Headlines News :
Home » , , » Sekitar Makna Nasionalisme

Sekitar Makna Nasionalisme

Written By Pewarta News on Rabu, 17 Agustus 2016 | 11.26

Dheyo Keanu Ch.
PEWARTAnews.com – Dulu waktu saya masih kuliah di Universitas Mataram, seorang kolega baik yang baru saja pulang dari luar negeri pernah berkata ‘’ Nasionalisme itu baru benar-benar kamu rasakan jika kamu berada di luar negeri’’. Mendengar itu saya diam. Pertanyaan lalu berkecamuk dengan hebat dalam pikiran saya, apakah memang demikian adanya? Lalu bagaimana dengan orang seperti saya yang belum pernah ke luar negeri? Sementara secara pribadi saya berani bilang saya punya jiwa nasionalisme yang kuat. Sebelum merespon itu sang kolega tadi pun melanjutkan, “setiap saat kamu akan merindukan Indonesia”.

Saat itu, yang hadir dalam benak saya ada dua hal. Pertama keinginan yang kuat agar bisa ke luar negeri demi membuktikan apa yang dia katakan tadi. Kedua, mencoba membedah lebih dalam lagi makna nasionalisme itu sendiri. Cinta tanah air yang ada dalam mindset kebanyakan orang apa hanya pada domain fisik seperti alam Indonesia saja? Ataukah ada yang lebih penting misalnya hubungan antar sesama manusia? Saya mulai merenung.  

 Tentunya kolega tadi tidak hendak bercanda dengan ucapan-ucapannya, karena sebagai sahabat baiknya saya tahu mimik mukanya saat serius atau sebaliknya. Sebagai anak muda yang punya semangat membara dalam dada, saya berjuang untuk mewujudkan keinginan yang pertama di atas. Di samping rajin mengikuti perkuliahan, saya juga meluangkan waktu sedikit demi sedikit untuk belajar di ruang “praktis” melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan baik di kampus maupun di luar kampus. Tujuannya untuk mengasah kapasitas diri dan jiwa kepemimpinan, yang mudah-mudahan di kemudian hari saya bisa ke luar negeri dengan modal itu. 

Saya juga aktif mengamati fenomena-fenomena sosial yang ada dalam kehidupan secara kontinyu. Hal ini bertujuan untuk mem-breakdown rasa penasaran saya tentang makna nasionalisme yang lebih luas. Katakanlah ketika ada teman-teman aktivis kampus yang menyegel ruang kelas hanya karena berharap seluruh mahasiswa tidak masuk kelas dan ikut ambil bagian saat menyampaikan aspirasi (demonstrasi), pada hemat saya teman-teman aktivis tadi tidak punya nasionalisme. Mengapa? Karena mereka menggangu kepentingan orang lain. Di sini, nasionalisme bermakna menghormati kepentingan positif sesama warga negara. 

Hari-hari sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di kampus seribu cemara itu saya lalui dengan sungguh-sungguh. Belajar teori dan berorganisasi semacam panggung emas yang saya dirikan dengan hati dan pikiran sendiri. Selanjutnya membaca dan menulis adalah pertunjukan yang saya pun bawakan sendiri dan dinikmati juga oleh orang lain. Hingga akhirnya saya mendapat kesempatan berharga untuk mengikuti Indonesia-Malaysia Student Exchange 2008, yang mana sponsor utamanya bersumber dari Biro Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Bersama beberapa mahasiswa dan mahasiswi, saya melawat ke dua kampus besar di negeri jiran Malaysia, University Kebangsaan Malaysia (UKM) dan International Islamic University of Malaysia (IIUM). Kurang dari satu bulan kami berada di sana, namun sejujurnya saya bersyukur bisa membuktikan apa yang kolega saya pernah katakan dulu. Sulit diungkapkan, iya. Negeri ini seolah mengalir dalam aliran darah. Saya merasakan sesuatu yang kuat, tidak sekuat saat saya berada di Indonesia. 

Saya ingat banyak pengalaman empirik seperti desak-desakkan di angkutan umum, para perokok aktif di tempat-tempat umum, orang-orang yang kadang-kadang tidak mau antri di tempat pengisian bensin, kesemrawutan di pasar-pasar tradisional, pemandangan itu yang saya rindukan. Sesuatu yang tidak saya rasakan dan temui di sana. Benar pepatah “Right or Wrong My Country”. Dalam hati kecil saya berkata, betapa tidak terbayangkan apa yang dirasakan kolega tadi yang pergi jauh ke benua Amerika sana, dan dalam waktu yang lebih lama. Rasa cinta tanah air yang gemah ripah loh jinawi ini pastinya hadir di setiap tarikan nafasnya. 

