engkau ingin meningkatkan kualitas guru. Kamu merasa kuncinya ada disana. Kesimpulan yang sudah berulang-ulang ditekankan. Seolah dengan mengubah guru maka berubahlah murid. Garis perubahan itu seperti sebuah lajur titik A menuju B. Jika A diubah maka B otomatis berubah. Siklus itu yang dipercayai oleh penguasa sebelumnya: UU Guru terbit, kebijakan sertifikasi ditempuh dan pelatihan guru digalakkan dimana-mana. Hasilnya? Tak usah menunggu survei dan riset. Tapi tanyalah seorang anak SMA lalu beri dia dengan pertanyaan sederhana: apa yang engkau sukai di sekolah nak? Jawaban mereka niscaya menjadi petunjuk betapa memperbaiki guru bukan jalan mengubah pendidikan. Kita kadang lalai kalau sekolah bukan terdiri dari guru, siswa dan kelas. Sekolah berada di atas tiang namanya aturan dengan muatan pelajaran yang bernama dominasi.

    Itu sebabnya pak: anak sekolah bukan kertas putih. Mereka punya pengetahuan yang dibawa dari lingkungan dan asuhan. Lingkungan menceritakan pada mereka bagaimana pergulatan hidup itu terbangun diatas dasar kompetisi dan pertikaian. Pola asuh telah menanam mereka kesadaran akan arti posisi dan kelas sosial. Sialnya sekolah kerapkali memanipulasi pengetahuan itu semua dengan mencangkokkan kesadaran baru tentang status quo. Biarkan ada ketimpangan dan ketidak-adilan karena memang itu bukan soal pengetahuan. Lagipula untuk apa menuntut perubahan jikalau kunci untuk mengubahnya sesungguhnya berasal dari diri-sendiri. Inti kurikulum itu yang membuat anak-anak berpuas dengan prestasi dan sulit untuk diajak punya solidaritas serta empati. Anak lahir dengan kebiasaan berfikir pada apa yang ada di buku dan jalani pembelajaran seperti yang dikatakan guru. Kita kehilangan jiwa petualang dan pendobrak kemapanan. Kita diam-diam membesarkan mental pegawai ketimbang pencerah.

    Kurasa untuk seorang pendidik seperti bapak tak sulit memahami ide ini. Pertimbangan ide ini sederhana: tak mungkin pendidikan dasar dan menengah berpusat pada soal lama. Kurikulum dan UAN. Seakan sekolah itu hanya berurusan dengan siapa yang harus didahulukan: lingkungan pasar yang segera membutuhkan tenaga budak terdidik, sistem politik yang menginginkan anak didik yang patuh atau kelompok fanatik yang maunya anak jadi pasukan pembunuh ide apapun yang berbeda. Pak menteri, sejarah kali ini memilihmu untuk membuat perubahan. Tanpa perubahan yang berarti maka pendidikan hanya mengulang-ulang dan mendaur ulang persoalan.

    Ini waktunya memang tak lagi berjanji. Saatnya untuk berbuat dan mengubah. Berbuatlah untuk hari depan anak-anak sekolah dan ubahlah pandangan para pendidik tentang anak didiknya. Jika itu mampu kaukerjakan, niscaya, ke depan kita akan menyaksikan sekolah bukan tempat duduk dan menghapal: tapi tempat anak-anak belajar untuk menggerakan perubahan di sekitarnya. Yang lahir disana bukan semata-mata pemenang olimpiade tapi organisasi sekolah yang progresif, berpihak dan berani merombak realitas. Buatku itulah yang dinamai revolusi mental bapak menteri. Perubahan yang beranjak dari mengubah cara memahami dan menggunakan pengetahuan. Moga-moga saja engkau memahami ide ini dan mau mempertimbangkanya.

    Salam Revolusi Mental Pak menteri.


