Headlines News :
Home » » Masjid di Kampung Ardan

Masjid di Kampung Ardan

Written By Pewarta News on Sabtu, 06 Agustus 2016 | 00.55

Winda Efanur FS.
PewartaNews.com – Suatu kampung di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah memiliki satu masjid. Konon usia masjid itu sama dengan usia kampung tersebut. Sekitar 100 tahunan. Awal mulanya pendiri kampung itu keluarga  kyai dari Banyumas.

Mereka melarikan diri dari kejaran pemberontak hingga sampai kampung itu. Pada waktu itu merupakan masa pemberontakan Darul Islam Kartosuwiryo.

Pemerintah saat itu menyisir semua wilayah Jawa Tengah yang diduga kuat basis DI. Seluruh penduduk di desa-desa diperiksa terutama penduduk yang memakai simbol agama. Masa itu menjadi masa-masa sulit bagi penduduk beridentitas muslim.

Sementara sekeluarga kyai Banyumas itu berhasil meloloskan diri ke kampung terpencil itu. Mereka membuka hutan lalu mendirikan beberapa rumah dan masjid.

Seiring berjalannya waktu, satu per satu orang menempati tempat itu. Mereka mendirikan perkampungan baru, Kayu Dukuh Asri dengan menjadikan masjid pusat ibadah.

Seolah terlepas dari kronologi masjid, rupanya waktu melempar cerita jauh ke depan. Selang 70 tahun kemudian masjid mengalami renovasi. Masjid lama dibongkar dibangun masjid baru, dengan gaya arsitektur baru masa kini.

Namun masjid baru itu belum menjadi magnet bagi warga, masjid justru terasa asing bagi warga kampung. Jarang sekali warga berjamaah di masjid itu. Terutama kalangan remajanya. Para Anak muda di kampung sebagian besar merantau ke kota, sisanya mereka lebih suka hura-hura, daripada nongkrong di masjid.

Masjid itu sepi. Kemeriahan akan muncul menjelang adzan maghrib. Ketika Anak-anak kampung bergegas ke masjid. Setidaknya keluguan bocah-bocah itu mendorong mereka menyelami lautan kalam ilahi. Mereka hendak mengaji ke pak kyai. Kumpulan bocah-bocah itu menggetarkan denyut nadi masjid yang sempat mati suri.

Dari masjid tua itu terdengar suara tidak beraturan saling bersahutan. Ya, suara dari bocah yang terbata-bata membaca Al-Quran dan Iqro.

Sembari menunggu giliran mengaji, mereka duduk mengantri bak ular yang sedang menggesot. Di barisan belakang Satu tangan seorang bocah usil mengganggu kawannya yang mengantri di depan. Ketika kawan itu bergeser, dari arah belakang dia maju mengambil posisi kawannya itu.

Kawannya mendorong si bocah, agar pindah dari tempatnya. Si bocah terjungkal. Si bocah itu bangkit lalu pindah ke belakang, mata bocah itu menatap tajam kawannya itu.

Setelah 30 menit berlalu, tibalah giliran si bocah mengaji. Dia buka buku iqro warna hitam itu, lembar demi lembar dia buka. Sampai halaman 80 jilid 4 jari tangannya terhenti.

"Bismillahirrohmanirrohhimm.. Abb Ajj Thh", kata si bocah.

Pak kyai sesekali membetulkan bacaan qolqolah si bocah. Tidak ada  catatan penting, si bocah lanjut halaman selanjutnya.

Si bocah tersenyum girang. Dia berdiri dan mengejek kawannya tadi, karena kawannya tidak lanjut halaman.


***


Seusai shalat Isya bocah-bocah itu bermain di halaman masjid. Mereka berlarian, berkelahi, menangis, baikan lalu berkelahi lagi. Begitu seterusnya. Ketika Pak Kyai beranjak dari wiridnya. Para bocah bubar dan bergegas pulang.

Hanya si bocah itu yang tetap berdiam diri di masjid. Si bocah itu mematikan  lampu masjid. Pak Kyai menghampiri si bocah lalu menjewer telinganya. Si bocah diam, dia tidak menangis. Si bocah memahami kesalahannya, dia merusak ketenangan di masjid.

Si bocah berlari pulang. Berharap rasa kesalnya hilang. Namun yang dia rasakan berbeda. Dia merasa kebebasannya telah hilang. Untuk beberapa waktu, si bocah diam tak banyak berkata kepada Pak Kyai. Ayahnya sendiri.

Selepas ditinggal si bocah dan Pak Kyai pulang. Suasana di masjid kembali sepi. Hanya terdengar derak kaca jendela tertiup angin. Sementara kalam ilahi yang mestinya dilantunkan teksnya sekadar menjadi koleksi. Iya, puluhan Al Qur'an teronggok rapi di dalam lemari. Separuh diantaranya sudah lapuk dimakan usia. Kusam dan berdebu. 

