Headlines News :
Home » , , » Desa Terkaya di Dunia dengan Pemimpin yang Luar Biasa

Desa Terkaya di Dunia dengan Pemimpin yang Luar Biasa

Written By Pewarta News on Minggu, 21 Agustus 2016 | 09.34

Nawassyarif, S.Kom.
PEWARTAnews.com – Meneladani para sahabat Nabi yang memegang prinsip, “Jika rakyat lapar, biarlah saya yang menjadi orang pertama merasakan lapar. Dan jika rakyat makmur dan sejahtera, biarlah saya menjadi orang terakhir merasakanya”.

Kali ini kita menemukan sosok yang ternyata bukan seorang muslim tapi dalam memimpin justru bisa memegang prinsip seperti sahabat-sahabat nabi dulu. Beliau bernama Wu Renbao, seorang pemimpin desa yang mengantarkan kemakmuran warga desanya hingga desanya meraih gelar sebagai “Desa Terkaya di Dunia”. Dia berhasil mengubah tatanan masyarakat dari keterbelakangan menjadi masyarakat yang maju.

Mulai dari memberikan tauladan (contoh), mampu merevolusi karakter dan budaya warga desanya untuk membangun desanya bersama-sama.

Rahasia kesuksesanya karena dia memegang prinsip kepemimpinan “Kebahagiaan dinikmati Warga Desa, Kesulitan dipikul pejabat”.

Dengan Kerendahan hati dan dengan segala hormat, saya ingin berbagi tulisan yang menceritakan tentang kisah sukses sebuah desa yang dahulunya miskin, terbelakang dan terpencil hingga akhirnya sekarang ini bisa menjadi Desa yang maju bahkan terkaya di Dunia.
Melalui tulisan ini semoga pemimpin-pemimpin kita mulai dari Ketua RT/RW, Kepala Desa, Camat, Bupati, sampai Presiden termasuk para calon wakil rakyat dan para menteri juga pejabat penentu kebijakan serta kepada setiap individu dari para pembaca untuk bisa terinspirasi dari cerita ini. karna perubahan yang cepat bukan hanya dilakukan oleh pemimpin saja tapi harus dilakukan bersama-sama dan dari berbagai lini. Perubahan perlu didukung dari berbagai lini (warga, para pemilik modal, dunia pendidikan melakukan riset apa yang perlu dikembangkan, industri mendukung lembaga mendidikan mencetak sarjana/teknisi yang kompeten, dan yang paling utama dukungan pemerintah).

Jika terinspirasi dari tulisan ini mohon kiranya juga berkenan untuk membagikan tulisan ini kepada saudarasaudari , teman, group komunitas dan lainya karena ini memang sangat penting untuk bisa merubah Desa-desa di negara kita juga supaya bisa lebih maju sebagaimana Kisah dari Desa Terkaya di Dunia ini.

Membayangkan tinggal di sebuah desa yang sangat kaya raya dengan segala aksesnya pasti menjadi impian setiap orang. Hal itu juga yang mungkin dirasakan oleh Penduduk Desa Hua Xi di China, karena Desa tersebut merupakan Desa Terkaya di Dunia.

Namun yang harus dicatat dan di ingat bahwa pencapaian desa Hua Xi bisa menjadi Desa Terkaya di Dunia bukan tanpa perjuangan dan proses yang panjang. Dikutip dari indonesiamedia.com (24/4/12), Diberitakan bahwa Desa Hua Xi, yang terletak di propinsi Jiang Shu, di tahun 1961 merupakan satu desa kecil, hanya 380 keluarga, 1520 orang, dan sangat terbelakang.

Saat ini setiap keluarga tidak hanya mempunyai rumah berbentuk vila 400-600 m², tapi juga ada mobil sedan bahkan ada yang sampai 3. Desa tersebut juga punya Helikopter untuk melayani kepetingan umum dan kebutuhan warga desa.

Perlahan namun pasti desa ini perlahan bangkit dan terus berjuang membangun desanya. Dibawah pimpinan sekretaris Partai, Wu Renbao akhirnya sekarang menjadi satu desa termaju diseluruh Tiongkok, dengan penduduk lebih dari 30 ribu dan areal lebih dari 30 km. Bahkan berhasil membangun desa disekitarnya juga dengan menggabungkan 16 desa.