    Penulis: Haeruddin, S.Pd. 
    Pegiat Pendidikan untuk Indonesia (PUNDI) Yogyakarta

    Sekitar Makna Nasionalisme

    Dheyo Keanu Ch.
    PEWARTAnews.com – Dulu waktu saya masih kuliah di Universitas Mataram, seorang kolega baik yang baru saja pulang dari luar negeri pernah berkata ‘’ Nasionalisme itu baru benar-benar kamu rasakan jika kamu berada di luar negeri’’. Mendengar itu saya diam. Pertanyaan lalu berkecamuk dengan hebat dalam pikiran saya, apakah memang demikian adanya? Lalu bagaimana dengan orang seperti saya yang belum pernah ke luar negeri? Sementara secara pribadi saya berani bilang saya punya jiwa nasionalisme yang kuat. Sebelum merespon itu sang kolega tadi pun melanjutkan, “setiap saat kamu akan merindukan Indonesia”.

    Saat itu, yang hadir dalam benak saya ada dua hal. Pertama keinginan yang kuat agar bisa ke luar negeri demi membuktikan apa yang dia katakan tadi. Kedua, mencoba membedah lebih dalam lagi makna nasionalisme itu sendiri. Cinta tanah air yang ada dalam mindset kebanyakan orang apa hanya pada domain fisik seperti alam Indonesia saja? Ataukah ada yang lebih penting misalnya hubungan antar sesama manusia? Saya mulai merenung.  

     Tentunya kolega tadi tidak hendak bercanda dengan ucapan-ucapannya, karena sebagai sahabat baiknya saya tahu mimik mukanya saat serius atau sebaliknya. Sebagai anak muda yang punya semangat membara dalam dada, saya berjuang untuk mewujudkan keinginan yang pertama di atas. Di samping rajin mengikuti perkuliahan, saya juga meluangkan waktu sedikit demi sedikit untuk belajar di ruang “praktis” melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan baik di kampus maupun di luar kampus. Tujuannya untuk mengasah kapasitas diri dan jiwa kepemimpinan, yang mudah-mudahan di kemudian hari saya bisa ke luar negeri dengan modal itu. 

    Saya juga aktif mengamati fenomena-fenomena sosial yang ada dalam kehidupan secara kontinyu. Hal ini bertujuan untuk mem-breakdown rasa penasaran saya tentang makna nasionalisme yang lebih luas. Katakanlah ketika ada teman-teman aktivis kampus yang menyegel ruang kelas hanya karena berharap seluruh mahasiswa tidak masuk kelas dan ikut ambil bagian saat menyampaikan aspirasi (demonstrasi), pada hemat saya teman-teman aktivis tadi tidak punya nasionalisme. Mengapa? Karena mereka menggangu kepentingan orang lain. Di sini, nasionalisme bermakna menghormati kepentingan positif sesama warga negara. 

    Hari-hari sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di kampus seribu cemara itu saya lalui dengan sungguh-sungguh. Belajar teori dan berorganisasi semacam panggung emas yang saya dirikan dengan hati dan pikiran sendiri. Selanjutnya membaca dan menulis adalah pertunjukan yang saya pun bawakan sendiri dan dinikmati juga oleh orang lain. Hingga akhirnya saya mendapat kesempatan berharga untuk mengikuti Indonesia-Malaysia Student Exchange 2008, yang mana sponsor utamanya bersumber dari Biro Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

    Bersama beberapa mahasiswa dan mahasiswi, saya melawat ke dua kampus besar di negeri jiran Malaysia, University Kebangsaan Malaysia (UKM) dan International Islamic University of Malaysia (IIUM). Kurang dari satu bulan kami berada di sana, namun sejujurnya saya bersyukur bisa membuktikan apa yang kolega saya pernah katakan dulu. Sulit diungkapkan, iya. Negeri ini seolah mengalir dalam aliran darah. Saya merasakan sesuatu yang kuat, tidak sekuat saat saya berada di Indonesia. 