Kehidupan di masjid akan muncul kembali kala fajar. Derap langkah kaki yang berat, memecah kesunyian Subuh kala itu. Ditemani gerimis, sosok Pak Tua tengah menyusuri jalan menuju masjid.

Pak Tua membuka pintu masjid yang memang tidak terkunci. Dia menyalakan lampu masjid. Seketika bangunan tua itu memancarkan cahaya, cahaya yang menembus ke langit. Masjid itu juga menjadi penghulu cahaya, ketika bangunan milik manusia lain di sekitarnya mati. Subuh saat itu masih gelap. Malam begitu lelap.

"Allahu akbar.. Allahu akbar....", 

Pak Tua mengumandangkan adzan Subuh. Suara adzan terlantun begitu pelan. Namun sudah cukup keras untuk mengundang penduduk kampung berjamaah.

'Assolatu khirum minannaumm,"..

Seruan adzan menyibak kesunyian. Lalu diikuti suara adzan dari kampung lain. Adzan kampung satu ke kampung lain saling bersahutan. Seolah menjawab seruan adzan, ayam-ayam pun berkokok. 

Satu ayam jago berwarna hitam berkokok begitu keras. Jago itu piaraan satu rumah di pinggir jalan kampung, rumah Pak Kyai. Pak Kyai keluar dari rumah itu. Dia melangkahkan kaki ke masjid.

Tak jauh dari jejak langkah Pak Kyai, derap langkah seseorang memburu Pak Kyai.

"Assalamualaikum Pak Kyai, hah..huh..," sapa suara itu terengah-engah.

"Oh Pak Hamdan, baru kelihatan jamaah. Lagi banyak kerjaan," jawab Pak Kyai.

"Bisa dibilang begitu Pak Kyai. Nanti sehabis subuhan bisa ngobrol Pak Kyai?".

"Bisa,".


***


Asap rokok menyembul dari ruang tamu rumah Pak Kyai. Kedua orang itu tengah berdiskusi suatu hal penting. Sesekali Pak Kyai menyeruput kopi panasnya. Sembari mendengarkan perkataan Pak Hamdan.

Diskusi berjalan searah. Pak Hamdan lebih mendominasi pembicaraan. Sementara Pak Kyai lebih banyak diam, sedikit meminta penjelasan bukan menyahut. 

Pak Kyai berpikir sejenak. Dihabiskannya gelas kopi yang berada di atas meja. Dengan tenang Pak Kyai menjawab permintaan Pak Hamdan.

"Saya akan melakukan musyawarah dengan warga kampung dulu Pak Hamdan. Agar jelas, warga setuju atau tidak ?"

"Kalau bisa keputusannya secepatnya Pak Kyai. Pak Lurah meminta saya minggu ini sudah ada jawaban",

"Harus secepat itu pak? Mengumpulkan warga juga butuh waktu, apalagi di saat musim panen seperti ini, warga cenderung sibuk mengurusi sawah",

"Saya paham, Pak Kyai tapi pembangunan harus segera dimulai perintah langsung dari dinas olahraga kabupaten",

"Iya Pak Hamdan. Saya tahu, baik masjid maupun gedung olahraga sama-sama bermanfaat untuk warga. Masjid itu untuk tempat ibadah, juga gedung olahraga sarana bagi anak muda di kampung ini, tapi..

"Pak Kyai tidak perlu khawatir, kami kan hanya membeli halaman masjid saja, jadi tidak mengambil lahan masjid, masjidnya tetap utuh tidak tersentuh pembangunan gedung olahraga,"

"Iya Pak Hamdan, nanti saya komunikasikan dengan warga, bagaimanapun masjid milik umat, terkait rencana ini warga juga perlu terlibat,"

"Tidak serumit itu Pak Kyai, Pak Kyai tinggal setuju saja, toh masjid itu warisan keluarga Pak Kyai yang dari Banyumas dulu,"

"Tapi statusnya sudah diwakafkan, saya fasilitator saja, masjid tetap milik warga. Pak Hamdan saya manut warga, keputusannya bagaimana, nanti saya adakan pertemuan bersama warga untuk membahasnya,"

"Nggih Pak Kyai, intinya ini sangat memajukan kampung kita Pak Kyai,"

"Memajukan ?"

"Iya halaman masjid yang dijadikan gedung olahraga bisa mendatangkan dua manfaat. Pertama, sisi prestasi olahraga pemuda kampung. Kedua, pemuda kampung yang tadinya enggan ke masjid akan lebih sering ke masjid, karena berdekatan dengan gedung olahraga", 

"Semoga keputusan nanti, membawa dampak yang terbaik, aamiin," lirih Pak Kyai.


***


Pak Kyai termenung dalam wiridnya. Dia terasa berat mengambil keputusan ini. Hasil pertemuan warga kemarin tidak berjalan dengan lancar. Dari 30 undangan, yang hadir hanya lima orang. Itupun dari kalangan sesepuh kampung sementara perwakilan pemuda tidak hadir sama sekali. Jono, tetua pemuda kampung beralasan absen karena mengikuti turnanen voli di kampung sebelah.

