Headlines News :
Home » , , , » Jadi Mahasiswa, Pintar Saja Gak Cukup

Jadi Mahasiswa, Pintar Saja Gak Cukup

Written By Pewarta News on Minggu, 21 Agustus 2016 | 09.41

Nawassyarif, S.Kom.
PEWARTAnews.com – Pintar memang menjadi salah satu faktor bagi seseorang untuk mendapatkan kesuksesan. Namun pintar saja tidak cukup, ada berbagai faktor lain yang juga berpengaruh bagi kesuksesan seseorang, termasuk kesuksesan dalam menjalani studi di dunia kampus maupun ketika mereka bekerja.

Dunia kampus memang menjadi wahana ujian dan penempaan sesungguhnya untuk mendapat sukses yang lebih besar. Mengingat di dunia kampus, selain nilai akademis yang bagus, mahasiswa juga dituntut untuk memiliki kecakapan dalam segala hal.

Ketika kamu pulang ke kampung halaman atau terjun di masyarakat tidak heran lagi ada seorang yang bertanya tentang bidang yang berbeda dengan keahlianmu. Misalkan kamu adalah mahasiswa teknik mesin, tiba-tiba ditanya tentang permasalahan umum yang sering terjadi di masyarakat. Kenapa harga bawang naik? Kenapa terjadi banjir? Kenapa jalan ke kota macet? dan pertanyaan-pertanyaan lain sejenisnya. Mahasiswa yang berwawasan luas tentu saja akan menjelaskan. Kadang masyarakat terutama orang-orang tua tidak mau tahu apa pun jurusan yang diambil oleh saudara. Mereka hanya tau bahwa saudara adalah mahasiswa (punya kemampuan yang jauh lebih segalanya dari pada siswa, namanya juga maha).

Berikut beberapa alasan mengapa pintar saja tidak cukup untuk dapat bersinar di dunia kampus.
Sistem Belajar dan Mengajar di Kampus berbeda dengan sekolah. Jangan sekali-kali membawa kebiasaan di sekolah ke dalam kampus, karena keduanya memiliki sistem belajar mengajar yang berbeda. Di kampus, dosen hanya menjadi manajer kelas, penekanannya bukan lagi menjadi sumber utama pengetahuan, skill, maupun sikap. Tugas dosen hanya membekali mahasiswa dengan buku rujukan, dan sedikit obrolan atau presentasi dan mahasiswa dituntut aktif sendiri untuk mencari pengetahuan, skill dan sikap tauladan dari berbagai sumber. Apalagi kebanyakan kampus saat ini memberi mata kuliah dengan cara diskusi, bukan lagi dengan belajar satu arah.

Sistem Assesment (Penilaian) di Perguruan Tinggi Berbeda, Tidak ada istilah tertinggal kelas di dalam dunia kampus, karena penilaian akademik menggunakan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Hal inilah yang menuntut seorang mahasiswa agar lebih cerdas mengelola dan mengatur tata nilai dan keberhasilan studi bagi dirinya sendiri. Bobot SKS yang berantakan akan menyulitkan mahasiswa untuk lulus tepat waktu. Untuk lulus strata satu, seorang mahasiswa harus menyelesaikan paling tidak 144 bobot SKS.