    Saya ingat banyak pengalaman empirik seperti desak-desakkan di angkutan umum, para perokok aktif di tempat-tempat umum, orang-orang yang kadang-kadang tidak mau antri di tempat pengisian bensin, kesemrawutan di pasar-pasar tradisional, pemandangan itu yang saya rindukan. Sesuatu yang tidak saya rasakan dan temui di sana. Benar pepatah “Right or Wrong My Country”. Dalam hati kecil saya berkata, betapa tidak terbayangkan apa yang dirasakan kolega tadi yang pergi jauh ke benua Amerika sana, dan dalam waktu yang lebih lama. Rasa cinta tanah air yang gemah ripah loh jinawi ini pastinya hadir di setiap tarikan nafasnya. 

    Lantas bagaimana dengan nasionalisme tadi itu, apa hanya dengan merindukan Indonesia saat berada di luar negeri?  atau menghormati kebutuhan manusia Indonesia lainnya untuk memperoleh ilmu pengetahuan? Sekali lagi, pada hemat saya ada banyak makna nasionalisme yang bisa kita temui dalam keseharian kita.


    Sisi Lain 
    Namanya Muhammad Idris, kepala desa Bone-Bone, kecamatan Baraka, Sulawesi Selatan. Dia adalah pencetus Desa Bebas Asap Rokok. Berawal dari maraknya anak-anak di usia Sekolah Dasar di desanya yang giat merokok, mendorongnya mengeluarkan peraturan desa yang isinya melarang penjual rokok masuk ke desa Bone-Bone. Hasilnya, desa itu menjadi desa bebas asap rokok pertama di dunia. 

    Ada lagi Joria Parmin, seorang bidan di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berawal dari kematian seorang ibu hamil di wilayahnya tanpa sepengetahuan petugas kesehatan sedikit pun, dia mendirikan 2H2 Center, sebuah program untuk mendata dan mengontrol seluruh ibu hamil di wilayahnya sejak mereka hamil pertama hingga persalinan. Hanya bermodalkan handphone yang aktif 24 jam untuk mengirim pesan pendek. Hasilnya, dia berhasil menekan angka kematian ibu dan anak di NTT. 

    Selanjutnya masih banyak lagi pribadi-pribadi yang mengusahakan kebaikan Indonesia dan warga negaranya secara mandiri. Pastinya malalui bidang ilmu dan kapasitasnya masing-masing. Intinya jiwa nasionalisme sudah terlampau banyak di sekeliling kita. Ibu saya misalnya, seorang perempuan lulusan Sekolah Dasar yang tinggal di pinggir sungai Rabalaju, Dompu, Nusa Tenggara Barat yang berjuang menyekolahkan saya dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) adalah pribadi yang memiliki nasionalisme tinggi. Juga para orangtua-orangtua lainnya dimana pun mereka berada yang pernah dan sedang melakukan hal yang sama untuk anak-anaknya. Di sini, nasionalisme adalah cinta orang-orang di dekat kita. 

    Nasionalisme sepertinya sudah menjadi hakikat kemanusian. Dimana setiap orang mencintai tanah kelahirannya berikut orang-orang yang ada di sampingnya. Saya jadi teringat akan ceramah Bapak Yudi Latief, Ph.D pada satu kesempatan diskusi. Dia mencontohkan penyu yang saat menetas dari telurnya akan langsung mencoba ke laut, kembali ke darat dan ke laut lagi. 

    Penyu itu pelan-palan berusaha mengenal ekosistem yang di sekitarnya, mencium bau pasirnya, lalu membuat semacam mind-mapping di kepalanya, setelah itu berkelana bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, ketika ingin bertelur, sang penyu itu pasti akan kembali ke tanah tempat dia dilahirkan tadi. Ternyata sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia yang akan selalu “kangen” akan tanah tempat dimana kita dilahirkan. 