Entah apa yang dipikirkan Pak Kyai? Dirinya tidak mendengar suara tangisan  bocah memanggilnya.

"Abah..abah..abah..," 

Rengekan bocah itu mengeras. Membangunkan Pak Kyai dari wiridnya.

Pak Kyai mendekati Ardan bocah yang menangis itu. Bocah sepuluh tahun itu duduk menangis sendirian di halaman masjid.

"Kenapa kamu dan ? 

"Putra, bah..dia curang, tadi kita silat-silatan. Dia mukul beneran. Perut Ardan ditinju, bah..,"

"Iya sudah, yang sakit nanti diobatin Umi. Sekarang usap air matamu. Dengarkan kata abah, laki-laki itu harus kuat ga boleh cengeng. 

Ardan langsung terdiam. Dia bangkit dari duduknya. 

"Ardan, tidak cengeng bah. Besok Ardan balas ,"

"Eh, gak usah dibalas. Kalo berteman ga boleh musuh-musuhan seperti itu. Sudah, lupakan. Dengerin abah, malam ini terakhir kali kamu main di halaman masjid. Soalnya besok, halaman ini akan dibangun gedung olahraga",

"Keren bah, kalo mau nonton voli ga jauh lagi, Ardan bisa main voli dong bah? Ardan ingin seperti Mas Jono yang pintar main voli bah,"

"Iya, benar sekarang ayo pulang,"

Pak Kyai dan Ardan berjalan pulang. Langkah kaki mereka menginjak ranting dan debu di halaman. Terdengar angin malam berhembus, menerbangkan debu-debu di halaman masjid. Angin berlalu menjadi saksi setiap masa telah berganti.


***


Dua tahun kemudian...

Ada sekitar tiga lampu neon dipasang untuk menerangi jalan menuju masjid. Sekarang banyak warga yang melintasi jalan masjid. Namun bukan ke masjid, mereka hendak menonton pertandingan voli antar kampung. Sementara masjid, atau kondisi di dalam masjid masih sama seperti dua tahun yang lalu. Sepi.

Keramaian hanya memusat di halaman masjid yang kini menjadi gedung olahraga, kebanggaan kampung.

Seperti keramaian malam ini, ada pertandingan final bola voli antara kampung Kayu Dukuh Asri dengan kampung Mekar Sari.

Pertandingan voli dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Indonesia akan berlangsung setelah ba'da Isya.

Namun sejak Maghrib warga sudah berduyun-duyun mendatangi lokasi pertandingan. Mereka tidak sabar melihat tim kebanggaan kampung bertanding dan merebut gelar juara untuk pertama kalinya.

Terlepas dari hingar-bingar pertandingan. Sebuah tembok menggambarkan suasana berbeda di bangunan sampingnya. Terdengar sayup-sayup bocah yang mengaji di masjid. Bocah-bocah asuhan Pak Kyai masih melantunkan firman ilahi dengan istiqomah. Meskipun jumlah mereka kian menyusut.

Selang 30 menit kemudian Pak Tua mengumandangkan adzan Isya. Seketika suasana di kampung hening. Satu bangunan tua mencipta keheningan di dalam jiwa. Sementara bangunan baru, larut dalam doa untuk kemenangan tim bersama.

Setelah briefing adzan Isya, pertandingan akan dimulai..


***


" Pak Kyai, tidak menonton pertandingan voli?" sapa sumber suara dari gedung olahraga.

Suara itu mencegat langkah Pak Kyai, lalu sumber suara itu mendekatinya.

"Jangan langsung pulang dulu Pak Kyai, nonton duku pertandingan voli ini sangat seru. Sebentar saja Pak Kyai, Ardan jadi top skorer untuk tim kita,"

"Iya Pak Hamdan, alhamdulilah ya, gedung olahraga ini meningkatkan prestasi pemuda kampung,"

"Iya Pak Kyai, atas prestasi kampung kita ini dari dinas olahraga kabarnya akan mentraining secara khusus,".

Pak Kyai mengubah haluan langkahnya masuk ke gedung olahraga. Dia menyaksikan pertandingan, terlihat jelas pertandingam berjalan sengit.

"Brukk !!"

Terjadi benturan di net antara dua pemain. Ardan, pemain kampung Dukuh Kayu Asri terjatuh saat memblok smash bola dari tim lawan.

Ardan terjatuh ke lantai. Wasit menghentikan pertandingam sementara.

Sorak sorai penonton memaki kejadian itu. Tapi tidak dengan Pak Kyai, dia melihat Ardan terjatuh saat menangis di halaman masjid persis dua tahun yang lalu. 

Suasana pertandingan semakin gaduh.



Cilacap, 3 Agustus 2016

Penulis: Winda Efanur FS 
Seorang penulis lepas. Menyukai dunia Sastra terutama puisi. Baginya sastra adala media untuk mengaktualisasika ide dan sarana mengedukasi pembaca. Email : efanurw@gmail.com




Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website