Di tahun 2005 Desa Hua Xi berhasil mencapai penjualan produksi senilai lebih 30 milyar Yuan. Mereka membangun Pagoda, tugu-emas, danau, taman-internasional dan taman Petani, bahkan membangun proyek tamasya dengan 80 pemandangan alam yang indah. Selama ini telah melayani tamu-tamu dari lebih 120 negara dan daerah. Setiap tahunnya bisa menerima 1 juta orang yang ingin melihat keberhasilan desa Hua Xi.

Semboyan yang dia ajukan: “Kebahagiaan dinikmati Rakyat, Kesulitan dipikul pejabat”. Bagaimana proses perkembangan desa Hua Xi bisa begitu hebat sehingga mendapatkan julukan “Desa Nomor 1 di dunia”?

Disamping itu, berturut-turut Desa Hua Xi juga mendapatkan julukan “Basis Organisasi Partai termaju”, “Model Dewan Petani Tiongkok”, “Kesatuan Maju Pekerjaan Ideologi-Politik Berkebudayaan”, “Model Tipikal Kebudayaan Tiongkok”, “Kesatuan Maju Pekerjaan Ideologi-Politik Usaha Industri Pedesaan Tiongok”, “Industi Termaju Dari Perindutrian Pedesaan Tiongkok”, “Taman Industri Dari Teknologi Perindustrian Pedesaan Tiongkok”, dan sebagainya.

Benar-benar tidak salah Desa Hua Xi mendapatkan kehormatan sebagai “Desa Nomor 1 Didunia” dari berbagai kalangan masyarakat Dalam dan luar negeri!. Dari beberapa tulisan yang di ikuti, patut diperhatikan cara memimpin Wu Renbao, sekretaris Partai di desa Hua Xi ini, sekalipun kelahiran petani biasa dan tidak berpendidikan tinggi.

Semboyan yang dia ajukan: “Kebahagiaan dinikmati Warga Desa, Kesulitan Dipikul Pejabat”. Dan, prinsip yang dijalankan didesa Hua Xi, “maju dan makmur bersama”. Bukan sebagaimana prinsip Deng, “memperkenankan sementara orang kaya lebih dahulu”. Begitulah Pak Wu ini membawa penduduk desa Hua Xi maju makmur sampai sekarang ini. Seorang pengunjung dari Amerika menyatakan, Pak Wu seperti Lee Kuan Yao di Singapore.

Desa Hua Xi setelah berhasil meningkatkan produksi pertanian dengan mekanisasi, mereka benar-benar mengembangkan usaha industri di desanya. Perkembangan pesat baru terjadi setelah awal tahun 80, pada saat politik “Membubarkan Komune Rakyat” mulai dijalankan dengan memperkenankan setiap Desa berinisiatif melancarkan usaha sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing dan kebutuhan pasar.

Hal ini serupa dengan program Dana Desa oleh pemerintah kita saat ini. Jadi, setelah didesa-desa diperkenankan menggunakan tanahnya untuk berproduksi yang dikehendaki sesuai kebutuhan dan pasar. Jadi, setelah Pemerintah pusat menerima keunggulan ekonomi-pasar dari sistem kapitalis. Tidak lagi sepenuhnya menjalankan segalanya harus direncana oleh Pemerintah pusat, sedang daerah, desa-desa bertanam atau berproduksi sesuai pembagian tugas yang ditentukan Pemerintah Pusat.

Salah satu kesalahan prinsip sistem sosialisme yang segalanya diatur/dikendalikan secara sentral, dan mudah terjerumus kekesalahan manusia yang subjective atau hanyut oleh kepentingan pribadi.

Lanjut cerita, desa Hua Xi setelah berhasil meningkatkan produksi pertanian dengan mekanisasi, mereka benar-benar mengembangkan usaha industri di desanya, membangun pabrik baja dan pipa-baja.

Usaha menjadi lebih besar setelah Wu Renbao menggabungkan beberapa desa disekitarnya, menambah jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk industri. Sehingga hasil produksi baja setahunnya mencapai 2,2 juta ton, sedang pipa-pipa berbagai jenis untuk sepeda, sepeda-motor dan perabot rumah-tangga, hampir 300 ribu ton/tahun.

Dari hasil produksi desa Hua Xi sudah ada yang eksport ke AS, Canada, Eropa, Australia dan bebrapa Negara Asia-tenggara. Gedung pencakar langit ini berada di Desa Terkaya di Dunia yang pembangunanya dari iuran warga desa.