    Setelah merasakan “keajaiban” saat berkunjung ke Malaysia untuk pertama kalinya tahun 2008 lalu, saya pun terus membuktikan apa yang pernah kolega baik saya katakan itu. Tahun 2011 dan 2012 saya mendapat kesempatan lagi untuk kembali meninggalkan Indonesia beberapa bulan untuk melihat negara-negara lain seperti Jepang, Filiphina dan Vietnam. Seperti sebelumnya perasaan itu muncul dengan kuat berhari-hari. Tiap kali menyanyikan lagi Tanah Air, maka wajib hukumnya air mata ini jatuh dengan sendirinya. Bahkan pernah saya berpikir untuk cepat-cepat kembali ke Indonesia dengan meninggalkan program yang sedang diikuti hanya karena ingin bertemu dan bercanda dengan orang-orangnya. Sungguh semua itu terjadi dalam alam sadar saya sebagai anak bangsa.

    Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa nasionalisme ada dalam diri seluruh warga negara. Memang saat kita berada di negeri-negeri yang jauh, semangat itu memuncak dengan luar biasa. Namun, bukan berarti rasa itu hilang saat kita tidak pernah kemana-kemana. Rasa itu akan senantiasa tumbuh dan berkembang seiring dengan berputarnya waktu. Saya menyakini itu.   


    Pasar Kelapa, Cilegon, Rabu 17 Agustus 2016  

    Penulis: Dheyo Keanu Ch* 
    *Pendiri IDHE INSTITUTE, penulis buku. 
           
     
         
         
      
        

    Puisi: "Teguh"

    Sutiyoso Wijanarko.
    Hembusan suara hati menyeruak semesta
    Kidung-kidung lembayung sucinya membahana
    Daun-daun menangis menghijaukan biliknya
    Tak terasa hati yang terkoyak berubah parasnya

    Pendirianku telah bergegas menjemput kekasih
    Gaun putih seputih salju budi pekerti diimpikan
    Menyatu dalam aliran darah dalam pembuluhnya

    Dambaan kesempurnaan terpatri cengkeram benak
    Berbagi menjadi jalan suci yang tak tergoyahkan
    Mengisi setiap detik dan waktu pada pilihan nasib


    Yogyakarta, 10 Agustus 2016
    Karya: Sutiyoso Wijanarko

    Terdampar di Dunia Khayalan [Potret One Part 2]

    Julkifli.
    PEWARTAnews.com – Sebuah desa mempunyai politik kejiwaan, kemiskinan dan keserakahan. Terhanyut dan terbakar oleh gelampnya dunia. Suatu ketika Rejha dan K, terbangun dari tidurnya, serasa hidup di jeruji besi. Redjha dan K, hidup dalam keterbatasan ekonomi, fisik dan mental, semua orang mengatakan aneh dan tak mempunyai prinsip.

    “Tak perlu mendengarkan mereka, mereka hanya berkata, mungkin mereka iri dengan kita berdua, kita hidup bukan untuk meminta makan kepada mereka, tetapi meminta restu. Restu untuk masa depan kita.” Kata si Redjha sambil mengangkat tangan di atas punggung si K.

    “Perkataanmu tepat Redjha,” jawab si K. “Memang hidup tak mesti menganggap buruk kepada orang lain tetapi, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya, entah itu baik ataupun buruk!”

    “Bung ada yang aku sampaikan kepadamu, kita tak perlu lagi membahas persoalan tadi.” Jawab si Redjha.

    “Ia bung kau mau bilang apa?” tanya si K sambil menggaruk kepala.

    “Besok ada kerjaan?,” tanya si Redjha sambil menggaruk kepala.

    “Ngak ada, emang mau ajak aku kemana?” jawab si K.

    “Gini bung besok aku kesawah, ada sedikit kerjaan disitu, kata ibuku sebelum aku membaca buku kemarin Isya.”

    “Loh, engkau suka membaca juga bung?, Hahaha.” Tanya si K sambil tertawa.