Mahasiswa Dituntut Aktif Ada Pandangan mengatakan, kelas di kampus hanya mentransfer 5 persen pengetahuan skill dan sikap, 95 persen lainnya didapat justru di luar kelas. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, oleh karenanya seorang mahasiswa tidak hanya dituntut pintar, tetapi juga memiliki kepribadian dan aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa (ormawa), seperti teater, club bahasa internasional, kewirausahaan, riset, kelas fotografi, BEM, buka usaha mandiri atau Lembaga Dakwah Kampus untuk melatih kemampun komunikasi, berbahasa asing, Problem solving (menyelesaikan masalah), kreatif, inovatif, peka terhadap lingkungan, bekerja secara terorganisir, saling kaloborasi, saling menghargai dan menghormati dan lainnya. Jadi mahasiswa tanpa aktif di ormawa sama halnya dengan membuat sayur tanpa garam. Contohnya Sosok Choirul Tanjung yang menjadi pengusaha sukses padahal dulu kuliah dibidang Fakultas Kedokteran Gigi, Aburizal Bakrie juga seperti itu bahkan menjadi menteri koordinator perekonomian dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat padahal beliau ambil jurusan teknik elektro dan ada yang sukses didunia seni padahal ambil jurusan ilmu sosial dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Pembangun Bangsa dan perubahasan kondisi sosial masyarakat bahkan tatanan dunia secara global tak hanya aktif di dalam kampus, seorang mahasiswa juga perlu aktif di luar lingkungan kampus dengan ikut aktif dalam organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau organisasi luar kampus sejenis dan tidak melenceng dari UUD. Pengalaman di luar kampus tentu akan memberikan pengatahuan yang lebih besar, skill, kepribadian tangguh, bahkan jauh menjadi lebih berkarakter dan berdaya saing secara global, yang menjadikan seorang mahasiswa cakap dalam segala hal termasuk ilmu kepemimpinan. Maka tidak heran lagi ketika ada beberapa orang yang sukses dibidang yang berbeda dengan jurusan yang mereka ambil semasa kuliah. Contohnya pak Anis Baswedan jadi Menteri Pendidikan (saat ini sudah digantikan Muhadjir Effendy – Red) padahal dulu semasa kuliah di Fakultas Ekonomi, ilmuwan pada masa Khalifah Bani Abbasiyah dengan kepandaian di beberapa bidang ilmu untuk perubahan kondisi sosial dengan membangun perpustakaan raksasa sekaligus sekolah setelah berhasil menyembuh sang khalifah dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

Mahasiswa dituntut punya jaringan sosial (seperti jaringan kerja yang bisa didapatkan melalu kegiatan sosial, organisasi, silaturahim dan sebagainya sehingga ketika mereka lulus langsung dipanggil untuk bekerja di orang yang mengenal kemampuan & kapasitas mereka.

Mahasiswa dituntut untuk menjaga kesehatan, Seiring berkembangnya teknologi industri, muncul berbagai produk cepat saji, yang lemaknya tinggi, gulanya berlebihan, tersebarnya minuman keras, tersebarnya obat terlarang, lebih senang makan cepat saji, bronis, gorengan yang tidak jelas asal usulnya dibandingkan makanan-makanan segar seperti buah, kacang-kacangan, umbi-umbian tanpa bahan pengawet yang lebih berisi dan sehat. Percuma mereka cerdas, skill, karakternya bagus tapi sakit-sakitan sehingga produktifitas mereka pun terhambat ketika bekerja bahkan bisa menghabis harta yang mereka kumpulkan atau warisan keluarga untuk biaya mengobatan.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah: 168)

Salah satu yang banyak di lakukan oleh negara maju adalah mereka berusaha maksial untuk meningkatkan status kesehatan warganya melalui kebijakan publik yang unggul atau program intervenasi yang terstruktur yang di laksanaakan oleh agen pelaksana pemerintahan (government agency) atau instutisi yang bergerak di dunia pengenbangan sumber daya manusia seperti sekolah, pendidikan tinggi, dan lembaga-lembaga pelatihan lainya .

Pepatah yang tak asing ditelinga mengatakan “mens sana in corpore sano” artinya “di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”. Teman saya dibelanda bercerita, baru-baru ini (tahun 2015 kemarin) pemerintahnya mengeluarkan peraturan, untuk membatasi kadar yang berlebihan yang membayakan kesehatan dalam memproduksi makanan dan minuman oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia harus sadar akan pentingnya kesehatan yang pastinya akan menunjang produktifitas negara secara keseluruhan.

Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin kita belum bisa mengandalkan pemerintah kita yang belum membuat peraturan sedetail itu untuk keselamatan warga negaranya, bisa jadi karena pembangunan di negara kita masih sangat kompleks. Oleh karna itu kita perlu solusi dengan berhati-hati mengkonsumsi produk makanan dan minuman yang beredar. Satu hal yang perlu kita pikirkan tentang apa yang di lakukan oleh negara maju untuk meningkatkan kompetensi dan prodoktivitas warga negaranya adalah tubuh yang sehat, jiwa yang sehat dan otak yang cerdas.

Yogyakarta, 20 Juni 2016


Penulis: Nawassyarif, S.Kom.
Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika dan Informatika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website