Lantas bagaimana dengan nasionalisme tadi itu, apa hanya dengan merindukan Indonesia saat berada di luar negeri?  atau menghormati kebutuhan manusia Indonesia lainnya untuk memperoleh ilmu pengetahuan? Sekali lagi, pada hemat saya ada banyak makna nasionalisme yang bisa kita temui dalam keseharian kita.


Sisi Lain 
Namanya Muhammad Idris, kepala desa Bone-Bone, kecamatan Baraka, Sulawesi Selatan. Dia adalah pencetus Desa Bebas Asap Rokok. Berawal dari maraknya anak-anak di usia Sekolah Dasar di desanya yang giat merokok, mendorongnya mengeluarkan peraturan desa yang isinya melarang penjual rokok masuk ke desa Bone-Bone. Hasilnya, desa itu menjadi desa bebas asap rokok pertama di dunia. 

Ada lagi Joria Parmin, seorang bidan di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berawal dari kematian seorang ibu hamil di wilayahnya tanpa sepengetahuan petugas kesehatan sedikit pun, dia mendirikan 2H2 Center, sebuah program untuk mendata dan mengontrol seluruh ibu hamil di wilayahnya sejak mereka hamil pertama hingga persalinan. Hanya bermodalkan handphone yang aktif 24 jam untuk mengirim pesan pendek. Hasilnya, dia berhasil menekan angka kematian ibu dan anak di NTT. 

Selanjutnya masih banyak lagi pribadi-pribadi yang mengusahakan kebaikan Indonesia dan warga negaranya secara mandiri. Pastinya malalui bidang ilmu dan kapasitasnya masing-masing. Intinya jiwa nasionalisme sudah terlampau banyak di sekeliling kita. Ibu saya misalnya, seorang perempuan lulusan Sekolah Dasar yang tinggal di pinggir sungai Rabalaju, Dompu, Nusa Tenggara Barat yang berjuang menyekolahkan saya dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) adalah pribadi yang memiliki nasionalisme tinggi. Juga para orangtua-orangtua lainnya dimana pun mereka berada yang pernah dan sedang melakukan hal yang sama untuk anak-anaknya. Di sini, nasionalisme adalah cinta orang-orang di dekat kita. 

Nasionalisme sepertinya sudah menjadi hakikat kemanusian. Dimana setiap orang mencintai tanah kelahirannya berikut orang-orang yang ada di sampingnya. Saya jadi teringat akan ceramah Bapak Yudi Latief, Ph.D pada satu kesempatan diskusi. Dia mencontohkan penyu yang saat menetas dari telurnya akan langsung mencoba ke laut, kembali ke darat dan ke laut lagi. 

Penyu itu pelan-palan berusaha mengenal ekosistem yang di sekitarnya, mencium bau pasirnya, lalu membuat semacam mind-mapping di kepalanya, setelah itu berkelana bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, ketika ingin bertelur, sang penyu itu pasti akan kembali ke tanah tempat dia dilahirkan tadi. Ternyata sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia yang akan selalu “kangen” akan tanah tempat dimana kita dilahirkan. 

Setelah merasakan “keajaiban” saat berkunjung ke Malaysia untuk pertama kalinya tahun 2008 lalu, saya pun terus membuktikan apa yang pernah kolega baik saya katakan itu. Tahun 2011 dan 2012 saya mendapat kesempatan lagi untuk kembali meninggalkan Indonesia beberapa bulan untuk melihat negara-negara lain seperti Jepang, Filiphina dan Vietnam. Seperti sebelumnya perasaan itu muncul dengan kuat berhari-hari. Tiap kali menyanyikan lagi Tanah Air, maka wajib hukumnya air mata ini jatuh dengan sendirinya. Bahkan pernah saya berpikir untuk cepat-cepat kembali ke Indonesia dengan meninggalkan program yang sedang diikuti hanya karena ingin bertemu dan bercanda dengan orang-orangnya. Sungguh semua itu terjadi dalam alam sadar saya sebagai anak bangsa.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa nasionalisme ada dalam diri seluruh warga negara. Memang saat kita berada di negeri-negeri yang jauh, semangat itu memuncak dengan luar biasa. Namun, bukan berarti rasa itu hilang saat kita tidak pernah kemana-kemana. Rasa itu akan senantiasa tumbuh dan berkembang seiring dengan berputarnya waktu. Saya menyakini itu.   


Pasar Kelapa, Cilegon, Rabu 17 Agustus 2016  

Penulis: Dheyo Keanu Ch* 
*Pendiri IDHE INSTITUTE, penulis buku. 
       
 
     
     
  
    

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website