    “Loh emang kenapa.? aku suka baca, kok kamu tertawa bung,” jawab si Redjha.

    “Yeah ngak si bung, aku heran ajah engkau suka baca, biasanyakan, suka ngawur-ngawur sendiri di atas pohon kelor sambil bernyanyi, lagunya Radja Band yang tulus itu!, Hahaha,” Jawab si K sambil tertawa terbahak-bahak.

    “Kamu tau aja bung kebiasaanku, yaudah jagan bahas itu lagi, nanti kita lupa lagi apa yang kita bahas tadi,” Jawab si Redjha sambil menggaruk kepala.

    “Jadinggak kesawahnya? Kita tanyakan sekalia si Asrul.”

    “Kamu ngawur aja si Ja, mana mau si asrul pergi kesawah, paling si Asrul bisanya jaring cewek. Hahaha.” jawab si K sambil ketawa terbahak-bahak.

    “Ia kita tanya dulu siapa tau dia mau, sekalian aku iming-imingkan jagung bakar biar dia mau ikut,” Jawab si Redjha sekenanya.

    “Oke, kita liat nanti mau apa ngak dia,” jawab si K. “Ayo kita kerumahnya,” Jawab lagi si Redjha.

    Setelah itu beberapa menit kemudian Redjha dan K berjalan menuju ke rumah Asrul, sore itu begitu panas dan jalan pun banyak asap dan debu, suara motor berkeliaran sana sini.

    Redjha mengatakan dalam hati, “Tuhan begitu panas dan berasap negri ini, apakah ini yang dinamakan neraka untuk yang tidak taat kepada ajaran-Mu?, jawab tuhan.”

    Beberapa saat kemudian, sampai juga di rumah Asrul, pas naik tangga terlihah pintu terbuat dari jati, warna kecoklatan, di tambah cet pilitur kinclong, kayunya begitu kokoh dan mewah. Sungguh indah ciptaan engkau tuhan, rumah yang begitu kokoh layak istana yang megah, penuh dengan seni yang tinggi, bahkan ketika gempa, tetap berdiri tegak, saking bagusnya untuk segala cuaca, dinding dinding nya pun memake kayu jati.

    Setelah itu K membawa salam. “Asalamualaikum.”
    “Waalaikumsalam.” Jawab Ayah Asrul, “Ooh si redjha dan k yeah.?”
    “Ia pak,” Jawab si Redjha dan K secara bersamaan.
    Lalu bapak Asrul berkata kepada istrinya, “Mah, buatin kopi untuk tamu nih mah, sekalian sama bapak, hehe.” Sambil ayah Asrul tertawa. “Jawab si mah, bapak nih ngalah dulu hari ini kopinya, ini untuk tamu, kan bisa kopinya untuk nanti.” Jawab bapaknya asrul lagi. “Mamah bikin kopi aja pake perhitungan, berbuat baik itu bukan hanya tamu saja mah, sama suami, anak, tetangga, dan lain sebagainya.”

    “Terserah bapak aja deh, mama nurut aja buat bapak, yaudah jangan diperpanjang lagi, malu sama tamu pak.” Cetus mamanya Asrul sekenanya.

    “Iyah mah,” Jawab bapaknya Asrul.
    “Dengan rasa tidak enak hati, lalu si K berkata kepada ayahnya Asrul, “Ngak perlu repot-repot pak, kita berdua cuman bertanya Asrul kok pak.”

    Singkat cerita, setelah itu si Redjha dan K, duduk sambil menanyakan si asrul. “Si Asrul mana pak? kok ngak keliatan.” Tanya si K.

    “Si Asrul di kamar nak,” Jawab bapaknya asrul. Setelah itu keluar si Asrul, berpakaian baju bola Real Madrid putih dan celana hitam lefis. Setelah dua jam duduk, bercerita lelucon tentang masa-masa sekolah dasar (SD), di tambah lagi si Asrul berpandai mengarang cerita-cerita lucu dan Redjha pun apa lagi, lebih pandai ngawur di atas pohon kelor. Semuanya tertawa, dan datang tiga cangkir kopi yang masih panas, dan disimpan di atas meja.

