Headlines News :
Home » » Cerpen: "Potret One"

Cerpen: "Potret One"

Written By Pewarta News on Senin, 15 Agustus 2016 | 06.21

Julkifli.
PewartaNews.com – Di stasiun ini terlalu gelap dan kumuk, yang ada hanya bekas-bekas besi yang tak terpakai, ini adalah surga bagi para pengemis-pengemis jalanan.

Denga mengambil kardus seadanya asalkan bisa istrahat untuk menampung tenaga untuk beraktifitas hari esok. Sungguh miskin negara ini, sampai-sampai mereka terlantar seperti ini. Katanya negara udah merdeka, tetapi kemiskinan dan pengemis pun tidak pernah merasakan kemerdeka seperti apa?

Setiap tanggal Tujubelas Agustus selalu dirayakan tiap tahu. Merayakan hari kemiskinan kapan tiba waktunya? Duduk dalam kekosongan, tanpa kopi, tanpa makanan eceran, yang terlihat hanya botol tanpa air. Wah, wah, wah, hmmm...

 “Ada Aqua,” kata si sinting itu.
 Lalu aku berkata, “brow, brow, boro-boro ada air, gorengan pun tak ada”.
Apa lagi di stasiun yang kumuk dan tak terurus ini. Ini hanya terlihat karung berisi botol-botol plastik. “ooh,” jawab si sinting. Ternyata mimpi toh bukan benaran? “iyahnih,” jawab ku dalam hati. Hehehe.

Sinting-sinting, sinting kok kaya gini? Ia tidur mati, ngak makan juga mati. Mungkin dunia ini udah edan, yang lebih edan lagi si cicunguk liar yang selalu memangsa setiap saat, tanpa berpikir panjang. Waktu suda berlalu suara ayam pun mulai berkokok, merdu dan gagah perkasa.

 Tuhan sungguh merinding tangan ini, engkau memperdegarkan syair-syairmu yang begitu indah, dan memanjakan hati. Jika engkau menghendaki kutuklah diriku dan bumi ini, yang terlihat hanya keserakahan dan tidak ada yang mempunyai rasa bersukur terhadap apa yang engkau berika kepada kami. Jawab tuhan, “mengapa engkau terdiam dan membisu?”. Pagipun tak terasa ketika melamun tanpa arah.

 Tiba waktunya memberes-bereskan kardus berupa kasur seadanya, mereka mulai mengambil karung dan besi berkarat. Memang harganya tak seberapa, asalkan mengisi perut yang udah mulai perang satu sama lain. Bagi mereka harta karun yang sangat berharga, tidak ada tangisan dan putus harapan, apa boleh buat, semuanya udah menjadi surga tersendiri, meskipun hitam asalkan pecahan pecah itu terkumpul. Miskin atau kaya, sama saja, yang lebih penting, kebahagiaan, cinta, persahabatan, dan kekeluargaan. Harta yang tidak ada tandingannya di bandingkan harta-harta yang lain.


Depok, 13 Agustus 2016
Penulis: Julkifli
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang, Tangerang, Banten.

Share this post :

+ komentar + 2 komentar

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website