Desa Hua Xi telah menjadi kaya tidak berarti apa-apa seandainya seluruh Tiongkok tidak menjadi kaya. Itulah sebab, di tahun 2001, Desa Hua Xi memperluas wilayah dengan menggabungkan 16 desa disekitar menjadi satu pengurusan Desa Hua Xi untuk maju bersama.
Demikianlah sekarang ini desa Hua Xi menjadi besar dan lebih makmur lagi dengan bertambahnya tenaga kerja. Lengkap dengan produksi bahan pangan, buah-buahan, pohon, peternakan dan perikanan.

Di tahun 2010, mereka menyambut peringatan 50 tahun pembangunan desa Hua Xi, dengan hasil produksi senilai 50 Milyar untuk kebahagiaan dengan memperkaya 50 ribu orang. Mewujutkan perkembangan yang serasi antara ekonomi, penduduk, sumber-alam dan lingkungan, lebih lanjut mempertahankan “Desa Terkaya Didunia” dengan meningkatkan kebudayaan, keserasian dan harmonis.

Penduduk desa Hua Xi menyatakan, keberhasilan desa Hua Xi menjadi begitu makmur, tidak terlepas dari kepemimpinan Wu Renbao. Itulah sebab mereka tidak hendak pimpinan diganti orang lain, sejak tahun 1961, desa Hua Xi dipimpin oleh Wu Renbao. Dan karena pak Wu sudah lanjut usia, beberapa tahun yang lalu Wu Renbao bersikeras mengundurkan diri.

Setelah pengunduran dirinya kemudian yang diangkat sebagai penggantinya adalah putra keempatnya. Menunjukkan kesadaran petani masih feodal, menganggap keberhasilan membawa kehidupan makmur, terutama ditentukan oleh seorang pemimpin, ketauladanan dan pribadi orangnya. Bukan bersandar pada sistemnya.

Bagaimana Wu Renbao mengatur pembagian hasil-kerja di Desa Hua Xi? Prinsip “mendapatkan sesuai dengan hasil kerja”, “kerja makin keras mendapatkan makin banyak” berusaha dipegang dan dilaksanakan. Keuntungan 20% untuk Grop Hua Xi yang melancarkan usaha, 80% digunakan untuk usaha; Dari 80% yang digunakan untuk Usaha itu, 10% untuk bonus pemborong; 30% untuk bonus manager dan teknisi; 30% untuk bonus pegawai/buruh; 30% akumulasi modal untuk mengembangkan usaha.

Mereka mengeluarkan semboyan: “Pembagian lebih sedikit, akumulasi modal lebih besar, mencatatkan saham lebih besar”. Pelaksanaannya? Bonus yang seharusnya jatuh ketangan pribadi pemborong, buruh/pegawai, kenyataan hanya 20% yang diuangkan dan diterima orang bersangkutan, selebihnya 80% dicatatkan sebagai pembelian saham perusahaan Hua Xi Grops. Jadi sekarang ini saham perusahaan Hua Xi Grop telah lebih 70% menjadi hak-milik kolektif dan kurang dari 30% saham milik Komune Hua Xi semula.

Bagaimana pula dengan kehidupan Petani/Buruh didesa Hua Xi? Praktis mereka tidak ada hari libur, Sabtu dan Minggu tetap bekerja. Setahun hanya 2 hari libur Tahun Baru Imlek. Jadi mereka, penduduk yang datang dari luar harus lebih dahulu ajukan permohonan pada Kepala Barisan Produksi untuk pulang kampung.

Sedang bagi orang yang hendak keluarkan uang simpanan yang dalam bentuk saham itu, juga harus lebih dahulu mengajukan permohonan pada Dewan Desa. Dengan demikian, setiap penduduk desa Hua Xi, sudah ada uang simpanan setidaknya 1 juta Yan. Pembangunan perumahan bentuk vila dan pembelian mobil sedan yang dibagikan pada setiap penduduk desa itu diambil dari simpanan saham yang terkumpulkan.

Referensi:
- https://wikipedia.org
- https://aribicara.com
- http://www.independent.co.uk
- https://www.theguardian.com


Penulis: Nawassyarif, S.Kom.
Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika dan Informatika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website