    “Ayo minum kopinya mumpung masih panas,” Kata si Asrul.

    Lalu jawab si Redjha, “ia As jangan repot-repot, aku kesini mau ajak kamu kesawah, ada amanah orang tuaku, dia menyuruhku kesawah, menyiram bawang yang kemarin di tanam, kata ibuku udah waktunya di siram.”

    “Oooh. kapan ja.?” Jawab si Asrul dengan nada gak enak sembari bertanya.

    “Besok, kamu bisa ngak?” Tanya si Redjha.

    “Hmmm, gimanayah brow, kayaknya aku ngak bisa deh, ada urusan besok, biasa urusin si T,” jawab si Asrul dengan nada santai.

    “Yeah parah luh, disaat aku kaya gini kamu malah urus hasrat dan cintamu, cinta itu hanya pelengkap bagi kita, yang lebih penting adalah kesuksesan kita, malah kamu lebih memilih cinta daripada kita berdua. Mana yang dikatakan sahabat sehidup semati brow?, apa kah ini yang namanya sahabat? Kata Redjha sambil sedikit emosi setelah mendengar jawaban dari si Asrul.

    “Yeah, bukan gitu juga sih brow, lagiankan aku udah terlajur janji ma dia, masa iyah sih aku harus batalin, ngak logis kan.” Jawab si Asrul sambil menggaruk kepala karna mendengar ocehan si Redja!.

    Lalu si K berkata kepada si Redjha, “Kan saya udah bilang brow, bahwa si Asrul pasti ngak mau ikut kita, kamu aja yang ngajak aku kesini, jangan pernah memaksa seseorang, kita harus berpikir positif, klaupun Asrul ada janjian sama pacarnya ya sudah, ngak perlu kita perpanjang masalah.”

    “Ia saya tau K, yang perlu kita pertanyakan setiap kita ajak kemana, pasti dia mengatakan ada janjian ma pacar, atau ngak ada kesibukan lain, kapan ada waktunya untuk kita, itu yang perlu kita pertanyakan bung, dia lebih memilih pacar di bandingkan kita.” Jawab Redjha.

    lalu K menjawab, “Tak perlu kita perpanjang lagi bung, kita udah tau sifat dia dari dulu sampai sekarang, dia masih belum berubah, kita memang kalah di sini, tetapi kenyataannya kita menang.” Bisik si K, “Ayo kita pulang. kita ngopi dirumahku.”

    Tak lagi berbasa-basi lalu si Redja dan K berdiri sembari sama-sama bawa salam sebagai ucapat perpishan. “Assalamualaikum..”

    “Waalaikumsalam,” Jawab si Asrul sembari merasa bersalah dengan sikap kedua sahabatnya, dan ia pun bertanya dalam hati, “Salah apa aku ini tuhan? Sehingga teman-teman marah kepadaku, apakah salah, hamba lebih memilih pacar di bandingkan sahabatku. Jawab tuhan.”

    Redjha dan K, keluar dari pagar rumah Asrul. Redjha keras kepala, dia lebih memilih sahabat daripada cinta, sahabat adalah segalanya. Memang sulit mengumpulkan pecahan-pecahan lampu. Memang sulit, apa lagi membuat lampu itu menyala dengan sempurna, begitupun si K berpendapat jangan pernah memilih sahabat itu karna ada apanya, tetapi memilih teman itu, harus mempunyai seni, berupa keidahan. Bukan karna indah atau apanya tetapi kejujuran.


    Depok, 17 Agustus 2016

    Penulis: Julkifli
    Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang, Tangerang, Banten. / Kepala Biro PEWARTAnews.com Jabodetabek.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website